Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Hukum merupakan suatu pedoman yang mengatur pola hidup manusia

yang memiliki peranan penting dalam mencapai tujuan ketentraman hidup

bagi masyarakat. Hukum mempunyai sistem pada asas-asas yang

dikemukakan dan dikembangkan secara terperinci dengan perantara tulisan

para ahli hukum, putusan pengadilan dan himpunan hukum dalam suatu

Undang-Undang. Kegunaan hukum dalam kejadian konkrit tidak hanya

bersandar kepada ketentuan hukum dalam Undang-Undang saja, karena

Undang-Undang tidak hanya memuat kaidah terperinci untuk peristiwa apa

yang akan terjadi, melainkan ia juga bersandar juga pada pendapat umum

untuk dasar pemikiran tentang apa yang seharusnya dan apa yang senyatanya

menurut hukum yang dikembangkan oleh para ahli hukum. Kenyataan yang

ada bahwa setiap bangsa mempunyai kebudayaan sendiri dan juga mempunyai

hukum sendiri, dimana satu sama lain hukum dan kebudayaan itu masing-

masing berbeda di tiap negara.

Perbandingan hukum adalah pengetahuan yang usianya masih relatif

muda, dari sejarah diketahui perbandingan hukum sudah sejak dahulu sudah

dipergunakan orang akan tetapi baru secara insidental. Adolf F. Schnitzer

1
mengemukakan, bahwa baru pada abad ke-19 perbandingan hukum itu

berkembang sebagai cabang khusus dari ilmu hukum.1

Perkembangan Perbandingan Hukum pada abad ke-19 itu terutama terjadi

di Eropa khususnya Jerman,Perancis,Inggris dan di Amerika. Studi

perbandingan hukum pidana pada dasarnya adalah memperbandingan

berbagai sistem hukum yang ada dalam hal ini yang diperbandingkan adalah

dua atau lebih sistem hukum yang berbeda.Perbandingan hukum menjadi lebih

diperlukan karena dengan perbandingan hukum kita dapat mengetahui jiwa

serta pandangan hidup bangasa lain termasuk hukumnya. Civil law dan

Common Law adalah dua sistem hukum yang terbesar didunia. Hukum pidana

positif Indonesia ialah berasal dari keluarga hukum Civil Law System yang

mementingkan sumber hukum dari peraturan perundangan yang ada dan

berlaku di Indonesia.

Sementara Inggris menganut sistem hukum Common Law System dan

merupakan induk dari Common Lay System yang mengutamakan kebiasaan

yang berlaku di sana.Kebiasaan tersebut dapat berupa norma maupun putusan-

putusan hakim sebelumnya. Case-Law Sebagai salah satu sumber hukum,

khsusnya dinegara Inggris merupakan ciri karakteristik yang paling utama.

Seluruh hukum kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat tidak melalui

parlemen, akan tetapi dilakukan oleh hakim, sehingga dikenal dengan judge

made law, setiap putusan hakim merupakan precedent bagi hakim yang akan

datang sehingga lahirlah doktrin precedent sampai sekarang. Sebagai

1
Barda Nawawi Arief, Perbandingan Hukum Pidana ,Cet.5,Raja Grapindo Persada,
Jakarta,2003, hal.1.

2
konsekuensi dipergunakannya sistem case law dengan doktrin precedent yang

merupakan ciri utama dari sistem hukum Common Law (Inggris) .

Selain perbedaan seperti yang tersebut diatas, kedua sistem hukum pidana

kedua negara sebenarnya memiliki kesamaan. Setiap sistem hukum, pasti

memiliki asas-asas yang kemudian dijabarkan dalam aturan-aturan hukumnya.

Salah satu asas hukum yang sangat penting dan dimiliki oleh setiap sistem

hukum adalah asas legalitas atau dikenal juga dengan asas “Nullum delictum,

nulla poena, sina praevia lege poenali”.

