Anda di halaman 1dari 11

Nama : 1.

Ayu Lestari (1765342021)


2. Indah Lestari (1765342015)
Mata Kuliah : Ketenagakerjaan
Prodi : Ilmu Administrasi Negara
Fakultas Ilmu Sosial

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG


KETENAGAKERJAAN
BAB XI HUBUNGAN INDUSTRIAL

A. Hubungan Industrial

Hubungan industrial adalah hubungan semua pihak yang terkait atau berkepentingan atas
proses produksi barang atau jasa di suatu perusahaan. Pihak yang berkepentingan dalam
setiap perusahaan (Stakeholders):
1. Pengusaha atau pemegang saham yang sehari-hari diwakili oleh pihak manajemen
2. Para pekerja/buruh dan serikat pekerja/serikat buruh
3. Supplier atau perusahaan pemasok
4. Konsumen atau para pengguna produk/jasa
5. Perusahaan Pengguna
6. Masyarakat sekitar
7. Pemerintah

Disamping para stakeholders tersebut, para pelaku hubungan industrial juga melibatkan:
1. Para konsultan hubungan industrial dan/atau pengacara
2. Para Arbitrator, konsiliator, mediator, dan akademisi
3. Hakim-Hakim Pengadilan hubungan industrial

Abdul Khakim (2009) menjelaskan, istilah hubungan industrial merupakan terjemahan


dari "labour relation" atau hubungan perburuhan. Istilah ini pada awalnya menganggap
bahwa hubungan perburuhan hanya membahas masalah-masalah hubungan antara
pekerja/buruh dan pengusaha. Seiring dengan perkembangan dan kenyataan yang terjadi di
lapangan bahwa masalah hubungan kerja antara pekerja/buruh dan pengusaha ternyata juga
menyangkut aspek-aspek lain yang luas. Dengan demikian, Abdul Khakim (2009)
menyatakan hubungan perburuhan tidaklah terbatas hanya pada hubungan antara
pekerja/buruh dan pengusaha, tetapi perlu adanya campur tangan pemerintah.
Payaman J. Simanjuntak (2009) menjelaskan beberapa prinsip dari Hubungan industrial,
yaitu:
1. Kepentingan Bersama: Pengusaha, pekerja/buruh, masyarakat, dan pemerintah
2. Kemitraan yang saling menguntungan: Pekerja/buruh dan pengusaha sebagai mitra
yang saling tergantung dan membutuhkan
3. Hubungan fungsional dan pembagian tugas
4. Kekeluargaan
5. Penciptaan ketenangan berusaha dan ketentraman bekerja
6. Peningkatan produktivitas
7. Peningkatan kesejahteraan bersama

Payaman J. Simanjuntak (2009) menyebutkan sarana-sarana pendukung Hubungan


industrial, sebagai berikut:
1. Serikat Pekerja/Buruh
2. Organisasi Pengusaha
3. Lembaga Kerjasama bipartit (LKS Bipartit)
4. Lembaga Kerjasama tripartit (LKS Tripartit
5. Peraturan Perusahaan
6. Perjanjian Kerja Bersama (PKB)
7. Peraturan perundang-undangan ketenagakerjaaan
8. Lembaga penyelesaian perselisihan Hubungan Industrial

B. Serikat Buruh/Serikat Pekerja

Berdasarkan ketentuan umum pasal 1 Undang-undang Tenaga Kerja tahun 2003 no


17, serikat buruh/serikat pekerja merupakan organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk
pekerja baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri,
demokratis, dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak
dan kepentingan pekerja serta meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keluarganya.

Sesuai dengan pasal 102 UU Tenaga Kerja tahun 2003, dalam melaksanakan hubungan
industrial, pekerja dan serikat pekerja mempunyai fungsi menjalankan pekerjaan sesuai
dengan kewajibannya, menjaga ketertiban demi kelangsungan produksi, menyalurkan aspirasi
secara demokratis, mengembangkan keterampilan, dan keahliannya serta ikut memajukan
perusahaan dan memperjuangkan kesejahteraan anggota beserta keluarganya.
Serikat pekerja/serikat buruh, federasi dan konfederasi serikat pekerja/serikat buruh yang
telah mempunyai nomor bukti pencatatan berhak (hak Serikat Buruh/Serikat Pekerja):
1. Melakukan perundingan Perjanjian Kerja Bersama dengan pihak manajemen
2. Mewakili pekerja dalam menyelesaikan perselisihan hubungan industrial di dewan dan
lembaga perburuhan
3. Membentuk lembaga atau melakukan kegiatan yang berkaitan dengan usaha
peningkatan kesejahteraan pekerja/buruh.
4. Mengadakan kegiatan perburuhan selama tidak bertentangan dengan ketentuan hukum
perundang-undangan yang berlaku.

