Anda di halaman 1dari 5

JURNAL PKM

Hari / tanggal : Rabu / 16 juli 2008

Kegiatan kuliah : Microteaching

Perkuliahan dibuka oleh pak Parno ,dengan senyumnya yang sangat simpatik beliau mengatangkan
bahwa kali ini dilakan microteaching untuk peserta guru jurusan fisika. Untuk microteaching setiap
peserta diberi waktu 30 menit. Dan peserta yang lain sebagai pengamat sekaligus untuk merefleksi.
Pada hari ini yang tampil adalah pak Agus, bu Nunuk dan pak Siswanto.

Pak Agus : memilih model pembelajaran DI < Pembelajaran langsung >, untuk materi besaran dan
satuan, penggunaan alat ukur. Dengan sintak – sintak sebagai berikut: 1. Guru menyampaikan tujuan
, informasi latarbelakang pelajaran , pentingnya pelajaran ,mempersiapkan siswa untuk belajar. 2.
Mendemonstrasikan ketrampilan yang benar. 3. Merencanakan dan member bimbingan pelatihan
awal. 4 Mencek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, member umpan balik. 5.
Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerappan.

Bu Nunuk : tampil dengan model pembelajaran STAD <Student Team Achievement Division >,
dengan materi GAYA, yaitu materi kelas VIII SMP pada semester awal. Bu Nunuk berusaha
menerapkan model pembelajaran STAD dengan sintak – sintak yang ada pada model pembelajaran
STAD , yaitu dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Membentuk kelompok yang heterogen. 2.
Guru menyajikan pelajaran. 3. Guru member tugas kepada kelompok yang harus dikerjakan bersama
dalam kelompok. 4. Guru member kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis
tidak boleh saling membantu. 5. Memberi evaluasi. Guru member penghargaan bagi yang bisa
menjawab.

Pak siswanto : tampil dengan model pembelajaran NHT < Number Heads Together >, materi yang
dibawakan adalah tentang alat-alat optic yaitu tentang mata. Pak Siswanto tampil dengan sangat
baik. Membagikan lks yang harus dikerjakan oleh peserta, namun gambarnya ada yang keliru.
Seperti halnya pak Agus dan bu Nunuk , PakSis juga berusaha menerapkan sintak – sintak dari
model pembelajaran NHT. Adapun sintak model pembelajaran NHT sebagai berikut : 1. Pesert a
didik dibagi dalam kelompok , setiap peserta didik dalam kelompok mendapat nomor. 2. Guru
memberikan tugas dan masing –masing kelompok mengerjakannya. 3. Kelompok mendiskusikan
jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya. 4. Guru
memanggil salah satu nomor peserta didik dan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama
mereka. 5. Teman yang lain member tanggapan , kemudian guru menunjuk nomor yang lain. Guru
dan peserta didik menyimpulkan. Guru member evaluasi.

Tanggapan dari teman teman :

Untuk Pak Agus :

Dari Pak Siswanto : Bahwa matri ini cukup sulit jika tidak didukung dengan praktikum dengan
bimbingan oleh guru, dalam tiap kelompok harus ada alat ukurnya yang akan diajarkan.
Dari Pak Amat : untuk materi pengukuran jangan lupa harus disiapkan lks < lembar kerja siswa >
kemudian dengan bimbingan guru siswa melakukan praktikum langkah demi langkah.

Dari Pak Agus sendiri bahwa beliau sendiri jika mengajar pada materi ini khususnya pada pengukuran
dengan alat ukur jangka sorong disekolatnya mempunyai media jangkasorong yang terbuat dari
triplek yang cukup besar jadi siswa dapat mengati dengan sangat mudah pada saat guru
mendemonstrasikan.

Untuk bu Nunuk :

Dari Pak Bambang ; menyarankan untuk membentuk kelompok dengan membagikan gambar –
gambar. Bagi siswa yang mempunyai gambar yang sama membentuk satu kelompok, ide yang bagus
pak Bambang.

Pak Agus ; sebaiknya dalam pembelajaran ipa banyak dimunculkan prakteknya , walaupun hanya
pura – pura.

Pak Amat ; menyarankan untuk menyuruh siswa maju kedepan untuk memperagakan mendorong
beberapa benda , misal kursi dengan tembok dan disuruh merasakan bagaimana gaya dari kedua
kerja tersebut.

