Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pembangunan ekonomi merupakan tahapan proses yang mutlak
dilakukan oleh suatu bangsa untuk dapat meningkatkan taraf hidup dan
kesejahteraan seluruh rakyat bangsa tersebut. Pembangunan ekonomi suatu
negara tidak dapat hanya dilakukan dengan berbekal tekad yang membaja dari
seluruh rakyatnya untuk membangun, tetapi lebih dari itu harus didukung pula
oleh ketersediaan sumberdaya ekonomi, baik sumberdaya alam; sumberdaya
manusia; dan sumberdaya modal, yang produktif. Dengan kata lain, tanpa adanya
daya dukung yang cukup kuat dari sumberdaya ekonomi yang produktif. Maka
pembangunan ekonomi mustahil dapat dilaksanakan dengan baik dan
memuaskan. Adapun kepemilikan terhadap sumberdaya ekonomi ini oleh negara-
nagara dunia ketiga tidaklah sama. Ada negara yang memiliki kelimpahan pada
jenis sumberdaya ekonomi tertentu, ada pula yang kekurangan. Pada banyak
negara dunia ketiga, yang umumnya memilki tingkat kesejahteraan rakyat yang
relatif masih rendah, mempertinggi tingkat pertumbuhan ekonomi memang
sangat mutlak diperlukan untuk mengejar ketertinggalan di bidang ekonomi dari
negara-negara industri maju. Oleh karena masih relatif lemahnya kemanpuan
partisipasi swasta domestik dalam pembangunan ekonomi, mengharuskan
pemerintah untuk mengambil peran sebagai motor penggerak pembangunan
ekonomi nasional.

Seoalah-olah segala upaya dan strategi pembangunan difokuskan oleh


pemerintah untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan laju pertumbuhan
ekonomi yang relatif tinggi dari tahun ke tahun. Sehingga, seringkali hal tersebut
dilakukan melebihi kemampuan dan daya dukung sumberdaya ekonomi didalam
negeri yang tersedia pada waktu itu. Akibatnya, pemerintah negara-negara
tersebut harus mendatangkan sumberdaya ekonomi dari luar negara-nagara lain
untuk dapat memberikan dukungan yang cukup bagi pelaksanaan program
pembangunan ekonomi nasionalnya. Dengan dukungan sumberdaya ekonomi
dari luar negara tersebut, maka bukanlah sesuatu yang mustahil, apabila di
beberapa nagara dunia ketiga atau negara yang sedang berkembang, laju

Utang Luar Negeri Indonesia 1


pertumbuhan ekonomi dapat melebihi laju pertumbuhan ekonomi negara-negara
industri maju. Sumberdaya modal merupakan sumberdaya ekonomi yang paling
sering didatangkan oleh pemerintah negara-negara sedang berkembang untuk
mendukung pembangunan nasionalnya. Hal ini terjadi karena adanya
keterbatasan sumberdaya modal dalam negeri. Sumberdaya modal didatangkan
dari luar negeri, yang umunya dari negara-negara industri maju, ini wujudnya
bisa beragam, seperti penanaman modal asing (direct invesment), berbagai
bentuk investasi portofolio (portofolio invesment) dan pinjaman luar negeri. Dan
tidak semuanya diberikan sebagai bantuan yang sifatnya cuma-cuma (gratis).
Tetapi dengan berbagai konsekuensi baik yang bersifat komersil maupun politis.

Solusi yang dianggap bisa diandalkan untuk mengatasi kendala


rendahnya mobilisasi modal domestik adalah dengan mendatangkan modal dari
luar negeri, yang umumnya dalam bentuk hibah (grant), bantuan pembangunan
(official development assistance), kredit ekspor, dan arus modal swasta, seperti
bantuan bilateral dan multilateral; investasi swasta langsung (PMAP); portofolio
invesment; pinjaman bank dan pinjaman komersial lainnya; dan kredit
perdagangan (eksper/impor)/ modal asing ini dapat diberikan baik kepada
pemerintah maupun kepada pihak swasta.

Pada satu sisi, datangnya modal dari luar negeri tersebut dapat digunakan
untuk mendukung program pembangunan nasional pemerintah, sehingga target
pertumbuhan ekonomi nasional dan peningkatan pendapatan per kapita
masyarakat meningkat. Tetapi pada sisi lain, diterimanya modal asing tersebut
dapat menimbulkan berbagai masalah dalam jangka panjang, baik ekonomi
maupun politik, bahkan pada beberapa negara-negara yang sedang berkembang
menjadi beban yang seolah-olah tak terlepaskan, yang justru menyebabkan
berkurangnya tingkat kesejahteraan rakyatnya.

Motivasi Timbulnya Hutang Luar Negeri :

1. Motivasi Negara Pemberi Bantuan


Negara-negara donor memberikan bantuannya pertama-tama karena hal
tersebut memang utuk kepentingan politik, strategis dan/atau ekonomi
mereka. Secara garis besar terdapat dua motivasi yaitu:

Utang Luar Negeri Indonesia 2


1.) Motivasi Politik
Motivasi politik merupakan motivasi yang paling penting bagi
Negara-negara pemberi hutang.Kebanyakan pemberian hutang bagi
Negara-negara berkembang lebih diarahkan untuk mempertahankan
rezim-rezim pemerintahan yang kadang goyah, daripada untuk
mendorong kemajuan ekonomi dan social dalam jangka panjang.
2.) Motivasi Ekonomi
Dalam konteks Negara maju, program bantuan luar negeri
memiliki rasional ekonomis yang kuat.Dalam kenyataannya, walaupun
ada motivasi politik namun landasan bersifat ekonomi merupakan “Lip-
service” untuk memberikan bantuan.Argumentasi ekonomi yang
mengatasnamakan hutang sebagai obat yang sifatnya penting untuk
pembangunan Negara-negara berkembang harus tidak menutupi
kenyataan bahwa keuntungan akan mengalir pada Negara-negara
pemberi bantuan. Negara-negara penerima bantuan akan kesulitan
mengembalikan hutang-hutangnya yang besar. Di samping itu, juga akan
menaikkan ongkos impor, seringkali sebesar 20-40% .Biaya impor ekstra
meningkat karena adanya pinjaman yang dikaitkan dengan ekspor.
2. Motivasi Negara Penenerima Bantuan
Mengapa Negara berkembang berkeinginan untuk menerima pinjaman,
bahkan dalam bentuk kurang lunak sekalipun. Ada setidaknya tiga alasan,
mengapa Negara berkembang mencari bantuan luar negeri yaitu:
1.) Alasan ekonomis yang bersifat praktis. Karena Negara berkembang
cenderung mempercayai pendapat ahli ekonomi Negara maju. Yaitu
bahwa bantuan luar negeri merupakan obat pendorong dan stimulant bagi
proses pembangunan, serta mampu memicu pertumbuhan ekonomi yang
mandiri.
2.) Alasan kedua menyangkut masalah politik. Di beberapa Negara, pinjaman
luar negeri dianggap memberikan kekuatan politik yang lebih besar
kepada pemimpin yang sedang berkuasa untuk menekan oposisi dan
mempertahankan kekuasaannya. Dalam hal ini, bantuan tidak hanya
meliputi transfer sumber keuangan, akan tetapi juga dalam bentuk bantuan
militer dan pertahanan dalam negeri.