Di Indonesia,Nullum dilectum nulla peona sine prae via lege atau geen

straf zonder schuld dalam bahasa latinnya diartikan sebagai tidak ada delik

dan tidak ada pidana tanpa peraturan terlebih dahulu atau tiada pidana tanpa

kesalahan atau dikenal dengan nama asas legalitas dalam Pasal 1 ayat (1)

KUHP. Konkritnya,untuk menentukan dapat atau tidaknya suatu perbuatan

agar dipidana maka ketentuan pidana tersebut harus ada terlebih dahulu diatur

sebelum perbuatan itu dilakukan.Pada dasarnya asas legalitas eksistensinya

diakui di Indonesia akan tetapi pada perkembangan zaman sekarang banyak

sekali perbuatan yang sepatutnya dipidana tidak dipidana karena asas legalitas

menghalangi berlakunya hukum pidana adat yang masih berlaku dan akan

hidup. Di Inggris,asas ini tidak pernah formal dirumuskan dalam perundang-

undangan namun asas ini menjiwai putusan- putusan pengadilan karena

bersumber pada case law. Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis ingin

membandingkan hukum pidana Indonesia dan hukum pidana Inggris yaitu

tentang konsep asas legalitas dimana selain disamping ada perbedaan

3
sebenarnya terlihat pula persamaan dengan adanya hukum pidana tidak

tertulis ( hukum pidana adat ) di Indonesia dan sistem hukum inggris yang

bersumber dari hukum tidak tertulis. Maka penulis mengambil judul skripsi

yang berjudul, ”Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Hukum

Pidana Inggris tentang Konsep Asas legalitas”.

B. Perumusan Masalah

Setelah penulis mengungkapkan hal-hal di atas, maka penulis

berkeinginan untuk meneliti, mempelajari serta membahas tentang

Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Hukum Pidana Inggris tentang

Konsep Asas legalitas . Adapun rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana konsep asas legalitas pada hukum pidana Indonesia dan

hukum pidana Inggris dalam kepastian hukum?

2. Bagaimana Persamaan dan Perbedaan asas legalitas pada hukum pidana

Indonesia dan hukum pidana Inggris penegakannya dan kepentingan

masyarakat ?

C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian

Suatu penelitian yang dilakukan tentu harus mempunyai tujuan dan

manfaat yang ingin diperoleh dari hasil penelitian. Dalam merumuskan tujuan

penelitian, penulis berpegang pada masalah yang telah dirumuskan.

1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui dan mengkaji konsep asas legalitas pada hukum

pidana Indonesia dan hukum pidana Inggris dalam kepastian hukum.

4
b. Untuk mengetahui dan mengkaji Persamaan dan Perbedaan asas legalitas

pada hukum pidana Indonesia dan hukum pidana Inggris dalam

penegakannya dan kepentingan masyarakat.

2. Manfaat Penelitian

Tiap penelitian harus mempunyai kegunaan bagi pemecahan

masalah yang diteliti. Untuk itu suatu penelitian setidaknya mampu

memberikan manfaat praktis pada kehidupan masyarakat. Kegunaan

penelitian ini dapat ditinjau dari dua segi yang saling berkaitan yakni dari

segi teoritis dan segi praktis. Dengan adanya penelitian ini penulis sangat

berharap akan dapat memberikan manfaat :

a. Manfaat Teoritis

1) Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang didapat dalam

perkuliahan dan membandingkannya dengan praktek di lapangan.

2) Sebagai wahana untuk mengembangkan wacana dan pemikiran bagi

penulis dan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana.

3) Untuk mengetahui secara mendalam mengenai asas legalitas di

Indonesia dan di Inggris

4) Hasil penelitian ini diharapkan untuk memperkaya kajian

perpustakaan memgenai perbandingan hukum pidana .

b. Manfaat Praktis

1) Memberikan sumbangan pemikiran di bidang hukum pada

umumnya dan pada khususnya pada mata kuliah perbandingan

hukum pidana.

5
2) Untuk memberikan masukan dan informasi bagi masyarakat luas

tentang perbandingan hukum pada negara Indonesia dengan negara

lain khususnya negara Inggris.

3) Hasil penelitian ini sebagai bahan ilmu pengetahuan dan wawasan

bagi penulis, khususnya bidang hukum pidana.

4) Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumbangan

pemikiran bagi aparat penegak hukum dalam menegakkan hukum.

D. Kerangka Konseptual

1. Perbandingan Hukum

Perbandingan hukum adalah suatu ilmu pengetahuan yang

mempelajari mengenai prinsip-prinsip ilmu hukum dengan melakukan

perbandingan berbagai macam sistem hukum dengan mencari persamaan

dan perbedaan dari kedua prinsip-prinsip yang terdapat dari dua sistem

hukum tersebut. Perbandingan Hukum adalah ilmu pengetahuan

berkembang nyata pada akhir abad ke-19 atau permulaan abad ke-20.