Bu sumargiati ; belum memberikan penghargaan untuk siswa yang menjawab benar.

Pak Sumarta : jika ada teman yang tanya sebaiknya jangan guru menjawab langsung, lempar dulu
kesiswa yang lain.

Untuk penampilan pak Siswanto :

Oleh bu Nunuk ; dalam pembeljaran NHT itu harus ada omor dikepalanya, sepertihalnya nama
model pembelajaranny Numbered Heads Togerther. Lks yang dibuat sebaiknya ada tabel nama dan
fungsi.

Pak Amat ; menyarankan hal yang sama pemberian nomor dikepala , karena memang kekuatan
model NHT itu disitu. Sehingga guru tidak perlu memanggil namanya tapi cukup dengan nomor
dikepala yang dikenakan oleh peserta.

Tanggapan dosen :

Pak parno ; setiap model pembelajaran ada sintak – sintaknya yang harus dilakukan dan sebaiknya
tidak dibolak balik. Sehingga Nampak itu termasuk pembelajaran apa yang sedang dilakukan
<Nampak perbedaan model pembelajaran yang dilakukan oleh seorang model >.Secara keseluruhan
penampilan bapak ibu sudah baik < terima kasih pak Parno >

Refleksi
Memang benar secara keseluruhan pembelajaran dan penampilan teman –teman sudah cukup baik,
saya yakin jika nanti mengajar dikelas yang sesungguhnya pasti akan jauh lebih baik. Sebab pada saat
teman tampil lebih banyak digodanya dari pada seriusnya. Maklum ilmu mereka memang cukup
untuk menggoda kita para model yang sedang melakukan microteaching jadi wajar kalau mereka
menggoda. Mendengar komentar teman – teman yang konyol pak Parno dosen kami hanya senyum
– senyum manis saja.

Dengan adanya mikro teaching ini sangat berarti dan berharga buat saya, menjadi semakin tahu
model – model pembelajaran dan penerapanya.Dan komentar- komentar dari teman – temen
merupakan pengalaman yang sangat berharga buat saya. Dan kini saya baru sedikit mengerti dengan
adanya menggunakan model pembelajaran seorang guru selain harus menerapkan sintak – sintaknya
juga harus berusaha membuat pembelajaran mereka menjadi berhasil.

JURNAL PKM.

Hari / tanggal : Kamis / 17 Juli 2008

Kegiatan Kuliah : Micro teaching.

Hari ini adalah kegiatan micro teaching yang kedua , diantara teman- teman yang belum tampil
mereka sudah menyiapkan diri untuk tampil dengan segala perangkat yang diperlukan untuk micro
teaching nya .

Kemudian pak Parno membuka pelajaran hari itu juga mengingat kembali waktu yang disediakan
oleh bapak ibu yang akan tampil yaitu 30 menit, dan bapak ibu yang lain sebagai observernya jadi
diharapkan untuk menyimak jalannya micro teaching. Micro teaching pertama dilakukan oleh bu
Atun kemudian oleh bu Arta.

Penampilan bu Atun : Bu Atun menggunakan model pembelajaran Jigsow untuk materi besaran dan
satuan.Dengan sintak – sintak sebagai berikut: 1. Guru membagi peserta didik dalam kelompok
<masing-masing kelompok beranggotakan 4 orang >. 2. Tiap peserta didik dalam kelompok diberi
bagian materi yang berbeda < kelompok asal >. 3. Tiap peserta didik dalam kelompok membaca
bagian materi yang ditugaskan. 4. Anggota dari kelompok yang berbeda yang telah mempelajari sub
bab yang sama bertemu dengan kelompok yang baru < kelompok ahli > untuk mendiskusikan sub
bab mereka. 5. Setelah selesai diskusi dalam kelompok ahli , setiap peserta didik kembali ke
kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu kelompok mereka tentang sub bab yang mereka
kuasai dan tiap tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh – sungguh, kemudian membuat
rangkuman. 6. Tiap kelompok ? tim ahli mempresentasikan hasil diskusi. 7 . Guru dan peserta didik
membuat kesimpulan. 8. Guru emberi evaluasi.

