Anda di halaman 1dari 17

CRITICAL BOOK REPORT

PELESTARIAN SUMBER DAYA TANAH DAN AIR


DAN
KRISIS DAN BENCANA LINGKUNGAN HIDUP
Mata Kuliah : Geografi Konservasi Sumber Daya Alam

Dosen Pengampu : Nina Novira, S.Si., M.Sc., Ph.D.

Disusun Oleh :

Nama : Hadizah Rambe

NIM : 3162131012

Kelas : C Reguler 2016

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan critical book report pada mata kuliah
Geografi Konservasi Sumber Daya Alam Penulis berterima kasih kepada Bapak dosen yang
bersangkutan yang sudah memberikan bimbingannya.

Penulis juga menyadari bahwa tugas ini masih banyak kekurangan oleh karena itu
penulis minta maaf jika ada kesalahan dalam penulisan CBR ini.penulis juga mengharapkan
kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan tugas ini.

Akhir kata penulis ucapkan terima kasih semoga dapat bermanfaat dan bisa
menambah pengetahuan bagi pembaca.

Medan, November 2019

penyusun
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ........................................................................................ 2


DAFTAR ISI....................................................................................................... 3
BAB I INFORMASI BIBLIOGRAFI ............................................................. 5
A. Identitas Buku ........................................................................................ 5
B. Gambar Sampul Buku ............................................................................ 5

BAB III RINGKASAN ISI BUKU .................................................................. 6

BAB IV ULASAN BUKU .................................................................................. 10


A. Keunggulan Buku ..................................................................................10
B. Kelemahan Buku.................................................................................... 10

BAB V PENUTUP.............................................................................................. 11
A. Kesimpulan ............................................................................................ 11
B. Saran ...................................................................................................... 11
BAB I

INFORMASI BIBLIOGRAFI

A.Identitas Buku

1. Buku Utama

Judul Buku : Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air


Penulis : Dr. Ir. Suripin, M.Eng
Penerbit : ANDI
Cetak : Edisi II, Februari 2001
ISBN : 979-731-431-6
Tebal : xvi + 210 hlm.: 16×23 Cm

2. Buku Pembanding

Buku Utama
Judul buku : Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Global.
Penulis : A. Sonny Keraf.
Penerbit : Kanisius.
Cetakan :V
Tahun Terbit : 2014.
Tebal Buku : 255 halaman.
BAB II

RINGKASAN ISI BUKU

RANGKUMAN ISI BUKU

1. Buku Utama

Pada dasarnya kaidah konservasi tanah dan air, ataupun konservasi sumber daya alam
pada umumnya, adalah sama, yaitu bahwa kita harus hemat menggunakannya dan
memperlakukannya berdasarkan hukum alam itu sendiri. Oleh karena itu, kita harus bisa
menghemat energi dan sumber daya alam yang ada, terutama tanah air. Itu bukan berarti kita
tidak boleh memanfaatkannya, tetapi kita harus mengusahakan, mengolah, dan
mengeksploitasi sumber daya alam yang kita miliki selama tidak mengurangi fungsi yang
sudah melekat padanya secara alamiah. Dengan kita bisa seefektif dan seefisien mungkin
menggunakan sumber daya alam tanah dan air, maka kita bisa memberi kesempatan
kehidupan yang layak bagi anak cucu kita nanti.

Buku dengan judul “Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air” merupakan sebuah
buku yang menjelaskan tentang sumber daya tanah dan air. Tanah dan air merupakan
sumberdaya yang paling fundamental yang dimiliki oleh manusia di alam semesta ini. Bisa
menjadi fundamental, karena tanah dan air merupakan media utama dimana manusia bisa
mendapatkan bahan pangan, sandang, papan, tambang dan tempat dilaksanakannya berbagai
aktivitas manusia. Materi buku ini juga dapat dijadikan sebagai titik tolak atau awal untuk
meningkatkan produktivitas tanah dan air serta menahan laju kerusakannya. Selain
menjelaskan tentang tanah dan air, di dalam buku ini juga membahas tentang :

