Anda di halaman 1dari 9

TUGAS MATA KULIAH KIMIA DASAR I

SIFAT-SIFAT SISTEM PERIODIK UNSUR


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Kimia Dasar I yang diampu oleh :
Drs. Sukro Muhab, M.Si

Tugas Kelompok :
Hati Jelita 3315161560
Muhibah Awaliyah 1303619004
Siti Azizah 130361900
Awanis Hanifati 13036190
Dhika Putricia 13036190

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA B


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2019
1. Jari-Jari Atom
Atom pada suatu unsur memilki ukuran yang berbeda-beda dengan
atom lainnya, ini menyebabkan adanya perbedaan antara jumlah elektron
dan inti. Ukuran tersebut dapat disebut jari-jari atom yang merupakan sifat
dasar dari unsur, sehingga dapat didefinisikan bahwa jari-jari atom adalah
jarak dari atom pusat ke jari-jari pada kulit terluar.

Gambar diatas adalah plot jari-jari atom unsur-unsur terhadap nomor


atomnya. Pada kecendrungan periodik dapat ditentukan dengan kuatnya
elektron kulit bagian luar yang ditahan oleh inti. Semakin besar muatan inti
efektifnya maka makin kuat elektron elektron ini ditahan dan semakin kecil
jari jari atomnya.

a. Jari-jari atom dalam satu golongan


Atom-atom yang segolongan dari atas ke bawah, nomor periodenya
bertambah. Karena nomor periode menentukan banyaknya kulit lintas,
maka atom-atom yang segolongan jumlah kulitnya makin banyak jadi
jari-jarinya semakin besar.

"Jari – jari atom dari unsur – unsur yang segolongan dari atas ke bawah
semakin besar".

Contoh : misalnya saja antara atom K, Rb, dan Cs. Atom K, Rb, dan
Cs berada dalam golongan yang sama yaitu 1A tetapi periodenya
berbeda, yaitu periode 4 untuk K, periode 5 untuk Rb, dan periode 6
untuk Cs. Dengan demikian, K mempunyai 4 kulit, Rb mempunyai 5
kulit, dan Cs mempunyai 6 kulit. Secara kualitatif K dengan 4 kulit, Rb
dengan 5 kulit, dan Cs dengan 6 kulit dapat digambarkan sebagai
berikut :

Jadi, jari-jari atom Cs > jari-jari atom Rb > jari-jari atom K

b. Jari-jari atom dalam satu periode


Unsur-unsur yang seperiode mempunyai jumlah kulit lintas yang
sama, jadi banyaknya kulit bukan merupakan penentu jari-jari. Faktor
penentu jari-jari untuk unsur-unsur yang seperiode adalah jumlah
proton dalam inti atau nomor atom.
Unsur seperiode dari kiri ke kanan, nomor atomnya makin besar, jadi
jumlah proton makin banyak dan tarikan inti makin kuat sehingga bola
lintasan mengempis dan jarak kulit lintas makin pendek.

”Jari-jari atom unsur-unsur seperiode dari kiri ke kanan makin kecil”.

Contoh : Pada unsur K, Ca, dan Ga yang berada pada periode yang
sama yaitu periode 4 memiliki nomor atom yang berbeda. K memiliki
nomor atom 19, Ca memiliki nomor atom 20, dan Ga memiliki nomor
atom 30. Semakin besar nomor atom, semakin banyak jumlah proton
semakin banyak yang membuat tarikan pada inti semakin kuat sehingga
lintasan semakin pendek yang mengakibatkan jari-jari atom semakin
kecil.