Utang Luar Negeri Indonesia 3


3.) Motivasi yang dilandasi oleh moral, yaitu berlatar belakang pada rasa
tanggung jawab kemanusiaan Negara maju terhadap Negara berkembang.
Dan bantuan luar negeri dianggap sebagai kewajiban social bagi Negara-
negara maju untuk pembangunan Negara-negara berkembang.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan Utang Luar Negeri ?
2. Bagaimana bentuk – bentuk Pinjaman Luar Negeri ?
3. Bagaimanakah sejarah Utang Luar Negeri Indonesia ?
4. Apa yang menjadi Faktor Penyebab Utang Luar Negeri ?
5. Bagaimankah Data Posisi hutang luar negeri Indonesia ?
6. Apa Kebaikan dan Keburukan Utang Luar Negeri ?
7. Bagaimanakah Dampak Utang Luar Negeri ?
8. Apakah solusi Utang Luar Negeri ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui Pengertian Utang Luar Negeri
2. Untuk mengetahui Bentuk – bentuk Pinjaman Luar Negeri
3. Untuk mengetahui sejarah Utang Luar Negeri Indonesia
4. Untuk mengetahui Faktor Penyebab Utang Luar Negeri
5. Untuk mengetahui Data Posisi Utang Luar Negeri Indonesia
6. Untuk mengetahui Kebaikan dan Keburukan Utang Luar Negeri
7. Untuk mengetahui Dampak Utang Luar Negeri
8. Untuk mengetahui solusi Utang Luar Negeri

1.4 Manfaat
1. Untuk menambah wawasan Penulis dalam perekonomian Indonesia
khususnya yang berhubungan dengan utang luar negeri
2. Sebagai referensi bagi peneliti lain yang sedang meneliti topik yang berkaitan
dengan penelitian ini.

Utang Luar Negeri Indonesia 4


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Utang Luar Negeri


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pinjaman berarti utang yang
dipinjam dari pihak lain dengan kewajiban membayar kembali. Sedangkan
Pinjaman Luar Negeri adalah sejumlah dana yang diperoleh dari negara lain
(bilateral) atau (multilateral) yang tercermin dalam neraca pembayaran untuk
kegiatan investasi, menurut saving-investment gap dan foreign exchange gap
yang di lakukan baik oleh pemerintah maupun swasta.
Menurut SKB No.185/KMK.03/1995 dan Nomer KEP.031/KET/5/1995
antata Menteri Keuangan dan Ketua Bappenas : Pinjaman Luar Negeri adalah
penerimaan negara baik dalam bentuk devis atau devisa yang di rupakan maupun
dalam bentuk barang dan jasa yang diperoleh dari peneriman pinjaman luar
negeri yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu.
Utang luar negeri atau pinjaman luar negeri, adalah sebagian dari
total utangsuatu negara yang diperoleh dari para kreditor di luar negara tersebut.
Penerima utang luar negeri dapat berupa pemerintah, perusahaan, atau
perorangan. Bentuk utang dapat berupa uang yang diperoleh
dari bank swasta, pemerintah negara lain, atau lembaga keuangan internasional
seperti IMF dan Bank Dunia.
2.2 Bentuk – Bentuk Pinjaman Luar Negeri
Bentuk pijaman luar negeri dapat dilihat dari dua aspek, antara lain :
1. Sumber Dananya
Bila dilihat dari suber dananya, pinjaman luar negeri dapat dibedakan
menjadi:
1.) Pinjaman Multilateral
Yaitu pinjaman yang berasaal dari badan-badan
internasional, misalnya World Bank, Asian Development Bank (ADB),
Islamic Development Bank (IDB).

Utang Luar Negeri Indonesia 5


2.) Pinjaman Bilateral
Yaitu pinjaman yang berasal dari negara-negara baik
yang tergabung dalam CGI maupun antar negara secara langsung
(intergovernment).
3.) Pinjaman Sindikasi
Yaitu pinjaman yang diperoleh dari beberapa bank dan lembaga
keuangan bukan bank (LKBB) internasional. Pemberian pinjaman
tersebut dikoordinir oleh satu bank/LKBB yang bertindak sebagai
sindication leader. Pinjaman ini biasanya dalam jumlah besar dan bersifat
komersial (commercial loan), misalnya dengan tingkat suku bunga yang
mengambang (floating rate). Syarat-syarat pinjaman yang dituangkan
dalam loan agreement merupakan konsensus dan kesepakatan diantara
para pemberi pinjaman.
2. Segi Persyaratannya
Bila dilihat dari segi persyaratannya, pinjaman luar negeri dapat dibedakan
menjadi :
1.) Pinjaman Lunak (Concessional Loan)
Yaitu pinjaman luar negeri Pemerintah dalam rangka
pembiayaan proyek-proyek pembangunan. Pinjaman lunak biasanya
diperoleh dari negara-negara yang tergabung dalam kerangka CGI
maupun non CGI. Pengertian dengan dana sendiri atau
danapendampingan oleh Pemerintah RI. Fasilitas Kredit Ekspor dapat
dalam bentuk Suppliers Credit atau BuyersCredit.
Buyers Credit adalah pinjaman FKE yang diterima dari bank komersial
atau lembaga keuangan bukan bank luar negeri, dimana tujuan pinjaman
tersebut adalah untuk pembelian barang dari negara pemberi pinjaman.
Suppliers Credit adalah adalah pinjaman FKE yang diterima Pemerintah
langsung dari pemasok barang (supplier) di luar negeri kepada
Pemerintah RI yang akan diberikan dalam bentuk barang untuk
keperluan proyek. Dapat diartikan bahwa dalam suppliers credit ini,
pihak yang menerima pinjaman adalah pihak pemasok barang.

Utang Luar Negeri Indonesia 6


a. Purchase Installment Sale Agreement (PISA)
Yaitu pinjaman yang diberikan oleh perusahaan leasing untuk
pembiayaan proyek pembangunan tertentu yang dituangkan dalam bentuk
persetujuan jual beli dengan pembayaran angsuran. Besarnya pinjaman PISA
adalah 100% dari nilai proyek.

b. Pinjaman Komersial (Commercial Loan)


Yaitu pinjaman yang diterima dengan syarat-syarat yang ditetapkan
berdasarkan kondisi pasar uang dan pasar modal internasional. Pinjaman ini
lazim pula disebut cash loan karena pinjaman diterima dalam bentuk uang
tunai dan penggunaannya lebih fleksibel atau tidak mengikat. Jumlah
pinjaman komersial umumnya berjumlah besar karena pemberi pinjaman
berupa sindikasi yang anggotanya terdiri atas perbankan dan lembaga-
lembaga keuanganinternasional.
Beberapa pertimbangan bagi Pemerintah dalam menerima pinjaman
komersial adalah:
a) Mendukung penganekaregaman (diversifikasi) pinjaman atau
memperluas
b) Sumber pinjaman yaitu memperoleh pinjaman dari perbankan dan
lembaga keuangan bukan bank.
c) Jumlah pinjaman relatif lebih besar dan tatacara penarikannya lebih
mudah.
Penggunaan dana tidak terikat pada satu proyek tertentu namun lebih
d) flesibel, baik untuk diinvestasikan kembali, untuk membiayai proyek
atau untuk memperkuat cadangan devisa.

