Anda di halaman 1dari 14

PENYELESAIAN SENGKETA BISNIS

Mata Kuliah : Pengantar Hukum Bisnis

Oleh :
Kelompok 10
Desak Putu Ratna Dewi (1707531006)
Ni Made Artini (1707531011)
Ni Kadek Ida Isha Pahlawan (1707531020)
Putu Nokia Sustriani (1707531024)

PROGRAM STUDI REGULER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN 2019
A. SENGKETA BISNIS
Semakin maraknya kegiatan bisnis, tidak mungkin di hindari adanya sengketa diantara

para pihak-pihak yang terlibat. Secara konvensional penyelesaian sengketa dilakukan

secara ligitasi (pengadilan), dimana posisi para pihak berlawanan satu sama lain. Proses ini

oleh kalangan bisnis dianggap tidak efektif dan tidak efesien, terlalu formalistic, berbelit-

belit, penyelesaiannya membutuhkan waktu yang lama dan biayanya relative mahal.

Apalagi putusan pengadilan bersifat win-lose solution (menang kalah), sehingga dapat

merenggangkan hubungan kedua belah pihak di masa-masa yang akan datang. Sebagai

solusinya, kemudian berkembanglah model penyelesaian sengketa non litigasi, yang

dianggap lebih bisa mengakomodir kelemahan-kelemahan model litigasi dan memberikan

jalan keluar yang lebih baik. Proses diluar litigasi dipandang lebih menghasilkan

kesepakatan yang win-win solution, menjamin kerahasiaan sengketa para pihak,

menghindari keterlambatan yang diakibatkan karena hal prosedural dan administratif,

menyelesaikan masalah secara komprehensif dalam kebersamaan, dan tetap menjaga

hubungan baik
Dalam kamus bahasa Indonesia sengketa adalah pertentangan atau konflik. Konflik

berarti adanya oposisi, atau pertentangan antara kelompok atau organisasi terhadap satu

objek permasalahan. Menurut Winardi, Pertentangan atau konflik yang terjadi antara

individu – individu atau kelompok – kelompok yang mempunyai hubungan atau

kepentingan yang sama atas suatu objek kepemilikan, yang menimbulkan akibat hukum

antara satu dngan yang lain.


Menurut Ali Achmad, sengketa adalah pertentangan antara dua pihak atau lebih yang

berawal dari persepsi yang berbeda tentang suatu kepemilikan atau hak milik yang dapat

menimbulkan akibat hukum antara keduanya.

1
Dari pendapat diatas dapat di simpulkan bahwa Sengketa adalah perilaku pertentangan

antara kedua orang atua lembaga atau lebih yang menimbulkan suatu akibat hukum dan

karenanya dapat diberikan sanksi hukum bagi salah satu diantara keduanya.
Pertumbuhan ekonomi yang pesat dan kompleks melahirkan berbagai macam bentuk

kerja sama bisnis. mengingat kegiatan bisnis yang semakin meningkat, maka tidak

mungkin dihindari terjadinya sengketa diantara para pihak yang terlibat. Sengketa muncul

dikarenakan berbagai alasan dan masalah yang melatar belakanginya, terutama karena

adanya conflict of interest diantara para pihak. Sengketa yang timbul diantara para pihak

yang terlibat dalam berbagai macam kegiatan bisnis atau perdagangan dinamakan sengketa

bisnis. Secara rinci sengketa bisnis dapat berupa sengketa sebagai berikut :
Sengketa perniagaan, sengketa perbankan, sengketa keuangan, sengketa penanaman

modal, sengketa perindustrian, sengketa HKI, sengketa konsumen, sengketa kontrak,

sengketa pekerjaan, sengketa perburuhan, sengketa perusahaan, sengketa hak, sengketa

property, sengketa pembangunan konstruksi.