C. Organisasi Pengusaha

Dalam hubungan industrial di Indonesia organisasi pengusaha memiliki peran


sebagaimana disebutkan dalam Undang-undang No. 13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan :“Dalam melaksanakan hubungan industrial, pengusaha dan organisasi
pengusahanya mempunyai fungsi menciptakan kemitraan, mengembang-kan usaha,
memperluas lapangan kerja, dan memberikan kesejahteraan pekerja/buruh secara terbuka,
demokratis, dan berkeadilan”.

Organisasi pengusaha dapat diartikan sebagai wadah persatuan dan kesatuan bagi
pengusaha Indonesia yang didirikan secara sah atas dasar kesamaan tujuan, aspirasi dan
kepercayaan. Adapun yang menjadi dasar hukum pembetukan organisasi pengusaha yaitu :
1. Undang-undang Dasar RI 1945
2. Undang-undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
3. Undang-undang No.8 Tahun 1985 Tentang Organisasi Kemasyarakatan
4. Undang-undang No.1 Tahun 1987 Tentang Kamar Dagang dan Industri
5. Keppres RI No. 49 Tahun 1973 Tentang Kamar Dagang dan Industri
6. Keputusan Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi No. 2224/Men/1975
Tentang Pendelegasian Wewenang KADIN Kepada PUSPI dalam masalah Hubungan
Perburuhan dan Ketenagakerjaan.
7. Konvensi ILO No. 87 Tahun 1948 yang disahkan melalui Keppres RI NO. 83 Tahun
1998 Tentang Kebebasan Berserikat dan Perlindungan Hak Untuk Berorganisasi

Perkembangan organisasi pengusaha sebenarnya telah dimulai di jaman kolonial


Belanda. Sebelum masa kemerdekaan telah terbentuk dua organisasi pengusaha
yaitu Industrial Bonddan Central Sticlitung Werkqueks Overleg (CSWO). Perbedaaan kedua
organisasi ini adalah Industrial Bond merupakan beranggotakan pengusaha-pengusaha
Belanda, Sedangkan CSWO beranggotakan pengusaha campuran Amerika, Inggris dan
belanda. Pada 31 Januari 1952 CWSO berganti nama menjadi Badan Permusyawaratan
Urusan Fosual Pengusaha Seluruh Indonesia, kemudian pada tahun 1957 terbentuk yayasan.
Sejalan dengan itu, dalam rangka pembebasan Irian barat, Pemerintah Indonesia mengambil
alih perusahaan-perusahaan Belanda, maka Industrial Bond bubar dengan sendirinya.
Organisasi pengusahan saat itu kemudian berganti nama menjadi Urusan Sosial Pengusaha
Seluruh Indonesia. Kemudian pada tahun 1970 berubah kembali menjadi Badan
Permusyawaratan Urusan Sosial Ekonomi Pengusaha Seluruh Indonesia (PUPSI). Pada 24
November 1977 berubah menjadi Perhimpunan Urusan Sosial Ekonomi Pengusaha Seluruh
Indonesia (PUPSI), dan pada 31 Januari 1985 kemudian menjadi Asosiasi Pengusaha
Indonesia (APINDO). Tujuan dari berdirinya APINDO adalah
1. Mempersatukan dan membina pengusaha serta memberikan pelayanan
kepentingannya didalam bidang hubungan industrial.
2. Menciptakan dan memelihara keseimbangan, ketenangan dan kegairahan kerja serta
usaha dalam pembinaan hubungan industrial dan ketenagakerjaan

Selain APINDO organisasi pengusaha lainnya yaitu KADIN (Kamar Dagang dan
Industri) adalah wadah dari pengusaha Indonesia yang bergerak di bidang perekonomian
yang bertujuan membina dan mengembangkan kemampuan, kegiatan, dan kepentingan
pengusaha Indonesia di bidang usaha negara, usaha koperasi, dan usaha swasta dalam
kedudukannya sebagai pelaku-pelaku ekonomi nasional dalam rangka mewujudkan
kehidupan ekonomi dan dunia usaha nasional yang sehat dan tertib berdasarkan Pasal 33
Undang-Undang Dasar 1945; menciptakan dan mengembangkan iklim dunia usaha yang
memungkinkan keikutsertaan yang seluas-luasnya secara efektif dalam Pembangunan
Nasional.