Berawal dari minat perseorangan, kemudian didukung oleh kelembagaan.

Secara kelembagaan,kemudian muncul beberapa institusi dalam

pengembangan yaitu Institute Perbandingan Hukum di College de France

tahun 1832 dan 1846 menyusul di University of Paris.2

2. Hukum pidana Indonesia

2
Barda Nawawi Arief ,Perbandingan Hukum Pidana ,Jakarta , Rajawali Pers,2002,hal.1.

6
Hukum pidana adalah keseluruhan aturan- aturan yang menentukan

perbuatan apa yang dilarang dan yang termasuk ke tindak pidana serta

menentukan hukuman yang dapat diberikan pada pelaku tindak pidana.

a. Hukum pidana Inggris

Hukum Pidana Inggris terutama bersumber pada common law,

yaitu bersumber dari kebiasaan atau hukum tidak tertulis yang

dikembangkan dalam putusan-putusan pengadilan,statute law ,teks book.

b. Konsep

Menurut Bahri, Konsep adalah penyusun utama dalam pembentuk

pengetahuan ilmiah dan filsafat pemikiran manusia satuan arti yang

mewakili sejumlah objek yang yang mempunyai ciri sama3.

c. Asas Legalitas

Asas legalitas di Indonesia terdapat dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP

yang berbunyi : tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan

aturan pidana dalam perundang-undangan yang telah ada sebelum

perbuatan dilakukan. Konsekuensi dari pasal tersebut ialah bahwa

perbuatan seseorang yang tidak tercantum dalam undang-undang sebagai

suatu tindak pidana juga tidak dapat dipidana jadi dengan asas ini hukum

yang tidak tertulis tidak memiliki kekuatan hukum untuk diterapkan.Asas

legalitas (Principle of Legality), asas yang menentukan bahwa tidak ada

perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana jika tidak ditentukan

terlebih dahulu dalam perundang-undangan.

3
Bahri, Sosiologi Suatu pengantar, Persada, Jakarta, 2000, hal.14.

7
Asas Legalitas di Inggris ini tidak secara formal dirumuskan dalam

perundang-undangan akan tetapi asaas ini dilihat dari putusan putusan

pengadilan dan memiliki kekuatan mengikat. Mula-mula secara formal

Inggris menganut asas Legalitas dalam arti materil karena ada Case Law

dan ajaran Presedent itu. Tapi sejak 1972 setelah Hose of Law” melarang

hakim menciptakan/memperluaskan delik yg telah ada.4

E. Landasan Teoritis

a. Perbandingan Hukum adalah

1. Membanding-bandingkan sesuatu dgn yg lainnya, dalam hal ini di

bidang hukum.

2. Membandingkan itu berarti mencari persamaan dan perbedaan dari satu

obyek atau lebih.

3. Proses perbandingan dapat diibaratkan sebagai suatu kegiatan untuk

mengadakan identifikasi terhadap persamaan / perbedaan antara dua

gejala tertentu atau lebih.

b. Sistem Hukum (Famili Hukum) atau Keluarga Hukum

1. Sistem hukum Kontinental (civil law), dasarkan pada system hukum

Romawi yg berupa system hokum kodifikasi, berorientasi pada definisi

hukum, konsep-konsep atau pemikiran yg abstrak dan pada ajaran-

ajaran atau dogma-dogma hukum (disini termasuk America Latin)

4
Barda Nawawi Arief, Op.Cit, hal. 25.

8
2. Sistem hukum Anglo Saxon ( Common Law) Ini tidak ada kodifikasi,

berorientasi pada hukum konkrit yg ada dalam Case Law (hukum

kasus)

3. Sistem Hukum Timur Tengah (Mudle East System)

Didasarkan pada hukum-hukum Islam.

4. Sistem Hukum Timur Jauh (Far East System)

Didasarkan pada hukum Tradisional, walaupun ada undang-undang

yang dibuat tertulis. Seperti China dan Jepang.

