Anda di halaman 1dari 50

Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Pemberian Asi Eksklusif Pada Bayi Di Desa

Bebengan Kecamatan Boja Kabupaten Kendal Anggorowati, Fita Nuzulia 1 Hubungan antara

Dukungan Keluarga dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi di Desa Bebengan Kecamatan

Boja Kabupaten Kendal Anggorowati (*), Fita Nuzulia (**) *Departemen Keperawatan

Maternitas dan Anak, Jurusan Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro,

Semarang **Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Kendal, Kendal Email:

aangham@gmail.com Abstrak Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik bagi bayi. ASI

bermanfaat untuk perkembangan otak bayi karena otak bayi akan semakin baik apabila bayi

banyak meminum ASI. Selama ibu menyusui agar tercapai pemberian ASI eksklusif ibu

membutuhkan dukungan, salah satunya yaitu dukungan keluarga. Dukungan keluarga sangat

berperan dalam kelancaraan proses menyusui dan pemberian ASI.Tujuan penelitian ini adalah

untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif pada

bayi di Desa Bebengan Kecamatan Boja Kabupaten Kendal.Penelitian ini merupakan penelitian

deskriptif korelasi. Pendekatan yang digunakan adalah cross sectional. Subyek penelitian ini

adalah ibu-ibu yang menyusui dan mempunyai bayi berusia 6-12 bulan di Desa Bebengan

Kecamatan Boja Kabupaten Kendal pada bulan Juni 2011. Tekhnik pengambilan sampel adalah

tekhnik sampling jenuh / total populasi dengan jumlah sampel 34 responden. Instrumen yang

digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Dari hasil uji statistik Kendal tau diperoleh

nilai value = 0,003 ( 0,361).Kuesioner perilaku ibu dalam pemberian ASI, dari 13 item

pernyataan semua dinyatakan valid.Didapatkan nilai validitas dari 13 item pernyataan tersebut

berada dalam rentang antara 0,815 – 0,644(r>0,361). Hasil uji reliabilitas adalah kuesioner

dukungan keluarga, menghasilkan nilai alpha sebesar 0,769.Kuesioner perilaku ibu dalam

pemberian ASI, menghasilkan nilai alpha sebesar 0,772.Dengan demikian kuesioner dukungan
keluarga dan perilaku ibu dalam pemberian ASI dinyatakan reliabel karena nilai alphalebih dari

0,6 dan mendekati 1. Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Pemberian Asi Eksklusif

Pada Bayi Di Desa Bebengan Kecamatan Boja Kabupaten Kendal Anggorowati, Fita Nuzulia 5

Hasil Hasil penelitian akan diuraikan dibawah dengan mendeskripsikan dukungan keluarga,

perilaku pemberian ASI dan hubungan diantaranya. 1. Dukungan Keluarga Tabel 1.Distribusi

Frekuensi Responden yang Mendapat DukunganKeluargadalam Pemberian ASI di Desa

BebenganKecamatan Boja Kabupaten Kendal Juni 2011 (N=34) Dukungan Frekuensi ( f )

Persentase (%) Baik 18 52,9 Sedang 14 41,2 Kurang 2 5,9 Total 34 100 2. Perilaku Ibu Dalam

Pemberian ASI Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku Ibu Dalam

PemberianASI di Desa Bebengan Kecamatan Boja Kabupaten Kendal Juni 2011 (N=34) Perilaku

Ibu Dalam Pemberian ASI Frekuensi ( f ) Presentase ( % ) ASI Eksklusif 9 26,5 ASI Tidak

Eksklusif 25 73,5 Total 34 100 3. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Pemberian ASI

Ekslusif Tabel 3. Hubungan antara Dukungan Keluarga dengan Pemberian ASI pada bayi di

Desa Bebengan Kecamatan Boja Kabupaten Kendal Juni 2011 (N=34) Dukungan Keluarga

Perilaku Ibu Dalam Pemberian ASI Total Value ASI Eksklusif ASI Tidak Eksklusif Baik 8

(44,4%) 10 (55,6%) 18 (52,9%) 0,003 Sedang 1 (7,1%) 13 (92,9%) 14 (41,2%) Kurang 0

(00,0%) 2 (8,0%) 2 (5,9%) Total 9 (26,5%) 25 (73,5%) 34 (100%) Hasil uji statistik Kendal Tau

diperoleh nilai value : 0,003 ( < 0,05). Hal ini sependapat dengan Sudiharto (2007) menyatakan

bahwa dukungan keluarga mempunyai hubungan dengan suksesnya pemberian ASI Eksklusif

kepada bayi. Dukungan keluarga adalah dukungan untuk memotivasi ibu memberikan ASI saja

kepada bayinya sampai usia 6bulan, memberikan dukungan psikologis kepada ibu dan

mempersiapkan nutrisi yang seimbang kepada ibu. Roesli (2007) berpendapat bahwa, suami dan

keluarga dapat berperan aktif dalam pemberian ASI dengan cara memberikan dukungan
emosional atau bantuan praktis lainnya. Pemberian ASI yang kurang dipengaruhi oleh perilaku

dalam memberikan ASI secara eksklusif, dimana perilaku seseorang terhadap objek kesehatan,

ada atau tidaknya dukungan masyarakat, informasi yang didapat serta situasi yang

memungkinkan ibu mengambil keputusan untuk memberikan MP-ASI secepatnya atau tidak

yang berdampak pada perilaku pemberian MPASI (Notoatmodjo, 2003).Hal ini mungkin

dikarenakan adanya faktor – faktor lain yang mempengaruhi ibu memberikan ASI adalah

kurangnya informasi tentang manfaat dan keunggulan ASI, kurangnya pengetahuan ibu tentang

upaya mempertahankan kualitas dan kuantitas ASI selama periode menyusui, merasa kurang

modern dan menyusui dianggap cara kuno, takut hilangnya kecantikan dan tidak disayang oleh

suami serta gencarnya iklan perusahaan susu botol di berbagai media masa. Hasil wawancara

dengan ibu menyusui di desa Bebengan mengatakan bahwa ibu enggan menyusui bayi karena

ibu mengalami lecet pada puting, air susu tidak keluar sehingga ibu memberikan susu formula

dan bayi mengalami bingung puting. Masih banyak juga yang beranggapan bahwa susu formula

lebih praktis diberikan dari pada ASI saat ibu tidak bersama bayi. Selain dukungan keluarga

banyak faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif. Hal ini sesuai

dengan teori Green (1980) dalam Notoatmodjo (2010) yaitu ada tiga faktor yang mempengaruhi

perilaku kesehatan, yaitu faktor predisposisi yang mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat

terhadapkesehatan,tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan

kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi

dansebagainya. Faktor-faktor pemungkinyang mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau

fasilitas kesehatan bagi masyarakat.Faktor penguatyang meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh

masyarakat, tokoh agama dan perilaku petugas termasuk petugas kesehatan, suami dalam

memberikan dukungannya kepada ibu primipara dalam merawat bayi baru lahir( Notoatmojdo,
2010 ). Kesimpulan dan Saran Kesimpulan penelitian sebagai berikut: 1. Dukungan keluarga

terhadap pemberian ASI eksklusif sebanyak 18 (52,9%) resonden dengan kategori baik.

Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Pemberian Asi Eksklusif Pada Bayi Di Desa

Bebengan Kecamatan Boja Kabupaten Kendal Anggorowati, Fita Nuzulia 7 2. Sebagian besar

responden memberikan ASI tidak eksklusif sebanyak 25 (73,5%). 3. Ada hubungan antara

dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif dengan nilai value = 0,003 Saran 1. Bagi

Ibu Menyusui Berdasarkan penelitian, walaupun dukungan keluarga dengan kategori baik,

namun sebagian ibu dalam pemberian ASI eksklusif tidak memberikan ASI secara

eksklusif.Untuk itu hendaknya ibu dapat meningkatkan rasa percaya diri dan menigkatkan

motivasi dalam memberikan ASI pada bayi mereka dengan bertanya kepada petugas kesehatan

tentang pemberian ASI eksklusif pada bayi. 2. Bagi Petugas Kesehatan Masih perlunya

meningkatkan upaya promosi kesehatan terutama mengenai pemberian ASI eksklusif secara

intensif melalui komunikasi langsung kepada masyarakat dengan melibatkan suami, keluarga,

tokoh masyarakat, perawat dan bidan di masyarakat desa Bebengan tentang pentingnya

pemberian ASI. Misalnya dengan menggunakan gambar – gambar, melalui media seperti video

compact disk atau melalui liflet tentang manajemen laktasi sehingga memudahkan ibu untuk

memahami lebih dalam tentang pentingnya ASI dan cara menyusui yang benar. Hendaknya bagi

petugas kesehatan untuk memasang gambar – gambar mengenai tata cara menyusui yang benar

di tempat pelayanan kesehatan. 3. Bagi Peneliti Selanjutnya Perlu diteliti faktor lain yang

mempengaruhi ASI Eksklusif seperti masalah menyusui :ibu mengalami puting lecet atau bayi

mengalami bingung putting; karakteristik ibu menyusui seperti pendidikan, pekerjaan, usia dan

pendapatan keluarga.. Penelitian lanjutan dengan tema yang sama namun di wilayah yang lebih

luas dan jumlah sampel yang lebih besar agar hasilnya dapat digeneralisasikan. Juga perlu
dipertimbangkan mengenai penggunaan metode penelitian yang berbeda. Daftar Pustaka Aksiwi,

D. K. U. (2009).Faktor-Faktor yang Berhubungandengan Kegagalan Pemberian ASI Secara

Eksklusif Pada Ibu Bekerja (Studidi Rumah Sakit Bhakti Wira Tamtama). Semarang. Diperoleh

dari : http//www.pusatdatadanjurnalindone sia.com. Amiruddin, R. (2011). IMD Stretegi Ampuh

Menurunkan Kematian Bayi.Makasar : New Paradigma for Public Health. Friedman, M.,

Bowden, V. r., & Jones, E. G. (2010).Buku Ajar Keperawatan Keluarga; Riset, Teori &

Praktik.Jakarta : EGC. Klein, S., Miller, S., & Thomson, F. (2004). Bila Perempuan

Melahirkan;Panduan Mengenai Persalinan.Yogyakarta : Insist Press. Maryunani, A., &

Nurhayati.(2005). Buku Saku Asuhan Bayi Baru LahirNormal (Asuhan Neonatal).Jakarta : Trans

Info Media. Moody, J., Britten, J., Hogg, K. (2006). Menyusui Cara Mudah Praktis danNyaman.

Jakarta: Arcan. Nuraneni, A. (2002). Hubungan karakteristik ibu, dukungan keluarga dan

pendidikanKesehatan dengan perilaku pemberian ASI dan MP-ASI 8 Jurnal Keperawatan

Maternitas . Volume 1, No. 1, Mei 2013; 1-8 di Desa WaruJaya Kecamatan Parung Kabupaten

Bogor.Bogor. Diperoleh dari http://www.lontar.ui.ac.id/opac/them

es/libri2/detail.jsp?id=71878&lokasi =lokal. Nurmiati dan Besral.(2008). Pengaruh Durasi

Pemberian ASI TerhadapKetahanan Hidup Bayi di Indonesia. Makara, Kesehatan Vol. 12, No. 2.

Notoatmodjo, S. (2010).Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Pasiak, T.

(2006).Manajemen Kecerdasan; Memberdayakan IQ, EQ dan SQuntuk Kesuksesan Hidup.

Bandung : Mizan Media Utama. Proverawati, A., dan Asfuah, A. (2009).Buku Ajar Gizi untuk

Kebidanan.Yogyakarta : Nuha Media. Proverawati A., dan Rahmawati, E. (2010). Kapita Selekta

ASI dan Menyusui.Yogyakarta : Nuha Media. Roesli, U. (2007). Mengenal ASI Eksklusif.

Jakarta : Trubus Agriwidya. Sudiharto.(2007). Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan

Pendekatan Keperawatan Transkultural.Jakarta : EGC. Suherni., Widyasih, H., dan Rahmawati,


A. (2009). Perawatan Masa Nifas.Yogyakarta : Fitramaya. Suririnah.(2009). Buku Pintar

Merawat Bayi 0-12 Bulan; Panduan Bagi Ibu Baru Untuk Menjalani Hari – Hari Bahagia dan

Menyenangkan BersamaBayinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Wahyuni, S.

(2001).Hubungan Penolong Persalinan, Dukungan Keluarga dan Tingkat Pendidikan Ibu dengan

Pemberian Kolostrum dan ASI Eksklusif. Purworejo. Wulandari, R. (2006). Hubungan Status

Pekerjaan, Tingkat Pengetahuan,Kepatuhan Ibu pada Budaya dan Keterpaparan Penyuluhan Gizi

TerhadapKegagalan Pemberian ASI.http://www.pusatdatajurnaldansk ripsi.com/index.php.htm.

E2A304075. Yuliarti, N. (2010). Keajaiban ASI; Makanan Terbaik Untuk

Kesehatan,Kecerdasan,dan Kelincahan si Kecil.Yogyakarta : ANDI OFFSET. Yuliarti, I. D.

(2008). Hubungan Pengetahuan dan Sikap IbuDengan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif.

