Anda di halaman 1dari 36

MAKALAH

KEPERAWATAN PERKEMIHAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN CHRONIC KIDNEY
DISEASE (GAGAL GINJAL KRONIS) STADIUM 4

Fasilitator :
Ika Nur Pratiwi, S.Kep., Ns, M.Kep.

Kelas A1-2015
Kelompok 4 :

1. Erlinna Nur Syah Putri 131511133009


2. Nuril Laily Pratiwi 131511133010
3. Cherlys Tin Lutfiandini 131511133016
4. Rizky Sekar Taji 131511133028
5. Wahyu Agustin Eka Lestari 131511133033
6. Risma Wahyuningtyas 131511133035
7. Firdha Lailil Fadila 131511133117
8. Lili Putri Roesanti 131511133122
9. Adilla Kusuma Dewi 131511133124

PROGAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi petunjuk dan
kekuatan sehingga kami mampu menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya sebagai salah
satu tugas mata kuliah Keperawatan Perkemihan dengan judul “Asuhan Keperawatan pada
Klien dengan Chronic Kidney Disease (Gagal Ginjal Kronis) Stadium 4”.

Dalam penyelesaian makalah ini, tidak lepas dari bantuan dan dorongan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan rasa terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Ika Nur Pratiwi, S.Kep., Ns, M.Kep. selaku fasilitator pada perkuliahan ini
2. Rekan-rekan mahasiswa program studi pendidikan ners yang telah banyak membantu
dalam penyelesaian makalah ini.

Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih diperlukan penyempurnaan, oleh
karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk kesempurnaan
makalah ini. Akhir kata kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah
membantu dalam melakukan penyususnan makalah ini. Semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi pembaca dan menambah wawasan serta pengetahuan mengenai
asuhan keperawatan keluarga dengan lanjut usia.

Surabaya, 20 Mei 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................................. ii


Daftar Isi ........................................................................................................................ iii
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang ..............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah .........................................................................................2
1.3 Tujuan ...........................................................................................................2
BAB II Tinjauan Pustaka
2.1 Definisi Gagal Ginjal Kronis ........................................................................3
2.2 Etiologi atau Penyebab Gagal Ginjal Kronis ................................................3
2.3 Patofisiologi Gagal Ginjal Kronis .................................................................4
2.4 WOC .............................................................................................................5
2.5 Manifestasi Klinis Gagal Ginjal Kronis .........................................................7
2.6 Pemeriksaan Penunjang .................................................................................7
2.7 Komplikasi Gagal Ginjal Kronis ...................................................................7
2.8 Penatalaksanaan Gagal Ginjal Kronis ............................................................8
BAB III Asuhan Keperawatan Umum ..............................................................................9
BAB IV Asuhan Keperawatan Kasus Gagal Ginjal Kronis............................................20
BAB V Penutup ..............................................................................................................32
Daftar Pustaka .................................................................................................................33

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Gagal ginjal kronis (Chronic Renal Failure) adalah kerusakan ginjal progresif yang
berakibat fatal dan ditandai dengan uremia (urea dan limbah nitrogen lainnya yang beredar
dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan dialisis atau transplantasi ginjal),
(Nursalam, 2006). Penyakit Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan salah satu penyakit
yang menjadi masalah besar di dunia. Gagal ginjal kronik merupakan suatu penyakit yang
menyebabkan fungsi organ ginjal mengalami penurunan hingga akhirnya tidak mampu
melakukan fungsinya dengan baik (Cahyaningsih, 2009). Gangguan fungsi ginjal ini terjadi
ketika tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan
elektrolit sehingga menyebabkan retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah.
Kerusakan ginjal ini mengakibatkan masalah pada kemampuan dan kekuatan tubuh yang
menyebabkan aktivitas kerja terganggu, tubuh jadi mudah lelah dan lemas sehingga
kualitas hidup pasien menurun (Bruner& Suddarth,2001).
Menurut Annual Data Repert United States Renal Data System yang memperkirakan
prevalensi gagal ginjal kronis mengalami peningkatan hampir dua kali lipat dalam kurun
waktu tahun 1998 – 2008 yaitu sekitar 20-25 % setiap tahunnya (USRD,2008). Badan
kesehatan dunia menyebutkan pertumbuhan penderita gagal ginjal pada tahun 2013 telah
meningkat 50% dari tahun sebelumnya. Di Amerika Serikat, kejadian dan prevalensi gagal
ginjal meningkat di tahun 2014. Data menunjukan setiap tahun 200.000 orang Amerika
menjalani hemodialisis karena gangguan ginjal kronis artinya 1140 dalam satu juta orang
Amerika adalah pasien dialisis lebih dari 500 juta orang dan yang harus menjalani hidup
dengan bergantung pada cuci darah 1,5 juta orang.
Di Indonesia gagal ginjal kronik menjadi salah satu penyakit yang masuk dalam 10
penyakit kronik. Prevalensi gagal ginjal kronik berdasarkan yang pernah didiagnosis dokter
sebesar (0,2%) dari penduduk Indonesia. Jika saat ini penduduk Indonesia sebesar
252.124.458 jiwa maka terdapat 504.248 jiwa yang menderita gagal ginjal kronik. Hanya
(60%) dari pasien gagal ginjal kronik tersebut yang menjalani terapi dialisis. Di provinsi
Sumatera Barat prevalensi gagal ginjal kronik yaitu (0,2%) dari pasien gagal ginjal kronik
di Indonesia mencakup pasien yang menjalani pengobatan, terapi pengganti ginjal, dialisis
peritoneal, dan hemodialisis (Kementerian Kesehatan RI [KemenKes RI], 2013).

