Anda di halaman 1dari 19

1.

Konsep Mol

Konsep mol adalah sebuah konsep yang menghubungkan dunia makroskopik dan dunia
molekular. Mol didefinisikan sebagai jumlah tertentu dari suatu partikel (atom, molekul, ion,
atau partikel lain) yang mengandung jumlah partikel sama banyak dengan jumlah atom yang
terkandung dalam 12 gram atom C-12.

Contoh : Berapa jumlah atom Na yang terdapat dalam 0,4 mol Na?

Pembahasan:

Diketahui:

n Na = 0,4 mol

L = 6,02 x 1023

Ditanya: p….?

Jawaban:

n = p/L

p=nxL

p = 0,4 x 6,02

p = 2,41 x 1023 atom

Jadi, jumlah atom Na dalam 0,4 mol Na sebanyak 2,41 x 1023 atom.

Hukum Avogadro adalah aturan gas eksperimental yang menghubungkan volume gas dengan
jumlah molekul yang ada. Hukum Avogadro menyebutkan bahwa pada kondisi suhu & tekanan
yang sama, volume gas yang sama bakal mengandung jumlah molekul yang sama.

Contoh : 2 molekul gas hidrogen + 1 molekul gas oksigen → 2 molekul uap air

2H2(g) + O2(g) → 2H2O(g)


Redoks (singkatan dari reaksi reduksi/oksidasi) adalah istilah yang menjelaskan
berubahnya bilangan oksidasi(keadaan oksidasi) atom-atom dalam sebuah reaksi kimia.

Sebagai contoh, reaksi antara larutan besi dan tembaga(II) sulfat:

Persamaan ion dari reaksi ini adalah:

Terlihat bahwa besi teroksidasi:

dan tembaga tereduksi:

Pengertian reaksi Oksidasi


Reaksi Oksidasi adalah hilangnya elektron selama reaksi oleh molekul, atom atau ion. Reaksi
Oksidasi terjadi ketika keadaan oksidasi molekul, atom atau ion meningkat. Proses sebaliknya
disebut reaksi reduksi, yang terjadi ketika ada kenaikan elektron atau keadaan oksidasi atom,
molekul, atau ion berkurang.

Contoh :

H2 + F2 → 2 HF

Dalam reaksi ini, hidrogen dioksidasi dan fluor sedang direduksi. Reaksi mungkin lebih baik
dipahami jika ditulis dalam dua reaksi setengah.

H2 → 2 H+ + 2 e–

F2 + 2 e– → 2 F–
Pengertian Zat Pengoksidasi (Oksidator)
Dalam kimia, zat pengoksidasi, dalam bahasa Indonesia lebih dikenal sebagai oksidator,
memiliki dua makna. Pengertian pertama, oksidator adalah spesies kimia yang menghilangkan
elektron dari spesies lainnya. Ini adalah salah satu komponen dalam reaksi oksidasi-reduksi
(redoks). Pengertian lainnya, oksidator adalah spesies kimia yang memindahkan atom
elektronegatif, biasanya oksigen, ke dalam substrat. Pembakaran, ledakan pada umumnya, dan
reaksi redoks organik melibatkan reaksi perpindahan atom.

Contoh :

Cu2+ + SO42- + Fe ====> Cu + Fe2+ + SO42-

Reaksi kimia di atas terjadi antara larutan tembaga sulfat (copper sulfate / CuSO4) dengan logam
besi (Fe). Pada reaksi kimia di atas, logam besi Fe bertindak sebagai reduktor, yang mereduksi
ion logam tembaga (Cu2+) menjadi logamnya.

Ion tembaga (Cu2+) pada reaksi di atas bertindak sebagai oksidator, yang mengoksidasi logam Fe
menjadi ion Fe2+ yang membentuk larutan besi sulfat.

Reaksi reduksi adalah reaksi pelepasan atau pengurangan oksigen (O2) dari suatu zat. Dalam kehidupan
sehari-hari contoh reaksi reduksi adalah proses fotosintesis yang menghasilkan gas oksigen. Contoh
reaksi reduksi yang lainnya adalah 2SO3 (g) → 2 SO2 (g) + O2 (g) dan CO2 (g) → C (s) + O2 (g) .