2.3 Sejarah Utang Luar Negeri Indonesia


1. Utang Pemerintah Kolonial Hindia Belanda
Pemerintah kolonial Hindia Belanda sudah memulai kebiasaan berutang
bagi pemerintahan di Indonesia. Seluruh utang yang belum dilunasinya pun
turut diwariskan, sesuai dengan salah satu hasil Konferensi Meja Bundar
(KMB). Penyerahan kedaulatan kepada Republik Indonesia pada waktu itu
disertai dengan pengalihan tanggung jawab segala utang pemerintah kolonial.

Utang Luar Negeri Indonesia 7


Dilihat dari perspektif utang piutang, maka Republik Indonesia bukanlah
negara baru, melainkan pelanjut dari pemerintahan sebelumnya.
Tradisi pengalihan utang kepada pemerintahan berikutnya bertahan
sampai saat ini, terlepas dari perpindahan kekuasaan itu berlangsung dengan
cara apa pun. Pemerintahan era Soekarno mewariskan utang luar negeri
(ULN) sekitar USD 2,1 miliar kepada pemerintahan Soeharto. Secara
spektakuler, pemerintahan Soeharto membebani Habibie dengan warisan
utang sebesar USD 60 miliar. Bahkan, pemerintahan Habibie mewariskan
utang yang lebih besar, hanya dalam kurun waktu dua tahun. ULN memang
“hanya” bertambah menjadi sebesar USD 75 miliar dolar. Namun, utang
dalam negeri yang semula nihil menjadi USD 60 miliar (jika dikonversikan),
sehingga utang pemerintah secara keseluruhan menjadi sekitar USD 135
miliar.
Tentu tidak adil jika hanya melihat angka utang yang fantastis di era
Habibie secara begitu saja. Sebagian masalahnya adalah karena akumulasi
utang beserta akibat lanjutan dari kebijakan pemerintahan Soeharto. Bisa
dikatakan bahwa Pemerintahan Habibie harus menghadapi krisis moneter dan
ekonomi, yang berasal dari era Soeharto.
2. Utang Pemerintah Orde Lama
Sesuai dengan perjanjian ketika penyerahan kedaulatan kepada
pemerintah Republik Indonesia, pemerintahan Soekarno menerima pula
warisan utang pemerintah kolonial Hindia Belanda sebesar 4 miliar dolar
Amerika. Utang tersebut memang tidak pernah dibayar oleh Pemerintahan
Soekarno, namun juga tidak dinyatakan di hapuskan. Utang ini nantinya
diwariskan kepada era-era pe merintahan berikutnya, dan akhirnya dilunasi
juga.
Pada awal kemerdekaan, sikap pemerintah Soekarno-Hatta ter hadap
utang luar negeri bisa dikatakan mendua. Di satu sisi, mereka menyadari
bahwa utang luar negeri sebagai sumber pembiayaan sangat dibutuhkan.
Negara baru yang baru merdeka ini memerlukan dana untuk memperbaiki
taraf kesejahteraan rakyat, yang sudah sedemikian terpuruk karena
kolonialisme. Ketiadaan infrastruktur, dan rusaknya sebagian besar kapasitas
produksi seperti ladang minyak, membuat penerimaan negara dari sumber
domestik belum bisa diandalkan. Hibah dari negara-negara yang bersimpatik

Utang Luar Negeri Indonesia 8


ketika awal kemerdekaan tentu saja tidak memadai dan lambat laun di
hentikan. Pilihan yang tersedia adalah mempersilakan modal asing masuk ke
Indonesia untuk berinvestasi, serta melakukan pinjaman luar negeri.
Di sisi lain, pemerintah Soekarno-Hatta bersikap waspada ter hadap
kemungkinan penggunaan utang luar negeri sebagai sarana kembalinya
kolonialisme. Semangat kemerdekaan masih amat kental, sehingga mereka
peka dalam masalah yang berkaitan dengan kedaulatan Indonesia. Suasana ini
juga mewarnai dinamika parlemen, sekalipun terdiri dari banyak partai
dengan latar idelogis berbeda. Akibatnya, persyaratan yang ketat ditetapkan
dalam setiap perundingan berutang kepada pihak luar negeri. Ini berlaku juga
ter hadap masalah penanaman modal asing, termasuk perundingan mengenai
tambang dan kilang minyak di wilayah Indonesia.

Sebagai contoh, Hatta dalam berbagai kesempatan me ngemukakan


antara lain: negara kreditor tidak boleh mencampuri urusan politik dalam
negeri, suku bunga tidak boleh lebih dari 3-3,5 persen per tahun, dan jangka
waktu utang yang lama. Jadi, selain melihat utang luar negeri sebagai sebuah
transaksi ekonomi, mereka dengan sadar memasukkan biaya politik sebagai
pertimbangan dalam berutang. Terkenal pula pernyataan sarkastis Soekarno,
yang mengatakan ”go to hell with your aid” kepada AS karna berusaha
mengaitkan utang dengan tekanan politik.Bagaimanapun, transaksi utang luar
negeri tetap terjadi pada awal kemerdekaan. Sampai dengan tahun 1950,
utang pemerintah yang baru tercatat sebesar USD 3,8 miliar, selain utang
warisan pemerintah kolonial. Setelah itu, terjadi fluktuasi jumlah utang
pemerintah, seiring dengan sikap pemerintah yang cukup sering berubah
terhadap pihak asing dalam soal modal dan utang. Selama kurun tahun 50-an
tetap saja ada bantuan dan utang yang masuk ke Indonesia. Sikap pemerintah
yang berubah-ubah itu dikarenakan kerapnya pergantian kabinet, disamping
faktor Soekarno sebagai pribadi.

Sebagai contoh, pada tahun 1962, delegasi IMF berkunjung ke


Indonesia untuk menawarkan proposal bantuan finansial dan kerjasama, dan
pada tahun 1963 utang sebesar USD17 juta diberikan oleh Amerika Serikat.
Pemerintah Indonesia pun kemudian bersedia melaksanakan beberapa
kebijakan ekonomi baru yang bersesuaian dengan proposal IMF. Namun,

Utang Luar Negeri Indonesia 9


keadaan berbalik pada akhir tahun itu juga, ketika Malaysia pemerintah
Inggris menyatakan Malaysia di nyatakan sebagai bagian federasi Inggris
tanpa pembicaraan dengan Soekarno. Hal ini sebetulnya juga berkaitan
dengan nasionalisasi beberapa perusahaan Inggris di Indonesia. Yang jelas,
hubungan Indonesia dengan IMF dan Amerika, turut memburuk. Berbagai
kesepakatan sebelumnya dibatalkan oleh Soekarno, dan Indonesia keluar dari
keanggotaan IMF dan PBB.

