Anda di halaman 1dari 13

FERTILISASI

Oleh
I Nyoman Dwi Eka Saputra (1809511104/D)
Anak Agung Gede Agung Ananta Kusuma (1809511106/D)
I Made Gede Wijaya Kusuma (1809511107/D)

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2019
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah
melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah
ini bisa selesai pada waktunya.

Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah


berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun
dengan baik dan rapi.

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para


pembaca.Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh
dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang
bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.

Denpasar, 16 September 2019

Penulis

i
Daftar Isi
Kata Pengantar..................................................................................................................... i
Daftar Isi ................................................................................Error! Bookmark not defined.
BAB I .................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ................................................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang .......................................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah .................................................................................................... 1
1.3. Tujuan ...................................................................................................................... 1
BAB II ................................................................................................................................... 2
PEMBAHASAN ..................................................................................................................... 2
2.1. Fertilisasi ................................................................................................................. 2
2.2. Syarat-syarat Fertilisasi ............................................................................................ 3
2.3. Mekanisme Terjadinya Fertilisasi............................................................................. 4
2.3 Pengertian Partenogenesis ....................................................................................... 8
PENUTUP ............................................................................................................................. 9
3.1. Simpulan .................................................................................................................. 9
3.2 Saran ......................................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 10

ii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Setiap makhluk hidup tentunya menginginkan untuk meneruskan
keturunannya, tidak terkecuali dengan manusia. Reproduksi merupakan suatu
proses perkembang biakan pada hewan yang diawali dengan bersatunya sel telur
(ovum) dengan sel mani (sperma) sehingga terbentuk zigot kemudian embrio
hingga fetus dan diakhiri dengan kelahiran. Pada proses reproduksi ini
menyangkut hewan betina dan jantan.
Secara umum, proses reproduksi ini melibatkan dua hal yakni, sel telur
atau yang biasanya disebut ovum dan sel mani atau yang disebut sperma. Ovum
sendiri dihasilkan oleh hewan betina melalui proses ovulasi setelah melalui
beberapa tahap perkembangan folikel ( secara umum disebut denganproses
oogenesis yakni proses pementukan sel telur atau ovum), sedangkansperma
diproduksi oleh hewan jantan melalui proses gametogenesis (prosespembentukan
sel gamet jantan atau sperma yang terjadi di dalam testis ditubulus seminiferus).
Prosesestrus (masa keinginan kawin), ovulasi, danfertilisasi (proses bertemunya
sel gamet jantan dan sel gametbetina) jugasangat berperan dalam proses
reproduksi.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud Fertilisasi?
2. Apa saja syarat-syarat fertilisasi?
3. Bagaimana mekanisme terjadinya fertilisasi?
4. Apa yang dimaksudparthenogenesis ?
1.3. Tujuan
Tujuan penulis membuat makalah ini adalah sebagai berikut.
1. mengetahui pengertian fertilisasi
2. Mengetahui syarat-syarat fertilisasi
3. Mengetahui mekanisme terjadinya fertilisasi
4. Mengetahui pengertian parthenogenesis

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Fertilisasi

Fertilisasi adalah proses bersatunya kedua jenis sel kelamin (jantan dan
betina), dimana masing-masing gamet mengandung 1n kromosom yang disebut
haploid sehingga menghasilkan sel baru yang disebut zigot. (mengandung 2n
kromosom/diploid). Meskipun masih berupa satu sel baru, zigot sudah dapat
disebut sebagai makhluk hidup baru,karena zigot merupakan bentuk paling awal
dari semua makhluk hidup yang berkembang melalui proses fertilisasi. Zigot satu
sel inilah yang akan berkembang menjadi embrio tahap dua sel,empat sel,morula,
blastosist dan akan terus berkembang dan berdiferensiasi membentuk organ-organ
tubuh sampai akhirnya membentuk fetus.