 Mekanisme dan Bentuk Erosi


 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Erosi
 Prediksi Erosi Lahan dan Yil Sedimen
 Metode Konservasi Tanah dan Air
 Konservasi Secara Agronomis
 Klasifikasi Tanah dan Kemampuan Lahan
 Konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS)
Sehingga setelah membaca buku ini, pembaca akan lebih bertambah wawasan
mengenai pentingnya dan cara pelestarian sumber daya alam khususnya pelestarian tanah dan
air. Dan juga pembaca akan termotivasi melakukan pelestarian di lingkungan sekitar mereka.
Sehingga lama kelamaan kelestarian alam Indonesia akan semakin terjaga untuk kehidupan
yang akan datang.

2. Buku Pembanding

Manusia pada umumnya bergantung pada keadaan lingkungan di sekitarnya. Dia tidak
pernah bisa terlepas dari lingkungan. Lingkungan merupakan suatu tempat di mana terdapat
makhluk hidup beserta ekosistem di dalamnya yang saling berhubungan satu sama lain. Di
dalam lingkungan itu sendiri terdapat berbagai macam makhluk hidup. Tidak hanya itu di
dalam suatu lingkungan juga terdapat biota-biota seperti batu, tanah, air dan lain-lain. Di
dalam lingkungan manusia dapat hidup dan beraktivitas. Tentunya lingkungan yang
dimaksud adalah lingkungan yang sehat, jauh dari kerusakan dan pencemaran. Manusia yang
telah dianugerahi akal budi, memiliki hak istimewa atas lingkungan. Dia harus menjaga agar
lingkungan insi tetap menjadi tempat yang nyaman untuk dihuni. Tetapi campur tangan
manusia itu ada yang berdampak positif dan ada juga yang berdampak negatif pada
lingkungan tersebut.

Harus diakui bahwa campur tangan manusia atas lingkungan tersebut lebih banyak
berdampak negatif. Tidak mengherankan jika pada akhirnya dari campur tangan yang negatif
ini, timbul sebuah masalah yakni masalah kerusakan lingkungan. Masalah kerusakan
lingkungan merupakan masalah lama yang dihadapi manusia dimana hingga saat ini masalah
tersebut masih belum dapat terselesaikan, malah bertambah parah. Hingga kini masalah
lingkungan hidup bukan hanya masalah salah satu negara tetapi sudah menjadi masalah yang
perlu penanganan seluruh negara negara di dunia.

Walaupun campur tangan manusia itu lebih banyak berdampak negatif, namun
sebagian kecil manusia mencoba menawarkan hal baik untuk menjaga kelestarian
lingkungan. Ada begitu banyak cara yang dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan ini.
Salah satu cara yang digunakan adalah menyerukan perlawanan terhadap perusak lingkungan
lewat tulisan-tulisan. Hal inilah yang juga dilakukan oleh Sonny Keraf. Beliau
banyak menelurkan karya yang menunjukkan keprihatinannya terhadap lingkungan. Salah
satu karyanya itu berjudul Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Global. Sebuah karya yang
berisikan seruan hati untuk berubah. Untuk itu pada kesempatan ini saya akan mengulas buku
ini secara singkat sehingga dapat membuat hati sebagian orang tergerak utnuk membaca buku
ini.

LAPORAN TENTANG BUKU

Buku Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Global merupakan salah satu dari sekian
banyak karya dari A. Sonny Keraf. Buku ini pada tahun 2004 kemarin telah lima kali dicetak
ulang. Hal ini menunjukkan bahwa buku ini merupakan bacaan yang baik bagi kita. Secara
keseluruhan buku ini disusun ke dalam enam bagian. Berikut ini saya akan menampilkan
ringkasan per bagiannya:

Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Global

Pada bagian yang pertama ini, pengarang memberi judul Krisis dan Bencana
Lingkungan Hidup Global. Di sini, pengarang akan mengajak pembaca memfokuskan
perhatiannya kepada bencana lingkungan hidup yang telah mencapai kondisi sangat
mengancam kehidupan di bumi ini. Dengan kata lain mengajak pembaca untuk melihat
keadaan lingkungan hidup di bumi ini yang sudah sangat kritis sehingga telah menjadi
bencana yang sangat nyata menelan korban jiwa dan harta benda dari hari ke hari. Pengarang
menyebut krisis dan bencana lingkungan hidup global, karena hal ini tidak lagi hanya dialami
oleh satu negara, satu tempat saja, tetapi telah mencakup seluruh tempat di bumi ini.

Untuk memahami krisis dan bencana lingkungan hidup global ini, pengarang telah
menyediakan bab ini yang akan membahas dua hal pokok berikut ini:

Pertama, gambaran yang komprehensif tentang krisis dan bencana lingkungan hidup
dalam pelbagai aspeknya sekaligus menunjukkan kekuatan ancaman nyata yang terjadi
karena krisis dan bencana komprehensif tersebut. Secara kasar dapat dibedakan lima macam
krisis dan bencana lingkungan hidup global yaitu:

 Pencemaran lingkungan hidup.


 Ada empat macam pencemaran lingkungan hidup atau yang lebih dikenal sebagai
polusi yang dapt disebutkan di sini: pemcemaran udara, pencemaran air, pencemaran
tanah, pencemaran laut, dan sampah.
 Kerusakan.
 Yang dimaksudkan di sini adalah kerusakan lingkungan hidup, seperti, kerusakan
hutan, kerusakan lapisan tanah, kerusakan terumbu karang, dan kerusakan lapisan
ozon.
 Kepunahan.
 Beberapa fenomena terkait dengan kepunahan ini adalah punahnya keanekaragaman
hayati (baik di darat, laut, dan udara); punahnya sumber daya alam dan punahnya
sumber mata air.
 Kekacauan iklim global.
 Kekacauan cuaca dengan segala gejalanya berupa hujan deras, badai, kekeringan
panjang, suhu yang tidak teratur, iregularitas musim.
 Masalah sosial terkait dampak lingkungan hidup.
 Masalah sosial ini terjadi bai sebagai akibat langsung maupun sebagai akibat lanjutan
dari berbagai krisis lingkungan hidup global. Masalah tersebut mempunyai dimensi
yang sangat luas, baik di bidang kesehatan, sosial-politik, ekonomi, maupun budaya.

Pengarang sendiri menyadari bahwa kelima hal di atas bukanlah hal yang baru sama
sekali. Untuk itu pemaparannya sangat sederhana sehingga memungkinkan siapa saja dapat
memahaminya. Beberapa kejadian dan angka sengaja disuguhkan di dalam bab ini utnuk
menunjukkan kegentingan dan ancaman krisis dan bencana lingkungan hidup global tersebut.

Kedua, dampak dari seluruh krisis dan bencana lingkungan hidup global tersebut. Krisis
dan bencana itu telah menjadi ancaman yang sangat serius, besar dan nyata bagi kehidupan
sekarang ini. Dampak dari krisis tersebut antara lain, banjir dan longsor yang terjadi terus
menerus setiap tahun dengan korban jiwa ribuan orang, udara dan air yang merupakan hal
vital bagi kehidupan menjadi tercemar dan langka.

Akar Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Global

Setelah pembaca dihantar untuk meninjau berbagai krisis dan bencana lingkungan
hidup global sebagaimana yang telah dipaparkan dalam bab 1, para pembaca akan diajak
untuk melakukan analisis mendalam mengenai sebab atau akar permasalahan dari krisis dan
bencana lingkungan hidup global tersebut. Analisis ini tentu saja bersifat spekulatif sebagai
sebuah kajian ilmiah. Analisis ini akan sangat membantu para pembaca untuk mencari jalan
keluar untuk mengatasi krisis dan bencana lingkungan hidup global. Berikut ini saya akan
menampilkan beberapa hasil analisis Sonny, terkait akar permasalahan dari krisis dan
bencana lingkungan hidup global, khususnya di Indonesia.

