Anda di halaman 1dari 9

DAMPAK BUDAYA AYUN BAPUKUNG DARI SUKU BANJAR

TERHADAP KESEHATAN BAYI

DISUSUN OLEH KELOMPOK 10 :

Muhammad Fahmi Adham (20180320038)


Anis Atiqatuz Zahroh (20180320110)
Aura Zahra Oceani Dhifananda (20180320095)
Dwi Septi Aprilia (20180320026)
Fitri Melaine (20180320091)
Lily Nur Indahsari (20180320113)
Naura Nazhifah Adzany (20180320092)
Rai Rotun Ikrima (20180320072)
Sinta Yudistia Nurachman (20180320086)
Yassirli Amrina (20180320027)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2019
A. PENDAHULUAN

Berdasarkan sensus penduduk pada 2010, ada 1.331 suku di Indonesia..


Kalimantan Selatan memiliki luas 37.530,52 km² dengan populasi hampir 3,7 juta
jiwa. Suku banjar memiliki karakteristik kebudayaan yang merupakan hasil dari
pengadaptasian, pengasimilasian, dan pengkulturasisasi dari budaya dasar suku
banjar dengan agama-agama yang terdapat disana seperti hindu, budha, dan islam.
Mengutip data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012
menunjukkan AKB sebesar 32 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2012. Ini
berarti di Indonesia, ditemukan kurang lebih 440 bayi yang meninggal setiap
harinya. ( Depkes RI, 2014). Hal tersebut dapat terjadi karena masalah medis,
selain itu salah satu penyebabnya adalah faktor budaya.
Kurangnya pengetahuan dan kemampuan berfikir kritis dapat menjadi
penyebab kesalahan dalam mengurus bayi karena mitos yang ada disekitar
masyarakat dijadikan budaya di dalam kehidupan sehari hari dapat menimbulkan
dampak negative dan berbahaya bagi kondisi kesehatan bayi. Seperti bedong,
hingga saat ini bedong masih dilakukan oleh mayoritas masyarakat Indonesia.
Sunarsih (2012) mendefinisikan bedong adalah pembungkus kain yang diberikan
pada bayi, sedangkan membedong (Swaddling) adalah praktek membungkus bayi
dengan kain. Membedong dapat membuat bayi lebih tenang, hangat dan sedikit
gerak. Biasanya bayi dibedong dengan lama 6 minggu, setelah itu bedong tidak
perlu supaya bayi dapat bebas memainkan tangannya.
Bedong dapat menyebabkan peredaran darah terganggu karena kerja
jantung dalam memompa darah menjadi lebih berat, sehingga bayi sering merasa
sakit disekitar paru atau jalan nafas. Akibat penekanan pada tubuh, bedong juga
dapat menghambat perkembangan motorik karena tangan dan kaki bayi tidak
mendapat kesempatan untuk bergerak bebas (Fahima, 2004). Dampak tersebut
membuktikan bahwa adanya ketidakmampuan membedakan fakta dengan fiksi
dalam bidang lain pada kehidupan masyarakat. Namun tak selamanya kebudayaan
dapat menimbulkan dampak negative, berikut adalah suatu kebiasaan atau
kebudayaan banjar yang tanpa disadari memiliki manfaat bagi kesehatan yaitu
Baayun Bapukung. Inilah salah satu adat atau kebudayaan suku Banjar yang
menunjukkan ciri khas sistem budaya yang ada dalam kehidupan masyarakat suku
Banjar

B. ISI
A. PENGERTIAN AYUN BAPUKUNG
Ayun bapukung ini berasal dari kata Ayun yang artinya buai atau
membuai, jika kata ini diawali dengan (ma) menjadi maayun yang berarti
muai anak dalam buaian atau ayunan,sedangkan bapukung berasal dari
kata pukung yang berarti posisi duduk dan bagian leher diikatdengan
keadaan kaki yang mendengkol/mendekati posisinya semasa dalam
kandungan. Bapukung adalah tradisi menidurkan bayi yang mana hampir
sama dengan bedong. Bapukung dilakukan oleh sebagian ibu-ibu pada
masyarakat Dayak yang tidak terlalu pandai dalam membedong bayi.
Sambil di ayun dan di nyanyikan atau di bacakan shalawat atau syair-syair
tentang perjuangan berbahasa Dayak, atau cerita-cerita tentang fable,
dongeng atau dan sekedar dendang pengantar tidur.Bapukung ini
dilakukan dengan cara hampir sama dengan bedong, yaitu bayi dibungkus
dengan kain panjang, namun kain tersebut dikaitkan ke tiang penyangga
sehingga seperti ayunan. Pada bagian luar bayi dibungkus lagi dengan
sehelai kain pada bagian leher bayi untuk menambah kehangatan pada
bayi.
Cara bedong bayi pada masyarakat suku Banjar

Bapukung merupakan sebuah tradisi "bahari" (tua) di Kalimantan


Selatan yang diturunkan secara turun temurun dari nenek moyang yang
usianya bisa jadi juga setua peradaban suku Banjar dan Dayak yang
dikenal sebagai penghuni asli Pulau Kalimantan. Para ibu ibu suku banjar
dan dayak meyakini bahwa dengan ‘memukung’ bayi maka bayi yang
rewel dan tak kunjung berhenti menangis akan langsung terdiam dan
tertidur lama. Karena posisi bayi dalam bepukung terasa mirip dengan
posisi bayi saat dalam rahim.

