Anda di halaman 1dari 9

Syi’ah Ismailiyah

Ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Kalam yang dibimbing oleh Bapak Dr. H. Faisol
Nasar BM., MA.

Disusun Oleh Kelompok 7:

1. Mina Ayu Lestari (U20184049)


2. Ira Puspita Anggraeni (U20184052)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER


FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB, DAN HUMANIORA
PRODI SEJARAH PERADABAN ISLAM
2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.


Segala puja dan puji syukur senantiasa kami panjatkan kepada Allah SWT. Yang
senantiasa melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayahnya, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan tepat waktu. Solawat serta salam tetap tercurahkan kepada Nabi besar
Muhammad SAW., yang telah membimbing umatnya sehingga kita dapat merasakan masa
islamiah yang cerah ini.
Pada kesempatan ini, dalam penulisan makalah yang kami beri judul Syi’ah Ismailiyah..
Kami mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak, oleh karenanya dari hati yang terdalam
penyusun ingin mengungkapkan rasa terima kasih kami kepada Bapak Dr. H. Faisol Nasar BM.,
MA. selaku Dosen Mata Kuliah Ilmu Kalam yang telah memberikan bimbingan, arahan dan
masukan baik dalam pembuatan makalah ini maupun dalam bidang lainnya serta pihak-pihak
terkait lainnya yang juga turut serta membantu kami dalam pembuatan makalah ini.
Kami sangat menyadari tidak ada manusia yang sempurna begitu juga dalam penulisan
makalah ini, apabila nantinya terdapat kekurangan, kesalahan dalam makalah ini, kami selaku
penulis sangat berharap kepada seluruh pihak agar dapat memberikan kritik dan juga saran
seperlunya. Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan bahan pembelajaran
kepada kita semua.

Jember, 17 November 2019

Penyusun
Daftar Isi

COVER
KATA PENGANTAR ................................................................................................................. i
Daftar isi........................................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang............................................................................................................................ 1
Rumusan Masalah .................................................................................................................... 1
Tujuan ....................................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
Sejarah Singkat Syi’ah Ismailiyah ................................................................................................ 2
Konsep Imamah Syi’ah Ismailiyah ............................................................................................... 3
Ajaran Syi’ah Ismailiyah .............................................................................................................. 4
BAB III PENUTUP
Kesimpulan .................................................................................................................................. 5
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
Pendahuluan

A. Latar Belakang
Dalam sejarah umat Islam ditemukan adanya sistem kalender Islam aritmatika.
Kalender jenis ini biasanya digunakan dalam rangka konversi kalender untuk tujuan sipil
dan tidak digunakan untuk tujuan keagamaan. Kalender tersebut terdapat dalam tradisi
Sunni atau Shi’ah Imamiyah (Ithna Asyariah). Penggunaan kalender aritmatika untuk
tujuan keagamaan didapati dalam tradisi Shiah Sab’iyyah (Ismailiyah), yang mencakup
kelompok Buhrah (Musta’lawiyyah) dan Nizariyyah (Ismailiyah Khoja, Aga Khan).
Kalender ini tampaknya telah dirancang untuk pertanda datangnya bulan baru (newmoon)
daripada penampakan bulan sabit. Sebab itu, sering terjadi perbedaan satu atau dua hari
dari kalender Islam mayoritas umat Muslim.
Kelompok Ismailiyah menetapkan bulan Islam menurut kalender hisab dan tidak
bergantung pada penampakan bulan untuk memulai bulan baru atau tahun baru. Kelompok
Shi’ah Ismailiyah mengklaim menemukan akar penggunaan kalender tersebut sampai
kepada Imam Ja’far Sadiq.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah singkat Syi’ah Ismailiyah?
2. Bagaimana konsep Imamah Syi’ah Ismailiyah?
3. Bagaimana ajaran Syi’ah Ismailiyah?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana sejarah singkat Syi’ah Ismailiyah
2. Untuk mengetahui konsep Imamah Syi’ah Ismailiyah
3. Untuk mengetahui mengenai ajaran-ajaran apa saja yang ada dalam Syi’ah Ismailiyah
BAB II
Pembahasan

A. Sejarah Singkat Syi’ah Ismailiyah


Kata ismailiyah (bahasa Arab : ‫اإلسماعيليون‬al-Ismā'īliyyūn) adalah mazhab dengan jumlah
penganut kedua terbesar dalam Islam Syi'ah, setelah mazhab Dua Belas Imam (Ithna
'Asyariah). Sebutan Ismailiyah diperoleh pengikut mazhab ini karena penerimaan mereka ke
atas keimamanIsma'il bin Ja'far sebagai pewaris dari Ja'far ash-Shadiq. Ismailiyah menerima
keenam Imam Syi'ah terdahulu
Syi’ah Ismailiyah merupakan pecahan aliran Syi’ah. Terbentuknya kelompok ini
disebabkan perbedaan tentang penerus Imam Ja’far Shadiq. Kelompok Syi’ah Ismailiyah
berkeyakinan bahwa kepemimpinan umat Islam setelah Imam Ja’far Shadiq adalah Ismail bin
Ja’far (anak lelaki tertua Imam Ja’far Shadiq). Gagasan tentang kepemimpinan Ismail bin Ja’far
menarik perhatian orang-orang Syiah di Iran, Irak, Syiria, Yaman, Bahrain, dan Afrika Utara.
Gerakan dalam rangka mendukung gagasan tersebut disebut As-Da’wah Al-Hadiyah (Dakwah
Hidayah). Pada tahun 297 H, kelompok Syi’ah Ismailiyah berhasil mendirikan pemerintahan
yang dipimpin dinasti Fatimiyyah di Afrika Utara. Inilah masa kejayaan Syi’ah Ismailiyyah 1.
Pada tahun 487 H terjadi perpecahan dalam komunitas Syi’ah Ismailiyah sehingga terbagi
menjadi 2 kelompok, yaitu Musta’lawiyah dan Nizariyyah. Musta’lawiyah berkuasa dalam
pemerintahan Fathimiyyah. Setelah Dinasti Fathimiyah runtuh pada tahun 567H. Kekuasaan
Musta’lawiyah dengan sendirinya memudar. Setelah jatuhnya Dinasti Fathimiyah, yang
sebagian besar merupakan Musta’lawiyah yang disebut kelompok Ismailiyah Thibi, menetap di
Yaman.
Selanjutnya kelompok Nizariyah, kelompok ini memiliki sejumlah pengikut yang besar.
Pada awalnya mereka tinggal di Iran, kemudian Khuzenta terus ke Utara ke pusat Iran,
Khurasan dan sampai di daerah Ma bina An-Nahrain, dan tersebar di daerah Rei dan Naishabur.
Mereka beraliran filsafat Ismailiyah dengan kombinasi Neo Platonisme, Tokoh penting dalam
aliran ini adalah Hassan Sabah yang mana ia memutuskan hubungan dengan kelompok

1
Ahmad Musonnif, “Pemikiran Syi’ah Ismailiyah tentang kalender Islam”, 2017, hal 2
Fathimiyyah dan mendirikan kerajaan Nizariyah sendiri yang pada akhirnya kerajaan tersebut
hanya bertahan kurang lebih 166 tahun2.
Setelah jatuhnya kerajaan Nizariyah, orang-orang Ismailiyah berpindah ke beberapa negara
salah satunya India. Ditempat barunya itu, mereka mengikuti jalan kehidupan seorang sufi. Di
India, mereka disebut sebagai Khojah yang merupakan sebutan untuk kelompok Syi’ah
Ismailiyah yang terbesar. Saat ini pengikut Syi’ah Ismailiyah berada di beberapa negara seperti
Kerman, Khurasan, Tajikistan, Afghanistan dll.

B. Konsep Imamah Syi’ah Ismailiyah


Para pengikut Syiah Ismailiyah bahwa Islam dibangun oleh tujuh pilar. Tujuh pilar
tersebut adalah iman, taharah, sholat, zakat, puasa, haji dan jihad. Berkaitan dengan pilar
atau rukun yang pertama, yaitu iman, Qadhi An-Nu’aman memerincinya sebagai berikut:
iman kepada Allah, tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, iman kepada
surga, iman kepada neraka, iman kepada hari kebangkitan, iman kepada hari pengadilan,
iman kepada para nabi dan rasul, iman kepada imam, percaya, mengetahui dan
membenarkan imam zaman.

Syarat-syarat seorang imam dalam pandangan Syiah Ismailiyah sebagai berikut:


a. Imam harus berasal dari keturunan Ali melalui perkawinannya dengan Fatimah
yang kemudian dikenal dengan Ahlu Bait.
b. Imam harus berdasarkan penunjukan atau nas. Berdasarkan hadith yang
diriwayatkan bukhori dan muslim bahwa antara rasul dan Ali ialah seperti Musa dan Harun.
c. Keimaman jatuh pada anak tertua. Syiah Ismailiyah menggariskan bahwa
seorang imam memperoleh keimanan dengan jalan wirathah, jadi, ayahnya yang menjadi
imam menunjuk anaknya yang paling tua.
d. Imam harus maksum (terjaga dari kesalahan dan dosa). Sebagaimana sekte
syiah lainnya, syiaah ismailiyah menggariskan bahwa seorang imam harus terjaga dari
salah dan dosa. Bahkan lebih dari itu, mereka berpendapat bahwa sungguhpun imam
berbuat salah, maka perbuatannya itu tidak salah.
e. Imam harus dijabat oleh seorang yang paling baik. Berbeda dengan zaidiyah,
syiah ismailiyah dan syiah imamiyah tidak membolehkan adanya imam mafdlul.
Disamping syarat-syarat diatas, syiah ismailiyah berpendapat bahwa seorang imam
harus mempunyai pengetahuan ilmu. Pengetahuan disini adalah ilmu lahir (eksotrik) dan

2
Ibid., hal 3
ilmu batin (esoterik). Dengan ilmu tersebut, seorang imam mengetahui hal-hal yang tidak
dapat diketahui orang biasa. Apa yang salah dalam pandangan manusia, belum tentu salah
dalam pandangan imam.

C. Ajaran-Ajaran Syi’ah Ismailiyah

Ajaran Syiah Ismailiyah pada dasarnya sama dengan kelompok syiah lainnya.
Perbedaaannya terletak pada konsep kemaksuman imam, adanya aspek batin pada setiap
yang lahir dan penolakannya terhadap Al-Mahdi Al-Muntadzar.Ada satu sekte dalam
Ismailiyah yang berpendapat bahwa Tuhan mengambil tempat dalam diri imam. Oleh
karena itu, imam harus disembah.
Menurut Ismailiyah, al-qur’an memiliki makna batin selain makna lahir. Dikatakan
bahwa segi-segi lahir atau tersurat dari syariat itu diperuntukkan bagi orang awam yang
kecerdasannya terbatas dan tidak mempunyai kesempurnaan rohani. Sedangkan yang
memiliki makna batin dan dapat menakwili adalah para imam.
Dengan prinsip takwil, Ismailiyah menakwilkan menurut hawa nafsu mereka
sendiri, misalnya ayat al-qur’an tentang puasa, mereka takwili dengan menahan diri dari
menyiarkan rahasia-rahasia imam. Dan ayat al-qur’an tentang haji ditakwilkan dengan
mengunjungi imam. Bahkan diantara mereka ada yang menggugurkan ibadah. Mereka itu
adalah yang telah mengenal imam dan telah mengetahui takwil melalui imam.
BAB III
Penutup

Kesimpulan
Syi’ah Ismailiyah merupakan pecahan aliran Syi’ah. Terbentuknya kelompok ini
disebabkan perbedaan tentang penerus Imam Ja’far Shadiq. Kelompok Syi’ah Ismailiyah
berkeyakinan bahwa kepemimpinan umat Islam setelah Imam Ja’far Shadiq adalah Ismail
bin Ja’far (anak lelaki tertua Imam Ja’far Shadiq).
Para pengikut Syiah Ismailiyah bahwa Islam dibangun oleh tujuh pilar. Tujuh
pilar tersebut adalah iman, taharah, sholat, zakat, puasa, haji dan jihad.

Ajaran Syiah Ismailiyah pada dasarnya sama dengan kelompok syiah lainnya.
Perbedaaannya terletak pada konsep kemaksuman imam, adanya aspek batin pada setiap
yang lahir dan penolakannya terhadap Al-Mahdi Al-Muntadzar.Ada satu sekte dalam
Ismailiyah yang berpendapat bahwa Tuhan mengambil tempat dalam diri imam. Oleh
karena itu, imam harus disembah.
Daftar Pustaka

digilib.uinsby.ac.id
digilib.uin-suka.ac.id
iain-tulungagung.ac.id
Ahmad Musonnif, “Pemikiran Syi’ah Ismailiyah tentang kalender Islam”, 2017
Tulungagung
Ahmad Atabik, “Melacak Historitas Syi’ah”, Kudus, 2015