Anda di halaman 1dari 8

BAB I

Pendahuluan

A. Pengertian Kompetensi Menulis


Di dalam kehidupan modern ini dikenal dua macam cara berkomunikasi, yaitu komunikasi
lisan dan komunikasi tulis. Kegiatan berbicara dan menyimak (mendengarkan), baik secara
face to face (tatap muka) maupun dengan memanfaatkan hasil kemajuan teknologi informasi
(telepon, handphone radio, televisi, dan sebagainya) merupakan komunikasi lisan. Sedangkan
kegiatan menulis dan membaca, baik yang memanfaatkan internet sebagal hasil kemajuan
teknologi Informasi maupun tidak merupakan komunikasi tulis. Menulis sebagai salah satu
aspek kegiatan berbahasa mempunyai peranan penting di dalam kehidupan masa kini Dengan
menulis, seseorang dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan untuk mencapai maksud dan
tujuannya. Dengan menulis, seseorang akan dapat berkomunikasi dengan orang orang yang
hidup beratus tahun yang akan datang. Dengan menulis, seseorang dapat berkomunikasi
dengan orang yang tidak diinginkannya berhubungan secara tatap muka.
Berdasarkan informasi di atas, dapat dinyatakan bahwa kompetensi menulis benar-benar
dibutuhkan dalam kehidupan modern ini. Kompetensi menulis sudah merupaka salah satu ciri
orang terpelajar. Orang yang memilik kompetensi menulis yang baik, dapat menyumbangkan
pengalaman atau pengetahuannya yang bermanfaat bag bangsanya, bahkan bagi bangsa lain.
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kompetensi menulis adalah keterampilan menulis
atau membuat tulisan dengan menerapkan cara atau aturan- aturan penulisannya. Kompetensi
menulis hanya dapat diperoleh melalui proses belajar. Pengetahuan tentang cara menulis
(berdasarkan jenis tulisan yang dihasilkan) dapat dipelajari melalui pembinaan yang dilakukan
oleh guru atau dosen dan dapat juga melalui pembelajaran otodidak dari buku-buku yang
relevan. Lalu keterampilan menulis hanya dapat membantu melalui latihan, baik melalui
latihan terbimbing maupun melalui latihan mandiri.
B. Faktor-faktor yang memengaruhi penulis dalam penulisan karya tulis
Menurut D’Angelo sebagaimana dikutip Tarigan (1983 22), faktor-faktor yang memengaruhi
penulis sebagai berikut
a. maksud dan tujuan sang penulis (perubahan yang diharapkannya akan terjadi pada diri
pembaca
b. pembaca atau pemirsa (apakah pembaca itu orangtua, kenalan, atau teman sang penulis )
c. waktu kesempatan (keadaan-keadaan atau yang melibatkan berlangsungnya suatu kejadian
tertentu, waktu, tempat, dan situasi yang menuntut perhatian langsung, masalah yang
memerlukan pemecahan, pertanyaan yang menuntut jawaban, dan sebagainya).
C. Jenis-jenis Tulisan
Berdasarkan tujuan penulisannya, tulisan dapat dibedakan atas :
a) Eksposisi adalah tulisan yang menjelaskan sesuatu secara mendalam atau pemaparan
yang berusaha untuk menerangkan suatu pikiran pokok, yang dapat memperluas
pandangan atau memperkaya pengetahuan pembaca.
b) Deskripsi adalah tulisan yang menggambarkan suatu objek seperti apa adanya sebagai
hasil pengamatan terhadap objek itu dengan melukiskannya sehidup-hidupnya secara
tertulis, hingga pembaca seolah-olah dapat melihat, mendengar, atau merasakan apa
yang dialami penulis.
c) Narasi adalah tulisan yang bertujuan untuk menyampaikan ide dengan menggunakan
peristiwa-peristiwa sebagai bahan untuk dijalin sedemikian rupa.
d) Argumentasi adalah tulisan yang bertujuan untuk mempengaruhi sikap dan pendapat
pembaca sehingga mereka mempercayai pendapat penulis dan akhirnya mereka
bertindak sesuai dengan keinginan penulis.
sebagaimana dikutip oleh Tarigan (1983: 26-29). Salisbury membagi tulisan berdasarkan
bentuknya sebagai berikut.
a. Bentuk-bentuk objektif yang mencakup a) penjelasan yang terperinci, b) batasan, c) laporan,
dan d) dokumen.
b. Bentuk-bentuk subjektif yang mencakup a) otobiografi, b) surat-surat, c) penilaian pribadi
d) esei informal , e) potret /gambaran, dan f) satire

