Anda di halaman 1dari 29

BAB I

TINJAUAN TEORI

A. TINJAUAN TEORI MEDIS


1. Definisi KB IUD
IUD adalah suatu alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahim yang
bentuknya bermacam- macam, terdiri dari plastik (polythyline), ada yang dililit tembaga
(Cu) ada pula yang tidak, tetapi ada pula yang dililit dengan tembaga bercampur perak
(Ag). Selain itu ada pula yang batangnya berisi hormon progesterone (Hani dkk, 2011).
Pengertian IUD adalah salah satu alat kontrasepsi modern yang telah dirancang
sedemikian rupa (baik bentuk, ukuran, bahan, dan masa aktif fungsi kontrasepsinya),
diletakkan dalam kavum uteri sebagai usaha kontrasepsi, menghalangi fertilisasi, dan
menyulitkan telur berimplementasi dalam uterus (Hidayati, 2009).
Pengertian AKDR atau IUD atau Spiral adalah suatu benda kecil yang terbuat dari
plastic yang lentur, mempunyai lilitan tembaga atau juga mengandung hormone dan di
masukkan ke dalam rahim melalui vagina dan mempunyai benang (Handayani, 2010).
IUD adalah suatu alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahim yang bentuknya
bermacam-macam, terdiri dari plastik (polythyline), ada yang dililit tembaga (Cu)
ada pula yang tidak, tetapi ada pula yang dililit dengan tembaga bercampur perak (Ag).
Selain itu ada pula yang batangnya berisi hormon progesterone. (Kusmarjadi D., 2011).
Kontrasepsi berasal dari kata kontra yang berarti mencegah dan konsepsi yang
berarti pertemuan antara sel telur dengan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan,
sehingga kontrasepsi adalah upaya mencegah terjadinya kehamilan dengan cara
mengusahakan agar tidak terjadi ovulasi, melumpuhkan sperma atau menghalangi
pertemuan sel telur dengan sel sperma (Wiknjosastro, 2012).
2. Jenis-Jenis IUD
Jenis - jenis IUD yang dipakai di Indonesia antara lain:
a. Copper-T

Gambar 2.1 Jenis IUD Copper-T (Imbarwati, 2009)


Menurut Imbarwati (2009) IUD berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelen
dimana pada bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan tembaga
halus ini mempunyai efek anti fertilitas (anti pembuahan) yang cukup baik. Menurut
ILUNI FKUI (2010). Spiral jenis copper T (melepaskan tembaga) mencegah
kehamilan dengan cara menganggu pergerakan sperma untuk mencapai rongga rahim
dan dapat dipakai selama 10 tahun.
b. Progestasert IUD (melepaskan progesteron) hanya efektif untuk 1 tahun dan dapat
digunakan untuk kontrasepsi darurat Copper-7. Menurut Imbarwati (2009). IUD ini
berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenis ini
mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan ditambahkan gulungan
kawat tembaga luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama dengan lilitan tembaga
halus pada IUD Copper-T.
c. Multi load

Gambar 2.2 Jenis IUD Multi Load (Imbarwati, 2009)


Menurut Imbarwati (2009), IUD ini terbuat dari plastik (polyethelene) dengan
dua tangan kiri dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjang dari ujung atas ke
ujung bawah 3,6 cm. Batang diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan
250 mm2 atau 375 mm2 untuk menambah efektifitas. Ada tiga jenis ukuran multi load
yaitu standar, small, dan mini.
d. Lippes loop

Gambar 2.3 Jenis IUD Lippes Loop (Imbarwati, 2009)


