Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH MODUL PEMBELAJARAN PANCASILA

DENGAN TOPIK SISTEM KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA


BERDASARKAN PANCASILA

Dosen Pembimbing :
Nur Hasanah, SKM, M.Kes

Disusun Oleh :

1. Ega Pamilu Putri (P27820118010)


2. Wahyu Ahmad Ramadhan (P27820118011)
3. Presdiana Pratiwi (P27820118013)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA


PRODI DIII KEPERAWATAN KAMPUS SOETOMO
SURABAYA
2018/2019
X. SISTEM KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA BERDASARKAN
PANCASILA DAN UUD 1945 (2)

A. Sistem pemerintahan negara menurut UUD 1945 hasil amandemen 2002


Sistem Pemerintahan Negara Indonesia sebelum dilakukan amandemen
dijelaskan secara terinci dan sistematis dalam penjelasan Undang-undang Dasar 1945.
Sistem Pemerintahan Negara Indonesia ini dibagi atasa tujuh yang secara sistematis
merupakan pengejawantahan kedaulatan rakyat, oleh karena itu sistem pemerintahan
negara ini dikenal dengan “Tujuh Kunci Pokok Sistem pemerintahan negara”, yang
dirinci sebagai berikut: walaupun tujuh kunci pokok sistem pemerintahan negara dalam
penjelasan tidak lagi merupakan dasar yuridis, namun tujuh kunci pokok tersebut
mengalami suatu perubahan. Oleh karena itu sebagai suatu studi komparatif, sistem
pemerintahan negara menurut UUD 1945 setelah amandemen, dijelaskan sebagai
berikut:
1. Indonesia Negara Berdasarkan Atas Hukum (Rechtstaat)
Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (Rechtstaat), tidak berdasarkan atas
kekuasaan belaka (Machtsstaat). Hal ini mengandung arti bahwa negara, termasuk
didalamnya Pemerintahan dan lembaga-lembaga negara lainnya dalam
melaksanakan tindakan-tindakan apapun, harus dilandasi oleh praturan hukum atau
harus dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Tekanan pada hukum (recht) di
sini dihadapkan pada kekuasaan (macht). Prinsip dari sistem ini disamping akan
tampak dalam rumusan pasal- pasalnya, juga akan sejalan dan merupakan
pelaksanaan dari pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukaan UUD
1945 yang diwujudkan oleh cita-cita hukum (rechtsidee) yang menjiwai UUD 1945
dan hukum dasar yang tidak tertulis.
Sesuai dengan semangat dan ketegasan Pembukaan UUD 1945, jelas bahwa
negara hukum yang dimaksud yang berarti negara bukan hanya sebagai polisi lalu
lintas atau penjaga malam saja, yang menjaga jangan sampai terjadi pelanggaran
dan menindak pada pelanggar hukum. Pengertian negara hukum baik dalam arti
formal yang melindungi seluruh warga dan seluruh tumpah darah, juga dalam
pengertian negara hukum material yaitu negara harus bertanggung jawab terhadap
kesejahteraan dan kecerdasan seluruh warganya.
Dengan landasan dan semangat negara hukum dalarm arti material itu, setiap
tindakan negara haruslah mempertimbangkan dua kepentingan ataupun landasan,
ialah kegunaannya (doelmatogheid) dan landasan hukumnya (rechtmatigheid).
Dalam segala hal harus senantiasa diusahakan agar setiap tindakan negara
(pemerintah) itu selalu memenuhi dua kepentingan atau landasan tersebut. Suatu
seni tersendiri untuk mengambil keputusan yang tepat apabila ada pertentangan
kepentingan atau salah satu kepentingan tidak terpenuhi. Sehingga harus dilakukan
secara bijaksana yang dengan sendirinya harus senantiasa berlandasan atas
peraturan hukum yang berlaku.

