Anda di halaman 1dari 8

Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 1, 2 (Desember 2016): 91-98

KAJIAN HERMENEUTIKA
DALAM ‘ULU<<>M AL-QUR’A>N
Mokhamad Sukron
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Alquran Miftahul Huda Rawalo
Email: musyakir.awwy@gmail.com
___________________________

Abstrak
\
Tulisan ini berusaha untuk menunjukan bahwa Hermeneutika sebagai tawaran dalam penafsiran Alquran, telah ada
dalam „Ulu>m al-Qur‟a>n. Hermeneutika merupakan teori hasil dari barat dalam mengungakap teks yang mempunyai
makna dan maksud tertentu. Teoritersebut telah digunakan dalamkajian Bible yang hasilkesimpulannyaialah Bible
itutidakasli, lalubagaimanadenganAlquransebagaiobjekkajianHermeneutika yang ditawarkanolehpemikirbarat.
Peneiitianinimenggunakanmetode deskriptif-analisis untuk menunjukan kedudukan dan fungsi „Ulu>mal-Qura>n serta
Hermeneutika. Sehingga penelitan ini mampu menjawab bagaimana fungsinya „Ulu>m al-Qur‟a>n sebagai pokok
dalam menafsirkan Alquran. Hasil dari penelitian ini ialah bahwa kajian „Ulu>m al-Qur‟a>n dapat membuktikan
bahwa Alquran adalah Kalam Allah Swt, yang (lafazh dan maknanya) diturunkan kepada Rasulullah Saw dengan
perantara malaikat Jibril yang diriwayatkan secara mutawatir, diawali dengan surat al-Fatihah diakhiri dengan surat
al-Na>s yang dijamin keasliannya oleh Allah Swt, berbeda dengan Bible ataupun Injil yang telah banyak mengalami
tahrif (perubahan secara fundamental), maka Hermeneutika bukan merupakan tawaran baru, melainkan mengupas
kembali dan sadar atas metode salaf dan khalaf yang merupakan inti dari kajian Hermeneutik tersebut, walaupun di
masa itu tidak diistilahkanHermeneutik yang dipakai tetapi tafsir ataupun takwil.

Kata Kunci:
al-Qur‟an; Teori-Teori Hermeneutik, „Ulūm al-Qur‟ān.
________________________
Abstract

This article attempts to show that hermeneutics as an approach in understanding the Qur‟an has been available in
Ulum al-Qur‟an (the science of the Qur‟an). Hermeneutics is the art of interpreting the text. It is a theory imported
from the West and has been implemented mostly to interpret the Bible. Many scholars who implemented this
approach to investigate the Bible showed that Bible is no longer original and many alteration have been made to it.
Thus, how could this approach be implemented to understand the Qur‟an? Will it reduce the divinity of the Qur‟an?
This article shows that In fact if we look at the meaning of the hermeneutics as stated above, the procedural aspects
in understanding the Qur‟an have been available in ulumul Qur‟an. The science of the Qur‟an has proven that the
Qur‟an is sacred and divine. It is revealed from God to Muhammad through Jibril. Thus, there is no question of
putting the Qur‟an less divine if we implement hermeneutical approach. It is just a matter of the term which
previously unrecognised, but the practice has been implemented in ulum al-Qur‟an long ago.

Keywords: Hermeneutics; Ulu>m al-Qur‟an; Understanding

________________________

A. PENDAHULUAN Alquran sungguh tanpa batas, seiring dengan


Sebagai manifestasi keimanannya, seorang kekuatan magnet Alquran sebagai Kalam
muslim wajib mematuhi dan menjalankan Allah Swt, dalam tradisi Arab hal tersebut
berbagai aturan1. Membicarakan tentang teks menjadi prioritas sedemikian rupa terhadap
teks Alquran dan menjadikan interpretasi
1
Utami, “Community In Dividing The Inheritance sebagai metode. Sesungguhhnya kajian
Amicably (Study in Palangka Raya City Jekan Raya konsep teks termasuk pada wilayah hakikat
Districts),” Jurnal Studi Agama Dan Masyarakat 10, no. dan sifat Alquran sebagai teks bahasa. Ini
2 (2016): 275.
Mokhamad Sukron Tekstualitas Alquran (Analisis Teks Alquran: Antara
Pendekatan Hermeneutik dan „Ulūm Al-Qur‟ān)