Ada 2 fungsi utama fertilisasi, yaitu:

a. Fungsi reproduksi

Dalam hal ini ,fertilisasi memungkinkan terjadinya pemindahan unsur- unsur


genetik dari orangtua atau induknya. Jika pada gametogenesis terjadi reduksi
(pengurangan) unsur genetik dari diploid menjadi haploid, maka pada fertilisasi
dimungkinkan pemulihan kembali unsur genetiknya, 1n dari gamet jantan dan 1n
dari gamet betina sehingga diperoleh individu normal 2n.

b. Fungsi perkembangan

Pada fungsi ini,fertilisasi menyebabkan gertakan atau rangsangan pada sel telur
untuk menyelesaikan proses meiosisnya dan membentuk pronukleus betina yang
akan melebur (syngami) dengan pronukleus jantan membentuk zigot dan
seterusnya berkembang menjadi embrio dan fetus

2
2.2. Syarat-syarat Fertilisasi

Fertilisasi merupakan proses peleburan dua macam gamet sehingga


terbentuk suatu individu baru dengan sifat genetik yang berasal dari kedua
orang tuanya (Sudarwati, 1990:23). Syarat fertilisasi yaitu adanya ovum yang
matang dan siap dibuahi oleh sperma. Proses fertilisasi dapat dibagi menjadi
empat
aktivitas utama :
1. Hubungan (kontak) serta pengenalan sperma dan sel telur
2. Pengaturan pemasukan sperma ke dalam sel telur
3. Peleburan bahan genetik dari sperma dan sel telur
4. Aktivasi metabolik telur untuk memulai perkembangan

Faktor-faktor fertilisasi

a) Tempat terjadi nya Fertilisasi


Di posterior saluran telur (oviduct, tuba) : urodela, gymnophiona
dan beberapa anura. Di anterior oviduct : reptilia, aves,
elasmobranchii, mamalia. Pada rongga peritoneum (antara ovum dan
infidibulum) : sedikit urodela dan sedikit aves.Pada folikel ovarium :
sedikit teleostei (gabus)Dalam kantung telur jantan : tangkur kuda dan
tangkur buaya.Di air : umumnya evertebrata, pisces dan amphibia.
b) Gerakan sperma menuju tempat pembuahan
Gerakan mengayuh flagellum spermatozoa.Kerutan antiperistalsis
saluran kelamin betina: vagina, cervix, uterus, tuba. Saluran ini
bertindak sebagai pompa penghisapKayuhan cilia dalam uterus dan
tuba dalam cervix terjadi seleksi spermatozoa, sehingga yang baik saja
disalurkan ke uterus.Menurut penelitian spermatozoa disalurkan tidak
sekaligus pula, tetapi berangsur sebagian demi sebagian.
c) Kecepatan sperma dalam tubuh betina
Rata-rata perjalanan sperma itu beberapa puluh menit untuk sampai
di tempat pembuahan. Pada tikus, mencit dan domba sekitar 15
menit,manusia 30 menit sampai 3 jam, kelinci dan ayam sekitar 1 jam.
Bagi yang membuahi di ovarium perjalanan spermatozoa dari

3
infidibulum sampai kesana memakan waktu hanya beberapa menit.
Grakan spermatozoa dari sini semata mata oleh kegiatan mengayuh
flagellum.Tapi pada beberapa hewan rongga peritoneum juga dilapisi
epitel bercilia, yang dikira berfungsi untuk mengayuh
spermatozoa.Tabel dibawah ini menunjukkan perkiraan waktu yang
diperlukan oleh spermatozoa dari beberapa spesies hewan untuk
mencapai tuba falopii, tempat terjadinya fertilisasi.

Hewan Volume Tempat Interval waktu dari


ejakulasi deposisi ejakulasi oleh
(ml) sampai di tuba
falopii
Mencit >0.1 Uterus 15 menit
Hamster >0,1 Uterus 2-60 menit
Tikus 0,1 Uterus 15-30 menit
Kelinci 1.0 Vagina Beberapa menit
Anjing 10,0 Uterus Beberapa menit
Kambing 1,0 Vagina 6 menit
Sapi 4,0 Vagina 2-13 menit
Babi 250 Seviks dan 15-30 menit
badan uterus

d) Ketahanan sperma dalam tubuh betina


Ketahanan sperma dalam tubuh betina berbeda setiap jenisnya,
mamalia yang memegang rekor adalah kelelawar daerah dingin. Lama
tahan hidup spermatozoa dalam saluran kelamin wanita memegang
peranan penting dalam perhitungan masa subur.

