Anda di halaman 1dari 40

Laboratorium Obstetri & Ginekologi Tutorial Klinik

Fakultas Kedokteran

Universitas Mulawarman

KISTA OVARIUM

Oleh
Eka Yuliana Sari NIM. 1710029072
Emirra Ramadhani M. NIM. 1710029051
M. Rakan Aufar NIM. 1810029001
Rahayu Puji Lestari NIM. 1810029010

Dosen Pembimbing Klinik


dr. H. Handy Wiradharma, Sp. OG

LAB / SMF OBGYN


Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman
RSUD Abdul Wahab Sjahranie
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmatNya


penyusun dapat menyelesaikan Tutorial Klinik tentang “Kista Ovarium”. Laporan
ini disusun dalam rangka tugas kepaniteraan klinik di Laboratorium Obstertri dan
Ginekologi Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dr. Handy Wiradharma,
Sp. OG selaku Dosen Pembimbing Klinik yang telah memberikan bimbingan
kepada penyusun dalam penyelesaian Tutorial Klinik ini.
Penyusun menyadari terdapat ketidaksempurnaan dalam laporan ini,
sehingga penyusun mengharapkan kritik dan saran demi penyempurnaan. Akhir
kata, semoga dapat bermanfaat bagi penyusun sendiri dan para pembaca.

Samarinda, 27 Desember 2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................... 1


KATA PENGANTAR ........................................................................................ 2
DAFTAR ISI ....................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 4
1.1. Latar Belakang .............................................................................................. 4
1.2. Tujuan ........................................................................................................... 5
1.3. Manfaat ......................................................................................................... 5
BAB II LAPORAN KASUS .............................................................................. 6
BAB III TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………..... 16
2.1. Definisi…………………………………………………………………...... 16
2.2. Epidemiologi ………………………………………………………………. 16
2.3. Sifat Kista…………………………………………………………………... 17
2.4. Klasifikasi Kista …………………………………………………………… 18
2.5. Etiologi …………………………………………………………………….. 33
2.6. Patofisiologi ……………………………………………………………….. 34
2.7. Tanda dan Gejala ………………………………………………………….. 35
2.8. Diagnosis …………………………………………………………………... 35
2.9. Penatalaksanaan …………………………………………………………… 36
2.10. Prognosis …………………………………………………………………. 36
BAB IV PEMBAHASAN ……………………………………………………... 37
BAB V PENUTUP …………………………………………………………….. 41
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………. 42

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ovarium merupakan sumber hormonal wanita yang paling utama,
sehingga mempunyai dampak kewanitaan dalam pengatur proses menstruasi.
Gangguan pada ovarium dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan,
perkembangan dan kematangan sel telur. Gangguan yang paling sering terjadi
adalah kista ovarium, sindrom ovarium polikistik, dan kanker ovarium. Kista
ovarium merupakan salah satu bentuk penyakit reproduksi yang banyak
menyerang wanita.
The American Cancer Society memperkirakan pada tahun 2018 sekitar
22.240 wanita akan terdiagnosis kanker ovarium dan sekitar 14,070 wanita
akan meninggal karena kanker ovarium di Amerika Serikat (WHO, 2018). Di
Indonesia sekitar 25-50% kematian wanita usia subur disebabkan oleh masalah
yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan serta penyakit sistem
reproduksi misalnya kista ovarium.
Kelainan ini dapat ditemukan hampir di semua kelompok usia dan dapat
berupa kista fisiologis atau patologis (Kant, Rather, & Rashid, 2016). Secara
histologis, kista ovarium sering dibagi menjadi yang berasal dari pertumbuhan
neoplastic (atau neoplasma ovarium kistik), dan yang berasal dari gangguan
ovulasi normal (atau kista ovarium fungsional) (Hoffman, Schorge, Bradshaw,
Halvorson, Schaffer, & Corton, 2016).
Penatalaksanaan kista ovarium didasarkan pada jenis kista tersebut. Jadi
tidak semua kista ovarium ditangani melalui pembedahan, apalagi ternyata kista
tersebut dapat resolusi spontan. Namun, sebagian besar memerlukan pembedahan
untuk mengangkat kista tersebut. Penanganannya melibatkan keputusan yang
sukar dan dapat mempengaruhi status hormonal dan fertilitas seorang wanita.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka dalam menegakkan suatu kista
ovarium diperlukan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
yang tepat sehingga penanganan kista ovarium dapat tertangani secara tepat.

4
1.2 Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Mengetahui tentang Kista Ovarium dan perbandingan antara teori dengan
kasus nyata Kista Ovarium.

1.2.2. Tujuan Khusus


1. Mengetahui teori tentang neoplasma ovarium kistik yang mencakup definisi,
epidemiologi, etiologi, klasifikasi, tanda dan gejala, diagnosis,
penatalaksanaan, dan prognosis.

1.3 Manfaat
1.3.1. Manfaat Ilmiah
Memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang kedokteran
terutama bidang Obstetri dan Ginekologi, khususnya tentang Kista Ovarium.
1.3.2. Manfaat bagi Pembaca
Laporan ini diharapkan menjadi sumber pengetahuan bagi pembaca
mengenai Kista Ovarium.

5
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 Anamnesa
a) Identitas Pasien
Nama : Nn. FJ
Usia : 16 tahun.
Alamat : Samarinda
Pekerjaan : Pelajar
Status : Belum Menikah
Pendidikan : SMP
Agama : Islam
MRS : 26 Desember 2018 pukul 11.35 WITA

b) Keluhan Utama:
Nyeri di perut bagian bawah yang menjalar hingga pinggang sejak 3 bulan
yang lalu.

c) Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang datang ke Poli Kandungan dan Kebidanan RSUD AWS.
Samarinda dengan keluhan nyeri di perut bagian bawah yang menjalar hingga ke
pinggang sejak 3 bulan yang lalu. Nyeri di perut mulai terasa sejak pasien kelas 2
SMP yang semakin lama semakin nyeri dengan pola hilang timbul. Sebelumnya
pasien merupakan rujukan dari RSUD Dirgahayu, Samarinda dengan diagnosis
Kista Ovarium. Pada tanggal 12 Desember 2018 pasien melakukan pemeriksaan
USG Abdomen di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda dan ditemukan kista
berukuran 11,12 x 7,04 cm.

d) Riwayat Haid
Menarche pada usia 12 tahun, lama haid ± 7hari, siklus 30 hari tidak
teratur, jumlah darah haid 4 kali ganti pembalut dalam sehari.