B. CARA PENYELESAIAN SENGKETA


Pertumbuhan ekonomi yang pesat dan kompleks melahirkan berbagai macam bentuk

kerjasama bisnis, yang meningkat dari hari ke hari. Semakin meningkatnya kerjasama

bisnis, menyebabkan semakin tinggi pula tingkat sengketa diantara para pihak yang terlibat

didalamnya. Sebab-sebab terjadinya sengketa diantaranya :


- Wanprestasi.
- Perbuatan melawan hukum
- Kerugian salah satu pihak
1. Penyelesaian Sengketa Bisnis Melalui Pengadilan
Pada zaman dahulu, masyarakat dalam menyelesaikan sengketa menggunakan

paranata adat yang tersedia, melalui musyawarah adat, menggunakan tetua adat sebagai

mediator dan perdamaian adat. Namun seiring perkembangan zaman dan perubahan

perilaku masyarakat serta perpindahan masyarakat yang akhirnya menyebabkan suatu

suku, etnis, budaya berbaur dengan suatu yang suku, etnis, dan budaya yang berbeda

beda, maka cara penyelesaian sengketa dengan cara adat ini mulai ditinggalkan.

2
Perubahan itu akibat logis dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,

pembangunan dalam segala bidang dan tuntutan kehidupan dunia modern.


Penyelesaian sengketa baik melalui pengadilan sering didasarkan pada perjanjian

antara para pihak. Biasanya saat menjalin kerjasama bisnis para pihak akan membuat

sebuah kontrak. Dalam kontrak tersebut akan terkandung klausula mengenai usulan

penyelesaian sengketa apabila terjadi wanprestasi baik itu melalui pengadilan maupun

lewat jalan lain


a. Berdasarkan Sudut Pandang Pembuat Keputusan
 Adjudikatif mekanisme penyelesaian yang ditandai dimana kewenangan

pengambilan keputusan pengambilan dilakukan oleh pihak ketiga dalam sengketa

diantara para pihak.


 Konsensual/Komprom: cara penyelesaian sengketa secara kooperatif/kompromi

untuk mencapai penyelesaian yang bersifat win-win solution.


 Quasi Adjudikatif: merupakan kombinasi antara unsur konsensual dan adjudikatif
b. Berdasarkan Sudut Pandang Prosesnya
 Litigasi: merupakan mekanisme penyelesaian sengketa melalui jalur pengadilan

dengan menggunakan pendekatan hukum. Lembaga penyelesaiannya:


- Pengadilan Umum
- Pengadilan Niaga
 Non Litigasi: merupakan mekanisme penyelesaian sengketa diluar pengadilan dan

tidak menggunakan pendekatan hukum formal.


2. Cara Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan
Pada hakikatnya, penyeesaian sengketa dapat dilakukan melalui dua proses yaitu

proses litigasi di dalam pengadilan dan proses penyelesaian sengketa melalui kerjasama

(koperatif) di luar pengadilan. Namun perkembangan terakhir menunjukkan bahwa

Pengadilan ternyata bukan lembaga penyelesaian sengketa yang tepat dan memiliki

banyak kelemahan, terutama menurut para pelaku bisnis. Tujuan APS adalah

terwujudnya “win-win solution” sebagai bentuk penyelesaian perkara, sementara dalam

hukum positif di Indonesia masih menganut sifat “win-lose solution”. Dengan melihat

fakta tersebut, maka peluang alternatif untuk penyelesaian sengketa sangat diperlukan.
Tetapi APS yang telah memasyarakat di kalangan praktisi secara internasional juga

menimbulkan pro dan kontra mengenai fungsi dan kewenangan darin peradilan yang

3
sebenarnya. Terdapat anggapan bahwa APS dapat menjadi kompetisi dari sistem

peradilan yang sudah ada. Namun sebagian kalangan melihatnya APS sebagai peluang

bagi kaum yang tidak mampu untuk menyelesaikan perkara di pengadilan dimana

menelan banyak biaya, dan APS dianggap sangat cocok terutama untuk sengketa bisnis

dimana prosesnya tidak serumit dan memakan banyak waktu seperti di pengadilan.

Jenis-jenis penyelesaian sengketa di luar pengadilan:


a. Arbitrase
Merupakan penyelesaian sengketa perdata diluar peradilan umum yang didasarkan

pada perjanjian yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa (pasal 1

angka 1 UU No.30 Tahun 1999)


b. Negosiasi
Negosiasi adalah suatu bentuk pertemuan antara dua pihak: pihak kita dan pihak

lawan dimana kedua belah pihak bersama-sama mencari hasil yang baik, demi

kepentingan kedua pihak.


c. Mediasi
Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa melalui proses perundingan atau

mufakat para pihak dengan dibantu oleh mediator yang tidak memiliki kewenangan

memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian.


d. Konsiliasi
Konsiliasi mirip dengan mediasi, yakni juga merupakan suatu proses penyelesaian

sengketa berupa negosiasi untuk memecahkan masalah melalui pihak luar yang

netral.

