Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses menua atau ageing process adalah suatu proses
menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk
memperbaiki atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya,
sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan perbaikan kerusakan
yang diderita yang akan terjadi secara terus-menerus atau berkelanjutan
secara alamiah (Artinawati, 2016).
Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) pada
tahun 2016 diperkirakan umur harapan hidup (UHH) menjadi 71,7 tahun
dan WHO memperkirakan bahwa sekitar 335 juta orang di dunia
mengidap penyakit gout arthritis. Jumlah ini sesuai dengan adanya
peningkatan manusia berusia lanjut. Masalah muskuloskeletal merupakan
masalah kronis yang paling lazim terjadi pada lansia dengan sekitar 49%
lansia mengalami beberapa bentuk arthritis (Seran, Bidjuni, & Onibala,
2016).
Hasil riset kesehatan dasar (Rikesdas) tahun 2018 menunjukkan
bahwa penyakit sendi di Indonesia berdasarkan diagnosis dokter sebesar
7,3 %, sedangkan berdasarkan daerah dengan penyakit sendi tertinggi
dengan diagnosis dokter yaitu di Aceh sebesar 13,3 %, sedangkan provinsi
Bengkulu berada di posisi ke- 2 dengan persentase 12,11%. Gout Arthritis
menduduki urutan kedua setelah osteoarthritis, prevalensi di Indonesia
sendiri diperkirakan 1,6-13,6/100.000 orang, prevalensi ini meningkat
seiring dengan meningkatnya umur. Penderita gout arthritis usia 15 tahun
ke atas di Indonesia Mencapai 677.888 orang. Prevalensi gout arthritis di
Jawa Timur sebesar 17%, prevalensi gout di Surabaya sebesar 56,8%
(Astuti & Tjahjono, 2013). Penyakit gout arthritis (asam urat) merupakan
salah satu penyakit yang banyak dijumpai pada laki-laki usia antara 30-40

1
2

tahun, sedangkan pada wanita umur 55-70 tahun, insiden wanita jarang
kecuali setelah menopause (Riskesdas, 2018).
Berdasarkan data proyeksi penduduk, diperkirakan tahun 2017
terdapat 23,66 juta jiwa penduduk lansia di Indonesia (9,03%). Diprediksi
jumlah penduduk lansia tahun 2020 (27,08 juta), tahun 2025 (33,69 juta),
tahun 2030 (40,95 juta) dan tahun 2035 (48,19 juta). Di provinsi Bengkulu
jumlah lansia pada tahun 2016 berjumlah sekitar 98 ribu jiwa. Jumlah
lansia meningkat menjadi 104 ribu jiwa pada tahun 2017. Jumlah lansia
meningkat menjadi 108 ribu jiwa pada tahun 2018. Dan diperkirakan
jumlah lansia akan terus meningkat setiap tahunnya (Badan Pusat Statistik,
2018).
Prevalensi Gout Artritis berdasarkan diagnosis Dinas Kesehatan
Provinsi Bengkulu tahun 2014, angka kesakitan karena Gout Artritis
adalah 27.109 dari total penduduk provinsi Bengkulu dan menurut dinas
tenaga kesehatan kota Bengkulu merupakan sepuluh penyakit terbesar dan
jumlah penderita Gout Artritis cenderung meningkat di kota Bengkulu.
Pada tahun 2016 adalah 2.707 orang tahun 2017 menjadi 3.409 orang
tahun 2018 adalah 3.920 orang (Dinkes Bengkulu, 2018).
Hasil studi pendahuluan yang penulis lakukan di Panti Sosial Tresna
Werdha Pagar Dewa Kota Bengkulu, dilaporkan bahwa pada tahun 2016 di
dapatkan jumlah pasien 28 orang dari 63 lansia. Pada tahun 2017 terdapat
jumlah pasien dengan Gout Artritis berjumlah 28 orang dari 61 orang
lanjut usia, pada tahun 2018 didapatkan jumlah pasien Gout Artritis 28
orang dari 60 orang lanjut usia, dan pada tahun 2019 didapatkan jumlah
pasien Gout Arthritis 14 orang dari 60 orang lanjut usia.
Peningkatan jumlah usia harapan hidup menyebabkan transisi
epidemiologi dari penyakit infeksi menuju penyakit degeratif. Salah satu
penyakit degenaratif pada lansia adalah penyakit Gout Artritis. Gout
arthritis sering menyerang pria yang telah lanjut usia, sedangkan pada
perempuan didapati hingga memasuki menopause. Perjalanan Penyakit
biasanya mulai dengan suatu serangan atau seseorang memiliki riwayat
3