6
e) Status Pernikahan
Pasien belum menikah.

f) Riwayat Kontrasepsi
Pasien tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi.

g) Riwayat Obstetri
Tidak ada

h) Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien pernah di rawat di rumah sakit dengan diagnosis epilepsi.

i) Riwayat Penyakit Keluarga


- DM (+, Ibu Pasien), Hipertensi (-), Jantung (-)

2.2 Pemeriksaan Fisik


a) Berat badan : 56kg
b) Tinggi badan : 160 cm
c) Keadaan umum : Sedang
d) Kesadaran : Compos mentis (E4V5M6)
e) Tanda vital
Tekanan darah : 120/70 mmHg
Frekuensi nadi : 77 kali/menit
Frekuensi nafas : 20 kali/menit
Suhu : 36.50C
f) Status generalisata
Kepala / leher : konjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-)
Thorax
- Pulmo
Inspeksi : bentuk dan pergerakan simetris
Palpasi : fremitus raba dextra=sinistra
Perkusi : sonor di seluruh lapangan paru
Auskultasi : vesikuler, ronki (-/-), wheezing (-/-)

7
- Cor
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis tidak teraba
Perkusi : batas kanan ICS 2 parasternal line dextra
batas kiri ICS V midclavicular line sinistra
Auskultasi : S1S2 tunggal, reguler, murmur (-), gallop (-)
Ekstremitas : edema -/-, akral hangat +/+

g) Status ginekologi :
 Inspeksi : Abdomen distensi (+), bentuk abdomen cembung (+), bekas
operasi (-), striae (+), linea nigra (+), massa sebelah kanan (+)
 Palpasi : Teraba massa di perut regio kanan bawah kira-kira sebesar
jeruk bali, massa dapat digerakkan, permukaan teraba halus dan ada
nyeri tekan.
 Inspekulo : V/V tidak ada sekret, massa, &kondiloma. Rugae vagina
(+), tidak ada inflamasi atau laserasi. Tidak ada sekret yang keluar.
 Vaginal Toucher : Tidak dilakukan.

2.3 Pemeriksaan Penunjang


1. USG Abdomen (12/12/2018)

Tampak gambaran
kista ovarium dengan
ukuran 11 cm x 7cm

8
2. Laboratorium:
a) Hematologi (13/12/2018)
Hasil Nilai rujukan
Leukosit 5.130 4.800-10.800
Eritrosit 4.460.000 4.200.000 – 5.400.000
Hematokrit 39,1% 37,0%-54,0%
Trombosit 276.000 150.000-450.000
Hemoglobin 12.0 12.0-16.0
BT 2 1-6
CT 8 1-15
b) Kimia Klinik (13/12/2018)
Hasil Nilai rujukan
Creatinin 0,5 0,5-1,1 mg/dL
Ureum 20,0 19.3-49.2 mg/dL
Glukosa puasa 88 70-100 mg/dL
G2PP 89 70-150
Natrium 138 135-155 mmol/L
Kalium 4.6 3,6-5,5 mmol/L
Chloride 104 98-108 mmol/L

c) Urinalisis (13/12/2018)
Hasil Nilai rujukan
Berat jenis 1.009 1.003-1.300
Sel epitel + Sedikit
Leukosit 0-1 0-1
Eritrosit 0-2 0-1
pH 6.0 4.8-7.8

d) Imuno-Serologi (13/12/2018)
Hasil Nilai rujukan
Ab HIV Non Reaktif -
HbsAg Non Reaktif <0.90

9
2.4 Diagnosis
Kista ovarium

2.5 Penatalaksanaan
Rencana Laparoscopy tanggal 28/12/2018
Observasi keluhan dan tanda vital

2.6 Follow Up
Rencana tindakan dan
Tanggal Follow up
Penatalaksanaan
26/12/2018 S:Nyeri di perut bagian bawah yang menjalar P:
11.35 WITA hingga ke pinggang sejak 3 bulan lalu dengan  Rencana Laparosopy
NIFAS pola hilang timbu.l tanggal 28/12/2018
O: KU sedang, Kesadaran kompos mentis  Observasi KU dan Tanda
TD: 120/80mmHg, HR: 77x/mnt vital.
RR: 20x/mnt, Temp: 36,5ºC
A:Kista Ovarium

27/12/2018 S:Nyeri di perut bagian bawah berkurang P:


07.00 WITA O: KU sedang, Kesadaran kompos mentis  Rencana Laparosopy
NIFAS TD: 110/70mmHg, HR: 80x/mnt tanggal 28/12/2018
RR: 20x/mnt, Temp: 36,5ºC  Observasi KU dan Tanda
A:Kista Ovarium vital.
28/12/2018 Laparoscopy di laksanakan. Hasil Operasi:
09.00 WITA
OK IBS
28/12/2018 S:Pasien mengeluhkan nyeri pada bekas P:
15.30 WITA operasi.  Observasi KU dan Tanda
NIFAS O: KU sedang, Kesadaran kompos mentis vital.
TD: 120/80mmHg, HR: 77x/mnt  Observasi Keluhan
RR: 20x/mnt, Temp: 36,5ºC Subjektiv.
A: Post Laparotomi a/I Kista Ovarium  Inj Cetorolaq

10
 Inj Ranitidine
 Inj Asam Tranexamate
29/12/2018 S:Pasien mengeluhkan nyeri pada bekas P:
07.30 WITA operasi.  Observasi KU dan Tanda
NIFAS O: KU sedang, Kesadaran kompos mentis vital.
TD: 120/80mmHg, HR: 77x/mnt  Observasi Keluhan
RR: 20x/mnt, Temp: 36,5ºC Subjektiv.
A: Post Laparotomi H+1 a/i Kista Ovarium  Inj Cetorolaq
 Inj Ranitidine
 Inj Asam Tranexamate
30/12/2018 S:Pasien mengeluhkan nyeri pada bekas P:
07.30 WITA operasi. Pasien Boleh Pulang.
NIFAS O: KU sedang, Kesadaran kompos mentis
TD: 120/80mmHg, HR: 77x/mnt
RR: 20x/mnt, Temp: 36,5ºC
A: Post Laparotomi H+1 a/i Kista Ovarium

11
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi Tumor Ovarium


Secara harfiah, tumor adalah jaringan baru (neoplasma) yang timbul dalam
tubuh akibat pengaruh berbagai faktor penyebab dan menyebabkan jaringan
setempat pada tingkat gen kehilangan kendali normal atas pertumbuhannya.
Istilah neoplasma pada dasarnya memiliki makna sama dengan tumor. Keganasan
merujuk kepada segala penyakit yang ditandai hiperplasia sel ganas.
Tumor ovarium adalah sebuah proses penumbuhan jaringan baru yang
berasal dari ovarium baik yang bersifat jinak maupun ganas. Beberapa literatur
menggolongkan kista sebagai tumor namun beberapa literatur lain memisahkan
antara tumor dengan kista. Perlu diketahui bahwa definisi kista adalah suatu jenis
tumor berupa kantong abnormal yang berisi cairan.Karena secara definisi tumor
adalah jaringan, oleh karena itu beberapa literatur membedakan antara kista
dengan tumor ovarium.

Gambar 3 Ilustrasi Tumor Ovarium

3.2 Epidemiologi
Berdasarkan data penilitian di Amerika Serikat, umumnya kista ovarium
ditemukan saat pasien melakukan pemeriksaan USG baik abdominal maupun
transvaginal dan transrektal. Kista ovarium terdapat disekitar 18% yang sudah
postmenopause.Sebagian besar kista yang ditemukan merupakan kista jinak, dan
10% sisanya adalah kista yang mengarah ke keganasan. Kista ovarium fungsional
umumnya terjadi pada usia produktif dan relatif jarang pada wanita
postmenopause. Secara umum, tidak ada persebaran umur yang spesifik mengenai
usia terjadinya kista ovarium.5

12
Di Indonesia sekitar 25-50% kematian wanita usia subur disebabkan oleh
masalah yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan serta penyakit sistem
reproduksi misalnya kista ovarium. Sejak tahun 2001 diperkirakan jumlah
penderita kista ovarium di Indonesia sebanyak 23.400 orang dan diperkirakan
yang meninggal sebanyak 13.900 orang (59,4%). Sulitnya mendeteksi penyakit ini
menyebabkan 60-70% pasien datang pada stadium 1, berdasarkan pertimbangan
dan faktor tersebut karsinoma ovarium disebut silent killer karena baru diketahui
stadium lanjut. Sedangkan pada tahun 2008 terdapat 428 kasus penderita kista
ovarium , dimana terdapat 20% meninggal dunia dan 60% diantaranya wanita
karier yang telah berumah tangga. Sedangkan pada tahun 2009 terdata 768 kasus
penderita kista dan 25% diantaranya meninggal dunia dan 70% diantaranya
wanita karier yang telah berumah tangga 1,8.