Surakarta.

e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 7 Nomor 1, Februari 2019 1 HUBUNGAN

KECEMASAN DENGAN KELANCARAN PENGELUARAN ASI PADA IBU POST

PARTUM SELAMA DIRAWAT DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK KASIH IBU

MANADO Zulfikar Mardjun Grace Korompis Sefti Rompas Program Studi Ilmu Keperawatan

Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Email : ikbalmardjun06@gmail.com Abstract :

Smooth breastfeeding is influenced by several factors, one of which is psychological factors,

namely anxiety. In general, postpartum mothers often experience fatigue and mood swings such

as anxiety; about themselves and about their new-born baby. This anxiety can affect the

smoothness of breastfeeding in post partum mothers. The purpose of this study was to determine

the relationship between anxiety and smooth release of breast milk in post partum mothers while

being treated at Mother and Baby Hospital, Kasih Ibu Manado. The method of this research uses
cross sectional research design. The sample consisted of 68 respondents with a non probability

sampling method with a purposive sampling technique. The results using the Chi-Square did not

fulfill the requirements thus continued with the Fisher Exact test at the significance level of 95%,

obtained by the value ρ - Value 0.001 smaller than the significant value of 0.05. In conclusion,

there is a relationship between anxiety and the smooth releasee of breast milk in post partum

mothers while being treated at Kasih Ibu Hospital. Keywords : Anxiety, Smooth Release of

Breast Milk Abstrak : Kelancaran pengeluaran ASI dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah

satunya faktor psikologis yaitu kecemasan. Pada umumnya ibu pasca persalinan sering

mengalami kelelahan dan perubahan mood seperti kecemasan, cemas terhadap dirinya dan cemas

memikirkan bayinya. Kecemasan tersebut yang dapat mempengaruhi kelancara pengeluaran ASI

pada ibu post partum. Tujuan untuk mengetahui hubungan antara kecemasan dengan kelancaran

pengeluaran air susu ibu pada ibu post partum selama dirawat di Rumah Sakit Ibu dan Anak

Kasih Ibu Manado. Metode menggunakan desain penelitian cross sectional. Sampel terdiri dari

68 responden dengan metode pengambilan sampelsecara non probability sampling dengan teknik

purposive sampling. Hasil dengan menggunakan uji Chi – Square tetapi tidak memenuhi syarat

dan dilanjutkan dengan uji Fisher Exact pada tingkat kemaknaan 95%, didapatkan nilai ρ –

Value 0,001 lebih kecil dari nilai signifikan 0,05. Kesimpulan ada hubungan antara kecemasan

dengan kelancaran pengeluaran air susu ibu pada ibu post partum selama dirawat di Rumah Sakit

Ibu dan Anak Kasih Ibu Manado. Kata Kunci : Kecemasan, Kelancaran Pengeluaran ASI e-

journal Keperawatan (e-Kp) Volume 7 Nomor 1, Februari 2019 2 PENDAHULUAN Air Susu

Ibu (ASI) adalah cairan yang disekresikan oleh kelenjar payudara ibu berupa makanan alamiah

atau susu terbaik bernutrisi dan berenergi tinggi yang diproduksi sejak masa kehamilan (Wiji,

2013). World Health Organization (WHO) dan United Nations International Children’s
Emergency Fund (UNICEF) merekomdasikan sebaiknya anak hanya diberi air susu ibu (ASI)

selama paling sedikit 6 bulan dan pemberian ASI dilanjutkan sampai anak berumur 2 tahun.

Menurut data WHO (2016), cakupan ASI eksklusif di seluruh dunia hanya sekitar 36% selama

periode 2007- 2014. Pencapaian ASI Eksklusif di Indonesia sebesar 54,0% telah mencapai target

(Kementrian Kesehatan RI, 2016). Sedangkan di Sulawesi Utara cakupan bayi yang

mendapatkan ASI eksklusif adalah 39,42 % atau naik dibanding tahun 2015 yang mempunyai

cakupan 33,58 % (Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara, 2016). Pemerintah mengatur

tentang pemberian ASI dalam Undang – undang Nomor 33 tahun 2012 untuk mendukung ibu

menyusui secara eksklusif. Peraturan ini menyatakan ibu wajib untuk menyusui bayinya secara

eksklusif sejak bayi lahir sampai berusia enam bulan. Upaya pemerintah ini lantas mendapat

sambutan positif dari dunia internasional. Tetapi pada kenyataannya, realisasi dari peraturan

pemerintah tersebut masih kurang. Kegagalan dalam proses menyusui sering disebabkan karena

timbulnya beberapa faktor, antara lain faktor perubahan sosial budaya, faktor psikologis, faktor

fisik ibu, meningkatnya promosi susu formula, faktor petugas kesehatan, makanan ibu, berat

badan lahir bayi, penggunaan alat kontrasepsi. Perubahan sosial budaya dimana ibu-ibu yang

bekerja atau ibu-ibu yang mempunyai kesibukan lainnya, meniru teman atau tetangga yang

menggunakan susu botol, merasa ketinggalan zaman jika menyusui. Kelancaran ASI sangat

dipengaruhi oleh faktor kejiwaan karena perasaan ibu dapat mengahmbat atau meningkatkan

pengeluaran oksitosin (Hardiani, R.S, 2017). Proses menyusui terdapat dua proses penting yaitu

proses pembentukan air susu (the milk production reflex) dan proses pengeluaran air susu (let

down reflex) yang kedua proses tersebut dipengaruhi oleh hormon yang diatur oleh

hypothalamus (Badriah, 2011). Sebagaimana pengaturan hormon yang lain, hypothalamus akan

bekerja sesuai dengan perintah otak dan bekerja sesuai emosi ibu (Aprilia, 2011). Kondisi
kejiwaan dan emosi ibu yang tenang sangat memengaruhi kelancaran ASI. Jika ibu mengalami

stres, pikiran tertekan, tidak tenang, cemas, sedih, dan tegang akan mempengaruhi kelancaran

ASI (Riksani, 2012). Ibu yang cemas akan sedikit mengeluarkan ASI dibandingkan ibu yang

tidak cemas. Berdasarkan hasil penelitian Iin Febrina (2011) mengatakan bahwa terdapat

hubungan antara tingkat kecemasan dengan kelancaran pengeluaran ASI ibu post partum

primipara. Upaya agar ASI tetap lancar yaitu mulai dari keinginan ibu yang kuat untuk

memberikan nutrisi terbaik yaitu ASI pada bayinya. Motivasi yang kuat akan berpengaruh

terhadap fisik dan emosi ibu untuk menghasilkan ASI. Dengan memiliki keinginan yangkuat dan

kasih sayang yang tulus dan tinggi, maka produksi ASI bisa terpacu. Salah satunya yaitu

dukungan dari suami dan keluarga, kerena dukungan dari orang-orang terdekat dapat

mempengaruhi kelancaran pengeluaran ASI dan terhindar dari kecemasan sehingga terciptakan

suasana yang nyaman di dalam keluarga dan ibu merasa rileks dan nyaman. Dengan demikian

ASI akan terproduksi dengan lancar. Jika suasana hati ibu merasa nyaman dan gembira akan

mempengaruhi kelancaran ASI, sebaliknya jika ibu merasa cemas dan stress akan menghambat

kelancaran pengeluaran ASI (Qiftiyah, M, 2018). e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 7

Nomor 1, Februari 2019 3 Fenomena yang peneliti dapatkan ketika praktek klinik sebagian besar

ibu pasca persalinan tidak menyusui bayinya hanya memberikan susu formula kepada bayi,

sebagian ibu mengatakan hanya memberikan susu formula karena ASI tidak keluar. Salah satu

faktor ASI tidak keluar dengan lancar adalah kondisi psikologis ibu seperti rasa cemas dan takut.

Survei data awal yang diambil dari RSIA Kasih Ibu Manado pada bulan Juli – September 2018

didapat jumlah seluruh ibu yang melahirkan sebanyak 246 orang. Dari hasil wawancara singkat

yang peneliti lakukan pada 5 ibu post partum, 3 orang ibu mengatakan ASI hanya sedikit yang

keluar dan merasa cemas dan tidak percaya diri dalam memberikan ASI pada bayinya, 2 orang
ibu lainnya mengatakan ASI lancar dan tidak pernah merasa cemas. Fenomena yang terjadi saat

ini, kelancaran pengeluaran ASI seringkali disebabkan oleh faktor kecemasan. Sehingga

berdasarkan masalah tersebut maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul

“Hubungan Kecemasan Dengan Kelancaran Pengeluaran Air Susu Ibu Pada Ibu Post Partum

Selama Dirawat di Rumah Sakit Ibu dan Anak Kasih Ibu Manado”. METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan ialah penelitian yang bersifat analitik dengan pendekatan cross

sectional. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Kasih Ibu Manado pada tanggal

4 September – 13 Desember tahun 2018 dengan populasi sebanyak 82 orang. Pengambilan

sampel pada penelitian ini dilakukan secara non probability sampling dengan teknik purposive

sampling. Penentuan besar sampel menggunakan rumus slovin didapatkan sampel pada

penelitian ini adalah 68 orang yang telah memenuhi kriteria inklusi : seluruh ibu post partum

yang sedang dirawat di RSIA Kasih Ibu Manado, Ibu post partum yang bayinya hidup dan Ibu

post partum yang menyusui. Kriteria eksklusi : ibu yang mengonsumsi obat antidepresan dan Ibu

post partum yang menolak menjadi responden. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa

kuesioner data diri dan skala tingkat kecemasan The State-Trait Anxiety Inventory (STAI) yang

terdiri dari 20 item pertanyaan terdapat pernyataan yang mengindikasikan keberdaan kecemasan

(presence of anxiety) yangtergolong dalam favorable item dan pernyataan yang mengindikasikan

ketiadaan kecemasan (absence of anxiety) tergolong dalam unfavorable, dan kuesioner

kelancaran ASI yang terdiri dari 4 pertanyaan, dengan isian dibagi dalam dua kategori yaitu Ya

atau Tidak, dimana kurang lancar jika responden menjawab tidak pada salah satu pertanyaan,

dan lancar jika responden menjawab ya pada semua pertanyaan. Jenis data yang digunakan pada

penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh

langsung dari responden dan data sekunder data yang diperoleh dari pihak Rumah Sakit Ibu dan
Anak Kasih Ibu Manado. Pengolahan data yang diperoleh dari hasil penelitian ini diolah secara

manual dengan mengelompokkan hasil dari lembar kuesioner yang dibagikan dan selanjutnya

dilakukan analisis menggunakan uji statistik. Setelah itu diolah menggunakan sistem

komputerisasi, tahap-tahap tersebut yaitu Editting, Coding, Proccessing, dan Cleaning. Analisis

univariat pada penelitian ini akan menghasilkan distribusi frekuensi yang memberi gambaran

mengenai jumlah dan presentase. Analisis univariat dilakukan untuk menganalisa variabel

kecemasan dan variabel Kelancaran pengeluaran ASI ibu post partum. Analisa bivariat

merupakan analisa hasil dari variabel independen diduga mempunyai hubungan dengan variabel

dependen. Analisa yang digunakan adalah hasil tabulasi silang. Untuk menguji hipotesa

dilakukan analisa statistik dengan uji Chi – square pada tingkat kemaknaan 95% (ρ - Value <

0,05), setelah diuji hasil tidak e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 7 Nomor 1, Februari 2019

4 memenuhi syarat dan dilanjutkan dengan uji Fisher Exact.Melalui perhitungan Fisher Exact

selanjutnya ditarik suatu kesimpulan, bila nilai ρ – Value lebih kecil dari nilai α (0,05), maka Ho

ditolak dan H1 diterima, yang menunjukkan ada hubungan bermakna antara variabel dependen

dengan variabel independen. HASIL dan PEMBAHASAN Tabel 1.Distribusi responden

berdasarkan umur ibu post partum di RSIA kasih ibu manado. Umur n % 21-25 13 19,1 26-30 28

41,2 31-35 19 27,9 36-40 6 8,8 41-45 2 2,9 Total 68 100,0 Sumber : Data Primer, 2018 Hasil

penelitian menunjukan bahwa dari 68 responden didapati sebagian besar responden berumur 26-

30 berjumlah 28 responden (41,2%). Faktor usia menentukan kondisi maternal dan berkaitan

dengan kondisi masa kehamilan, persalinan dan menyusui. Usia ibu sangat mempengaruhi cara

ibu mengambil keputusan dalam menjaga kesehatan dirinya dimana usia semakin bertambah

maka pengetahuan dan pengalaman ibu akan semakin bertambah (Anggraini, 2011). Tabel

2.Distribusi responden berdasarkan pendidikan terakhir ibu post partum di RSIA kasih ibu
manado Pendidikan Terakhir n % SD 1 1,5 SMP 1 1,5 SMA 19 27,9 D1 1 1,5 D3 3 4,4 D4 1 1,5

S1 39 57,4 S2 3 4,4 Total 68 100,0 Sumber : Data Primer, 2018 Hasil penelitian menunjukan

bahwa dari 68 responden didapati sebagian besar responden berpendidikan terakhir S1 berjumlah

39 responden (57,4%). Pendidikan ibu menjadi faktor yang penting dalam pemberian ASI pada

bayi, tingkat pendidikan rendah terkadang sulit menerima penjelasan tentang pemberian ASI dan

tingkat pendidikan yang baik akan mudah dalam menerima informasi terutama tentang

pemenuhan kebutuhan nutrisi anak sehingga kecukupan gizi anak bisa terjamin. Pada umumnya

ibu yang berpendidikan sedang sampai tinggi dapat menerima hal-hal yang baru dan dapat

menerima perubahan untuk memelihara kesehatan khususnya tentang pemberian ASI. Mereka

bisa terdorong untuk mencari tahu, mencari pengalaman sehingga informasi yang diperoleh akan

menjadi pengetahuan dan diterapkan pada kehidupannya (Hartini, 2014). Tabel 3.Distribusi

responden berdasarkan pekerjaan ibu post partum di RSIA kasih ibu manado Pekerjaan n % IRT

30 44,1 Honorer 3 4,4 Guru 1 1,5 Pendeta 1 1,5 Swasta 15 22,1 Wiraswasta 3 4,4 Kar. BNI 1 1,5

Peg. BUMN 6 8,8 Dokter 3 4,4 Perawat 1 1,5 PNS 4 5,9 Total 68 100,0 Sumber : Data Primer,

2018 Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 68 responden didapati sebagian responden hanya

sebagai ibu rumah tangga (IRT) berjumlah 30 responden (44,1%). Status pekerjaan responden

menunjukkan mayoritas responden tidak bekerja (sebagai ibu rumah tangga). Tugas seorang ibu

rumah tangga sangat banyak diantaranya yaitu memasak, mencuci, mengurus anak e-journal

Keperawatan (e-Kp) Volume 7 Nomor 1, Februari 2019 5 dan suami. Hal ini mengakibatkan

kelelahan atau letih pada ibu yang memicu penurunan produksi ASI (Hardiani, 2017). Tabel

4.Distribusi responden berdasarkan status partus ibu post partum di RSIA kasih ibu manado

Status Partus n % Primipara P1 27 39,7 Multipara P2 29 60,3 P3 11 P5 1 Total 68 100,0 Sumber

: Data Primer, 2018 Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 68 responden didapati responden
terbanyak dengan status partus multipara berjumlah 41 responden (60,3%), dan primipara

berjumlah 27 responden (39,7%). Dari 41 responden multipara yang mengalami kecemasan 28

responden (68,3%) dan tidak cemas 13 responden (31,7%), tetapi untuk primipara berjumlah 27

responden dan yang mengalami kecemasan hampir sebagian besar primipara yaitu berjumlah 25

responden (92,6%) dan tidak cemas 2 responden (7,4%). Tingkat kecemasan dalam proses

menyusui ibu primipara dan multipara berbeda, ibu primipara mengalami kecemasan lebih tinggi

dari pada ibu multipara. Kebanyakan ibu primipara khawatir memikirkan bagaimana

kehidupannya kelak saat merawat dan mengasuh bayinya. Ibu primipara masih perlu beradaptasi

dengan keadaannya setelah proses persalinan sedangkan untuk ibu multipara sudah terbiasa

dengan hadirnya anggota keluarga baru (Bentelu, 2015) Tabel 5.Distribusi responden berdasrkan

kecemasan ibu post partum di RSIA kasih ibu manado Kecemasan n % Tidak cemas 15 22,1