D. Lembaga Kerjasama Biparti

Dasar hukum pembentukan LKS Bipartit adalah Undang-undang No. 13 Tahun 2003
Tentang Ketenagakerjaan dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 32
Tahun 2008 Tentang Tata Cara Pembentukan dan Susunan Keanggotaan Lembaga Kerjasama
Bipartit.
Lembaga Kerja Sama Bipartit (LKS Bipartit) adalah forum komunikasi dan konsultasi
mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan industrial di satu perusahaan yang
anggotanya terdiri dari pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh yang sudah tercatat di
instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan atau unsur pekerja/buruh. LKS
Bipartit berfungsi sebagai forum komunikasi, dan konsultasi mengenai hal ketenagakerjaan di
perusahaan, yang bertujuan untuk menciptakan hubungan industrial yang harmonis, dinamis,
dan berkeadilan di perusahaan.

Dilihat dari fungsinya, LKS Bipartit bukanlah lembaga yang membuat keputusan,
ataupun tempat melakukan perundingan terkait sauatu hal baik yang bersifat normatif
maupun non-normatif. Dalam LKS Bipartit, baik pihak pengusaha maupun serikat
pekerja/serikat buruh hanya dapat melakukan aktivitas komunikasi dan konsultasi dalam arti
menyamaikan informasi, pandangan, pendapat ide dan saran terkait ketenagakerjaan di
perusahaan.

Tugas dari LKS Bipartit adalah :


1. melakukan pertemuan secara periodik dan/atau sewaktu-waktu apabila diperlukan.
2. mengkomunikasikan kebijakan pengusaha dan aspirasi pekerja/buruh dalam rangka
mencegah terjadinya permasalahan hubungan industrial di perusahaan.
3. menyampaikan saran, pertimbangan, dan pendapat kepada pengusaha, pekerja/buruh
dan/atau serikat pekerja/serikat buruh dalam rangka penetapan dan pelaksanaan
kebijakan perusahaan.

E. Lembaga Kerja Sama Tripartit

Lembaga Kerja Sama Tripartit (LKST) adalah forum komunikasi dan konsultasi antara
pemangku kepentingan tripartit (serikat pekerja, pengusaha dan Pemerintah) untuk
komunikasi, konsultasi dan pertimbangan. Ditujukan untuk memberikan pertimbangan, saran,
dan rekomendasi kepada Pemerintah dan pihak-pihak terkait dalam merumuskan kebijakan
ketenagakerjaan dan pemecahan masalah.

Pengertian Lembaga kerja sama Tripartit Berdasarkan UU No. 13/2003, Psl 1 Butir 19,
Lks Tripartit Adalah Sebagai Forum Konsultasi Komunikasi, Dan Musyawarah Tentang
Masalah Ketenagakerjaan Yang Anggotanya Terdiri Dari Unsur Organisasi Pengusaha,
Serikat Pekerja/Serikat Buruh Dan Pemerintah
LKST dapat didirikan di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/ kotamadya, serta
tingkat sektoral. Anggota LKST dipilih untuk masa jabatan tiga tahun.

Lembaga Kerja sama Tripartit terdiri dari:


1. Lembaga Kerja sama Tripartit Nasional, Provinsi dan Kabupataen/Kota; dan
2. Lembaga Kerja sama Tripartit Sektoral Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota.

Dasar hukum
1. Undang-undang no. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
2. Peraturan pemerintah no. 8 tahun 1985 tentang tata kerja dan susunan organisasi
lembaga kerja sama tripartit.
3. Peraturan pemerintah no. 46 tahun 2008 tentang perubahan peraturan pemerintah no.
8 1985 tentang tata kerja dan susunan organisasi lembaga kerja sama tripartit.