3.3 Sifat Kista


 Kista Fisiologis
Sesuai siklus menstruasi, di ovarium timbul folikel dan folikelnya
berkembang, dan gambaranya seperti kista. Biasanya kista tersebut berukuran
dibawah 4 cm, dapat dideteksi dengan menggunakan pemeriksaan USG, dan
dalam 3 bulan akan hilang. Jadi ,kista yang bersifat fisiologis tidak perlu operasi,
karena tidak berbahaya dan tidak menyebabkan keganasan, tetapi perlu diamati
apakah kista tersebut mengalami pembesaran atau tidak. Kista yang bersifat
fisiologis ini dialami oleh orang di usia reproduksi karena masih mengalami
menstruasi. Biasanya kista fisiologis tidak menimbuklkan nyeri pada saat haid.
Beberapa jenis kista fisiologis diantaranya adalah kista korpus luteal, kista
folikular, kista teka-lutein.4

Kista Patologis
Kista ovarium yang bersifat ganas disebut juga kanker ovarium.Kanker
ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker ginekologi.
Angka kematian yang tinggi karena penyakit ini pada awalnya bersifat tanpa
gejala dan tanpa menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi metastasis, sehingga
60-70% pasien datang pada stadium lanjut, penyakit ini disebut juga sebagai silent
killer. Angka kematian penyakit ini di Indonesia belum diketahui dengan pasti.1
Pada kista patologis, pembesaran bisa terjadi relatif cepat, yang kadang
tidak disadari penderita.Karena, kista tersebut sering muncul tanpa gejala seperti

13
penyakit umumnya.Itu sebabnya diagnosa agak sulit dilakukan.Gejala gejala
seperti perut yang agak membuncit serta bagian bawah perut yang terasa tidak
enak biasanya baru dirasakan saat ukuranya sudah cukup besar. Jika sudah
demikian biasanya perlu dilakukan tindakan pengangkatan melalui proses
laparoskopi.1,2
Ada lagi jenis kista abnormal pada ovarium.Jenis ini ada yang bersifat
jinak dan ganas. Bersifat jinak jika bisa berupa spot dan benjolan yang tidak
menyebar. Meski jinak kista ini dapat berubah menjadi ganas.Tetapi sampai saat
ini, belum diketahui dengan pasti penyebab perubahan sifat tersebut. Kista ganas
yang mengarah ke kanker biasanya bersekat sekat dan dinding sel tebal dan tidak
teratur.Tidak seperti kista fisiologis yang hanya berisi cairan, kista abnormal
memperlihatkan campuran cairan dan jaringan solid dan dapat bersifat ganas.1,2,3

3.4 Klasifikasi Kista


Diantara tumor-tumor ovarium ada yang bersifat neoplastik dan non
neoplastik. Tumor neoplastik dibagi atas tumor jinak dan ganas, dan tumor jinak
dibagi dalam tumor kistik dan solid

1. Tumor Non Neoplastik


a. Tumor akibat radang
i. Abses ovarial
ii. Abses tubo-ovarial
iii. Kista tubo-ovarial
b. Tumor lain
i. Kista folikel
ii. Kista korpus lutein
iii. Kista teka-lutein
iv. Kista inklusi germinal
v. Kista endometrium
2. Tumor Neoplastik Jinak
a. Kistik
i. Kistoma ovarii simpleks
ii. Kistadenoma ovarii musinosum
iii. Kistadenoma ovarii serosum

14
iv. Kista endometroid
v. Kista dermoid
b. Solid
i. Fibroma, leiomioma, fibroadenoma, papiloma, angioma,
limfangioma
ii. Tumor Brenner
iii. Tumor sisi aderenal (makulinovo-blastoma).1

1. Kista Ovarium Non-Neoplastik


a. Tumor Akibat Radang
Tumor ini biasanya disebabkan oleh proses infeksi yang terjadi pada
adneksa. Tumor ini cukup jarang. Proses pembentukan tumor ini didahului
oleh masuknya bakteri kedalam uterus yang berlanjut ke bagian salfing
dan menuju ke adneksa. Kemudian terjadilah infeksi dan terjadi proses
imunologis sehingga terbentuk abses.1

b. Kista Folikel
Kista ini berasal dari folikel de graff yang tidak sampai berovulasi,
namun tumbuh terus menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel
primer yang setelah bertumbuh di bawah pengaruh estrogen tidak
mengalami proses atresia yang lazim, melainkan membesar menjadi kista.
bisa di dapati satu kista atau beberapa dan besarnya biasanya berdiameter
1-1 ½cm. Dalam menangani tumor ovarium timbul persoalan apakah
tumor yang dihadapi itu neoplasma atau kista folikel. Umumnya jika
diameter tumor tidak lebih dari 5 cm, dapat di tunggu dahulu karena kista
folikel dalam 2 bulan akan hilang sendiri.1,3
Kista folikuler secara tipikal kecil dan timbul dari folikel yang
tidak sampai saat menopause, sekresinya akan terlalu banyak mengandung
estrogen sebagai respon terhadap hipersekresi FSH (folikel stimulating
hormon) dan LH (luteinizing hormone) normalnya ditemui saat menopause
berdiameter 1 -10 cm (folikel normal berukuran limit 2,5 cm); berasal dari
folikel ovarium yang gagal mengalami involusi atau gagal meresorpsi
cairan. Dapat multipel dan bilateral. Biasanya asimtomatik.1

15
Gambar 4 : Kista Folikel

c. Kista Korpus Lutein


Dalam keadaan normal korpus luteum lambat laun mengecil dan
menjadi korpus albikans. Kadang-kadang korpus luteum akan
mempertahankan diri (korpus luteum persisten); perdarahan yang terjadi di
dalamnya akan menyebabkan kista, berisi cairan berwarna merah coklat
karena darah tua. Pada pembelahan ovarium kista korpus luteum
memberi gambaran yang khas.Dinding kista terdiri atas lapisan berwarna
kuning, terdiri atas sel-sel luteum yang berasal dari sel-sel
teka.Penanganan kista luteum ini menunggu sampai kista hilang sendiri.
Dalam hal ini dilakukan operasi atas dugaan kehamilan ektopik
terganggu,kista korpus luteum diangkat tanpa mengorbankan ovarium.1,3

Gambar 5 : Kista Korpus Luteal

16
d. Kista Teka Lutein
Kista biasanya bilateral dan sebesar tinju. Pada pemeriksaan
mikroskopik terlihat luteinisasi sel-sel teka.Tumbuhnya kista ini ialah
akibat pengaruh hormone koriogonadrotropin yang berlebihan.1,3
Kista granulosa lutein yang terjadi di dalam korpus luteum indung
telur yang fungsional dan membesar bukan karena tumor, disebabkan oleh
penimbunan darah yang berlebihan saat fase pendarahan dari siklus
menstruasi.
Kista teka-lutein biasanya berisi cairan bening, berwarna seperti
jerami; biasanya berhubungan dengan tipe lain dari growth indung telur,
serta terapi hormon.