Menurut Imbarwati (2009), IUD ini terbuat dari polyethelene, berbentuk huruf
spiral atau huruf S bersambung. Untuk memudahkan kontrol, dipasang benang pada
ekornya Lippes loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda menurut ukuran panjang bagian
atasnya. Tipe A berukuran 25 mm (benang biru), tipe B 27,5 mm (benang hitam),
tipe C berukuran 30 mm (benang kuning) dan tipe D berukuran 30 mm dan tebal
(benang putih). Lippes loop mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan
dari pemakaian IUD jenis ini adalah bila terjadi perforasi, jarang menyebabkan luka
atau penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan plasti.
1. Cara Kerja IUD
Menurut Saifudin (2010), Cara kerja IUD adalah:
a. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba fallopi
b. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri
c. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun AKDR
membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan
mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi.
d. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus.
2. Efektivitas IUD
Keefektivitasan IUD adalah: Sangat efektif yaitu 0,5 – 1 kehamilan per 100
perempuan selama 1 tahun pertama penggunaan (Sujianti and Arum, 2009). Menurut
penelitian yang dilakukan oleh Putri Rani Pratama and Oktaria Dwita (2016) dengan
judul “Efektivitas Intra Uterine Devices (IUD) Sebagai Alat Kontrasepsi” menyatakan
bahwa IUD memiliki efektifitas yang tinggi, dimana keberhasilannya 0,6-0,8
kehamilan per 100 perempuan yang menggunakan IUD (1 kegagalan dalam 125
sampai 170 kehamilan). Adapun hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan IUD
yaitu kontraindikasi dan efek samping, sehingga para wanita yang akan menggunakan
kontrasepsi jenis ini tidak mengalami stress akibat efek yang terjadi.
3. Keuntungan IUD
Menurut Saifudin (2010), Keuntungan IUD yaitu:
a. Sebagai kontrasepsi, efektifitasnya tinggi
Sangat efektif → 0,6 - 0,8 kehamilan / 100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1
kegagalan dalam 125 – 170 kehamilan).
b. AKDR dapat efektik segera setelah pemasangan.
c. Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT – 380A dan tidak perlu
diganti)
d. Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat –ingat
e. Tidak mempengaruhi hubungan seksual
f. Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil
g. Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR (CuT -380A)
h. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
i. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila tidak
terjadi infeksi)
j. Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid terakhir)
k. Tidak ada interaksi dengan obat – obat
l. Membantu mencegah kehamilan ektopik.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Wahyuningsih Endang and Sawitri Endang
(2017) dengan judul “Pengaruh KB IUD Pasca Salin (Intracaesarian Iud) Terhadap
Proses Involusi Uteri Pada Ibu Nifas” menyatakan bahwa hasil pelaksanaan KB Pasca
Salin (Intracaesarian IUD) pada kelompok eksperimen sebanyak 29 responden (50%)
dan kelompok kontrol sebanyak 29 responden (50%). pengukuran involusi uteri dari
29 responden kelompok eksperimen pada hari pertama sebagian besar mengalami
percepatan proses involusi uteri yaitu 21 responden (74,2%) dan pada hari ketiga
sebagian besar mengalami perlambatan proses involusi uteri yaitu 18 responden
(62,1%). Sedangkan dari 29 responden kelompok kontrol pada hari pertama sebagian
besar proses involusi uterinya normal yaitu 15 responden (51,7%). Dan pada hari
ketiga sebagian besar mengalami perlambatan proses involusi uteri yaitu 22 responden
(75,9%). Ada pengaruh KB Intracaesarian IUD terhadap involusi uteri pada ibu nifas.
4. Kerugian IUD
Menurut Saifudin (2010), kerugian IUD yaitu:
a. Efek samping yang mungkin terjadi
1) Perubahan siklus haid (umum pada 3 bulan pertama dan akan berkurang
setelah 3 bulan)
2) Haid lebih lama dan banyak
3) Perdarahan (spotting) antar menstruasi
4) Saat haid lebih sakit
b. Komplikasi Lain
1) Merasakan sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan
2) Merasa sakit dan kejang selama 3 – 5 hari setelah pemasangan
3) Perdarahan berat pada waktu haid atau di antaranya yang memungkinkan
penyebab anemia
4) Perforasi dinding uteru (sangat jarang apabila pemasangannya benar)
c. Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS
d. Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering
berganti pasangan
e. Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai
AKDR. PRP dapat memicu infertilitas
f. Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik terganggu karena fungsi AKDR
untuk mencegah kehamilan normal
5. Mekanisme Kerja IUD
a. Sampai sekarang mekanisme kerja AKDR belum diketahui dengan pasti, kini
pendapat yang terbanyak ialah bahwa AKDR dalam kavum uteri menimbulkan
reaksi peradangan endometrium yang disertai dengan sebutan leukosit yang dapat
menghancurkan blastokista atau sperma. Sifat-sifat dari cairan uterus mengalami
perubahan–perubahan pada pemakaian AKDR yang menyebabkan blastokista
tidak dapat hidup dalam uterus. Walaupun sebelumnya terjadi nidasi, penyelidik-
penyelidik lain menemukan sering adanya kontraksi uterus pada pemakaian
AKDR yang dapat menghalangi nidasi. Diduga ini disebabkan oleh meningkatnya
kadar prostaglandin dalam uterus pada wanita (Wiknjosastro, 2012).
b. Menurut Saifudin (2010), mekanisme kerja IUD adalah:
1) Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopi
2) Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri
3) AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu walaupun
AKDR membuat sperma sulit ke dalam alat reproduksi perempuan dan
mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi
4) Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur ke dalam uterus.
6. Waktu Penggunaan IUD
Menurut Saifudin (2010), waktu penggunaan IUD yaitu:
a. Setiap waktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan klien tidak hamil.
b. Hari pertama sampai ke-7 siklus haid
c. Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu paska
persalinan, setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenore laktasi (MAL).