Tujuan lks - tripartit


1. Menciptakan kesamaan pandangan, bahasa dan gerak langkah dari masing-masing
unsur (pemerintah, serikat pekerja/serikat buruh dan pengusaha) dalam kerjasama dan
suasana yang kondusif, memandang, mencari solusi dan menyelesaikan masalah-
masalah ketenagakerjaan;
2. Menjadi wadah dalam merumuskan saran dan pendapat tentang kebijakan
ketenagakerjaan daerah, sektoral, nasional dan internasional dan mengembangkan
gagasan dalam rangka mengamati fenomena ketenagakerjaan;
3. Tercapainya Ketenangan Kerja dan Kelangsungan Usaha (Industrial Peace);
4. Mewujudkan ketenteraman dalam bekerja dan berusaha, peningkatan produksi dan
produktivitas, peningkatan kesejahteraan tenaga kerja, kelangsungan usaha dan
perkembangan usaha, perbaikan iklim investasi serta pengurangan pengangguran.

Fungsi lks-tripartit
1. Sebagai Forum Konsultasi dan Komunikasi serta Musyawarah untuk Mecahkan
Masalah Bersama serta Merumuskan Kebija kan Bersama Bidang Ketenagakerjaan;
2. Memberikan pertimbangan, saran dan pendapat kepada pemerintah dan pihak-pihak
terkait dalam penyusunan kebijakan dan pelaksanaan hubungan industrial;
3. Membahas masalah-masalah ketenagakerjaan baik yang daerah, sektoral, bersifat
nasional dan internasional, sebagai saran kepada pemerintah dan pihak- pihak terkait
dalam memecahkan masalah--masalah ketenagakerjaan
Tugas lks - tripartit
1. Menampung, Mengkaji, mengevaluasi dan dan merumuskan kebijakan rancangan
memecahkan masalah ketenagakerjaan yang bersifat regional, daerah, sektoral,
nasional dan internasional sebagai saran kepada pemerintah dan pihak-pihak terkait;
2. Menggalang komunikasi dan kerjasama timbal batik yang sebaik-baiknya dengan
segenap unsur tripartit;
3. Melakukan koordinasi dan konsultasi dengan Badan atau lembaga lainnya yang
beranggotakan tripartit seperti Dewan unsur Pengupahan, Dewan Pelatihan Kerja,
Dewan Produktivitas dan Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (DK3);
4. Memberikan pertimbangan, saran dan pendapat kepada Pemerintah dan pihak-pihak
terkait dalam pen yusunan kebijakan dan pemecahan masalah ketenagakerjaan secara
nasional.

F. Peraturan Perusahaan

Peraturan perusahaan adalah peraturan yang dibuat secara tertulis oleh pengusaha yang
memuatketentuan tentang syarat kerja serta tata tertib perusahaan. Peraturan Perusahaan
dibuat untuk menjadi pegangan bagi Perusahaan maupun karyawan yang berisikan tentang
hak-hak dan kewajiban masing-masing pihak dengan tujuan memelihara hubungan kerja yang
baik dan harmonis antara pengusaha dan karyawan, dalam usaha bersama meningkatkan
kesejahteraan karyawan dan kelansungan usaha perusahaan.

Peraturan Perusahaan adalah peraturan yang dibuat secara tertulisoleh pengusaha yang
memuat syarat-syarat kerja dan tata tertib perusahaan sesuai dengan ketentuan Pasal 1 angka
20 Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Ketentuan mengenai
peraturan perusahaan diatur lebih lanjut pada Pasal 108 sampai dengan Pasal 115 Undang-
Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (“UU No.13/2003”) dan Peraturan
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.16/MEN/XI/2011 tentang Tata Cara
Pembuatan dan Pengesahan Peraturan Perusahaan serta Pembuatan dan Pendaftaran
Perjanjian Kerja Bersama (“Permenaker 16/2011”).