Cemas ringan 24 35,3 Cemas sedang 9 13,2 Cemas berat 15 22,1 Panik 5 7,4 Total 68 100,0

Sumber : Data Primer, 2018 Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 68 responden didapati

sebagian responden mengalami kecemasan ringan berjumlah 24 responden (35,3%). Rasa cemas

dapat menimbulkan berbagai masalah, termasuk salah satunya depresi post partum pada ibu,

dimana keadaan psikosis ibu terganggu. Adapun depresi post partum merupakan suatu keadaan

psikosis mendadak. Psikosis adalah suatu kondisi gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya

ketidakmampuan membedakan realita dan khayalan (Videbeck & Sheila, 2008). Tabel

6.Distribusi responden berdasarkan kelancaran ASI ibu post partum di RSIA kasih ibu manado

Kelancaran ASI n % Lancar 28 41,2 Kurang Lancar 40 58,8 Total 68 100,0 Sumber : Data

Primer, 2018 Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 68 responden didapati responden dengan

ASI lancar berjumlah 28 responden (41,2%), dan ASI kurang lancar berjumlah 40 responden

(58,8%). Ibu yang ASInya tidak lancar disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya ibu yang
mengalami kelelahan setelah persalinan baik Sectio Caesarea maupun spontan pervaginam,

kebanyakan ibu merasa takut untuk mobilisasi, sehingga ibu merasa malas menyusui bayinya

dan pada akhirnya ibu memilih untuk memberikan susu formula pada bayinya (Amalia, 2016). e-

journal Keperawatan (e-Kp) Volume 7 Nomor 1, Februari 2019 6 Tabel 7.Hasil Analisi

Hubungan Kecemasan dengan Kelancaran Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum di Rumah

Sakit Ibu dan Anak Kasih Ibu Manado Kecemasan Kelancaran ASI ρ - Value Lancar Kurang

Lancar Total n % n % n % 0,001 Tidak cemas 10 66,7 5 33,3 15 100 Cemas ringan 11 45,8 13

54,2 24 100 Cemas sedang 6 66,7 3 33,3 9 100 Cemas berat 1 6,7 14 93,3 15 100 Panik 0 0 5 100

5 100 Total 28 41,1 40 58,8 68 100 Sumber : Data Primer, 2018 Analisis hasil uji hipotesa dari

kecemasan dengan kelancaran pengeluaran ASI menggunakan uji statistik Chi - Square (χ2 ) dan

dilanjutkan dengan uji Fisher Exact pada tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05), dari hasil penelitian

yang telah dilakukan menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara kecemasan dengan

kelancaran pengeluaran ASI di Rumah Sakit Ibu dan Anak Kasih Ibu Manado. Dimana nilai ρ -

Value = 0,001 lebih kecil dari α = 0,05. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan

sebelumnya oleh Febrina (2011) hubungan tingkat kecemasan pada primipara dengan kelancaran

pengeluaran ASI pada 2-4 hari postpartum di wilayah kerja puskesmas kecamatan lubuk

kilangan dengan skor sebagian besar (73,3%) responden mengalami kecemasan ringan dan

sebagian besar (66,7%) mengalami pengeluaran ASI tidak lancar. Berdasarkan hasil penelitian

terdapat 5 responden yang tidak mengalami kecemasan tetapi ASInya kurang lancar, hal ini

disebabkan karena 5 responden tersebut melakukan persalinan secara sectio caesarea. Persalinan

sectio caesarea bisa mempengaruhi kelancaran pengeluaran ASI, karena seringkali ibu yang

melahirkan secara sectio caesarea memiliki kesulitan untuk menyusui bayinya setelah bayi lahir.

Terutama untuk ibu yang diberikan anastesi secara umum, ibu akan mengalami penurunan
kesadaran untuk mengurus bayinya pada jam pertama setelah bayi lahir (Sari, 2015). Selain itu

terjadinya luka pada tindakan pembedahan sectio caesarea akan mengakibatkan nyeri yang lebih

berat dibadingkan dengan ruptur atau episiotomy pada daerah pirenium saat melahirkan

pervagina (Warsini, Aminingsih & Fahrunnisa, 2015). Hasil penelitian terdapat beberapa

responden yang mengalami kecemasan tetapi ASInya lancar, hal ini disebabkan karena sebagian

besar responden tersebut adalah ibu multipara yang sebelumnya sudah punya pengalaman

memberikan ASI. Peneliti beranggapan bahwa beberapa responden tersebut merasa cemas akibat

proses persalinan dan ASI lancar karena sebelumnya sudah punya pengetahuan dan pengalaman

dalam memberikan ASI. Seperti yang dikatakan oleh Fauziah (2009) laktasi kedua dan ketiga

yang dialami ibu berarti ibu telah memiliki pengalaman dalam menyusui anaknya. Wawancara

yang peneliti lakukan, kebanyakan ibu yang mengalami kecemasan khawatir memikirkan

bagaimana cara mengasuh bayinya kelak, khususnya untuk ibu primipara mereka khawatir

karena belum punya pengalaman mengurus bayi dan perlu beradaptasi dengan keadaan karena

telah hadir anggota keluarga yang baru. Sebagian ibu lainnya mengatakan cemas dan takut

karena tidak bekerja, karena mereka beranggapan mempunyai bayi itu butuh biaya yang cukup

banyak untuk membeli perlengkapan bayi dan sebagainya. Hawari (2011) menyatakan bahwa

kecemasan adalah gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau

kekhawatiran yang mendalam. Gejala yang dikeluhkan didominasi oleh faktor psikis tetapi dapat

pula oleh faktor fisik. Seseorang akan mengalami gangguan cemas manakala yang bersangkutan

tidak mampu mengatasi stressor psikososial. Ibu pasca persalinan harus mempersiapkan diri

untuk menyusui bayinya, tetapi sebagian ibu mengalami e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume

7 Nomor 1, Februari 2019 7 kecemasan sehingga mempengaruhi kelancaran ASI. Ibu menyusui

harus berpikir positif dan rileks agar tidak mengalami kecemasan dan kondisi psikologis ibu
menjadi baik, kondisi psikologis yang baik dapat memicu kerja hormon yang memproduksi ASI.

Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kamariyah (2014) bahwa terdapat hubungan

antara kondisi psikologis ibu dengan kelancaran produksi ASI, keadaan psikologis ibu yang baik

akan memotifasi untuk menyusui bayinya sehingga hormon yang berperan pada produksi ASI

akan meningkat karena produksi ASI dimulai dari proses menyusui dan akan merangsang

produksi ASI. Berdasarkan hasil penelitian dan teori pendukung, peneliti beranggapan bahwa

kecemasan yang terjadi pada ibu post partum karena terlalu memikirkan halhal negatif. Ibu post

partum harus berfikir positif, berusaha untuk mencintai bayinya, dan rileks ketika menyusui.

Ketika ibu berfikir positif dan tetap tenang akan memicu produksi ASI sehingga ASI bisa keluar

dengan lancar, sebaliknya ibu yang kondisi psikologisnya terganggu seperti merasa cemas akan

mempengaruhi produksi ASI sehingga produksi ASI bisa menurun dan menyebabkan ASI

kurang lancar. SIMPULAN Hasil kesimpulan dari pembahasan tentang hubungan kecemasan

dengan kelancaran pengeluaran ASI pada ibu post partum selama dirawat di Rumah Sakit Ibu

dan Anak Kasih Ibu Manado tahun 2018, bahwa sebagian besar responden mengalami

kecemasan ringan, sebagian besar responden ASI nya kurang lancar. Ada hubungan antara

kecemasan dengan kelancaran pengeluaran ASI pada ibu post partum selama dirawat di Rumah

Sakit Ibu dan Anak Kasih Ibu Manado. DAFTAR PUSTAKA Amalia, R. (2016). Hubungan

Stres Dengan Kelancaran ASI Pada Ibu Menyusui Pasca Persalinan di RSI A.Yani Surabaya.

Diakses pada 27 November 2018. Diakses pada 28 November 2018 Aprilia, Y. (2011).

Hipnostetri. Rileks Nyaman dan Aman saat Hamil dan Melahirkan. Jakarta: Gagas Media.

Diakses pada tanggal 14 September 2018 Badriah, D. L. (2011). Gizi dalam Kesehatan

Reproduksi. Bandung: PT Refika Aditama. Diakses pada tanggal 14 September 2018 Bentelu,

F.E.M. (2015). Perbedaan Tingkat Kecemasan Dalam Proses Menyusui Antara Ibu Primipara
dan Multipara di RS Pancaran Kasih GMIM Manado. Diakses pada 26 November 2018 Dinas

Kesehatan Daerah Provinsi Sulawesi Utara. (2016). Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara.

Fauziah. (2009). Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Waktu Menyusui Pertama Kali Pada

Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Jakarta. Diakses pada 15 Desember 2018.

Febrina, I. (2011). Hubungan Tingkat Kecemasan Pada Primipara Dengan Kelancaran

Pengeluaran ASI Pada 2-4 Hari Postpartum Di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Lubuk

Kilangan. Diakses pada 26 November 2018 Hardiani, R.S. (2017). Status Paritas dan Pekerjaan

Ibu Terhadap Pengeluaran ASI Pada Ibu Menyusui 0-6 Bulan. Diakses pada 26 Oktober 2018. e-

journal Keperawatan (e-Kp) Volume 7 Nomor 1, Februari 2019 8 Hartini, S. (2014). Hubungan

Tingkat Pendidikan Ibu Dengan Keberhasila ASI Eksklusif Pada Bayi Umur 6-12 Bulan di

Puskesmas Kasihan II Yogyakarata. Diakses pada 27 November 2018 Hawari, R. P. (2011).

Management Stress, Cemas dan Depresi. Jakarta : FK UI. Kamariyah, N. (2014). Kondisi

Psikologis Mempengaruhi Produksi ASI Ibu Menyusui Di BPS Aski Pakis Sido Kumpul

Surabaya Diakses pada 27 November 2018 Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2016).

Profil Kesehatan Indonesia. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. (2014). Situasi

dan Analisis ASI EKSKLUSIF. Qiftiyah, M. (2017). Studi Tingkat Kecemasan Ibu Post Partum

Terhadap Kelancara ASI Pada Ibu Nifas Hari Ke-5 (Di BPM Asri Dan Polindres Permata Bunda

Tuban). Diakses pada 10 September 2018. Riksani, R. (2012). Keajaiban ASI (Air Susu Ibu).

Jakarta Timur: Dunia Sehat Sari, L.W. (2015). Hubungan Jenis Persalinan dengan Onset Laktasi

Pada Ibu Post Partum di RS PKU Muhammadyah Yogyakarta. Diakses pada 4 Desember 2018

Sulastri, W. (2016). Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Pemberian ASI Pada Masa Nifas Di

Puskesmas Umbuhlharjo 1 Yogyakarta Tahun 2016. Diakses pada 13 September 2018.

Videbeck., & Sheila, L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC Warsini.,
Aminingsih, S., & Fahrunnisa, R.A. (2015). Hubungan Antara Jenis Persalinan dengan

Keberhasilan ASI Eksklusif di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo. Diakses pada 4 Desember

2018 Wiji, R.N. (2013). ASI dan Panduan Ibu Menyusui. Yogyakarta: Nuhu Medika Wulandari,

I.H. (2014). Tingkat Kecemasan Ibu Postpartum Yang Asinya Tidak Lancar di Ruang Bersalin

RSUD DR. Abdoer Rahem Situbondo. Diakses pada 10 September 2018.

e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 7 Nomor 1, Februari 2019 1 HUBUNGAN

KECEMASAN DENGAN KELANCARAN PENGELUARAN ASI PADA IBU POST

PARTUM SELAMA DIRAWAT DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK KASIH IBU

MANADO Zulfikar Mardjun Grace Korompis Sefti Rompas Program Studi Ilmu Keperawatan

Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Email : ikbalmardjun06@gmail.com Abstract :

Smooth breastfeeding is influenced by several factors, one of which is psychological factors,

namely anxiety. In general, postpartum mothers often experience fatigue and mood swings such

as anxiety; about themselves and about their new-born baby. This anxiety can affect the

smoothness of breastfeeding in post partum mothers. The purpose of this study was to determine

the relationship between anxiety and smooth release of breast milk in post partum mothers while

being treated at Mother and Baby Hospital, Kasih Ibu Manado. The method of this research uses

cross sectional research design. The sample consisted of 68 respondents with a non probability

sampling method with a purposive sampling technique. The results using the Chi-Square did not

fulfill the requirements thus continued with the Fisher Exact test at the significance level of 95%,

obtained by the value ρ - Value 0.001 smaller than the significant value of 0.05. In conclusion,
there is a relationship between anxiety and the smooth releasee of breast milk in post partum

mothers while being treated at Kasih Ibu Hospital. Keywords : Anxiety, Smooth Release of

Breast Milk Abstrak : Kelancaran pengeluaran ASI dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah

satunya faktor psikologis yaitu kecemasan. Pada umumnya ibu pasca persalinan sering

mengalami kelelahan dan perubahan mood seperti kecemasan, cemas terhadap dirinya dan cemas

memikirkan bayinya. Kecemasan tersebut yang dapat mempengaruhi kelancara pengeluaran ASI

pada ibu post partum. Tujuan untuk mengetahui hubungan antara kecemasan dengan kelancaran

pengeluaran air susu ibu pada ibu post partum selama dirawat di Rumah Sakit Ibu dan Anak

Kasih Ibu Manado. Metode menggunakan desain penelitian cross sectional. Sampel terdiri dari

68 responden dengan metode pengambilan sampelsecara non probability sampling dengan teknik

purposive sampling. Hasil dengan menggunakan uji Chi – Square tetapi tidak memenuhi syarat

dan dilanjutkan dengan uji Fisher Exact pada tingkat kemaknaan 95%, didapatkan nilai ρ –

Value 0,001 lebih kecil dari nilai signifikan 0,05. Kesimpulan ada hubungan antara kecemasan

dengan kelancaran pengeluaran air susu ibu pada ibu post partum selama dirawat di Rumah Sakit

Ibu dan Anak Kasih Ibu Manado. Kata Kunci : Kecemasan, Kelancaran Pengeluaran ASI e-

journal Keperawatan (e-Kp) Volume 7 Nomor 1, Februari 2019 2 PENDAHULUAN Air Susu

Ibu (ASI) adalah cairan yang disekresikan oleh kelenjar payudara ibu berupa makanan alamiah

atau susu terbaik bernutrisi dan berenergi tinggi yang diproduksi sejak masa kehamilan (Wiji,

2013). World Health Organization (WHO) dan United Nations International Children’s

Emergency Fund (UNICEF) merekomdasikan sebaiknya anak hanya diberi air susu ibu (ASI)

selama paling sedikit 6 bulan dan pemberian ASI dilanjutkan sampai anak berumur 2 tahun.