Secara teknis ekonomi, telah ada pelunasan utang dari sebagian hasil
ekspor komoditi primer Indonesia. Ada pula penghapusan se bagian utang
oleh kreditur, terutama dari negara-negara yang ber sahabat, setidaknya
dalam tahun-tahun tertentu. Akhirnya, ketika terjadi perpindahan kekuasaan
kepada Soeharto, tercatat utang luar negeri pemerintah adalah sebesar USD
2,1 miliar. Jumlah ini belum termasuk utang warisan pemerintah kolonial
Belanda yang sekalipun resmi diakui, tidak pernah dibayar oleh pemerintahan
Soekarno.

3. Utang Pemerintah Era Soeharto


Sejak awal, sikap pemerintahan Soeharto terhadap modal asing berbeda
dengan sikap Soekarno-Hatta. Sebagai contoh, undang undang pertama yang
ditandatangani Soeharto adalah UU no.1/1967 tentang Penanaman Modal
Asing, yang isinya bersifat terbuka dan bersahabat bagi masuknya modal dari
negara manapun. Beberapa bulan sebelumnya, IMF membuat studi tentang
program stabilitas ekonomi, yang rekomendasinya segera diikuti oleh
pemerintah. Indonesia juga telah secara resmi kembali menjadi anggota IMF.
Seiring dengan itu, perundingan serius mengenai utang luar negeri
Indonesia berlangsung lancar. Kembalinya Indonesia menjadi anggota IMF
dan Bank Dunia, seketika diimbali oleh negara-negara barat berupa:
pemberian hibah, restrukturisasi utang lama, komitmen utang baru dan
pencairan utang baru yang cepat. Hibah sebesar USD 174 juta dikatakan
bertujuan untuk mengangkat Indonesia dari keterpurukan ekonomi.
Restrukturisasi utang yang disetuji bernilai sekitar USD 534 juta. Lewat
berbagai perundingan, terutama pertemuan Paris Club, disepakati moratorium
utang sampai dengan tahun 1971 untuk pembayaran cicilan pokok sebagian
besar utang. Akhirnya, sejak tahun 1967 Indonesia mendapat persetujuan

Utang Luar Negeri Indonesia 10


utang baru dari banyak kreditur, dan sebagiannya langsung dicairkan pada
tahun itu juga.

ULN dengan Persyaratan Lunak :


Pada mulanya, semua utang baru itu bisa dikatakan sebagai pinjaman
dengan syarat lunak. Ada jenis pinjaman yang biasa disebut bantuan program,
yang terdiri dari bantuan devisa kredit dan bantu an pangan. Bantuan program
ini berbentuk devisa tunai atau hak untuk memperoleh sejumlah komoditi
yang ditentukan. Ada bantu an proyek, yang pada dasarnya adalah utang bagi
pembagunan proyek tertentu dengan syarat-syarat pelunasan yang lunak.
Bahkan, ada dana berbentuk sumbangan (grant) atau hibah yang berfungsi
sebagai ”dana pendamping” dari utangnya.
Para kreditur yang memberi utang kepada Indonesia awalnya hanya
terdiri dari negara-negara dan lembaga-lembaga keuangan iternasional. Para
kreditur tersebut mengkoordinasikan diri ke dalam Inter Governmental Group
on Indonesia (IGGI). Beberapa tahun kemudian, kreditur swasta turut terlibat.
Sebagian kreditur swasta yang besar kadang diundang dalam forum-forum
IGGI.
IGGI didirikan pada tahun 1967 di Den Haag, yang anggotanya terdiri
dari: Australia, Amerika Serikat, Belgia, Belanda, Italia, Jerman, Jepang,
Inggris, Perancis, dan Kanada. Ada negara-negara yang hadir sebagai
peninjau, seperti: Austria, Denmark, Norwegia, Selandia Baru, dan Swiss.
Sedangkan lembaga-lembaga keuangan multilateral yang menjadi anggota
forum adalah: IMF, IBRD, ADB, UNDP, dengan OECD sebagai peninjau.
Pada tanggal 25 Maret 1992, dipicu oleh suatu insiden politik, IGGI
dibubarkan dan kepemimpinan Belanda tidak diakui lagi oleh Indonesia.
Namun, fungsi IGGI tetap berlangsung melalui wadah baru
bernama Consultative Group for Indonesia (CGI), dengan pimpinan Bank
Dunia. Selama perkembangannya, ada beberapa lembaga internasional,
termasuk bentukan Bank Dunia, yang kemudian bergabung, seperti IDA,
IFAD (International Fund for Agricultural Development) dan IFC
(International Finance Corporation). Terjadi pula beberapa pergeseran
besaran kontribusi masing-masing negara.

Utang Luar Negeri Indonesia 11


Resminya, IGGI/CGI hanyalah suatu forum pembicaraan me ngenai
ULN pemerintah Indonesia. Namun, pada praktiknya IGGI/CGI menyerupai
konsorsium. Sebagian besar ULN pemerintah pada era pemerintahan
Soeharto dibicarakan dan disepakati dalam forum IGGI/CGI. Setiap tahun,
forum ini memutuskan jumlah dan macam pinjaman yang akan diberikan,
setelah mempertimbangkan “usulan” dari pemerintah Indonesia. Dalam artian
tertentu, IGGI/CGI memang bukan konsorsium, karena masing-masing
kreditur me miliki kesepakatan tersendiri tentang detilnya, dan tidak seluruh
hasil forum bersifat mengikat kepada mereka.
Pada saat pemerintahan Soeharto mulai menerima ULN dan satu dekade
setelahnya, perkembangan wacana keuangan internasional memang sedang
kondusif. Selain yang dinyatakan sebagai dimensi kemanusiaan ataucharity,
serta keterkaitan dengan masalah pe rebutan pengaruh politik Blok Barat dan
Blok Komunis, konsep dan praktik keuangan internasional memang tengah
marak me ngembangkan berbagai bentuk ULN. Ada dua pemicu utama dari
sisi wacana keuangan dan perekonomian.
Pertama, upaya banyak negara maju untuk merestukturisasi sekaligus
mengembangkan industri pengolahannya, yang berlangsung mulai era 1960-
an. Ada pertimbangan suplai sumber energi, bahan baku, pemindahan se
bagian tahap produksi, sampai kepada penetrasi pasar.
Kedua, mulai ada kelebihan likuiditas pada lembaga keuangan
internasional, yang kemudian mendapat momentum lanjutan dari petro
dollarakibat kenaikan harga minyak sejak awal 70-an. Selain disimpan pada
bank dan lembaga keuangan komersial, dana petro dollar dari negara-negara
produsen minyak ini juga bisa diakses oleh IMF.
Perkembangan wacana dan kondisi keuangan internasional itu kemudian
antara lain menghasilkan ULN yang diterima pemerintah negara-negara
sedang berkembang (NSB), termasuk Indonesia. Secara umum, jenisnya
terdiri dari: dana pembangunan resmi (official development fund/ODF),
kredit ekspor (export credit) dan pinjaman swasta (private flows). ODF
adalah pinjaman resmi bersyarat lunak dari suatu negara donor melalui
lembaga keuangan bilateral negara yang bersangkutan dan atau melalui
lembaga dan bank pembangunan multilateral seperti: Bank Dunia, ADB,
IDA, dan sebagainya. ODF dapat berupa pinjaman bersyarat sangat lunak