Chenfeld (1978 288-289) membuat klasifikasi tulisan sebagai berikut.


a. Tulisan kreatif yang memberi penekanan pada ekspresi diri secara pribadi
b. Tulisan ekspositori yang mencakup a) penulisan surat, b) penulisan laporan, c)
timbangan buku atau resensi buku, dan d) rencana penelitian
D. Perencanaan Penulisan
Untuk penulisan sebuah karya tulis, terlebih-lebih karya tulis yang relatif panjang, aktivitas
menulis dilakukan dalam tiga tahap, yaitu pra penulisan, penulisan, dan revisi. Tahap pra
penulisan ini biasa juga disebut tahap perencanaan penulisan. Tahap perencanaan penulisan
tidak kalah pentingnya dengan tahap-tahap lainnya. Perencanaan penulisan sangat menentukan
keberhasilan penulis dalam menghasilkan tulisan. Agar tulisan yang akan dihasilkan,
bermanfaat bagi pembaca dan penulis mampu mengerjakannya, penulis dapat memilih topik
tulisannya. Agar penulis tidak hanyut dalam suatu persoalan yang tidak habis- habisnya karena
memang disebabkan topik yang digarapnya terlalu luas, dia dapat melakukan pembatasan
topik.
E. Manfaat Kegiatan menulis
Kegiatan menulis tidak hanya bermanfaat bagi orang lain, yaitu memberi sumbangan
pengalaman atau pengetahuan kepada masyarakat pembaca, tetapi juga bermanfaat bagi diri
penulis. Manfaat kegiatan menulis bagi diri penulis adalah sebagai berikut.
a. Penulis dapat mengenali dirinya. Artinya, dengan kegiatan menulis, penulis dapat
mengetahui dan menyadari kompetensi dan potensi dirinya.
b. Penulis dapat terlatih dalam mengembangkan berbagai gagasan. Sebab setiap kali
menulis, penulis harus bernalar, menghubung-hubungkan serta membanding-
bandingkan fakta untuk mendapatkan simpulan yang berguna bagi pengembangan
setiap gagasan.
c. Penulis dapat memperkaya pengetahuannya dalam berbagai topik. Karena setiap kali
melakukan kegiatan menulis, penulis harus mencari, menemukan, dan menguasai
berbagai informasi (terutama informasi terbaru) yang relevan dan pengembangan topik
yang digarapnya.
d. Penulis dapat terbiasa berpikir dan berbahasa secara tertib dan teratur
e. Penulis dapat termotivasi untuk belajar secara kontinu
Bab II
Penulisan Esai

A. Pengertian esai
Esai adalah karya tulis dalam bentuk prosa yang memaparkan suatu persoalan dari
sudut pandang pribadi penulis dan menjadikannya sebagai persoalan dari sudut
pandang pribadi penulis dan menjadikannya sebagai persoalan kembali untuk
dipecahkan oleh pembaca. Esai berbeda dengan karya ilmiah. Karya ilmiah
menghadirkan masalah, kemudian membahasnya sampai memperoleh simpulan untuk
mengatasi masalah atau mengantisipasi masalah yang diungkapkan. Sedangkan esai
merupakan karya tulis yang tidak kaku dan tidak terikat pada ketentuan bentuk dan
isinya. Esai berisi analisis persoalan dengan perasaan penulisannya secara menarik

B. penggunaan Bahasa

Untuk menimbulkan daya tarik esai ini, di dalam penulisannya penulis harus menggunakan bahasa
yang segar. Hal ini senada dengan pendapat Djuharie dan Suherli (2001:115) yang menyatakan,
"Bahasa yang digunakan di dalam tulisan esai adalah bahasa yang segar agar mendukung bentuk
tulisan ini sebagai tulisan yang tidak kaku dan diungkapkan dengan menarik" Taiwo (1976:8)
menyatakan, "... esai sebaiknya bebas dari kesalahan mekanis, kesalahan tata bahasa, tanda baca,
dan ejaan. Semua hal ini mendatangkan hasil kerja yang baik dan membuat esai mudah dibaca."