Jari-jari atom K > Jari-jari atom Ca > Jari-jari atom Ga


2. Jari-Jari Ion Positif
Jika suatu atom netral diubah menjadi suatu ion, diharapkan
ukurannya berubah. Jika atom membentuk kation, ukuran jari-jarinya
berkurang karena pelepasan satu elektron tetapi muatan inti tetap sama,
sehingga awan elektron mengkerut yang mengakibatkan jari-jari ion
semakin berkurang.
Contoh : Antara Na dengan Na+. Atom Na dengan nomor atom 11,
mempunyai 3 kulit, sedang Na+ hanya mempunyai 2 kulit, karena ion Na+
adalah Na yang melepas 1 elektron terluar. Jika 1 elektron terluar lepas,
maka elektron Na yang semula 11, tinggal 10. Jika elektronnya tinggal 10,
maka hanya dibutuhkan dua kulit dengan masing-masing terisi penuh.
Karena Na mempunyai 3 kulit sedang Na+ hanya mempunyai 2 kulit maka
jari-jari Na lebih besar dari pada jari-jari Na+. Secara umum dapat
disimpulkan bahwa:

”Jari-jari ion Positif, lebih kecil dari pada jari-jari atom unsur asalnya”

3. Jari-jari Ion Negatif


Jika suatu atom netral membentuk anion, ukuran jari-jarinya
bertambah, oleh karena muatan inti tetap sama tetapi tolak menolak yang
dihasilkan elektron yang ditambahkan akan memperbesar daerah awan
elektron.
Contoh : Antara Cl dan Cl⁻ sebagai contoh. Atom Cl dengan nomor
atom 17, mempunyai 3 kulit, dan Cl⁻ yang berasal dari atom Cl yang
menangkap 1 elektron juga mempunyai 3 kulit. Ini terjadi karena kulit
terluar Cl belum maksimum, sehingga ketika Cl menangkap sebuah
elektron lagi ia tidak perlu menambah kulit baru. Karena jumlah kulitnya
sama maka penentunya tarikan inti terhadap elektron. Atom Cl mempunyai
17 proton yang menarik 17 elektron. Sementara itu, Cl⁻ yang protonnya
juga 17 harus menarik elektron sebanyak 18. Tentu saja tarikan inti pada
atom Cl lebih kuat dari pada tarikan inti Cl⁻. Dengan mudah dapat
disimpulkan bahwa jari-jari atom Cl lebih kecil dari pada jari-jari ion Cl⁻
atau jari-jari Cl⁻ lebih besar dari pada jari-jari atom Cl sehingga secara
umum dapat dinyatakan bahwa:
“Jari-jari ion negatif lebih besar dari pada jari-jari atom unsur asalnya”.

4. Energi Ionisasi
Ialah kecenderungan untuk sebuah atom atau ion melepas satu
elektron terluarnya, dimana membutuhkan suatu energi. Energi itu disebut
Energi Ionisasi. Energi Ionisasi (EI) ialah energi minimum yang diperlukan
untuk melepaskan satu elektron dari atom ion dalam fasa gas terisolasi
(fasa gas dipilih karna atom atau ion tidak dipengaruhi atom-atom-atom
atau ion-ion yang lain).
Apabila suatu atom netral diberi energi hingga sebuah elektronnya
terlepas, energi yang diberikan ini disebut sebagai potensial ionisasi
pertama, dan untuk melepaskan satu elektron yang kedua, disebut energi
ionisasi kedua, dan begitu seterusnya.

X(g) + EI X⁺(g) + e⁻ ionisasi pertama


X⁺(g) + EI X²⁺(g) + e⁻ ionisasi kedua

X menyatakan atom unsur apa saja yang berwujud gas, dan e⁻ adalah
satu elektron.
Karena elektron yang terlepas, maka atom menjadi bermuatan
positif. Jika sebuah elektron dari satu atom netral dilepaskan, tolakan di
antara elektron-elektron yang tersisa akan berkurang. Karena muatan inti
tetap tidak berubah, lebih banyak energi yang diperlukan untuk
melepaskan elektron berikutnya. Mudahnya bahwa melepaskan satu
elektron pertama lebih mudah dibandingkan mengeluarkan elektron
berikutnya.
Oleh karena itu, untuk unsur yang sama, energi ionisasi selalu
bertambah sesuai dengan urutan berikut :
𝐼1 < 𝐼2 < 𝐼3 < ...
Berdasarkan kesepakatan, energi yang diserap oleh atom atau ion
dalam proses ionisasi akan mempunyai nilai positif. Energi ini dapat
dihitung dengan menempatkan fasa gas di dalam tabung. Kemudian
tegangan (voltase) dalam tabung dinaikkan secara perlahan. Pastinya tidak
ada perubahan sampai pada voltase tertentu pada saat elektron terlepas dari
fasa gas tersebut. Tegangan saat mulai terjadinya arus inilah yang
didefinisikan energi ionisasi, dalam satuan SI, elektron Volt (eV), dimana
besarnya untuk 1 eV = 1,60 x 10-19 J = 96,485 kJ mol⁻1, dan sering pula
disebut potensial ionisasi.