Menurut data WHO (2016), cakupan ASI eksklusif di seluruh dunia hanya sekitar 36% selama

periode 2007- 2014. Pencapaian ASI Eksklusif di Indonesia sebesar 54,0% telah mencapai target
(Kementrian Kesehatan RI, 2016). Sedangkan di Sulawesi Utara cakupan bayi yang

mendapatkan ASI eksklusif adalah 39,42 % atau naik dibanding tahun 2015 yang mempunyai

cakupan 33,58 % (Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara, 2016). Pemerintah mengatur

tentang pemberian ASI dalam Undang – undang Nomor 33 tahun 2012 untuk mendukung ibu

menyusui secara eksklusif. Peraturan ini menyatakan ibu wajib untuk menyusui bayinya secara

eksklusif sejak bayi lahir sampai berusia enam bulan. Upaya pemerintah ini lantas mendapat

sambutan positif dari dunia internasional. Tetapi pada kenyataannya, realisasi dari peraturan

pemerintah tersebut masih kurang. Kegagalan dalam proses menyusui sering disebabkan karena

timbulnya beberapa faktor, antara lain faktor perubahan sosial budaya, faktor psikologis, faktor

fisik ibu, meningkatnya promosi susu formula, faktor petugas kesehatan, makanan ibu, berat

badan lahir bayi, penggunaan alat kontrasepsi. Perubahan sosial budaya dimana ibu-ibu yang

bekerja atau ibu-ibu yang mempunyai kesibukan lainnya, meniru teman atau tetangga yang

menggunakan susu botol, merasa ketinggalan zaman jika menyusui. Kelancaran ASI sangat

dipengaruhi oleh faktor kejiwaan karena perasaan ibu dapat mengahmbat atau meningkatkan

pengeluaran oksitosin (Hardiani, R.S, 2017). Proses menyusui terdapat dua proses penting yaitu

proses pembentukan air susu (the milk production reflex) dan proses pengeluaran air susu (let

down reflex) yang kedua proses tersebut dipengaruhi oleh hormon yang diatur oleh

hypothalamus (Badriah, 2011). Sebagaimana pengaturan hormon yang lain, hypothalamus akan

bekerja sesuai dengan perintah otak dan bekerja sesuai emosi ibu (Aprilia, 2011). Kondisi

kejiwaan dan emosi ibu yang tenang sangat memengaruhi kelancaran ASI. Jika ibu mengalami

stres, pikiran tertekan, tidak tenang, cemas, sedih, dan tegang akan mempengaruhi kelancaran

ASI (Riksani, 2012). Ibu yang cemas akan sedikit mengeluarkan ASI dibandingkan ibu yang

tidak cemas. Berdasarkan hasil penelitian Iin Febrina (2011) mengatakan bahwa terdapat
hubungan antara tingkat kecemasan dengan kelancaran pengeluaran ASI ibu post partum

primipara. Upaya agar ASI tetap lancar yaitu mulai dari keinginan ibu yang kuat untuk

memberikan nutrisi terbaik yaitu ASI pada bayinya. Motivasi yang kuat akan berpengaruh

terhadap fisik dan emosi ibu untuk menghasilkan ASI. Dengan memiliki keinginan yangkuat dan

kasih sayang yang tulus dan tinggi, maka produksi ASI bisa terpacu. Salah satunya yaitu

dukungan dari suami dan keluarga, kerena dukungan dari orang-orang terdekat dapat

mempengaruhi kelancaran pengeluaran ASI dan terhindar dari kecemasan sehingga terciptakan

suasana yang nyaman di dalam keluarga dan ibu merasa rileks dan nyaman. Dengan demikian

ASI akan terproduksi dengan lancar. Jika suasana hati ibu merasa nyaman dan gembira akan

mempengaruhi kelancaran ASI, sebaliknya jika ibu merasa cemas dan stress akan menghambat

kelancaran pengeluaran ASI (Qiftiyah, M, 2018). e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 7

Nomor 1, Februari 2019 3 Fenomena yang peneliti dapatkan ketika praktek klinik sebagian besar

ibu pasca persalinan tidak menyusui bayinya hanya memberikan susu formula kepada bayi,

sebagian ibu mengatakan hanya memberikan susu formula karena ASI tidak keluar. Salah satu

faktor ASI tidak keluar dengan lancar adalah kondisi psikologis ibu seperti rasa cemas dan takut.

Survei data awal yang diambil dari RSIA Kasih Ibu Manado pada bulan Juli – September 2018

didapat jumlah seluruh ibu yang melahirkan sebanyak 246 orang. Dari hasil wawancara singkat

yang peneliti lakukan pada 5 ibu post partum, 3 orang ibu mengatakan ASI hanya sedikit yang

keluar dan merasa cemas dan tidak percaya diri dalam memberikan ASI pada bayinya, 2 orang

ibu lainnya mengatakan ASI lancar dan tidak pernah merasa cemas. Fenomena yang terjadi saat

ini, kelancaran pengeluaran ASI seringkali disebabkan oleh faktor kecemasan. Sehingga

berdasarkan masalah tersebut maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul

“Hubungan Kecemasan Dengan Kelancaran Pengeluaran Air Susu Ibu Pada Ibu Post Partum
Selama Dirawat di Rumah Sakit Ibu dan Anak Kasih Ibu Manado”. METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan ialah penelitian yang bersifat analitik dengan pendekatan cross

sectional. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Kasih Ibu Manado pada tanggal

4 September – 13 Desember tahun 2018 dengan populasi sebanyak 82 orang. Pengambilan

sampel pada penelitian ini dilakukan secara non probability sampling dengan teknik purposive

sampling. Penentuan besar sampel menggunakan rumus slovin didapatkan sampel pada

penelitian ini adalah 68 orang yang telah memenuhi kriteria inklusi : seluruh ibu post partum

yang sedang dirawat di RSIA Kasih Ibu Manado, Ibu post partum yang bayinya hidup dan Ibu

post partum yang menyusui. Kriteria eksklusi : ibu yang mengonsumsi obat antidepresan dan Ibu

post partum yang menolak menjadi responden. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa

kuesioner data diri dan skala tingkat kecemasan The State-Trait Anxiety Inventory (STAI) yang

terdiri dari 20 item pertanyaan terdapat pernyataan yang mengindikasikan keberdaan kecemasan

(presence of anxiety) yangtergolong dalam favorable item dan pernyataan yang mengindikasikan

ketiadaan kecemasan (absence of anxiety) tergolong dalam unfavorable, dan kuesioner

kelancaran ASI yang terdiri dari 4 pertanyaan, dengan isian dibagi dalam dua kategori yaitu Ya

atau Tidak, dimana kurang lancar jika responden menjawab tidak pada salah satu pertanyaan,

dan lancar jika responden menjawab ya pada semua pertanyaan. Jenis data yang digunakan pada

penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh

langsung dari responden dan data sekunder data yang diperoleh dari pihak Rumah Sakit Ibu dan

Anak Kasih Ibu Manado. Pengolahan data yang diperoleh dari hasil penelitian ini diolah secara

manual dengan mengelompokkan hasil dari lembar kuesioner yang dibagikan dan selanjutnya

dilakukan analisis menggunakan uji statistik. Setelah itu diolah menggunakan sistem

komputerisasi, tahap-tahap tersebut yaitu Editting, Coding, Proccessing, dan Cleaning. Analisis
univariat pada penelitian ini akan menghasilkan distribusi frekuensi yang memberi gambaran

mengenai jumlah dan presentase. Analisis univariat dilakukan untuk menganalisa variabel

kecemasan dan variabel Kelancaran pengeluaran ASI ibu post partum. Analisa bivariat

merupakan analisa hasil dari variabel independen diduga mempunyai hubungan dengan variabel

dependen. Analisa yang digunakan adalah hasil tabulasi silang. Untuk menguji hipotesa

dilakukan analisa statistik dengan uji Chi – square pada tingkat kemaknaan 95% (ρ - Value <

0,05), setelah diuji hasil tidak e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 7 Nomor 1, Februari 2019

4 memenuhi syarat dan dilanjutkan dengan uji Fisher Exact.Melalui perhitungan Fisher Exact

selanjutnya ditarik suatu kesimpulan, bila nilai ρ – Value lebih kecil dari nilai α (0,05), maka Ho

ditolak dan H1 diterima, yang menunjukkan ada hubungan bermakna antara variabel dependen

dengan variabel independen. HASIL dan PEMBAHASAN Tabel 1.Distribusi responden

berdasarkan umur ibu post partum di RSIA kasih ibu manado. Umur n % 21-25 13 19,1 26-30 28

41,2 31-35 19 27,9 36-40 6 8,8 41-45 2 2,9 Total 68 100,0 Sumber : Data Primer, 2018 Hasil

penelitian menunjukan bahwa dari 68 responden didapati sebagian besar responden berumur 26-

30 berjumlah 28 responden (41,2%). Faktor usia menentukan kondisi maternal dan berkaitan

dengan kondisi masa kehamilan, persalinan dan menyusui. Usia ibu sangat mempengaruhi cara

ibu mengambil keputusan dalam menjaga kesehatan dirinya dimana usia semakin bertambah

maka pengetahuan dan pengalaman ibu akan semakin bertambah (Anggraini, 2011). Tabel

2.Distribusi responden berdasarkan pendidikan terakhir ibu post partum di RSIA kasih ibu

manado Pendidikan Terakhir n % SD 1 1,5 SMP 1 1,5 SMA 19 27,9 D1 1 1,5 D3 3 4,4 D4 1 1,5

S1 39 57,4 S2 3 4,4 Total 68 100,0 Sumber : Data Primer, 2018 Hasil penelitian menunjukan

bahwa dari 68 responden didapati sebagian besar responden berpendidikan terakhir S1 berjumlah

39 responden (57,4%). Pendidikan ibu menjadi faktor yang penting dalam pemberian ASI pada
bayi, tingkat pendidikan rendah terkadang sulit menerima penjelasan tentang pemberian ASI dan

tingkat pendidikan yang baik akan mudah dalam menerima informasi terutama tentang

pemenuhan kebutuhan nutrisi anak sehingga kecukupan gizi anak bisa terjamin. Pada umumnya

ibu yang berpendidikan sedang sampai tinggi dapat menerima hal-hal yang baru dan dapat

menerima perubahan untuk memelihara kesehatan khususnya tentang pemberian ASI. Mereka

bisa terdorong untuk mencari tahu, mencari pengalaman sehingga informasi yang diperoleh akan

menjadi pengetahuan dan diterapkan pada kehidupannya (Hartini, 2014). Tabel 3.Distribusi

responden berdasarkan pekerjaan ibu post partum di RSIA kasih ibu manado Pekerjaan n % IRT

30 44,1 Honorer 3 4,4 Guru 1 1,5 Pendeta 1 1,5 Swasta 15 22,1 Wiraswasta 3 4,4 Kar. BNI 1 1,5

Peg. BUMN 6 8,8 Dokter 3 4,4 Perawat 1 1,5 PNS 4 5,9 Total 68 100,0 Sumber : Data Primer,

2018 Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 68 responden didapati sebagian responden hanya

sebagai ibu rumah tangga (IRT) berjumlah 30 responden (44,1%). Status pekerjaan responden

menunjukkan mayoritas responden tidak bekerja (sebagai ibu rumah tangga). Tugas seorang ibu

rumah tangga sangat banyak diantaranya yaitu memasak, mencuci, mengurus anak e-journal

Keperawatan (e-Kp) Volume 7 Nomor 1, Februari 2019 5 dan suami. Hal ini mengakibatkan

kelelahan atau letih pada ibu yang memicu penurunan produksi ASI (Hardiani, 2017). Tabel

4.Distribusi responden berdasarkan status partus ibu post partum di RSIA kasih ibu manado

Status Partus n % Primipara P1 27 39,7 Multipara P2 29 60,3 P3 11 P5 1 Total 68 100,0 Sumber

: Data Primer, 2018 Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 68 responden didapati responden

terbanyak dengan status partus multipara berjumlah 41 responden (60,3%), dan primipara

berjumlah 27 responden (39,7%). Dari 41 responden multipara yang mengalami kecemasan 28

responden (68,3%) dan tidak cemas 13 responden (31,7%), tetapi untuk primipara berjumlah 27

responden dan yang mengalami kecemasan hampir sebagian besar primipara yaitu berjumlah 25
responden (92,6%) dan tidak cemas 2 responden (7,4%). Tingkat kecemasan dalam proses

menyusui ibu primipara dan multipara berbeda, ibu primipara mengalami kecemasan lebih tinggi

dari pada ibu multipara. Kebanyakan ibu primipara khawatir memikirkan bagaimana

kehidupannya kelak saat merawat dan mengasuh bayinya. Ibu primipara masih perlu beradaptasi

dengan keadaannya setelah proses persalinan sedangkan untuk ibu multipara sudah terbiasa

dengan hadirnya anggota keluarga baru (Bentelu, 2015) Tabel 5.Distribusi responden berdasrkan

kecemasan ibu post partum di RSIA kasih ibu manado Kecemasan n % Tidak cemas 15 22,1

Cemas ringan 24 35,3 Cemas sedang 9 13,2 Cemas berat 15 22,1 Panik 5 7,4 Total 68 100,0

Sumber : Data Primer, 2018 Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 68 responden didapati

sebagian responden mengalami kecemasan ringan berjumlah 24 responden (35,3%). Rasa cemas

dapat menimbulkan berbagai masalah, termasuk salah satunya depresi post partum pada ibu,

dimana keadaan psikosis ibu terganggu. Adapun depresi post partum merupakan suatu keadaan

psikosis mendadak. Psikosis adalah suatu kondisi gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya

ketidakmampuan membedakan realita dan khayalan (Videbeck & Sheila, 2008). Tabel

6.Distribusi responden berdasarkan kelancaran ASI ibu post partum di RSIA kasih ibu manado

Kelancaran ASI n % Lancar 28 41,2 Kurang Lancar 40 58,8 Total 68 100,0 Sumber : Data

Primer, 2018 Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 68 responden didapati responden dengan

ASI lancar berjumlah 28 responden (41,2%), dan ASI kurang lancar berjumlah 40 responden

(58,8%). Ibu yang ASInya tidak lancar disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya ibu yang

mengalami kelelahan setelah persalinan baik Sectio Caesarea maupun spontan pervaginam,

kebanyakan ibu merasa takut untuk mobilisasi, sehingga ibu merasa malas menyusui bayinya

dan pada akhirnya ibu memilih untuk memberikan susu formula pada bayinya (Amalia, 2016). e-

journal Keperawatan (e-Kp) Volume 7 Nomor 1, Februari 2019 6 Tabel 7.Hasil Analisi
Hubungan Kecemasan dengan Kelancaran Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum di Rumah

Sakit Ibu dan Anak Kasih Ibu Manado Kecemasan Kelancaran ASI ρ - Value Lancar Kurang

Lancar Total n % n % n % 0,001 Tidak cemas 10 66,7 5 33,3 15 100 Cemas ringan 11 45,8 13

54,2 24 100 Cemas sedang 6 66,7 3 33,3 9 100 Cemas berat 1 6,7 14 93,3 15 100 Panik 0 0 5 100

5 100 Total 28 41,1 40 58,8 68 100 Sumber : Data Primer, 2018 Analisis hasil uji hipotesa dari

kecemasan dengan kelancaran pengeluaran ASI menggunakan uji statistik Chi - Square (χ2 ) dan

dilanjutkan dengan uji Fisher Exact pada tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05), dari hasil penelitian

yang telah dilakukan menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara kecemasan dengan

kelancaran pengeluaran ASI di Rumah Sakit Ibu dan Anak Kasih Ibu Manado. Dimana nilai ρ -

Value = 0,001 lebih kecil dari α = 0,05. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan

sebelumnya oleh Febrina (2011) hubungan tingkat kecemasan pada primipara dengan kelancaran

pengeluaran ASI pada 2-4 hari postpartum di wilayah kerja puskesmas kecamatan lubuk

kilangan dengan skor sebagian besar (73,3%) responden mengalami kecemasan ringan dan

sebagian besar (66,7%) mengalami pengeluaran ASI tidak lancar. Berdasarkan hasil penelitian

terdapat 5 responden yang tidak mengalami kecemasan tetapi ASInya kurang lancar, hal ini

disebabkan karena 5 responden tersebut melakukan persalinan secara sectio caesarea. Persalinan

sectio caesarea bisa mempengaruhi kelancaran pengeluaran ASI, karena seringkali ibu yang

melahirkan secara sectio caesarea memiliki kesulitan untuk menyusui bayinya setelah bayi lahir.