Perlu diingat, angka ekspulsi tinggi pada pemasangan segera atau selama 48 jam
pascapersainan.
d. Setelah menderita abortus (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila tidak ada
gejala infeksi.
e. Selama 1 sampai 5 hari setelah sanggama yang tidak dilindungi
7. Indikasi IUD
Menurut Saifudin, (2010), indikasi IUD yaitu:
a. Usia reproduksi
b. Keadaan nulipara
c. Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang
d. Menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi
e. Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya
f. Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi
g. Resiko rendah dari IMS
h. Tidak menghendaki metode hormonal
i. Tidak menyukai untuk mengingat-ingat minum pil setiap hari
j. Tidak menghendaki kehamilan setelah 1-5 hari senggama (lihat kontrasepsi
darurat)
AKDR dapat digunakan pada ibu dalam segala kemungkinan keadaan misalnya
a. Perokok
b. Pasca keguguran atau kegagalan apabila tidak terlihat adanya infeksi
c. Sedang memakai antibiotika atau anti kejang
d. Gemuk ataupun yang kurus
e. Sedang menyusui
Begitu juga ibu dalam keadaan seperti dibawah ini
a. Penderita tumor jinak payudara
b. Penderita kanker payudara
c. Pusing-pusing, sakit kepala
d. Tekanan darah tinggi
e. Varises ditungkai atau di vulva
f. Penderita penyakit jantung (termasuk penyakit jantung katup dapat diberi
antibiotika sebelum pemasangan AKDR)
g. Pernah menderita stroke
h. Penderita diabetes
i. Penderita penyakit hati atau empedu
j. Malaria
k. Sekistosomiasis (tanpa anemia)
l. Penyakit tiroid
m. Epilepsi
n. Nonpelvik TBC
o. Setelah Kehamilan Ektopik
p. Setelah pembedahan pelvik
8. Kontraindikasi IUD
Menurut Saifudin (2010), Kontraindikasi IUD sebagai berikut:
a. Sedang hamil (diketahui hamil atau kemumgkinan hamil)
b. Perdarahan vagina yang tidak diketahui (sampai dapat dievaluasi)
c. Sedang menderita infeksi alat genitalia (vaginitis, serviksitis)
d. 3 bualn terakhir sedang mengalami atau sering menderita penyakit radang panggul
atau abortus septik
e. Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak lahir yang dapat
mempengaruhi kavum uteri
f. Penyakit trofoblas yang ganas
g. Diketahui menderita TBC Pelvik
h. Kanker alat geniital
i. Ukuran rongga rahim <5 cm (Saifudin, 2010)
Menurut Manuaba dkk, (2010) kontraindikasi pemasangan IUD antara lain:
a. Diketahui dan curiga hamil.
b. Infeksi panggul (pelvis)
c. Pendarahan vagina yang tidak diketahui.
d. Dicurigai atau dikrtahui adanya kanker rahim.
e. Kelainan rahim (rahim kecil, stenosis kanalis servikalis, polip endometrium)
f. Anemi berat dan gangguan pembukaan darah.
g. Wanita dengan resiko tinggi mendapat PMS.
9. Efek Samping IUD
Menurut Sujianti dan Arum (2009), Efek samping IUD:
a. Perdarahan (menoragia atau spotting menoragia)
b. Rasa nyeri dan kejang perut
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Purwaningrum Yuniasih (2017)
dengan judul “Efek Samping KB IUD (Nyeri Perut) Dengan Kelangsungan
Penggunaan KB IUD” menyatakan bahwa hasil Penelitian menunjukan bahwa
58,06% akseptor mengalami efek samping KB IUD (nyeri perut) kadang- kadang
dan 41,94% akseptor yang sering mengalami. Sedangkan dari 48,3% akseptor KB
IUD yang tetap memakai dan 51,61% akseptor KB IUD yang drop out. Setelah
dilakukan uji stastistik didapatkan hasil 2 X hitung 2,781821. Kesimpulan 2 X
hitung lebih kecil dari 2 X tabel Chi Kuadrat maka Ho diterima yang artinya tidak
ada hubungan efek samping KB IUD (nyeri perut) dengan kelangsungan
penggunaan KB IUD.
c. Terganggunya siklus menstruasi (umumnya terjadi pada 3 bulan pertama
pemakaian)
d. Disminore
e. Gangguan pada suami (sensasi keberadaan benang iud darasakan sakit atau
mengganggu bagi pasangan saat melakukan aktifitas seksual)
f. Inveksi pelvis dan endometrium
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Permatasari Dyah (2016) dengan judul
“Perbedaan Tingkat Kecemasan Akseptor Kontrasepsi IUD Dengan Suntik 3 Bulan
Dalam Menghadapi Efek Samping Alat Kontrasepsi” menyatakan bahwa tingkat
kecemasan akseptor kontrasepsi IUD dalam menghadapi efek sampingalat
kontrasepsi, sebagian besar mengalami kecemasan berat sebanyak 5 responden
(62,5%). Tingkat kecemasan akseptor kontrasepsi suntik 3 bulan dalam menghadapi
efek sampingalat kontrasepsi, sebagian besar mengalami kecemasan sedang sebanyak
22 responden (33,3%). Sehingga ada perbedaan tingkat kecemasan akseptor
kontrasepsi IUD dengan suntik 3 bulan dalam menghadapi efek sampingalat
kontrasepsi pada p (0,001) < α (0,05) jadi H0 ditolak dan H1 diterima.
10. Peralatan Untuk Pemasangan AKDR Pasca Salin
Peralatan yang dibutuhkan untuk pemasangan AKDR pascasalin antara lain :
a. Teknik Pemasangan
1) Teknik Pemasangan dengan Forsep Cincin
Prosedur ini membutuhkan asisten, untuk memastikan keadaan asepsis
dan pemasangan AKDR yang aman. Pada penjelasan berikut, langkah-
langkah yang dikerjakan oleh asisten dituliskan dalam huruf miring.
Tahapan-tahapan pemasangan :
a) Palpasi uterus untuk menilai tinggi fundus dan kontraksinya, dan
jika perlu lakukan masase uterus untuk membantu terjadinya kontraksi
yang stabil.
b) Cuci tangan dengan sabun dan keringkan dengan kain kering yang bersih.
c) Gunakan sarung tangan steril.
d) Letakkan duk steril untuk menutupi perut bagian bawah klien dan
di bawah bokong klien.
e) Susun semua instrumen yang dibutuhkan dan letakkan pada wadah
steril atau duk steril.
f) Pastikan bokong klien terletak pada tepi ujung meja (dengan atau
tanpa penyangga tungkai).
g) Lakukan pemasangan AKDR dalam posisi duduk.
h) Khusus pemasangan pascaplasenta, masukkan spekulum ke
dalam vagina dan periksa adakah laserasi pada serviks. Bila laserasi
dan/atau episiotomi (jika dilakukan) tidak berdarah aktif, dapat dijahit
setelah pemasangan AKDR.
i) Masukkan spekulum ke dalam vagina (dipertahankan dengan
tangan yang non-dominan), lalu lakukan visualisasi serviks.
j) Dengan tangan yang dominan, bersihkan serviks dan dinding vagina
dengan cairan antiseptik.
k) Jepit sisi anterior serviks dengan forsep cincin.
l) Sekali serviks dapat divisualisasi dan dijepit dengan forsep
cincin, visualisasi harus dipertahankan.

