Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Titrasi merupakan metode analisis kimia secara kuantitatif yang biasa
digunakan dalam laboratorium untuk menentukan konsentrasi dari reaktan.
Karena pengukuran volume memainkan peranan penting dalam titrasi, maka
teknik ini juga dikenali dengan analisis volumetrik. Menurut Sunarya (2007)
Titrasi adalah suatu metode untuk menentukan konsentrasi zat di dalam larutan.
Titrasi dilakukan dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan larutan yang
sudah diketahui konsentrasinya. Reaksi dilakukan secara bertahap (tetes demi
tetes) hingga tepat mencapai titik stoikimetri atau titik setara. Ada beberapa
macam titrasi bergantung pada jenis reaksinya, seperti titrasi asam basa, titrasi
permanganometri, titrasi argentometri, dan titrasi iodometri. Pada praktikum kali
ini akan membahas tentang titrasi asam basa. Dalam titrasi asam basa, zat-zat
yang bereaksi umumnya tidak berwarna sehingga anda tidak tahu kapan titik
stoikiometri tercapai. Misalnya, larutan HCl dan larutan NaOH, keduanya tidak
berwarna dan setelah bereaksi, larutan NaCl yang terbentuk juga tidak berwarna.
Selama titrasi berlangsung terjadi perubahan pH. pH pada titik equivalen
ditentukan oleh sejumlah garam yang dihasilkan dari netralisaasi asam basa.
Indikator yang digunakan pada titrasi asam basa adalah yang memiliki rentang pH
dimana titik equivalen berada. Pada umumnya titik equivalen tersebut sulit untuk
diamati, yang mudah dimatai adalah titik akhir yaang dapat terjadi sebelum atau
sesudah titik equivalen tercapai. Titrasi harus dihentikan pada saat titik akhir
titrasi tercapai, yang ditandai dengan perubahan warna indikator. Titik akhir titrasi
tidak selalu berimpit dengan titik equivalen. Dengan pemilihan indikator yang
tepat, kita dapat memperkecil kesalahan titrasi.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui titrasi asam
basa dan untuk mengetahui konsentrasi titrat.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Titrasi
Titrasi merupakan suatu prosedur yang bertujuan untuk mengetahui
konsentrasi suatu zat dalam suatu larutan. Suatu larutan yang akan dianalisa
kandungan zatnya, ditritasi (ditetesi) oleh suatu larutan lain. Ketika terjadi
perubahan warna pada zat yang dianalisa maka kita akan bisa mengetahui
kandungan atau besarnya konsentrasi suatu zat dalam larutan tersebut. Titrasi
mengacu pada jumlah larutan zat penitrasi disebut tritrasi volumeteri. Sedangkan,
titrasi yang melibatkan tritrasi larutan asam dan basa disebut tritasi asidi
alkalimetri. Secara teknik, tritasi dilakukan sedikit demi sedikit hingga larutan
basa/asam yang ada dalam labu erlenmeyer terjadi perubahan warna dari indikator
yang dipakai. Terjadinya perubahan warna menunjukkan bahwa asam dan basa
tepat habis bereaksi. Saat warna berubah titrasi dihentikan dan catat volume titik
akhir tritasi. (Untoro, 2010)

2.2 Indikator
Dalam analisis kuantitatif, indikator digunakan untuk menentukan titik
ekuivalen dari titrasi asam basa. Karena indikator mempunyai interval pH yang
berbeda-beda dan karena titik ekuivalen dari titrasi asam basa berubah-ubah
sesuai dengan kekuatan relatif asam basanya, maka pemilihan indikator
merupakan hal terpenting. Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan
kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui
konsentrasinya. Titrasi asam basa adalah titrasi yang melibatkan asam maupun
basa sebagai titer (zat yang telah diketahui konsentrasinya) maupun titran (zat
yang akan ditentukan kadarnya) dan berdasarkan reaksi penetralan asam basa.
Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa yang telah
diketahui kadarnya, dan sebaliknya, kadar larutan basa dapat diketahui dengan
menggunakan larutan asam yang diketahui kadarnya. Titik ekivalen yaitu pH pada
saat asam dan basa (titran dan titer) tepat ekivalen atau secara stoikiometri tepat
habis bereaksi. Titik ekuivalen titrasi ini dapat dicapai setelah penambahan 100 ml