berarti bahwa mengkaji teks Alquran tidak (language). Sebagai sebuah produk
terlepas pada pemahaman konsep utuh komunikasi Tuhan, Alquran mengundang
Alquran sebagai al-Kita>b Allah yang banyak pemikir untuk mengkritik dan bahkan
berbahasa Arab dan berbicara tentang bahasa, mendekonstruksi. Setidaknya dalam studi
setidaknya masuk ranah kesusastraan. Apabila banyak kalangan, Alquran ditinjau dari dua
sudah masuk kedalam wilayah kesusastraan, aspek, yaitu pembahasan tentang Alquran
ranah kajiannya akan melahirkan tradisi ditinjau dari teks dan Alquran ditinjau dari
kesadaran ilmiah dan mengatasi dominasi konteks. Hal inilah yang para pemikir Islam
kepentingan ideologis yang banyak dipegang modern maupun Orientalis menawarkan
oleh beberapa kalangan yang menyatakan Kaidah Hermeneutika sebagai alat penafsiran
bahwa kajian terhadap teks Alquran sudah terhadap teks dan konteks sosial budaya
matang dan usai.2 masyarakat Arab. Sehingga dapat mengetahui
Para nabi dan rasul, dalam dakwah mereka apakah benar Alquran sebagai teks yang
pada dasarnya menggunakan bahasa kaumnya disampaikan Rasul melalui malaikat Jibril dan
masing-masing3. Sebagai kitab Suci, Alquran apa maksud Allah Swt, dalam teks tersebut
selalu menarik untuk menjadi bahan kajian terhadap respon dari kondisi masyarakat Arab
sebagaimana posisi kitab-kitab lain terdahulu pada masa itu.
yang telah banyak dikaji oleh berbagai peneliti
dan ilmuwan dari penganutnya. Dalam kontek B. HASIL DAN PEMBAHASAN
sejarah keberagaman agama lain kitab suci 1. Tekstualitas Alquran
(scripture) telah menjadi bagian dari kajian Dalam konteks historisitas Alquran,
dekonstrusksi, seperti kajian dalam Bible memang sangat manusiawi jika kita berpikir
(Bibel dalam bahasa latin) pada abad kedua bahwa Alquran adalah sebuah produk bahasa,
SM, kajian kitab suci pada Weda, Zoroaster, budaya, dan sejarah. Di mana Alquran
teks suci Budha, Kanon Tibet, sampai dengan diturunkan di Jazirah Arab, sudah barang tentu
kitab suci Kristen (Bibel, Injil) maupun mau tidak mau harus mengikuti atau
tulisan-tulisan kanonik Yahudi (Taurat) yang menyesuaikan dengan bahasa setempat.
percaya Allah sebagai Tuhan mereka, Some Sedangkan bahasa sendiri adalah salah aspek
people believed that their Supreme Deity, pembentuk budaya suatu kaum, dan dalam hal
Allah (whose name simply means “God”) 4. ini adalah kaum Arab sehingga Alquran yang
begitu pula di kalangan Muslim yang akan mengubah kebudayaan Arab Jahiliyah
menyepakati bahwa Alquran sebagai kitab menjadi budaya Arab pada khususnya dan
suci yang mengandung teks (Nash) sebagai budaya-budaya dunia pada umumnya yang
komunikasi Tuhan kepada manusia melalui sesuai dengan syari‟at Islam. Kemudian,
perantara Rasul-Nya. Terlepas dari ranah ketika kebudayaan bersentuhan dengan waktu,
kajian yang telah disebutkan di atas, tentu di mana Alquran diturunkan secara berangsur-
diperlukan pemahaman komprehensif tentang angsur dan melewati masa atau periode, maka
Alquran itu sendiri. Alquran sebagai sebuah ia akan menjadi bagian dari sejarah. Dan
produk komunikasi Tuhan kepada manusia Rasulullah Saw. telah memperingatkan bahwa
melalui Rasul dengan menggunakan simbol orang yang menafsirkan Alquran secara
yang bisa dipahami manusia, yaitu bahasa sembarangan berarti telah memesan tempat di
neraka5.
2
Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-Qur`an Dengan demikian, memahami teks
Kritik Terhadap Ulum al-Qur`an, (Yogyakarta : LKiS, Alquran harus bersumber dari fakta bahwa
2002), terj, 50.
3 teks Alquran terbentuk dari peradaban Arab
Casram, “Membangun Sikap Toleransi
Beragama,” Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama Dan Sosial
5
Budaya 1, no. 2 (2016): 194. Rosihon Anwar, Dadang Darmawan, and Cucu
4
Fatmawati, “Inter-Religious Relations In The Setiawan, “Kajian Kitab Tafsir Dalam Jaringan
Period Of Prophet Muhammad,” Al-Albab 5, no. 2 Pesantren Di Jawa Barat,” Wawasan: Jurnal Ilmiah
(2016): 93. Agama Dan Sosial Budaya 1, no. 1 (2016): 57.