2.3. Mekanisme Terjadinya Fertilisasi


Fertilisasi dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Fertilisasi Eksterna
Fertilisasi eksterna kebanyakan dialami oleh hewan-hewan marin
yang hidupnya di dalam air, seperti Pisces dan Amphibia. Mekanisme pada
fertilisasi eksterna dapat dilakukan dengan dua cara utama, yaitu daya tarik
dan aktivasi yang spesies spesifik dari sperma. Daya tarik spesies spesifik
sperma adalah semacam kemotaksis di mana sel telur dapat mengeluarkan
suatu zat yang mempunyai daya tarik.Dewasa ini telah ditemukan dua

4
macam atraktan utama yang spesies spesifik yaitu speract dari
Strongylocentrotus purpuratus dan resact dari Arbacia punctulata.Zat ini
merupakan polipeptida pendek dan terdapat di dalam selaput lendir
telur.Interaksi yang kedua antara sperma dan telur menyangkut aktivasi
sperma oleh selaput lender telur yang disebut reaksi akrosoma. Pada
umumnya reaksi akrosoma terdiri atas dua bagian: pecahnya gelembung
akrosoma dan pembentukan prosesus akrosoma. Bila gelembung akrosoma
pecah, suatu enzim pencerna akan dilepaskan sehingga kepala sperma dapat
menembus selaput lendir dan prosesus akrosoma akan mencapai membran
telur. Pada tahap inilah terjadi pengenalan yang bersifat spesies
spesifik.Protein akrosoma yang berperan dalam hal ini adalah bindin yang
terdapat khusus pada prosesus akrosoma.Dari pengujian biokimiawi didapat
bahwa bindin dari spesies-spesies yang berkerabat sangatlah berbeda.Hal ini
menyatakan bahwa padamembran vitelin terdapat reseptor yang spesies
spesifik bagi bindin (Sudarwati, 1990:24).
b. Fertilisasi Internal

Gambar 1. Fertilisasi internal


(Sumber: Sudarwati, 1990:25)
Saluran genital hewan mamalia betina memegang peranan yang
penting dalam proses fertilisasi. Sperma yang baru diejakulasikan belum
mampu melakukan reaksi akrosoma tanpa berada di dalam saluran
reproduksi selama beberapa lama.Periode ini disebut kapasitasi dan waktu
yang dibutuhkan berbedabeda bagi berbagai spesies.Pada perioda ini terjadi

5
perubahan selaput yang membungkus kepala sperma.Pada zona pelusida
terdapat suatu protein khusus dimana sperma dapat terikat.Lagi pula protein
ini setelah berikatan dengan sperma menyebabkan terjadinya reaksi
akrosoma pada sperma, sehingga sperma dapat mengkonsentrasikan enzim
proteolitiknya (akrosin) secara langsung pada tempat dimana sperma
terikat.Waktu sperma sampai ke tempat fertilisasi berkisar 2-60 menit pada
umumnya.Namun berbeda untuk tiap-tiap hewan karena dipengaruhi
penjang tuba falopi.

Pada tempat dimana sperma melekat pada telur, sitoplasma telur


akan membentuk tonjolan fertilisasi (fertilization cone) (Sudarwati,
1990:25). Membran plasma telur kemudian fusi dengan membrane
sperma, sambil tonjolan menyusut, kepala sperma masuk ke dalam
telur.Setelah kepala sperma masuk ke dalam telur, membran intinya
berdisintigrasi.Bahan inti berinteraksi dengan sitoplasma telur, dan
kromatin mulai merenggang.Menjelang berakhirnya perenggangan
kromatin membran inti mulai dibentuk.Bentuk ini sekarang disebut
pronukleus jantan. Dari bagian sperma lainnya hanya sentriol yang
dipertahankan dan akan menjadi aster yang berperan penting dalam
mendekatkan pronukleus jantan dan betina. Setelah inti telur menjadi
haploid dan disebut pronukleus betina, dengan bantuan aster sperma akan
bergerak ke bagian tengah telur dan mendekati pronukleus jantan. Setelah
kedua pronukleus bertemu, kedua membran pronucleus melebur dan
menyatukan kedua kromosom paternal dan matenal di dalam satu
membran.