C. PENYELESAIAN SENGKETA BISNIS MELALUI LITIGASI


Pada peraturan perundang-undangan tidak ditemukan pengertian litigasi secara eksplisit.

Namun, pada Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase

dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (“UU Arbitrase dan APS”) berbunyi: “Sengketa atau

beda pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak melalui alternatif penyelesaian

sengketa yang didasarkan pada itikad baik dengan mengesampingkan penyelesaian secara

litigasi di Pengadilan Negeri.”

4
Menurut Dr. Frans Hendra Winarta, S.H., M.H. dalam bukunya Hukum Penyelesaian

Sengketa (hal. 1-2) mengatakan bahwa secara konvensional, penyelesaian sengketa dalam

dunia bisnis, seperti dalam perdagangan, perbankan, proyek pertambangan, minyak dan

gas, energi, infrastruktur, dan sebagainya dilakukan melalui proses litigasi. Dalam proses

litigasi menempatkan para pihak saling berlawanan satu sama lain, selain itu penyelesaian

sengketa secara litigasi merupakan sarana akhir (ultimum remidium) setelah alternatif

penyelesaian sengketa lain tidak membuahkan hasil.


Menurut Rachmadi Usman, S.H., M.H. dalam bukunya Mediasi di Pengadilan (hal. 8),

bahwa selain melalui pengadilan (litigasi), penyelesaian sengketa juga dapat diselesaikan

di luar pengadilan (non litigasi), yang lazim dinamakan dengan Alternative Dispute

Resolution (ADR) atau Alternatif Penyelesaian Sengketa.


Jadi, litigasi merupakan penyelesaian sengketa antara para pihak yang dilakukan di

muka pengadilan, dimana setiap pihak yang bersengketa mendapatkan kesempatan untuk

mengajukan gugatan dan bantahan. Sengketa yang terjadi dan diperiksa melalui jalur

litigasi akan diperiksa dan diputus oleh hakim. Penyelesaian melalui Litigasi diatur dalam

Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, mengatur

penyelasaian melalui peradilan umum, peradilan militer, peradilan agama, peradilan tata

usaha negara, dan peradilan khusus seperti peradilan anak, peradilan niaga, peradilan

pajak, peradilan penyelesaian hubungan industrial dan lainnya.


Adapun penyelesaian sengketa bisnis melalui:
1. Pengadilan Umum
Pengadilan Negeri berwenang memeriksa sengketa bisnis, mempunyai karakteristik

sebagai berikut:
a. Prosesnya sangat formal
b. Keputusan dibuat oleh pihak ketiga yang ditunjuk oleh negara (hakim)
c. Para pihak tidak terlibat dalam pembuatan keputusan
d. Sifat keputusan memaksa dan mengikat (coercive and binding)
e. Orientasi ke pada fakta hukum (mencari pihak yang bersalah)
f. Persidangan bersifat terbuka
2. Pengadilan Niaga
Pengadilan Niaga adalah pengadilan khusus yang berada di

lingkungan pengadilan umum yang mempunyai kompetensi untuk memeriksa

5
dan memutuskan Permohonan Pernyataan Pailit dan Penundaan Kewajiban Pembayaran

Utang (PKPU) dan sengketa Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Pengadilan Niaga

mempunyai karakteristik sebagai berikut:


a. Prosesnya sangat formal
b. Keputusan dibuat oleh pihak ketiga yang ditunjuk oleh negara (hakim)
c. Para pihak tidak terlibat dalam pembuatan keputusan
d. Sifat keputusan memaksa dan mengikat (coercive and binding)
e. Orientasi pada fakta hukum (mencari pihak yang salah)
f. Proses persidangan bersifat terbuka
g. Waktu singkat