1
1.2.Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan gagal ginjal kronis stadium 4 ?
2. Apa penyebab terjadinya gagal ginjal gronis ?
3. Bagaimana alur penyakit gagal ginjal kronis ?
4. Bagaimana WOC dari gagal ginjal kronis ?
5. Apa saja tanda dan gejala klinis gagal ginjal kronis ?
6. Apa pemeriksaan yang dapat mendukung diagnose gagal ginjal kronis ?
7. Apa komplikasi yang dapat terjadi akibat gagal ginjal kronis ?
8. Bagaimana talaksana pada gagal ginjal kronis ?
9. Bagaimana proses asuhan keperawatan pada klien gagal ginjal kronis ?
1.3.Tujuan
1.3.1. Tujuan umum
Menjelakan mengenai asuhan keperawatan pada klien dengan CKD atau gagal
ginjak kronis
1.3.2. Tujuan khusus
1. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan gagal ginjal kronis terutama
stadium 4, penyebab, proses terjadinya, tanda dan gejala, serta
penatalaksanaan dan komplikasi yang dapat terjadi
2. Menjelaskan proses asuhan keperawatan pada kasus gagal ginjal kronis
mulai dari pengkajian, perumusan diagnose sampai intervensi,
implementasi dan evaluasinya.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Definisi Gagal Ginjal Kronis atau Chronic Kidney Desease (CKD)
Gagal ginjal kronik atau CKD merupakan penurunan fungsi ginjal progressif yang
irreversible ketika ginjal tidak mampu mempertahankan keseimbangan metabolik, cairan,
dan elektrolit yang menyebabkan terjadinya uremia dan azotemia (Smeltzer & Bare, 2004)
Gagal ginjal kronis adalah kegagalan fungsi ginjal untuk mempertahankan
metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit akibat destruksi struktur ginjal yang
progresif dengan manifestasi penumpukan sisa metabolit (toksik uremik) di dalam darah.
(Arif Muttaqin,2011).
Gagal ginjal Kronis stadium 4 yaitu kegagalan fungsi ginjal yang mengalami
penurunan berat pada LFG (15-29), tidak terjadi homeotasis, keluhan pada semua sistem,
fungsi ginjal residu kurang dari 5 % normal.
2.2.Etiologi
Pada dasaranya, penyebab gagal ginjal kronik adalah penurunan laju filtrasi
glomerulus atau yang disebut juga penurunan glomerulus filtration rate (GFR).
Penyebab gagal ginjal kronik menurut (Andra & Yessie, 2013) :
a. Gangguan pembuluh darah : berbagai jenis lesi vaskuler dapat menyebabkan
iskemik ginjal dan kematian jaringan ginjal. Lesi yang paling sering adalah
aterosklerosis pada arteri renalis yang besar, dengan konstriksi skleratik
progresif pada pembuluh darah. Hiperplasia fibromuskular pada satu atau lebih
arteri besar yang juga menimbulkan sumbatan pembuluh darah. Nefrosklerosis
yaitu suatu kondsi yang disebabkan oleh hipertensi lama yang tidak diobati,
dikarakteristikkan oleh penebalan, hilangnya elastisitas sistem, perubahan
daerah ginjal mengakibatkan penurunan aliran darah dan akhirnya gagal ginjal.
b. Gangguan imunologis : seperti glomerulonephritis
c. Infeksi : dapat disebabkan oleh beberapa jenis bakteri terutama E. Coli yang
berasal dari kontaminasi tinja pada traktus urinarius bakteri. Bakteri ini
mencapai ginjal melalui aliran darah atau yang lebih sering secara ascenden dari
traktus urinarius bagian bawah lewat ureter ginjal sehingga dapat menimbulkan
kerusakan irreversible ginjal yang disebut pielonefritis.
d. Gangguan metabolik : seperti DM yang menyebabkan mobilisasi lemak
meningkat sehingga terjadi penebalan membran kapiler di ginjal dan berlanjut

3
dengan disfugsi endotel sehingga terjadi nefropati amyloidosis yang disebabkan
oleh endapan zat-zat proienemia abnormal pada dinding pembuluh darah secara
serius merusak membran glomerulus
e. Gangguan tubulus primer : terjadi nefrotoksis akibat analgesik atau logam berat
f. Obstruksi traktus urinarius : oleh batu ginjal, hipertrofi prostat dan konstriksi
uretra
g. Kelainan kongenital dan herediter : penyakt polikistik, yaitu kondisi keturunan
yang dikarakteristikan oleh terjadi kista/kantong berisi cairan di dalam ginjal
dan organ lain, serta tidak adanya jaringan ginjal yang bersifat kongenital
(hipoplasia renalis) serta adanya asidosis
2.3.Patofisiologi
Gagal ginjal kronik disebabkan oleh berbagai kondisi, seperti gangguan matebolik
(DM), infeksi (pielonefritis), obstruksi traktus urinarius, gangguan imunologis, hipertensi,
gangguan tubulus primer (nefrotoksin) dan gangguan kongenital yang menyebabkan GFR
menurun. Pada waktu kegagalan ginjal, sebagian nefron (termasuk glomerulus) diduga utuh
sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh). Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan
memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorbsi walaupun dalam keadaan
penurunan GFR/ daya saring. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi
sampai ¾ dari nefron-nefron rusak. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar
dari pada yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan haus.
Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguria timbul disertai
retensi produk sisa. Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada pasien menjadi lebih jelas
dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal, jika kira-kira fungsi ginjal telah hilang
80%-90%. Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian nilai keratinin clearance turun
sampai 15 mm/menit atau lebih rendah. Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme
protein (yang normalnya dieksresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi
uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah
maka akan semakin berat (Smeltzer dan Bare, 2011).

4
2.4.WOC

Infeksi Gangguan Gangguan Gangguan Gangguan Obstruksi Kelainan


vaskuler Imunologis Metabolik Tubulus Traktus Kongenital/
Primer Urinarius Herediter
Bakteri E.
Coli akibat Aterosklerosis Terdapat Diabetes
kontaminasi endapan protein mellitus Nefrotoksis Terbentuknya Terbentuknya
tinja pada IgA di akibat zat fibrosis di kista/kantong
suplai darah
glomerulus toksik (logam ginjal berisi cairan di
ginjal ↓ Kadar glukosa berat) ginjal (polikistik)
Reaksi antigen dalam ginjal ↑
antibodi Glomerulonelitis
Tertimbun di
Kerusakan
ginjal
nefron
Kerusakan
pada ginjal
(pielonefritis)

Penurunan GFR

BUN dan Kreatin ↑

Gagal Ginjal Kronik (Chronic


Kidney Disease) 5
Gagal Ginjal Kronik (Chronic
Kidney Disease)

Penurunan Sekresi protein Retensi urin Sekresi Penurunan Jumlah kreatinin Depresi
fungsi ginjal terganggu eritopoitis ↓ Cardiac Output dalam darah ↑
Menekan Ketakutan
RAA ↓ Sindrom saraf perifer Penurunan Suplay O2 ke akan
Penyaringan darah
Uremia produksi sel darah jaringan ↓ di glomerulus
kematian
Nyeri merah terganggu
Retensi Na
Gangguan pinggang Metabolisme MK :
dan H2O
keseimbangan
Produksi Hb ↓ anaerob Protein larut dalam Ansietas
asam basa
MK : Nyeri darah dan bercampur
Edema
Akut Transport O2 dengan urine
Produksi Asam laktat ↑
terganggu
MK : Kelebihan asam ↑
Volume Cairan Air seni
Anemia Nyeri otot
berbusa
Asam
lambung ↑
Kesulitan Kram otot
dalam Penumpukan zat-
Gang. mortilitas dan berkonsentrasi zat sisa
luka pada GIT MK : metabolisme
Intoleransi dalam darah
Kelelahan Aktivitas
Mual dan
muntah
MK : Keletihan Kemampuan darah
mengikat O2 ↓
Anoreksia