2. Sistem Konstitusional
Pemerintahan berdasarkan atas sistem konstitusi (hukum dasar), tidak bersifat
absoulut (kekuasaan yang tidak terbatas). Sistem ini memberikan penegasan bahwa
cara pengendalian pemerintahan dibatasi oleh ketentuan- ketentuan konstitusi, yang
dengan sendirinya juga oleh ketentuan-ketentuan hukum lain merupakan produk
konstitusional, Ketetapan MPR, Undang-undang dan sebagainya. Dengan
demikian sistem memperkuat dan menegaskan lagi sistem negara hukum seperti
dikemukakan atas. Dengan landasan kedua sistem negara dan sistem konstitusional
diciptakan sistem mekanisme hubungan dan hukum antar lembaga negara, yang
sekiranya dapat menjamin terlaksananya sistem itu sendiri dan dengan sendirinya
juga dapat memperlancar pelaksanaan pencapaian cita-cita nasional.

3. Kekuasaan Negara Tertinggi di Tangan Rakyat


Sistem kekuasaan tertinggi sebelum dilaku amandemen dinyatakan dalam
Penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai berikut: "Kedaulatan rakyat
dipegan oleh suatu badan, bernama MPR, sebagai penjelmaan seluruh rakyat
Indonesia (Vertretungorgatan des Willens des Staatsvolkes). Majelis ini
menetapkan Undang-undang dan menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara.
Majelis ini mengangkat Kepala Negara (Presiden) dan Wakil Kepala Negara (Wakil
Presiden). Majelis inilah yang memegang kekuasaan Negara yang tertinggi,
sedangkan Presiden harus menjalankan haluan-Negara menurut garis-garis besar
yang telah ditetapkan oleh Majelis. Presiden yang diangkat oleh Majelis tunduk dan
bertanggungjawab kepada Majelis (Mandataris) dari majelis. Presiden wajib
menjalankan putusan-putusan Majelis, dan "tidak neben' akan tetapi
“untergeordnet” kepada majelis.
Namun menurut UUD 1945 hasil amandemen 2002 kekuasaan tertinggi
ditangan rakyat, dan dilaksanakan menurut UUD (Pasal 1 ayat 2). Hal ini berarti
terjadi suatu reformasi kekuasaan. tertinggi dalam negara secara kelembagaan
tinggi negara, walaupun esensinya tetap rakyat yang memiliki kekuasaan. MPR
menurut UUD 1945 hasil Amandemen 2002, hanya memiliki kekuasaan melakukan
perubahan UUD, melantik Presiden dan Wakil Presiden, serta memberhentikan
Presiden/Wakil Presiden sesuai masa jabatan, jikalau melanggar suatu konstitusi.
Oleh karena sekarang Presiden bersifat 'Neben' bukan ‘Untergeordnet’, karena
Presiden dipilih langsung oleh rakyat, UUD 1995 Amandemen 2002, pasal 6A ayat
(1).

4. Presiden Penyelenggara Pemerintahan Negara 4. Tertinggi Selain MPR dan DPR


Kekuasaan Presiden menurut UUD 1945 sebelum amandemen, dinyatakan
dalam Penjelasan Undang-undang Dasar 1945, sebagai berikut: di bawah Majelis
Permusyawaratan Rakyat, Presiden ialah penyelenggara pemerintahan negara yang
tertinggi. Dalam menjalankan pemerintahan negara, kekuasaan dan tanggung ab
adalah ditangan Presiden (Concentration of power responsibility upon the
President)". Berdasarkan UUD 1945 hasil amandemen 2002, Presiden merupakan
penyelenggara pemerintahan tertinggi di samping MPR dan DPR, karena Presiden
dipilih langsung oleh rakyat 1945 pasal 6A ayat (1). Jadi menurut UUD 1945 ini
Presiden tidak lagi merupakan mandataris MPR, melainkan dipilih langsung oleh
ralkyat.