Utang Luar Negeri Indonesia 12


(Official development assistance/ODA) atau pinjaman setengah lunak (less
concessional loan/LCL).
Kredit ekspor adalah pinjaman setengah resmi dengan per syaratan
setengah lunak yang dananya berasal dari negara donor (disebut official
financial support) atau yang bersumber dari pihak perbankan dan lembaga
keuangan swasta yang dijamin dan disubsidi oleh pemerintah negara donor.
Penggunaan kredit ekspor itu kadang-kadang terbatas hanya untuk pengadaan
barang dan jasa di negara donor (tied), dan kadang tidak mengikat, atau
kombinasi antara keduanya. Kredit ekspor disebut “suppliers credit” kalau
pinjaman itu disalurkan melalui pemasok di negara donor. Pinjaman ini
dinamakan “buyers credit” jika diberikan langsung oleh lembaga kredit
ekspor kepada peminjam di negara penerima.
Secara teknis, dikenal pembedaan jenis ULN dengan sebutan Pinjaman
program dan Pinjaman proyek dalam pencatatan APBN saat ini. Pada masa
sebelumnya, ULN dicatat dalam APBN setiap tahunnya sebagai bantuan
program dan bantuan proyek. Pada tahun tahun tertentu, ada yang dicatat
sebagai pinjaman setengah lunak/komersial dan pinjaman tunai. Jenis yang
masuk kategori dalam pinjaman swasta ini hanya pada periode tertentu
memiliki arus masuk yang besar.
Sebenarnya, pembedaan antara pinjaman program dan pinjaman proyek
bersifat sumir atau tidak cukup tegas. Pada dasarnya, kedua jenis itu terdiri
dari ODA, LCL dan Kredit ekspor dalam pengertian yang disinggung di atas.
Meskipun demikian, ULN yang disebut pinjaman program, pada umumnya
bersifat lebih lunak dan mem bantu. Pembedaan ini memang cukup jelas pada
masa awal pe merintahan Soeharto.
Pinjaman program pada awal Orde baru terdiri dari bantuan devisa kredit
dan bantuan pangan. Pinjaman program diorientasikan untuk menyelesaikan
masalah jangka pendek dan mendesak, serta bersifat sangat lunak. Pada masa
berikutnya, tingkat kelunakan men jadi kurang jelas. Sifat pinjaman program
yang membantu mengatasi masalah ekonomi dan keuangan pemerintah yang
mendesak tetap dipertahankan. Sifat utamanya adalah memberikan aliran
devisa atau kas masuk secara langsung bagi pemerintah.
Akan tetapi, dalam beberapa tahun tersebut, pinjaman program terkait
dengan perubahan kebijakan dalam bentuk undang-undang dan peraturan

Utang Luar Negeri Indonesia 13


lainnya. Pencairan utang program selalu dikaitkan dengan capaian dalam
perubahan kebijakan yang berhasil dilakukan pemerintah. Sedangkan yang
dimaksud dengan pinjaman proyek terutama adalah utang yang diterima
dalam bentuk fasilitas ber belanja barang dan jasa kepada negara/lembaga
kreditur dalam bentuk kredit. Bedanya dengan pinjaman program, pinjaman
proyek lebih ditujukan untuk proyek investasi jangka panjang
Sebagaimana telah disinggung di atas, sejak tahun 1967 Indonesia telah
menerima pinjaman dengan syarat lunak atau dalam bentuk sumbangan
(grant) dari negara-negara dan lembaga-lembaga ke uangan iternasional yang
tergabung dalam IGGI. Dalam beberapa tahun sejak itu, Indonesia mendapat
pinjaman berbentuk bantuan program yang terdiri dari bantuan devisa kredit
dan bantuan pangan, serta bantuan proyek dengan syarat-syarat pelunasan
yang lunak.
4. Utang Pemerintahan Transisi (Habibie)
1.) Tanggal 14 dan 15 Mei 1997, kurs bath terhadap US$ mengalami
penurunan (depresiasi) sebagai akibat dari keputusan jual dari para
investor yang tidak percaya lagi thd prospek ekonomi Thailand dalam jk
pdk.Pemerintah Thailand mengintervensi dan didukung oleh bank sentral
singapora, tapi tidak mampu menstabilkan kurs Bath, sehingga bank
sentral Thailand mengumumkan kurs bath diserahkan pada mekanisme
pasar.2 Juli 1997, penurunan nilai kurs bath terhadap US$ antara 15% -
20%
2.) Bulan Juli 1997, krisis melanda Indonesia (kurs dari Rp 2.500 menjadi Rp
2.650.) BI mengintervensi, namun tidak mampu sampai bulan maret 1998
kurs melemah sampai Rp 10.550 dan bahkan menembus angka Rp
11.000/US$.
Langkah konkrit untuk mengatasi krisis:
a) Penundaan proyek Rp 39 trilyun untuk mengimbangi keterbatasan
anggaran Negara
b) BI melakukan intervensi ke bursa valas
c) Meminta bantuan IMF dengan memperoleh paket bantuan keuangan US$
23 Milyar pada bulan Nopember 1997.
d) Mencabut ijin usaha 16 bank swasta yang tidak sehat

Utang Luar Negeri Indonesia 14


Januari 1998 pemerintah Indonesia menandatangani nota kesepakatan
(LOI) dengan IMF yang mencakup 50 butir kebijakan yang mencakup:
a. Kebijakan ekonomi makro (fiscal dan moneter) mencakup: penggunaan
prinsip anggaran berimbang; pengurangan pengeluaran pemerintah seperti
pengurangan subsidi BBM dan listrik; pembatalan proyek besar; dan
peningkatan pendapatan pemerintah dengan mencabut semua fasilitas
perpajakan, penangguhan PPN, pengenaan pajak tambahan terhadap bensin,
memperbaiki audit PPN, dan memperbanyak obyek pajak.
b. Restrukturisasi sektor keuangan
c. Reformasi struktural
Bantuan gagal diberikan, karena pemerintah Indonesia tidak
melaksanakan kesepakatan dengan IMF yang telah ditandatangani.
Indonesia tidak mempunyai pilihan kecuali harus bekerja sama dengan
IMF. Kesepakatan baru dicapai bulan April 1998 dengan nama “Memorandum
Tambahan mengenai Kebijaksanaan Ekonomi Keuangan” yang merupakan
kelanjutan, pelengkapan dan modifikasi 50 butir kesepakatan. Tambahan dalam
kesepakatan baru ini mencakup:
a. Program stabilisasi perbankan untuk stabilisasi pasar uang dan mencegah
hiperinflasi
b. Restrukturisasi perbankan untuk penyehatan system perbankan nasional
c. Reformasi structural
d. Penyelesaian utang luar negeri dari pihak swasta
e. Bantuan untuk masyarakat ekonomi lemah.