MK : Nutrisi Kurang Kebutuhan O2


dari Kebutuhan tidak tercukupi 6
Tubuh MK : Ketidakefektifan
Pola Nafas Sesak Nafas
2.5.Manifestasi Klinis
Manifestasi klinik menurut Sudoyo (2009) adalah sebagai berikut:
a. Sistem kardiovaskuler: Hipertensi, pitting edema, edema periorbital,
pembesaran vena leher, friction sub pericardial
b. Sistem pulmoner: Krekel, nafas dangkal, kusmaull, sputum kental dan liat
c. Sistem gastrointestinal : Anoreksia, mual dan muntah, perdarahan saluran GI,
ulserasi dan pardarahan mulut, nafas berbau amoniak
d. Sistem muskuloskeletal : Kram otot, kehilangan kekuatan otot, fraktur tulang
e. Sistem integumen : Warna kulit abu-abu mengkilat, pruritis, kulit kering
bersisik, ekimosis, kuku tipis dan rapuh, rambut tipis dan kasar
f. Sistem reproduksi : Amenore, atrofi testis
2.6.Pemeriksaan penunjang
Dalam memberikan pelayanan keperawatan terutama intervensi perlu pemeriksaan
penunjang yang dibutuhkan baik secara medis ataupun kolaborasi antara lain :
a. Pemeriksaan Laboratorium
a) Laboratorium darah : BUN, kreatinin, elektrolit (Na, K, Ca, Phospat), hematologi
(Hb, trombosit, Ht, Leukosit), protein, antibodi (kehilangan protein dan
immunoglobulin)
b) Pemeriksaan urin warna, PH, BJ, kekeruhan, volume, glukosa, protein, sedimen,
SDM, keton, SDP, TKK/CCT2.
b. Pemeriksaan EKG
Untuk melihat adanya hipertropi ventrikel kiri, tanda perikarditis, aritmia, dan
gangguan elektrolit (hiperkalemi, hipokalsemia)
c. Pemeriksaan USG
Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal korteks ginjal, kepadatan parenkim ginjal,
anatomi sistem pelviokalises, ureter proksimal, kandung kemih serta prostat
d. Laju filtrasi glomerulus/LFG (glomerular filtration rate/GFR)
Pengukuran terhadap seberapa baik ginjal bekerja berdasarkan jumlah kotoran yang
berhasil disaring ginjal dari darah. Pada gagal ginjal kronis stadium 4 ditemukan
penurunan hasil LFG 15 – 29 ml/menit/1.73m2
2.7.Komplikasi
Komplikasi gagal ginjal kronis disebabkan oleh akumulasi berbagai zat yang
normalnya diekskresi oleh ginjal, serta produksi vitamin D dan eritropoietin yang tidak

7
adekuat oleh ginjal (Chris, 2007). Gagal ginjal korins menyebabkan berbagai macam
komplikasi penyakit seperti :
1. Hiperkalemia yang diakibatkan kerena adanya penurunan ekskresi asidosis metabolik
(As’adi, 2012).
2. Perikardiasis atau penyakit jantung dapat terjadi jika kadar ureum atau fosfat tinggi
atau terdapat hiperparatiroidisme sekunder yang berat (Chris, 2007).
3. Hipertensi yang disebabkan oleh retensi cairan dan natrium, serta malfungsi sistem
renin angioaldosteron (As’adi, 2012). Hipertensi yang tidak memberi respons terhadap
pengurangan volume tubuh seringkali berkaitan dengan produksi renin yang
berlebihan (Chris, 2007).
4. Anemia yang disebabkan oleh penurunann eritroprotein, rentang usia sel darah merah,
dan pendarahan gastrointestina akibat iritasi (As’adi, 2012).
5. Penyakit tulang yang disebabkan oleh retensi fosfat kadar kalium serum yang rendah,
metabolisme vitamin D, dan peningkatan kadar alumunium (As’adi, 2012).
2.8.Penatalaksanaan
Gagal ginjal kronis pada stadium 4 dapat diobati dengan manajemen konservatif
insufisiensi ginjal dan dengan terapi pengganti ginjal dengan dialisis atau transplantasi.
Pengobatan konservatif terdiri dari langkah-langkah untuk mencegah atau menghambat
penurunan yang tersisa fungsi ginjal dan membantu tubuh dalam mengkompensasi
kerugian yang ada. Ginjal buatan adalah suatu alat yang menggunakan proses yang disebut
hemodialisis untuk menghilangkan kelebihan zat dari darah. Selama hemodialisis, darah
dipompa dari salah satu arteri pasien melalui pipa yang dikelilingi oleh cairan khusus
dialisis. Tabung kemudian memasukkan darah kembali ke pasien melalui pembuluh vena.

8
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN UMUM PADA KLIEN DENGAN GAGAL GINJAL
KRONIK (CHRONIC KIDNEY DISEASE) STADIUM 4
A. Pengkajian
1. Identitas
Nama, usia, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa, alamat.
2. Keluhan Utama
3. Riwayat Kesehatan
- Riwayat penyakit sekarang, yaitu penyakit yang diderita klien saat ini.
- Riwayat penyakit dahulu, penyakit yang pernah diderita klien sebelumnya.
- Riwayat penyakit keluarga, adakah anggota keluarga yang memiliki riwayat
penyakit seperti yang diderita oleh klien.
4. Pola Kebiasaan Klien :
a. Pola Aktivitas / Istirahat :
Sebelum Sakit Selama Sakit
AKTIVITAS
0 1 2 3 4 0 1 2 3 4
Bernafas
Berpakaian
Toilet
Berjalan
Makan / minum
Skor : 0 = mandiri
1 = alat bantu
2 = di bantu orang lain
3 = di bantu orang lain dan alat
4 = tergantung / tidak mampu
b. Pola Nutrisi :
Membandingkan porsi makan klien sebelum dan selama sakit apakah ada
penurunan nafsu makan.
c. Pola Cairan dan Elektrolit :
Kaji intake klien sebelum dan selama sakit, seperti minuman apa saja yang
diminum, berapa jumlahnya dan apa jenisnya.