m) Asisten membuka kemasan AKDR. Kemasan AKDR cukup


setengah terbuka.
n) Asisten meletakkan kemasan AKDR yang setengah terbuka pada
wadah steril.
o) Jepit AKDR dalam kemasan dengan forsep plasenta Kelly atau
forsep cincin panjang.
p) AKDR dijepit pada bagian lengan vertikalnya, sementara lengan
horizontal AKDR sedikit di luar cincin. Hal ini akan membantu
pelepasan AKDR pada fundus dan menurunkan risiko AKDR ikut
tercabut keluar ketika mengeluarkan forsep
q) Tempatkan AKDR pada lengkung dalam forsep Kelly (bukan lengkung
luar), dengan benang AKDR menjauh dari forsep.

r) Dengan bantuan asisten untuk memegang spekulum, pegang forsep yang


telah menjepit AKDR dengan tangan yang dominan dan forsep yang
menjepit serviks dengan tangan lainnya
s) Tarik forsep yang menjepit serviks secara perlahan ke arah pemasang,
lalu visualisasikan serviks.
t) Masukkan forsep yang menjepit AKDR melalui vagina dan serviks,
secara tegak lurus terhadap bidang punggung ibu. Hal ini akan
mengurangi ketidaknyamanan pasien dan menghindari kontak antara
AKDR dengan dinding vagina.
u) Saat forsep yang menjepit AKDR telah melalui serviks ke dalam
rongga uterus, asisten melepas spekulum.
v) Tangan yang memegang forsep untuk menjepit serviks dipindahkan ke
abdomen pada bagian puncak fundus uteri.