 Faktor fundamental-filososif menyangkut cara pandang manusia dan perilakunya.


 Faktor kesalahan paradigma pembangunan dan kebijakan pemerintah yang merupakan
hasil pengejawantahan dari kesalahan fundamental-filosofis.
 Faktor kemajuan peradaban manusia berupa modernisasi.
 Faktor buruknya tata kelola pemerintahan.
 Faktor desentralisasi dan liberalisasi politik yang sedang berkembang di Indonesia
sekarang ini.
 Faktor lemahnya komitmen moral.
 Faktor lemahnya penegakan hukum.

Faktor-faktor yang telah disebutkan di atas merupakan hasil analisis pengarang


berdasarkan pengetahuan, pergulatan intelektual, pergumulan politik, dan pengalaman
lapangan pengarang sendiri selama beberapa tahun. Pengarang berusaha menyodorkan faktor-
faktor tersebut agar merangsang perdebatan dan analisis lebih lanjut untuk pada akhirnya
menemukan akar permasalahan yang mungkin paling tepat.

Apa yang Harus Kita Lakukan

Pada bab 1 pembaca telah melihat berbagai krisis dan bencana lingkungan hidup
global. Krisis itu sungguh nyata dan tengah berlangsung serta mungkin akan terus terjadi.
Setelah meninjau krisis tersebut, pada bab 2 pembaca diajak untuk menemukan dan
menganalisis berbagai akar permasalahannya. Dari akar permasalahan tersebut, timbulah
pertanyaan apa yang harus kita lakukan? Dan pertanyaan tersebut merupakan inti dari bab
tiga ini. Terhadap pertanyaan tersebut, hanya ada satu jawaban yang dapat diberikan yakni:
kita harus berubah. Pengarang mengutip Lester R. Brown, dalam bukunya berjudul Plan B
3.0. Mobilizing To Save Civilization yang mengatakan bahwa ada banyak hal yang tidak kita
ketahui tentang masa depan. Tetapi kita tahu dengan pasti satu hal yaitu bahwa bertindak
biasa-biasa saja tidak boleh lagi terjadi. Perubahan masif tidak terelakkan. Dengan kata lain,
kita harus mengerahkan segala daya upaya dan seluruh kecerdasan akal budi kita untuk
menyelamatkan peradaban kita yang terancam oleh krisis dan bencana lingkungan hidup
global.

Pengarang berupaya menyodorkan berbagai agenda yang bisa digunakan oleh


pembaca yang ingin mengatasi atau paling kurang ingin berjuang mengurangi krisis dan
bencana lingkungan hidup global tersebut. Semua agenda solusi tersebut pada dasarnya
merujuk kembali pada berbagai akar permasalahan yang telah dibahas pada bab 2. Sebagian
di antaranya merupakan rekomendasi kebijakan baik untuk dilakukan oleh pemerintah
maupun oleh sektor swasta.

Kembali lagi ke jawaban "kita harus berubah", perubahan itu harus dimulai sejak
sekarang dan terjadi mulai dari level individu, masyarakat, pejabat pemerintah, politisi,
hingga masyarakat sipil. Jika kita ingin menyelamatkan bumi dan segala isinya, kita perlu
berubah. Perubahan itu mencakup, perubahan cara pandang dan perilaku, perubahan
paradigma dan kebijakan pembangunan, remodernisasi industri ke arah yang lebih ramah
lingkungan, perubahan tata kelola pemerintahan, penguatan pemerintahan daerah untuk
menjaga lingkungan, penegakan hukum demi kepentingan lingkungan, dan berbagai kegiatan
yang secara individual bisa dilakukan untuk menunjukkan komitmen masing-masing
terhadap lingkungan hidup.