9
d. Pola Eliminasi :
Pola BAB dan BAK berapa kali sehari sebelum dan selama sakit. Konsistensi feses,
warna feses, bau khas feses ada darahnya atau tidak. Jumlah urin, warna, bau, ada
darah atau tidak.
e. Pola Tidur dan Istirahat :
Apakah ada perubahan jam tidur klien sebelum dan selama sakit.
5. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum :
o Kesadaran
o GCS
o BB
o TTV (nadi, suhu, RR, TD)
b. Pemeriksaan sistematik (Cepalo Caudal) :
- Kepala :
Bentuk kepalanya simetris atau tidak, ada kelainan atau tidak.
- Mata :
Bentuk mata simetris atau tidak, ada gangguan penglihatan atau tidak,
konjungtiva anemis atau tidak, kantung matanya ada atau tidak.
- Hidung :
Keadaan hidungnya bersih atau tidak, simetris atau tidak, ada polip atau
tidak, ada kelainan atau tidak.
- Telinga :
Simetris atau tidak, ada serumen atau tidak, menggunakan alat bantu
pendengaran atau tidak.
- Mulut :
Bentuknya simetris atau tidak, bibirnya pucat atau tidak.
- Gigi :
Apakah klien menggunaka gigi palsu atau tidak.
- Lidah :
Mukosa bibirnya kering atau lembab, bersih atau tidak.
- Leher :
Apakah ada pembesaran kelenjar tiroid dan pembesaran vena jugularis.

10
- Tenggorokan :
Apakah klien merasakan sakit saat menelan dan apakah ada pembesaran
pada tonsil.
- Dada :
a) Pernapasan :
 Inspeksi : lihat gerakan nafasnya simetris atau tidak, ada otot
bantu napas atau tidak, apakah ada takipnea.
 Palpasi : raba traktil fermitus.
 Perkusi : -
 Auskultasi : dengarkan suara nafasnya
b) Jantung :
 Inspeksi : lihat apakah ada ictus kordis
 Palpasi : -
 Perkusi : jika berbunyi redup menandakan ada massa
 Auskultasi : dengarkan bunyi jantungnya
- Abdomen :
 Inspeksi : bentuknya simetris atau tidak, ada bekas luka atau tidak, ada
benjolan atau tidak.
 Auskultasi : dengarkan bunyi peristaltiK
 Perkusi : suaranya timpani atau redup
 Palpasi : heparnya teraba atau tidak, ada nyeri tekan atau tidak, ada
massa / benjolan.
- Ekstremitas :
 Atas : ada kelainan atau tidak, ada edema atau tidak.
 Bawah : kekuatan otot ekstremitas
5 5

5 5

- Integumen :
Lihat kulitnya bersih atau tidak, turgor kulit, warna kulit, ada jaringan
parut atau tidak, ada lesi atau tidak.

11
- Genetalia :
Kebersihan area genetalia, berbau atau tidak, ada kelainan atau tidak.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan sindrom hipoventilasi (Domain 4 :
Aktivitas / Istirahat, Kelas 4 : Respons Kardiovaskular / Pulmonal)
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (Chronic Kidney Disease stage
4) (Domain 12 : Kenyamanan, Kelas 1 : Kenyamanan Fisik, Kode : 00132)
3. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurang
asupan makanan (Domain 2 : Nutrisi, Kelas 1 : Makan, Kode : 00002)
4. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi (Domain
2: nutrisi kelas 5.hidrasi kode 00026)
5. Keletihan berhubungan dengan kelesuan fisiologis (Domain 4: aktivitas / istirahat kelas
3 keseimbangan energi kode 00093)
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen (Domain 4: aktivitas / istirahat kelas 4 respons
kardiovaskular/pulmonal kode 00092)
7. Ansietas berhubungan dengan ancaman pada status terkini (Domain 9 :
koping/toleransi stres kelas 2.respons koping kode 00146)
C. Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Keperawatan NOC NIC

1 Ketidakefektifan pola nafas Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor pernapasan (3350):


b.d sindrom hipoventilasi keperawatan selama 1 x 24 jam - Monitor kecepatan irama,
diharapkan klien tidak merasakan kedalaman dan kesulitas
(Domain 4 : Aktivitas / sesak lagi dengan criteria hasil : bernapas.
Istirahat, Kelas 4 : Respons - Monitor pola napas
Kardiovaskular / Pulmonal) Status Pernafasan (0415) : (misalnya bradipneu,
- Frekuensi pernafasan normal takipneu, hiperventilasi,
16-20 x/menit (041501) pernapasan kusmaul,
- Irama pernafasan regular pernapasan 1:1, apneustik,
(041502) respirasi biot, dan pola
- Tidak ada suara nafas ataxic).
tambahan (041522)

12
- SaO2 normal (041508) - Catat pergerakan dada,
- Tidak ada penggunaan otot catat ketidaksimetrisan,
bantu nafas (041510) penggunaan otot-otot
Status Pernafasan : Pertukaran bantu napas dan retraksi
Gas (0402) : pada otot supraklavikula
- PaO2 di darah arteri normal dan intercosta.
(040208) - Auskultasi suara nafas
- PaCO2 di darah arteri normal tambahan seperti mengi.
(040209) - Monitor keluhan sesak
- Tidak mengalami sianosis nafas pasien termasuk
(040206) kegiatan yang
meningkatkan atau
memperburuk sesak nafas
tersebut.
2. Terapi oksigen (3320)
- Pertahankan kepatenan
jalan napas.
- Berikan oksigen tambahan
seperti yang diperintahkan.
- Monitor aliran oksigen.
- Monitor perangkat [alat]
pemberian oksigen.
2 Nyeri akut b.d agen cedera Setelah dilakukan tindakan 1. Manajemen nyeri (1400) :
biologis (Chronic Kidney keperawatan selama 3 x 24 jam - Lakukan pengkajian nyeri
Disease stage 4) diharapkan keluhan nyeri yang komprehensif yang
dirasakan klien berkurang dengan meliputi lokasi,
(Domain 12 : Kenyamanan, criteria hasil : karakteristik, onset/durasi,
Kelas 1 : Kenyamanan frekuensi, kualitas,
Fisik, Kode : 00132) Tingkat nyeri (2102) intensitas atau beratnya
- Tidak ada laporan dari klien nyeri dan faktor pencetus
mengenai nyeri - Gali bersama pasien
- Klien tidak mengerang dan faktor-faktor yang dapat
menangis
13
- Tidak ada ekspresi wajah menurunkan atau
nyeri memperberat nyeri
- Tidak ada keringat berlebihan - Kendalikan faktor
- Frekuensi nafas normal (15- lingkungan yang dapat
20x/menit) mempengaruhi respon
- Denyut nadi radial normal pasien terhadap
(60-100x/menit) ketidaknyamanan
- Tekanan darah normal (100- - Ajarkan prinsip-prinsip
120/70-90mmHg) manajemen nyeri
- Ajarkan penggunaan
tehnik non farmakologi
(seperti., hypnosis,
relaksasi, bimbingan
antisipatif, dll)
- Pastikan perawatan
analgesic bagi pasien
dilakukan dengan
pemantauan yang ketat
- Dukung istirahat/tidur
yang adekuat untuk
membantu penurunan
nyeri
2. Monitor tanda-tanda vital
(6680)
- Monitor tekanan darah,
nadi, suhu dan status
pernafasan dengan tepat
3 Ketidakseimbangan nutrisi Setelah dilakukan tindakan 1. Manajemen Nutrisi
: kurang dari kebutuhan keperawatan selama 3 x 24 jam - Tentukan status gizi
tubuh b.d kurang asupan diharapkan kebutuhan nutrisi klien pasien dan kemampuan
makanan tercukupi dengan criteria hasil : untuk memenuhi gizi
- Tentukan jenis dan jumlah
kalori yang dibutuhkan