92 Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 1, 2 (Desember 2016): 91-98


Mokhamad Sukron Tekstualitas Alquran (Analisis Teks Alquran: Antara
Pendekatan Hermeneutik dan „Ulūm Al-Qur‟ān)

pada satu sisi dan di sisi lain berangkat pula akan memainkan peranan penting dalam
dari konsep-konsep yang diajukan teks itu sejarah kesadaran Islam.8
sendiri mengenai dirinya. Adanya pemisahan
antara konsep yang dimunculkan teks Nashr Hamid Abu Zaid menyatakan bahwa
mengenai dirinya serta fakta teks yang bahasa, sebagaimana pendapatnya Mu‟tazilah,
dibentuk oleh peradaban yang bersifat adalah sebuah kesepakatan manusia, di mana
arbitrer, tidak bisa dihindari. Sehingga tidak bahasa merefleksikan kesepakatan sosial
bisa dipungkiri bahwa teks merupakan hasil tentang hubungan antara suara satu kata
produk budaya. Dengan maksud lain bahwa dengan maknanya. Bahasa tidak merujuk
ketika Allah Swt menurunkan wahyu kepada secara langsung kepada realitas aktual, namun
Nabi Muhammad Saw dengan memilih sistem realitas dipahami, dikonseptualisasi, dan
bahasa tertentu, dalam hal ini adalah bahasa disimbolisasi melalui satu sistem suara. Oleh
Arab. Pemilihan bahasa tersebut tidak serta- karena itu, ada banyak kata yang tidak
merta berawal dari ruang kosong tanpa budaya merujuk pada realitas aktual, seperti suara
ataupun masyarakat, sebab bahasa adalah burung. Hubungan antara penanda (signifier)
perangkat sosial yang paling penting di dunia dan pertanda (signified) ditentukan murni oleh
dan berbicara tentang bahasa, tidak lepas dari sebuah kesepakatan manusia. Dengan begitu,
konteks budaya. Wilayah kajian pengiriman tidak ada yang ilahiyah dalam hubungan ini.
teks (Tuhan) sudah tertutup, tetapi masih Sehingga beliau sepakat dengan apa yang
terbuka kajian ilmiah terhadap teks yang dikemukakan Mu‟tazilah bahwa Alquran
menjadi bagian dari realitas dan budaya.6 makhluq (dicipitakan) dan tentu saja ia tidak
Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan abadi.9
teknologi informasi yang sedemikian cepat Namun, sebagai manusia juga kita harus
tidak saja mengubah cara orang sadar bahwa kemampuan untuk berpikir
berkomunikasi dan bekerja, namun lebih jauh terhadap suatu fenomena adalah terbatas dan
lagi telah membuat alam persaingan baru.7 terkadang fenomena tersebut sulit untuk kita
Bahkan Arkoun lebih menekankan peran analogikan. Begitu juga tentang tekstualitas
pentingnya pembacaan sejarah terhadap Alquran kita hanya bisa menyentuh area
pemahaman teks Alquran dengan fenomena dan tidak bisa menyentuh area
menggunakan pendekatan linguistik, seperti nomena dari al-Qur‟an. Jika kita telusuri sejak
yang beliau nyatakan bahwa: awal adanya manusia, kita tidak akan
menyangkal bahwa semua hal yang dimiliki
Alih-alih memulai dengan fakta-fakta yang oleh manusia adalah dari Allah Swt. Hal itu
berdiri sendiri-sendiri (fenem, kata, frasa, terbukti dengan adanya Nabi Adam ketika
kalimat), tentulah teks perlu baru diciptakan, ia diajari beberapa hal oleh
dipertimbangkan secara keseluruhan Allah Swt.10
sebagai sistem hubungan-hubungan intern. Penulis lebih sependapat dengan Imam
Dengan menemukan kembali semua Syafi‟i yang menyatakan bahwa bahasa adalah
hubungan intern yang membentuk teks al- anugerah Allah Swt yang diberikan kepada
Qur`an,yang tidak hanya memperhitungkan manusia, dan bahasa yang pertama kali
susunan dan dinamisme yang khas untuk dikenal oleh manusia ketika pertama kali
bahasa Arab; kita perlu menangkap suatu diciptakan adalah bahasa Arab. Hal itu bisa
cara berpikir dan merasa, yang benar-benar dibuktikan dengan adanya al-Lauh al-
8
M. Arkoun, Berbagai Pembacaan Al-
6
Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-Qur`an Qur`an, (Jakarta : Perpustakaan Nasional, 1997), terj,
Kritik Terhadap Ulum al-Qur`an......, 19. 51.
7 9
Hasan Baharun, “Manajemen Kinerja Dalam Moch. Nur Ichwan, Meretas Kesarjanaan Kritis
Meningkatkan Competitive Advantage Pada Lembaga al-Qur‟an: Teori Hermeneutika Nashr Abu Zayd,
Pendidikan Islam,” Jurnal at-Tajdid 5, no. 2 (2016): (Jakarta: Penerbit TERAJU, 2003), cet. I, 63-68.
10
243. QS. Al-Baqarah: 31.

Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 1, 2 (Desember 2016): 91-98 93


Mokhamad Sukron Tekstualitas Alquran (Analisis Teks Alquran: Antara
Pendekatan Hermeneutik dan „Ulūm Al-Qur‟ān)

Makhfuzh, di mana di sana segala hal yang wahyu yang diturunkan”.12 Berkaitan dengan
tercipta telah dicatat, termasuk Alquran sendiri Nabi Muhammad Saw sebagai pembawa
dan itu berbahasa Arab.11 Sehingga bisa Alquran, kaum Muslim tidak pernah
dikatakan bahwa bahasa Arab sudah dipakai bertentangan mengenai kebenaran literal dari
sejak pertama kali manusia diciptakan dan ayat ini. Tetapi kaum Muslim menolak
selain bahasa Arab adalah sebuah refleksi dan menyamakan ucapan Nabi (berupa Alquran)
kesepakatan sosial dari bahasa Arab, walaupun dalam ayat ini dengan ucapan yang lain. Ayat
pada akhirnya refleksi dan kesepakan itu tersebut dapat dipahami sebagai:
terjadi dalam bahasa Arab itu sendiri. a. Nabi Muhammad Saw sebagai penyampai
Sesungguhnya Allah Swt merupakan Dzat firman Allah Swt dan dalam tugasnya ini
Yang Maha Tahu, tentu Ia tahu segala bahasa tidak ada peranan lain kecuali
dengan segala perubahannya dan Maha Tahu meneruskan kebenaran dari yang absolut.
akan segala kejadiannya maka tidak mustahil b. Dalam ucapan-ucapan lainnya, Nabi
Alquran telah difirmankan-Nya di al-Lauh al- Muhammad Saw adalah suatu dasein
Mahfuzh. Adapun penurunannya kepada Nabi yang kata-katanya adalah realitas dari
Muhammad Saw sesuai dengan waktu yang wahyu Allah Swt yang telah muncul
telah ditentukan oleh Allah Swt, yaitu secara dengan maksud dan tujuannya yang jelas.
berangsur-angsur. Namun, hal itu bukan Tetapi Islam lebih jauh dibanding
berarti Allah tunduk terhadap hukum Heidegger untuk memperluas tugas Nabi
kausalitas, di mana seolah-olah Alquran Muhammad Saw sebagai dasein yang
mengikuti waktu dan sejarah yang akan nyata untuk menjaga tidak hanya kata-
berlaku, melainkan itu merupakan bentuk kata dalam bahasa asli “being”, tetapi
pendidikan Allah kepada manusia agar sadar juga tindakan dan cara hidupnya
akan kemanusiaannya yang membutuhkan mengikuti keinginan Allah Swt, sebagai
proses dalam segala hal dan juga sebagai suatu yang berbeda dari tingkah laku
bentuk rahmat kemudahan membumikan awam. Oleh karena itu, Nabi Muhammad
Alquran kepada Nabi Muhammad Saw. dalam Islam tidak hanya merupakan “juru
Akan menarik jika kita membandingkan bicara” atau seorang “penyair” dari
teori tentang perwujudan Kalam Allah Swt “being” melainkan juga sebuah contoh
dalam aktivitas manusia dalam Islam dengan praktis kehidupan yang di dalamnya
teori dasar Heidegger tentang manusia sebagai teladan hidup kebenaran dipraktikkan.
tempat “being” mendekati realitas “beings” Dari analisa di atas, mungkin kita akan
dan membiarkan mereka bersinar seterusnya berkesimpulan bahwa Alquran diturunkan
ketimbang membiarkannya terjatuh ke dalam hanya maknanya saja, di mana Allah Swt
ketiadaan. Menggunakan terminologi mengabadikan Kalam-Nya di al-Lauh al-
Heidegger, kata-kata Nabi Muhammad Saw Makhfuzh dengan bahasa yang tidak bisa kita
dapat dipercaya penuh dalam Islam adalah bayangkan karena bahasa Allah berbeda
suara dari being (menurut Heidegger jangan dengan bahasa makhluknya. Atau mungkin itu
mengidentikkan being dengan suatu bahasa malaikat Jibril atau bahkan lebih
kekuasaan, takdir, atau yang lainnya) yang ekstrim lagi itu adalah bahasa Nabi
keluar dengan sendirinya dan Nabi Muhammad Saw. Jika demikian, lalu apa
Muhammad Saw melakukannya sebagai bedanya Alquran dengan hadis Qudsi dan
dasein (manusia sejati). Mungkin dari bahkan dengan hadis Nabi sendiri? Sedangkan
keterangan ini kita dapat memahami suatu ayat kita tahu bahwa hadis Qudsi, secara
yang problematis yang menyatakan bahwa: epistemologis, adalah sesuatu yang
“Dan ia tidak mengucapkan (al-Qur‟an) diriwayatkan oleh Nabi dengan
sekehendak hatinya. Ia tiada lain kecuali menyandarkannya bahwa itu adalah Kalam