Undang-undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Agenda solusi yang telah kita lihat pada bab 3 tidak bisa hanya dibiarkan menjadi
sekadar sebuah himbauan moral, tetapi harus diikat dengan ketentuan formal legal yang
mewajibkan semua pihak untuk melaksanakannya. Tanpa sebuah dasar formal yang
mewajibkan semua pihak untuk mengimplementasikan paradigma pembangunan secara
kongkret, dan tanpa sebuah undang-undang yang memastikan semua pihak bertindak untuk
menjaga dan melindungi lingkungan hidup, agenda solusi tersebut tidak akan pernah
diimplementasikan secara kongkret. Oleh karena itu, pengarang menyodorkan bab yang
berjudul Undang-undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup ini kepada para
pembaca.
Pada bagian ini, pengarang menekankan satu hal penting terlepas dari faktor moral
dalam mewujudkan komitmen dan kepedulian untuk melindungi dan menjaga lingkungan
hidup. Hal penting itu adalah bahwa faktor legal-formal sebagai landasan untuk bertindak
bagi setiap komponen bangsa sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, undang-undang yang
mengatur upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sangat dibutuhkan.

Ada empat hal pokok yang dibahas dalam bagian ini. Pertama, latar belakang tentang
mengapa diperlukan sebuah undang-undang lingkungan hidup yang baru. Kedua, cakupan
undang-undang ini. Ketiga, beberapa instrumen penting yang diatur dalam undang-undang ini
dalam rangka perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sekligus menjawab
permasalahan krisis dan bencana lingkungan hidup global. Kempat, bagaimana implementasi
undang-undang ini untuk menjamin bahwa semangat, visi dan mimpi besar yang dikandung
undang-undang ini akan bisa direalisasikan dan diwujudkan.

Pengawalan dan Perlawanan oleh Masyarakat Sipil

Pada bab 3 pembaca sudah ditawarkan berbagai agenda solusi untuk mengatasi
berbagai krisis dan bencana lingkungan hidup global. Kemudian pada bab 4, pengarang
sepertinya sengaja menunjukkan bahwa apa yang disodorkan pada bab 3 telah dilegal-
formalkan dalam sebuah undang-undang. Khusus untuk Indonesia, berbagai agenda solusi
tersebut diikat secara legal formal melalui UU 32/2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, sebagaimana yang telah dibahas dalam bab 4. Pengarang
sendiri telah menyadari betul bahwa sebuah undang-undang harus dilaksanakan secara
konsisten dan konsekuen. Oleh karena itu, dalam bagian ini, pengarang menegaskan perlunya
pengawalan dan pengawasan terhadap berbagai kebijakan, rencana, dan program pemerintah,
serta kegiatan sektor swasta untuk benar-benar sejalan dengan impian bersama untuk
melindungi dan mengelola lingkungan ini sebagaimana yang telah diatur dalam UU 32/2009.
Dengan kata lain, pembaca akan diberi kesempatan untuk menyoroti berbagai pengawalan
yang perlu dilakukan oleh masyarakat sipil untuk menjamin keberhasilan dalam perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup. Fokusnya terutama terhadap implementasi UU 32/2009.
Pembaca juga akan melihat beberapa contoh pengalaman perlawanan yang dilakukan oleh
masyarakat sipil.
Menarik juga apa yang ditampilkan pada bab ini. Saya melihat bahwa pengarang juga
memaparkan pengalaman pribadi pengarang dalam merepons tuntutan masyarakat dan
mendampingi mereka untuk menentang berbagai kebijakan dan kegiatan yang dinilai dapat
merusak lingkungan hidup. Hal ini sekaligus menunjukkan sebuah konsistensi keberpihakan
terhadap kepentingan perlindungan lingkungan hidup. Pengarang sendiri memiliki mimpi,
seandainya banyak dari antara kita lebih khusus pejabat pemerintah mempunyai konsistensi
keberpihakan terhadap kepentingan perlindungan lingkungan hidup, kiranya kondisi
lingkungan hidup kita ini tidak akan separah seperti sekarang ini.