pernah memeriksakan kadar asam uratnya yang nilai kadar asam urat
darahnya lebih dari 7 mg/dl, dan makin lama makin tinggi
(Tamher,Noorkasiani, 2016).
Gout arthritis adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan
penumpukan asam urat yang nyeri pada tulang sendi, sangat sering
ditemukan pada kaki bagian atas, pergelangan dan kaki bagian tengah
(Aspiani, 2017). Gout arthritis merupakan penyakit yang ditandai dengan
nyeri yang terjadi berulang-ulang yang disebabkan adanya endapan kristal
monosodium urat yang tertumpuk didalam sendi sebagai akibat dario
tingginya kadar asam urat di dalam darah (Gerry, Mulyadi, & Kallo,
2016).
Sebagian besar faktor penyebab kasus gout arthritis yaitu faktor
primer, faktor sekunder dan faktor predisposisi. Pada faktor primer
dipengaruhi oleh faktor genetik/riwayat keluarga, makan-makanan yang
tinggi purin sehingga produksi uric acid menjadi lebih banyak,
mengkonsumsi obat-obatan tertentu seperti obat diuretik jangka panjang,
serta kondisi medis tertentu (obesitas, hipotiroidisme, dsb) sehingga
meningkatkan kadar asam urat dalam darah. faktor sekunder dapat
disebabkan oleh dua hal, yaitu produksi asam urat yang berlebihan dan
penurunan ekskresi asam urat. Pada faktor predisposisi dipengaruhi oleh
usia, jenis kelamin, dan iklim. Sehingga banyak masyarakat melakukan
berbagai upaya dalam penatalaksanaan menurunkan kadar asam urat
(Jaliana, Suhadi, Muh, & Sety, 2018).
Cara untuk mengurangi keluhan penyakit gout arthritis bisa
dilakukan dengan olahraga secara teratur. Salah satunya yaitu senam
Lansia untuk penurunaan tingkat nyeri pada gout arthritis. Senam Lansia
dilakukan dengan cara tidak memberikan beban pada persendian lansia
yang mengalami gout arthritis (Yekti, 2016). Dengan melakukan senam
Lansia secara teratur bisa membantu memperkuat otot sendi, mengurangi
rasa sakit, memperbaiki keseimbangan, memberikan energi yang lebih
banyak dan menjaga kartilago (jaringan yang menyelimuti ujung tulang di
4

dalam sendi) untuk menstimulasi produksi cairan pelumas di sekitar sendi


(Debra, 2016).
Peran dan pungsi seorang perawat Gerontik terhadap pasien Gout
Artritis adalah sebagai care giver dengan cara memberiakan asuhan
keperawatan kepada lansia. Sebagai pendidik lansia dengan cara
memberiakan pendidikan kesehatan kepada lansia yang berisiko tinggi,
kadar kesehatan, dan lain sebagainya. Sebagai motivator dan inovator
lansia dengan cara memberiakan motivasi kepada lansia. Sebagai
advocator lansia dengan cara membantu memahami semua informasi
dan upaya kesehatan yang di berikan oleh tim kesehatan dengan
pendekatan tradisional dan professional, Dan sebagai konselor lansia
dengan cara memberikan bimbingan kepada lansia tentang masalah
keperawatan sesuai prioritas (Yuli, 2016).
Berdasarkan data dan uraian pada latar belakang diatas maka
peneliti tertarik untuk melakukan studi kasus tentang penerapan senam
lansia pada psien dengan Gout Arthritis di Panti sosial Tresna Werdha
Pagar Dewa Bengkulu Tahun 2020.

B. Rumusan Masalah
Agar karya tulis ilmiah ini terarah pada kasus yang dituju, maka
penulis memberikan batasan masalah pada Karya Tulis ilmiah ini yang
difokuskan pada pasien dengan Gout Artritis di di Panti Sosial Tresna
Werdha Pagar Dewa Kota Bengkulu.

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mendiskripsikan penerapan senam lansia pada klien dengan Gout
Artritis di Panti Sosial Tresna Werdha Pagar Dewa Kota Bengkulu
tahun 2020.
5

2. Tujuan Khusus
a. Mendeskripsikan pengkajian senam lansia secara holistik pada
pasien Gout Artritis di Panti Sosial Tresna Werdha Pagar Dewa Kota
Bengkulu.
b. Dideskripsikan diagnosa keperawatan sesuai prioritas mengenai
penerapan senam lansia pada pasien Gout Artritis di Panti Sosial
Tresna Werdha Pagar Dewa Kota Bengkulu.
c. Dideskripsikan rencana perawatan mengenai penerapan senam
lansia pada pasien Gout Artritis di Panti Sosial Tresna Werdha Pagar
Dewa Kota Bengkulu.
d. Dideskripsikan penerapan senam lansia pada pasien Gout Artritis di
Panti Sosial Tresna Werdha Pagar Dewa Kota Bengkulu.
e. Dideskripsikan evaluasi penerapan senam lansia pada pasien Gout
Artritis di Panti Sosial Tresna Werdha Pagar Dewa Kota Bengkulu.

D. Manfaaf Penelitian
1. Bagi pendidikan
Penulis berharap hasil dari penelitian ini dapat menjadi bermanfaat dan
menjadi tambahan ilmu untuk Jurusan Keperawatan Poltekkes
Kemenkes Bengkulu dan dapat menjadi acuan dan contoh untuk
penelitian selanjutnya.
2. Bagi Panti Sosial Tresna Werdha Pagar Dewa Kota Bengkulu
Dapat dijadikan bahan masukan, informasi dan sarana untuk
mengembangkan penerapan senam lansia dan asuhan keperawatan
pada pasien dengan Gout Arthritis.
3. Bagi Akademik
Makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan atau masukan di
jurusan keperawatan dalam upaya meningkatkaan proses pembelajaran
tentang Penerapan Senam Lansia pada pasien dengan Gout Arthritis.