D. PENYELESAIAN SENGKETA BISNIS MELALUI NON LITIGASI


1. Arbitrase
Istilah arbitrase berasal dari kata “Arbitrare” (bahasa Latin) yang berarti “kekuasaan

untuk menyelesaikan sesuatu perkara menurut kebijaksanaan”.


a. Asas kesepakatan, artinya kesepakatan para pihak untuk menunjuk seorang atau

beberapa oramg arbiter.


b. Asas musyawarah, yaitu setiap perselisihan diupayakan untuk diselesaikan secara

musyawarah, baik antara arbiter dengan para pihak maupun antara arbiter itu

sendiri;
c. Asas limitatif, artinya adanya pembatasan dalam penyelesaian perselisihan melalui

arbirase, yaiu terbatas pada perselisihan-perselisihan di bidang perdagangan dan

hak-hak yang dikuasai sepenuhnya oleh para pihak;


d. Asas final and binding, yaitu suatu putusan arbitrase bersifat puutusan akhir dan

mengikat yang tidak dapat dilanjutkan dengan upaya hukum lain, seperi banding

atau kasasi. Asas ini pada prinsipnya sudah disepakati oleh para pihak dalam

klausa atau perjanjian arbitrase.


Sehubungan dengan asas-asas tersebut, tujuan arbitrase itu sendiri adalah untuk

menyelesaikan perselisihan dalam bidang perdagangan dan hak dikuasai sepenuhnya

oleh para pihak, dengan mengeluarkan suatu putusan yang cepat dan adil. Tanpa adanya

formalitas atau prosedur yang berbelit-belit yang dapat yang menghambat penyelisihan

perselisihan. Selain itu Pengertian arbitrase juga termuat dalam pasal 1 angka 8

Undang-Undang Arbitrase dan Alternatif penyelesaian sengketa Nomor 30 tahun 1999:

6
“Lembaga Arbitrase adalah badan yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa untuk

memberikan putusan mengenai sengketa tertentu, lembaga tersebut juga dapat

memberikan pendapat yang mengikat mengenai suatu hubungan hukum tertentu dalam

hal belum timbul sengketa. Dalam Pasal 5 Undang-undang No.30 tahun 1999

disebutkan bahwa: ”Sengketa yang dapat diselesaikan melalui arbitrase hanyalah

sengketa di bidangperdagangan dan hak yang menurut hukum

makalahadedidiikirawandan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh

pihak yang bersengketa.”


Dengan demikian arbitrase tidak dapat diterapkan untuk masalah-masalah dalam

lingkup hukum keluarga. Arbitase hanya dapat diterapkan untuk masalah-masalah

perniagaan. Bagi pengusaha, arbitrase merupakan pilihan yang paling menarik guna

menyelesaikan sengketa sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka.


Objek Arbitrase
Objek perjanjian arbitrase (sengketa yang akan diselesaikan di luar pengadilan

melalui lembaga arbitrase dan atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa lainnya)

menurut Pasal 5 ayat 1 Undang-Undang Nomor 30 tahun 1999 (“UU Arbitrase”)

hanyalah sengketa di bidang perdagangan. Adapun kegiatan dalam bidang perdagangan

itu antara lain: perniagaan, perbankan, keuangan, penanaman modal, industri dan hak

milik intelektual. Sementara itu Pasal 5 (2) UU Arbitrase memberikan perumusan

negatif bahwa sengketa-sengketa yang dianggap tidak dapat diselesaikan melalui

arbitrase adalah sengketa yang menurut peraturan perundang-undangan tidak dapat

diadakan perdamaian sebagaimana diatur dalam KUH Perdata Buku III bab kedelapan

belas Pasal 1851 s/d 1854.


Jenis-jenis Arbitrase
Arbitrase dapat berupa arbitrase sementara (ad-hoc) maupun arbitrase melalui badan

permanen (institusi). Arbitrase Ad-hoc dilaksanakan berdasarkan aturan-aturan yang

sengaja dibentuk untuk tujuan arbitrase. Pada umumnya arbitrase ad-hoc ditentukan

berdasarkan perjanjian yang menyebutkan penunjukan majelis arbitrase serta prosedur

7
pelaksanaan yang disepakati oleh para pihak. Penggunaan arbitrase Ad-hoc perlu

disebutkan dalam sebuah klausul arbitrase. Arbitrase institusi adalah suatu lembaga

permanen yang dikelola oleh berbagai badan arbitrase berdasarkan aturan-aturan yang

mereka tentukan sendiri. Saat ini dikenal berbagai aturan arbitrase yang dikeluarkan

oleh badan-badan arbitrase seperti Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI).