C. Langkah-langkah penulisan esai

Pada dasarnya penulisan esai sama dengan penulisan karya tulis lainnya, seperti artikel, berita, dan
sebagainya. Sebelum menulis esai, penulis terlebih dahulu menentukan topik yang akan digarapnya.
Esai terdiri dari tiga bagian utama, yaitu pendahuluan, Isi, dan penutup. Oleh karena itu, langkah-
langkah penulisannya dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Penulisan Pendahuluan
Pendahuluan adalah bagian permulaan esai. Dalam bagian ini penulis menunjukkan masalah
atau persoalan yang ingin dipersoalkan.
2. Penulisan isi
Dalam bagian ini masalah yang telah diperkenalkan dalam bagian pendahuluan, dibahas dengan
cara-cara yang dapat menarik perhatian pembaca.
3. Penulisan penutup
Dalam bagian ini yang dominan bukan menunjukkan gambaran ringkas keseluruhan uraian
pembahasan melainkan menjadikan masalah itu sebagai persoalan kembali.
BAB III
PENULISAN RESENSI

A. Pengertian resensi
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa resensi adalah suatu karya tulis yang
berisi pertimbangan secara objektif terhadap kualitas suatu karya orang lain. Karya orang lain
yang dimaksud dalam hal ini, boleh berupa buku (fiksi dan nonfiksi), suatu tulisan yang
terdapat dalam sebuah buku, film, pementasan (drama dan musik), dan sebagainya. Resensiya
dipublikasikan melalui media massa, seperti majalah dan surat kabar.
Penulisan resensi bertujuan untuk:
1) Memperkenalkan suatu karya kepada orang lain yang belum membaca atau
menyaksikannya,
2) Membantu pembaca dalam menentukan perlu tidaknya membaca atau menyaksikan suatu
karya,
3) Menghargai keunggulan suatu karya,
4) Memberi pujian atas bobot ilmiah suatu karya ilmiah atau nilai seni suatu karya seni,
5) Memberi kritik terhadap suatu karya
B. Penggunaan Bahasa
Dalam hal penggunaan bahasa ada beberapa hal perlu dipedomani penulis (peresensi) ketika
menulis resensi, yakni sebagai berikut.
1) Bahasa yang digunakan dalam penulisan resensi adalah bahasa yang sederhana, lugas, dan
menyenangkan.
2) Kalimat yang digunakan, tidak boleh bertele-tele.
3) Ungkapan kalimat klise harus dihindarkan.
4) Kaidah Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan harus diterapkan dalam penulisannya.
C. Langkah-langkah penulisan resensi
Langkah-langkah yang ditempuh dalam menulis resensi buku, secara rinci dapat dijelaskan
sebagai berikut.
1) Membaca buku yang diresensi
Pada langkah ini penulis membaca buku yang diresensi secara keseluruhan. Pembacaan
harus dilakukan secara cermat untuk mendapatkan pokok persoalan, kalimat demi
kalimat, dan paragraf demi paragraf.
2) Mencermati setiap kalimat dan paragraf
Pada langkah ini penulis mencermati setiap kalimat untuk mendapatkan pokok kalimat
atau inti kalimat, lalu mencermati setiap paragraf untuk mendapatkan pikiran pokok
atau pikiran utamanya. Selain itu, pada langkah ini juga penulis memperhatikan dengan
cermat hubungan antara paragraf dengan paragraf dalam setiap bab atau bagian buku.
3) Menulis resensi buku
Ada beberapa langkah yang harus dilakukan penulis.
Pertama, penulis mencatat identitas buku
Kedua, penulis menguraikan jenis buku
Ketiga, penulis (peresensi) memaparkan secara objektif kelebihan dan kekurangan
buku atau karya yang diresensi
Keempat, penulis memberikan simpulan tentang buku
Kelima, penulis memberi penilaian dengan memutuskan baik-buruknya buku itu dibaca
oleh siapa dan kalangan mana.
4) Memberi judul resensi
Pada langkah ini naskah resensi sudah selesai ditulis, penulis dapat menentukan judul
resensi dengan lebih mudah.