a. Energi Ionisasi dalam satu golongan


Dalam satu golongan, jari-jari atom semakin bertambah dimana
muatan inti efektif bernilai konstan. Karna muatan inti efektif yang sama,
sedangkan jarak elektron terluar yang ditarik oleh muatan inti efektif
tersebut makin jauh (jari-jari atom semakin besar), hasilnya adalah tarikan
muatan inti efektif yang makin lemah terhadap elektron valensi.
Akibatnya, energi ionisasi yang diperlukan untuk melepaskan elektron
valensi tersebut makin berkurang.

b. Energi Ionisasi dalam satu periode


Dalam satu periode, jari-jari atom menurun dikarenakan muatan inti
efektif meningkat. Kedua faktor ini menyebabkan tarikan muatan inti
efektif sangat besar dirasakan elektron terluar sehingga energi yang
diperlukan untuk mengeluarkan elektron terluar tersebut dalam suatu
periode semakin bertambah besar.
Ini karena semakin ke kanan, jumlah atom yang dimiliki sebuah
unsur semakin banyak, dan juga semakin banyak muatan intinya, yang
menyebabkan semakin pendek jari-jari atom unsur tersebut. Sehingga,
elektron terluar semakin sulit untuk dilepaskan, yang berarti semakin
banyak pula energi ionisasi yang dibutuhkan.
5. Afinitas Elektron
Afinitas elektron adalah energi yang dilepaskan atau yang
diperlukan saat masuknya elektron ke dalam atom atau ion dalam
keadaan gas. Atau dapat diartikan juga sebagai energi yang dilepaskan
atau diperlukan bila satu elektron masuk ke orbital terluar suatu atom.
Afinitas elektron merupakan perubahan entalpi ketika suatu atom
pada keadaan gas menerima elektron dari luar membentuk suatu anion.
Nilai afinitas elektron dinyatakan dalam per mol atom atau mol ion.
Pengaruh Jari Jari Atom Terhadap Nilai Afinitas Elektron.
Secara umum, kecenderungan periodik dari afinitas elektron kebalikan dari
jari- jari atom. Semakin kecil jari- jari suatu atom, maka afinitas elektronnya
semakin besar. Sebaliknya semakin besar ukuran suatu atom, maka afinitas
elektron makin kecil.

Jika jari- jari atom kecil, maka elektron valensi lebih dekat ke inti dan akan
merasakan pengaruh muatan inti efektif lebih kuat, akibatnya jika elektron
ditambahkan akan ditarik lebih kuat disertai pelepasan kalor yang relatif besar.
Dengan demikian, dalam golongan yang sama pada susunan berkala dari atas ke
bawah, umumnya nilai afinitas elektron makin kecil.

Dalam periode yang sama dari kiri ke kanan, jari- jari atom makin kecil
akibat muatan inti efektif yang makin tinggi. Hal ini menyebabkan pada afinitas
elektron yang semakin berharga negatif. Pengecualian untuk unsur- unsur
golongan IIA dan VI A yang memiliki konfigurasi elektron stabil (terisi penuh).
Dengan kata lain, dalam periode sama dari kiri ke kanan, afinitas elektron
semakin tinggi.