14
(Domain 2 : Nutrisi, Kelas Status nutrisi (1004) : untuk memenuhi
1 : Makan, Kode : 00002) - Asupan gizi terpenuhi persyaratan gizi
(100401) - Monitor kalori dan asupan
- Asupan makanan tercukupi makanan
(100402) - Monitor kecenderungan
- Rasio BB/TB normal terjadinya peningkatan
(100405) atau penurunan BB
Nafsu Makan (1014) : 2. Manajemen mual
- Klien memiliki keinginan - Ajari penggunaan tekhnik
untuk makan (101401) nonfarmakologi
- Intake makanan terpenuhi (relaksasi, hipnoterapi,
(101406) imajinasi, terapi music,
- Intake cairan terpenuhi distraksi, akupuntur)
(101408) untuk mengatasi mual
- Tingkatkan istirahat dan
tidur yang cukup untuk
memfasilitasi
pengurangan mual
- Berikan informasi
mengenai mual
- Monitor efek dari
manajemen mual secara
keseluruhan
4 Kelebihan volume cairan Setelah dilakukan tindakan asuhan 1. Manajemen hipervolemia
berhubungan dengan keperawatan selama 3 x 24 jam (4170)
gangguan mekanisme diharapkan kelebihan volume - Monitor status hemodinamik,
regulasi cairan klien teratasi dengan meliputi denyut nadi, tekanan
kriteria hasil : darah jika tersedia
(domain 2: nutrisi kelas Keseimbangan cairan (0601) : - Monitor edema perifer
5.hidrasi kode 00026) - Tekanan darah normal - Monitor intake dan output
(100-110/70-90 mmHg) - Berikan obat yang diresepkan
- Denyut nadi radial normal untuk mengurangi preload
(60-100x/menit) (misalnya., furosemide,

15
- Tidak ada edema perifer spironolakton, morphine, dan
- Turgor kulit normal nitrogliserin)
- Adanya keseimbangan - Hindari penggunaan cairan
intake dan output IV hipotonik
- Instruksikan pasien dan
keluarga penggunaan catatan
asupan dan output, sesuai
kebutuhan
- Instruksikan pasien dan
keluarga mengenai intervensi
yang direncanakan untuk
menangani hypervolemia
- Batasi asupan natrium, sesuai
indikasi
5 Keletihan berhubungan Setelah dilakukan tindakan asuhan 1. Manajemen energi 0180
dengan kelesuan fisiologis keperawatan selama 3 x 24 jam - Kaji status fisiologi pasien
diharapkan keletihan teratasi yang menyebabkan kelelahan
(domain 4: aktivitas / dengan kriteria hasil : sesuai dengan konteks usia
istirahat kelas 3 Kelelahan : efek yang dan perkembangan.
keseimbangan energi kode mengganggu 00008 - Anjurkan pasien
00093) - Tidak ada malaise mengungkapkan perasaan
- Tidak ada gangguan secara verbal mengenai
dengan aktivitas sehari- keterbatasan yang dialami
hari
- Gunakan instrumen yang
- Tidak ada gangguan
valid untuk mengukur
aktivitas fisik
kelelahan
Tingkat kelelahan 00007
- Tidak ada kelelahan - Pilih intervensi untuk

- Tidak ada kelesuan mengurangi kelelahan baik

- Tidak ada sakit kepala secara farmakologis maupun


non farmakologis,dengan
tepat

16
- Monitor intake/asupan nutrisi
untuk mengetahui sumber
energi yang adekuat

- Konsulkan dengan ahli gizi


mengenai cara meningkatkan
asupan energi dari makanan

- Instruksikan pasien/orang
dekat dengan pasien
kelelahan (gejala yang
mungkin muncul dan
kekambuhan yang mungkin
nanti akan muncul kembali)

6 Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan tindakan asuhan 1. Terapi aktivitas 4310


berhubungan dengan keperawatan selama 3 x 24 jam - Bantu klien untuk
ketidakseimbangan antara diharapkan intoleransi aktivitas mengeksplorasi tujuan
suplai dan kebutuhan dapat teratasi dengan kriteria hasil personal dari aktivitas-
oksigen : aktivitas yang biasa
(domain 4: aktivitas / Toleransi terhadap Aktivitas dilakukan (mis., bekerja) dan
istirahat kelas 4 respons (0005) aktivitas-aktivitas yang
kardiovaskular/pulmonal - Saturasi oksigen pasien ketika disukai.
kode 00092) beraktivitas tidak terganggu - Dorong aktivitas kreatif yang
- Frekuensi pernapasan ketika tepat.
beraktivitas tidak terganggu - Bantu klien untuk
- Frekuensi nadi ketika mengidentifikasi aktivitas
beraktivitas tidak terganggu yang diinginkan.

- Klien dapat melakukan - Bantu klien untuk


aktivitas sehari-hari/ ADL menjadwalkan waktu-waktu
spesifik terkait dengan
aktivitas harian.

17
- Instruksikan klien dan
keluarga untuk
mempertahankan fungsi dan
kesehatan terkait peran dalam
beraktifitas secara fisik,
sosial, spiritual dan kognisi.

- Bantu klien untuk


meningkatkan motivasi diri
dan penguatan.

- Bantu klien dan keluarga


memantau perkembangan
klien terhadap pencapaian
tujuan.

