Anda di halaman 1dari 13

PRAKTIK KEPERAWATAN GERONTIK DI BANJAR

KAYANGAN
PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS SENAM HIPERTENSI PADA
LANSIA

OLEH :
Kelompok 5 Commented [H1]: Tolong lampirkan nama kelompok dik

A10C

STIKES WIRA MEDIKA BALI


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
2019
LEMBAR PENGESAHAN
xxxxx Commented [H2]: BAB 1 Pendahuluan (latar belakang,
tujuan dll)
BAB 2 Sistematika Kegiatan( yng akan dilakukan terkait
TAK,)
Bab 3 Materi TAK
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI Daftar Pustaka

DI BANJAR KAYANGAN, PEGUYANGAN KANGIN

A. JUDUL
Terapi Aktivitas Kelompok Senam Hipertensi
B. TEMPAT
Pelaksanaan TAK lansia dilakasanakan di Banjar Kayangan Peguyangan
Kangin
C. WAKTU
Hari / Tanggal : Senin, 25 November 2019
Waktu : 17.00 Wita – selesai
D. SASARAN
Peserta : Lansia Banjar Kayangan, Peguyangan Kangin dengan penyakit
Hipertensi.
Jumlah : 26 lansia
E. METODE
Dinamika Kelompok
F. MEDIA
Sound system
Laptop
Leaflet
G. DENAH
(Terlampir)
H. PEMBAGIAN KELOMPOK
1. Leader : Kadek Karlina Dewi
Tugas :
a. Memimpin jalannya terapi aktivitas kelompok.
b. Merencanakan, mengontrol dan menganjurkan jalnnya terapi.
c. Membuka acara.
d. Menyampaikan materi tujuan TAK
e. Memimpin diskusi kelompok
f. Menutup acara diskusi.
2. Co Leader : Ni Kadek Ida Agus Talia Dewi
Tugas :
a. Mendampingi leader
b. Mengambil posisi leader jika pasif
c. Mengarahkan kembali posisi pemimpin kepada leader
d. Menjadi motivator.
3. Fasilitator : Ni Kadek Diah Laksmi Dewi, Ni Kadek Kamayanti, Ni
Kadek Dwi Novi Mirayanti, Ni Kadek Purwati, Ni Kadek Vidia
Sasmita, I Putu Suartama Putra, Desak Agung Sasmita Putri.
Tugas :
a. Ikut serta dalam kegiatan kelompok.
b. Memberikan stimulus dan motivator pada anggota kelompok
untuk aktif mengikuti jalan terapi.
4. Obserbever : Ni Kadek Hita Karlina Winarti, Luh Putu Ayu Julia
Dewi
Tugas :
a. Mencatat serta mengamati respon klien
b. Mengawasi jalannya aktivitas kelompok dari mulai persiapan,
proses, dan penutup.
5. Ketua Kelompok : I Wayan Lentara Yasa
6. Penanggung Jawab TAK & Proposal TAK : I Dewa Ayu Bintang
Sridewi
7. Tim Kesehatan
- AA Ani Sri Andewi
- I Wayan Buki Susanto
- Ni Kadek Novia Aristanti
- Ni Kadek Widiastuti
8. Konsumsi
- Ni Kadek Nopita Sari
- Ni Kadek Ari Nopita Dewi
- I Wayan Gede Krisna Mahendra
- I Putu Oka Wijaya Kusuma
9. Perlengkapan
- Dedy Agastina Gatsu
- AA Gede Bagus Wahyudi Putra
- I Komang Krisna
- Dewa Gede Awidia Widnyana
10. Dokumentasi
I Ketut Gede Arya Mahendra