6. Keelektronegatifan
Molekul merupakan hasil penggabungan dari beberapa atom unsur;
atau kata lainnya, atom-atom dapat berikatan dengan membentuk molekul.
Sebenarnya elektron valensi dari atom lah yang berperan dan
menyebabkan terjadinya ikatan. Pasangan elektron di antara dua inti atom
yang menyebabkan kedua inti itu berikatan. Akibatnya, “pasangan elektron
ikatan” akan mendapat pengaruh (atau tarikan) dari kedua inti atom.
Beberapa faktor dapat mempengaruhi sifat sebuah molekul, salah
satunya adalah keelektronegatifan, yaitu ukuran kemampuan suatu atom
untuk menarik pasangan elektron dalam molekulnya.
Nilai keelektronegatifan tidak ditetapkan secara langsung tetapi
melalui perkiraan (perhitungan), dan cara memperkirakannya pun
bermacammacam sehingga dikenal beberapa skala keelektronegatifan.
Skala keelektronegatifan yang cukup populer adalah skala Pauling
seperti diperlihatkan menurut Tabel 5.11.

Kecenderungan suatu atom untuk menarik elektron ke pihaknya


dalam suatu ikatan kimia. Robert S. Mullikan :

Unsur-unsur yang segolongan, keelektronegatifan makin ke bawah


makin kecil sebab gaya tarik inti makin lemah.
Unsur-unsur yang seperiode, keelektronegatifan makin ke kanan
makin besar. Akan tetapi perlu diingat bahwa golongan VIIIA tidak
mempunyai keelektronegatifan. Hal ini karena sudah memiliki 8 elektron
di kulit terluar. Jadi keelektronegatifan terbesar berada pada golongan
VIIA.

7. Kereaktifan Positif
Reaktif artinya mudah bereaksi. Unsur-unsur logam pada sistem
periodik makin ke bawah makin reaktif ( makin mudah bereaksi ), sebab
makin mudah melepas elektron. Misalnya kalium lebih reaktif dibanding
natrium.
Unsur-unsur non logam pada sistem periodik makin ke bawah makin
kurang reaktif ( makin sukar bereaksi ), karena makin sukar menangkap
elektron. Misalnya fluorin lebih reaktif dibandingkan klorin.
Logam
a) Cenderung membentuk ion positif
b) Cenderung melepas elektron
c) Energi ionisasi kecil
d) Logam semakin reaktif jika mudah melepas elektron atau E
ionisasi kecil
Non Logam
a) Cenderung membentuk ion negatif
b) Cenderung menangkap elektron
c) Keelektronegatifan besar
d) Unsur Non logam makin reaktif jika mudah menangkap
elektron atau keelektronegatifan besar
Kereaktifan suatu unsur bergantung pada kecenderungannya
melepas atau menarik elektron. Jadi, unsur logam yang paling reaktif
adalah golongan VIIA (halogen). Dari kiri ke kanan dalam satu periode,
mula-mula kereaktifan menurun kemudian bertambah hingga golongan
VIIA. Golongan VIIA tidak reaktif.
8. Sifat Logam
9. Sifat Basa
Menurut Arrhenius, basa adalah zat yang dalam air melepaskan OH-.
Kecendrungan dalam sistem periodik adalah:
1. Dalam satu periode, sifat keasaman semakin meningkat dari kanan ke
kiri. Hal ini dapat terjadi karena unsur tersebut semakin mudah
melepas OH- dalam ikatannya. Ini menyebabkan sifat kebasaan IA
akan lebih besar daripada IIA. Dan sifat kebasaan terbesar adalah
golongan IA.
Contoh reaksi ionisasi dari basa adalah
NaOH  Na+ + OH-
2. Dalam satu golongan, sifat keasaman semakin meningkat dari atas ke
bawah. Hal ini dapat terjadi dikarenakan unsur tersebut semakin
mudah melepas OH- dalam ikatannya. Ini menyebabkan sifat kebasaan
periode 3 akan lebih besar dari periode 4. Dan yang paling besar
adalah periode 7
10.Sifat Asam
11.Sifat Redoks
12.Titik Didih dan Titik Leleh