5. Presiden Tidak Bertanggungjawab Kepada DPR


Sistem ini menurut UUD 1945 sebelum amandemen dijelaskan dalam
penjelasan UUD 1945, namun dalam UUD 1945 hasil amandemen 2002 juga
memiliki isi yang sama, sebagai berikut: "Disamping Presiden adalah Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR), Presiden harus mendapat persetujuan DPR untuk
membentuk Undang-undang (Gezetzgebung) pasal 5 ayat 1 dan untuk menetapan
nggaran pendapatan dan belanja negara (Staatsbergrooting) sesuai dengan pasal 23.
Oleh karena itu, Presiden harus bekerjasama dengan Dewan, akan tetapi Presiden
tidak bertanggungjawab kepada Dewan, artinya kedudukan Presiden tidak
tergantung pada Dewan.
6. Menteri Negara ialah Pembantu Presiden, Menteri Negara tidak BertanggungJawab
Kepada Dewan Perwakilan Rakyat
Sistem ini dijelaskan dalam UUD 1945 hasil amandemen 2002 maupun dalam
Penjelasan UUD 1945, sebagai berikut: "Presiden dalam melaksanakan tugas
pemerintahannya dibantu oleh menteri-menteri negara (pasal 17 ayat (1) UUD 1945
Hasil amandemen), Presiden mengangkat dan memberhentikan menteri-menteri
negara (Pasal 17 ayat (2) UUD 1945 hasil Amandemen 2002). Menteri-menteri
negara tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Kedudukannya
tidak tergantung kepada Dewan Perwakilan Rakyat".

7. Kekuasaan Kepala Negara Tidak Tak-terbatas


Sistem ini dinyatakan secara tidak eksplisit dalam UUD 1945 hasil Amandemen
2002 dan masih sesuai dengan Penjelasan UUD 1945 dijelaskan sebagai berikut:
"Menurut UUD 1945 hasil Amandemen 2002, Presiden dan Wakil Presiden dipilih
oleh Rakyat secara langsung (UUD 1945 hasil Amandemen 2002 pasal 6A ayat (1).
Dengan demikian dalam sistem kekuasaan kelembagaan Negara presiden tidak lagi
merupakan mandataris MPR bahkan sejajar dengan DPR dan MPR. Hanya jikalau
Presiden melanggar Undang-undang maupun Undang-undang Dasar, maka MPR
dapat melakukan impeachment.
Meskipun Kepala Negara tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perewakilan
Rakyat, ia bukan "Diktator", artinya kekuasaan tidak tak terbatas. Diatas telah
ditegaskan bahwa ia bukan mandataris Majelis Permusyawaratan Rakyat, namun
demikian ia tidak dapat membubarkan DPR ataupun MPR. Kecuali itu ia harus
memperhatikan sungguh-sungguh suara Dewan Perwakilan Rakyat. (Kaelan, 2010:
187)

B. Lembaga-lembaga negara dalam sistem ketatanegaraan menurut UUD 1945


sebelum dan sesudah amandemen
1. Lembaga Negara dan Sistem Ketatanegaraan Menurut UUD 1945 Sebelum
Amandemen
a. MPR
Sebelum amandemen, MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) merupakan
lembaga tertinggi negara yang diberikan kekuasaan tak terbatas. Pada saat itu
MPR memiliki wewenang untuk :
1) Membuat putusan yang tidak dapat ditentang oleh lembaga negara lain,
termasuk menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang
pelaksanaaanya dimandatkan kepada Presiden.
2) Mengangkat Presiden dan Wakil Presiden.
3) Meminta dan menilai pertanggungjawaban Presiden mengenai pelaksanaan
GBHN.
4) Memberhentikan presiden bila yang bersangkutan melanggar GBHN
5) Mengubah Undang-Undang Dasar.
6) Menetapkan pimpinan majelis yang dipilih dari dan oleh anggota MPR.
7) Memberikan keputusan terhadap anggota yang melanggar sumpah anggota
MPR
8) Menetapkan peraturan tata tertib Majelis

Dalam praktek ketatanegaraan, MPR pernah menetapkan antara lain:

1) Presiden, sebagai presiden seumur hidup.