I. RENCANA PELAKSANAAN
1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien.
b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Proses
1) Orientasi
a. Salam Terapeutik
- Salam dari terapis kepada klien
- Mahasiswa menggunakan name tag
- Leader memperkenalkan diri dan memperkenalkan anggota
kelompok yang lain.
b. Evaluasi / validasi
- Menanyakan perasaan klien saat ini.
- Menanyakan keluhan klien saat ini
- Mengukur tekanan darah
c. Kontrak
- Mahasiswa menjelaskan tujuan kegiatan
- Mahasiswa menjelaskan aturan kegiatan sebagai berikut :
- Jika ada klien yang meninggalkan kelompok, harus minta
izin ke mahasiswa
- Lama kegiatan 60 menit.
- Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
2) Tahap Kerja
- Terapis menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan, yaitu
senam lansia dan pemeriksaan kesehatan.
- Melakukan pemeriksaan kesehatan (tekanan darah).
- Mendemostrasikan latihan senam hipertensi (pemanasan
,gerakan inti,pendinginan). Commented [H3]: Pilih senam yang ada interaksi antara
peserta ya
3) Tahap Terminasi
a. Evaluasi
- Terapis menanyakan perasaan klien setelah melakukan
TAK.
- Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok
melakukan TAK.
b. Tindak Lanjut
- Pemeriksaan kesehatan ( Tekanan Darah)
c. Kontrak yang akan datang
- Memberikan kewenangan kepada klian banjar untuk
meneruskan program rutin senam lansia.
3. Evaluasi
1) Evaluasi struktur
- Peserta sudah diberitahu satu hari sebelumnya
- Media sudah disiapkan
- Meteri sudah siap
- Satuan acara sudah disiapkan
2) Evaluasi proses
- Klien kooperatif saat mendengarkan materi yang disampaikan
- Klien memperhatikan saat mahasiswa mendomonstrasikan
latihan senam hipertensi
3) Evaluasi hasil
- Peserta yang data berjumlah 7 orang dari 18 umlah lansia yang
ada dibanjar Purnama Asri
- Presentase kehadiran yaitu sebanyak 1,26% kehadiran lansia.
- Klien mampu melakuakn gerakan senam hipertensi