2
basa, pada saat ini pH larutan besarnya 7. Titik ekuivalen ini disebut titik akhit
teoritis. Problemnya sekarang adalah kita ingin menetapkan titik akhir ini dengan
pertolongan indikator. Titik akhir yang dinyataka oleh indikator disebut titik akhir
titrasi. Indikator yang dipakai harus dipilih agar titik akhir titrasi dan teoritis
berhimpit atau sangat berdekatan. Untuk itu harus dipilih indikator yang memiliki
trayek perubahan warnanya di sekitar titik akhir teoritis (Sukardjo, 1984)

2.3 Menentukan Titik Ekuivalen


Titik ekuivalen adalah titik ketika jumlah basa yang ditambahkan sama
dengan jumlah asam yang ada. Titik akhir titrasi adalah titik ketika zat yang
dititrasi mengalami perubahan warna indikator setelah penambahan zat penitrasi
(Parning, 2006).
Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa,
antara lain :
1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan,
kemudian membuat plot antara pH dengan volume titran untuk memperoleh kurva
titrasi.titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalen”.
2. Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan dua hingga tiga tetes
(sedikit mungkin) pada titran sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan
berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi dihentikan.
Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indikator yang perubahan
warnanya dipengaruhi oleh pH.
Pada umunya cara kedua lebih dipilih karena kemudahan dalam pengamatan,
tidak diperlukan alat tambahan, dan sangat praktik, walaupun tidak seakurat
dengan pH meter (Bredy, 1999)

2.4 Indikator Asam Basa


Indikator asam basa adalah suatu zat yang warnanya berbeda-beda sesuai
dengan konsentrasi ion hidrogen. Indikator asam basa umumnya merupakan suatu
asam atau basa organik lemah yang dipakai dalam larutan yang sangat encer.
Molekul-molekul indikator yang tidak terdisosiasi mempunyai warna yang
berbeda dengan hasil disosiasinya (Willibrordus Harjadi, 1990). Indikator asam

3
basa digunakan sebagai petunjuk kapan suatu titrasi asam basa harus diakhiri.
Titrasi merupakan proses dari suatu metode pemeriksaan kimia yang dilakukan
untuk menentukan kuantitas atau kadar suatu unsur/senyawa dari suatu perwakilan
sampel berdasarkan pengukuran volume larutan pereaksi untuk bereaksi secara
stoikiometri dengan zat yang ditentukan. Beberapa indikator titrasi asam basa saat
ini telah banyak digunakan seperti phenolphthalein (PP), bromothymol blue (BB),
methyl orange, methyl red dan alizarin yellow (Hasibuan, et all, 2016)

2.5 Alat Titrasi


Standarisasi dapat dilakukan dengan titrasi. Titrasi merupakan proses
penentuan konsentrasi suatu larutan dengan mereaksikan larutan yang sudah
ditentukan konsentrasinya. (Larutan standar ) Titrasi asam basa adalah suatu titrasi
dengan menggunakan reaksi asam basa (reaksi penetralan) prosedur analisis pada
titrasi volumetric yaitu mengukur volume dari suatu asam basa yang bereaksi
(Syukri, 1999). Dalam melakukan titrasi ada alat-alat titrasi yaitu buret dan statif,
tabung Erlenmeyer, karet penghisap, gelas arloji, pipet tetes, labu takar, pipet
volume.

4
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum Kimia Dasar ini dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 24 Oktober
2019 pada pukul 09.20 – 11.20 WIB yang bertempat di Laboratorium
Agroekoteknologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang dibutuhkan adalah Beaker glass 250 m, buret 50 ml, gelas ukur 25
ml, Erlenmeyer 250 ml, dan pipet tetes. Bahan yang dibutuhkan yaitu larutan HCl
0,1 N sebanyak 100 ml, larutan NaOH (larutan contoh), dan indikator
fenolptalein.