2) Presiden yang dipilih secara terus menerus sampai 7 (tujuh) kali berturut
turut.
3) Memberhentikan sebagai pejabat presiden.
4) Meminta presiden untuk mundur dari jabatannya.
5) Tidak memperpanjang masa jabatan sebagai presiden.
6) Lembaga Negara yang paling mungkin menandingi MPR adalah Presiden,
yaitu dengan memanfaatkan kekuatan partai politik yang paling banyak
menduduki kursi di MPR.

b. DPR
DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) adalah lembaga perwakilan rakyat yang
tidak dapat dibubarkan oleh Presiden. Anggota DPR adalah Anggota Partai
Politik peserta pemilu yang dipilih oleh rakyat. DPR tidak bertanggung jawab
terhadap Presiden. Sebelum diadakannya amandemen, tugas dan wewenang
DPR adalah:
1) Mengajukan rancangan undang-undang
2) Memberikan persetujuan atas Peraturan Perundang-undangan (Perpu)
3) Memberikan persetujuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN)
4) Meminta MPR untuk mengadakan sidang istimewa.

c. Presiden
Presiden adalah lembaga negara yang memiliki kekuasaan untuk
menjalankan pemerintahan. Di Indonesia, presiden menjabat sebagai kepala
negara dan juga kepala pemerintahan. Sebelum amandemen dilakukan Presiden
diangkat oleh MPR dan bertanggung jawab kepada MPR. Selain itu sebelum
amandemen juga tidak dijelaskan adanya aturan mengenai batasan periode
jabatan seorang presiden dan mekanisme yang jelas mengenai pemberhentian
presiden dalam masa jabat. Selain itu pada masa sebelum amandemen, Presiden
memiliki hak prerogatif yang besar
Adapun wewenang Presiden antara lain:
1) Memegang posisi dominan sebagai mandatori MPR
2) Memegang kekuasaan eksekutif, kuasaan legislatif dan yudikatif.
3) Mengangkat dan memberhentikan anggota BPK
4) Menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang dalam situasi
yang memaksa
5) Menetapkan Peraturan Pemerintah
6) Mengangkat dan memberhentikan meteri-menteri

d. Mahkamah Agung (MA)


Sebelum amandemen Undang-undang Dasar 1945, kekuasaan kehakiman
dilakukan hanya oleh mahkamah agung. Lembaga mahkamah agung bersifat
mandiri dan tidak boleh diintervensi atau dipengaruhi oleh cabang kekuasaan
lainnya. Wewenang sebelum amandemen
1) Berwenang mengadili pada tingkat kasasi
2) Menguji peraturan perundang-undangan
3) Mengajukan tiga orang hakim konstitusi
4) Memberikan pertimbangan kepada presiden untuk memberikan grasi dan
rehabilitasi.

e. BPK (Badan Pemeriksaan Keuangan)


Sebelum amandemen tidak banyak dijelaskan menenai BPK. BPK
bertugas untuk memeriksa tanggung jawab tentang keuangan negara. Hasil dari
pemeriksaan keuangan tersebut kemudian dilaporkan kepada DPR.
f. DPA (Dewan Pertimbangan Agung)
DPA memiliki kewajiban untuk memberi jawaban terhadap pertanyaan
Presiden. DPA juga serta berhak untuk mengajukan usulan kepada pemerintah.
Sama Seperti BPK, UUD 1945 tidak banyak menjelaskan tentang DPA.