7 Ansietas berhubungan Setelah dilakukan tindakan asuhan 1. Pengurangan kecemasan


dengan ancaman pada keperawatan selama 3 x 24 jam 5820
status terkini diharapkan ansietas klien teratasi
( domain 9 : dengan kriteria hasil : - Gunakan pendekatan yang
koping/toleransi stres kelas Tingkat kecemasan 1211 tenang dan meyakinkan
2.respons koping kode - Tidak ada perasaan gelisah - Nyatakan dengan jelas
00146) - Klien dapat beristirahat harapan terhadap pelaku
- Tidak ada rasa takut yang pasien
disampaikan secara lisan - Jelaskan semua prosedur dan
- Tidak ada peningkatan apa yang dirasakan
tekanan darah selama prosedur
- Tidak ada gangguan tidur - Temani pasien untuk
memberikan keamanan dan
mengurangi takut
- Berikan informasi faktual
mengenai diagnosis,
tindakan prognosis

18
- Libatkan keluarga untuk
mendampingi klien
- Instruksikan pada pasien
untuk menggunakan tehnik
relaksasi
- Dengarkan dengan penuh
perhatian
- Identifikasi tingkat
kecemasan
- Bantu pasien mengenal
situasi yang menimbulkan
kecemasan
- Dorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
- Kelola pemberian obat anti
cemas

D. Evaluasi keperawatan
1. Pola nafas klien normal
2. Nyeri akut teratasi
3. Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi
4. Kelebihan volume cairan teratasi
5. Klien tidak mengalami keletihan
6. Intoleransi aktivitas dapat teratasi
7. Klien tidak mengalami kecemasan

19
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN KASUS PADA KLIEN DENGAN GAGAL GINJAL
KRONIK (CHRONIC KIDNEY DISEASE) STADIUM 4
Kasus
Ny. E berumur 30 tahun, datang ke RS dr Soetomo pada tanggal 18 mei 2018 dengan keluhan
sesak memberat beserta mual, badan bengkak disertai batuk tidak berdahak sejak 3 hari
sebelum masuk rumah sakit dan mengeluh batuk terutama ketika sedang tidur malam. Klien
mengatakan sejak 2 minggu SMRS merasakan sesak dan bertambah berat jika beraktivitas.
Klien juga mengeluh badannya terasa sangat lemah dan sering merasa gelisah. Hasil
pemeriksaan didapatkan adanya edema pada ekstremitas bawah (kedalammnya 6mm, waktu
kembali 7 detik) dan kulit tampak kering. Sebelumnya klien pernah masuk rumah sakit dengan
keluhan hipertensi. Klien juga mengatakan bahwa ayahnya memiliki penyakit hipertensi. Klien
telah didiagnosa CKD sejak tiga bulan SMRS. Klien rujukan dari RSUA untuk hemodialisa di
RS dr Soetomo. Hasil pemeriksaan fisik: mata anemis, bibir kering. TTV ketika masuk rumah
sakit yaitu TD: 160/100 mmHg, Nadi: 88x/menit, RR: 28x/menit, dan S: 36,50C, TB : 162 cm,
BB: 57 kg, indeks massa tubuh (IMT) 21,7 (normal). Diagnosa medis: CKD stadium IV.
A. Pengkajian
1. Anamnesa
a. Identitas klien
Nama : Ny. E
Umur : 30 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Mulyosari
Status perkawinan : Menikah
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : PNS
Tanggal pengkajian : 18 Mei 2018
Dx keperawatan : CKD stadium IV
b. Keluhan utama
Klien mengeluh sesak nafas.

20
c. Riwayat penyakit sekarang
Klien datang ke RS dr Soetomo dengan keluhan sesak yang memberat beserta mual,
badan bengkak, dan batuk tidak berdahak sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit
(SMRS). Klien mengatakan sejak 2 minggu SMRS merasakan sesak dan bertambah
berat jika beraktivitas. Klien telah didiagnosa CKD sejak tiga bulan SMRS. Pasien
rujukan dari RSUA untuk hemodialisa di RS dr Soetomo.
d. Riwayat penyakit dahulu
Klien pernah masuk rumah sakit dengan keluhan hipertensi.
e. Riwayat penyakit keluarga
Ayah klien memiliki penyaki hipertensi.
f. Riwayat psikososial
Klien mengatakan cemas dengan kondisi penyakit yang dideritanya, karena sejak
sakit klien tidak lagi dapat bekerja.
g. Pola sehari-hari
1) Pola nutrisi
Intake makanan : klien merasa mual dan nafsu makan menurun.
Intake cairan : klien minum 4 gelas/hari, air dan teh.
2) Pola eliminasi
Sebelum sakit klien biasa BAB 1x/hari pagi hari. Pengeluaran urin 300cc per 24
jam.
3) Pola aktivitas dan latihan
Kemampuan perawatan diri 0 1 2 3
Makan/ minum √
Mandi √
Toileting √
Berpakaian √
Mobilitas di tempat tidur √
Berpindah/ berjalan √
Ambulasi/ ROM √
Keterangan :
0 = mandiri, 1 = alat bantu, 2 = dibantu orang lain, 3 = tergantung total.

21
4) Pola tidur dan istirahat
Sebelum sakit klien mulai tidur malam sekitar jam 21.00 kemudian jam 04.15
bangun untuk melaksanakan sholat subuh. Saat ini klien mengalami gangguan
tidur, sering terbangun karena batuk.
5) Sistem nilai dan keyakinan
Klien dan keluarga beragama islam. Klien melakukan berbagai ikhtiar untuk
keadaannya sekarang.
2. Pemeriksaan fisik
a) Keadaan umum
Kesadaran compos mentis
GCS E4V5M6
TB : 162 cm, BB: 57 kg, indeks massa tubuh (IMT) 21,7 (normal).
b) TTV
TD: 160/100 mmHg, Nadi: 88x/menit, RR: 28x/menit, dan S: 36,50C.
c) Pemeriksaan B1-B6
- B1 (Breathing)
Nafas dangkal, penggunaan otot bantu nafas, RR = 28 x/menit, sesak dan bertambah
berat jika beraktivitas
- B2 (Blood)
Hipertensi TD: 160/100 mmHg, Nadi: 88x/menit, pitting edema pada ekstremitas
bawah grade 3, badan bengkak, mata anemis, CRT > 3 detik.
- B3 (Brain)
Kesadaran compos mentis, GCS E4V5M6 dan sering merasa gelisah.
- B4 (Bladder)
BAK 2x/hari, urin pekat, urin per 24 jam 300 cc dan warnanya kuning pekat.
- B5 (Bowel)
Klien mengeluh mual, nafsu makan menurun, dan pola BAB 1x perhari.
- B6 (Bone) dan Integumen
Badan lemas, lemah, kulit dan bibir kering.
Kekuatan otot
5 5

5 5

22
3. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Parameter Hasil Nilai normal
Hb 8,5 mg/dl 12-16
Hemotokrit 20,6 % 40-48
Eritrosit 2,47 ribu/ µl 4,5-5,5
Leukosit 7,93 ribu/mm3 5-10
Trombosit 341 ribu/mm3 150-400
Na 135 mEq/l 135-145
K 5,6 mEq/l 3,5-5,5
Cl 108 mEq/l 100-106
LED 133 mm 0-10
Ureum 153 mg/dl <50
Kreatinin 8,5 mg/dl 0,8-1,3
Albumin 3,26 g/dl 3,4-4,8
HbA1c 5,9 < 5,7
GDS 204 mg/dl 70-140
Lipase 101 u/l < 60
Trigliserida 87 mg/dl <150
b. Pemeriksaan AGD (Analisa Gas Darah)
pH : 7,4 (7,35 – 7,45)
pCO2 : 38,1 (35 -45 mmHg)
pO2 : 73,0 (75-100mmHg)
HCO3 : 23 (21 – 25 mmol/l)
O2 Saturasi : 94 (95-98%)
c. LFG (Laju filtrasi ginjal)
22ml/menit/1,73m2
B. Analisa Data
Data Etiologi Masalah Keperawatan
DS: Ketidakefektifan pola
- Klien mengeluh sesak CKD nafas
nafas dan memberat 