5. Sistem Hukum Sosialis ( Socialist Legalty).Didasarkan pada system

Materialisnya

c. Hukum Pidana di Indonesia

1. Asas Legalitas di Indonesia

Di Indonesia asas legalitas dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP

yang berbunyi “Geen feit is strafbaar dan uit kracht van eene daaraan

voorafgegane wettelijke strafbepaling” yang artinya tidak ada suatu

perbuatan yang dapat dihukum, kecuali berdasarkan ketentuan pidana

menurut undang-undang yang telah ada terlebih dahulu daripada

perbuatannya itu sendiri. Asas Legalitas dapat dibagi menjadi dua jenis:

a. Asas legalitas dalam arti formal, batasannya adalah undang-undang

b. Asas Legalitas dalam arti materill,batasannya aturan hukum yang

mempunyai pengertian lebih luas dari pada undang-undang.

Ketentuan pidana yang telah diatur dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP

tersebut mengandung tiga buah asas yang sangat penting, yaitu :

9
a. bahwa hukum pidana yang berlaku di negara kita itu merupakan

suatu hukum yang tertulis;

b. bahwa undang-undang pidana yang berlaku di Negara kita itu tidak

dapat diberlakukan surut; dan

c. bahwa penafsiran secara analogis itu tidak boleh dipergunakan dalam

menafsirkan undang-undang pidana.

2. Tujuan Hukum Pidana di Indonesia

a. Menurut aliran klassik.

Tujuan hukum pidana itu untuk melindungi individu dari

kekuasaan atau negara.

b. Menurut aliran modern

Tujuan hukum pidana itu untuk melindungi masyarakat terhadap

kejahatan.

Tujuan diadakan pidana itu diperlukan karena manusia harus

mengetahui sifat dari pidana dan dasar hukum dari pidana.5

3. Tujuan Pemidanaan

Pemidanaan secara sederhana dapat diartikan dengan

penghukuman. Penghukuman yang dimaksud berkaitan dengan

penjatuhan pidana dan alasan-alasan pembenar (justification)

dijatuhkannya pidana terhadap seseorang yang dengan putusan

pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (incracht van

gewijsde) dinyatakan secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan

5
Bambang Poernomo, Asas-asas Hukum Pidana, Gahalia Indonesia, Jakarta,1993, hal. 24.

10
tindak pidana. Tentunya, hak penjatuhan pidana dan alasan pembenar

penjatuhan pidana serta pelaksanaannya tersebut berada penuh di

tangan negara dalam realitasnya sebagai roh.

Patut diketahui, bahwa tidaklah semua filsuf ataupun pakar hukum

pidana sepakat bahwa negaralah yang mempunyai hak untuk

melakukan pemidanaan (subjectief strafrech). Hal ini dapat terlihat

jelas pada pendapat Hezewinkel-Suringa yang mengingkari sama

sekali hak mempidana ini dengan mengutarakan keyakinan mereka

bahwa si penjahat tidaklah boleh dilawan dan bahwa musuh tidaklah

boleh dibenci.6 Kembali berbicara mengenai tujuan pemidanaan,

bahwa pada prinsipnya tujuan tersebut termaksuk dalam berbagai teori

pemidanaan yang lazim dipergunakan. Secara garis besar, teori

pemidanaan terbagi dua dan dari penggabungan kedua teori

pemidanaan tersebut lahir satu teori pemidanaan lainnya.

Adapun tiga teori pemidanaan yang dijadikan alasan pembenar

penjatuhan pidana :

a. Teori absolut atau teori pembalasan (vergeldings theorien),

Aliran ini mengangap sebagai dasar hukum dari pidana adalah

alam pikiran untuk pembalasan.

b. Teori relatif atau teori tujuan (doeltheorien),

Aliran ini menganggap bahwa dasar hukum dari pidana adalah

terletak pada tujuan pidana itu sendiri.

6
Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia, PT. Refika Aditama,
Bandung, 2008, hal. 23.

11
c. Teori gabungan (verenigingstheorien)

VOS menerangkan bahwa didalam teori gabungan terdapat

3 aliran yaitu:

(1) Teori ini menitikberatkan pembalasan tetapi dengan


maksud sifat pidana pembalasan itu untuk melindungi
ketertiban hukum.
(2) Teori gabungan menitikberatkan pada perlindungan
ketertiban masyarakat.
(3) Teori ini dititikberatkan sama antara pembalasan dan
perlindungan kepentingan masyarakat.7

d. Hukum Pidana Inggris

1. Sumber Hukum Pidana Inggris

a) Common Law.

Custom → Common Law → Case Law → ajaran Presedent.