Terutama untuk ibu yang diberikan anastesi secara umum, ibu akan mengalami penurunan

kesadaran untuk mengurus bayinya pada jam pertama setelah bayi lahir (Sari, 2015). Selain itu

terjadinya luka pada tindakan pembedahan sectio caesarea akan mengakibatkan nyeri yang lebih

berat dibadingkan dengan ruptur atau episiotomy pada daerah pirenium saat melahirkan

pervagina (Warsini, Aminingsih & Fahrunnisa, 2015). Hasil penelitian terdapat beberapa
responden yang mengalami kecemasan tetapi ASInya lancar, hal ini disebabkan karena sebagian

besar responden tersebut adalah ibu multipara yang sebelumnya sudah punya pengalaman

memberikan ASI. Peneliti beranggapan bahwa beberapa responden tersebut merasa cemas akibat

proses persalinan dan ASI lancar karena sebelumnya sudah punya pengetahuan dan pengalaman

dalam memberikan ASI. Seperti yang dikatakan oleh Fauziah (2009) laktasi kedua dan ketiga

yang dialami ibu berarti ibu telah memiliki pengalaman dalam menyusui anaknya. Wawancara

yang peneliti lakukan, kebanyakan ibu yang mengalami kecemasan khawatir memikirkan

bagaimana cara mengasuh bayinya kelak, khususnya untuk ibu primipara mereka khawatir

karena belum punya pengalaman mengurus bayi dan perlu beradaptasi dengan keadaan karena

telah hadir anggota keluarga yang baru. Sebagian ibu lainnya mengatakan cemas dan takut

karena tidak bekerja, karena mereka beranggapan mempunyai bayi itu butuh biaya yang cukup

banyak untuk membeli perlengkapan bayi dan sebagainya. Hawari (2011) menyatakan bahwa

kecemasan adalah gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau

kekhawatiran yang mendalam. Gejala yang dikeluhkan didominasi oleh faktor psikis tetapi dapat

pula oleh faktor fisik. Seseorang akan mengalami gangguan cemas manakala yang bersangkutan

tidak mampu mengatasi stressor psikososial. Ibu pasca persalinan harus mempersiapkan diri

untuk menyusui bayinya, tetapi sebagian ibu mengalami e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume

7 Nomor 1, Februari 2019 7 kecemasan sehingga mempengaruhi kelancaran ASI. Ibu menyusui

harus berpikir positif dan rileks agar tidak mengalami kecemasan dan kondisi psikologis ibu

menjadi baik, kondisi psikologis yang baik dapat memicu kerja hormon yang memproduksi ASI.

Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kamariyah (2014) bahwa terdapat hubungan

antara kondisi psikologis ibu dengan kelancaran produksi ASI, keadaan psikologis ibu yang baik

akan memotifasi untuk menyusui bayinya sehingga hormon yang berperan pada produksi ASI
akan meningkat karena produksi ASI dimulai dari proses menyusui dan akan merangsang

produksi ASI. Berdasarkan hasil penelitian dan teori pendukung, peneliti beranggapan bahwa

kecemasan yang terjadi pada ibu post partum karena terlalu memikirkan halhal negatif. Ibu post

partum harus berfikir positif, berusaha untuk mencintai bayinya, dan rileks ketika menyusui.

Ketika ibu berfikir positif dan tetap tenang akan memicu produksi ASI sehingga ASI bisa keluar

dengan lancar, sebaliknya ibu yang kondisi psikologisnya terganggu seperti merasa cemas akan

mempengaruhi produksi ASI sehingga produksi ASI bisa menurun dan menyebabkan ASI

kurang lancar. SIMPULAN Hasil kesimpulan dari pembahasan tentang hubungan kecemasan

dengan kelancaran pengeluaran ASI pada ibu post partum selama dirawat di Rumah Sakit Ibu

dan Anak Kasih Ibu Manado tahun 2018, bahwa sebagian besar responden mengalami

kecemasan ringan, sebagian besar responden ASI nya kurang lancar. Ada hubungan antara

kecemasan dengan kelancaran pengeluaran ASI pada ibu post partum selama dirawat di Rumah

Sakit Ibu dan Anak Kasih Ibu Manado. DAFTAR PUSTAKA Amalia, R. (2016). Hubungan

Stres Dengan Kelancaran ASI Pada Ibu Menyusui Pasca Persalinan di RSI A.Yani Surabaya.

Diakses pada 27 November 2018. Diakses pada 28 November 2018 Aprilia, Y. (2011).

Hipnostetri. Rileks Nyaman dan Aman saat Hamil dan Melahirkan. Jakarta: Gagas Media.

Diakses pada tanggal 14 September 2018 Badriah, D. L. (2011). Gizi dalam Kesehatan

Reproduksi. Bandung: PT Refika Aditama. Diakses pada tanggal 14 September 2018 Bentelu,

F.E.M. (2015). Perbedaan Tingkat Kecemasan Dalam Proses Menyusui Antara Ibu Primipara

dan Multipara di RS Pancaran Kasih GMIM Manado. Diakses pada 26 November 2018 Dinas

Kesehatan Daerah Provinsi Sulawesi Utara. (2016). Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara.

Fauziah. (2009). Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Waktu Menyusui Pertama Kali Pada

Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Jakarta. Diakses pada 15 Desember 2018.
Febrina, I. (2011). Hubungan Tingkat Kecemasan Pada Primipara Dengan Kelancaran

Pengeluaran ASI Pada 2-4 Hari Postpartum Di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Lubuk

Kilangan. Diakses pada 26 November 2018 Hardiani, R.S. (2017). Status Paritas dan Pekerjaan

Ibu Terhadap Pengeluaran ASI Pada Ibu Menyusui 0-6 Bulan. Diakses pada 26 Oktober 2018. e-

journal Keperawatan (e-Kp) Volume 7 Nomor 1, Februari 2019 8 Hartini, S. (2014). Hubungan

Tingkat Pendidikan Ibu Dengan Keberhasila ASI Eksklusif Pada Bayi Umur 6-12 Bulan di

Puskesmas Kasihan II Yogyakarata. Diakses pada 27 November 2018 Hawari, R. P. (2011).

Management Stress, Cemas dan Depresi. Jakarta : FK UI. Kamariyah, N. (2014). Kondisi

Psikologis Mempengaruhi Produksi ASI Ibu Menyusui Di BPS Aski Pakis Sido Kumpul

Surabaya Diakses pada 27 November 2018 Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2016).

Profil Kesehatan Indonesia. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. (2014). Situasi

dan Analisis ASI EKSKLUSIF. Qiftiyah, M. (2017). Studi Tingkat Kecemasan Ibu Post Partum

Terhadap Kelancara ASI Pada Ibu Nifas Hari Ke-5 (Di BPM Asri Dan Polindres Permata Bunda

Tuban). Diakses pada 10 September 2018. Riksani, R. (2012). Keajaiban ASI (Air Susu Ibu).

Jakarta Timur: Dunia Sehat Sari, L.W. (2015). Hubungan Jenis Persalinan dengan Onset Laktasi

Pada Ibu Post Partum di RS PKU Muhammadyah Yogyakarta. Diakses pada 4 Desember 2018

Sulastri, W. (2016). Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Pemberian ASI Pada Masa Nifas Di

Puskesmas Umbuhlharjo 1 Yogyakarta Tahun 2016. Diakses pada 13 September 2018.

Videbeck., & Sheila, L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC Warsini.,

Aminingsih, S., & Fahrunnisa, R.A. (2015). Hubungan Antara Jenis Persalinan dengan

Keberhasilan ASI Eksklusif di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo. Diakses pada 4 Desember

2018 Wiji, R.N. (2013). ASI dan Panduan Ibu Menyusui. Yogyakarta: Nuhu Medika Wulandari,
I.H. (2014). Tingkat Kecemasan Ibu Postpartum Yang Asinya Tidak Lancar di Ruang Bersalin

RSUD DR. Abdoer Rahem Situbondo. Diakses pada 10 September 2018.

NurseLine Journal Vol. 2 No. 1 Mei 2017 p-ISSN 2540-7937 e-ISSN 2541-464X STATUS

PARITAS DAN PEKERJAAN IBU TERHADAP PENGELUARAN ASI PADA IBU

MENYUSUI 0-6 BULAN (PARITY AND EMPLOYMENT STATUS TOWARDS BREAST

MILK EXPENDITURE ON BREASTFEEDING MOTHER 0-6 MONTHS) Ratna Sari Hardiani

Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember Jalan Kalimantan No 37 Jember 68121 e-

mail: ratna_sh@yahoo.com ABSTRAK Angka capaian ASI eksklusif masih belum bisa

maksimal, meskipun target capaian di Kabupaten Jember adalah 80%. Wilayah Arjasa

merupakan salah satu wilayah dengan cakupan ASI terendah sebesar 14,40%. Ketidaklancaran

pengeluaran ASI menjadi salah satu penyebab yang ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui hubungan antara status paritas dan pekerjaan ibu terhadap pengeluaran ASI pada ibu

menyusui 0-6 bulan. Penelitian ini merupakan studi korelasional dengan pendekatan cross

sectional dengan sampel sebanyak 30 ibu menyusui di wilayah Puskesmas Arjasa. Data

dianalisis dengan uji korelasi Spearman (p< 0,05 dan tidak ada hubungan yang bermakna antara

dua variabel jika nilai p > 0,05. Kekuatan korelasi (nilai r) ditentukan menjadi beberapa nilai

kekuatan hubungan yaitu kekuatan korelasi: sangat kuat (0,80- 1,00), kuat (0,60-0,799), sedang

(0,40-0,599), lemah (0,20-0,399), sangat lemah (0,00-0,199) (Dahlan, 2006). HASIL

Karakteristik Responden Tabel 1 menunjukkan bahwa responden paling banyak berusia 20-25

tahun sebanyak 22 orang (73,3%), pendidikan sebagian besar SD sebanyak 15 orang (50%).
Pekerjaan responden paling banyak adalah ibu tidak bekerja/ibu rumah tangga sebanyak 22

orang (73,3%), penghasilan keluarga pada rentang Rp 500.000 sampai Rp 1.000.000. Jenis

kelamin bayi sebagian besar perempuan sebanyak 20 bayi (66,7%) yang sebagian besar berumur

0 bulan yaitu 17 bayi atau 56,7%. Tabel 2 menunjukkan bahwa status paritas sebagian besar

responden adalah primipara yaitu sebanyak 22 responden (73,3%), dan sebagian kecil adalah

multipara sebanyak 8 responden (26,7%) dan tidak didapatkan grandemultipara. Tabel 3

menunjukkan bahwa pengeluaran ASI pada responden sebanyak 60% (18 orang) pengeluaran

ASI lancar, sedangkan sisanya sebesar 40% (12 orang) pengeluaran ASI tidak lancar.

Berdasarkan data pada tabel 4 menunjukkan bahwa sebanyak 8 responden primipara mengalami

pengeluaran ASI lancar (26,67%), dan sebanyak 14 responden primipara mengalami pengeluaran

ASI tidak lancar (46,67%). Sedangkan pada responden multipara menunjukkan masing-masing

ada 4 responden yang mengalami pengeluaran ASI lancar dan tidak lancar (13,33%). Hasil uji

statistik menunjukkan nilai p value 0,517 > p = 0,05 dengan CI 95% dan kekuatan korelasi r

sebesar 0,123 maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan signifikan antara status paritas dan

pengeluaran ASI. Berdasarkan data pada tabel 5 menunjukkan bahwa sebanyak 6 responden

yang bekerja mengalami pengeluaran ASI lancar (20%), dan sebanyak 2 responden yang bekerja

mengalami pengeluaran ASI tidak lancar (6,67%). Sedangkan pada responden yang tidak bekerja

menunjukkan ada 6 responden pengeluaran ASI lancar (20%) dan 16 responden menunjukkan

pengeluaran ASI tidak lancar (53,33%). Hasil uji statistik menunjukkan nilai p value 0,017 < p =

0,05 dengan CI 95% dan kekuatan korelasi r sebesar 0,431 maka dapat disimpulkan bahwa ada

hubungan antara status pekerjaan dan pengeluaran ASI dengan kekuatan hubungan sedang (0,40-

0,599). PEMBAHASAN Pengeluaran ASI merupakan suatu interaksi yang sangat komplek

antara rangsangan mekanik, saraf dan berbagai hormon (Soetjiningsih, 2001). Pengeluaran ASI
tidak lancar pada sebagian besar responden dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa pengeluaran ASI tidak lancar terjadi pada sebagian besar

responden primipara dengan status pekerjaan tidak bekerja dan sebagai ibu rumah tangga. Status

paritas responden sebagian besar adalah primipara. Paritas yang menggambarkan jumlah

kelahiran dari seorang wanita, tidak berpengaruh secara langsung pada pengeluaran ASI. Secara

statistik pada penelitian mungkin dapat dipengaruhi oleh perbedaan jumlah responden dimana

primipara lebih mendominasi. Secara konsep paritas dapat berpengaruh secara tidak langsung

pada proses menyusui dan pengeluaran ASI, hal ini karena adanya Status Paritas Dan Pekerjaan

Ibu Terhadap Pengeluaran 47 Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Status

Paritas (n=30). Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengeluaran ASI (n=30).