Bab IV
Penulisan Berita

A. Pengertian dan Tujuan Berita


Berita adalah laporan tentang fakta atau ide yang cukup penting, cukup , aktual dan
cukup menarik yang ditulis oleh wartawan dan dipublikasikan secara luas melalui
media massa periodik. Secara umum dapat dinyatakan bahwa tujuan berita adalah
memperkaya pengetahuan atau pengalaman khalayak. Lalu secara rinci berita
mempunyai tiga tujuan utama, yaitu memberikan informasi, memberikan hiburan
dan melaksanakan kontrol sosial.
B. Penggunaan Bahasa
Terlepas dari berita yang dilaporkan pada saat kejadian berlangsung, pada
umumnya berita bersangkut-paut dengan fakta yang sebenarnya tanpa dipengaruhi
oleh perasaan atau pendapat pribadi penulis atau pembicara. Oleh karena itu, dalam
penulisan berita penggunaan bahasa harus objektif. Artinya penggunaan bahasa
dalam penulisan berita secara maksimal harus terhindar dari unsur-unsur bahasa
yang menunjukkan pengaruh perasaan, pertimbangan ataupun opini pribadi penulis
atau pembicaranya.
Penggunaan kata :
1. Berita ditulis dengan menggunakan kata-kata yang ekonomis
2. Penggunaan kata atau istilah asing dan daerah harus dihindarkan dalam
penulisan berita karena dapat menimbulkan kesukaran bagi publik dalam
mengikuti atau memahami isi berita.
3. Dalam menulis berita, penulis hendaknya menghindarkan penggunaan
ungkapan klise yang sering dipakai dalam transisi berita, seperti sementara
itu, dapat ditambahkan, perlu diketahui, dalam rangka, dan sebagainya.
4. Kata kerja harus digunakan sebanyak mungkin sesuai dengan keperluannya
dalam menulis berita.
5. Dalam menulis berita, penulis harus mengurangi penggunaan kata sifat.
Artinya, penulis harus menghindarkan penggunaan kata sifat yang
berlebihan.
6. Dalam penulisan news bulletin seperti hard news, straight news, spot news,
stop press, dan sebagainya penggunaan gaya bahasa, lebih-lebih yang tidak
bersifat menjelaskan, harus dihindarkan karena menimbulkan unsur
subjektif yang merusak makna berita itu sendiri.
7. Penggunaan singkatan ataupun akronim dalam penulisan berita harus
dibatasi
Penggunaan kalimat :
1. Kalimat yang digunakan dalam penulisan berita adalah kalimat-kalimat
yang relatif pendek.
2. Setiap kalimat yang digunakan dalam penulisan berita, harus memiliki
makna yang logis.
3. Jika tidak perlu sekali, penggunaan kalimat majemuk harus dihindarkan
dalam penulisan berita.
4. Kalimat-kalimat yang digunakan dalam penulisan berita, tidak boleh
mengandung kata-kata mubazir.
5. Bentuk aktif dan pasif tidak boleh dicampur aduk dalam penulisan berita
C. Bahan berita
1. Peristiwa
Peristiwa adalah kejadian (hal, perkara, dan sebagainya). Yang dimaksud
dengan peristiwa dalam bahasa Indonesia, disebut event
“peristiwa/kejadian” atau occurrence “kejadian/peristiwa” dalam bahasa
Inggris. Peristiwa yang dijadikan sebagai bahan berita yang dipublikasikan
melalui media massa periodik, tidak sembarang peristiwa.
2. Kondisi atau situasi
Dalam pembicaraan ini yang dimaksud dengan kondisi atau situasi sebagai
bahan berita adalah kondisi atau situasi objek.
3. Hasil telaah
Dapat diartikan dengan hasil penyelidikan, hasil pengkajian, hasil
pemeriksaan, ataupun hasil penelitian.
D. Teknik penyusunan berita
Adalah cara menyusun urutan bagian-bagian berita dalam menulis suatu berita.
1. Teknik piramid terbalik (inverted pyramid)
Adalah cara menyusun urutan bagian-bagian berita dengan menempatkan
bagian berita yang dianggap sangat penting pada bagian yang paling awal,
lalu disusul dengan penempatan bagian berita yang dianggap penting,
kemudian dilanjutkan dengan penempatan bagian berita yang dinilai kurang
penting pada bagian akhir atau bagian penutup berita.
2. Teknik Piramid
Teknik pyramid 'piramid' adalah cara menyusun urutan bagian-bagian berita
dengan menempatkan bagian berita yang dianggap kurang penting pada
bagian awal, lalu disusul dengan penempatan bagian berita yang dianggap
penting, kemudian dilanjutkan dengan bagian berita yang dinilai paling
penting pada bagian akhir berita. Dalam hal ini, judul berita ditempatkan
pada bagian yang paling awal. Lalu, bagian berita yang masuk dalam
kategori tidak penting, tidak ikut dimasukkan.
3. Teknik kronologis
Adalah cara menyusun urutan bagian-bagian berita yang tidak berdasar pada
mana yang penting dan mana yang kurang penting.
E. Teknik Penulisan Judul Berita dan Nama Tempat Penulisannya
Judul berita dapat ditulis dalam bentuk frase (kelompok kata)dan dapat pula
dalam bentuk kalimat. Untuk menonjolkan berita dan membuat agar orang
lebih tertarik untuk membacanya,judul berita dapat ditulis (dicetak) dengan
teknik grafik,yaitu dengan menggunakan tipe huruf tertentu. Nama tempat
penulisan berita ditulis di bawah judul berita. Biasanya nama tempat
penulisan berita disertai oleh nama surat kabar (inisialnya)atau sumber
berita. Sebagai contoh, harian Kompas dapat menggunakan
Jakarta,Kompas.
F. Teknik Penulisan Teras Berita
Teras berita adalah bagian berita yang menunjukkan fakta penting yang diberitakan
dan dapat menarik minat pembaca untuk membaca berita lebih lanjut. Dari segi
praktik penulisannya,dapat dikatakan bahwa teras berita merupakan lanjutan dari
nama tempat penulisan dan sumber berita.
Teknik penulisan teras berita bergantung pada jenis teras berita yang hendak
digunakan.Teras berita yang digunakan dalam penyusunan berita dengan teknik
piramid terbalik berbeda dengan teras berita yang digunakan dalam penyusunan
berita dengan teknik piramid ataupun dengan teknik kronologis.
G. Teknik penulisan tubuh berita
Tubuh berita adalah bagian berita yang berisi uraian berita secara utuh. Sesuai
dengan data yang diperoleh dalam peliputan berita, pada bagian inilah yang
diupayakan untuk menyajikan secara maksimal unsur 5w+1h. Ada beberapa hal
yang harus dipedomani penulis dalam penulisan tubuh berita. Pertama, kesatuan
gagasan harus diwujudkan dalam penulisan tubuh berita. Kedua, ragam bahasa yang
digunakan dalam penulisan tubuh berita haruslah ragam bahasa jurnalistik, yaitu
ragam bahasa yang lugas, ekonomis, dan menarik perhatian pembaca. Ketiga,
urutan bagian-bagian berita yang akan disajikan, harus relevan dengan teknik
penyusunan berita yang dipilih.