23
jika beraktivitas sejak Jumlah kreatin dalam
2 minggu SMRS. darah meningkat
- Klien mengeluh batuk 
tidak berdahak sejak 3 Penyaringan darah di
hari sebelum masuk glomerulus terganggu
rumah sakit dan sering 
batuk terutama ketika Protein larut dalam
sedang tidur malam. darah dan bercampur
dengan urine
DO: 
- RR = 28 x/menit, Air seni berbusa
- Nafas klien dangkal 
- Klien tampak Penmpukan zat-zat sisa
menggunakan otot metabolisme dalam
bantu nafas. darah
- pCO2 : 38,1 mmHg

- pO2 : 73,0 mmHg
Kemampuan darah
- SaO2 : 94%
mengikat O2 

Kebutuhan O2 tidak
tercukupi

Sesak nafas

Ketidakefektifan pola
nafas
DS: CKD Kelebihan volume cairan
- Klien mengeluh 
badannya bengkak. Penurunan fungsi ginjal
DO: 
- Adanya edema pada RAA 
ekstremitas bawah 

24
(kedalammnya 6mm, Retensi Na dan H2O
waktu kembali 7 
detik). Edema
- TD : 160/100 mmHg 
- Klien BAK 2x/hari, Kelebihan volume cairan
urin pekat, warnanya
kuning.
- Urine 300cc/24jam
- Hasil lab:
Hb: 8,5 mg/dl, Hct:
20,6 %, K: 5,6 mEq/l,
Na: 135 mEq/l, Cl: 108
mEq/l, kreatinin: 8,5
mg/dl
- LFG (Laju filtrasi
ginjal):
22ml/menit/1,73m2
DS: CKD Ketidakseimbangan
- Klien mengeluh mual  nutrisi kurang dari
dan nafsu makan Sekresi protein kebutuhan tubuh
menurun terganggu

DO: Sindrom uremia
A: 
TB : 162 cm, BB: 57 Gangguan keseimbangan
kg, IMT: 21,7 (normal). asam basa
B: 
Hb: 8,5 mg/dl, Albumin: Produksi asam
3,26 g/dl meningkat
C:

Kulit klien kering, bibir
Asam lambung
kering, mata anemis
meningkat

25
D: 
Sebelum sakit klien Gangguan mortlitas dan
makan 3x sehari, sejak luka pada GIT
sakit klien hanya makan 
4-5 sendok. Mual muntah

Anoreksia

Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
DS: CKD Keletihan
- Klien mengeluh 
badannya terasa sangat Sekresi eritopoitis
lemah. 
Penurunan sel darah
DO: merah
- Klien tampak lemas. 
- Klien hanya Produksi Hb 
beraktivitas di tempat

tidur.
Transport O2 terganggu
- Hb : 8,5 mg/dl

- Hct : 20,6 %
Anemia
- SaO2 : 94%

- TD: 160/100 mmHg,
Kesulitan dalam
Nadi: 88x/menit, RR:
berkonsentrasi
28x/menit, dan S:

36,50C.
Kelelahan

Keletihan

26
C. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola nafas b.d hipoventilasi (Domain 4: Aktivitas / Istirahat, Kelas 4:
Respons Kardiovaskular / Pulmonal)
2. Kelebihan volume cairan b.d gangguan mekanisme regulasi (Domain 2: nutrisi kelas
5.hidrasi kode 00026)
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan untuk
mencerna makanan (Domain 2 : Nutrisi, Kelas 1 : Makan, Kode : 00002)
4. Keletihan b.d fisiologi : peningkatan kelemahan fisik (Domain 4: aktivitas / istirahat
kelas 3 keseimbangan energi kode 00093)
D. Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa keperawatan NOC NIC
1. Ketidakefektifan pola Setelah dilakukan tindakan Monitor pernapasan (3350):
nafas b.d hipoventilasi keperawatan selama 1x24 jam - Monitor kecepatan irama,
diharapkan sesak nafas klien kedalaman dan kesulitas
(Domain 4: Aktivitas / berkurang dan pola napas klien bernapas
Istirahat, Kelas 4: kembali normal. - Monitor pola napas
Respons Kardiovaskular / Dengan kriteria hasil: (misalnya bradipneu,
Pulmonal) 1. Status pernafasan (0415): takipneu, hiperventilasi,
- Frekuensi pernapasan pernapasan kusmaul,
normal 041501 pernapasan, apneustik,
- Irama pernapasan norma respirasi biot, dan pola
041502 ataxic)
- Kedalaman inspirasi - Catat pergerakan dada, catat
normal 041503 ketidaksimetrisan,
- Suara auskultasi napas penggunaan otot-otot bantu
normal 041504 napas dan retraksi pada otot
supraklavikula dan
intercosta
- Auskultasi suara nafas
setelah tindakan untuk
dicatat
- Monitor pernafasan cuping
hidung
27
- Monitor keluhan sesak nafas
pasien termasuk kegiatan
yang meningkatkan atau
memperburuk sesak nafas
tersebut
Terapi oksigen (3320)
- Pertahankan kepatenan jalan
napas
- Siapkan peralatan oksigen
dan berikan melalui sistem
humidifier
- Berikan oksigen tambahan
seperti yang diperintahkan
- Monitor aliran oksigen
- Monitor perangkat [alat]
pemberian oksigen
2. Kelebihan volume cairan Setelah dilakukan tindakan 1. Manajemen hipervolemia
b.d gangguan mekanisme asuhan keperawatan selama (4170)
regulasi 3x24 jam diharapkan kelebihan - Monitor status
volume cairan klien teratasi hemodinamik, meliputi
(Domain 2: nutrisi kelas dengan kriteria hasil : denyut nadi, tekanan
5.hidrasi kode 00026) 1. Keseimbangan cairan darah jika tersedia
(0601) : - Monitor edema perifer
- Tekanan darah normal - Monitor intake dan
(100-110/70-90 mmHg) output
- Denyut nadi radial - Berikan obat yang
normal (60-100x/menit) diresepkan untuk
- Tidak ada edema perifer mengurangi preload
- Turgor kulit normal (misalnya., furosemide,
- Adanya keseimbangan spironolakton,
intake dan output morphine, dan
nitrogliserin)