2. Lembaga Negara dan Sistem Ketatanegaraan Menurut UUD 1945 Setelah


Amandemen
a. MPR
Setelah amandemen, MPR adalah lembaga tinggi negara yang memiliki
kedudukan sejajar dengan lembaga tinggi lainnya. MPR juga kehilangan i
wewenang untuk memilih presiden dan wakilnya. Selain itu diatur juga
mengenai sistem keanggotaan MPR yaitu:
1) MPR terdiri atas Anggota DPR dan DPD .
2) Anggota MPR memiliki masa jabat selama 5 tahun.
3) Mengucapkan sumpah atau janji sebelum menjalankan amanat sebagai
anggota MPR

Tugas dan Wewenang MPR setelah amandemen:

1) Amandemen dan menetapkan Undang-Undang Dasar


2) Melantik Presiden dan wakil Presiden yang dipilih lewat Pemilu
3) Memutuskan usulan yang diajukan DPR berdasarkan keputusan MK dalam
hal pemberhentian presiden atau wakilnya

MPR diharuskan untuk bersidang paling tidak sekali dalam 5 tahun. Sidang
MPR dinyatakan sah apabila:

1) Untuk memberhentikan Presiden, harus didapat suara setidak dua pertiga


dengan minimum kehadiran anggota dalam sidang sebanyak tiga perempat
dari total jumlah anggota MPR.
2) Dalam mengamandemen dan menetapkan UUD, suara yang dicapai harus
dua pertiga dari total suara MPR
3) Selain sidang-sidang diatas, sekurang-kurangnya mendapatkan suara
50%+1 dari jumlah anggota MPR.

b. DPR
Pasca dilakukannya perubahan terhadap UUD, DPR semakin diperkuat
keberadaannya. Kini DPR memiliki wewenang untuk membuat Undang-undang.
Wewenang ini sebelum amandemen dimiliki oleh Presiden.
Tugas, wewenang dan fungsi DPR setelah Amandemen:
1) Membentuk undang-undang bersama dengan presiden agar dicapai
persetujuan bersama
2) Membahas dan memberikan persetujuan atas peraturan pemerintan
pengganti undang-undang
3) Menerima dan membahas usulan RUU dari DPD mengenai bidang tertentu.
4) Menetapkan APBN bersama dengan Presiden dengan memperhatikan
pertimbangan DPD
5) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan UU, APBN serta kebijakan
pemerintah.

Kedudukan DPR diatur dalam Pasal 19, 20-22B UUD 1945 hasil
Amandemen. Pasal 19 UUD menyebutkan:

1) Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dipilih melalui pemilihan umum.


2) Susunan Dewan Perwakilan Rakyat diatur dengan undang-undang.
3) Dewan Perwakilan Rakyat bersidang sedikitnya sekali dalam setahun.

Perubahan kedua UUD 1945 menegaskan anggota DPR dipilih melalui


pemilihan umum, artinya semua anggota DPR dipilih langsung oleh rakyat
(direct popular vote). Hal tersebut sebagaimana diatur dalam Pasal 19 ayat (1)
UUD 1945 hasil amandemen yang menyebutkan” Anggota Dewan Perwakilan
Rakyat dipilih melalui pemilihan umum”. Sedangkan Pasal 20 ayat (1), (2), (3),
(4) UUD menyebutkan:

1) Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-


undang.
2) Setiap rancangan undang-undang dibahas oleh Dewan perwakilan Rakyat
dan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama.
3) Jika rancangan undang-undang itu tidak mendapat persetujuan bersama,
rancangan undang-undang itu tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan
Dewan Perwakilan Rakyat.
4) Presiden mengesahkan rancangan undang-undang yang telah disetujui
bersama untuk menjadi undang-undang.

Hak-hak DPR

1) Hak Interpelasi, yaitu hak untuk meminta keterangan kepada pemerintah


2) Hak angket, merupakan hak untuk menyelidiki pelaksanaan UU dan
kebijakan yang dibuat pemerintah
3) Hak imunitas, yaitu hak kekebalan hukum. Anggota DPR tidak bisa dituntut
karena pernyataan atau pertanyaan yang dikemukakan dalam rapat DPR
selama hal tersebut tidak melanggar kode etik
4) Hak menyatakan pendapat, DPR berhak untuk berpendapat mengenai:
a) Pelaksanaan hak angket dan hak interpelasi.
b) Dugaan bahwa Presiden atau wakil persiden melakukan pelanggaran
hukum.
c) Kebijakan yang diambil oleh pemerintah tentang kejadian luar biasa baik
di dalam maupun luar negeri.