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden (n=30) Jumlah No Karakteristik

responden Jumlah (orang) Prosentase (%) 1. Umur (tahun) a. 20-25 b. 26-30 c. 31-35 Total 22 6

2 30 73,3 20,0 6,7 100 2. Pendidikan terakhir ibu 1. Tidak sekolah 2. SD 3. SMP 4. SMA Total 7

15 5 3 30 23,3 50,0 16,7 10,0 100 3. Pekerjaan Ibu 1. Tidak bekerja (Ibu rumah tangga) 2.

Bekerja - Petani - Swasta Total 22 8 4 4 30 73,3 26,6 100 4. Penghasilan Keluarga 1. 100000

Total 12 15 3 30 40,0 50,0 10,0 100 5. Jenis Kelamin a. Perempuan b. Laki-laki Total 20 10 30

66,7 33,3 100 6. Umur Bayi (bln) a. 0 b. 1 c. 2 d. 3 Total 17 7 5 1 30 56,7 23,3 16,7 3,3 100

Status Paritas Jumlah (orang) Prosentase (%) a. Primipara b. Multipara c. Grandemultipara 22 8 -

73,3 26,7 - Total 30 100 Pengeluaran ASI Jumlah (orang) Prosentase (%) a. Lancar b. Tidak

Lancar 12 18 40 60 Total 30 100 48 NurseLine Journal Vol. 2 No. 1 Mei 2017: 44-51 faktor-

faktor eksternal yang turut mempengaruhi seperti pengetahuan, budaya dan keyakinan, juga

pengalaman sebelumnya yang telah didapat (Khoiriyah, 2011). Paritas ada kaitannya dengan

arah pencarian informasi tentang pengetahuan ibu dalam menyusui. Pengalaman yang diperoleh
ibu dapat memperluas pengetahuan seseorang dalam pemberian ASI. Bahwa pengalaman ibu

dalam mengurus anak berpengaruh terhadap pengetahuan tentang ASI eksklusif (Soetjiningsih,

1997). Status pekerjaan responden menunjukkan mayoritas responden tidak bekerja (sebagai ibu

rumah tangga). Tugas seorang ibu rumah tangga sangat banyak diantaranya yitu memasak,

mencuci, mengurus anak dan suami. Hal ini mengakibatkan kelelahan atau letih pada ibu yang

memicu penurunan produksi ASI. Ibu yang mengalami stres maka akan terjadi blokade dari

refleks letdown. Hal ini disebabkan karena adanya pelepasan dari adrenalin (epinefrin) yang

menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah alveoli sehingga akan menghambat oksitosin

untuk dapat mencapai target organ mioepitelium. Refleks letdown yang tidak sempurna akan

menyebabkan penumpukan air susu di dalam alveoli yang secara klinis tampak payudara

membesar (Soetjiningsih, 2001). Rohani (2007) mengatakan bahwa pekerjaan ibu berpengaruh

terhadap pemberian ASI eksklusif. Beberapa faktor lain juga dapat mempengaruhi pengeluaran

ASI. Faktor pertama yaitu kurangnya pengetahuan pada responden. Didapatkan bahwa mayoritas

responden berpendidikan SD. Menurut Notoatmodjo (2007), semakin tinggi pendidikan

seseorang, juga semakin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pengetahuan yang

dimiliki. Afifah mengatakan bahwa pengetahuan ibu menjadi penyebab gagalnya pemberian ASI

eksklusif. Rohani (2009) mengatakan bahwa faktor pengetahuan mempunyai pengaruh terhadap

pemberian ASI eksklusif (p = 0,002). Hal agak berbeda disampaikan oleh Anggrita (2010) yang

mengatakan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu menyusui

dengan pemberian ASI eksklusif (p=0,314). Responden yang melakukan pemberian ASI

eksklusif pada bayinya lebih banyak dijumpai pada tingkat pendidikan sedang (100%),

sedangkan tidak dijumpai pada pendidikan rendah dan pendidikan tinggi. Penelitian tersebut

didukung oleh Elmiyasna (2009) yang menyatakan bahwa tidak ada kaitan antara pendidikan ibu
dengan pemberian ASI eksklusif. Hal tersebut disebabkan karena pendidikan yang diterima

seseorang akan mempengaruhi pengetahun, karena pendidikan seseorang tidak hanya

dipengaruhi oleh pendidikan formal tetapi juga pendidikan yang dipengaruhi oleh pendidikan

informal (seperti pengalaman). Pengetahuan yang kurang dan budaya yang salah dapat menjadi

penghambat. Banyak ibu baik yang baru melahirkan maupun sudah sering melahirkan tidak

memberikan kolostrum kepada bayinya. Di berbagai daerah, air susu pertama (kolostrum)

sengaja diperah dengan tangan dan dibuang. Mereka percaya dan berpendapat bahwa Tabel 4.

Distribusi Responden Berdasarkan Hubungan Status Pekerjaan Dan Pengeluaran ASI (n=30)

Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Hubungan Status Pekerjaan Dan Pengeluaran ASI

(n=30) Status Paritas Kelancaran Pengeluaran ASI Total R P Lancar Tidak lancar value F % F %

F % Primipara 8 26,67 14 46,67 22 73,34 0,123 0,517 Multipara 4 13,33 4 13,33 8 26,66 Jumlah

12 41,8 18 58,2 30 100 Status Pekerjaan Kelancaran Pengeluaran ASI Total R P Lancar Tidak

lancar value F % F % F % Bekerja 6 20 2 6,67 8 26,67 0,431 0,017 Tidak Bekerja 6 20 16 53,33

22 73,33 Jumlah 28 41,8 39 58,2 30 100 Status Paritas Dan Pekerjaan Ibu Terhadap Pengeluaran

49 kolostrum akan berpengaruh buruk terhadap kesehatan anak (Nasihah, 2010). Pengetahuan

yang baik diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kemampuan ibu dalam mengelola dan

mempergunakan waktu, aktivitas atau kesibukan dan sumber yang dimiliki sebaik mungkin

sehingga manajemen ASI yang baik dapat tercapai dan pengeluaran ASI lancar. Faktor

berikutnya yaitu psikologis ibu, dimana kurangnya dukungan keluarga merupakan salah satu

penyebab gagalnya pemberian ASI eksklusif. Sebagian besar responden yang tidak bekerja (ibu

rumah tangga) suami bekerja di luar kota dan hanya pulang seminggu atau beberapa bulan sekali.

Hal tersebut dapat memicu ketegangan internal dalam tubuh ibu karena relatif menangani

semuanya sendiri atau memikirkan keberadaan suami yang berada di tempat yang jauh. Perasaan
ibu dapat menghambat atau meningkatkan pengeluaran oksitosin, bila ibu dalam keadaan

tertekan, sedih, kurang percaya diri dan berbagai bentuk ketegangan emosional maupun

penurunan fisik seperti karena kelelahan dapat menurunkan produksi ASI, sehingga ibu yang

sedang menyusui sebaiknya jangan terlalu banyak dibebani oleh urusan pekerjaan rumah tangga

(Sulistyoningsih, 2011). Status pekerjaan dari responden dan juga suami akan berpengaruh pada

pendapatan keluarga. Dapat dilihat dari data pendapatan yang sebagian besar berada di rentang

Rp 500.00 sampai Rp 1.000.00 dimana kondisi ini dapat dikatakan bahwa secara umum masih di

bawah UMR daerah. Adanya tuntutan kebutuhan yang semakin meningkat seiring bertambahnya

usia bayi, pekerjaan sehari-hari, serta kecukupan finansial dapat menjadi stresor tersendiri bagi

seorang ibu. Kemampuan bayi dalam menghisap ASI yang lemah berpengaruh terhadap produksi

ASI yang juga akan berpengaruh terhadap volume ASI. Kemampuan menghisap bayi tersebut

secara tidak langsung juga didukung oleh usia dan jenis kelamin bayi. Ketika bayi menghisap

payudara ibu, ujung saraf yang ada di puting dirangsang dan rangsangan tersebut oleh serabut

afferent di bawa ke hipotalamus yang berada di dasar otak, lalu memicu hipofise anterior untuk

mengeluarkan hormon prolaktin ke dalam darah. Meningkatnya hormon prolaktin di dalam darah

akan merangsang kelenjar penghasil ASI dalam payudara untuk menghasilkan ASI dalam jumlah

yang lebih banyak sehingga jumlah ASI yang dihasilkan tergantung pada isapan bayi pada

payudara ibu, jadi makin sering rangsangan penyusuan makin banyak pula produksi ASI

(Ramaiah, 2007). SIMPULAN Simpulan penelitian bahwa ada hubungan antara status pekerjaan

dengan pengeluaran ASI ibu menyusui 0-6 bulan. Pekerjaan ibu dapat berpengaruh terhadap

kelancaran pengeluaran ASI jika menimbulkan stres, ketegangan, atau tertundanya pemberian

ASI dalam waktu lama. Paritas ibu didapatkan tidak berpengaruh terhadap pengeluaran ASI yang

mungkin dapat lebih dipengaruhi oleh faktor lain seperti status kesehatan fisik dan psikis dari ibu
dan bayi. SARAN Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengalaman dan budaya pada

status paritas yang berbeda terhadap pengeluaran ASI, juga perlunya intervensi yang ramah

budaya dan praktis yang dapat digunakan oleh ibu bekerja maupun tidak untuk meningkatkan

pengeluaran ASI. Petugas kesehatan diharapkan meningkatkan pendidikan kesehatan, motivasi

dan pendampingan kedalam manajemen laktasi baik pada ibu bekerja maupun tidak bekerja

dengan melibatkan dukungan keluarga dan sumbersumber yang dimiliki oleh ibu.

KEPUSTAKAAN Afifah, Nur Diana. 2007. Faktor yang Berperan dalam Kegagalan Praktik

Pemberian ASI Eksklusif. Tesis. Online serial. http:// e p r i n t s . u n d i p . a c . i d / 1 7 0 2 4 /

1 / Diana_Nur_Afifah.pdf Alkatiri, S. 1996. Kajian Imunoglobulin Dalam ASI. Surabaya:

Airlangga University Press. Anggrita, Kiki. 2009. Hubungan Karakteristik Ibu Menyusui

terhadap Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Amplas tahun 2009.

Skripsi. Online serial. http://repository.usu.ac.id/ bitstream/handle/123456789/14284/

10E01058.pdf?sequence=1 Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.

Edisi Revisi VI. Jakarta: Rineka Cipta. Dahlan, MS. 2006. Statistik untuk Kedokteran dan

Kesehatan Uji Hipotesis dengan Menggunakan SPSS. Jakarta: PT. Arkans Departemen

Kesehatan RI. 2011. Rencana Strategis Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur Tahun 2009-2014.

Jakarta: Depkes RI. 50 NurseLine Journal Vol. 2 No. 1 Mei 2017: 44-51 Dinas Kesehatan

Kabupaten Jember. 2011. Profil Kesehatan Kabupaten Jember 2010. Jember: Badan Penerbit

Dinas Kesehatan Kabupaten Jember. Dinas Kesehatan Kabupaten Jember. 2012. Profil

Kesehatan Kabupaten Jember 2011. Jember: Badan Penerbit Dinas Kesehatan Kabupaten

Jember. Elmiyasna. 2009. Kajian Pemberian ASI Eksklusif Kaitannya Dengan Pendidikan Dan

Pekerjaan Ibu Menyusui Di Puskesmas Nanggolo Padang. Artikel Penelitian. Padang: STIKES

Mercu Bakti Jaya. Hassan, R., et al. 2002. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Universitas Indonesia.
Hidayat, Aziz Alimul. 2009. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak Buku 1. Jakarta: Salemba

Medika Husaini, Y. 2001. Makanan Bayi Bergizi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Indiarti & Bertiani. 2009. Nutrisi Bayi Sejak Dalam Kandungan Sampai Usia 1 Tahun.

Yogyakarta: Cahaya Ilmu IDAI. 2013. ASI Sebagai pencegah malnutrisi pada bayi. Online.

http://idai.or.id/artikel/klinik/ asi/asi-sebagai-pencegah-malnutrisipada-bayi Indra, L. 2009.

Hubungan Tingkat Kecemasan Ibu Post Partum Primipara dengan Kelancaran Pengeluaran ASI

di Ruang Nifas RSD dr. Soebandi jember. Tidak diterbitkan. Skripsi. Jember: Program Studi

ilmu Keperawatan Universitas Jember. Indriyawati, I. 2010. Faktor-Faktor Ibu yang

berhubungan dengan Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Dini pada Bayi Usia < 6

Bulan. Tidak diterbitkan. Skripsi. Semarang: Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran

Universitas Diponegoro Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. 2010. UNDANG-

UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003. Edisi online. http:// peraturan.go.id/uu/nomor-13-

tahun2003.html Khoiriyah, A. & Prihatini, R. 2011. Hubungan Antara Paritas Dengan

Keterampilan Menyusui Yang Benar Pada Ibu Nifas. Jurnal Midpro. edisi 2 /2011. Online series:

http://journal.unisla.ac.id/pdf/ 196220145.%20Hubungan%20antara%

20paritas%20dengan%20ketrampilan% 20 menyusui %20yg%20 bena r%

20pd%20ibu%20nifas.pdf. Nasihah, M. & Mahaijiran, D. 2010. Hubungan Antara Paritas

Dengan pemberian Kolostrum Pada Ibu Post partum. Jurnal midpro vol. 2 / no. 2 /desember

2010. Online. http:/ /journal.unisla.ac.id/pdf/19222010/ 1.%20hubungan%20paritas%20dengan%

20pemberian%20kolostrum.pdf Naylor, JA. & Wester, R. 2009. Manajemen Laktasi. Edisi

Ketiga. Penerjemah: Durjati, Sri., dkk. Jakarta: Perkumpulan Perinatologi Indonesia (Perinasia)

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Profil Kesehatan Indonesia 2010. Jakarta:

Kementerian Kesehatan RI. Online.


http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profilkesehatan-indonesia/profil-

kesehatanindonesia-2010.pdf Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan

Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Purwanti. 2004. Konsep Penerapan ASI Eksklusif.