w) Dengan tangan pada abdomen, stabilisasi uterus dengan


dengan melakukan penekanan yang mantap ke arah bawah melalui
dinding abdomen. Hal ini untuk mencegah uterus bergerak ke atas pada
saat forsep yang menjepit AKDR didorong masuk ke dalam uterus.
x) Masukkan forsep yang menjepit AKDR dengan gerakan yang lembut
ke arah atas menuju fundus (diarahkan ke umbilikus). Perlu diingat
bahwa segmen bawah uterus dapat berkontraksi, dan oleh karena itu
mungkin perlu diberikan sedikit tekanan untuk mendorong AKDR
masuk hingga fundus.
y) Jika terdapat tahanan, tarik forsep sedikit dan arahkan ulang forsep
lebih anterior ke arah dinding abdomen.
z) Berdiri dan pastikan dengan tangan yang berada di abdomen bahwa
ujung forsep telah mencapai fundus.
aa) Pada tahap ini, putar forsep 450 ke arah kanan, untuk menempatkan
AKDR secara horizontal setinggi mungkin pada fundus
bb) Buka jepitan forsep untuk melepas AKDR
cc) Secara perlahan keluarkan forsep dari rongga uterus, pertahankan forsep
dalam keadaan sedikit terbuka dan merapat ke sisi uterus, menyusuri
dinding lateral uterus hingga forsep ditarik keluar
dd) Secara lembut, buka introitus vagina dengan dua jari dan lihat
bagian dalam vagina.
ee) Lepaskan dan keluarkan forsep yang menjepit serviks.
ff) Lanjutkan dengan perbaikan luka laserasi atau episiotomi.
b. Teknik Pemasangan Manual (Pascaplasenta)
Teknik ini hanya digunakan dalam waktu 10 menit setelah kelahiran
plasenta. Poin-poin utama teknik ini yang membedakannya dengan
pemasangan menggunakan instrumen ialah sebagai berikut:
1) Gunakan sarung tangan panjang (hingga siku lengan) yang steril ATAU
sarung tangan standar yang steril dengan baju kedap air steril.
2) Gunakan tangan untuk memasukkan AKDR.
3) Pegang AKDR dengan menggenggam lengan vertikal antara jari telunjuk dan
jari tengah tangan yang dominan.
4) Dengan bantuan spekulum vagina, visualisasikan serviks dan jepit serviks
dengan forsep cincin.
5) Keluarkan spekulum.

6) Secara perlahan, dengan arah tegak lurus terhadap bidang punggung ibu,
masukkan tangan yang memegang AKDR ke dalam vagina dan
melalui serviks masuk ke dalam uterus.
7) Lepaskan forsep yang menjepit serviks dan tempatkan tangan yang
nondominan pada abdomen untuk menahan uterus dengan mantap. Stabilisasi
uterus dengan penekanan ke bawah untuk mencegahnya bergerak ke atas
ketika memasukkan tangan yang memegang AKDR; hal ini juga membantu
pemasang untuk mengetahui ke arah mana tangan yang memegang AKDR
diarahkan serta memastikan tangan telah mencapai fundus.
8) Setelah mencapai fundus, putar tangan yang memegang AKDR 45 derajat ke
arah kanan untuk menempatkan AKDR secara horizontal pada fundus.
9) Keluarkan tangan secara perlahan, merapat ke dinding lateral uterus.
10) Perhatikan jangan sampai AKDR tergeser ketika mengeluarkan tangan.
c. Teknik Pemasangan Transsesarea
Setelah persalinan dengan seksio sesarea:
1) Masase uterus hingga perdarahan berkurang, pastikan tidak ada
jaringan tertinggal dalam rongga uterus.
2) Tempatkan AKDR pada fundus uteri secara manual atau
menggunakan instrumen.
3) Sebelum menjahit insisi uterus, tempatkan benang pada segmen bawah uterus
dekat ostium serviks internal. Jangan keluarkan benang melalui serviks
karena meningkatkan risiko infeksi.
Tahapan Setelah Pemasangan
1) Setelah pemasangan AKDR menggunakan teknik apapun, langkah-
langkah berikut harus diikuti:
2) Rendam semua instrumen dalam larutan klorin 0,5 % untuk dekontaminasi.
3) Buang semua sampah.
4) Lepaskan sarung tangan setelah dekontaminasi dalam larutan klorin 0,5% lalu
buang sarung tangan tersebut.
5) Cuci tangan dengan sabun dan air lalu keringkan dengan kain yang bersih dan
kering.
6) Lengkapi kartu kontrol AKDR milik klien dan tulis semua informasi
yang dibutuhkan dalam catatan medis klien.
11. Kunjungan Ulang Setelah Pemasangan IUD
Kunjungan ulang setelah pemasangan IUD Menurut BKKBN (2012):
a. 1 minggu pasca pemasangan
b. 2 bulan pasca pemasang
c. Setiap 6 bulan berikutnya
d. 1 tahun sekali
e. Bila terlambat haid 1 minggu
f. Perdarahan banyak dan tidak teratur
Faktor-faktor pemilihan KB IUD menurut penelitian yang dilakukan oleh
Marikar Ayu Putri K, Rina Kundre, and Bataha Yolanda (2015) dengan judul
“Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Minat Ibu Terhadap Penggunaan Alat
Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) Di Puskesmas Tuminting Kota Manado” bahwa
hasil penelitian uji statistik uji Chi Square pada tingkat kemaknaan 95% (α=0,05),
menunjukkan bahwa ada hubungan antara usia dengan penggunaan AKDR dengan
nilai p value = 0,034, ekonomi dengan penggunaan AKDR dengan nilai p value =
0,026, sedangkan pendidikan tidak ada hubungan dengan penggunaan AKDR dengan
nilai p value= 0,294. Kesimpulan dalam penelitian ini ada hubungan antara usia dan
ekonomi dengan penggunaan AKDR dengan nilai p value < α=0,05 dan tidak ada
hubungan antara pendidikan dengan penggunaan AKDR dengan nilai p value >
α=0,05.

B. TEORI MANAJEMEN KEBIDANAN


1. Pengertian Manajemen Kebidanan
Menurut Mufdlilah dkk, (2012), Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang
digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara
sistematis, mulai dari pengkajian, analisis data, diagnosa kebidanan, perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi.