c. Presiden
Setelah amandemen, kini rakyat dapat secara langsung memilih presidennya
lewat pemilihan umum. Presiden juga tidak perlu lagi bertanggung jawab kepada
MPR karena posisi antara MPR dan Presiden kini sama tinggi.
Wewenang Presiden yang berubah setelah amandemen antara lain:
1) Hakim agung dipilih oleh presiden berdasarkan pengajuan KY dan disetujui
oleh DPR.
2) Anggota BPK tidak lagi diangkat oleh Presiden, kini presiden hanya
meresmikan anggota BPK, yang dipilih oleh DPR dengan memperhatikan
pertimbangan DPD

Wewenang yang dimiliki oleh presiden setelah Amandemen diantaranya:


1) Memegang kekuasaan pemerintah menurut UUD
2) Memegang kekuasaan tertinggi atas AD, AL dan AU
3) Melakukan pembahasan dan pemberian persetujuan RUU bersama DPR
4) Mengesahkan RUU menjadi UU
5) Menetapkan Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang dalam sutuasi
yang memaksa
6) Menetapkan peraturan pemerintah
7) Mengangkat dan memberhentikan meteri-menteri
8) Menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan persetujuan
DPR
9) Mengangkat duta dan konsul
10) Menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan
pertimbangan DPR
11) Memberi grasi dan rehabilitasi berdasarkan pertimbangan MA
12) Memberi amnesti dan abolisi berdasar pertimbangan DPR
13) Menetapkan hakim agung yang dicalonkan KY dan disetujui DPR
14) Menetapkan hakim konstitusi yang calonnya diajukan oleh DPR dan MA
15) Mengangkat dan memberhentikan KY dengan persetujuan DPR.

d. DPD
DPD (Dewan Perwakilan Daerah) merupakan lembaga yang dibentuk
setelah amandemen. DPD merupakan langkah untuk mengakomodir
kepentingan daerah di tingkat nasional. Tugas dan wewenang DPD
1) Mengajukan RUU pada DPR yang berkaitan dengan otonomi daerah
2) Memberi pertimbangan tentang RUU perpajakan, pendidikan dan
keagamaan.

Kedudukan DPD diatur dalam Pasal 22C-22D UUD 1945 hasil


amandemen. Pasal 22C UUD menyebutkan: 1.

1) Anggota Dewan Perwakilan Daerah dipilih dari setiap propinsi melalui


pemilihan umum.
2) Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari setiap propinsi jumlahnya sama dan
jumlah seluruh anggota Dewan Perwakilan Daerah itu tidak lebih dari
sepertiga jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat.
3) Dewan Perwakilan Daerah bersidang sedikitnya sekali dalam setahun.
4) Susunan dan kedudukan Dewan Perwakilan Daerah diatur dengan undang-
undang.

Dan Pasal 22D ayat (1), (2), (3) menyebutkan:

1) Dewan Perwakilan Daerah dapat mengajukan kepada Dewan Perwakilan


Rakyat rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah,
hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta
penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya ekonomi lainnya, serta
yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah.
2) Dewan Perwakilan Daerah ikut membahas rancangan undang-undang yang
berkaitan dengan otonomi daerah; hubungan pusat dan daerah;
pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah; pengelolaan sumber
daya alam dan sumber daya ekonomi lainya, serta perimbangan keuangan
pusat dan daerah; serta memberikan pertimbangan kepada Dewan
Perwakilan Rakyat atas rancangan undang-undang yang berkaitan dengan
pajak, pendidikan, dan agama.
3) Dewan Perwakilan Daerah dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan
undang-undang mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan
penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber
daya alam dan sumber daya ekonomi lainya, pelaksanaan anggaran
pendapatan dan belanja negara, pajak, pendidikan, dan agama serta
menyampaikan hasil pengawasanya itu kepada Dewan Perwakilan Rakyat
sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti.
e. BPK
BPK merupakan lembaga tinggi Negara yang memiliki wewenang untuk
mengawas serta memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara,
temuan BPK dilaporkan kepada DPR dan DPD, kemudian ditindak oleh penegak
hukum. BPK berkantor di ibukota negara dan memiliki perwakilan di setiap
provinsi. DPR memilih anggota BPK dengan pertimbangan DPD. Barulah setelah
itu Anggota baru diresmikan oleh Presiden.
f. DPA.
Keberadaan DPA dihapuskan pada amandemen UUD 1945 yang ke 4
g. MA
MA merupakan lembaga negara yang memiliki kuasa untuk menyelenggarakan
peradilan bersama-sama dengan MK. MA membawahi badan peradilan dalam
wilayah Peradilan Umum, Peradilan militer, Peradilan Agama, dan Peradilan Tata
Usaha Negara (PTUN). Kewajiban dan wewenang MA
1) Memiliki fungsi yang berhubungan dengan kuasa kehakiman. Fugsi ini diatur
dalam UU
2) Berwenang mengadili di tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-
undangan di bawah Undang-Undang.
3) Mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh Undang-Undang
4) Memberikan pertimbangan dalam hal Presiden memberi grasi dan rehabilitasi
5) Mengajukan anggota Hakim Konstitusi sebanyak 3 orang

h. MK (Mahkamah Konstitusi)
Keberadaan MK dimaksudkan sebagai penjaga kemurnian konstitusi. Bersama
dengan MA, MK menjadi lembaga tinggi negara yang memegang kuasa
kehakiman. Anggota Hakim Konstitusi ditetapkan oleh Presiden, sedang
calonnya diusulkan oleh MA, DPR dan pemerintah. MK Mempunyai
kewenangan:
1)Menguji UU terhadap UUD
2)Memutuskan sengketa kewenangan antar lembaga negara
3)Memutuskan pembubaran partai politik
4)Memutuskan sengketa yang berhubungan dengann hasil pemilu
5) Memberikan putusan tentang dugaan pelanggaran oleh presiden atau
wakilnya.

i. Komisi Yudisial (KY)


Komisi Yudisial berfungsi mengawasi perilaku hakim dan mengusulkan nama
calon Hakim Agung. KY merupakan lembaga negara yang bersifat mandiri.
Anggota Komisi Yudisial terdiri atas 7 orang yaitu, dua orang mantan hakim,
dua orang akademisi hukum, dua orang praktisi hukum, dan satu dari anggota
masyarakat. Anggota Komisi Yudisial memegang jabatan selama masa 5 (lima)
tahun.
Wewenang dan tanggung jawa KY,
1) Mengusulkan pengangkatan hakim agung dan hakim ad hoc MA.
2) Menjaga dan menegakkan kehormatan, martabat, serta perilaku hakim.
3) Dengan MA, bersama menetapkan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim
(KEPPH)
4) Menegakkan KEPPH.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Qanun.2010. Sistem Ketatanegaraan Indonesia Pasca Amandemen UUD 1945. Tersedia di


file:///C:/Users/user/Downloads/185-Article%20Text-174-1-10-20170417%20(1).pdf
(diakses pada tanggal 17 Januari 2019 pukul 18.32)
Faiz, Pan Mohamad. 2007. Sistem Ketatanegaraan Indonesia Pasca Amandemen.
Tersedia di https://panmohamadfaiz.com/2007/03/18/sistem-ketatanegaraan-indonesia-
pasca-amandemen/ (diakses pada tanggal 17 Januari 2019 pukul 17.00)

Guruppkn.2015. Struktur Lembaga Negara Sebelum dan Sesudah Amandemen.


Tersedia di https://guruppkn.com/struktur-lembaga-negara (diakses pada tanggal 17
Januari 2018 pukul 15.36)

Warsono, dkk.2014.Pendidikan Pancasila.Surabaya:Unesa University Press