Biotisme, Humanisme, dan Nasionalisme

Pada bab 1, pembaca telah melihat dengan jelas bahwa krisis dan bencana lingkungan
hidup global sudah sangat mengancam dan nyata terjadi di sekitar pembaca. Menurut Sonny,
kita bisa saja tiba-tiba mengalami bencana lingkungan hidup. Ini bisa menjadi pengalaman
yang membuat kita taruma. Kemudian pada bab-bab selanjutnya, pembaca telah ditunjukkan
hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi krisis dan bencana lingkungan hidup global
tersebut.

Sebagai penutup dari keseluruhan uraian tentang krisis dan bencana lingkungan hidup
global, termasuk tentang akar permasalahan dan apa yang harus kita lakukan, pada bagian ini,
pembaca akan digugah sekali lagi untuk melakukan sesuatu dalam batas kemampuan dan
kewenangan yang kita miliki demi mengatasi krisis dan bencana lingkungan hidup global
yang sudah menjadi ancaman nyata bagi kehidupan di bumi ini. sasaraan utamanya adalah
menggugah hati kita.

Sonny Keraf memberikan tiga tingkatan kepedulian sekaligus menjadi alasan dasar
untuk bertindak mengatasi krisis dan bencana lingkungan hidup global
tersebut. Pertama, pada level yang lebih luas, sebagai manusia yang mempunyai hati dan
sebagai pelaku moral yang bisa berbuat sesuatu, kita seharusnya tergugah untuk ikut
menyelamatkan seluruh kehidupan, termasuk yang terancam krisis dan bencana lingkungan
hidup global sekarang ini. kesadaran inilah yang disebut Sonny sebagai kesadaran dan
kepedulian biotisme.
Kedua, apabila kepedulian pembaca bukanlah pada ancaman kehidupan pada
umumnya, kiranya pembaca bisa saja membatasi kepedulian pada tingkat yang lebih sempit
menyangkut ancaman terhadap kehidupan manusia. Meskipun dari perspektif etika
biosentrisme, kepedulian sebatas pada kehidupan manusia tersebut dianggap sangat dangkal,
namun kiranya telah sedikit membantu menyelamatkan kita dari krisis dan bencana
lingkungan hidup global. Dengan kata lain, seandainya pembaca tidak menganut biotisme,
seharusnya minimal pembaca menganut paham humanisme yang menggugah hati pembaca
untuk mengambil tindakan dan kebijakan tertentu demi menghentikan krisis dan bencana
lingkungan hidup global hanya karena pembaca tidak tega, tidak rela dan tidak sampai hati
membiarkan manusia mati sia-sia hanya karena dilanda bencana lingkungan hidup dalam
wujud apapun.

Ketiga, pada level yang jauh lebih sempit lagi, dalam perspektif kehidupan berbangsa
dan bernegara, ada alasan lain yang kiranya dapat menggugah pembaca untuk melakukan
sesuatu guna melindungi dan menyelamatkan lingkungan hidup. Sebagai orang Indonesia,
dalam peran, kedudukan, dan kewenangan apapun yang dimiliki, minimal pembaca tidak
tega, tidak rela, tidak sampai hati, dan tidak mau membiarkan sesamanya yang sebangsa dan
setanah air, mati sia-sia ditelan bencana lingkungan hidup akibat ulah dan perilaku manusia
sendiri. Dengan kata lain, tindakan melindungi dan menyelamatkan lingkungan hidup adalah
juga sebuah tindakan nasionalistis yang sangat berarti.