J. CATATAN
1. Latar Belakang
Meningkatnya penduduk lanjut usia dibutuhkan perhatian dari semua
pihak dalam mengantisipasi berbagai permasalahan yang ada. Penuaan
penduduk membawa berbagai implikasi baik dari aspek social, ekonomi,
hukum, politik dan terutama kesehatan (Komnas Lansia 2010).
Meningkatnya populasi lansia ini tidak dapat dipisahkan dari masalah
kesehatan yang terjadi pada lansia, menurunnya fungsi organ memicu
terjadinya berbagai penyakit degeneratif (Azizah, 2011). Penyakit
degeneratif pada lansia ini jika tidak ditangani dengan baik maka akan
menambah beban finansial negara yang tidak sedikit dan akan menurunkan
kualitas hidup lansia karena meningkatkan angka morbiditas bahkan dapat
menyebabkan kematian (Depkes RI, 2013).
WHO dan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang
kesejahteraan lanjut usia pada BAB 1 Ayat 2 menyebutkan bahwa umur 60
tahun adalah usia permulaan tua. Menua bukanlah suatu penyakit, tetapi
merupakan proses yang berangsur – angsur mengakibatkan perubahan yang
kumulatif., merupakan proses menurunnya daya tahan tubuh dalam
menghadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuh yang berakhir dengan
kematian.
Prevalensi hipertensi di dunia diperkirakan sebesar 1 milyar jiwa dan
hampir 7,1 juta kematian setiap tahunnya akibat hipertensi, atau sekitar 13%
dari total kematian (Gusmira, 2012). Prevalensi hipertensi di Indonesia
untuk penduduk berumur diatas 25 tahun adalah 8,3%, dengan prevalensi
laki-laki sebesar 12,2% dan perempuan 15,5%.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar Depkes (Riskesdas) 2013,
sekitar 76% kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis. Hal ini
terlihat dari hasil pengukuran tekanan darah pada usia 18 tahun ke atas
ditemukan prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 31,7% (Depkes RI,
2013). Hipertensi seringkali ditemukan pada lansia. Dari hasil studi tentang
kondisi sosial ekonomi dan kesehatan lanjut usia yang dilaksanakan
Komnas Lansia di 10 Provinsi tahun 2012, diketahui bahwa penyakit
terbanyak yang diderita lansia adalah penyakit sendi (52,3%) dan
Hipertensi (38,8%), penyakit tersebut merupakan penyebab utama
disabilitas pada lansia (Kemenkes RI, 2013). Commented [H4]: Data lansia di banjar kahyangan mana?
Dan apa pentingnmya dilakukan TAK senam lansia disana?
Olahraga seperti senam hipertensi mampu mendorong jantung bekerja
secara optimal, dimana olahraga mampu meningkatkan kebutuhan energi
oleh sel, jaringan dan organ tubuh, dimana akibatnya dapat meningkatkan
aliran balik vena sehingga menyebabkan volume sekuncup yang akan
langsung meningkatkan curah jantung sehingga menyebabkan tekanan
darah arteri meningkat, setelah tekanan darah arteri meningkat akan terlebih
dahulu, dampak dari fase ini mampu menurunkan aktivitas pernafasan dan
otot rangka yang menyebabkan aktivitas saraf simpatis menurun, setelah itu
akan menyebabkan kecepatan denyut jantung menurun, volume sekuncup
menurun, vasodilatasi arteriol vena, karena menurunan ini mengakibatkan
penurunan curah jantung dan penurunan resistensi perifer total, sehingga
terjadinya penurunan tekanan darah (Sherwood, 2005).
Hubungan senam hipertensi terhadap pengendalian tekanan darah lansia
sebagaimana disimpulkan dalam penelitian Wahyuni (2015). Penelitian
menunjukkan terjadinya perbaikan tekanan darah pada lansia namun tidak
mencapai taraf signifikansi yang diinginkan. Tidak tercapinya perbaikan
tekanan darah yang diinginkan disebabkan adanya faktor perancu yang
berhubungan dengan tekanan darah lansia antara lain pola makan, stress,
aktivitas fisik, genetik serta farmakologi dalam penelitian yang tidak dapat
dikendalikan. Senam hipertensi merupakan olah raga yang salah satunya
bertujuan untuk meningkatkan aliran darah dan pasokan oksigen kedalam
otot-otot dan rangka yang aktif khususnya terhadap otot jantung. Mahardani
(2010) mengatakan dengan senam atau berolah raga kebutuhan oksigen
dalam sel akan meningkat untuk proses pembentukan energi, sehingga
terjadi peningkatan denyut jantung, sehingga curah jantung dan isi
sekuncup bertambah. Dengan demikian tekanan darah akan meningkat.
Setelah berisitirahat pembuluh darah akan berdilatasi atau meregang, dan
aliran darah akan turun sementara waktu, sekitar 30-120 menit kemudian
akan kembali pada tekanan darah sebelum senam. Jika melakukan olahraga
secara rutin dan terus menerus, maka penurunan tekanan darah akan
berlangsung lebih lama dan pembuluh darah akan lebih elastis.
Mekanisnme penurunan tekanan darah setelah berolah raga adalah karena
olahraga dapat merilekskan pembuluhpembuluh darah. Sehingga dengan
melebarnya pembuluh darah tekanan darah akan turun.
Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi merupakan suatu
gangguan pada pembuluh darah sehingga mengakibatkan suplasi oksigen
dan nutrisi. Kondisi ini menyebabkan tekanan darah diarteri meningkat dan
jantung harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Hipertensi merupakan penyakit yang yang banyak tidak menimbulkan
gelaja yang khas sehingga sering tidak terdiagnosis dalam waktu yang lama.
Menurut WHO batas tekanan darah yang normal adalah 140/90 mmHg.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hipertensi yaitu jeni
kelamin, keturunan, merokok, obesitas, stress, alkohol, kurang olahraga dan
usia.
Hipertensi jika dibiarkan dapat berkembang menjadi gagal jantung
kronik, stroke serta pengeclan volume otak, sehingga kemampuan fungsi
kognitif dan intelektual seorang penderita hipertensi akan berkurang.
Dampak dari hipertensi dalam jangka panjang juga dapat menyebabkan
kematian mendadak.
Pemerintah Indonesia telah membuat kebijakan kesehatan untuk
mencegah dan mengendalikan NCD (Non communicable diseases) dengan
Permenkes No 30 tahun 2013 tentang pencantuman pormasi kandungan
gula, garam dan lemak serta pesan kesehatan untuk pangan olehan dan
pangan siap saji guna menekan konsumen dari penyakit tidak menular
dengan multi sektoral yaitu mengurangi faktor resiko yang di modifikasi
melalui intervensi yang cost–effective, mengembangkan dan memperkuat
kegiatan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat untuk meningkatkan
partisipasi dan pemberdayaan masyarakat dalam pengendalian faktor resiko
NCD. Program NCD yang dilakukan seperti promosi kesehatan melalui pos
pembinaan terpadu pada masyarakat yaitumenjelaskan perilaku hidup
sehat, pengendalian terpadu pada faktor risiko NCD melalui dokter
keluarga dan puskesmas, rehabilitasi pada kasus NCD melalui homecare,
monitoring & controling.
Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) merupakan salah satu terapi
modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang
mengalami masalah keperawatan yang sama. Aktivitas digunakan sebagai
terapi dan kelompok digunakan sebagai target asuhan. Di dalam kelompok
terjadi dinamika interaksi saling bergantungan, saling membutuhkan, dan
menjadi laboratorium tempat klien berlatih perilaku baru yang adaptif untuk
memperbaiki perilaku yang maladaptive.
Berdasarkan uraian diatas, proses penuaan atau lanjut usia merupakan
suatu hal yang alamiah dan tidak dapat dihentikan. Menurut data yang
diperoleh jumlah lanjut usia serta angka harapan hidup mengalami
peningkatan yang cukup signifikan setiap tahun nya. Untuk mencegah
penurunan fungsional tubuh pada lansia terutama tekanan darah tinggi
dapat dilakukan dengan melakukan latihan fisik. Akan tetapi tidak semua
latihan fisik sesuai dengan lansia mengingat kemampuan mobilisasi lansia
terbatas. Oleh karena itu kelompok menggunakan senam hipertensi sebagai
intervensi dalam TAK untuk menurunkan tekanan darah lansia hipertensi
yang tinggal di Banjar Kayangan, Peguyangan Kangin.
U