5. Utang Pemerintahan Reformasi (Abdurrahman Wahid)


Mulai pertengahan tahun 1999.
Target:

a. Memulihkan perekonomian nasional sesuai dengan harapan masyarakat


dan investor
b. Menuntaskan masalah KKN
c. Menegakkan supremasi hokum
d. Penegakkan hak asasi manusia
e. Pengurangan peranan ABRI dalam politik

Utang Luar Negeri Indonesia 15


f. Memperkuat NKRI (Penyelesaian disintegrasi bangsa)
Kondisi:
a. Pada tahun 1999 pertumbuhan ekonomi positif (mendekati 0)
b. Tahun 2000 pertumbuhan ekonomi 5%
c. Kondisi moneter stabil ( inflasi dan suku bunga rendah)
d. Tahun 2001, pelaku bisnis dan masyarakat kurang percaya kepada
pemerintahan sebagai akibat dari pernyataan presiden yang
controversial, KKN, dictator, dan perseteruan dengan DPR
e. Bulan maret 2000, cadangan devisa menurun dari US$ 29 milyar
menjadi US$ 28,875 milyar
f. Hubungan dengan IMF menjadi tidak baik sebagai akibat dari:
penundaan pelaksanaan amandemen UU No. 23 tahun 1999 mengenai
Bank Indonesia; penerapan otonomi daerah (terutama kebebasan untuk
hutang pemerintah daerah dari LN); dan revisi APBN 2001.
g. Tahun 2001, pertumbuhan ekonomi cenderung negative, IHSG merosot
lebih dari 300 poin, dan nilai tukar rupiah melemah dari Rp 7000
menjadi Rp 10.000 per US$.
5. Utang Pada Masa kepemimpinan Megawati Soekarnoputri
Masalah-masalah yang mendesak untuk dipecahkan adalah pemulihan
ekonomi dan penegakan hukum. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk
mengatasi persoalan-persoalan ekonomi antara lain :
a. Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5,8 milyar pada
pertemuan Paris Club ke-3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar
negeri sebesar Rp 116.3 triliun.
b. Kebijakan privatisasi BUMN. Privatisasi adalah menjual perusahaan
negara di dalam periode krisis dengan tujuan melindungi perusahaan
negara dari intervensi kekuatan-kekuatan politik dan mengurangi beban
negara. Hasil penjualan itu berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi
Indonesia menjadi 4,1 %. Namun kebijakan ini memicu banyak
kontroversi, karena BUMN yang diprivatisasi dijual ke perusahaan asing.
Di masa ini juga direalisasikan berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan
Korupsi), tetapi belum ada gebrakan konkrit dalam pemberantasan korupsi.
Padahal keberadaan korupsi membuat banyak investor berpikir dua kali untuk

Utang Luar Negeri Indonesia 16


menanamkan modal di Indonesia, dan mengganggu jalannya pembangunan
nasional.
6. Utang Pada Masa Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono
Kebijakan kontroversial pertama presiden Yudhoyono adalah
mengurangi subsidi BBM, atau dengan kata lain menaikkan harga BBM.
Kebijakan ini dilatar belakangi oleh naiknya harga minyak dunia. Anggaran
subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan, serta
bidang-bidang yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kebijakan kontroversial pertama itu menimbulkan kebijakan
kontroversial kedua, yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat
miskin. Kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan yang berhak, dan
pembagiannya menimbulkan berbagai masalah sosial.
Kebijakan yang ditempuh untuk faktor utama untuk menentukan
kesempatan kerja. Mungkin ini mendasari kebijakan pemerintah yang selalu
ditujukan untuk memberi kemudahan bagi investor, terutama investor asing,
yang salahsatunya adalah revisi undang-undang ketenagakerjaan. Jika
semakin banyak investasi asing di Indonesia, diharapkan jumlah kesempatan
kerja juga akan bertambah.
Pada pertengahan bulan Oktober 2006 , Indonesia melunasi seluruh
sisa utang pada IMF sebesar 3,2 miliar dolar AS. Dengan ini, maka
diharapkan Indonesia tak lagi mengikuti agenda-agenda IMF dalam
menentukan kebijakan dalam negri. Namun wacana untuk berhutang lagi
pada luar negri kembali mencuat, setelah keluarnya laporan bahwa
kesenjangan ekonomi antara penduduk kaya dan miskin menajam, dan
jumlah penduduk miskin meningkat dari 35,10 jiwa di bulan Februari 2005
menjadi 39,05 juta jiwa pada bulan Maret 2006. Hal ini disebabkan karena
beberapa hal, antara lain karena pengucuran kredit perbankan ke sector riil
masih sangat kurang (perbankan lebih suka menyimpan dana di SBI),
sehingga kinerja sector riil kurang dan berimbas pada turunnya investasi.
Selain itu, birokrasi pemerintahan terlalu kental, sehingga menyebabkan
kecilnya realisasi belanja Negara dan daya serap, karena inefisiensi
pengelolaan anggaran. Jadi, di satu sisi pemerintah berupaya mengundang
investor dari luar negri, tapi di lain pihak, kondisi dalam negri masih kurang
kondusif.

Utang Luar Negeri Indonesia 17


2.4 Faktor Penyebab Utang Luar Negeri
1. Strategi defisit anggaran : strategi defisit anggaran tanpa diimbangi dengan
kontrol akan sangat berbahaya. Selama ini Indonesia selalu menerapkan
strategi ini, dengan harapan, jika utang kepada luar negeri, maka hasil dari
utang tersebut digunakan untuk pembiayaan pembangunan, sehingga sektor
riil berkembang dan harapannya pendapatan nasional dapat meningkat
signifikan. Namun hasil dari pendapatan nasional ini tidak sepenuhnya
digunakan untuk membayar utang luar negeri.
2. Tidak menyadari secara penuh biaya yang harus ditanggung di masa depan
Pemikiran irasional banyak mendominasi penentu kebijakan di negara sedang
berkembang dalam melakukan utang (Alesina dan Tabellini).
3. Adanya faktor sosial politik dari penentu kebijakan Faktor sosial dan politik
lebih dominan dibanding faktor ekonomi dalam melakukan utang (Sebastian
Edwards).