Sebagaimana kita ketahui bahwa hukum yg utama di Inggris

adalah Common Law atau hukum kebiasaan. Semula ia

hanya kebiasaan saja yg mengatur kehidupan masyarakat.

Kemudian kalau terjadi sengketa baik perdata atau pidana

diselesaikan dengan menggunakan hukum adat atau

kebiasaan. Kemudian setelah diberi sanksi maka ia menjadi

hukum kebiasaan (common law) tetapi ada kasus-kasus yg

tidak dapat diselesaikan berdasarkan hukum kebiasaan

melalui fungsionalis/pejabatnya yang melaksanakan hukum

kebiasaan. Maka kasus yang demikian di ajukan ke

pengadilan dan kemudian memperoleh keputusan hakim.

7
Lamintang, Asas-asas Hukum pidana,Ghalia Indonesia,Jakarta,2002,hal.19.

12
Keputusan hakim inilah yg disebut: Case Law (hukum

kebiasaan kasus-kasus Konkrit).

Keputusan-keputusan hakim ini wajib di ikuti oleh

hakim-hakim yg menyelesaikan kasus yg sama dikemudian

hari karena didasarkan pada “ Asas Stare Decisis/Binding

Force of Precedent ” yaitu : Asas yg mewajibkan hakim

untuk mengikuti putusan-putusan hakim yg telah ada dalam

kasus-kasus yg sama.Kedudukan Putusan Pengadilan.

Putusan berdasarkan asas presedent ini mempunyai kekuatan

yg mengikat (binding anthonity).

b) Statute Law.

Legislatif → Statute Law ( hukum tertulis ).

Statute Law ini berasal dari undang-undang yang dibuat oleh

DPR nya baik putusan “Hose of Law” maupun “House of

Common”. Hukum tertulis Statute law ini tidak di muat

dalam suatu kitab undang-undang atau terkodifikasi tetapi

tersebar sesuai tindak pidana yang telah diatur.

Misalnya : Indonesia ada KUHP, KUHPerdata dan KUHD

yg terkodifikasi kalau di Inggris tidak ada mereka hanya

bersifat tertulis saja seperti Undang-undang di Indonesia

seperti UU Narkotia, UU Korupsi dan lainnya.

c) Doktrin.

13
Selain Common Law dan Statute Law sebagai sumber

hukum pidana Inggris ada juga Doktrin sebagai sumber

hukum. Doktrin biasa digunakan oleh hakim jika aturannya

tidak diatur dalam undang-undang atau Common Law.

Doktrin disini merupakan harus doktrin yg dibuat dalam teks

books.

1) Beberapa Undang-undang (Statute Law) Inggris

a) Undang-undang mengenai tindak pidana terhadap orang

(1861)

b) Undang-undang tindak pidana pembunuhan yg disebut :

Homiede Aet (1957)

c) Undang-undang penghapusan pidana mati (1965)

d) Undang-undang mengenai Abortus (1968)

e) Undang-undang pembajakan pesawat udara (1971) dan

beberapa lainnya.

2) Asas-asas Hukum Pidana Inggris

a) Asas Legalitas.

b) Asas Means Rea , Actus non Facit reumisimens sizmen

istilah ini berasal dari bahasa Latin yg artinya : Suatu

perbuatan tidak mengakibatkkan orang bersalah kecuali jika

pikiran orang itu jahat. Means Rea ini sendiri berarti sikap

batin yang jahat. Walaupun tidak ada dalam Undang-undang

asas means rea tetap digunakan.

14
c) Asas Strict Liability ( pertanggung jawaban tanpa kesalahan)

Walaupun di Inggris menganut asas Means Rea tetapi ada

beberapa delik tidak mensyaratkan Means Rea yg penting

sudah terjadi Actus Neusnya (perbuatan lahir yg terlarang).

Strict Liabilty ini pada dasarnya di tentukan dalam undang-

undang (statute law).

d) Asas Vicarious Cialibity (pertanggung jawaban atas

keasalahan orang lain)

F. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode-metode sebagai berikut:

1. Tipe Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah penelitian Yurisis

Normatif yaitu tipe penelitian hukum yang meletakkan hukum sebagai

sebuah bangunan sistem norma.Penelitian hukum normatif adalah

penelitian kepustakaan berupa penelitian kepustakaan yang meneliti bahan

pustaka atau data sekunder dengan mempelajari sumber-sumber atau

bahan-bahan tertulis berupa buku-buku, artikel, koran dan majalah dengan

membaca, menafsirkan, membandingkan serta menerjemahkan dari

berbagai sumber yang berhubungan dengan perbandingan hukum pidana

Indonesia dengan hukum pidana Inggris tentang asas konsep legalitas.