11 12
QS. Al-Buruj: 21-22. QS. Al-Najm: 3-4.

94 Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 1, 2 (Desember 2016): 91-98


Mokhamad Sukron Tekstualitas Alquran (Analisis Teks Alquran: Antara
Pendekatan Hermeneutik dan „Ulūm Al-Qur‟ān)

Allah Swt, di mana beliau meriwayatkan yang terbebas dari proses pengungkapannya
secara maknawi dan lafaznya dari Nabi.13 Dan (the act of saying). Kedua, makna teks tidak
hadis Nabi sendiri, secara epistemologis, selalu terikat kepada pembicara atau terkait
adalah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi dengan apa yang dimaksudkan oleh
Saw dari perkataan, perbuatan, ketetapan, atau penulisnya. Bukan berarti penulis tidak
sifat-sifatnya.14 Dengan demikian sangat jelas diperlukan, walaupun Ricouer mengatakan
perbedaan antara ketiganya, di mana pada satu tentang “kematian penulis”, tetapi yang ia
sisi ketiga teks tersebut sama dalam bahasa maksud dengan kematian bukan dalam arti
yang digunakan, yakni bahasa Arab, namun sebenarnya atau transendental, yang ia
pada satu sisi ketiganya berbeda dalam maksud adalah si penulis terhalang oleh teks
dimensi author teks. Bagaimanapun juga yang sudah membaku. Makna teks tidak ikut
setiap penulis memiliki pandangan berbeda- terkubur bersama dengan matinya penulis.
beda sesuai dengan latar Matinya sang penulis, diikuti dengan dengan
belakangnya“…defines Disavowal in the munculnya apa yang disebut oleh Catherine
language, with a point of view from linguists, Belsey sebagai kekuatan pembaca (reader‟s
and interpreters, by analyzing and discussion power). Dengan ini, pembaca dibebaskan dari
the examples from the Noble Qur„an” 15. keinginan penulis, dan berpeluang untuk
2. Teori Teks Hermeneutik dan Relevansi- berpartisipasi untuk menghasilkan pluralitas
nya dengan Al-Qur’an makna dan diskursus. Ketiga, makna tidak
Hermeneut Paul Ricoeur mengemukakan terikat lagi pada suatu sistem dialog dan teks
tentang teori teks. Menurutnya teks adalah tidak lagi terikat pada konteks asli dari
sebuah simbol yang memiliki makna dan pembicaraan. Apa yang diperlihatkan dari
maksud tertentu dan bersifat otonom. Beliau teks,merupakan dunia imajiner yang dibangun
mengungkapkan bahwa teks yang otonom itu teks itu sendiri. Dengan demikian teks juga
terdiri dari tiga macam: intensi (maksud tidak terikat pada kepada siapa teks itu
pengarang), situasi kultural beserta kondisi dimaksudkan. Teks ditulis tidak untuk
sosial saat teks itu lahir, dan untuk siapa teks pembaca tertentu, melainkan kepada siapa saja
itu dimaksudkan. Beliau juga menyatakan yang mampu membaca teks tersebut di
bahwa teks adalah diskursus yang manapun dan kapan pun.17
dimantapkan dalam bentuk tulisan, di mana Menurut hemat penulis, apa yang
diskursus itu dipahami merujuk kepada bahasa dikemukakan oleh Paul Ricoeur tentang teks
sebagai event (peristiwa) yaitu bahasa yang dalam kajian „ulūm al-qur'ān ada Alquran.
membicarakan sesuatu.16 Hal itu bisa kita ketahui dengan adanya ayat-
Dalam hal ini, diskursus bisa berupa ayat muhkam dan ayat-ayat yang bersifat
bahasa lisan dan bahasa tulisan atau teks. Jenis muthlaq. Namun, di sisi lain ada ayat-ayat
kedua inilah yang menunjukkan bahwa teks mutasyabih, 'am-khash, nasikh-mansukh, dan
adalah korpus yang otonom dan mandiri yang lainnya yang membutuhkan al-bayan, tafsir,
bisa dicirikan dengan beberapa hal, dan takwil baik dengan ayat-ayat Alquran
diantaranya. Pertama, sebuah teks terdapat yang lainnya, hadis-hadis Nabi Saw, ataupun
makna dari apa yang dikatakan (what is said) dengan ijtihad (analogi) yang shahih.
Kemudian ketika Paul Ricoeur membagi teks
13
Mana‟ al-Qaththan, Mabahits fi „Ulum al-Qur‟an, yang bersifat otonom tersebut menjadi tiga
(Riyadh: Mansyurat al-Ashr al-Hadits, 1973), hlm. 25. macan (intensi/maksud pengarang, situasi
14
Mana‟ al-Qaththan, Mabahits fi „Ulum al- kultural beserta kondisi sosial saat teks itu
Qur‟an....., 24. lahir, dan untuk siapa teks itu dimaksudkan)
15
Iman Kanani et al., “Loyalty and Disavowal in
Holy Qur‟an Descriptive Linguistic Study,” Journal of
juga ada kemiripan dalam kajian „ulūm al-
Nusantara Islam 3, no. 2 (2015): 87–112.
16 17
Paul Ricoeur, The Interpretation Theory, Filsafat Paul Ricoeur, The Interpretation Theory, Filsafat
Wacana Membedah Makna dalam Anatomi Bahasa, Wacana Membedah Makna dalam Anatomi Bahasa.....,
(Yogyakarta: IRCiSoD, 2002), terj, 217. 219-220.

Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 1, 2 (Desember 2016): 91-98 95


Mokhamad Sukron Tekstualitas Alquran (Analisis Teks Alquran: Antara
Pendekatan Hermeneutik dan „Ulūm Al-Qur‟ān)

qur'ān, di mana di sana ada tujuan Allah Swt adalah seorang mufassir berusaha memahami
menurunkan Alquran sebagi hudan li al-nās, seseorang dengan cara membandingkannya
asbāb al-nuzūl, dan Alquran ditujukan kepada dengan yang lain, berasumsi bahwa mereka
seluruh umat di seluruh dunia. sama-sama memiliki suatu hal yang
Memang benar fakta historis mengatakan universal.19
bahwa teks Alquran menjadi mantap ke dalam Apa yang dikemukakan oleh
bentuk tulisan, sehingga hampir senada Schleiermacher tentang seorang mufassir
dengan pernyataan Paul Ricoeur bahwa teks harus mengetahui psikologi author mungkin
adalah sebuah diskursus. Namun, ketika ia agak susah ketika kita mencoba
menjelaskan tentang keterhalangan author menerapkannya dalam kajian „„ulūm al-qur‟ān
oleh teks yang sudah membaku atau istilahnya karena sangat mustahil sekali seorang
adalah kematian author dan munculnya mufassir mengenali, memahami, atau bisa
kekuatan pembaca yang mempunyai peluang memasuki psikologi author. Memahami
menghasilkan pluralitas makna dan diskursus, psikologi manusia saja yang notabene sesama
semua itu tidak bisa dipaksakan dalam studi manusia juga sulit apalagi Allah Swt? Penulis
'ulum al-qur'an. Karena sebagaimana kita berpikir, apakah Nabi Muhammad Saw bisa
yakini, pengarang/author adalah Allah Swt melakukan itu, di mana beliau sering bertemu
yang mempunyai Dzat Abadi. Kemudian langsung dengan Sang Khalik? Wa Allahu
ketika mufassir bisa menghasilkan pluralitas a‟lam. Namun, kalau seorang mufassir
makna itu bukan berarti interpretasi ia menerapkannya pada Nabi Muhammad Saw,
mempunyai kekuatan tersendiri dari pembaca hal itu mungkin terjadi. Ini berarti teori itu
tapi itu merupakan pemahaman yang diberikan bisa dipraktekkan dalam kajian „ulūm al-
oleh Tuhannya dan tidak lepas dari tafsir-tafsir hadits tetapi yang bisa melakukannya
yang dilakukan oleh Nabi Saw. Seperti hanyalah para sahabat dan kita mengetahuinya
misalnya Nabi mempraktekkan musyawarah dengan fatwa-fatwa atau komentar-komentar
dengan para sahabat. Ketiga, secara rasional, terhadap hadis Nabi Saw.
umat Islam diperintahkan untuk Jorge J. E. Gracia berpendapat,
menyelesaikan dilema dan masalah-masalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Sahiron
mereka.18 Syamsuddin,20 bahwa teks adalah entitas
Berbeda dengan Paul Ricoeur, historis, dalam arti bahwa teks itu diproduksi
Schleiermacher berpendapat bahwa teks oleh pengarang atau muncul pada waktu
adalah tidak otonom, melainkan dependent tertentu dan tempat tertentu. Dengan
(tergantung) pada dan terikat oleh pecipta teks demikian, teks itu selalu bagian dari masa lalu,
sehingga untuk memahami teks seseorang dan ketika kita berinteraksi dengan teks, kita
tidak semata-mata memperhatikan aspek berperan sebagai historis dan berusaha
bahasa saja, tapi juga harus memperhatikan mendapatkan kembali masa lalu. Untuk dapat
aspek psikologi author. Dia menjelaskan mengakses langsung terhadap makna yang
bagaimana memahami psikologi author dikandung oleh suatu teks, beliau menawarkan
dengan menawarkan dua metode: metode sebuah metode The Development of Tekstual
divinatori dan metode perbandingan. Metode Interpretation (metode pengembangan
divinatori adalah metode di mana seseorang interpretasi tekstual) bagi seorang mufassir.
mentansformasikan dirinya atau memasukkan Sehingga dengan metode tersebut diharapkan
dirinya ke dalam kejiwaan orang lain dan
19
mencoba memahami orang lain itu secara Sahiron Syamsuddin, Hermeneutika dan
langsung. Adapun metode perbandingan Pengembangan Ulumul Qur‟an, (Yogyakarta:
Pesantren Nawesea Press, 2009), 38-39.
20
Syafa‟atun Almirzanah & Sahiron Syamsuddin
18
Kiki Muhamad Hakiki, “Islam Dan Demokrasi: (ed.), Upaya Integrasi Hermeneutika dalam Kajian Al-
Pandangan Intelektual Muslim Dan Penerapannya Di Qur‟an dan Hadis (Buku 2 Tradisi Barat),
Indonesia,” Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama Dan Sosial (Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga,
Budaya 1, no. 1 (2016): 6. 2011), cet. II, 147.