2.5 Kebaikan dan Keburukan Utang Luar Negeri


No Kebaikan Keburukan

1. Pembiayaan pembangunan (pengeluaran Apabila utang luar negeri harus


pemerintah) melalui utang luar lebih baik ditempuh dengan menekan konsumsi dan
daripada melalui penarikan pajak atau investasi, maka permintaan
pencetakan uang. Pembiayaan agregat/masyarakat akan menurun
pengeluaran pemeritah yang dibiayai selanjutnya akan menghambat dan
utang luar negeri akan mendorong laju mengurangi tingkat pendapatan nasional.
pertumbuhan ekonomi. Sedangkan jika
pengeluaran pemerintah dibiayai dari
pajak, maka pendapatan masyarakat yang
siap dibelanjakan akan berkuarang dan
konsumsi juga menurun selanjutnya akan
memeperkecil permintaan agregat/
masyarakat dan mengekang laju
pertumbuhan pendapatan.

2. Negara-negara kreditur Pemerintah akan terkena beban langsung


sering mempergunakan hasil pembayaran dari utang luar negeri. Selama jangka

Utang Luar Negeri Indonesia 18


bunga dan utang itu untuk membeli waktu tertentu, beban utang langsung
(impor) barang-barang dan jasa-jasa dari dapat diukur dengan jumlah pembayaran
negara debitur, sehingga ekspor negara bunga dan cicilan utang terhadap
debitur meningkat. kreditur.

3. Meskipun beban utang langsung itu tetap Adanya beban riil langsung yang di
besarnya, beban riil langsung akan derita pemerintah berupa kerugian dalam
berbeda-beda sesuai dengan proporsi bentuk kesejahteraan ekonomi
sumbangan angggota masyarakat terhadap (guna/utility) yang hilang karena adanya
pembayaran utang luar negeri tersebut. pembiayaan cicilan utang dan bunga.
Jika pembayaran itu dibebankan terutama
kepada golongan kaya, beban riil
langsung itu akan lebih ringan daripada
kalau pembayaran itu dibebankan pada
golongan miskin.

4. Dengan berakhirnya program IMF Dari aspek utang luar negeri, keluarnya
pemerintah Indonesia telah menyusun pemerintah Indonesia dari program IMF
program stabilisasi makro ekonomi secara membawa konsekuensi berupa
komprehensif yang dituangkan dalam tertutupnya peluang pemerintah terhadap
white paper sebagai salah satu bentuk akses penjadwalan kembali utang luar
penerapan unsur transparansi atas negeri bilateral yang jatuh tempo melaui
komitmen dan akuntabilitas dalam forum Paris Club.
melaksanakan program pembangunan
pasca IMF.

2.6 Dampak Utang Luar Negeri


1. Pada sisi efektifitasnya, secara internal, utang luar negeri tidak hanya
dipandang menjadi penghambat tumbuhnya kemandirian ekonomi negara-
negara Dunia Ketiga. Utang diyakini menjadi pemicu terjadinya kontraksi
belanja sosial, merosotnya kesejahteraan rakyat, dan melebarnya
kesenjangan.
2. Sedangkan secara eksternal, utang luar negeri diyakini menjadi pemicu
meningkatnya ketergantungan negara-negara Dunia Ketiga pada pasar luar

Utang Luar Negeri Indonesia 19


negeri, modal asing, dan pada pembuatan utang luar negeri secara
berkesinambungan .
3. Pada sisi kelembagaannya, lembaga-lembaga keuangan multilateral seperti
IMF, Bank Dunia, dan Asian Development Bank (ADB). Keduanya diyakini
telah bekerja sebagai kepanjangan tangan negara-negara Dunia Pertama
pemegang saham utama mereka, untuk mengintervensi negara-negara
penerima pinjaman.
4. Pada sisi ideologinya, utang luar negeri diyakini telah dipakai oleh negara-
negara pemberi pinjaman, terutama Amerika, sebagai sarana untuk
menyebarluaskan kapitalisme neoliberal ke seluruh penjuru dunia. (Erler,
1989).
5. Sedangkan pada sisi implikasi sosial dan politiknya, utang luar negeri tidak
hanya dipandang sebagai sarana yang sengaja dikembangkan oleh negara-
negara pemberi pinjaman untuk mengintervensi negara-negara penerima
pinjaman. Secara tidak langsung negara-negara kreditur diyakini turut
bertanggungjawab terhadap munculnya rezim diktator, kerusakan lingkungan,
meningkatkan tekanan migrasi dan perdagangan obat-obat terlarang, serta
terhadap terjadinya konflik dan peperangan (Gilpin, 1987; George, 1992).

2.7 Solusi Utang Luar Negeri


1. Pertama, Debt swap. Solusi yang paling sederhana mengatasi utang luar negeri
adalah dengan mengoptimalkan restrukturisasi utang, khususnya melalui
skema debt swap, di mana sebagian utang luar negeri tersebut dikonversi
dalam bentuk progran yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat,
pemeliharaan lingkungan,dan sebagainya. Program debt swap seperti ini sudah
dijalankan dengan pemerintah Jerman, sebesar DM50 juta (Rp250 miliar) dari
total utang sebesar DM178 juta, yang dikonversi dalam bentuk
proyek pendidikan.
2. Kedua. Diplomasi ekonomi. Menurut Rachbini. 1994, masalah utang LN
tidak bisa lagi diselesaikan dengan terapi fiskal dan teknis ekonomi
belaka. Potensi internal ekonomi kita tidak cukup kuat untuk melayani utang
luar negeri yang salah dalam pengelolaannya. Kita tidak bisa secara terus-
menerus menjadi "good boy" dengan melayani seluruh cicilan tersebut karena
sumber ekonomi dalam negeri akan terus terkuras dan mengganggu kestabilan
ekonomi serta politik.