2. Pendekatan Penelitian

Metode pendekatan yang dipakai ialah

a. Pendekatan Konseptual

15
Pendekatan dilakukan dengan meneliti pengertian-pengertian

hukum,asas-asas hukum dan teori-teori hukum yang berhubungan

dengan masalah yang dibahas.

b. Pendekatan perundangan - perundangan

Pendekatan dilakukan dengan meneliti semua peraturan

perundang-undangan yang berhubungan dengan judul penelitian dan

masalah yang yang dibahas .

c. Pendekatan Perbandingan

Pendekatan dilakukan dengan mengadakan studi Perbandingan

Hukum yaitu dengan membandingkan hukum suatu negara dengan

negara lain.

3. Pengumpulan bahan hukum

Teknik pengumpulan data yang dipergunakan yaitu melalui penelitian

kepustakaan baik berupa buku-buku, peraturan perundang-undangan,

dokumen-dokumen, internet dan sebagainya.Jenis data yang dipergunakan

meliputi data primer dan data sekunder. Data yang diperlukan:

a. Bahan Hukum primer

Bahan hukum primer terdiri dari semua perundang-undangan yang

berhubungan dengan masalah yang dibalas.Diantaranya KUHP

Indonesia.

b. Bahan Hukum sekunder

16
Merupakan data yang mendukung sumber data primer berupa data

dari buku-buku, literatur, peraturan-peraturan dan lain-lain yang

berhubungan dengan penelitian ini.

4. Analisis bahan hukum

Analisis dilakukan dengan cara :

a. Menginterpretasikan semua peraturan-peraturan perundang-undangan

sesuai dengan masalah yang dibahas

b. Menilai bahan-bahan hukum yang berhubungan dengan masalah yang

diteliti

c. Mengevaluasikan perundang-undangan yang berhubungan dengan

masalah yang dibahas.

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi ini dibagi menjadi beberapa 4 bab, seperti

berikut ini :

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini memuat tentang Latar Belakang Permasalahan yang menguraikan

hal-hal yang menjadi dasar pertimbangan dibuatnya tulisan ini. Dalam bab ini

juga dapat dibaca Pokok Permasalahan, Tujuan Penelitian dan Manfaat

Penelitian, Kerangka Konseptual, landasan teoritis, Metode Penelitian, dan

Sistematika Penulisan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

17
Bab ini memuat tentang pengertian hukum pidana Indonesia dan Inggris,

sumber-sumber hukum Pidana Inggris dan Indonesia dan Tinjaun tentang asas

legalitas di negara Indonesia dan Inggris.

BAB III : PEMBAHASAN

Bab ini berisi tentang pembahasan hasil analisis, jawaban atas pertanyaan-

pertanyaan yang disebutkan dalam perumusan masalah.

BAB IV : KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA

a. Buku

Andi Hamzah. Hukum acara pidana Indonesia. Edisi revisi. Sinar Gravika,
Jakarta, 2002.

18
Barda Nawawi Arief. Perbandingan Hukum Pidana. Cet.5. Raja Grapindo
Persada, Jakarta,

Perbandingan Hukum Pidana ,Jakarta : Rajawali


Pers,2002.

Bambang poernomo. Asas-asas Hukum Pidana. Gahalia Indonesia, Jakarta,1993.

Lamintan. Asas-asas Hukum pidana. Ghalia Indonesia, Jakarta, 2002.

Moeljatno. Asas-asas Hukum Pidana. Cet. Ke VII. Rineka Cipta, Jakarta,2002.

Peter Mahmud Marzuki. Penelitian Hukum.Cet.2. Kencana, Jakarta, 2005.

Wirjono Prodjodikoro. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia. PT. Refika


Aditama, Bandung, 2008.

b. Peraturan Perundang-undangan

1) Undang-undang
Republik Indonesia .Undang-undang Tentang Hukum Pidana .UU Nomor 8
Tahun 1981

c. Media Internet

http://pajarr.blogspot.com/2011/09/sejar…

http://www. id.wikipedia.org

http://thephenomena.wordpress.com/2008/07/24/asas-legalitass/.

19