2. Langkah-Langkah Manajemen Kebidanan


Menurut Mufdlilah dkk, (2012), proses manajemen kebidanan terdiri dari 7
langkah, yaitu:
a. Langkah I (pertama) : Pengumpulan data dasar
Langkah pertama merupakan langkah awal yang akan menentukan langkah
berikutnya. Mengumpulkan data adalah menghimbau informasi tentang
klien/orang yang meminta asuhan. Memilih informasi data yang tepat diperlukan
analisa suatu situasi yang menyangkut manusia yang rumit karena sifat manusia
yang komplek.
Kegiatan pengumpulan data dimulai saat klien masuk dan dilanjutkan secara
terus mnerus selama proses asuhan kebidanan berlangsung. Data dapat
dikumpulkan dari berbagai sumber. Sumber yang dapat memberikan informasi
paling akurat yang dapat diperoleh secepat mungkin dan upaya sekecil mungkin.
Pasien adalah sumber informasi yang akurat dan ekonomis, disebut sumber data
primer. Sumber data alternatif atau sumber data sekunder adalah data yang sudah
ada, praktikan kesehatan lain, anggota keluarga.
Teknik pengumpulan data ada tiga, yaitu:
1). Observasi, adalah pengumpulan data melalui indera: penglihatan (perilaku,
tanda fisik, kecacatan, ekspresi wajah), pendengaran (bunyi batuk, bunyi
nafas), penciuman (bau nafas, bau luka), perabaan (suhu badan, nadi).
2). Wawancara, adalah pembicaraan yang terarah yang umumnya dilakukan
paada pertemuan tatap mukan. Dalam wawancara yang penting diperhatikan
adalah data yang ditanyakan diarahkan ke data yang relefan.
3). Pemeriksaan, dilakukan dengan memakai instrumen/alat pengukur.
Tujuannya untuk memastikan batas dimensi angka, irama, kuantitas.
Misalnya: tinggi badan dengan meteran, berat badan dengan timbangan,
tekanan darah dengan tensi meter.
Secara garis besar, diklasifikasikan menjadi data subjektif dan data objektif.
Pada waktu pengumpulan data subjektif bidan harus: mengembangkan hubungan
antar personal yang efektif dengan pasien/klien/yang diwawancarai, lebih
memperhatikan hal-hal yang menjadi keluhan utama pasien dan yang dicemaskan,
berupaya mendapatkan data/fakta yang sangat bermakna dalam kaitan dengan
masalah pasien.
Pada waktu pengumpulan data objektif bidan harus: mengamati ekspresi dan
perilaku pasien, mengamati perubahan/kelainan fisik, memperhatikan aspek sosial
budaya pasien, menggunakan tehnik pemeriksaan yang tepat dan benar,
melakukan pemeriksaan yang tepat dan benar, melakukan pemeriksaan yang
terarah dan berkaitan dengan keluahan pasien.
b. Langkah II (kedua) : Interprestasi data dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa atau
masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interprestasi yang benar atas data-data
yang dikumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterprestasikan
sehingga ditemukan masalah atau diagnosa yang spesifik.
Langkah awal dari perumusan masalah/diagnosa kebidanan adalah
pengolahan/analisa data yaitu menggabungkan menghubungkan data satu dengan
lainnya sehingga tergambar fakta.
Masalah adalah kesenjangan yang diharapkan denga fakta/kenyataan.
Analisa adalah proses pertimbangan tentang nilai sesuatu dibandingkan dengan
standar. Standar adalah aturan/ukuran yang telah diterima secara umum dan
digunakan sebagai dasar perbandingan dalam kategori yang sama. Hambatan yang
berpotensi tinggi menimbulkan masalah kesehatan (faktor resiko). Dalam bidang
kebidanan pertimbangan butir-butir tentang profil keadaan dalamm hubungannya
dengan status sehat-sakit dan kondisi fisiologis yang akhirnya menjadi faktor
resiko agent yang akan mempengaruhi status kesehatan orang bersangkutan.
Pengertian masalah/diagnosa adalah “suatu pernyataan dari masalah
pasien/klien yang nyata atau potensial dan membutuhakan tindakan”. Dalam
pengertian yang lain masalah/diagnosa adalah “pernyataan yang menggambarkan
masalah spesifik yang berkaitan dengan keadaan kesehatan seseorang dan
didasarkan pada penilaian asuhan kebidanan yang bercorak negatif.
Dalam asuhan kebidanan kata masalah dan diagnosa keduanya dipakai
karena beberapa masalah tidak dapat didefinisikan sebagai diagnosa tetapi perlu
tetap perlu dipertimbangkan untuk membuat rencana asuhan yang menyeluruh.
Masalah sering dihubungkan dengan bagaimana wanita itu mengalami kenyataan
terhadap diagnosa.
Diagnosa adalah diagnosa yang ditegakkan oleh bidan dalam lingkup
praktik kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa kebidanan.
Standar nomenlaktur diagnosa kebidanan:
1) Diakui dan telah disahkan oleh profesi
2) Berhubungan langsung dengan praktik kebidanan
3) Memiliki ciri khas kebidanan
4) Didukung oleh clinical judgement dalam praktek kabidanan
5) Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan.
c. Langkah III (ketiga) : Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasikan masalah atau diagnosa potensial
lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa potensial lain berdasarkan
rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini
membutuhkan antisipasi, bila klien memungkinkan dilakukan pencegahan,
sambil mengamati klien bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila
diagnosa/masalah potensial ini bener-benar terjadi.
d. Langkah IV (keempat) : mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan yang
memerlukan penanganan segera
Beberapa data menunjukan situasi emergensi diman bidan perlu bertindak
segera demi keselamatan ibu dan bayi, beberapa data menunjukkan situasi yang
memerlukan tindakan segera sementara menunggu instruksi dokter. Mungkin
juga memerlukan konsultasi dengan tim kesehatan lain. Bidan mengevaluasi
situasi setiap pasien untuk menentukan asuhan yang paling tepat. Langkah ini
mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan.

e. Langkah V (kelima) : Merencanakan asuhan yang komprehensif atau


menyeluruh

Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh


langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap
diagnosa atau masalah yang telah diidentifikasi atau antisipasi pada langkah ini
informasi/data dasar yang tidak lengkap dilengkapi. Suatu rencana asuhan harus
sama-sama disetujui oleh bidan maupun wanita itu agar efektif, karena pada
akhirnya wanita itulah yang akan melaksanakan rencana itu atau tidak. Oleh
karena itu tugas dalam langkah ini termasuk membuat dan pendiskusian rencana
dengan wanita itu begitu juga termasuk penegasan akan persetujuannya.
Semua keputusan yang dibuat dalanm merencanakan suatu asuhan yang
komprehensif harus merefleksikan alasan yang benar, berlandaskan
pengetahuan, teori yang berkaitan dan up to date serta divalidasikan dengan
suami mengenai apa yang diinginkan wanita tesebut dan apa yang dia tidak
inginkan. Rational yang berdasarkan asumsi dari perilaku pasien yang tidak
divalidasikan, pengetahuan teoritis yang salah atau tidak memadai, atau data
dasar yang tidak lengkap adalah tidak sah akan menghasilkan asuhan pasien yang
tidak lengkap adalah tidak sah akan menghasilkan asuhan pasien yang tidak
lengkap dan mungkin juga tidak aman.
Perencaan supaya terarah, dibuat pola pikir dengan langkah sebagai berikut:
tentukan tujuan tindakan yang akan dilakukan yang berisi tentang sasaran/target
dan hasil yang akan dicapai, selanjutnya ditentukan rencana tindakan sesuai
dengan masalah/diagnosa dan tujuan yang akan dicapai.
f. Langkah VI (keenam): Melaksanakan perencanaan dan pelaksanaan Pada
langkah keenam ini rencan asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada
langkah ke-5 dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bisa
dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian dilakukan oleh bidan dan
sebagian oleh klien, atau anggota tim kesehatan lainnya. Jika bidan tidak
melakukan sendiri, ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan
pelaksanaannya (memastikan langkah tersebut benar-benar terlaksana). Dalam
situasi dimana bidan berkolaborasi dengan dokter dan keterlibatannya dalam
manajemen asuhan bagi pasien yang mengalami komplikasi, bidan kjuga
bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama yang
menyeluruh tersebut. Manajemen yang efisien akan menyingkat waktu, biaya
dan meningkatkan mutu asuhan.
g. Langkah VII (ketujuh) : Evaluasi
Pada langkah ke 7 ini dilakukan eveluasi keefektifan dari asuhan yang sudah
diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah
terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasikan didalam
masalah dan diagnosa. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang
benar efektif dalam pelaksanaannya. Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana
tersebut telah efektif sedang sebagian belum efektif.