Contoh :

Pernapasan seluler memungkinkan organisme untuk membebaskan energi yang tersimpan dalam
ikatan kimia glukosa; Anggap ini sebagai titik akhir mutlak dalam mendapatkan bahan bakar dari
makanan. Reaksi redoks yang seimbang adalah:

C6H12O6 + 6O2 → 6CO2 + 6H2O + 36ATP

Dimana ATP adenosin trifosfat, senyawa penyuplai energi sederhana yang mendorong berbagai
proses metabolisme lainnya. Dalam reaksi reduksi dan oksidasi ini, glukosa teroksidasi dan
oksigen tereduksi.
Reduktor adalah zat yang dapat mereduksi zat lain, atau zat yang mengalami oksidasi pada saat
bereaksi.

 Contoh : esi(II) teroksidasi menjadi besi(III)

 hidrogen peroksida tereduksi menjadi hidroksida dengan keberadaan sebuah asam:

H2O2 + 2 e− → 2 OH−

Persamaan keseluruhan reaksi di atas adalah:

2Fe2+ + H2O2 + 2H+ → 2Fe3+ + 2H2O

 denitrifikasi, nitrat tereduksi menjadi nitrogen dengan keberadaan asam:

2NO3− + 10e− + 12 H+ → N2 + 6H2O

 Besi akan teroksidasi menjadi besi(III) oksida dan oksigen akan tereduksi membentuk
besi(III) oksida (umumnya dikenal sebagai perkaratan):

4Fe + 3O2 → 2 Fe2O3

 Pembakaran hidrokarbon, contohnya pada mesin pembakaran dalam, menghasilkan air,


karbon dioksida, sebagian kecil karbon monoksida, dan energi panas. Oksidasi penuh
bahan-bahan yang mengandung karbonakan menghasilkan karbon dioksida.
 Dalam kimia organik, oksidasi seselangkah (stepwise oxidation) hidrokarbon
menghasilkan air, dan berturut-turutalkohol, aldehida atau keton, asam
2.
3. Hukum Perbandingan Tetap (Proust)
4. Pada tahun 1799, seorang ahli kimia Prancis bernama Joseph Louis
Proust (1754 – 1826) melakukan eksperimen yaitu dengan mereaksikan
unsur hidrogen dan unsur oksigen. Ia menemukan bahwa unsur hidrogen
dan unsur oksigen selalu bereaksi membentuk senyawa air dengan
perbandingan massa yang tetap, yaitu 1 : 8. Berikut ini adalah tabel hasil
percobaan Proust.
5. Tabel Hasil Eksperimen Proust
Massa zat sebelum reaksi Massa zat setelah reaksi
Sisa unsur yang tidak
Hidrogen (gram) Oksigen (gram) Air (gram)
bereaksi
1 8 9 0
2 8 9 1 gam hidrogen
1 9 9 1 gram oksigen
2 16 18 0
6.

7. Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa setiap 1 gram gas hidrogen


bereaksi dengan 8 gram oksigen menghasilkan 9 gram air. Hal ini
membuktikan bahwa massa hidrogen dan massa oksigen yang terkandung
dalam air memiliki perbandingan yang tetap yaitu 1 : 8, berapapun
banyaknya air yang terbentuk.
8.

9. Dari percobaan yang telah dilakukannya, Proust mengemukakan teorinya


yang terkenal dengan sebutan Hukum Perbandingan Tetap atau Hukum
Komposisi Tetap, yang berbunyi sebagai berikut.
Perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu senyawa adalah tertentu dan
tetap.
10. Dengan memakai pemahaman Hukum Perbandingan Tetap, definisi

senyawa dapat diperluas sebagai berikut.


Senyawa adalah zat yang terbentuk oleh dua atau lebih unsur yang berbeda jenis
dengan perbandingan massa unsur-unsur penyusunnya adalah tetap.
11.
Contoh :

2. Berapa gram NH3 yang terbentuk dari 14 g N2 dan 14 g H2? Diketahui


NH3 tersusun atas 82% N dan 18% H.
Penyelesaian
82% N2(g) + 18% H2(g) → 100% NH3(g)
Persen massa dapat diartikan sebagai perbandingan massa unsur-unsur yang
bersenyawa sesuai Hukum Kekekalan Massa, yaitu
82 g N2 tepat bereaksi dengan 18 g H2 membentuk 100 g NH3 .
Jika 14 g N2 yang bereaksi maka gas H2 yang diperlukan sebanyak:
14
g
N2 × 18 g
82 H2 = 3 g H2
g
N2
Berdasarkan persamaan reaksinya:
14g N2(g) + 3g H2(g) → 17g NH3(g)
(sesuai Hukum Kekekalan Massa)
Jadi, berat NH3 yang dihasilkan dari reaksi 14 g N2 dan 14 g H2 sama dengan 17 g.
Menurut Hukum Proust, senyawa memiliki komposisi yang tetap. Jadi, berapapun
H2 ditambahkan, yang bereaksi hanya 3 g berat dari H2. Sisanya, tetap sebagai gas
H2 sebanyak 11 g tidak bereaksi.