Bab V
Penulisan tajuk rencana
A. Pengertian tajuk rencana
Tajuk rencana atau editorial adalah karya tulis yang berisi uraian singkat, logis, dan
menarik perhatian tentang opini atau pandangan lembaga penerbitan terhadap suatu
fenomena yang timbul dan berkembang dalam masyarakat.
B. Penggunaan Bahasa
Pada pembicaraan terdahulu dinyatakan bahwa tajuk rencana adalah karya tulis yang
dihasilkan suatu lembaga resmi yaitu lembaga penerbitan. Sasarannya adalah publik.
Oleh karena itu, ragam bahasa yang digunakan dalam penulisannya adalah bahas baku.
Ini berarti bahwa penulis harus menggunakan kaidah bahasa baku dan bertaat asas pada
kaidah Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
C. Kriteria topik tajuk rencana
1. Harus merujuk pada fenomena atau peristiwa yang aktual dan kontroversial
2. Harus sesuai dengan visi, misi dan media penerbitan
3. Harus sesuai dengan wilayah sirkulasi penerbitan media
4. Harus berpijak pada standar jurnalistik, seperti aktualitas, objektivitas, akurasi,
dan lain-lain
5. Tidak boleh bertentangan dengan aspek ideologis, yuridis, sosiologis, dan etis
yang terdapat dalam masyarakat
6. Harus berorientasi pada nilai-nilai luhur, peradaban, kemanusiaan, keadilan,
kejujuran, persaudaraan, sampai penegakan supremasi hukum
D. Karakteristik judul tajuk rencana
1. Provokatif
2. Singkat-padat
3. Relevan
4. Fungsional
5. Informal
E. Pembuatan kerangka tajuk rencana
1. Penjelasan
Berisi uraian pokok persoalan dengan urutan pembicaraan: jenis, ukuran, sifat,
fungsi, cakupan, dan dampaknya
2. Kutipan
Berisi kutipan berupa pendapat ahli, ucapan, tokoh, hasil pengamatan,
narasumber, kitab suci, dan hasil penelitian.
3. Contoh
Berisi contoh yang penggunaan nya bertujuan untuk memperjelas dan
menegaskan argumen yang diajukan dengan gambaran konkrit
4. Penutup
Berisi simpulan atas semua uraian pembahasan.
F. Langkah-langkah penulisan tajuk rencana
1. Mencari ide untuk dijadikan topik
2. Menyeleksi dan menetapkan topik
3. Memberi bobot substansi materi
4. Menulis tajuk rencana