DENAH

L
S
CO

K K K

F F

K K K

F F

K K K
F
F

K K K

OBS

Keterangan :
L : Leader
Co : Co-Leader
K : Klien/Lansia
F : Fasilitator
Obs : Obsever
DAFTAR PUSTAKA

Azizah. 2011. Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Profil Kesehatan Indonesia 2013.


Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Gusmira, S. 2012. Evaluasi Penggunaan Antihipertensi Konvensional dan Kombinasi


Konvensional Bahan Alam pada Pasien Hipertensi di Puskesmas
Wilayah Depok Makara, Kesehatan. Vol. 16, NO. 2. 77-83.

Kemenkes RI. 2013. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan. Jakarta:
Kemenkes RI.

Komnas Lansia. 2010. Profil Penduduk Lanjut Usia 2009. Jakarta.

Mahardani, N.M.A.F. 2010. Pengaruh Senam Jantung Sehat terhadap Penurunan


Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi di klub Jantung Sehat Klinik
Kardiovaskuler Rumah Sakit Hospital Cinere tahun 2010.

Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998


tentang Kesejahteraan Lanjut Usia 1998.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). 2013. Kementrian Kesehatan RI, Badan


Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI.
Jakarta.

Sherwood, L. 2005. Fisiologi kedokteran:dari Sel ke Sistem. Jakarta:ECG.

Sustrani L, Alam S, Hadibroto I. 2006. Stroke. Jakarta: Geamedia.

Wahyuni, S. 2015. Pengaruh Senam Hipertensi Terhadap Tekanan Darah ansia di


Posyandu Lansia Desa Krandegan Kabupaten Wonogiri, Skripsi,
Program Studi S-1 Keperawatan Stikes Kusuma Husada Surakarta,
Surakarta.