Bu Atun berusaha menerapkan model pembelajaran jigsow tersebut. Namun rupanya terlalu banyak
materi yang bharus dipelajari , sehingga agak menemui kendala dalam hal ini. Jadi dalam
penggunaan model pembelajaran rupanya harus juga memperhitungkan waktu dan jenis m ateri
yang sesuai.
Penampilan berikut adalah Bu Artha : Bu Artha mengajarkan materi tentang pemuaian dengan
model pembelajaran Learning Cykle.

Seperti halnya bu Atun , bu Artha juga berusaha tampil dengan sebaik mungkin , dengan gayanya
yang khas sabar ,seperti selalu ngayomi banget dan berusaha menjawab pertnyaan teman – teman
sebaik mungkin. Padahal tahu sendiri bagai mana perilaku teman – teman yang sangat konyol, tapi
bu Artha tampil dengan sabar dan penuh dengan senyuman. Sepertinya kalau siswa diajar oleh Bu
Artha seneng deh.

Tanggapan teman – teman :

Untuk Bu Atun

Dari Pak Bambang : menyarankan jika membuat kelompok sangat banyak kemungkinan besar terjadi
kekurang alat, hal ini bisa disiasati dengan cara bergiliran.

Dari Pak Amat : untuk melakukan model jigsow perlu waktu yang cukup , kalau pada pembelajaran
kelas VII masuk pertama < maksudnya masuk sekolah baru > , sebaiknya diberi metode D I dulu
karena bisa jadi belum banyak mengenal model pembelajaran.

Pak Siswanto : menyarankan untuk alat – alat pengukuran sebaiknya jangan menggunakan model
Jigsow, sebaiknya model yang lain misalnya pembelajaran langsung atau model pembelajaran
terbimbing.

Pak Agus : metode Jigsow digunakan untuk pengobatan yaitu mengobati siswa yang malas / tidak
aktif agar mau aktif bekerja sama denga teman –temannya dalam belajar. Oleh sebab itu harus tau
kondisi siswa sebelumnya.

Pak Muklas : dalam penggunaan metode hendaknya disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan.
Jika metode itu tidak sesuai maka ketidak berhasilan akan siap menanti.

Komentar untuk Bu Artha :

Dari pak Abdulrahman ; buat lks < lembar kerja siswa > yang membuat anak berfikir dengan adanya
alat yang disediakan walaupun tanpa adanya petunjuk kerja.Misal bagaimana “ membuat balon
agar mengembang , tanpa meniup “

Pak Siswanto : Bu Artha terlalu banyak memembimbing dan sabar, sehingga kurang dapat
memandirikan anak.

Komentar Dosen :

Pak Parno : Pak Parno menyerahkan model dan penyesuaian materi kepada bapak ibu sendiri, beliau
menyontohkan jika pembelajaran di Jepang tidak perlu macam – macam metode, yang penting guru
menyampaikan pelajaran , tapi yang terpenting harus ada kegiatan awal, inti dan akhir. Di Jepang
pada pembelajaran yang penting ada prose dan produk

Tentang LKS kalau bisa ada LKS yang tiap kelompok berbeda, maksudnya tiap anak mengerjakan
kegiatan yang berbeda, sehingga tiap anak menjadi benar – benar berusaha.

REFLEKSI :

Dari penampilan bu Atun dan Bu Artha, banyak sekali masukan – masukan yang diberikan oleh
teman –teman sebagai komentator juga komentar yang diberikan oleh dosen kami yaitu Pak Parno,
yang membuat pengalaman saya bertambah bahwa jika kita ingin menentukan model pembelajaran
jangan lupa harus menyesuaikan materi yang akn kita berikan agar tidak banyak menemui kesulitan
dan kendala – kendala juga tidak terlalu banyak ketimpangannya. Juga harus diterpkan pada
kooperatifnya, bahwa pemahaman siswa bukan karena sajian guru, tapi lewat tugas dan diskusi
kelompok, dan kekuatannya terletak pada LKS nya.

Jika di jurusan biologi semua mahasiswa diwajibkan melakukan micro teaching, tapi di jurusan fisika
hanya diwakili oleh 5 mahasiswa saja, padahal saya ingin semua teman – teman tampil agar saya
lebih banyak tahu model – model pembelajaran dan penerapannya, terutama kekonyolan dari
teman – teman pada saat jadi siswa yang berlaku seolah –olah jadi anak – anak kembali .