Keunggulan dan Kelemahan Arbitrase
Keunggulan arbitrase dapat disimpulkan melalui Penjelasan Umum Undang Undang

Nomor 30 tahun 1999 dapat terbaca beberapa keunggulan penyelesaian sengketa

melalui arbitrase dibandingkan dengan pranata peradilan. Keunggulan itu adalah:


- Kerahasiaan sengketa para pihak terjamin.
- Keterlambatan yang diakibatkan karena hal prosedural dan administratif dapat

dihindari.
- Para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk penyelesaian masalahnya.
- Para pihak dapat memilih tempat penyelenggaraan arbitrase
Disamping keunggulan arbitrase seperti tersebut diatas, arbitrase juga memiliki

kelemahan arbitrase. Dari praktek yang berjalan di Indonesia, kelemahan arbitrase

adalah masih sulitnya upaya eksekusi dari suatu putusan arbitrase, padahal pengaturan

untuk eksekusi putusan arbitrase nasional maupun internasional sudah cukup jelas.
2. Negosiasi
Negosiasi adalah suatu bentuk pertemuan antara dua pihak: pihak kita dan pihal lawan

dimana kedua belah pihak bersama-sama mencari hasil yang baik, demi kepentingan

kedua pihak. Pola Perilaku dalam Negosiasi:


 Moving against (pushing): menjelaskan, menghakimi, menantang, tak menyetujui,

menunjukkan kelemahan pihak lain.


 Moving with (pulling): memperhatikan, mengajukan gagasan, menyetujui,

membangkitkan motivasi, mengembangkan interaksi.


 Moving away (with drawing): menghindari konfrontasi, menarik kembali isi

pembicaraan, berdiam diri, tak menanggapi pertanyaan.


 Not moving (letting be): mengamati, memperhatikan, memusatkan perhatian pada

“here and now”, mengikuti arus, fleksibel, beradaptasi dengan situasi.


Ketrampilan Negosiasi
- Mampu melakukan empati dan mengambil kejadian seperti pihak lain

mengamatinya.

8
- Mampu menunjukkan faedah dari usulan pihak lain sehingga pihak-pihak yang

terlibat dalam negosiasi bersedia mengubah pendiriannya.


- Mampu mengatasi stres dan menyesuaikan diri dengan situasi yang tak pasti dan

tuntutan di luar perhitungan.


- Mampu mengungkapkan gagasan sedemikian rupa sehingga pihak lain akan

memahami sepenuhnya gagasan yang diajukan.


- Memahami latar belakang budaya pihak lain dan berusaha menyesuaikan diri

dengan keinginan pihak lain untuk mengurangi kendala.


3. Mediasi
Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa melalui proses perundingan atau mufakat

para pihak dengan dibantu oleh mediator yang tidak memiliki kewenangan memutus

atau memaksakan sebuah penyelesaian. Ciri utama proses mediasi adalah perundingan

yang esensinya sama dengan proses musyawarah atau consensus, Maka tidak boleh ada

paksaan untuk menerima atau menolak sesuatu gagasan atau penyelesaian selama proses

mediasi berlangsung. Segala sesuatunya harus memperoleh persetujuan dari para pihak.
Prosedur Untuk Mediasi
a. Setelah perkara dinomori, dan telah ditunjuk majelis hakim oleh ketua, kemudian

majelis hakim membuat penetapan untuk mediator supaya dilaksanakan mediasi.


b. Setelah pihak-pihak hadir, majelis menyerahkan penetapan mediasi kepada mediator

berikut pihak-pihak yang berperkara tersebut.


c. Selanjutnya mediator menyarankan kepada pihak-pihak yang berperkara supaya

perkara ini diakhiri dengan jalan damai dengan berusaha mengurangi kerugian

masing-masing pihak yang berperkara.


d. Mediator bertugas selama 21 hari kalender, berhasil perdamaian atau tidak pada hari

ke 22 harus menyerahkan kembali kepada majelis yang memberikan penetapan.Jika

terdapat perdamaian, penetapan perdamaian tetap dibuat oleh majelis.