3.3 Cara Kerja


Adapun cara kerja pada praktikum kali ini, yaitu
1. Larutan standar HCl dimasukkan ke dalam buret 50 mL
2. Larutan contoh NaOH dimasukkan ke dalam Erlenmeyer sebanyak 25 mL
3. Ditambahkan 2-3 tetes larutan indikator fenolptalein pada contoh
4. Lakukanlah hingga terjadi perubahan warna pada contoh
5. Volume larutan standar yang dibutuhkan dicatat
6. Ulangi titrasi secara duplo
7. Konsentrasi larutan contoh ditentukan menggunakan rumus V1M1 = V2M2

5
BAB IV
HASIL PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 2. Hasil Pengukuran
Titrasi Ke- Volume Larutan Standar Konsentrasi Larutan
(HCl 0,1 N) (mL) Contoh (NaOH) (N)
1 15,5 ml 0,062
2 14,6 ml 0,0584
3 16,4 ml 0,0656

4.2 Pembahasan
Pada praktikum kimia dasar kali ini merupakan praktikum yang membahas
tentang titrasi asam basa yang bertujuan untuk mengetahui asam basa dan untuk
mengetahui konsentrasi titrat. Menurut Rahayu (2009) titrasi adalah proses
penentuan konsentrasi suatu larutan dengan cara meneteskan sedikit demi sedikit
larutan asam atau basa yang telah diketahui konsentrasinya (disebut titran) ke
dalam larutan asam atau basa yang akan dicari konsentrasi (disebut titrat) sampai
titik ekuivalennya. Titik ekuivalen adalah titik saat sejumlah ion OH- tepat habis
bereaksi dengan sejumlah ion H+.
Menurut Ratnasari, et all ( 2016) Titrasi asam basa merupakan salah satu
metode analisis kuantitatif untuk menentukan konsentrasi dari suatu zat yang
ada dalam larutan. Keberhasilan dalam titrasi asam-basa sangat ditentukan
oleh kinerja indikator yang mampu menunjukkan titik akhir dari titrasi.
Indikator merupakan suatu zat yang ditambahkan ke dalam larutan sampel
sebagai penanda yang menunjukkan telah terjadinya titik akhir titrasi pada
analisis volumetrik. Suatu zat dapat dikatakan sebagai indikator titrasi asam
basa jika dapat memberikan perubahan warna sampel seiring dengan
terjadinya perubahan konsentrasi ion hidrogen atau perubahan pH .
Prinsip titrasi asam basa, titrasi asam basa adalah titrasi yang bertujuan
menentukan kadar larutan asam atau kadar larutan basa. Asam secara umum
merupakan senyawa kimia yang bila dilarutkan dalam air akan menghasilkan

6
larutan dengan pH lebih kecil dari 7. Titrasi asam basa melibatkan asam maupun
basa sebagai titer ataupun titrant. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan.
Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya.
Titrant ditambahkan sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen
(Artinya secara stoikiometri titrant atau titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini
disebut sebagai “titik ekuivalen”. Pada saat titik ekuivalen ini maka proses titrasi
dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai
keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titrant, volume dan
konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titrant.
Menurut Harjanti (2008) Indikator asam basa ialah zat yang dapat berubah
warna apabila pH lingkungannya berubah. Apabila dalam suatu titrasi, asam
maupun basanya merupakan elektrolit kuat, larutan pada titik ekivalen akan
mempunyai pH = 7. Tetapi bila asamnya ataupun basanya merupakan elektrolit
lemah, garam yang terjadi akan mengalami hidrolisis dan pada titik ekivalen
larutan akan mempunyai pH > 7 (bereaksi basa) atau pH < 7 (bereaksi asam).
Harga pH yang tepat dapat dihitung dari tetapan ionisasi dari asam atau basa
lemah tersebut dan dari konsentrasi larutan yang diperoleh. Titik akhir titrasi asam
basa dapat ditentukan dengan indikator asam basa. Indikator yang digunakan
harus memberikan perubahan warna yang Nampak di sekitar pH titik ekivalen
titrasi yang dilakukan, sehingga titik akhirnya masih jatuh pada kisaran perubahan
pH indikator tersebut. Harjadi (1986) menyebutkan bila suatu indikator digunakan
untuk menunjukkan titik akhir titrasi, maka indikator harus berubah warna tepat
pada saat titrant menjadi ekivalen dengan titrat dan perubahan warna itu harus
terjadi secara mendadak agar tidak ada keraguan-keraguan tentang kapan titrasi
harus dihentikan.
Kesalahan-kesalahan yang sering terjadi saat titrasi dikarenakan oleh
kesalahan dalam membuat larutan baku. Misalnya HCl yang seharusnya dibuat
dengan konsentrasi 1 M tetapi karena tidak teliti maka larutan tersebut dibuat
dengan konsentrasi 0,98 M, kesalahan dalam mengamati perubahan warna
indikator, kesalahan dalam membaca skala ukur di buret, kesalahan dalam
menentukan titik ekivalen dan titik akhir titrasi dan kesalahan dalam menghitung
konsentrasi larutan. Pada praktikum kali ini terjadi kesalahan yang disebabkan