Jakarta:EGC. Ramaiah, S. 2006. Manfaat ASI dan Menyusui: Panduan Praktis bagi Ibu setelah

Melahirkan. Jakarta: Buana Ilmu Populer. Rohani. 2007. Pengaruh Karakteristik Ibu Menyusui

Terhadap Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Teluk Kecamatan Secanggang

Kabupaten Langkat. Skripsi. USU Repository. Online. http://repository.usu.ac.id/

bitstream/handle/123456789/14635/ 08E01518.pdf?sequence=1 Soetjiningsih. 2001. ASI

Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta: EGC Sujudi, A. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia Nomor 450/menkes/ sk/iv/2004 tentang Pemberian Air Susu Ibu (ASI)

secara Eksklusif pada Bayi di Indonesia. Jakarta: Menteri Kesehatan Indonesia. Sulistyoningsih,

Hariyani. 2011. Gizi Untuk Kesehatan Ibu dan Anak. Yogyakarta: Graha Ilmu Suparyanto. 2010.

Konsep paritas/partus. Edisi online. http://dr-suparyanto.blogspot.co.id/ 2010- /10/konsep-

paritas-partus.html Suradi, Rulina., Roesli, Utami. 2008. Manfaat ASI dan Menyusui. Jakarta:

Balai Penerbit FK-UI Status Paritas Dan Pekerjaan Ibu Terhadap Pengeluaran 51 Takasihaeng,

Jan. 2005. Hidup Sehat Bagi Wanita: Kumpulan Artikel Kesehatan Kompas. Jakarta: Kompas

Yuliarti, N. 2010. Keajaiban ASI: Makanan Terbaik Untuk Kesehatan, Kecerdasan dan

Kelincahan Si Kecil. Yogyakarta: Andi.

e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 7 Nomor 1, Februari 2019 1 HUBUNGAN

KECEMASAN DENGAN KELANCARAN PENGELUARAN ASI PADA IBU POST


PARTUM SELAMA DIRAWAT DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK KASIH IBU

MANADO Zulfikar Mardjun Grace Korompis Sefti Rompas Program Studi Ilmu Keperawatan

Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Email : ikbalmardjun06@gmail.com Abstract :

Smooth breastfeeding is influenced by several factors, one of which is psychological factors,

namely anxiety. In general, postpartum mothers often experience fatigue and mood swings such

as anxiety; about themselves and about their new-born baby. This anxiety can affect the

smoothness of breastfeeding in post partum mothers. The purpose of this study was to determine

the relationship between anxiety and smooth release of breast milk in post partum mothers while

being treated at Mother and Baby Hospital, Kasih Ibu Manado. The method of this research uses

cross sectional research design. The sample consisted of 68 respondents with a non probability

sampling method with a purposive sampling technique. The results using the Chi-Square did not

fulfill the requirements thus continued with the Fisher Exact test at the significance level of 95%,

obtained by the value ρ - Value 0.001 smaller than the significant value of 0.05. In conclusion,

there is a relationship between anxiety and the smooth releasee of breast milk in post partum

mothers while being treated at Kasih Ibu Hospital. Keywords : Anxiety, Smooth Release of

Breast Milk Abstrak : Kelancaran pengeluaran ASI dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah

satunya faktor psikologis yaitu kecemasan. Pada umumnya ibu pasca persalinan sering

mengalami kelelahan dan perubahan mood seperti kecemasan, cemas terhadap dirinya dan cemas

memikirkan bayinya. Kecemasan tersebut yang dapat mempengaruhi kelancara pengeluaran ASI

pada ibu post partum. Tujuan untuk mengetahui hubungan antara kecemasan dengan kelancaran

pengeluaran air susu ibu pada ibu post partum selama dirawat di Rumah Sakit Ibu dan Anak

Kasih Ibu Manado. Metode menggunakan desain penelitian cross sectional. Sampel terdiri dari

68 responden dengan metode pengambilan sampelsecara non probability sampling dengan teknik
purposive sampling. Hasil dengan menggunakan uji Chi – Square tetapi tidak memenuhi syarat

dan dilanjutkan dengan uji Fisher Exact pada tingkat kemaknaan 95%, didapatkan nilai ρ –

Value 0,001 lebih kecil dari nilai signifikan 0,05. Kesimpulan ada hubungan antara kecemasan

dengan kelancaran pengeluaran air susu ibu pada ibu post partum selama dirawat di Rumah Sakit

Ibu dan Anak Kasih Ibu Manado. Kata Kunci : Kecemasan, Kelancaran Pengeluaran ASI e-

journal Keperawatan (e-Kp) Volume 7 Nomor 1, Februari 2019 2 PENDAHULUAN Air Susu

Ibu (ASI) adalah cairan yang disekresikan oleh kelenjar payudara ibu berupa makanan alamiah

atau susu terbaik bernutrisi dan berenergi tinggi yang diproduksi sejak masa kehamilan (Wiji,

2013). World Health Organization (WHO) dan United Nations International Children’s

Emergency Fund (UNICEF) merekomdasikan sebaiknya anak hanya diberi air susu ibu (ASI)

selama paling sedikit 6 bulan dan pemberian ASI dilanjutkan sampai anak berumur 2 tahun.

Menurut data WHO (2016), cakupan ASI eksklusif di seluruh dunia hanya sekitar 36% selama

periode 2007- 2014. Pencapaian ASI Eksklusif di Indonesia sebesar 54,0% telah mencapai target

(Kementrian Kesehatan RI, 2016). Sedangkan di Sulawesi Utara cakupan bayi yang

mendapatkan ASI eksklusif adalah 39,42 % atau naik dibanding tahun 2015 yang mempunyai

cakupan 33,58 % (Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara, 2016). Pemerintah mengatur

tentang pemberian ASI dalam Undang – undang Nomor 33 tahun 2012 untuk mendukung ibu

menyusui secara eksklusif. Peraturan ini menyatakan ibu wajib untuk menyusui bayinya secara

eksklusif sejak bayi lahir sampai berusia enam bulan. Upaya pemerintah ini lantas mendapat

sambutan positif dari dunia internasional. Tetapi pada kenyataannya, realisasi dari peraturan

pemerintah tersebut masih kurang. Kegagalan dalam proses menyusui sering disebabkan karena

timbulnya beberapa faktor, antara lain faktor perubahan sosial budaya, faktor psikologis, faktor

fisik ibu, meningkatnya promosi susu formula, faktor petugas kesehatan, makanan ibu, berat
badan lahir bayi, penggunaan alat kontrasepsi. Perubahan sosial budaya dimana ibu-ibu yang

bekerja atau ibu-ibu yang mempunyai kesibukan lainnya, meniru teman atau tetangga yang

menggunakan susu botol, merasa ketinggalan zaman jika menyusui. Kelancaran ASI sangat

dipengaruhi oleh faktor kejiwaan karena perasaan ibu dapat mengahmbat atau meningkatkan

pengeluaran oksitosin (Hardiani, R.S, 2017). Proses menyusui terdapat dua proses penting yaitu

proses pembentukan air susu (the milk production reflex) dan proses pengeluaran air susu (let

down reflex) yang kedua proses tersebut dipengaruhi oleh hormon yang diatur oleh

hypothalamus (Badriah, 2011). Sebagaimana pengaturan hormon yang lain, hypothalamus akan

bekerja sesuai dengan perintah otak dan bekerja sesuai emosi ibu (Aprilia, 2011). Kondisi

kejiwaan dan emosi ibu yang tenang sangat memengaruhi kelancaran ASI. Jika ibu mengalami

stres, pikiran tertekan, tidak tenang, cemas, sedih, dan tegang akan mempengaruhi kelancaran

ASI (Riksani, 2012). Ibu yang cemas akan sedikit mengeluarkan ASI dibandingkan ibu yang

tidak cemas. Berdasarkan hasil penelitian Iin Febrina (2011) mengatakan bahwa terdapat

hubungan antara tingkat kecemasan dengan kelancaran pengeluaran ASI ibu post partum

primipara. Upaya agar ASI tetap lancar yaitu mulai dari keinginan ibu yang kuat untuk

memberikan nutrisi terbaik yaitu ASI pada bayinya. Motivasi yang kuat akan berpengaruh

terhadap fisik dan emosi ibu untuk menghasilkan ASI. Dengan memiliki keinginan yangkuat dan

kasih sayang yang tulus dan tinggi, maka produksi ASI bisa terpacu. Salah satunya yaitu

dukungan dari suami dan keluarga, kerena dukungan dari orang-orang terdekat dapat

mempengaruhi kelancaran pengeluaran ASI dan terhindar dari kecemasan sehingga terciptakan

suasana yang nyaman di dalam keluarga dan ibu merasa rileks dan nyaman. Dengan demikian

ASI akan terproduksi dengan lancar. Jika suasana hati ibu merasa nyaman dan gembira akan

mempengaruhi kelancaran ASI, sebaliknya jika ibu merasa cemas dan stress akan menghambat
kelancaran pengeluaran ASI (Qiftiyah, M, 2018). e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 7

Nomor 1, Februari 2019 3 Fenomena yang peneliti dapatkan ketika praktek klinik sebagian besar

ibu pasca persalinan tidak menyusui bayinya hanya memberikan susu formula kepada bayi,

sebagian ibu mengatakan hanya memberikan susu formula karena ASI tidak keluar. Salah satu

faktor ASI tidak keluar dengan lancar adalah kondisi psikologis ibu seperti rasa cemas dan takut.

Survei data awal yang diambil dari RSIA Kasih Ibu Manado pada bulan Juli – September 2018

didapat jumlah seluruh ibu yang melahirkan sebanyak 246 orang. Dari hasil wawancara singkat

yang peneliti lakukan pada 5 ibu post partum, 3 orang ibu mengatakan ASI hanya sedikit yang

keluar dan merasa cemas dan tidak percaya diri dalam memberikan ASI pada bayinya, 2 orang

ibu lainnya mengatakan ASI lancar dan tidak pernah merasa cemas. Fenomena yang terjadi saat

ini, kelancaran pengeluaran ASI seringkali disebabkan oleh faktor kecemasan. Sehingga

berdasarkan masalah tersebut maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul

“Hubungan Kecemasan Dengan Kelancaran Pengeluaran Air Susu Ibu Pada Ibu Post Partum

Selama Dirawat di Rumah Sakit Ibu dan Anak Kasih Ibu Manado”. METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan ialah penelitian yang bersifat analitik dengan pendekatan cross

sectional. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Kasih Ibu Manado pada tanggal

4 September – 13 Desember tahun 2018 dengan populasi sebanyak 82 orang. Pengambilan

sampel pada penelitian ini dilakukan secara non probability sampling dengan teknik purposive

sampling. Penentuan besar sampel menggunakan rumus slovin didapatkan sampel pada

penelitian ini adalah 68 orang yang telah memenuhi kriteria inklusi : seluruh ibu post partum

yang sedang dirawat di RSIA Kasih Ibu Manado, Ibu post partum yang bayinya hidup dan Ibu

post partum yang menyusui. Kriteria eksklusi : ibu yang mengonsumsi obat antidepresan dan Ibu

post partum yang menolak menjadi responden. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa
kuesioner data diri dan skala tingkat kecemasan The State-Trait Anxiety Inventory (STAI) yang

terdiri dari 20 item pertanyaan terdapat pernyataan yang mengindikasikan keberdaan kecemasan

(presence of anxiety) yangtergolong dalam favorable item dan pernyataan yang mengindikasikan

ketiadaan kecemasan (absence of anxiety) tergolong dalam unfavorable, dan kuesioner

kelancaran ASI yang terdiri dari 4 pertanyaan, dengan isian dibagi dalam dua kategori yaitu Ya

atau Tidak, dimana kurang lancar jika responden menjawab tidak pada salah satu pertanyaan,

dan lancar jika responden menjawab ya pada semua pertanyaan. Jenis data yang digunakan pada

penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh

langsung dari responden dan data sekunder data yang diperoleh dari pihak Rumah Sakit Ibu dan

Anak Kasih Ibu Manado. Pengolahan data yang diperoleh dari hasil penelitian ini diolah secara

manual dengan mengelompokkan hasil dari lembar kuesioner yang dibagikan dan selanjutnya

dilakukan analisis menggunakan uji statistik. Setelah itu diolah menggunakan sistem

komputerisasi, tahap-tahap tersebut yaitu Editting, Coding, Proccessing, dan Cleaning. Analisis

univariat pada penelitian ini akan menghasilkan distribusi frekuensi yang memberi gambaran

mengenai jumlah dan presentase. Analisis univariat dilakukan untuk menganalisa variabel

kecemasan dan variabel Kelancaran pengeluaran ASI ibu post partum. Analisa bivariat

merupakan analisa hasil dari variabel independen diduga mempunyai hubungan dengan variabel

dependen. Analisa yang digunakan adalah hasil tabulasi silang. Untuk menguji hipotesa

dilakukan analisa statistik dengan uji Chi – square pada tingkat kemaknaan 95% (ρ - Value <

0,05), setelah diuji hasil tidak e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 7 Nomor 1, Februari 2019

4 memenuhi syarat dan dilanjutkan dengan uji Fisher Exact.Melalui perhitungan Fisher Exact

selanjutnya ditarik suatu kesimpulan, bila nilai ρ – Value lebih kecil dari nilai α (0,05), maka Ho

ditolak dan H1 diterima, yang menunjukkan ada hubungan bermakna antara variabel dependen
dengan variabel independen. HASIL dan PEMBAHASAN Tabel 1.Distribusi responden

berdasarkan umur ibu post partum di RSIA kasih ibu manado. Umur n % 21-25 13 19,1 26-30 28

41,2 31-35 19 27,9 36-40 6 8,8 41-45 2 2,9 Total 68 100,0 Sumber : Data Primer, 2018 Hasil

penelitian menunjukan bahwa dari 68 responden didapati sebagian besar responden berumur 26-

30 berjumlah 28 responden (41,2%). Faktor usia menentukan kondisi maternal dan berkaitan

dengan kondisi masa kehamilan, persalinan dan menyusui. Usia ibu sangat mempengaruhi cara

ibu mengambil keputusan dalam menjaga kesehatan dirinya dimana usia semakin bertambah

maka pengetahuan dan pengalaman ibu akan semakin bertambah (Anggraini, 2011). Tabel

2.Distribusi responden berdasarkan pendidikan terakhir ibu post partum di RSIA kasih ibu

manado Pendidikan Terakhir n % SD 1 1,5 SMP 1 1,5 SMA 19 27,9 D1 1 1,5 D3 3 4,4 D4 1 1,5

S1 39 57,4 S2 3 4,4 Total 68 100,0 Sumber : Data Primer, 2018 Hasil penelitian menunjukan

bahwa dari 68 responden didapati sebagian besar responden berpendidikan terakhir S1 berjumlah