Mediator
Mediator adalah pihak netral yang membantu para pihak dalam proses perundingan

guna mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa tanpa menggunakan cara

memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian. Ciri-ciri penting dari mediator adalah:
- Netral

9
- Membantu para pihak tanpa menggunakan cara memutus atau memaksakan sebuah

penyelesaian.
Jadi, peran mediator hanyalah membantu para pihak dengan cara tidak memutus atau

memaksakan pandangan atau penilaiannya atas masalah-masalah selama proses mediasi

berlangsung kepada para pihak.


Tugas Mediator
a. Mediator wajib mempersiapkan usulan jadwal pertemuan mediasi kepada para

pihakuntuk dibahas dan disepakati.


b. Mediator wajib mendorong para pihak untuk secara langsung berperan dalam

proses mediasi.
c. Apabila dianggap perlu, mediator dapat melakukan kaukus atau pertemuan

terpisah selama proses mediasi berlangsung.


d. Mediator wajib mendorong para pihak untuk menelusuri dan menggali

kepentingan mereka dan mencari berbagai pilihan penyelesaian yang terbaik bagi

para pihak
4. Konsiliasi
Konsiliasi adalah usaha mempertemukan keinginan pihak yang berselisih untuk

mencapai persetujuan dan penyelesaian. Namun, undang-undang nomor 30 tahun 1999

tidak memberikan suatu rumusan yang eksplisit atas pengertian dari konsiliasi. Akan

tetapi, rumusan itu dapat ditemukan dalam pasal 1 angka 10 dan alinea 9 penjelasan

umum, yakni konsiliasi merupakan salah satu lembaga untuk mennyelesaikan

sengketa.Dalam menyelesaikan perselisihan, konsiliator memiliki hak dan kewenangan

untuk menyampaikan pendapat secara terbuka dan tidak memihak kepada yang

bersengketa.
Selain itu, konsiliator tidak berhak untuk membuat keputusan dalam sengketa untuk

dan atas nama para pihak sehingga keputusan akhir merupakan proses konsiliasi yang

diambil sepenuhnya oleh para pihak dalam sengketa yang dituangkan dalam bentuk

kesepakatan di antara mereka. Konsiliator dapat menyarankan syarat-syarat

penyelesaian dan mendorong para pihak untuk mencapai kesepakatan. Berbeda dengan

negosiasi dan mediasi, dalam proses konsiliasi konsiliator mempunyai peran luas. Ia

10
dapat memberikan saran berkaitan dengan materi sengketa, maupun terhadap hasil

perundingan. Dalam menjalankan peran ini konsiliator dituntut untuk berperan aktif.
5. Pencari Fakta
Penyelidikan dilakukan oleh pihak ketiga yang tidak memihak keduanya dimaksud

untuk mencari fakta.Hal ini bisa kita sebut misalnya melalui kepolisian, dimana akan

dikupas tuntas, diselidiki hingga ketemu akar masalahnya. Dan fakta yang benar itulah

yang benar dan harus diterima oleh kedua belah pihak.


6. Minitrial
Minitrial adalah alternatif penyelesaian sengketa (ADR) prosedur yang digunakan oleh

bisnis dan pemerintah federal untuk menyelesaikan masalah hukum tanpa menimbulkan

beban dan menunda terkait dengan litigasi pengadilan. Mini-sidang tidak menghasilkan

ajudikasi formal, tetapi merupakan kendaraan bagi para pihak untuk mencapai solusi

melalui proses penyelesaian terstruktur. Hal ini digunakan paling efektif ketika isu-isu

kompleks dipertaruhkan dan pihak perlu atau ingin mempertahankan hubungan damai.
7. Ombudsman
Ombudsman (jamak bahasa Inggris konvensional: ombudsman) adalah orang yang

bertindak sebagai perantara terpercaya antara baik negara (atau unsur-unsur itu) atau

organisasi, dan beberapa konstituen internal atau eksternal, sementara mewakili tidak

hanya tapi kebanyakan lingkup yang luas dari konstituen kepentingan. Sebuah Swedia,

Denmark dan Norwegia adat istilah, Ombudsman secara etimologis berakar pada

umboðsmaðr kata Norse Lama, pada dasarnya berarti "perwakilan".