Gambar 6 : Kista Teka Lutein

e. Kista Inklusi Germinal


Terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian-bagian terkecil dari
epitel germinativum pada permukaan ovarium. Biasanya terjadi pada
wanita usia lanjut dan besarnya jarang melebihi 1 cm. Kista terletak di
bawah permukaan ovarium, dindingnya terdiri atas satu lapisan epitel
kubik atau torak rendah, dan isinya cairan jernih dan serous.1,3

17
Gambar 7 : Kista Inklusi Germinal

f. Kista Endometrium
Kista ini endometriosis yang berlokasi di ovarium. Akibat
proliferasi dari sel yang mirip dinding endometrium, umumnya berisi
darah yang merupakan hasil peluruhan dinding saat menstruasi.
Endometriosis adalah gangguan ginekologi yang sering terjadi yakni
adalah kelenjar endometrial dan stroma diluar tempat yang normal. 1
Menurut urutannya yang tersering, endometriosis di temukan di
tempat-tempat berikut: ovarium, peritoneum, dan ligamentum
sacrouterina, kavum douglasi, dinding belakang uterus, tuba falopii, plika
vesikouterina, ligamentum rotundum dan sigmoid, septum rectovaginal,
kanalis inguinalis, apendiks, umbilicus, serviks uteri, vagina, kandung
kencing, vulva, perineum, parut laparatomi, kelenjar limfe dan lain-lain. 6
Endometrioma adalah kista endometrial pada ovarium. Gambaran
endometrioma yakni berdinding halus, kista berisi cairan berwarna coklat.
Massa ovarium ini unilocular, tetapi sering multilokular berdiameter > 3
cm. endometrioma ovarium adalah endometriosis yang tersering. Ovarian
endometrioma terbentuk melalui invaginasi kortks ovarium dan selanjunya
berbentuk debris menstrual yang melekat pada permukaan ovarium. Teori
lain mengatakan bahwa endometrioma berkembang akibat dari metaplasia
coelomic dari inklusi invaginasi epithelial. 1

18
2. Neoplasia Jinak
a. Kistik:
o Kistoma Ovari Simpleks
Kista ini mempunyai permukaan yang rata dan halus, biasanya
bertangkai, seringkali bilateral dan dapat menjadi besar. Dinding kista tipis
dan cairan di dalam kista jernih, serous dan berwarna kuning. Pada
dinding kista tampak lapisan epitel kubik. Terapi terdiri atas pengangkatan
kista dengan reseksi ovarium, akan tetapi jarinngan yang dikeluarkan
harus segera diperiksa secara histologik untuk mengetahui apakah ada
keganasan.1,3
o Kistadenoma Ovarii Serosum
Kista ini ditemukan dalam frekwensi yang hampir sama dengan
kistadenoma musinosum dan dijumpai pada golongan umur yang
sama. Kista ini sering ditemukan bilateral (10-20%) daripada kistadenoma
musinosum. Tumor serosa dapat membesar sehingga memenuhi ruang
abnomen, tetapi lebih kecil dibanding dengan ukuran kistadenoma
musinosum. Permukaan tumor biasanya licin, tetapi dapat
juga lobulated karena kista serosum pun dapat berbentuk multikolur,
meskipun lazimnya berongga satu. Warna kista putih keabuan.
Ciri khas dari kista ini adalah potensi pertumbuhan papiler ke dalam
rongga kista sebesar 50% dan keluar pada permukaan kista sebesar 5%.
Isi kista cair, kuning dan kadang-kadang coklat karena bercampur darah.
Tidak jarang, kistanya sendiri kecil, tetapi permukaannya penuh dengan
pertumbuhan papiler (solid papiloma)
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa sulit membedakan gambaran
makroskopis kistadenoma serosum papileferum yang ganas dari yang
jinak, bahkan pemeriksaan rnikroskopis pun tidak selalu mernberikan
kepastian.
Pada pemeriksaan mikroskopis terdapat dinding kista yang dilapisi
epitel kubik atau torak yang rendah, dengan sitoplasma eosinofil dan inti
sel yang besar dan gelap warnanya. Karena tumor ini berasal dari epitel
permukaan ovarium (germinal epithelum), maka bentuk epitel pada papil
dapat beraneka ragam, tetapi sebagian besar terdiri atas epitel bulu getar
seperti epitel tuba. Pada jaringan papiler dapat ditemukan pengendapan

19
kalsium dalam stromanya yang dinamakan psamoma. Adanya psamoma
menunjukkan bahwa kista adalah kistadenoma ovarium serosum
papiliferum, tetapi bukan ganas.
Tidak ada gejala klasik yang menyertai tumor serosa
proliferatif. Kebanyakan ditemukan pada pemeriksaan rutin dari
pelvis. Kadang-kadang pasien mengeluh rasa ketidaknyamanan daerah
pelvis dan pada pemeriksaan ditemukan massa abdomen atau pun ascites.
Kelainan ekstra abdomen jarang ditemukan pada keganasan ovarium
kecuali pada stadium terminal. 1,2,6
Apabila ditemukan pertumbuhan papiler, proliterasi dan stratifikasi
epitel, serta anaplasia dan mitosis pada sel-sel, kistadenoma serosum
secara makroskopik digolongkan ke dalam kelompok tumor ganas. 30-
35% dari kistadenoma serosum mengalami perubahan keganasan. Bila
terdapat implantasi pada peritoneum disertai dengan ascites, prognosis
penyakit adalah kurang baik.
Meskipun diagnosis histopatologis pertumbuhan tumor tersebut
mungkin jinak (histopathologically benign), tetapi secara klinis harus
dianggap sebagai neoplasma ovarium ganas (clinicaly malignant).
Terapi pada umumnya adalah pengangkatan tumor. Tetapi oleh
karena berhubung dengan besarnya kemungkinan keganasan perlu
dilakukan pemeriksaan yang teliti terhadap tumor yang dikeluarkan.
Bahkan kadang-kadang perlu diperiksa sediaan yang dibekukan (frozen
section) pada saat operasi, untuk menentukan tindakan selanjutnya pada
waktu operasi.1,3

o Kistadenoma Ovarii Musinosum


Asal tumor ini belum diketahui dengan pasti. Tumor ini mungkin
muncul sebagai tumor unilateral kista teratoma atau sebagai metaplasia
mucinosum dari mesothelium. Tumor mucinous yang berasal dari
teratoid ditemukan pada penderia yang muda. Paling sering pada wanita
berusia antara 20-50 tahun dan jarang sekali pada masa prapubertas.
Tumor evarium ini terbanyak ditemukan bersama-sama dengan
kistadenoma ovarii serosum. Kedua tumor ini merupakan kira-kira 60%

20
dari seluruh ovarium, sedang kistadenoma ovarii musinosum nerupakan
40% dari seluruh kelompok neoplasma ovarium.
Kista ini biasanya mempunyai dinding yang licin, permukaan
berbagala (lobulated) dan umumnya multitokular dan odematosa; lokular
yang mengandung niukosa ini kelihatan biru dari peregangan kapsulnya.
Kira-kira 10% dapat mencapai ukuran yang amat besar dan pada tumor
ini tidak dapat ditemukan jaringan yang normal lagi. Tumor biasanya
unilateral, akan tetapi dapat juga dijumpai yang bilateral (8-10%).
Dinding kista agak tebal dan berwarna putih keabuan terutama
apabila terjadi perdarahan atau perubahan degeneratif di dalam kista.
Pada permukaan terdapat cairan lendir yang khas, kental seperti gelatin,
melekat dan berwarna kuning sampai coklat tergantung dari
percampurannya dengan darah.
Pemeriksaan mikroskopik: tampak dinding kista dilapisi oleh epital
torak tinggi dan sel-sel goblet yang terisi lendir. Sel-sel epitel yang
terdapat dalam satu lapisan bersifat odernatus dan mempunyai potensi
untuk tumbuh seperti struktur kelenjar, kelenjar-kelenjar menjadi kista-
kista baru, yang menyebabkan kista menjadi multilokuler. Jika terjadi
suatu sobekan pada dinding kista (spontan ataupun pada saat operasi),
maka sel-sel epitel dapat tersebar pada permukaan peritoneum rongga
perut, dan sekresinya menyebabkan pseudomiksoma peritonei. Akibat
pseudorniksoma peritonei timbul penyakit menahun dengan musin terus
bertambah dan menyebabkan banyak perlengketan. Akhirnya penderita
meninggal karena ileus. Pada kista kadang-kadang ditemukan daerah
padat dan pertumbuhan papiler.1,3

o Kista Endometroid
Terjadi karena lapisan didalam rahim (yang biasanya terlepas
sewaktu haid dan terlihat keluar dari kemaluan seperti darah); tidak
terletak dalam rahim tetapi melekat pada dinding luar ovarium. Akibat
peristiwa ini setiap kali haid, lapisan tersebut menghasilkan darah haid
yang akan terus menerus tertimbun dan menjadi kista. Kista ini bisa 1
pada dua indung telur. Timbul gejala utama yaitu rasa sakit terutama
sewaktu haid/ sexual intercourse.1,3

21
Gambar 9:Kista Endometroid

o Kista Dermoid
Tumor ini merupakan 10% dan seluruh neoplasma ovarium yang
kistik, dan paling sering ditemukan pada wanita yang masih muda. 25%
dari semua kista dermoid bilateral, lazimnya dijumpai pada masa
reproduksi walaupun dapat ditemukan pada anak kecil. Tumor ini dapat
mencapai ukuran sangat besar, sehingga beratnya mencapai beberapa
kilogram.
Kista ini tumbuh akibat proses yang kurang sempurna saat
pembentukan lapisan embrional. Lapisan ektoderm yang saat dewasa
akan menjadi sel sel folikel rambut, tulang, serta gigi secara tidak
sempurna tumbuh di sekitar ovarium. Kista ini mempunyai ciri yang
khas. Dinding kista kelihatan putih keabuan dan agak tipis. Konsistensi
tumor sebagian kistik kenyal, di bagian lain padat. Dapat ditemukan
kulit, rambut kelenjer sebasea, gigi (ektodermal), tulang rawan, serat otot
jaringan ikat (mesodemal) dan mukosa traktus gasttrointotinelis, epitel
saluran kista terdapat produk kelenjer sebasea berupa massa lembek
seperti lemak, bercampur dengan rambut
Pada kista dermoid dapat terjadi torsio tangkai dengan gejala nyeri
mendadak di perut bagian bawah. Ada kemungkinan terjadinya sobekan
dinding kista dengan akibat pengeluaran isi kista dalam rongga
peritoneum. Perubahan keganasan dari kista sangat jarang, hanya 1,5%
dari semua kista dermoid dan biasanya pada wanita lewat menopause.1,3

22
Gambar 10 : Kista Dermoid
Epidemiologi

Tumor ini merupakan 10-25% dari semua neoplasma ovarium dan


60% dari semua neoplasma ovarium jinak. Kista dermoid merupakan tumor
terbanyak (10% dari total tumor ovarium) yang berasal dari sel germinativum
(Hoffman, Schorge, Bradshaw, Halvorson, Schaffer, & Corton, 2016). Tumor
ini merupakan tumor jinak sel germinativum dan paling banyak diderita oleh
gadis yang berusia di bawah 20 tahun (Adriaanz, 2014).

Patologi

Dinding kista dermoid yang kuat memberikan bentukan bulat yang


halus atau bentuk ovoid, dengan bentuk lobulasi yang jarang. Tumor kistik ini
biasanya tumbuh dengan lambat dan paling sering berukuran 5-10cm.
Ditemukan bilateral pada sekitar 10% kasus. (Hoffman, Schorge, Bradshaw,
Halvorson, Schaffer, & Corton, 2016)

23
Gambar 3.11 Kista Dermoid (Hoffman, Schorge, Bradshaw,
Halvorson, Schaffer, & Corton, 2016).

Apabila dibelah, kebanyakan kista berbentuk unilokular dan terdapat


satu area dimana terdapat pertumbuhan terlokalisasi yang menonjol ke dalam
kavitas kista. Pertumbuhan terlokalisasi ini disebutan protuberansi
Rokitansky, plug dermoid, proses dermoid, mamilla dermoid, atau rudiment
embrional, protuberansi ini dapat tidak ada atau berjumlah multipel.
(Hoffman, Schorge, Bradshaw, Halvorson, Schaffer, & Corton, 2016)

Secara mikroskopik, derivative endodermal atau mesodermal dapat


ditemukan, tetapi element ectodermal biasanya mendominasi Kista dilapisi
dengan epitel skuamos berkeratinisasi dan mengandung banyak kelenjar
sebasea dan keringat. Sekresi rambut dan lemak juga sering ditemukan.
Banyak variasi jaringan ditemukan pada protuberansi Rokitansky, yang juga
merupakan tempat paling sering untuk transformasi menjadi keganasan.
(Hoffman, Schorge, Bradshaw, Halvorson, Schaffer, & Corton, 2016)

Transformasi menjadi keganasan hanya terjadi pada 1-3% kasus,


biasanya pada wanita dengan umur lebih dari 40 tahun, dan keganasan karena
kista dermoid hanya sekitar 1% dari seluruh keganasan ovarium. Karena
epitel skuamosa adalah epitel yang melapisi dari kista ini, maka karsinoma sel
skuamos merupakan 80% dari keseluruhan kasus keganasan. (Hoffman,
Schorge, Bradshaw, Halvorson, Schaffer, & Corton, 2016)

Gambaran Klinik

Walaupun terdapat beberapa jaringan penyusun tumor, tetapi


ectodermal merupakan komponen tertentu, yang kemudian diikuti dengan
mesodermal dan entodermal. Semakin lengkap unsur penyusun, akan semakin
solid konsistensi tumor ini. Kista dermoid jarang mencapai ukuran yang
besar, tetapi kadang-kadang bercampur dengan kistadenoma ovarii
musinosum sehingga diameternya akan semakin besar. Unsur penyusun
tumor terdiri dari sel-sel yang telah matur sehingga kista ini juga disebut
sebagai teratoma matur. Dalam ukuran kecil, kista dermoid tidak
menimbulkan keluhan apapun dan penemuan tumor pada umumnya hanya

24
melalui pemeriksaan ginekologi rutin. Rasa penuh dan berat pada perut hanya
dirasakan apabila ukuran tumor cukup besar. (Adriaanz, 2014). Kista dermoid
biasanya bersifat asimptomatik dan tumbuh dengan lambat . Resiko
malignansi diasosiasikan dengan ukuran yang besar (>10cm) dan usia
postmenopause. (Kinkel & Forstner, 2007)

Pemeriksaan Penunjang
1. USG
Gambaran berupa massa kistik dan unilokular pada kebanyakan
kasus, dengan ekogenitas beragam mewakili komponen lemak, tulang,
dan cairan yang berbeda. Patognomonik dari kista dermoid adalah nodul
Rokitansky, sebuah nodul hiperekoik yang sangat jelas, merupakan
gambaran rambut yang mengambang dalam cairan berdensitas rendah.
Kadang dapat ditemukan bayangan terang dan acoustic shadows yang
merupakan gambaran rambut, atau bahkan gigi di dalam kista (Sayasneh,
et al., 2015).

Gambar 3.12 USG pada Kista Dermoid (Hoffman, Schorge,


Bradshaw, Halvorson, Schaffer, & Corton, 2016)

25
Gambar 3.13 Nodul Rotiansky dengan acoustic
shadow(Sayasneh, et al., 2015)

Gambar 3.14 Acoustic shadow disertai dengan bright echo


menunjukkan rambut (Sayasneh, et al., 2015)

26
Gambar 3.15 “Floating Balls” yang menunjukkan massa lipid
intrakistik (Sayasneh, et al., 2015).
2. CT Scan
Identifikasi jaringan lemak di antara massa kistik adalah sebuah
tanda patoknomonik untuk sebuah kista dermoid. Fitur tipikal lainnya
yang dapat ditemukan pada CT adalah adanya kalsifikasi pada dinding
kista atau plug dermoid (Kinkel & Forstner, 2007).

3. MRI
Temuan pada MRI yang sering ditemukan adalah bentuk bulat atau
oval, dengan batas lesi yang tajam dan adanya gambaran lemak. Gambaran
lemak ini dapat muncul dengan berbagai macam bentuk, seperti kavitas
berisi lemak atau fokus-fokus lemak, Apabila kista dermoid muncul
bersamaan dengan kistadenoma musinosum menunjukkan massa kistik
multilokulus dengan gambaran area murni lemak (Kinkel & Forstner,
2007).

Komplikasi

Hampir 15% dari teratoma kistik matur mengalami torsi, tetapi


rupture kista jarang ditemukan. Hal ini disebabkan karena dinding kistanya
yang tebal mencegah rupture dibanding dengan neoplasma ovarium yang lain.
Apabila rupture kista terjadi, peritonitis akut sering ditemukan. Fielder

27
menghubungkan peritonitis dengan adanya konten sebum dan rambut dalam
kista dermoid. Mereka menemukan keuntungan lavage untuk mencegah
peritonitis dan pembentukan adesi. Kebocoran kronik dari isi kista dermoid
yang menyebabkan peritonitis granulomatous dapat salah diinterpretasikan
sebagai malignansi luas. (Hoffman, Schorge, Bradshaw, Halvorson, Schaffer,
& Corton, 2016)

Terapi

Laparotomi dan kistektomi. (Adriaanz, 2014)

b. Solid
Semua tumor ovarium yang padat adalah neoplasma.Akan tetapi, ini tidak
berarti bahwa termasuk suatu neoplasma yang ganas, meskipun semuanya
berpotensi maligna. Potensi menjadi ganas sangat berbeda pada berbagai jenis,
umpamanya sangat rendah pada fibroma ovarium dan sangat tinggi pada teratoma
embrional yang padat.1,6
 Fibroma ovarii
Potensi menjadi ganas sangat rendah pada fibroma ovarium, kurang dari 1%.
Fibroma ovarii berasal dari elemen fibroblastik stroma ovarium atau sel
mesenkim yang multipoten. Tumor ini merupakan 5% dari semua neoplasma
ovarium dan paling sering ditemukan pada penderita menopause.
Tumor ini mencapai diameter 2 sampai 30 cm; dan beratnya 20 kg, dengan
90% uniteral. Permukaan tidak rata, konsistensi keras, warnanya merah jambu
keabuan. Apabila konsistensi sangat padat disebut fibroma durum, dan apabila
lunak disebut fibroma molle. Neoplasma ini terdiri atas jaringan ikat dengan sel-
sel di tengah jaringan kolagen. Apabila terdiri atas kelenjar-kelenjar kistik, maka
disebut kistadenofroma ovarii. Fibroma ovarii yang besar biasanya mempunyai
tangkai dan dapat terjadi torsi. Pada tumor ini sering ditemukan sindroma Meigs
(tumor ovarii, ascites, hidrotoraks). 1,2,6

3.5 Etiologi
Penyebab terjadinya kista ovarium yaitu terjadinya gangguan
pembentukan hormon pada hipotalamus, hipofise, atau ovarium itu sendiri. Kista
ovarium timbul dari folikel yang tidak berfungsi selama siklus menstruasi.1
Faktor resiko terjadinya kista ovarium.4

28
a. Riwayat kista ovarium sebelumnya
b. Siklus menstruasi yang tidak teratur
c. Meningkatnya distribusi lemak tubuh bagian atas
d. Menstruasi dini
e. Tingkat kesuburan
f. Hipotiroid atau hormon yang tidak seimbang
g. Terapi tamosifen pada kanker mamma
Sedangkan pada tumor padat, etiologi pasti belum diketahui, diduga
akibat abnormalitas pertumbuhan sel embrional, atau sifat genetis kanker
yang tercetus oleh radikal bebas atau bahan bahan karsinogenik.

3.6 Patofisiologi
Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang
disebut Folikel de Graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan
diameter lebih dari 2.8 cm akan melepaskan oosit mature. Folikel yang ruptur
akan menjadi korpus luteum, yang pada saat matang memiliki struktur 1,5-2 cm
dengan kista ditengah-tengah. Bila tidak terjadi fertilisasi pada oosit, korpus
luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan secara progresif. Namun bila
terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan membesar kemudian secara
gradual akan mengecil selama kehamilan.1,6
Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista
fungsional dan selalu jinak. Kista dapat berupa folikular dan luteal yang kadang-
kadang disebut kista theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi oleh
gonadotropin, termasuk FSH dan HCG.1,2
Kista fungsional multiple dapat terbentuk karena stimulasi gonadotropin
atau sensitivitas terhadap gonadotropin yang berlebih. Pada neoplasia tropoblastik
gestasional (hydatidiform mole dan choriocarcinoma) dan kadang-kadang pada
kehamilan multiple dengan diabetes, hcg menyebabkan kondisi yang disebut
hiperreaktif lutein. Pasien dalam terapi infertilitas, induksi ovulasi dengan
menggunakan gonadotropin (FSH dan LH) atau terkadang clomiphene citrate,
dapat menyebabkan sindrom hiperstimulasi ovari, terutama bila disertai dengan
pemberian HCG.1,2
Kista neoplasia dapat tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan tidak
terkontrol dalam ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasia yang

29
ganas dapat berasal dari semua jenis sel dan jaringan ovarium. Sejauh ini,
keganasan paling sering berasal dari epitel permukaan (mesotelium) dan sebagian
besar lesi kistik parsial. Jenis kista jinak yang serupa dengan keganasan ini adalah
kistadenoma serosa dan mucinous. Tumor ovari ganas yang lain dapat terdiri dari
area kistik, termasuk jenis ini adalah tumor sel granulosa dari sex cord sel dan
germ cel tumor dari germ sel primordial. Teratoma berasal dari tumor germ sel
yang berisi elemen dari 3 lapisan germinal embrional; ektodermal, endodermal,
dan mesodermal.Endometrioma adalah kista berisi darah dari endometrium
ektopik. Pada sindroma ovari pilokistik, ovarium biasanya terdiri folikel-folikel
dengan multipel kistik berdiameter 2-5 mm, seperti terlihat dalam sonogram.1,2

3.7 Tanda dan Gejala


Kebanyakan wanita dengan kanker ovarium tidak menimbulkan gejala
dalam waktu yang lama. Gejala umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik.4,6
Pada stadium awal gejalanya dapat berupa:
a. Gangguan haid
b. Jika sudah menekan rectum atau VU mungkin terjadi konstipasi atau sering
berkemih.
c. Dapat terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan
nyeri spontan dan sakit diperut.
d. Nyeri saat bersenggama.

Pada stadium lanjut:


a. Asites
b. Penyebaran ke omentum (lemak perut) serta organ di dalam rongga perut
c. Perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan
d. Gangguan buang air besar dan kecil.
e. Sesak nafas akibat penumpukan cairan di rongga dada.4

3.8 Diagnosis
Diagnosis kista ovarium dapat ditegakkan melalui anamnesis
danpemeriksaan fisik. Namun biasanya sangat sulit untuk menemukan kista
melalui pemeriksaan fisik. Maka kemudian dilakukan pemeriksaan penunjang
untuk mendiagnosis kista ovarium. Pemeriksaan yang umum digunakan adalah :

30
1. Ultrasonografi (USG)
Alat peraba (transducer) digunakan untuk memastikan keberadaan
kista, membantu mengenali lokasinya dan menentukan apakah isi kista cairan
atau padat. Kista berisi cairan cenderung lebih jinak, kista berisi material
padat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.5,6
Dari gambaran USG dapat terlihat:
a. Akan terlihat sebagai struktur kistik yang bulat (kadang-kadang
oval) dan terlihat sangat echolucent dengan dinding yang
tipis/tegas/licin, dan di tepi belakang kista nampak bayangan echo
yang lebih putih dari dinding depannya.
b. Kista ini dapat bersifat unillokuler (tidak bersepta) atau multilokuler
(bersepta-septa).
c. Kadang-kadang terlihat bintik-bintik echo yang halus-halus (internal
echoes) di dalam kista yang berasal dari elemen-elemen darah di
dalam kista.

2. Pemeriksaan Lab
Pemeriksaan lab dapat berguna sebagai screening maupun diagnosis
apakah tumor tersebut bersifat jinak atau ganas.Berikut pemeriksaan yang
umum dilakukan untuk mendiagnosis kista ovarium.

 Pemeriksaan Beta-HCG Pemeriksaan ini digunakan untuk


screening awal apakah wanita tersebut hamil atau tidak. Pemeriksaan
ini dapat menyingkirkan kemungkinan kehamilan ektopik.
 Pemeriksaan Darah Lengkap Untuk sebuah penyakit keganasan,
dapat diperkirakan melalui LED. Parameter lain seperti leukosit, HB,
HT juga dapat membantu pemeriksa menilai keadaan pasien.
 Urinalisis Urinalisis penting untuk mencari apakah ada
kemungkinan lain, baik batu saluran kemih, atau infeksi dan untuk
menyingkirkan diagnosis banding.
 Pemeriksaan Tumor Marker Tumor marker spesifik pada
keganasan ovarium adalah CA125. CEA juga dapat diperiksa, namun
CEA kurang spesifik karena marker ini juga mewakili keganasan
kolorektal, uterus dan ovarium.

31
3. Pemeriksaan Patologi Anatomi
Merupakan pemeriksaan untuk memastikan tingkat keganasan dari
tumor ovarium. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan bersama dengan
proses operasi, kemudian sampel difiksasi dan diperiksa dibawah
mikroskop.6

3.9 Penatalaksanaan
1. Observasi dan Manajemen Gejala
Jika kista tidak menimbulkan gejala, maka cukup dimonitor (dipantau)
selama 1-2 bulan, karena kista fungsional akan menghilang dengan sendirinya
setelah satu atau dua siklus haid. Tindakan ini diambil jika tidak curiga ganas.
Apabila terdapat nyeri, maka dapat diberikan obat-obatan simptomatik seperti
penghilang nyeri NSAID1,2,4
2. Operasi
Jika kista membesar, maka dilakukan tindakan pembedahan, yakni
dilakukan pengambilan kista dengan tindakan laparoskopi atau laparotomi.
Biasanya kista yang ganas tumbuh dengan cepat dan pasien mengalami
penurunan berat badan yang signifikan. Akan tetapi kepastian suatu kista itu
bersifat jinak atau ganas jika telah dilakukan pemeriksaan Patologi Anatomi
setelah dilakukan pengangkatan kista itu sendiri melalui operasi. Biasanya
untuk laparoskopidiperbolehkan pulang pada hari ke-2 atau ke-3, sedangkan
untuk laparotomidiperbolehkan pulang pada hari ke-3 atau ke-4.1,2,4
Indikasi umum operasi pada tumor ovarium melalui screening USG
umumnya dilakukan apabila besar tumor melebihi 5cm baik dengan gejala
maupun tanpa gejala. Hal tersebut diikuti dengan pemeriksaan patologi
anatomi untuk memastikan keganasan sel dari tumor tersebut.1,2,4,6

3.10 Prognosis

Prognosis dari kista jinak sangat baik. Kista jinak tersebut dapat tumbuh di
jaringan sisa ovarium atau di ovarium kontralateral.Apabila sudah dilakukan
operasi, angka kejadian kista berulang cukup kecil yaitu 13%.

32
Kematian disebabkan karena karsinoma ovari ganas berhubungan dengan
stadium saat terdiagnosis pertama kali dan pasien dengan keganasan ini
sering ditemukan sudah dalam stadium akhir.1
Angka harapan hidup dalam 5 tahun rata-rata 41.6%. Tumor sel granuloma
memiliki angka bertahan hidup 82% sedangkan karsinoma sel skuamosa yang
berasal dari kista dermoid berkaitan dengan prognosis yang buruk.1,6

33
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Anamnesis

Teori Kasus
Kista Ovarium secara umum : - Nyeri perut di sebelah kanan, hilang
- Nyeri perut jika terjadi peregangan timbul, dan menjalar ke pinggang
atau penekanan daerah panggul sejak 3 bulang yang lalu
- Nyeri saat bersenggama - Nyeri saat haid
- Gangguan haid - Haid pasien tidak teratur. Perdarahan
- Konstipasi atau sering berkemih jika haid cukup banyak.
sudah menekan rectum atau VU - Perut terasa penuh
- Gangguan nafsu makan - Tidak mengalami penurunan berat
- Kembung, perut terasa penuh badan
- Mual - Tidak ada gangguan BAK dan BAB

4.2 Pemeriksaan Fisik

Teori Kasus
Kista ovarium secara umum : Tekanan darah : 120/80 mmHg
- Asites Frekuensi nadi : 77 x/menit
- Perut membuncit, kembung Frekuensi napas : 20 x/menit
- Sesak napas akibat penumpukan Temperatur : 36.5º C
cairan di rongga dada
- Pada kista dermoid didapati gejala  Inspeksi : Abdomen distensi (+),
nyeri mendadak di perut bagian bentuk abdomen cembung (+),
bawah. bekas operasi (-), striae (+), linea
- Ada kemungkinan terjadinya sobekan nigra (+), massa sebelah kanan (+)
dinding kista dengan akibat  Palpasi : Teraba massa di perut
pengeluaran isi kista dalam rongga regio kanan bawah kira-kira
peritoneum. sebesar jeruk bali, massa dapat
digerakkan, permukaan teraba

34
halus dan ada nyeri tekan.
 Inspekulo : V/V tidak ada sekret,
massa, &kondiloma. Rugae vagina
(+), tidak ada inflamasi atau
laserasi. Tidak ada sekret yang
keluar.
 Vaginal Toucher : Tidak
dilakukan.

4.3 Pemeriksaan Penunjang

Teori Kasus
1. Laboratorium 1. Laboratorium
- Beta-HCG: untuk menyingkirkan a. Darah Lengkap
kemungkinan kehamilan ektopik. - Leu: 5.130 sel/mm3
- Darah Lengkap: untuk penyakit - Hb : 12 mg/dl
keganasan, dapat diperkirakan - Hct : 39.1 %
melalui LED. Parameter lain b. Urinalisis
seperti leukosit, HB, HT juga dapat - Berat jenis : 1.013
membantu pemeriksa menilai - Protein: +1
keadaan pasien. - Sel epitel: +
- Urinalisis: untuk mencari apakah - Bakteri: +2
ada kemungkinan lain, baik batu - Leukosit : 2-5
saluran kemih atau infeksi. - Eritrosit : 1-2
- pH : 6.5

2. USG, Kesimpulan :
- Tumor Marker: Tumor marker
Kista ovarium dengan ukuran 11 cm x 7
spesifik pada keganasan ovarium
cm
adalah CA125. CEA juga dapat
diperiksa, namun kurang spesifik
karena dapat mewakili keganasan
kolorektal, uterus dan ovarium.

35
2. USG
- Struktur kistik bulat dan terlihat
sangat echolucent dengan dinding
yang tipis / tegas / licin, dan di tepi
belakang kista nampak bayangan
lebih putih dari dinding depannya.
- Dapat bersifat unilokuler (tidak
bersepta) atau multilokuler
(bersepta).
- Kadang terlihat bintik-bintik echo
halus (internal echoes) di dalam
kista yang berasal dari elemen-
elemen darah di dalam kista.
3. Patologi Anatomi
Untuk memastikan tingkat keganasan
dari tumor ovarium.

4.4 Penatalaksanaan

Teori Fakta
1. Observasi dan Manajemen Gejala
Jika kista tidak menimbulkan
Rencana Laparoscopy tanggal 28
gejala, monitor selama 1-2 bulan,
Desember 2018
karena kista fungsional akan
menghilang setelah satu atau dua
siklus haid.
Apabila terdapat nyeri, berikan
obat simptomatik seperti NSAID.
2. Operasi
Jika kista membesar, maka
dilakukan tindakan pembedahan,
yakni laparoskopi atau laparotomi.
Indikasi operasi melalui screening

36
USG umumnya dilakukan apabila
besar tumor melebihi 5 cm baik
dengan gejala maupun tanpa gejala.

37
BAB 5
PENUTUP

Kesimpulan
Telah dilaporkan sebuah kasus atas pasien Nn. FJ yang berusia 16 tahun
yang datang ke Poli Kandungan RSUD AWS Samarinda dengan diagnosis kista
ovarium kanan. Setelah melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang maka didapatkan diagnosis sebagai Kista Ovarium. Pada pasien ini
direncanakan untuk laparoscopy pada tanggal 28 Desember 2018 di OK IBS.
Secara umum penegakan diagnosis maupun penatalaksanaan pada pasien tersebut
sudah tepat dan sesuai dengan teori yang ada.

38
DAFTAR PUSTAKA

1. Wiknjosastro H. Buku Ilmu Kandungan Edisi 2., editor: Saifuddin


A.B,dkk. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.1999:
13-14
2. Sjamsuhidayat, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, l 1027; Jakarta,
1998
3. Mansjoer, Arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 2. Jakarta:
Media Aesculapius. 2000.
4. Medscape Reference, Ovarium Anatomy, Available at
http://emedicine.medscape.com/article/1949171-overview#aw2aab6b3,
Last Update October 3, 2017.
5. Medscape Reference, Ovarian Cyst
http://emedicine.medscape.com/article/255865-overview#a0101, Last
Update August 19, 2017.
6. Schorge et al. William’s Gynecology [Digital E-Book] Gynecologic
Oncology Section. Ovarian Tumors and Cancer. McGraw-Hills. 2008
7. Tambayong, 2002. Patofisiologi untuk keperawatan, Penerbit buku
Kedokteran. EGC, Jakarta
8. Depkes. (2011). Angka kejadian kista ovarium [internet]. Available from:
netLibrary http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-
kesehatanindonesia/profil-kesehatan-indonesia-2011.pdf
9. Carr BR. Endometriosis. In: Schorge JO, et al, editors . Williams
Gynecology. New York; McGraw-Hill:2008
10. Bulletti C, Coccia ME, Battistoni S, Borini A. Endometriosis and
infertility. J Assist Reprod Genet (2010) 27:441–447.
11. DeCherney AH, Nathan L, Goodwin TM, Laufer N. Current Diagnosis &
Treatment Obstetrics & Gynecology. 10th ed. New York: McGraw-Hill;
2007.
12. Katz VL. Benign Gynecologic Lesions : Vulva, Vagina, Cervix, Uterus,
Oviduct, Ovary. In: Katz VL, Lentz GM, Lobo RA, Gershenson DM,
editors. Comprehensive Gynecology. 5th ed. Philadelphia; Elsevier: 2007.
13. Giudice LC. Endometriosis. N Engl J Med 2010;362:2389-98

39
14. Prabowo RP. Endometriosis. Dalam, Wiknjosastro H, Saifuddin AB,
Rachimhadhi T. Edisi ke II. Jakarta; Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo:
2009. H. 316.
15. Hill JA, D'Hooghe TM. Endometriosis. Berek JS, editor. Berek & Novak's
Gynecology. 14th Edition. New York; Lippincott Williams & Wilkins:
2007.
16. Schenken RS. Endometriosis. In: Gibbs RS, et al, editors. Danforth's
Obstetrics and Gynecology. 10th Edition. New York; Lippincott Williams
& Wilkins: 2008.
17. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. 2016. Konsesnsus
Endometriosis. Available at : http://pogi.or.id/publish

40