39 responden (57,4%). Pendidikan ibu menjadi faktor yang penting dalam pemberian ASI pada

bayi, tingkat pendidikan rendah terkadang sulit menerima penjelasan tentang pemberian ASI dan

tingkat pendidikan yang baik akan mudah dalam menerima informasi terutama tentang

pemenuhan kebutuhan nutrisi anak sehingga kecukupan gizi anak bisa terjamin. Pada umumnya

ibu yang berpendidikan sedang sampai tinggi dapat menerima hal-hal yang baru dan dapat

menerima perubahan untuk memelihara kesehatan khususnya tentang pemberian ASI. Mereka

bisa terdorong untuk mencari tahu, mencari pengalaman sehingga informasi yang diperoleh akan

menjadi pengetahuan dan diterapkan pada kehidupannya (Hartini, 2014). Tabel 3.Distribusi

responden berdasarkan pekerjaan ibu post partum di RSIA kasih ibu manado Pekerjaan n % IRT

30 44,1 Honorer 3 4,4 Guru 1 1,5 Pendeta 1 1,5 Swasta 15 22,1 Wiraswasta 3 4,4 Kar. BNI 1 1,5

Peg. BUMN 6 8,8 Dokter 3 4,4 Perawat 1 1,5 PNS 4 5,9 Total 68 100,0 Sumber : Data Primer,
2018 Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 68 responden didapati sebagian responden hanya

sebagai ibu rumah tangga (IRT) berjumlah 30 responden (44,1%). Status pekerjaan responden

menunjukkan mayoritas responden tidak bekerja (sebagai ibu rumah tangga). Tugas seorang ibu

rumah tangga sangat banyak diantaranya yaitu memasak, mencuci, mengurus anak e-journal

Keperawatan (e-Kp) Volume 7 Nomor 1, Februari 2019 5 dan suami. Hal ini mengakibatkan

kelelahan atau letih pada ibu yang memicu penurunan produksi ASI (Hardiani, 2017). Tabel

4.Distribusi responden berdasarkan status partus ibu post partum di RSIA kasih ibu manado

Status Partus n % Primipara P1 27 39,7 Multipara P2 29 60,3 P3 11 P5 1 Total 68 100,0 Sumber

: Data Primer, 2018 Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 68 responden didapati responden

terbanyak dengan status partus multipara berjumlah 41 responden (60,3%), dan primipara

berjumlah 27 responden (39,7%). Dari 41 responden multipara yang mengalami kecemasan 28

responden (68,3%) dan tidak cemas 13 responden (31,7%), tetapi untuk primipara berjumlah 27

responden dan yang mengalami kecemasan hampir sebagian besar primipara yaitu berjumlah 25

responden (92,6%) dan tidak cemas 2 responden (7,4%). Tingkat kecemasan dalam proses

menyusui ibu primipara dan multipara berbeda, ibu primipara mengalami kecemasan lebih tinggi

dari pada ibu multipara. Kebanyakan ibu primipara khawatir memikirkan bagaimana

kehidupannya kelak saat merawat dan mengasuh bayinya. Ibu primipara masih perlu beradaptasi

dengan keadaannya setelah proses persalinan sedangkan untuk ibu multipara sudah terbiasa

dengan hadirnya anggota keluarga baru (Bentelu, 2015) Tabel 5.Distribusi responden berdasrkan

kecemasan ibu post partum di RSIA kasih ibu manado Kecemasan n % Tidak cemas 15 22,1

Cemas ringan 24 35,3 Cemas sedang 9 13,2 Cemas berat 15 22,1 Panik 5 7,4 Total 68 100,0

Sumber : Data Primer, 2018 Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 68 responden didapati

sebagian responden mengalami kecemasan ringan berjumlah 24 responden (35,3%). Rasa cemas
dapat menimbulkan berbagai masalah, termasuk salah satunya depresi post partum pada ibu,

dimana keadaan psikosis ibu terganggu. Adapun depresi post partum merupakan suatu keadaan

psikosis mendadak. Psikosis adalah suatu kondisi gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya

ketidakmampuan membedakan realita dan khayalan (Videbeck & Sheila, 2008). Tabel

6.Distribusi responden berdasarkan kelancaran ASI ibu post partum di RSIA kasih ibu manado

Kelancaran ASI n % Lancar 28 41,2 Kurang Lancar 40 58,8 Total 68 100,0 Sumber : Data

Primer, 2018 Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 68 responden didapati responden dengan

ASI lancar berjumlah 28 responden (41,2%), dan ASI kurang lancar berjumlah 40 responden

(58,8%). Ibu yang ASInya tidak lancar disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya ibu yang

mengalami kelelahan setelah persalinan baik Sectio Caesarea maupun spontan pervaginam,

kebanyakan ibu merasa takut untuk mobilisasi, sehingga ibu merasa malas menyusui bayinya

dan pada akhirnya ibu memilih untuk memberikan susu formula pada bayinya (Amalia, 2016). e-

journal Keperawatan (e-Kp) Volume 7 Nomor 1, Februari 2019 6 Tabel 7.Hasil Analisi

Hubungan Kecemasan dengan Kelancaran Pengeluaran ASI pada Ibu Post Partum di Rumah

Sakit Ibu dan Anak Kasih Ibu Manado Kecemasan Kelancaran ASI ρ - Value Lancar Kurang

Lancar Total n % n % n % 0,001 Tidak cemas 10 66,7 5 33,3 15 100 Cemas ringan 11 45,8 13

54,2 24 100 Cemas sedang 6 66,7 3 33,3 9 100 Cemas berat 1 6,7 14 93,3 15 100 Panik 0 0 5 100

5 100 Total 28 41,1 40 58,8 68 100 Sumber : Data Primer, 2018 Analisis hasil uji hipotesa dari

kecemasan dengan kelancaran pengeluaran ASI menggunakan uji statistik Chi - Square (χ2 ) dan

dilanjutkan dengan uji Fisher Exact pada tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05), dari hasil penelitian

yang telah dilakukan menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara kecemasan dengan

kelancaran pengeluaran ASI di Rumah Sakit Ibu dan Anak Kasih Ibu Manado. Dimana nilai ρ -

Value = 0,001 lebih kecil dari α = 0,05. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan
sebelumnya oleh Febrina (2011) hubungan tingkat kecemasan pada primipara dengan kelancaran

pengeluaran ASI pada 2-4 hari postpartum di wilayah kerja puskesmas kecamatan lubuk

kilangan dengan skor sebagian besar (73,3%) responden mengalami kecemasan ringan dan

sebagian besar (66,7%) mengalami pengeluaran ASI tidak lancar. Berdasarkan hasil penelitian

terdapat 5 responden yang tidak mengalami kecemasan tetapi ASInya kurang lancar, hal ini

disebabkan karena 5 responden tersebut melakukan persalinan secara sectio caesarea. Persalinan

sectio caesarea bisa mempengaruhi kelancaran pengeluaran ASI, karena seringkali ibu yang

melahirkan secara sectio caesarea memiliki kesulitan untuk menyusui bayinya setelah bayi lahir.

Terutama untuk ibu yang diberikan anastesi secara umum, ibu akan mengalami penurunan

kesadaran untuk mengurus bayinya pada jam pertama setelah bayi lahir (Sari, 2015). Selain itu

terjadinya luka pada tindakan pembedahan sectio caesarea akan mengakibatkan nyeri yang lebih

berat dibadingkan dengan ruptur atau episiotomy pada daerah pirenium saat melahirkan

pervagina (Warsini, Aminingsih & Fahrunnisa, 2015). Hasil penelitian terdapat beberapa

responden yang mengalami kecemasan tetapi ASInya lancar, hal ini disebabkan karena sebagian

besar responden tersebut adalah ibu multipara yang sebelumnya sudah punya pengalaman

memberikan ASI. Peneliti beranggapan bahwa beberapa responden tersebut merasa cemas akibat

proses persalinan dan ASI lancar karena sebelumnya sudah punya pengetahuan dan pengalaman

dalam memberikan ASI. Seperti yang dikatakan oleh Fauziah (2009) laktasi kedua dan ketiga

yang dialami ibu berarti ibu telah memiliki pengalaman dalam menyusui anaknya. Wawancara

yang peneliti lakukan, kebanyakan ibu yang mengalami kecemasan khawatir memikirkan

bagaimana cara mengasuh bayinya kelak, khususnya untuk ibu primipara mereka khawatir

karena belum punya pengalaman mengurus bayi dan perlu beradaptasi dengan keadaan karena

telah hadir anggota keluarga yang baru. Sebagian ibu lainnya mengatakan cemas dan takut
karena tidak bekerja, karena mereka beranggapan mempunyai bayi itu butuh biaya yang cukup

banyak untuk membeli perlengkapan bayi dan sebagainya. Hawari (2011) menyatakan bahwa

kecemasan adalah gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau

kekhawatiran yang mendalam. Gejala yang dikeluhkan didominasi oleh faktor psikis tetapi dapat

pula oleh faktor fisik. Seseorang akan mengalami gangguan cemas manakala yang bersangkutan

tidak mampu mengatasi stressor psikososial. Ibu pasca persalinan harus mempersiapkan diri

untuk menyusui bayinya, tetapi sebagian ibu mengalami e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume

7 Nomor 1, Februari 2019 7 kecemasan sehingga mempengaruhi kelancaran ASI. Ibu menyusui

harus berpikir positif dan rileks agar tidak mengalami kecemasan dan kondisi psikologis ibu

menjadi baik, kondisi psikologis yang baik dapat memicu kerja hormon yang memproduksi ASI.

Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kamariyah (2014) bahwa terdapat hubungan

antara kondisi psikologis ibu dengan kelancaran produksi ASI, keadaan psikologis ibu yang baik

akan memotifasi untuk menyusui bayinya sehingga hormon yang berperan pada produksi ASI

akan meningkat karena produksi ASI dimulai dari proses menyusui dan akan merangsang

produksi ASI. Berdasarkan hasil penelitian dan teori pendukung, peneliti beranggapan bahwa

kecemasan yang terjadi pada ibu post partum karena terlalu memikirkan halhal negatif. Ibu post

partum harus berfikir positif, berusaha untuk mencintai bayinya, dan rileks ketika menyusui.

Ketika ibu berfikir positif dan tetap tenang akan memicu produksi ASI sehingga ASI bisa keluar

dengan lancar, sebaliknya ibu yang kondisi psikologisnya terganggu seperti merasa cemas akan

mempengaruhi produksi ASI sehingga produksi ASI bisa menurun dan menyebabkan ASI

kurang lancar. SIMPULAN Hasil kesimpulan dari pembahasan tentang hubungan kecemasan

dengan kelancaran pengeluaran ASI pada ibu post partum selama dirawat di Rumah Sakit Ibu

dan Anak Kasih Ibu Manado tahun 2018, bahwa sebagian besar responden mengalami
kecemasan ringan, sebagian besar responden ASI nya kurang lancar. Ada hubungan antara

kecemasan dengan kelancaran pengeluaran ASI pada ibu post partum selama dirawat di Rumah

Sakit Ibu dan Anak Kasih Ibu Manado. DAFTAR PUSTAKA Amalia, R. (2016). Hubungan

Stres Dengan Kelancaran ASI Pada Ibu Menyusui Pasca Persalinan di RSI A.Yani Surabaya.

Diakses pada 27 November 2018. Diakses pada 28 November 2018 Aprilia, Y. (2011).

Hipnostetri. Rileks Nyaman dan Aman saat Hamil dan Melahirkan. Jakarta: Gagas Media.

Diakses pada tanggal 14 September 2018 Badriah, D. L. (2011). Gizi dalam Kesehatan

Reproduksi. Bandung: PT Refika Aditama. Diakses pada tanggal 14 September 2018 Bentelu,

F.E.M. (2015). Perbedaan Tingkat Kecemasan Dalam Proses Menyusui Antara Ibu Primipara

dan Multipara di RS Pancaran Kasih GMIM Manado. Diakses pada 26 November 2018 Dinas

Kesehatan Daerah Provinsi Sulawesi Utara. (2016). Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara.

Fauziah. (2009). Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Waktu Menyusui Pertama Kali Pada

Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Jakarta. Diakses pada 15 Desember 2018.

Febrina, I. (2011). Hubungan Tingkat Kecemasan Pada Primipara Dengan Kelancaran

Pengeluaran ASI Pada 2-4 Hari Postpartum Di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Lubuk

Kilangan. Diakses pada 26 November 2018 Hardiani, R.S. (2017). Status Paritas dan Pekerjaan

Ibu Terhadap Pengeluaran ASI Pada Ibu Menyusui 0-6 Bulan. Diakses pada 26 Oktober 2018. e-

journal Keperawatan (e-Kp) Volume 7 Nomor 1, Februari 2019 8 Hartini, S. (2014). Hubungan

Tingkat Pendidikan Ibu Dengan Keberhasila ASI Eksklusif Pada Bayi Umur 6-12 Bulan di

Puskesmas Kasihan II Yogyakarata. Diakses pada 27 November 2018 Hawari, R. P. (2011).

Management Stress, Cemas dan Depresi. Jakarta : FK UI. Kamariyah, N. (2014). Kondisi

Psikologis Mempengaruhi Produksi ASI Ibu Menyusui Di BPS Aski Pakis Sido Kumpul

Surabaya Diakses pada 27 November 2018 Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2016).
Profil Kesehatan Indonesia. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. (2014). Situasi

dan Analisis ASI EKSKLUSIF. Qiftiyah, M. (2017). Studi Tingkat Kecemasan Ibu Post Partum

Terhadap Kelancara ASI Pada Ibu Nifas Hari Ke-5 (Di BPM Asri Dan Polindres Permata Bunda

Tuban). Diakses pada 10 September 2018. Riksani, R. (2012). Keajaiban ASI (Air Susu Ibu).

Jakarta Timur: Dunia Sehat Sari, L.W. (2015). Hubungan Jenis Persalinan dengan Onset Laktasi

Pada Ibu Post Partum di RS PKU Muhammadyah Yogyakarta. Diakses pada 4 Desember 2018

Sulastri, W. (2016). Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Pemberian ASI Pada Masa Nifas Di

Puskesmas Umbuhlharjo 1 Yogyakarta Tahun 2016. Diakses pada 13 September 2018.

Videbeck., & Sheila, L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC Warsini.,

Aminingsih, S., & Fahrunnisa, R.A. (2015). Hubungan Antara Jenis Persalinan dengan

Keberhasilan ASI Eksklusif di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo. Diakses pada 4 Desember

2018 Wiji, R.N. (2013). ASI dan Panduan Ibu Menyusui. Yogyakarta: Nuhu Medika Wulandari,

I.H. (2014). Tingkat Kecemasan Ibu Postpartum Yang Asinya Tidak Lancar di Ruang Bersalin

RSUD DR. Abdoer Rahem Situbondo. Diakses pada 10 September 2018.