Utang Luar Negeri Indonesia 20


Suatu pendekatan diplomasi ekonomi politik harus terus menerus dijadikan
program aksi (action program) untuk menghadapi lembaga dan negara
donor. Diplomasi ekonomi juga penting dilembagakan dengan sasaran untuk
memperoleh keringanan dan penghapusan sebagian hutang sehingga proses
pengurasan sumberdaya dapat dihambat.
3. Ketiga. Adalah cara yang lebih berani seperti yang ditawarkan oleh mantan
kepala BAPPENAS Kwik Kian Gie, dalam hal utang luar negeri, harus ada
keberanian untuk menggugat dan tidak membayar sesuai jadwal karena pada
kenyataanya Indonesia tidak dapat membayar kembali utang dan bunga yang
jatuh tempo. Hutang tersebut hanya bisa dibayar dengan cara melikuidasi
kekayaan negara. Dalam hal utang dalam negeri, supaya menarik kembali OR
yang masih dalam penguasaan pemerintah melalui bank-bank yang masih milik
pemerintah.
4. Keempat. Adalah cara yang datang dari potensi internal pemerintah sendiri
yaitu dengan menjaga kinerja makro-ekonomi dalam posisi yang stabil dan
menstop hutang baru. Untuk tawaran terakhir ini, paling tidak terdapat tiga
asumsi dasar yang harus dipenuhi agar kita dapat keluar dari debt trap. Asumsi
dasar pertama adalah laju pertumbuhan ekonomi harus dijaga pada level antara
minimum 3% setahun dan maksimum 7% setahun. Angka terakhir pernah
tercapai di masa Orde Baru, tetapi didasari oleh penjagaan keamanan yang
keras dan otoriter dan arus modal masuk yang puluhan milyar setahun. Asumsi
dasar kedua adalah menjaga tingkat inflasi tetap rendah-rendah (di bawah 10%
setahun, idealnya 6%), medium (sekitar 10% setahun) dan tinggi (di atas 10%
setahun)- Semakin rendah inflasi semakin baik oleh karena pengeluaran untuk
membayar bunga utang rekap perbankan dalam negeri akan turun banyak, dan
inflasi rendah akan merangsang pertumbuhan ekonomi dan masuknya modal
dari luar.Asumsi ketiga adalah dalam beberapa tahun kedepan diharapkan tidak
ada lagi penambahan stock hutang yang ada. Ini berarti bahwa di dalam negeri
tidak akan ada krisis perbankan lagi yang mengharuskan pemerintah
mengeluarkan obligasi baru untuk menyelamatkan sistim perbankan. Asumsi
ini juga berarti tidak ada tambahan utang luar negeri. Maka, kalau laju
pertumbuhan ekonomi mulai tahun ini bisa mencapai 7% setahun dan inflasi
hanya 6% setahun, dan pemerintah tidak perlu menambah stock utang lagi,
maka (pasti) beban angsuran utang turun dan sebagai akibatnya kita tidak perlu

Utang Luar Negeri Indonesia 21


lagi membebani generasi mendatang dengan cicilan hutang.Kedepan, untuk
mengantisipasi jeratan utang yang sangat membebani bangsa dan negara ini,
maka pemerintah harus mempunyai kemauan politik dan itikad baik untuk
mengakhiri semua hasrat berhutangnya, dan menolak secara tegas pengaruh
dan tekanan dari pihak negara mana pun yang berkepentingan menjerat negara
ini dengan utang yang sebesar mungkin.

Utang Luar Negeri Indonesia 22


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Perkembangan jumlah utang luar negeri Indonesia dari tahun ke tahun
cenderung mengalami peningkatan. Hal ini tentu saja menimbulkan berbagai
konsekuensi bagi bangsa Indonesia, baik dalam periode jangka pendek maupun
jangka panjang. Dalam periode jangka pendek, utang luar negeri harus diakui
telah memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi pembiayaan pembangunan
ekonomi nasional sehingga dengan terlaksananya pembangunan ekonomi
tersebut, tingkat pendapatan per kapita masyarakat bertumbuh selama taga
dasawarsa sebelum terjadi krisis ekonomi. Menurut Gibson dan Tsakalator
(1992), penyebab timbulnya krisis utang dapat ditinjau dari tiga hal: pertama,
sistem moneter Internasional. Kedua, sistem perbankan swasta internasional.
Ketiga, negara peminjam itu sendiri
Semakin bertambahnya utang luar negeri pemerintah, berarti juga
semakin memberatkan posisi APBN RI, karena utang luar negeri tersebut harus
dibayarkan beserta dengan bunganya. Ironisnya, semasa krisis ekonomi, utang
luar negeri itu harus dibayar dengan menggunakan bantuan dana dari luar negeri,
yang artinya sama saja dengan utang baru, karena pada saat krisis ekonomi
penerimaan rutin pemerintah, terutama dari sector pajak, tidak dapat ditingkatkan
sebanding dengan kebutuhan anggaran belanjanya. Dalam jangka panjang
akumulasi dari utang luar negeri pemerintah ini tetap saja harus dibayar melalui
APBN, artinya menjadi tanggung jawab para wajib pajak. Dengan demikian,
maka dalam jangka panjang pembayaran utang luar negeri oleh pemerintah
Indonesia sama artinya dengan mengurangi tingkat kemakmuran dan
kesejahteraan rakyat Indonesia masa mendatang.

Utang Luar Negeri Indonesia 23


Adalah suatu hal yang tepat, bila utang luar negeri dapat membantu
pembiayaan pembangunan ekonomi di negara-negara dunia ketiga, termasuk
Indonesia, untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya.
Tetapi, penggunaan utang luar negeri yang tidak dilakukan dengan bijaksana dan
tanpa prinsip kehati-hatian, dalam jangka panjang utang luar negeri justru akan
menjerumuskan negara debitur kedalam krisis utang luar negeri yang
berkepanjangan, yang sangat membebani masyarakat karena adanya akumulasi
utang luar negeri yang sangat besar.

3.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan makalah ini, bahwa utang luar negeri telah
memberikan kontribusi terhadap pembangunan di negara berkembang termasuk
negara kita negera Indonesia yaitu pembiayaan pembangunan ekonomi nasional
sehingga terlaksananya pembangunan ekonomi. Tetapi, penggunaan utang luar
negeri yang yang tidak dilakukan dengan bijaksana dan tanpa prinsip kehati-
hatian, dalam jangka panjang akan menjerumuskan negara debitur kedalam krisis
utang luar negeri yang berkepanjangan, yang sangat membebani masyarakat
karena adanya akumulasi utang luar negeri yang sangat besar. Oleh karena itu
penulis merekomendasikan agar pemerintah membuat kebijakan utang luar
negerinya yang tepat yaitu:
1. Menjadi negara yang mandiri dan tidak tergantung pada utang luar
negeri untuk pembiayaan pembangunan nasional karena bila terus
tergantung akan membentuk watak / karakter bangsa yang lemah dan
selalu menjadi bangsa yang di dikte oleh negara yang maju yang
notabene menjadi negara kreditur. Dan selalu ada dalam bayang-bayang
utang luar negeri yang berimbas pada anak dan cucu kita yang harus
mengemban utangnya.
2. Mengawasi sumber pendapatan nasional yang mungkin bisa sepenuhnya
membiayai pembangunan nasional, karena bila kita lihat sumber
pendapatan nasional kita banyak sekali yang belum tergali misalnya
pajak penghasilan atau pajak-pajak lainya. Masih banyak wajib pajak
yang tidak melaporkan dengan riil penghasilan kena pajaknya, atau dari
petugas dari dirjen pajaknya yang melakukan kongkalikong dengan
wajib pajaknya.

Utang Luar Negeri Indonesia 24


3. Mengawasi juga penggunaan utang luar negeri dan pendapatan nasional
apakah sudah sesuai dengan apa yang menjadi skala prioritas
pembangunan nasional, Karena masih ada yang belum tepat sasaran
pembangunan atau masih ada pejabat yang korupsi uang negara yang
notabene untuk pembangunan nasional.

Utang Luar Negeri Indonesia 25

Anda mungkin juga menyukai