96 Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 1, 2 (Desember 2016): 91-98


Mokhamad Sukron Tekstualitas Alquran (Analisis Teks Alquran: Antara
Pendekatan Hermeneutik dan „Ulūm Al-Qur‟ān)

dapat menjembatani kesenjangan antara pada masa modern ini bisa mendorong kita
situasi-situasi di mana teks itu muncul atau untuk selalu membuka pintu ijtihad dengan
diproduksi dan situasi-situasi yang ada di kadar kemampuan kita serta mengambil sisi
sekitaraudiensi kontemporer / pembaca / positif dan mengabaikan sisi negatifnya.
mufassir yang berusaha menangkap makna
dan implikasi dari teks histori tersebut.
Dalam hal ini, penulis merasa ada sedikit DAFTAR PUSTAKA
kemiripan dengan teori double movement-nya
Fazlur Rahman dalam tahap awalnya dan ini Abu Zaid, Nasr Hamid, Tekstualitas Al-
hampir sama dengan teori asbāb al-nuzūl Qur`an Kritik Terhadap Ulum al-Qur`an,
dalam kajian „„ulūm al-qur‟ān . Namun untuk Yogyakarta : LKiS, 2002.
bisa mengakses kita harus menggali segala Afroni, Sihabuddin. “Makna Ghuluw Dalam
informasi dari semua ayat Alquran di dalam Islam: Benih Ekstremes Beragama.”
riwayat-riwayat asbāb al-nuzūl dan riwayat- Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial
riwayat dalam bentuk sirah nabawaiyah yang Budaya 1, no. 1 (2016): 70–85.
shahih, serta sirah para sahabat Nabi. Ini Almirzanah, Syafa‟atun dan Sahiron
berarti seorang mufassir tidak boleh Syamsuddin (ed.), Upaya Integrasi
mengabaikan ketiga faktor tersebut, karena Hermeneutika dalam Kajian Alqurandan
jika seorang mufassir mengabaikan salah satu Hadis (Buku 2 Tradisi Barat), cet. II,
dari ketiganya akan menemukan Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN
ketidaksempurnaan historis Alquran dan Sunan Kalijaga, 2011.
sebagaimana kita tahu bahwa sebagian ayat- Al-Qaththan, Mana‟, Mabahits fi „„ulūm al-
ayat Alquran tidak ada asbāb al-nuzūl-nya. qur‟ān , Riyadh: Mansyurat al-Ashr al-
Hadits, 1973.
C. SIMPULAN Al-Sid, Muhammad „Ata, Sejarah Kalam
Dari pemaparan dan analisis kecil di atas Tuhan:Kaum Beriman Menalar
dapat ditarik kesimpulan bahwa Alquran AlquranMasa Nabi, Klasik, dan Modern,
adalah Kalam Allah Swt yang (lafazh dan terj. Jakarta: Teraju Mizan, 2004.
maknanya) diturunkan kepada Rasulullah Saw Anwar, Rosihon, Dadang Darmawan, and
dengan perantara malaikat Jibril yang Cucu Setiawan. “Kajian Kitab Tafsir
diriwayatkan secara mutawatir, yang diawali Dalam Jaringan Pesantren Di Jawa Barat.”
dengan surat al-Fatihah diakhiri dengan surat Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial
al-Nas dan ketika dibaca adalah ibadah dan Budaya 1, no. 1 (2016): 56–69.
mendapat pahala. Ia merupakan bagian dari Badri Khaeruman. “Al Qardawi Dan Orientasi
syarat sahnya salat seseorang dan dijamin Pemikiran Hukum Islam Untuk Menjawab
keasliannya oleh Allah Swt, berbeda dengan Tuntutan Perubahan Sosial.” Wawasan:
Bible ataupun Injil yang telah banyak Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya 1,
mengalami tahrif (perubahan secara no. 2 (2016): 227–38.
fundamental) dan masih perlu diuji Baharun, Hasan. “Manajemen Kinerja Dalam
keotentikkannya. Meningkatkan Competitive Advantage
Kaitannya perlunya hermeneutik sebagai Pada Lembaga Pendidikan Islam.” Jurnal
tawaran baru dalam kajian „ulūm al-qur‟ān, at-Tajdid 5, no. 2 (2016): 243–62.
menurut hemat penulis, hal itu bukanlah Casram. “Membangun Sikap Toleransi
merupakan tawaran baru, melainkan Beragama.” Wawasan: Jurnal Ilmiah
mengupas kembali dan sadar atas metode salaf Agama dan Sosial Budaya 1, no. 2 (2016):
dan khalaf yang merupakan inti dari kajian 187–98.
hermeneutik tersebut walaupun di masa itu Fatmawati. “Inter-Religious Relations In The
bukan istilah hermeneutik yang dipakai tapi Period Of Prophet Muhammad.” Al-Albab
tafsir ataupun takwil. Sehingga hermeneutik 5, no. 2 (2016): 175–93.

Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 1, 2 (Desember 2016): 91-98 97


Mokhamad Sukron Tekstualitas Alquran (Analisis Teks Alquran: Antara
Pendekatan Hermeneutik dan „Ulūm Al-Qur‟ān)

Hakiki, Kiki Muhamad. “Islam Dan Nizam, MK, M Ahmad, and N Jannah.
Demokrasi: Pandangan Intelektual Muslim “Syeikh Abdul Qadir Bin Abdur Rahim Al-
Dan Penerapannya Di Indonesia.” Fathani Bukit Bayas (1864) Towards
Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Hadith Works and Writings of Fiqh
Budaya 1, no. 1 (2016): 1–17. Muamalat Al-Maliyyah: An Introduction of
Ichwan, Moch. Nur, Meretas Kesarjanaan The Malay Jawi Manuscript Entitled:
Kritis al-Qur‟an: Teori Hermeneutika Risalah Fi Bayani Hukmi Bai‟i War Riba.”
Nashr Abu Zayd, cet. 1, Jakarta: Penerbit Journal of Nusantara Islam 2, no. 1 (2014):
TERAJU, 2003. 32–41.
Iskandar, Syahrullah. “Studi AlQuran Dan Ricoeur, Paul, The Interpretation Theory,
Integrasi Keilmuan: Studi Kasus UIN Filsafat Wacana Membedah Makna dalam
Sunan Gunung Djati Bandung.” Wawasan: Anatomi Bahasa, terj. Yogyakarta:
Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya 1, IRCiSoD, 2002.
no. 1 (2016): 13–14. Syamsuddin, Sahiron, Hermeneutika dan
Kanani, Iman, Zulkifli Mohd Yusoff, Kuala Pengembangan Ulumul Qur‟an,
Lumpur, and Corresponding Author. Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press,
“Loyalty and Disavowal in Holy Qur‟an 2009.
Descriptive Linguistic Study.” Journal of Utami. “Community In Dividing The
Nusantara Islam 3, no. 2 (2015): 87–112. Inheritance Amicably (Study in Palangka
M. Arkoun, Berbagai Pembacaan Al-Qur`an, Raya City Jekan Raya Districts).” Jurnal
terj. Jakarta : Perpustakaan Nasional, 1997. Studi Agama Dan Masyarakat 10, no. 2
Mursyid, Ali, and Zidna Khaira Amalia. (2016): 275–99.
“Isra‟iliyyat.” Wawasan: Jurnal Ilmiah
Agama dan Sosial Budaya 1, no. 1 (2016):
94–115.

98 Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur‟an dan Tafsir 1, 2 (Desember 2016): 91-98