Minimal dengan alasan dan kesadaran nasionalisme tersebut, setiap individu atau
kelompok dapat dengan sukarela melakukan apa saja yang bisa dilakukan sebagaimana yang
telah dipaparkan dalam bab-bab sebelumnya. Sebagai kaum profesional, pemilik modal atau
pengusaha, alasan dan kesadaran nasionalisme tersebut kiranya bisa menggugah mereka
untuk menghentikan perilaku tidak ramah lingkungan. Selain itu, dengan alasan dan
kesadaran yang sama, sekiranya bisa menggugah militansi perjuangan lembaga swadaya
masyarakat, pemerhati lingkungan dan masyarakat sipil pada umumnya untuk semakin
mengawal dan melakukan perlawanan terhadap berbagai kebijakan dan praktik yang
mendatangkan kerusakan terhadap lingkungan hidup, sekaligus melakukan hal-hal kongkret
yang mengarah pada perlindungan dan perbaikan mutu dan kualitas hidup.
BAB III

ULASAN BUKU

A. BUKU UTAMA

Kelebihan

Covernya sangat berwarna dan penuh gambar-gambar alam yang bagus, sehingga
menarik pembaca untuk membaca buku tersebut. Tata bahasa buku ini mudah dipahami,
materi dan informasi yang terdapat didalamnya juga sangat lengkap dan informasi yang
disampaikan sangat mendetail sehingga pembaca bisa menambah wawasan ilmu pengetahuan
lebih luas, serta rumus-rumus dan penjelasannya yang lengkap sehingga dapat membantu
para pelajar atau mahasiswa untuk membantu dalam mengerjakan soal-soal yang berkaitan
dengan kegeografian atau mengenai tanah maupun air. Buku ini juga menjelaskan cara kita
untuk memnafaatkan sekaligus melestarikan sumber daya alam khusunya tanah dan air,
sehingga kita bisa mengerti cara yang terbaik untuk melestarikan sumber daya alam dan
lingkungan.

Kelemahan

Secara keseluruhan, buku ini sudah sangat bagus. Hanya saja untuk buku pengetahuan
umum, buku ini asih relatif tipis yang hanya sekitar 210 halaman. Padahal buku ini bisa
sebagai buku pendamping atau referensi dalam penulisan maupun media pembelajaran.
Dalam buku ini juga terlihat masih kurangnya gambar dan warna yang hitam putih membuat
pembaca kadang agak kesulitan. Dimana sangat timpang antara cover dan isinya. Covernya
sangat menarik dan berwarna cerah sedangkan gambar di dalamnya berwarna hitam putih.
Oleh karena itu dibutuhkan lebih banyak gambar yang berwarna cerah agar pembaca lebih
mudah lagi untuk memahami isi buku tersebut. Kertas yang digunakan berwarna putih,
sehingga jika terlalu lama membaca, akan membuat mata pembaca mudah lelah dan sakit.
Oleh karena itu lebih baik menggunakan kertas yang berwarna agak kecoklatan, agar
emudahkan para pembaca membaca buku tersebut.
BUKU PEMBANDING

Menurut saya buku Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Global ditulis sangat baik
oleh A. Sonny Keraf. Sonny menggunakan bahasa komunikatif yang memudahkan pembaca
dalam memahami maksud dari penulisan buku ini. Selain itu, buku ini dilengkapi dengan
data-data umum yang diambil dari berbagai sumber. Saya berpikir bahwa tujuan dari
pengarang memasukkan data-data tersebut adalah untuk menunjukkan bahwa krisis dan
bencana lingkungan hidup global itu bukan lagi sebuah hipotesis tetapi kenyataan yang
sedang kita hadapi sekarang ini.

Saya juga menemukan bahwa buku ini ditulis bukan pertama-tama untuk
menyebarkan pengetahuan tentang lingkungan hidup, karena menurut pengarang
pengetahuan tentang lingkungan hidup sudah banyak dan mudah diperoleh. Untuk itu data
yang disodorkan hanya bersifat umum dan tidak begitu lengkap. Walaupun datanya bersifat
umum, hal itu sama sekali tidak mengurangi keistimewaan buku ini. Setelah membaca buku
ini saya akhirnya sepakat dengan apa yang telah disampaikan oleh pengarang di dalam
pengantar bahwa tujuan atau sasaran utama buku ini sebenarnya adalah untuk menggugah
hati setiap orang untuk melakukan sesuatu demi mengatasi krisis dan bencana lingkungan
hidup global yang telah menjadi ancaman kehidupan, ancaman kemanusiaan, dan ancaman
bagi bangsa Indonesia ini. Dengan kata lain tujuan dari buku ini adalah menggugah setiap
orang agar dapat menjaga lingkungan hidup ini.