Tujuan dan manfaat pembuatan peraturan perusahaan


1. Dengan peraturan perusahaan yang masa berlakunya dua tahun dan setiap dua tahun
harus diajukan perstujuannya kepada departemen tenaga kerja;
2. Dengan adanya peraturan perusahaan minimal akan diperoleh kepastian adanya hak
dan kewajiban pekerja dan pengusaha;
3. Peraturan perusahaan akan mendorong terbentuknya kesepakatan kerja bersama
sesuai dengan maksud permen no. 2 tahun 1978 diatas;
4. Setelah peraturan disyahkan oleh departemen tenaga kerja maka perusahaan wajib
memberitahukan isi peraturan perusahaan; dan
5. Pada perusahaan yang telah mempunyai kesepakatan kerja bersama tidak dapat
menggantinya dengan peratuean perusahaan.

Pengusaha yang mempekerjakan paling sedikit 10 (sepuluh) orang pekerja/buruh wajib


membuat peraturan perusahaan. Peraturan perusahaan mulai berlaku setelah mendapat
pengesahan dari Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi atau Pejabat yang ditunjuk dan
peraturan perusahaan berlaku untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun serta wajib
diperbaharui setelah habis masa berlakunya.

Namun, kewajiban pembuatan Peraturan Perusahaan tidak berlaku apabila perusahaan


telah memiliki perjanjian kerja bersama. Adapun ketentuan di dalam Peraturan Perusahaan
tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta tidak
boleh lebih rendah dari peraturan perundang-undangan terlebih Undang Nomor 13 Tahun
2003 tentang Ketenagakerjaan. Peraturan Perusahaan harus disahkan oleh pejabat yang
berwenang. Yang dimaksud sebagai pejabat yang berwenang adalah sebagai berikut
(“Pejabat”).

Setiap perusahaan yang bergerak dibidang perdagangan jasa dan/atau barang baik
nasional maupun multinasional dalam menjalankan manajemen dan operasionalnya sehari-
hari yang berkaitan dengan ketenagakerjaan pastinya membutuhkan suatu peraturan
perusahaan yang berlaku dan dipatuhi oleh seluruh karyawan agar dapat berjalan dengan baik
dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengertian peraturan
perusahaan berdasarkan Pasal 1 angka 20 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan (“UU Ketenagakerjaan”) adalah peraturan yang dibuat secara tertulis oleh
pengusaha yang memuat syarat-syarat kerja dan tata tertib perusahaan. Peraturan perusahaan
disusun oleh pengusaha dan menjadi tanggung jawab dari pengusaha yang bersangkutan.
Penyusunan peraturan perusahaan dilakukan dengan memperhatikan saran dan pertimbangan
dari wakil pekerja/buruh di perusahaan yang bersangkutan.
Peraturan perusahaan bertujuan untuk menjamin keseimbangan antara hak dan kewajiban
pekerja, serta antara kewenangan dan kewajiban pengusaha, memberikan pedoman bagi
pengusaha dan pekerja untuk melaksanakan tugas kewajibannya masing-masing,
menciptakan hubungan kerja harmonis, aman dan dinamis antara pekerja dan pengusaha,
dalam usaha bersama memajukan dan menjamin kelangsungan perusahaan, serta
meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keluarganya.

Menurut Pasal 111 UU Ketenegakerjaan, Peraturan perusahaan sekurang-kurangnya


memuat:
1. hak dan kewajiban pengusaha;
2. hak dan kewajiban pekerja/buruh;
3. syarat kerja;
4. tata tertib perusahaan; dan
5. jangka waktu berlakunya peraturan perusahaan.

G. Perjanjian Kerja Bersama (PKB)

Perjanjian kerja dalam bahasa Belanda adalah Arbeidsoverenkoms, mempunyai beberapa


pengertian. Pasal 1601 a KUHP Perdata memberikan pengertian sebagai berikut : “Perjanjian
kerja adalah suatu perjanjian dimana pihak ke-1 (satu)/buruh atau pekerja mengikatkan
dirinya untuk dibawah perintah pihak yang lain, si majikan untuk suatu waktu tertentu
melakukan pekerjaan dengan menerima upah”.

Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, Pasal 1 angka 14


memberikan pengertian yakni : “Perjanjian kerja adalah suatu perjanjian antara pekerja/buruh
dan pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja hak dan kewajiban kedua
belah pihak”.

Perjanjian Kerja adalah Suatu perjanjian yang dibuat antara pekerja secara perorangan
dengan pengusaha yang pada intinya memuat hak dan kewajiban masing-masing pihak.Untuk
mengetahui hak dan kewajiban secara pasti dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan
ketenangan kerja maka perlu adanya suatu pedoman/aturan dalam pelaksanaan hubungan
kerja.