Model Dokumentasi Asuhan Kebidanan SOAP


Model dokumentasi yang digunakan dalam askeb adalah dalam bentuk catatan
perkembangan, karena bentuik asuhan yang diberikan berkesinambungandan
menggunakan peoses yang terus menerus (Mufdillah dkk, 2012).
S : Data informasi yang subjektif (mencatat hasil anamnesa)
O : Data informasi objektif (hasil pemeriksaan, observasi)
A : Mencatat hasil analisa (diagnosa dan masalah kebidanan)
a. Diagnosa atau masalah
b. Diagnosa/masalah potensial dan antisipasinya
c. Perlu tindakan segera
P : Mencatat seluruh penatalaksanaan (tindakan, antisipasi, tindakan segera,
tindakan rutin, penyuluhan, support, kolaborasi, rujuk dan evaluasi.
PEMBAHASAN

Penulis ingin membahas mengenai penanganan asuhan kebidanan keluarga berencana pada
Ny.N umur 39 tahun P2A0 dengan akseptor KB IUD dimana di mulai dari pengkajian,
pemeriksaan, analisa, dan penatalaksaan yang ada dilahan dibandingkan dengan teori atau jurnal
yang ada.
Pengkajian Ny. N dilakukan pada tanggal 22 April 2019 pukul 13.00 WIB di Ruang
Obstetri. Dalam pengkajian didapatkan identitas pasien bahwa ibu berumur 39 tahun, agama islam,
pendidikan terakhir SMA, pekerjaan swasta, suku bangsa Jawa Indonesia, dan alamat Jatisari III.
Alasan datang Ny.N karena masih dalam perawatan pasca SC dan IUD 6 jam. Ibu juga
mengatakan mengeluh nyeri bekas operasi. Ibu memilih menggunakan KB IUD. Hal ini sesuai
dengan Handayani (2010) AKDR atau IUD atau Spiral adalah suatu benda kecil yang terbuat dari
plastic yang lentur, mempunyai lilitan tembaga atau juga mengandung hormone dan di masukkan
ke dalam rahim melalui vagina dan mempunyai benang. Serta diperkuat kembali Hidayati (2009)
IUD adalah salah satu alat kontrasepsi modern yang telah dirancang sedemikian rupa (baik bentuk,
ukuran, bahan, dan masa aktif fungsi kontrasepsinya), diletakkan dalam kavum uteri sebagai usaha
kontrasepsi, menghalangi fertilisasi, dan menyulitkan telur berimplementasi dalam uterus.
Dalam pengkajian data psikologis ibu mengatakan memakai KB karena anjuran dari bidan
dan dokter serta dilarang memakai KB hormonal karena usia ibu sudah lebih dari 35 tahun. Hal
ini sesuai dengan pendapat Saifudin (2010), Cara kerja IUD adalah menghambat kemampuan
sperma untuk masuk ke tuba fallopi, mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum
uteri, dan AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun AKDR
membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan
sperma untuk fertilisasi, memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus.
Selain itu dalam pemilihan alat kontrasepsi Ny. N sudah dimusyawahkan dengan suami
dilihat dari pemecahan masalah dilakukan dengan musyawarah dengan suami dan suami sangat
mendukung untuk menggunakan KB IUD. Berarti suami mempunyai peran penting dalam
pemilihan kontrasepsi IUD.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Marikar Ayu Putri K, Rina Kundre,
and Bataha Yolanda (2015) dengan judul “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Minat Ibu
Terhadap Penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) Di Puskesmas Tuminting Kota
Manado” bahwa hasil penelitian uji statistik uji Chi Square pada tingkat kemaknaan 95% (α=0,05),
menunjukkan bahwa ada hubungan antara usia dengan penggunaan AKDR dengan nilai p value =
0,034, ekonomi dengan penggunaan AKDR dengan nilai p value = 0,026, sedangkan pendidikan
tidak ada hubungan dengan penggunaan AKDR dengan nilai p value= 0,294. Kesimpulan dalam
penelitian ini ada hubungan antara usia dan ekonomi dengan penggunaan AKDR dengan nilai p
value < α=0,05 dan tidak ada hubungan antara pendidikan dengan penggunaan AKDR dengan nilai
p value > α=0,05.
Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas pada Ny. N. saat hamil ibu mengalami his terus
menerus namun tidak diikuti dengan pembukaan servik. Ibu melahirkan umur kehamilan 9 bulan
dengan persalinan SC ditolong oleh dokter.. Dan nifas tidak ada komplikasi. Berat badan bayi
2400 gram dengan jenis kelamin laki-laki.
Dari data subyektif dan obyektif didapatkan usia reproduktif ibu 39 tahun, menginginkan
kontraspesi jangka panjang dan sedang menyusui dan menginginkan KB supaya tidak menggangu
produksi ASI. Hal ini sesuai dengan Saifudin (2010), bahwa indikasi IUD yaitu usia reproduksi
keadaan nulipara, menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang, menyusui yang
menginginkan menggunakan kontrasepsi, setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya, setelah
mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi, resiko rendah dari IMS, tidak menghendaki
metode hormonal, tidak menyukai untuk mengingat-ingat minum pil setiap har, tidak menghendaki
kehamilan setelah 1-5 hari senggama (lihat kontrasepsi darurat).
Penulisan analisa di ruang bersalin RSUP Dr. Kariadi ditunjukkan dengan Ny. N umur 39
tahun P2A0 dengan akseptor KB IUD. Sehingga dapat disimpulkan tidak kesenjangan antara teori
dan paktik.
Dalam analisa Ny. N didapatkan masalah tingkat pengetahuan tentang alat kontrasepsi
IUD. Hal ini didapatkan dari anamnesa data subyekti pengetahuan ibu tentang KB berdasarkan
jenis dan manfaat. Ibu mengatakan sudah mengetahui jenis KB suntik dan pil, implant dan IUD.
Ibu sudah tahu bahwa KB IUD merupakan KB yang tidak mengandung hormon dan merupakan
alat konrasepsi jangka panjang. Ibu belum mengetahui konseling post pemasangan dari KB IUD.
Maka tingkat pengetahuan tentang alat kontrasepsi IUD menjadi masalah. Serta dibutuhkan
edukasi post pemasangan kontrasepsi IUD.
Untuk penatalaksanaan Ny. N dilakukan tanggal 23 April 2019 pukul 13.00 WIB.
Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan. Memberitahu kepada ibu tentang hasil pemeriksaan
yang telah dilakukan pada ibu merupakan hak-hak pasien untuk mendapatkan informasi mengenai
tindakan yang telah dilakukan pada pasien. Supaya ibu tidak khawatir dan gelisah mengenai
pemeriksaan yang telah dilakukan. Hal ini ditunjukkan dnegan ibu mengetahui hasil pemeriksaan.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Hayati Sri (2017) “ Hubungan pengetahuan ibu
dengan pemilihan kontrasepsi ” menyatakan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat
pengetahuan sebanyak 91 (61,5%) cukup tentang pemilihan alat kontrasepsi.
Selanjutnya menjelaskan teknik relaksasi nafas dalam bila nyeri datang. Lalu memberikan
konseling pasca pemasangan KB IUD yaitu :
1. Komplikasi yang timbul setelah pemasangan yaitu merasakan sakit dan kejang perut selama
3-5 hari setelah pemasangan, perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yang
memungkinkan penyebab anemia, perforsi dinding uterus.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Purwaningrum Yuniasih (2017)
dengan judul “Efek Samping KB IUD (Nyeri Perut) Dengan Kelangsungan Penggunaan KB
IUD” menyatakan bahwa hasil Penelitian menunjukan bahwa 58,06% akseptor mengalami
efek samping KB IUD (nyeri perut) kadang- kadang dan 41,94% akseptor yang sering
mengalami. Sedangkan dari 48,3% akseptor KB IUD yang tetap memakai dan 51,61%
akseptor KB IUD yang drop out. Setelah dilakukan uji stastistik didapatkan hasil 2 X hitung
2,781821. Kesimpulan 2 X hitung lebih kecil dari 2 X tabel Chi Kuadrat maka Ho diterima
yang artinya tidak ada hubungan efek samping KB IUD (nyeri perut) dengan kelangsungan
penggunaan KB IUD.
Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Wahyuningsih Endang and Sawitri Endang
(2017) dengan judul “Pengaruh KB IUD Pasca Salin (Intracaesarian Iud) Terhadap Proses
Involusi Uteri Pada Ibu Nifas” menyatakan bahwa hasil pelaksanaan KB Pasca Salin
(Intracaesarian IUD) pada kelompok eksperimen sebanyak 29 responden (50%) dan kelompok
kontrol sebanyak 29 responden (50%). pengukuran involusi uteri dari 29 responden kelompok
eksperimen pada hari pertama sebagian besar mengalami percepatan proses involusi uteri
yaitu 21 responden (74,2%) dan pada hari ketiga sebagian besar mengalami perlambatan
proses involusi uteri yaitu 18 responden (62,1%). Sedangkan dari 29 responden kelompok
kontrol pada hari pertama sebagian besar proses involusi uterinya normal yaitu 15 responden
(51,7%). Dan pada hari ketiga sebagian besar mengalami perlambatan proses involusi uteri
yaitu 22 responden (75,9%). Ada pengaruh KB Intracaesarian IUD terhadap involusi uteri
pada ibu nifas.
2. Daya guna IUD yaitu 8 tahun.
3. Cara memeriksa benang IUD yaitu memasukkan satu jari tengah ke dalam vagina sambil
jongkok.
4. Kemungkinan terjadi IUD keluar yaitu bila benang IUD teraba panjang, berata ujung batang
IUD, atau tidak dapat meraba benang IUD.
5. Kemungkinan suami/istri merasakan nyeri senggama.
6. Mulai efektifitas kerja IUD adalah segera setelah pemasangan.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri Rani Pratama and Oktaria
Dwita (2016) dengan judul “Efektivitas Intra Uterine Devices (IUD) Sebagai Alat
Kontrasepsi” menyatakan bahwa IUD memiliki efektifitas yang tinggi, dimana
keberhasilannya 0,6-0,8 kehamilan per 100 perempuan yang menggunakan IUD (1 kegagalan
dalam 125 sampai 170 kehamilan). Adapun hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan
IUD yaitu kontraindikasi dan efek samping, sehingga para wanita yang akan menggunakan
kontrasepsi jenis ini tidak mengalami stress akibat efek yang terjadi.
7. Waktu kontrol yaitu memeriksakan diri setelah 4-6 minggu pasca pemasangan IUD, pada saat
periode menstruasi yang akan datang, apabila ada keluhan.
8. Dapat melepas IUD 5 tahun setelah pemasangan atau apabila menghendaki.
Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup, makan-makanan yang bergizi tanpa pantangan
makanan dan minum minimal 8 gelas perhari.
Bidan dalam memberikan asuhan kebidanan keluarga berencana pada pada Ny. N umur 39
tahun P2A0 dengan akseptor KB IUD di ruang Obstetri RSUP Dr. Kariadi dengan memberikan
pendidikan kesehatan mengenai pasca pemasangan KB IUD. Hal ini sesuai dengan wewenang
berdasarkann Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia NOMOR 28 Tahun 2017 tentang
izin dan penyelenggaraan praktik Bidan BAB III Pasal 18 ayat c yang berbunyi: Bidan memiliki
kewenangan untuk memberikan pelayanan reproduksi perempuan dan keluarga berencana. Pasal
21 ayat a dan ayat byang berbunyi: Bidan berwenang memberikan penyuluhan dan konseling
kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana, pelayanan kontrasepsi oral, kondom,
dan suntikan. Pasal 22 ayat a dan ayat berbunyi: Bidan memberikan pelayanan berdasarkan
penugasan dari pemerintah sesuai kebutuhan dan/atau pelimpahan wewenang melakukan tindakan
pelayanan kesehatan secara mandate dari dokter. Pasal 23 ayat a, b, c, d , dan e berbunyi:
Kewenangan penugasan berdasarkan penugasan pemerintah terdiri atas kewenangan berdasarkan
program pemerintah dan kewenangan karena tidak adanya kesehatan lain di suatu wilayah Bidan
bertugas. Kewenangan diperoleh Bidan setelah mendapatkan pelatihan. Pelatihan dilenggarakan
oleh Pemerintah Pusat, pemerintah daerah bersama organisasi profesi terkait berdasarkan modul
dan kurikulum yang terstandarisasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bidan yang telah mengikuti pelatihan sebagaimana dimaksud berhak memperoleh sertifikat
pelatihan. Bidan yang diberi kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapatkan
penetapan dari kepala dinas kesehatan kabupaten/kota.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pada kasus pada Ny, N umur 39 tahun P2A0 dengan
akseptor KB IUD dari pengkajian, pemeriksaan, analisa, dan penatalaksanaan tidak terdapat
kesenjangan antara teori dan lahan.
BAB V
PENUTUP