Dalam paling sering penggunaan modern, ombudsman adalah seorang pejabat,

biasanya ditunjuk oleh pemerintah atau oleh parlemen, tetapi dengan tingkat signifikan

kemerdekaan, yang dituduh mewakili kepentingan publik dengan menyelidiki dan

menangani pengaduan yang dilaporkan oleh individu. Variasi modern dari istilah ini

termasuk "ombud", "Ombudsman", "ombudsman", atau "ombudswoman".


8. Penilaian Ahli
Tanggapan ahli adalah segala sesuatu yang merupakan,dasar pemikiran dan indikator

dan penyelesain sengketa bisnis,karena dalam penyelesaian sengketa harus melihat

11
aspek – aspek hukum , sosial dan budaya.Bagaimana Ahli Hukum dapat memberikan

kontribusi yang positif dalam penyelesaian sengketa bisnis.


9. Peradilan Adat
Peradilan adat merupakan salah satu alat penyelesian sengketa bisnis menurut adat

yang berlaku di daerah tersebut.


10. Pengadilan kasus kecil (small Claim Court)
Keberadaan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) diatur dalam UU No. 8

Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen bab XI pasal 49 sampai dengan pasal 58.

Pada pasal 49 ayat (1) disebutkan bahwa Pemerintah membentuk badan penyelesaian

sengketa konsumen di Daerah Tingkat II untuk penyelesaian sengketa konsumen di luar

pengadilan. Badan ini merupakan peradilan kecil (small claim court) yang melakukan

persidangan dengan menghasilkan keputusan secara cepat, sederhana dan dengan biaya

murah sesuai dengan asas peradilan. Disebut cepat karena harus memberikan keputusan

dalam waktu maksimal 21 hari kerja ( lihat pasal 55 UU. No. 8 tahun 1999 tentang

Perlindungan Konsumen ), dan tanpa ada penawaran banding yang dapat memperlama

proses pelaksanaan keputusan ( lihat pasal 56 dan 58 UU. No. 8 tahun 1999 tentang

Perlindungan Konsumen ), sederhana karena proses penyelesaiannya dapat dilakukan

sendiri oleh para pihak yang bersengketa, dan murah karena biaya yang dikeluarkan

untuk menjalani proses persidangan sangat ringan.


Keanggotaan BPSK terdiri atas unsur pemerintah, unsur konsumen, dan unsur pelaku

usaha, yang masing-masing unsur diwakili oleh 3-5 orang, yang diangkat dan

diberhentikan oleh Menteri (Pasal 49 ayat (3) dan ayat (5)).

12
DAFTAR PUSTAKA

Andah. 2014. Penyelesaian Sengketa Bisnis. Diakses melalui:

https://www.academia.edu/8893012/penyelesaian_sengketa_bisnis (pada tanggal 18

November 2019).
Fuadi, Munir. 2008. Pengantar Hukum Bisnis - Menata Bisnis Modern di Era

Globalisasi. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.


Hesty, Yunitrihastuti. (tidak tercantum tahun). Penyelesaian Sengketa Bisnis melalui

Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Diakses melalui:

https://www.academia.edu/33990608/Penyelesaian_sengketa_melalui_bisnis (pada tanggal 18

November 2019).
Refangga, Area Marga, dkk. 2013. Makalah Hukum Sengketa Bisnis. Diakses melalui:

https://www.academia.edu/8616155/Hukum_Bisnis_Sengketa_Bisnis (pada tanggal 18

November 2019).
Siloande, Arus Akbar. 2010. Aspek Hukum dalam Ekonomi dan Bisnis. Jakarta: Mitra

Wacana Media.
Yunitasari, Annoy. 2014. Penyelesaian Sengketa Dalam Hukum Bisnis Serta

Pembuktian. Diakses melalui:

https://www.academia.edu/10211024/Penyelesaian_Sengketa_Dalam_Hukum_Bisnis_Serta_P

embuktian (pada tanggal 18 November 2019).

13