6
Proses ini disebut peleburan pronukleus. Segera setelah peleburan,
DNA kromosom bereplikasi sebagai persiapan untuk pembelahan pertama
(dari zigot). Dengan tersusunnya kromosom pada keping metafase sebagai
persiapan pembelahan pertama maka proses fertilisasi telah berakhir dan
zigot siap untuk memasuki tahap perkembangannya.

c. Monospermi dan Polispermi


 Monospermi, hanya satu sperma yang masuk ke dalam telur. Pada proses
ini satu sperma haploid bersatu dengan nukleus haploid telur, agar jumlah
kromosomnya yang normal bagi suatu spesies dicapai kembali.
 Polispermi, masuknya sperma dalam jumlah lebih dari satu. Pada banyak
organisme dapat menimbulkan akibat yang merugikan. Spesies-spesies
hewan telah membentuk berbagai cara untuk mencegah peleburan lebih
dari dua inti haploid. Pencegahan terjadinya polispermi terjadi melalui dua
cara, yaitu cara pencegahan cepat melalui depolarisasi membran plasma
secara sementara, kemudian diikuti cara lambat yang sifatnya lebih
permanen (Sudarwati, 1990:26).

7
2.3 Pengertian Partenogenesis
Partenogenesis berasal dari kata parthenos yang berarti dara, dan genesis
yang berarti kejadian, kelahiran (Yatim, 1982: 132).Jadi,
parthenogenesisadalah pertumbuhan embrio tanpa dibuahi sperma.Ada dua
macampartenogenesis, yaitu:

a. Natural partenogenesis
Natural partenogenesis adalah partenogenesis yang berlangsung
secara alam atau normal.Terdapat pada berbagai jenis Arthropoda, seperti
lebah, semut, tawon, kutu daun, dan kutu air. Pada lebah dan tawon, telur
yang dibuahi jantan akan tumbuh jadi betina, sedang yang tak dibuahi akan
tmbuh jadi jantan. Jantan ini fertil, betinanya steril.Betina jadi pekerja,
jantan untuk mengawini ratu yang terus-menerus bertelur.

b. Artificial partenogenesis
Artificial partenogenesis adalah partenogenesis yang dilakukan
secara tiruan.Ini biasa dilakukan manusia dalam experiment.
Partenogenesis dapat dilakukan secara buatan di laboratorium melalui
beberapa cara. Memasukkan jarum yang telah dicelup di dalam darah
merupakan salah satu cara klasik untuk mendapatkan partenogenesis pada
telur katak. Telur ini tumbuh terus sampai menetas jadi larva, dan larva ini
pun mampu bermetamorphosis sampai bentuk dewasa.Cuma lebih lemah
dan mudah mati, dibandingkan dengan katak normal.

8
BAB III

PENUTUP

3.1. Simpulan
1. Fertilisasi merupakan proses peleburan dua macam gamet sehingga
terbentuk suatu individu baru dengan sifat genetik yang berasal dari kedua
orang tuanya. Syarat-syarat fertilisasi adalah adanya sel telur yang matang
dan siap dibuahi oleh sperma.
2. Mekanisme fertilisasi dibedakan menjadi dua yaitu fertilisasi secara
internal dan fertilisasi secara eksternal. Fertilisasi internal terjadi di dalam
tubuh hewan betina, sedangkan fertilisasi eksternal terjadi di luar tubuh
hewan betina.
3. Partenogenesis berasal dari kata parthenos yang berarti dara, dan genesis
yang berarti kejadian, kelahiran. Partenogenesis adalah
pertumbuhanembrio tanpa dibuahi sperma. Partenogenesis dibedakan
menjadi dua,yaitu natural partenogenesis dan artificial parthenogenesis.

3.2 Saran
Diharapkan kedepannya bagi pembaca agar bisa mengembangkan isi paper
ini agar lebih lengkap dan mudah di pahami

9
DAFTAR PUSTAKA

Sudarwati, Sri dan Lien A. Sutasurya. 1990. Dasar-Dasar Perkembangan Hewan.


Bandung: FMIPA ITB
Tenzer, Amy, Nursasi Handayani, Umie Lestari, Dwi Listyorini, Titi Judani,
Abdul
Gofur. 2001. Petunjuk Praktikum Perkembngan Hewan. Malang: FMIPA
UM
Yatim, Wildan. 1982. Reproduksi dan Embryologi. Bandung: Penerbit Tarsito
Yatim, Wildan. 1990. Biologi Modern Histologi. Bandung: Penerbit Tarsito
Alitbudirtawan.2015.Fertilisasi

10