Buku Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Global, hemat saya merupakan bacaan
yang sangat bagus. Setelah membaca buku Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Global,
ada beberapa hal yang dapat dikatakan sebagai relevansi dari buku ini. Pertama, Masalah
lingkungan hidup telah nyata di mata kita dan saat ini sedang terjadi di kehidupan kita. Kita
perlu menyadari bahwa lingkungan ini adalah tempat kehidupan berlangsung. Oleh karena
itu, sebagai makhluk yang memiliki akal budi, hendaknya kita menjadi barisan paling depan
untuk menjaga kelestarian lingkungan ini. Untuk menjadi manusia pemerhati lingkungan, kita
setidaknya harus memiliki pengetahuan tentang lingkungan hidup. Maka, buku Krisis dan
Bencana Lingkungan Hidup Global yang telah ditulis secara bagus oleh A. Sonny Keraf ini
adalah buku yang tepat. Mengapa saya katakan demikian, karena di dalam buku ini Sonny
telah menjelaskan secara baik mengenai krisis dan bencana lingkungan hidup yang sudah
sampai pada tahap yang sangat mengancam kehidupan. Ancaman ini bukan lagi ramalan para
ahli yang mungkin baru akan terjadi di kemudian hari, tetapi sudah nyata kita alami sekarang
ini.

Kedua, selain membeberkan tentang krisis yang tengah diderita oleh lingkungan hidup,
Sonny juga telah menampilkan akar permasalahan dari krisis ini. Pengetahuan kita akan
lingkungan hidup ini semakin lebih baik lagi jika kita mengetahui akar permasalahannya.
Oleh karena itu, buku yang juga berisikan akar permasalahan lingkungan hidup ini
hendaknya menjadi acuan bagi kita untuk dapat melihat, merasakan dan akhirnya mengambil
suatu tindakan atas dasar kesadaran demi mengatasi krisis dan bencana lingkungan hidup
yang telah menjadi ancaman kehidupan manusia. Kesadaran yang dituntut adalah pertama-
tama bahwa lingkungan hidup adalah masalah yang sangat serius dan genting. Lalu pada
gilirannya akan mendorong kita untuk mengubah perilaku kita, bagi sebagai pribadi maupun
sebagai kelompok.

Ketiga, agar apa yang sudah kita ketahui tentang krisis dan bencana lingkungan hidup global
tersebut tidak hanya bersifat teori, Sonny keraf juga telah membeberkan hal-hal positif yang
bisa kita lakukan baik sebagai pribadi maupun kelompok. Tentunya semua yang akan kita
lakukan itu berdasarkan pada kesadaran kita akan pentingnya menjaga lingkungan tempat
kita hidup ini. Oleh karena itu, buku ini sangat baik untuk dikonsumsi oleh siapa saja, baik itu
pribadi maupun kelompok, baik itu masyarakat kecil maupun para pejabat.
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah membaca kedua buku ini hendaknya kita sadar Masalah lingkungan hidup telah
nyata di mata kita dan saat ini sedang terjadi di kehidupan kita. Kita perlu menyadari bahwa
lingkungan ini adalah tempat kehidupan berlangsung. Oleh karena itu, sebagai makhluk yang
memiliki akal budi, hendaknya kita menjadi barisan paling depan untuk menjaga kelestarian
lingkungan ini. Untuk menjadi manusia pemerhati lingkungan, kita setidaknya harus
memiliki pengetahuan tentang lingkungan hidup. Maka, buku Krisis dan Bencana
Lingkungan Hidup Globa

B. Saran

Saya berharap setelah membaca CBR ini pembaca lebih memahami mengenai masalah
konservasi sumber daya alam dan akibat dari tidak diberlakukanya konservasi sumberdaya
alam