28
- Hindari penggunaan
cairan IV hipotonik
- Instruksikan pasien dan
keluarga penggunaan
catatan asupan dan
output, sesuai kebutuhan
- Instruksikan pasien dan
keluarga mengenai
intervensi yang
direncanakan untuk
menangani
hypervolemia
- Batasi asupan natrium,
sesuai indikasi
3. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan Manajemen nutrisi
nutrisi kurang dari keperawatan selama 2x24 jam - Tentukan status gizi klien dan
kebutuhan tubuh b.d nutrisi klien adekuat. kemampuan klien untuk
ketidakmampuan untuk Kriteria hasil: memenuhi kebutuhan gizi.
mencerna makanan. Status nutrisi - Identifikasi adanya alergi atau
- Asupan makanan adekuat. intoleransi makanan yang
(Domain 2 : Nutrisi, - Asupan cairan seimbang. dimiliki klien.
Kelas 1 : Makan, Kode : - Rasio berat badan/ tinggi - Atur diet yang diperlukan.
00002) badan normal. - Lakukan atau bantu klien
Nafsu makan terkait dengan perawatan
- Klien memiliki mulut sebelum makan.
hasrat/keinginan untuk - Berikan obat-obatan
makan. antiemetik sebelum makan.
- Klien dapat merasakan Manajemen gangguan makan
makanan - Dorong klien untuk
Keparahan mual dan muntah mendiskusikan makanan yang
- Tidak ada frekuensi mual dan disukai bersama dengan ahli
muntah. gizi.

29
- Klien tidak mengalami - Timbang berat badan klien
kehilangan berat badan. secara rutin.
- Tidak ada - Monitor intake/asupan
ketidakseimbanagan makanan dan asupan cairan.
elektrolit.
4. Keletihan b.d fisiologi : Setelah dilakukan tindakan Manajemen energi
peningkatan kelemahan keperawatan selama 3x24 jam - Kaji status fisiologis klien
fisik. keletihan klien teratasi. yang menyebabkan kelelahan
Kriteria hasil: sesuai dengan konteks usia
(Domain 4: aktivitas / Tingkat kelelahan dan perkembangan.
istirahat kelas 3 - Tidak ada kelelahan. - Tentukan jenis dan banyaknya
keseimbangan energi - Tidak ada kelesuan. aktivitas yang dibutuhkan.
kode 00093) - Tidak ada kehilangan selera - Monitor intake nutrisi untuk
makan. mengetahui sumber energi
- Kegiatan sehari-hari (ADL) yang adekuat.
tidak terganggu - Monitor sistem kardiorepirasi
- Alat bantu kegiatan sehari- klien selama kegiatan.
hari (IADL) tidak terganggu. - Catat waktu dan lama istirahat/
- Kualitas istirahat dan tidur tidur klien.
tidak terganggu. - Tingkatkan tirah baring.
- Keseimbanagan antara - Lakukan ROM aktif/pasif
kegiatan dan istirahat. untuk menghilangkan
- Hematokrit normal (40-48%). ketegangan otot.
- Saturasi oksigen normal (95- Terapi aktivitas
100%). - Berkolaborasi dengan terapis
Toleransi terhadap aktivitas fisik, okupasi dan terapi
- Nadi ketika beraktivitas rekreasional dalam
normal (60-100x/menit). perencanaan dan pemantauan
- Pernafasan ketika beraktivitas program akivitas.
normal (12-20x/ menit). - Ciptakan lingkungan yang
- Tekanan darah saat aman untuk dapat melakukan
beraktivitas normal 110- pergerakan otot secara
120mmHg berkala.

30
70-80 - Bantu klien dan keluarga
untuk mengidentifikasi
kelemahan dalam level
tertentu.
E. Evaluasi
1. Pola nafas klien normal
2. Kelebihan volume cairan teratasi
3. Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi
4. Klien tidak mengalami keletihan

31
BAB V
PENUTUP
4.1.Kesimpulan
Chronic Kidney Disease (CKD) atau Gagal Ginjal Kronik memiliki stadium
keparahan yaitu dari stadium 1 sampai stadium 5 yang mana semakin besar stadium
CKD menunjukkan semakin buruk atau rusaknya fungsi ginjal. Stadium ini dinilai
menggunakan Glomerular Filtration Rate (GFR) semakin rendah nilai GFR maka
semakin besar stadiumnya. GFR pada gagal ginjal stadium 4 memiliki nilai 15-29.
Penurunan nilai GFR dapat disebabkan oleh gangguan matebolik, infeksi, gangguan
imunologis, hipertensi, gangguan tubulus primer dan gangguan kongenital. CKD
kemudian menimbulkan beberapa tanda dan gejala seperti hipertensi, pitting edema,
edema periorbital, krekel, nafas dangkal, anoreksia, mual dan muntah, nafas berbau
amoniak, dan kehilangan kekuatan otot serta gejala lainnya. Manifestasi tersebut dapat
menjadi masalah keperawatan yaitu ketidakefektifan pola nafas, nyeri akut,
ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh, kelebihan volume cairan,
keletihan, intoleransi aktivitas, dan ansietas. Tindakan asuhan keperawatan yang dapat
diberikan kepada pasien dengan CKD antara lain : pemberian terapi oksigen,
manajemen nyeri, manajemen nutrisi dan manajemen mual, manajemen hipervolemi,
manajemen, terapi aktivitas serta pengurangan kecemasan.
4.2.Saran
Gagal ginjal kronis adalah salah satu penyakit kronis yang memiliki prevalensi
tinggi di Indonesia. Hal tersebut menjadikan penting untuk perawat memahami konsep
tentang CKD, potensi masalah yang timbul serta tatalaksana dan tindakan keperawatan
yang harus diberikan. Diharapkan dengan mengerti masalah tentang CKD perawat
dapat melakukan asuhan keperawatan yang cepat, tepat dan efisien kepada pasien
dengan CKD. Tidak hanya peran perawat, disini juga diharapkan keluarga dan
masyarakat disekitar klien dapat ikut berperan sebagai sistem pendukung karena
penyakit gagal ginjal kronik memiliki waktu pengobatan yang lama dan sulit untuk
disembuhkan kecuali dengan cangkok ginjal.

32
DAFTAR PUSTAKA
Muttaqin, Arif, Kumala Sari. 2011. Askep Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta: Salemba
Medika.
Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, 2004. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta:
EGC
Muhammad, As’adi, 2012, Serba Serbi Gagal Ginjal, Yogyakarta : Diva Press
O’callaghan, Chris, 2007, At a Glance Sistem Ginjal, Jakarta : Erlangga

33

Anda mungkin juga menyukai