Perjanjian Kerja Bersama (PKB) adalah suatu kesepakatan secara tertulis dengan
menggunakan bahasa Indonesia yang dibuat secara bersama – sama antara pengusaha atau
beberapa pengusaha dengan organisasi serikat pekerja/gabungan organisasi serikat pekerja
yang sudah terdaftar pada instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan.

Adapun dasar dibuatnya perjanjian Kerja Bersama ini merujuk pada Undang – undang
No. 18 Tahun 1956 yang diratifikasi dari Konvensi No. 98 Organisasi Perburuhan
Internasional (ILO) mengenai berlakunya dasar - dasar dari hak untuk berorganisasi dan
berunding bersama, Kemudian oleh pemerintah dikeluarkan :
1. Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan yang diatur mulai
dari pasal 115 sampai dengan 135;
2. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. Kep/48/Men/IV/2004
tentang Tata Cara Pembuatan dan Pengesahan Peraturan Perusahaan dan Pendaftaran
Perjanjian Kerja Bersama;
3. Kep.48/MEN/IV/2004, tentang Tata Cara Pembuatan dan Pengesahan Peraturan
Perusahaan serta Pembuatan dan Pendaftaran Perjanjian Kerja Bersama.

Fungsi Perjanjian Kerja Bersama adalah sarana untuk memuat dan menuangkan
kesepakatan baru yang didasari atas kesepakatan antara serikat pekerja/buruh dengan
pengusaha yang disebut Lex Special artinya sebuah prodak yang tidak diatur dalam Undang –
undang maka dia akan menjadi normatif bila mana sudah disepakati dan dituangkan dalam
PKB serta telah diketahui oleh Dinas yang terkait dan mengikat kedua belah pihak untuk
dilaksanakan.

Tujuan pembuatan Perjanjian Kerja Bersama :


1. Mempertegas dan memperjelas hak – hak dan kewajiban pekeja dan pengusaha;
2. Memperteguh dan menciptakan hubungan industrial yang harmonis dalam
perusahaan;
3. Menetapkan secara bersama syarat – syarat kerja keadaan industrial yang harmonis;
4. Menentukan hubungan ketenagakerjaan yang belum diatur dalam peraturan
perundang –undangan.

Manfaat Perjanjian Kerja Bersama :


1. Baik pekerja maupun pengusaha akan lebih memahami tentang hak dan kewajiban
masing – masing;
2. Mengurangi timbulnya perselisihan hubungan industrial atau hubungan
ketenagakerjaan sehingga dapat menjamin kelancaran proses produksi dan
peningkatan usaha;
3. Membantu ketenangan kerja pekerja serta mendorong semangat dan kegaitan bekerja
yang lebih tekun dan rajin; dan
4. Pengusaha dapat menganggarkan biaya tenaga kerja (labour cost) yang perlu
dicadangkan atau disesuaikan dengan masa berlakunya PKB.

H. Lembaga Penyelesaian Perrselisihan Hubungan Internasional

Perselisihan hubungan industrial adalah perbedaan pendapat yang mengakibatkan


pertentangan antara pengusaha atau gabungan pengusaha dengan pekerja atau serikat pekerja
karena adanya perselisihan mengenai hak, perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan
hubungan kerja dan perselisihan antar serikat pekerja dalam satu perusahaan yang dapat
terjadi karena perbedaan dalam melaksanakan dan menafsirkan undang-undang, perjanjian
kerja atau peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama.

Pada umumnya, setiap perselisihan yang disebutkan di atas dapat diserahkan ke


Pengadilan Hubungan Industrial. Namun, sebelum mengangkat kasus ke Pengadilan, terdapat
beberapa langkah awal atau solusi alternatif yang harus dilakukan terlebih dahulu, melalui:
negosiasi bipartit, mediasi, konsiliasi. Metode lain untuk penyelesaian perselisihan adalah
melalui arbitrase yang keputusannya bersifat final dan mengikat. Bila mediasi dan konsiliasi
gagal, maka perselisihan hubungan industrial dapat dimintakan untuk diselesaikan di
Pengadilan Hubungan Industrial.