B. EKSISTENSI KEBUDAYAAN BAPUKUNG DI KALIMANTAN


SELATAN
Memukung anak sudah menjadi kebiasaan dan budaya yang turun
temurun dilakukan oleh para orang tua di Kalimantan Selatan. hampir
semua orang Banjar dan Dayak menidurkan anaknya dari umur 1,5 bulan
dengan cara bapukung. Dimana tradisi masyarakat Kalimantan yang masih
melekat sampai sekarang pada orang Banjar dan Dayak adalah menidurkan
bayi dalam ayunan. Karena menidurkan bayi dengan cara ini sangat lah
efektif yang di lakukan pada ibu-ibu saat merekan ingin melakukan
aktifitas mereka.
Dengan seiring perkembangan jaman yang makin maju ibu-ibu yang
menidurkan kan anak dengan cara bepungkung ini semakin jarang dan
hanya di lakukan oleh ibu-ibu yang berada di pedesaan. Karena
perkembangan yang semkin maju mebuat budaya ini semakin tergeser.
Supaya budaya ini terlestarikan terus dan bertahan untuk generasi
selanjutnya dengan cara mengenalkan Bapukung itu sendiri. Karena salah
satu dari kekayaan local yang perlu di lestarikan oleh masyarakat Dayak
dan Banjar.

C. ASPEK-ASPEK YANG TERDAPAT DALAM BUDAYA AYUN


BAPUKUNG
Ayun bapukung dapat ditinjau dari beberapa aspek, antara lain :

a) Aspek Agama.
Ketika orang tua sedang mengayun sambil menimang anak dengan
ucapan dzikir,salawat nabi dan sastra agama. Dengan harapan anaknya
menjadi anak sholeh,berbakti dengan orang tua dan taat pada agama bila
sudah dewasa.

b) Aspek kesehatan.
Sejak usia 2 bulan otot-otot bayi mulai kuat untuk melakukan
aktivitas gerakan tubuh seperti kaki terekstensi, lengan fleksi,
menggenggam dan semakin lama akan mulai untuk menendang, meraih
dan mengangkat leher, dengan semakin lama bayi dibedong maka bayi
tidak akan bisa melakukan tugas-tugas perkembangan, hal ini akan
mengakibatkan perkembangan motorik tidak dicapai pada waktunya
atau bayi akan mengalami keterlambatan perkembangan motorik
(Kholifah, 2014).
Menurut Sunarsih (2014), faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan motorik diantaranya adalah faktor psikososial seperti
stimulasi dan adat istiadat seperti norma atau tabutabu (dibedong agar
kaki tidak pengkor). Ditinjau dari faktor psikososial, dengan adanya
bedong yang membungkus tubuh bayi maka orang tua tidak dapat
menstimulasi bayi untuk bergerak, hal ini akan dapat menghambat
perkembangan motoriknya.
Bedong juga dapat menyebabkan peredaran darah terganggu
karena kerja jantung dalam memompa darah menjadi lebih berat,
sehingga bayi sering merasa sakit disekitar paru atau jalan nafas. Akibat
penekanan pada tubuh, bedong juga dapat menghambat perkembangan
motorik karena tangan dan kaki bayi tidak mendapat kesempatan untuk
bergerak bebas (Fahima, 2004).
Menurut Novita (2007), bedong bukan perangkat meluruskan kaki
tetapi hanyalah salah cara untuk menghindari bayi dari kedinginan.
Tanpa dibedong kaki bayi akan lurus jika sudah waktunya. Bayi baru
lahir memang tidak lurus, terlihat seperti bentuk O. Kondisi ini sangat
normal dan akan bertahan sampai usia 3 tahun. Selanjutnya antara 3
tahun sampai 6 tahun justru berbentuk X. Setelah 6–7 tahun kaki akan
menjadi lurus.Hal ini diperkuat oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia
(2010) yang menyatakan bahwa kaki bayi saat dalam kandungan
tertekuk tetapi setelah lahir akan menyesuaikan menjadi lurus seiring
dengan perkembangan pertumbuhannya, namun memang banyak juga
terjadi penyimpangan atau deviasi bentuk kaki tidak bisa lurus tetapi
ada yang agak X atau O tetapi itu bukan karena bayi tidak dibedong.
Namun anak yang diayun dan diikat dengan tapih bahalai dari leher
sampai perut, sehingga anak tidak mudah terkejut mendengar suara-
suara/bunyi yang keras. Anak yang tidurnya sering
terkejut/kagetmendengar suara dan sering terbangun, akan berakibat
bisa terkena penyakit jantungdan lain-lain.