Setelah penulis melakukan asuhan kebidanan pada pada Ny. N umur 39 tahun P2A0 dengan
akseptor KB IUD di RSUP Dr.Kariadi, maka penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan dan
saran untuk meningkatkan asuhan kebidanan khususnya untuk akseptor KB IUD.
A. KESIMPULAN
Setelah dilaksanakan Asuhan Kebidanan pada akseptor KB IUD secara menyeluruh
dengan menggunakan manajemen kebidanan menurut Varney, maka penulis dapat
menyimpulkan:
1. Tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek pada data subyektif dan objektif pada
Ny. N umur 39 tahun P2A0 dengan akseptor KB IUD di RSUP Dr.Kariadi.
2. Tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek pada intrepretasi data pada asuhan
kebidanan pada Ny N umur 39 tahun P2A0 dengan akseptor KB IUD di RSUP Dr.Kariadi
3. Tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek saat penegakan diagnosa kebidanan pada
Ny.N umur 39 tahun P2A0 dengan akseptor KB IUD di RSUP Dr.Kariadi
4. Tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek pada saat menentukan masalah kebutuhan
pada asuhan kebidanan pada Ny N umur 39 tahun P2A0 dengan aseptor KB IUD di RSUP
Dr Kariadi
5. Tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek pada pelaksanaan asuhan pada pada Ny.
N umur 39 tahun P2cp A0 dengan akseptor KB IUD di RSUP Dr.Kariadi.
B. SARAN
1. Bagi Tenaga Kesehatan
Hendaknya bidan selalau meningkatkan ketrampilan, kemampuan dan menambah
ilmu pengetahuan melalui pendidikan formal / mengikuti seminar pelatihan, sehingga
dapat memberikan asuhan kebidanan pada akseptor KB IUD.
2. Bagi Rumah Sakit
Diharapkan Rumah Sakit dapat meningkatkan mutu pelayanan, terutama dalam
memberikan asuhan kebidanan kepada akseptor KB IUD.
3. Bagi Klien
Untuk tetap menjaga kebersihan diri khususnya daerah genitalia, kontrol secara
rutin dan apabila ada keluhan segera datang ketenaga kesehatan.
4. Bagi Pendidikan
Diharapkan laporan ini bias bermanfaat untuk referensi dan tidak ditemukan
kesenjangan antara teori dengan praktik dan diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi
bagi institusi pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA

BKKBN Jawa Tengah (2012). Pemakaian IUD di Semarang Masih Rendah. Badan
Kependudukan Keluarga Berencana Perwakilan Provinsi Jawa Tengah.

Handayani, Sri (2010). Buku Ajar Pelayanan Keuarga Berencana. Yogyakarta: Pustaka Rihama.

Hani, U. Jiarti, K. Marjati (2011). Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan Fisiologis. Jakarta:
Salemba Medika.

Hidayati, R. (2009). Metode dan Teknik Penggunaan Alat Kontrasepsi. Jakarta: Salemba Medika.

Hayati Sri (2017). Hubungan Pengetahuan Ibu tentang metode kontrasepsi denga pemilihan
kontrasepsi. (Studi Kasus : Pusksmas Majalaya). Jurnal Keperawatan BSI, Vol V, No 2,
September 2017

Imbarwati (2009). Beberapa Faktor yang Berkaitan Dengan Penggunaan KB IUD Pada peserta
KB Non IUD.

ILUNI FKUI (2010). Keluarga Berencana.

Kusmarjadi, D. 2011. Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (Implant).


http://www.drdidispog.com/2011/01/alat-kontrasepsi-bawah-kulitimplant.html. Diakses 06
Februari 2019.

Manuaba, Ayu Chrandrarita, Dkk. (2010). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB Untuk
Pendidikan Bidan Ed.2.Jakarta: EGC.

Marikar Ayu Putri K, Rina Kundre, dan Bataha Yolanda (2015). Faktor-Faktor Yang
Berhubungan Dengan Minat Ibu Terhadap Penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim
(AKDR) Di Puskesmas Tuminting Kota Manado. Universitas Sam Ratulangi Manado e-
Journal Keperawatan (eKp) volume 3 Nomor 2.

Mufdillah, Hidayat A., Kharimaturrahmah, I. (2012). Konsep Kebidanan Cetakan Ke-1.


Yogyakarta: Nuha Medika.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia NOMOR 28 Tahun 2017 tentang izin dan
penyelenggaraan praktik Bidan.

Purwaningrum Yuniasih (2017). Efek Samping KB IUD (Nyeri Perut) Dengan Kelangsungan
Penggunaan KB IUD. Prodi Kebidanan Jember Jurnal Kesehatan Vol. 5. No. 1.
Putri Rani Pratama and Oktaria Dwita (2016). Efektivitas Intra Uterine Devices (IUD) Sebagai
Alat Kontrasepsi. Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung. MAJORITY Volume 5
Nomor 4

Saifuddin, A. B. (2010). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka.

Sujianti & Arum (2009). Panduan Lengkap Pelayanan KB Terkini. Yogyakarta: Mitra Cendekia.

Wahyuningsih Endang and Sawitri Endang (2017). Pengaruh KB IUD Pasca Salin
(Intracaesarian Iud) Terhadap Proses Involusi Uteri Pada Ibu Nifas. Universitas
Muhammadiyah Magelang.

Wiknjosastro, H. (2012). Ilmu Kebidanan Edisi 4 Cetakan ke-2. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka