Anda di halaman 1dari 9

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pemerintah mempunyai dasar pertimbangan yang kuat untuk memberikan


prioritas pada pembangunan sektor pertanian, karena sektor pertanian di Indonesia
sampai saat ini masih memegang peranan penting berdampingan dengan sektor
lainnya, khususnya industri dalam menggerakkan roda pembangunan. Beberapa
alasan yang mendasari pentingnya pertanian di Indonesia: (1) potensi sumber
dayanya yang besar dan beragam, (2) pangsa terhadap pendapatan nasional
cukup besar, (3) besarnya penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor
ini dan (4) menjadi basis pertumbuhan di pedesaan. Menurut Setiawan (2006:34)
“Walaupun sektor pertanian semakin berkurang kontribusinya terhadap pendapatan
negara, tetapi sebagian besar penduduk Indonesia masih menggantungkan hidupnya
pada sektor tersebut”.

Menurut Mubyarto (1989:16-17), bahwa pertanian memiliki arti luas dan


sempit yakni : Pertanian dalam arti luas mencakup pertanian rakyat, perkebunan,
kehutanan, peternakan dan perikanan. Sedangkan dalam arti sempit pertanian
diartikan sebagai pertanian rakyat, yaitu usaha pertanian keluarga dimana
diproduksi bahan makanan utama seperti beras, palawija (jagung, kacang-kacangan,
dan umbi-umbian) dan tanaman holtikultura yaitu sayur-mayur dan buah-buahan.

Berdasarkan data Survey Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) tahun 2006,


persentase penduduk pedesaan yang bekerja pada sektor pertanian mencapai
62,9% dengan pendapatan yang relatif rendah. Hal ini dikaitkan dengan factor
luas lahan yang dimiliki, kebijakan pemerintah dalam memberikan insentif kepada
petani dan sebagainya. Sejalan dengan hal tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS)
Kabupaten Cianjur tahun 2006 mencatat sebanyak 503.090 orang (57,46%)
penduduk di Kabupaten Cianjur bekerja dan menggantungkan hidupnya di bidang
pertanian.

Visi pembangunan pertanian nasional yaitu membangun petani melalui


bisnis pertanian yang modern, efisien, dan lestari yang terpadu dengan
pembangunan wilayah. Visi tersebut menjadi bahan acuan bagi pemerintah
Kabupaten Cianjur dalam menyusun kebijakan pembangunan di daerahnya
melalui suatu visi yang tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Cianjur (RTRW) periode 2005-2015 yaitu: ”Terwujudnya Kabupaten Cianjur
sebagai salah satu pusat agribisnis dan pariwisata andalan Jawa Barat di era
otonomi daerah”. Agribisnis merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan
pengusahaan dalam bidang pertanian yang berorientasi pasar dan ada nilai
tambah. Hal tersebut menjadi arahan bagi Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur dalam
membuat kebijakan pembangunan pertanian tahun 2007-2011 melalui misinya yaitu
“Terwujudnya Pembangunan Pertanian Berbasis Potensi Lokal yang Berwawasan
Lingkungan melalui Agrobisnis dan Agrowisata dalam Meningkatkan
Kesejahteraan Masyarakat”. Tujuan utamanya yaitu meningkatkan kesejahteraan
masyarakat terutama kelompok masyarakat yang mata pencahariannya berkaitan
langsung dengan sumberdaya pertanian (petani).

Peran sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi di Kabupaten


Cianjur sangat dominan, indikatornya adalah kontribusi sektor pertanian terhadap
2
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Tahun 2006 sebesar 47,73% dari total
PDRB, dengan rincian sumbangan sub sektor tanaman bahan makanan 35,29%,
sub sektor perkebunan 3,37%, sub sektor peternakan 6,69%, sub sektor perikanan
2,14% dan sub sektor kehutanan 0,24%. (Laporan Tahunan Dinas Pertanian
Kabupaten Cianjur Tahun 2007). Untuk mewujudkannya, sektor agribisnis menjadi
fokus pembangunan utama disamping sektor pariwisata, kerajinan rumah tangga,
industri manufaktur serta perdagangan dan jasa.

Desa Jambudipa merupakan salah satu sentra produksi padi pandan wangi
yang berada di wilayah administrasi Kecamatan Warungkondang Kabupaten
Cianjur. Sebagian besar daerahnya merupakan areal pertanian lahan basah (sawah),
sedangkan sisanya digunakan sebagai areal pemukiman dan sebagian kecilnya
adalah kebun. Hal ini terutama ditunjang oleh faktor fisik yang mendukung
terhadap usaha pertanian sawah terutama kondisi iklim (curah hujan dan suhu
udara), kondisi hidrologi, kondisi tanah serta kondisi geomorfologinya.

Sektor pertanian merupakan jenis mata pencaharian utama penduduk Desa


Jambudipa, jenis pertaniannya adalah pertanian lahan basah (sawah) yang
ditanami jenis padi pandan wangi. Berdasarkan data monografi tahun 2007,
jumlah Rumah Tangga Petani (RTP) di Desa Jambudipa berjumlah 803 RTP. Selain
bertani, mata pencaharian lainnya yaitu sebagai pengrajin terutama di daerah
gentur dan sebagai pedagang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel
1.1 di bawah ini:
Tabel 1.1
Komposisi Penduduk Desa Jambudipa
Berdasarkan Mata Pencaharian
No. Mata Pencaharian Jumlah %
1. Buruh Tani 853 45,79
2. Petani 145 7,78
3. Pedagang/pengusaha 187 10,04
4. Pengrajin 223 11,97
5. Pegawai Negeri Sipil 80 4,29
6. TNI/POLRI 2 0,11
7. Pensiunan 29 1,56
8. Penjahit 29 1,56
9. Montir 6 0,32
10. Sopir 60 3,22
11. Karyawan Swasta 177 9,50
12. Tukang Kayu 5 0,27
13. Tukang Batu 25 1,34
14. Guru Swasta 7 0,38
15 Ojek 35 1,88
Jumlah 1.863 100
Sumber: Monografi Desa Jambudipa, 2007

Tabel 1.1 di atas menunjukkan bahwa mata pencaharian penduduk di Desa


Jambudipa didominasi oleh sektor pertanian meskipun sebagian besar diantaranya
hanya sebagai buruh tani. Mata pencaharian selanjutnya yaitu sebagai pengrajin
rajutan dan sebagai pedagang, baik dengan cara membuka toko atau warung di
3
depan rumah maupun dengan berdagang di pasar Warungkondang yang lokasinya
dekat dengan desa Jambudipa.

Padi pandan wangi merupakan beras khas Cianjur yang berasal dari padi
bulu varietas lokal. Karena nasinya yang beraroma pandan, maka padi dan beras
ini sejak tahun 1973 terkenal dengan sebutan “Pandan Wangi”. Beras Pandan
Wangi sudah termasyur di Jawa Barat, Nasional bahkan di mancanegara. Harganya
pun cukup mahal yaitu pada kisaran Rp.7.500,00/kg, sehingga banyak dikonsumsi
terutama oleh kalangan masyarakat menengah ke atas. Jenis padi ini termasuk
varietas Javanica atau biasa dikenal padi bulu dengan ciri bulat, berbulu, dan tahan
rontok. Usia tanamnya 150-160 hari dengan tinggi 150 cm mempunyai keunggulan
rasa yang sangat enak, pulen dan beraroma wangi pandan. Varietas unggul lokal
pandan wangi cocok ditanam di dataran sedang dengan ketinggian ±700 mdpl dan
yang paling terkenal berasal dari Kecamatan Warungkondang dan sedikit di
Kecamatan Cugenang, Cibeber, Cianjur, Cilaku, Gekbrong dan Sukaresmi dengan
total areal 4.355 hektar. Uniknya apabila ditanam di luar daerah tersebut
rasanya berbeda dan aromanya tidak muncul. Hingga saat ini belum ada kualitas
padi pandan wangi yang dapat menandingi kualitas padi pandan wangi dari
daerah/kecamatan-kecamatan tersebut di atas. Luas sebaran padi Pandan Wangi
dari tahun 2001-2007 di Kabupaten Cianjur dapat dilihat pada table 1.2 berikut
Tabel 1.2
Luas Sebaran Padi Pandan Wangi Tahun 2001-2007 di Kabupaten Cianjur

Tahun Sebaran (Ha)


No. Kecamatan
2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007
1. Warungkondang 2.467 3.388 3.366 2.396 2.056 1.780 1.780
2. Gekbrong - - - - - 545 545
3. Cianjur 558 526 406 377 200 225 225
4. Cilaku 708 703 785 352 150 140 140
5. Cibeber 1.943 1.890 2.113 1.193 1.100 1.020 1.020
6. Cugenang 875 990 1.134 588 641 540 540
7. Sukaresmi 152 116 168 172 115 105 105
Jumlah 6.703 7.613 8.062 5.078 4.262 4.355 4.355
Sumber: Laporan Tahunan Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur, 2007

Dari tabel 1.2 di atas, Kecamatan Warungkondang merupakan daerah


penghasil padi pandan wangi terbesar di Kabupaten Cianjur selama tahun 2001-
2007 yang sebagian besar dihasilkan dari Desa Jambudipa dengan luas tanam
yaitu sebanyak 127,9 Ha pada tahun 2007 (monografi Desa Jambudipa). Selama
bertahun-tahun Desa ini dikenal sebagai sentra produksi padi pandan wangi dan
merupakan penyumbang produksi padi pandan wangi terbesar di Kecamatan
Warungkondang Kabupaten Cianjur. Hal tersebut dapat menjadi potensi
terhadap peningkatan kesejahteraan penduduknya, terutama petani sebagai
pelaku utama pada sektor ini.

Sasaran pertanian ada dua yaitu sasaran sebelum panen atau sasaran pra
panen dan sasaran pasca panen. Sasaran pra panen yaitu hasil pertanian setinggi-
tingginya. Sasaran ini merupakan sasaran tahap pertama atau sasaran fisik.
Sasaran tahapan kedua yaitu sasaran ekonomis atau sasaran akhir yaitu
pendapatan atau keuntungan yang sebesar-besarnya tiap satuan lahan yang
diusahakan, karena hasil panen tinggi belum tentu memberikan keuntungan
atau pendapatan yang tinggi pula.

Tingkat pendapatan dapat menunjukkan tinggi rendahnya tingkat


kesejahteraan masyarakat tertentu. Hal ini sesuai dengan permasalahan yang
terjadi di Indonesia yaitu masih rendahnya tingkat pendapatan sebagian besar
4
petani. Usaha untuk meningkatkan pendapatan petani dari lahan pertaniannya
merupakan salah satu tujuan usaha pertanian. Tinggi rendahnya pendapatan petani
ditentukan oleh beberapa hal diantaranya luas lahan garapan, produktivitas lahan
melalui pengolahan lahan, pemupukan, pengairan dan penerapan pola tanaman.
Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan Arsyad (1995:25) berikut ini:

Besar kecilnya pendapatan petani dari usaha taninya terutama ditentukan


oleh luas lahan garapan. Kecuali itu, faktor lain yang menentukan diantaranya
produktivitas dan kesuburan tanah. Jenis komoditas yang diusahakan serta tingkat
penerapan teknologi pertanian.

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka penulis tertarik


untuk melakukan penelitian dengan judul “Tingkat kesejahteraan petani padi
pandan wangi di Desa Jambudipa Kecamatan Warungkondang Kabupaten
Cianjur”, judul tersebut berkaitan erat dengan keberadaan padi pandan wangi di
Desa Jambudipa Kecamatan Warungkondang kabupaten Cianjur propinsi Jawa
Barat, yang menurut penulis perlu dipertahankan eksistensinya bahkan
dikembangkan potensinya sehingga dapat menjadi daya tarik dan ciri khas bagi
Kabupaten Cianjur

B. Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini, penulis membatasi masalah mengenai tingkat


kesejahteraan petani padi pandan wangi di Desa Jambudipa Kecamatan
Warungkondang Kabupaten Cianjur dengan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimanakah karakteristik petani padi pandan wangi di Desa Jambudipa


Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur?

2. Bagaimanakah klasifikasi tingkat kesejahteraan petani padi pandan wangi di


Desa Jambudipa Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur?

3. Bagaimanakah hubungan antara luas lahan garapan dengan tingkat kesejahteraan


petani padi pandan wangi di Desa Jambudipa Kecamatan Warungkondang
Kabupaten Cianjur?

C. Definisi Operasional
5
Penelitian ini berjudul “Tingkat Kesejahteraan Petani Padi Pandan Wangi
di Desa Jambudipa Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur”. Untuk
mempermudah pembahasan dan sekaligus menghindari kesalahpahaman maka
perlu penjelasan beberapa konsep yang terkandung di dalam tulisan ini:

1. Kesejahteraan
Berdasarkan kamus Webster’s New International Dictionary (dalam Solih,
1983:14) yakni “menggambarkan situasi kerja yang menunjukkan kesuksesan,
kemakmuran dan meliputi juga kebahagiaan karena terdapatnya nasib yang
baik”. Dalam penelitian ini, menggunakan indikator kesejahteraan menurut
BPS tahun 2006 dan menurut Shaleh C, yaitu pendapatan, pola konsumsi rumah
tangga, kesehatan (dalam hal ini yaitu tempat pengobatan), ketenagakerjaan
(dalam hal ini yaitu mata pencaharian sampingan), serta kondisi perumahan
(dalam hal ini yaitu kondisi fisik rumah).

2. Petani
Petani merupakan penduduk yang mata pencahariannya ada pada bidang
pemanfaatan dan pengolahan lahan pertanian. Dalam penelitian ini lebih
diarahkan pada petani padi pandan wangi di Desa Jambudipa Kecamatan
Warungkondang yang memiliki lahan garapan sawah, baik milik sendiri
maupun menyewa dari orang lain.

3. Padi pandan wangi


Padi pandan wangi adalah salah satu jenis padi yang termasuk varietas
Javanica dengan ciri bulat, berbulu, dan tahan rontok. Padi jenis ini dikenal
nasinya pulen, enak, dan wangi sehingga harganya relatif mahal. Usia tanamnya
150-160 hari dengan tinggi 150 centimeter.

4. Desa Jambudipa
Desa Jambudipa merupakan salah satu Desa yang berada di wilayah
administrasi Kecamatan Warungkondang kabupaten Cianjur Propinsi Jawa
Barat. Sebagian besar daerahnya digunakan untuk usaha pertanian lahan basah
dengan jenis komoditas yang terkenal yaitu padi pandan wangi.

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dari
penelitian ini yaitu:

1. Mengetahui karakteristik petani padi pandan wangi di Desa Jambudipa


Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur?

2. Mengetahui klasifikasi tingkat kesejahteraan petani padi pandan wangi di


Desa Jambudipa Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur?

3. Mengetahui hubungan antara luas lahan garapan dengan tingkat kesejahteraan


petani padi pandan wangi di Desa Jambudipa Kecamatan Warungkondang
Kabupaten Cianjur?

Secara umum, beras dari padi Pandan Wangi memiiki harga yang lebih mahal di
tingkat konsumen, dapat mencapai 4 kali lipat harga beras biasa Padi Pandan Wangi
6
berumur tanam 150-165 hari, tinggi tanamannya mencapai 150-170
cm, gabahnya bulat/gemuk berperut, bermutu, tahan rontok, berat 1000 butir, gabah 300
gr, rasa nasi enak, dan beraroma pandan. Adapun, kadar amilasenya 20%. Potensi hasilnya
adalah 6-7 Ton/Ha malai kering pungut.” Padi seperti ini punya keunggulan seperti:
rasanya enak, pulen, dan beraroma wangi seperti pandan. Karena rasanya yang enak, maka
harga berasnya bisa dua kali lebih mahal daripada biasanya.

Padi varietas ini baik ditanam pada ketinggian 700 m dpl, dan yang paling terkenal
adalah yang ditanamdi 7 wilayah Kecamatan yang ada di Cianjur diantaranya adalah
Warungkondang, Cugenang, Cibeber, Gekbrong, Cilaku, Campaka dan Cianjur, Jawa
Barat. Dalam menanam Padi Pandan Wangi, diperlukan iklim yang baik, kalau tidak,
hasilnya buruk.

Beras Pandan Wangi telah dimurnikan selama lima musim tanam oleh Dr. Aan
A. Daradjat dan Ir. Suwito, MS. Ahli peneliti pada tahun 2001, atas dasar usulan dari
Pemerintah Kabupaten Cianjur, Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur, Balai Penelitian dan
Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura ( BPSB TPH ) Provinsi Jawa Barat
serta Balai Penelitian Padi Departemen Pertanian.

Beras Pandan Wangi telah memiliki sertifikat Varietas lokal Cianjur yang dilepas
dengan Surat keputusan Menteri Pertanian Nomor : 163 / Kepts / LB.240 / 3 /
2004. sebagai varietas unggul lokal dengan nama PANDAN WANGI.
DISKRIPSI PADI PANDAN WANGI
Nomor : 163 / Kpts / LB. 240 / 3 / 2004
Tanggal : 17 Maret 2004

Asal : Populasi Varietas lokal Pandan Wangi Cianjur


Nomor : Balitpa 1644
Golongan : Padi bulu
Umur Tnaman : 155 hari
Bentuk Tanaman : Kompak
Tinggi tanaman : 168 cm
Anakan produktif : 15 sampai 18 batang
Warna helai daun : Tidak berwarna
Muka daum : Hijau
Bentuk gabah : Bulat
Warna gabah : Kuning mas
Tekstur nasi : Pulen
Bobot 1000 butir : 29,7 grams
Kadar Amilosa : 24,6 %
Potensi Hasil : 7,4 ton GKG/Ha
Rata-rata Hasil : 5,7 ton GKG/Ha

Padi Pandan Wangi telah memiliki sertifikat Varietas local Cianjur yang dilepas dengan
Surat keputusan Menteri Pertanian Nomor : 163 / Kepts / LB.240 / 3 / 2004. sebagai
varietas unggul local dengan nama PANDAN WANGI

Kekhasan yang menjadi keunggulan Beras Organik Pandan Wangi Cianjur sejak tahun
1973 ini, ada pada aroma, rasa, warna dan bentuknya yang unik dan tidak dimiliki oleh
varietas padi lainnya.

Beras Organik Pandan Wangi Cianjur memiliki keunggulan spesifik dengan ciri sebagai
berikut :
7

1. Bulir berasnya bulat dan panjang, serta termasuk varietas Javonica atau biasa dikenal
sebagai padi bulu.
2. Harum wanginya khas wangi pandan, namun sama sekali bukan karena diberi daun
pandan.
3. Warna berasnya putih segar, tidak kusam, dan pada bagian tengah bulir beras terdapat
titik kapur yang berwarna keputihan.
4. Rasa nasinya yang sangat istimewa, enak, pulen, gurih dan beraroma wangi pandan.

Varietas unggulan lokal Pandanwangi cocok ditanam di dataran sedang dengan ketinggian
700 m DPL dan yang paling terkenal dari sebagian area wilayah tanam padi di daerah
Kecamatan Warungkondang, Cugenang, Cibeber, Cianjur, Cilaku dan Kecamatan
Campaka

Uniknya apabila di tanam di luar daerah tersebut rasanya akan terasa berbeda dan aromanya
tidak muncul. Hingga saat ini belum ada kualitas pandanwangi yang dapat menandingi
kualitas pandanwangi dari daerah di luar sentra produksi area tanam Pandan Wangi diatas.

Achmad Suryana, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen


Pertanian, pernah menyampaikan bahwa bibit padi varietas unggul Pandan Wangi bisa saja
ditanam di luar Cianjur. Namun, soal rasa, aroma, kepulenan, dan ciri lain berbeda.

Jadi, beras Pandan Wangi khas Cianjur sesungguhnya tercipta karena paduan faktor
genetik dan lingkungan. Karenanya, tidaklah mengherankan apabila karena rasanya yang
sangat khas itu, maka harga Beras Organik Pandan Wangi Cianjur cukup mahal, bisa dua
kali lipat dari harga beras biasa. Begitu juga, tidaklah mengherankan apabila para
pemerhati budidaya beras organik menyatakan bahwa Beras Orgaik Pandan Wangi Cianjur
adalah beras organik terbaik di dunia.

Beras Pandan Wangi Cianjur

Pengertian Program Panca Usaha Tani Dan Sapta Usaha Tani Dalam Pertanian
1. Penggunaan Bibit ( Benih ) Unggul memakai benih yang berkualitas merupakan sebuah
konsep Pertanian yang diharapkan akan menjadi awal sistem pertanian yang baik. Ini
8
merupakan sebuah upaya menjamin hasil melimpah di masa panen mendatang. Khusus untuk
tata cara tanam pandan wangi sebaiknya harus diperhatikan juga adalah produktifitas dan
anakannya yang cukup rendah namun hasil berasnya serta nasinya cukup pulen. Untuk itu
yang perlu diperhatikan diantaranya adalah sebagai berikut :
1) Sistem tanam dengan Jajar Legowo 2:1
2) Karena anakanya rendah maka tidak disarankan untuk tanam Sistem of Rice Intensifikation
(SRI) , alangkah baiknya untuk tanam khusus pandan wangi 6 rumpum per tanam karena
anakannya 1-3 maka untuk mencapai produksi yang diinginkan, di Cianjur produksi
maksimal padi pandan wangi cukup rendah 6,5 s/d 6,7 ton per ha.
2. Pengolahan tanah yang baik memastikan tanah yang akan ditanami itu baik merupakan sebuah
langkah pertanian yang wajib dilakukan karena tanah harus mengandung unsur hara lengkap
agar semua bisa hidup dengan maksimal dan menghasilkan panen melimpah.
3. Pemilihan Pupuk Yang Lengkap dan Baik Sistem Pemupukan Merupakanb Langkah Yang
bertujuan untuk menggantikan Aneka Unsur hara yang Sudah hilang Karena Diakibatkan panen,
Sistem volatilisasi, Sistem pencucian, fiksasi, dan Anake Lainya.
4. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Menurut Saya ini Merupakan Salah Satu hal Penting
Dalam Proses Bisnis Pertanian. Masalah Pengendalian Hama Menjadi Sebuah Problem Yang
Seolah Tak Kunjung Henti. Mungkin Akan Lebih Bijak Kalau Petani Modern Tidak
Menggunakan bahan Kimia Obat Untuk Menghalau hama karena Selain itu Tidak Efektif Hal
ini. Juga Akan berpengaruh Terhadap Kesehatan Kita. Cobalah Untuk Menghalau Penyakit
Denagn Sistem Mekanis, Ekologi Atau sanitasi Lingkungan. Biarkan Alam Bicara
5. Pengairan Atau Irigasi Yang baik Sistem Irigasi menjadi Sangat Penting dalam Dunia Pertanian
Karena air Merupakan Sumber Kehidupan Tanaman. Nah Anda Bisa Menggunakan Sistem
Irigasi pengairan air permukaan, pengairan air bawah tanah, pengairan pompa dan pengairan
tambak. Nah Untuk Sapta Usaha Tani Ditambah Poin Nmer 6 Dan 7 Dibawah ini
6. Pasca Panen ( Setelah Panen )
7. Pemasaran Hasil Panen.

NERACA
Cianjur - Butir-butir beras itu berbentuk bulat panjang. Pada bagian tengah butir-butir beras terdapat
titik kapur yang berwarna keputihan. Bila dicium baunya terasa wangi, seperti wangi pandan. Itulah
beras Pandan Wangi, bukan wangi karena aroma daun pandan. Beras Pandan Wangi merupakan salah
satu ciri khas yang dimiliki kota Cianjur.
Padi Pandan Wangi adalah salah satu varietas padi lokal khas Cianjur,yang ditanam di daerah
Kecamatan Cibeber, Desa Cisalak/Mayak. Pada tahun 1970-an dikenalkan oleh seorang pedagang beras
dari Warungkondang bernama H. Jalal ke sebuah restoran di Jakarta. Karena keharumannya, saat itu
juga dikenal dengan nama Beras Harum.
Pada tahun 1980-an, beras Pandan Wangi mulai dikenal dipasaran di Jakarta, kualitas beras
terbaik dengan warna serta rasa yang sempurna dengan aromanya memberikan citra rasa tersendiri yang
tidak mungkin ditemukan dari jenis beras lain di Indonesia. Pada umumnya, beras Pandan Wangi sangat
disukai oleh konsumen menengah ke atas, terutama para pejabat istana setara menteri, sehingga diberi
nama Beras Menteri. Karena harga berasnya cukup mahal bisa dua kali lipat harga beras biasa.
Perkembangan Terhambat
Penanaman padi Pandan Wangi memerlukan persyaratan iklim, ketinggian tempat, dan jenis
tanah yang sangat lokalitas, sehingga bagi daerah-daerah lain pertumbuhan dan hasilnya kurang baik.
Selain itu, karena perkembangan kebutuhan beras sangat tinggi, dan program peningkatan produksi
beras Nasional terus dipicu, perkembangan padi Pandan Wangi terhambat, dan bahkan terus berkurang
mulai tahun 2000 hingga sekarang.
Walaupun keberadaannya sangat terbatas, masih bisa mempertahankan nama Cianjur di pasaran beras
Nasional, sehingga banyak yang menggunakan nama Pandan Wangi sebagai merek dagang beras. Lahan
pertaniannya yang cukup luas hampir di semua daerah di Cianjur terutama pedesaan, sehingga dapat
ditemukan dengan mudah di berbagai tempat yang menjual bahan pangan atau suvenir sekalipun. Lahan
terluas ada di daerah Warungkondang.
Mengingat usia persemaian lebih lama dari padi jenis varietas unggul nasional, seperti Ciherang
atau IR-64, serta masa panen baru bisa dilakukan 145-155 hari. Praktis dalam setahun tanaman padi
Pandan Wangi hanya bisa ditanam dua kali dalam setahun. Proses budidaya padi Pandan Wangi sedikit
berbeda dengan varietas lain, misalnya dalam hal pemupukan. Dosis pupuk yang digunakan tidak boleh
terlalu banyak kandungan natrium (N)-nya karena batang bisa roboh akibat ciri tanamannya yang
memang tinggi hingga 150 centimeter.
Penggunaan pupuk yang dianjurkan hanya 200-250 kg per hektar, dengan perincian urea sebanyak 100-
150 kg, SP-36 (75 kg), dan selebihnya KCl. Pemupukan dasar dilakukan pada umur 10-15 hari setelah
tanam (hst), pemupukan susulan pertama usia 25-30 hst, dan pemupukan susulan kedua usia 62-67 hst.
Jarak tanam diatur 30 cm x 30 cm atau 35 cm x 35 cm. Pengaturan air dilaksanakan pada usia 25-30 hst
9
sebagai pengeringan pertama, 60 -70 hst pada pengeringan kedua, dan umur 130 hst pengeringan ketiga
menjelang panen. Penggunaan pestisida juga dijauhi.
Keluhan Petani
Namun, dibalik itu tetap ada keluhan dari sisi petani, yaitu ongkos produksinya tinggi dan
hanya bisa menanam dua kali setahun, petani padi Pandan Wangi Cianjur tetap di posisi tawar rendah,
terutama ditampung oleh para tengkulak. Harga gabah kering giling (GKG) Pandan Wangi di tingkat
petani sulit naik, meski kebutuhan meningkat dan harga di pasaran terus melambung. Melihat umur padi
lebih lama, biaya produksi khususnya perawatan juga lebih besar.
Selain itu, luas lahan sawah produktif yang potensial ditanami padi pandan wangi seperti di
kawasan Warungkondang dan Gekbrong Kabupaten Cianjur, akhir akhir ini mulai terbatas sehingga
dikhawatirkan akan mengancam keberadaan padi yang menjadi varietas unggul khas Cianjur. Salah satu
upaya melestarikan dan melindungi padi Pandan Wangi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab)
Cianjur akan membeli lahan milik perorangan warga supaya bisa tetap dipertahankan sebagai lahan
yang ditanami Pandan Wangi.
Bupati kota Cianjur Tjetjep Muchtar Sholeh mengatakan, areal sawah yang bisa ditanami
Pandan Wangi seluas 5. 000 hektar, tetapi hanya 20% yang dapat ditanami dari luasan tersebut. Produksi
rata-rata per hektar dalam sekali panen bisa mencapai 6 hingga 7 ton beras Pandan Wangi. Pihaknya
sedang memproteksi lahan untuk sawah bagi padi jenis Pandan Wangi agar tidak dialihfungsikan.
"Pemkab punya konsep ke depan bahwa area sawah Pandan Wangi yang ada di Desa Warungkondang
akan dipertahankan, paling tidak nanti akan jadi aset daerah, sebab kalau tidak dibeli oleh Pemkab maka
lahan ini akan habis, " jelasnya saat ditemui wartawan, akhir pekan kemarin.
Sistem Resi Gudang
Keberadaan Sistem Resi Gudang (SRG) di Kabupaten Cianjur juga diharapkan bisa menjadi
sarana perlindungan padi Pandan Wangi. Sebab, SRG merupakan salah satu instrumen penting dan
efektif dalam sistem pembayaran perdagangan. Manfaat yang diperoleh dengan adanya SRG bagi petani
antara lain bisa mendapatkan harga lebih baik dengan tunda jual ketika harga rendah. Kemudian
mendapatkan kepastian mutu dan kuantitas, karena komoditi yang disimpan di gudang diuji LPK
(penguji mutu sesuai dengan standar nasional Indonesia).
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan pun menginginkan padi Pandan Wangi sebagai ikon unggulan khas
Kabupaten Cianjur bisa menjadi produk nasional dan internasional. Sebab, padi Pandan Wangi
merupakan varietas unggulan yang tidak sembarang tempat bisa ditanam dan tumbuh. Menurut dia,
beras Pandan Wangi memiliki pencitraan yang luar biasa yang akan membantu ekspor Indonesia
meningkat.
Dirinya akan mencari jalan keluar untuk membantu meningkatkan produksi beras Pandan
Wangi. Salah satunya bekerja sama mengadakan penelitian dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk
mempercepat masa panen atau memperluas lahan pertanian. Karena keberadaan beras Pandan Wangi
sebagai produk daerah harus dipertahankan.
Lestarikan Pandan Wangi
Upaya melestarikan Pandan Wangi ini harus berangkat dari bawah terlebih dahulu. Selain
memberikan pemahaman pada pihak petaninya juga memberikan jaminan yang baik yaitu dengan
meningkatkan kesejahteraan petaninya, dengan meningkatkan harga berasnya sehingga petani bisa
senang menanam Pandan Wangi. Sangatlah penting memperbaiki atau mengontrol pasar padanwangi
ini. Terutama, mencegah rusaknya pasar beras Pandan Wangi karena banyak melakukan labelisasi pada
sejumlah produk beras lainnya, maka beras ini harus dijamin mutunya 100% asli.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memperbaiki segi usaha tani maupun tata niaga Pandan
Wangi. Pertama, petani padi Pandan Wangi harus membuka diri untuk menerima dan mencari masukan
dari instansi terkait dan Pemerintah terutama tentang teknik budidaya yang efisien dan efektif, tujuannya
agar dapat menghemat biaya tunai yang dikeluarkan.
Kedua, pemerintah harus menggalakkan dan mengembangkan kembali pembentukan
kelompok tani dengan jalinan mitra usaha antar petani, dalam hal ini kelompok tani, dengan salah satu
pedagang besar. Setelah itu, Pemda harus memberikan rangsangan berupa insentif kepada petani,
kelompok tani, atau gabungan kelompok tani yang berprestasi dalam berusahatani padi Pandan Wangi
baik dari aspek budidaya dan tataniaganya, sehingga banyak petani yang ingin berusahatani pandan
wangi.
Ketiga, Pihak pemerintah harus mendorong para petani yang sudah tergabung dalam suatu
kelompok tani dan Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) untuk melakukan fungsi-fungsi tataniaga,
sehingga dapat meningkatkan nilai jual produknya.