7
oleh kurangnya ketelitian praktikan saat melakukan percobaan titrasi asam basa
ini, masih ada air ditabung erlenmeyer yang menyebabkan jumlah hasil hitung
jauh dari jumlah yang seharusnya.

8
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum kimia dasar kali ini yaitu
titrasi asam basa adalah penentuan kadar suatu larutan basa dengan larutan asam
yang diketahui kadarnya atau sebaliknya, kadar suatu larutan asam dengan larutan
basa yang diketahui, dengan didasarkan pada reaksi netralisasi. Titik ekuivalen
adalah titik yang menunjukkan saat titran yang ditambahkan bereaksi seluruhnya
dengan zat yang dititrasi. Dengan kata lain, pada titik ekuivalen jumlah mol titran
setara dengan jumlah mol titrat menurut stoikiometri. Perlu kita ketahui bahwa
titik ekuivalen bukanlah titik akhir.

5.2 Saran
Saran yang dapat saya sampaikan adalah agar praktikan lebih teliti dan berhati-
hati dalam melakukan percobaan kali ini agar tidak terjadi kesalahan dan hasil
dari praktikum ini memuaskan.

9
DAFTAR PUSTAKA

Brady, J. E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jakarta : Binarupa Aksara

Harjadi. 1986. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta : Gramedia

Harjanti. 2008. Pemungutan Kurkumin Dari Kunyit (Curcuma Domestica Val)


Dan Pemakaiannya Sebagai Indikator Analisis Volumetri. Jurnal Rekayasa
Proses. Vol 2 (2) : Hal 9

Hasibuan,Muhammad Arief, Elva Yasmi Amran, Susilawati. 2016. Pemanfaatan


Ekstrak Tanaman Ketan Hitam (Oryza sativa glutinosa) Sebagai Indikator
Asam Basa. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Riau Vol 3 (2) : 1 – 5

Parning, Horale, Tiopan. 2006. KIMIA. Jakarta : Yudhistira

Rahayu Nurhayati, Gita Romadhona, Hana Rahayu. 2009. Rangkuman Kimia


SMA. Jakarta : Gagas Media

Ratnasari, Sinta, Dede Suhendar, dan Vina Amalia.2016. Studi Potensi Ekstrak
Daun Adam Hawa (Rhoeo discolor) Sebagai Indikator Titrasi Asam Basa.
Vol 4 (1) : 39-46

Sukardjo. 1984. Kimia Organik. Jakarta : Rineka Cipta

Sunarya Yayan, Agus Setiabudi. 2007. Mudah dan Aktif Belajar Kimia. Bandung
: Setia Purna Inves

Syukri. 1999. Kimia Dasar Jilid 2. Bandung : UI Press

Untoro Joko, Tim Guru Indonesia. 2010. Buku Pintar Pelajaran. Jakarta : Wahyu
Media

10