c) Aspek Budaya.
Budaya banjar ayun bapukung ini anak bisa tidur lebih lama dan pekerjaan
dapatdiselesaikan sehingga memudahkan orang tua/ ibu untuk bekerja
menyelasaikanpekerjaan rumah tangga atau di kebun.
D. PENGARUH AYUN BAPUKUNG :
o Pengaruh positif
- Tidur sibayi lebih terjaga dan bisa lebih lama.
- Bayi tidak mudah rewel.
- Tidur dalam pokongan anak tidak mudah terkejut
mendengar suara yang keras.

o Pengaruh Negatif
- Pertumbuhan motorik pada anak terlambat karena tidak
bisa bergerak leluasa.
- Menyebabkan peredaran darah pada anak tidak lancar.

E. CARA MELAKUKAN AYUN BAPUKUNG :


1. Anak/bayi yang bisa dipukung mulai umur sekitar 3 bulanan sampai 1
tahun
2. Anak/bayi dimasukkan terlebih dahulu kedalam ayunan dengan
berbaring.
3. Setelah berbaring anak/bayi didudukkan dalam ayunan dengan diapit
kedua belah lutut sang ibu, dan kedua belah tangannya kita dekapkan
kedada bayi tersebut dan kaki bayi tersebut kita luruskan kemuka
kedua-duanya.
4. Dari pinggang sampai keleher bayi kita ikat dengan sarung bahalai,
tetapi mengikatnya jangan terlalu kuat, sehingga bayi tersebut bisa
bernafas dan tidur dengan nyenyak.
5. Setelah kita mengikat leher bayi tersebut kita sempurnakan lipatan
kain ayunan di sekitar kepala bayi tersebut dan usahakan kedua daun
telinganya tidak terlipat.
6. Setelah selesai kita memukung bayi tersebut kita timang pantatnya
sambil kita nyayikan lagu-lagu/ syair-syair islami atau pantun dan
sebagainya.
C. PENUTUP

Banyak sekali pro-kontra mengenai membedong bayi antara tenaga


kesehatan dan juga masyarakat. Sulit mengubah tradisi masyarakat
mengenai bedong bayi diakibatkan bedong bayi memiliki nilai budaya
sendiri dari sejak jaman dahulu. Bedong bayi juga tidak hanya menjadi
kebiasaan masyarakt tetapi di puskesmas dan rumah sakit-rumah sakit
tertentu juga melakukan bedong bayi untuk bayi yang baru lahir. Hal
tersebut terjadi karena factor budaya dan tradisi yang sangat
mempengaruhi mindset masyarakat termasuk tenaga kerja rumah sakit.
Sehingga tradisi bedong bayi sudah melekat pada masyarakat di
Indonesia bahkan juga di semua golongan dan profesi.

Dalam kebudayaan “Bedong Bayi” ini, pedoman keperawatan


transkultural yang tepat digunakan adalah mengakomodasi budaya klien
karena budaya klien kurang menguntungkan kesehatan. Pedoman ini
disebut juga dengan Cultural Care Accomodation atau Culture
Negotiation. Hal ini dilakukan karena kebudayaan ini merupakan suatu
kebiasaan yang dapat menghambat tumbuh kembang bayi, namun
kebiasaan ini juga merupakan salah satu kebudayaan turun-temurun
yang sulit dihapuskan dari tatanan masyarakat. Selain itu, negosiasi
dilakukan karena dampak atas budaya atau kebiasaan yang dilakukan
oleh masyarakat tidak terlalu membahayakan kesehatan bayi.
DAFTAR PUSTAKA

Ns. Alfi Ari Fakhrur Rizal, M. (2017). Hubungan Pengetahuan Perawat Tentang
Transcultural Nursing Dengan Sikap Perawat Dalam Memberikan Asuhan
Keperawatan Pada Pasien Yang Berbeda Budaya Di RSUD I.A Moeis
Samarinda. Jurnal Ilmiah Sehat Bebaya , Vol. 1, No. 2, Hal. 102-109.

Guti, Regyana Mutiara (2017). Makalah Psikososial dan Budaya dalam


Keperawatan Aplikasi Keperawatan Transkultural pada Kelompok
Bayi/Balita, Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga

Triono, Janice (2019). Kebudayaan Masyarakat Banjar Bapukung Cara


Menidurkan Bayi Khas Banjar dan Dayak, Tugas Akhir Universitas
Lambung Mangkurat.

Leininger. M & McFarland. M.R, (2002), Transcultural Nursing : Concepts,


Theories, Research and Practice, 3rd Ed, USA, Mc-Graw HillCompanies