Anda di halaman 1dari 2

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan
Tabel 1. Hasil percobaan pemberian striknin pada tikus
Menit Posisi Reflex Rasa Nyeri Tonus Frek. Frek. Konvulsi
Tubuh Napas Jantung
(x/menit) (x/menit)
0 Tegak +++ +++ +++ 164 144 -
10 Baring - - ++ - ( mati ) - (mati) ++

Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan pemberian sediaan striknin 1% pada tikus melalui
injeksi subcutan sebanyak 0,1 ml. Pengamatan tikus sebelum diberikan striknin terlihat posisi
tubuh yang masih tegak, masih memiliki refleks dan respon nyeri, frekuensi napas 164
kali/menit, frekuensi jantung 144 kali/menit, dan tidak terlihat adanya konvulsi. Menurut
Marcell (2007), frekuensi napas normal pada tikus adalah 70-115 kali/menit dan frekuensi
jantung yang normal adalah 250-450 kali/menit. Kemudian praktikum dilanjutkan dengan
menginjeksi tikus tersebut dengan striknin 1%.
Pada menit ke 9 menuju 10, tikus menujukkan adanya kontraksi otot dan konvulsi
saat disentuh, hal ini menunjukkan efek dari pemberian striknin 1%. Cara kerja dari striknin
adalah mengadakan antagonisme kompetitif terhadap transmitter penghambatan yaitu glisin
di daerah penghambatan pascasinaps (Louisa dan Dewoto, 2007). Striknin menyebabkan
rangsangan pada semua bagian SSP dan merupakan obat konvulsan yang kuat dengan sifat
kejang yang khas. Pada hewan coba, konvulsi ini berupa ekstensif tonik badan dan semua
anggota gerak(John, 2003). Sifat khas yang lain dari konvulsi akibat striknin adalah kontraksi
ekstensor yang simetris yang diperkuat oleh rangsangan sensorik yaitu pendengaran,
penglihatan dan perabaan dan jenis kejang yang aspontan (Sunardi, 2006).
Pada keadaan kejang tersebut, antidota langsung diberikan sebanyak 0,4 ml melalui
intra-peritoneal, namun setelah ditunggu beberapa menit tikus masih kejang dan tidak
menunjukkan perubahan. Hal ini berarti pemberian antidota terlambat diberikan. Menurut
Patocka (2009), belum ada antidota spesifik untuk keracunan striknin tapi persembuhan dari
efek paparan striknin dapat dilakukan dengan perawatan ke rumah sakit pada awal paparan.
Pengobatannya terdiri dari pengeluaran racun dari tubuh (detoksifikasi) dan mendapatkan
perawatan suportif. Perawatan suportif termasuk termasuk cairan intravena, obat-obatan
untuk konvulsi dan spasmus otot, dan tindakan pendinginan untuk temperatur yang tinggi (
Wood, 2002). Pengobatan keracunan striknin dapat diberikan arang aktif secara oral, hal ini
dilakukan karena arang aktif dapat menyerap sisa-sisa racun yang ada di saluran pencernaan.
Obat yang dapat digunakan sebagai antikonvulsi, contohnya adalah phenobarbital atau
diazepam beserta dengan obat yang bersifat muscle relaxant seperti Dantrolene. Penggunaan
diazepam tidak selalu efektif dalam setiap kasus, maka harus di kombinasikan dengan
midazolam, fentanyl atau pancuronium sangat direkomendasikan untuk mengatasi konvulsi
(Scheffold et al, 2004).
KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, pemberian striknin dapat meningkatkan


frekuensi apas dan jantung pada hewan coba (tikus). Gejala klinis yang dapat dilihat setelah
injeksi striknin adalah adanya konvulsi, meningkat nya tonus otot dan spasmus. Sifat konvulsi
yang terlihat pada penggunaan striknin di hewan adalah aspontan, simetris dan tetanis.
Pemberian antidota yang terlambat mengakibatkan tikus gagal diselamatkan.

DAFTAR PUSTAKA
John SG et al. 2003. Strychnine poisoning. JAPI. 51(1) : 736-739
Louisa M, Dewoto HR . 2007. Perangsangan Susunan Saraf Pusat . Dalam : Farmakologi dan
Terapi Edisi 5. Jakarta (ID): Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Marcel I. 2007. Rat Biomethodology. San Antonio (US) : The University of Texas
Sunardi. 2006. 116 Unsur Kimia Deskripsi dan Pemanfaatannya. Bandung (ID): Yrama
Widya.
Patocka J. 2009. Handbook of Toxicology of Chemical Warfare Agents. London (UK)
: Elsevier Inc.
Scheffold N et al. 2004. Strychnine poisoning. Dtsch. Med. Wochenschr. 129(1) : 2236-
8
Wood D, Webster E, Martinez D, Dargan P, and Jones A. 2002. Case report : survival
after deliberate strychnine self-poisoning, with toxicokinetic data. Crit. Care. 6 : 456-9