Hukum Kekekalan Massa (Lavoisier)


Antonie Laurent Lavoisier menerbitkan bukunya yang berjudul Traite Elementaire
de Chemie.Dalam buku tersebut, Lavoisier mengemukakan bahwa jika suatu
reaksi kimia dilakukan dalam tempat tertutup, sehingga tidak ada hasil reaksi yang
keluar dari tempat tersebut, ternyata massa zat sebelum reaksi dan sesudah
reaksi adalah tetap. Inilah yang disebut sebagai Hukum Kekekalan Massa. Hukum
Kekekalan Massa berbunyi:
Dalam sistem tertutup untuk setiap reaksi kimia, jumlah massa zat-zat sebelum
dan sesudah reaksi adalah sama.

Setelah menyatakan Hukum Kekekalan Massa, Lavoisier kemudian dikenal


sebagai Bapak Kimia Modern karena ia merupakan orang yang pertama kali
menggunakan metode ilmiah dalam ilmu kimia dan menekankan pentingnya
pengamatan kuantitatif dalam eksperimen.

Perubahan materi yang kita amati dalam kehidupan sehari-hari umumnya


berlangsung dalam wadah terbuka. Jika hasil reaksi ada yang berupa gas (seperti
pada pembakaran kertas), maka massa zat yang tertinggal menjadi lebih kecil
daripada massa semula.

Sebaliknya, jika reaksi mengikat sesuatu dari lingkungannya (misalnya oksigen),


maka hasil reaksi akan lebih besar daripada massa semula. Misalnya, reaksi
perkaratan besi (besi mengikat oksigen dari udara) sebagai berikut.
Besi yang mempunyai massa tertentu akan bereaksi dengan sejumlah oksigen di
udara membentuk senyawa baru besi oksida atau Fe2O3(s) yang massanya sama
dengan massa besi dan oksigen mula-mula.
Fe(s) + O2(g) → Fe2O3(s)

Contoh :

1. Kawat tembaga dibakar dalam pembakaran bunsen sehingga terbentuk


tembaga oksida (CuO). Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut.
2Cu(s) + O2(g) → 2CuO(s)
Jika berat Cu semula adalah 32 g dan CuO yang terbentuk 40 g, berapakah berat
O2 yang bereaksi?
Jawab
Menurut Hukum Kekekalan Massa, dalam reaksi kimia tidak terjadi perubahan
massa. Oleh karena itu, berat O2 yang bereaksi adalah 40 g – 32 g = 8 g.
32 g Cu(s) + 8 g O2(g) → 40 g CuO(s)

2. Unsur hidrogen dan oksigen bereaksi membentuk air (H2O) dengan


perbandingan 1 : 8. Apabila diketahui massa hidrogen yang bereaksi adalah 10
gram, hitunglah berapa massa air yang dihasilkan.
Jawab
massa H : massa O = 1 : 8
massa hidrogen yang bereaksi = 10 gram
sehingga perbandingannya 10 gram : massa O = 1 : 8
massa O = 8/1 × 10 gram = 80 gram.
Jadi, massa air yang dihasilkan = 10 gram + 80 gram = 90 gram.
10 g H2(g) + 80 g O2(g) → 90 g H2O(l)

Hukum Kelipatan Perbandingan Dalton


Dalton melakukan percobaan dengan mereaksikan unsur nitrogen yang massa
diubah-ubah dengan unsur oksigen yang massanya dibuat tetap. Data hasil
percobaan Dalton diperlihatkan dalam Tabel berikut ini.
Tabel Reaksi antara Nitrogen dengan Oksigen
Massa Nitrogen Massa Oksigen Massa Senyawa
Jenis Senyawa
yang Direaksikan yang Direaksikan yang Terbentuk
Nitrogen 0,875 gram
0,875 gram 1,00 gram
monoksida
Nitrogen 2,75 gram
1,75 gram 1,00 gram
dioksida
Dengan massa oksigen yang sama, ternyata perbandingan massa nitrogen dalam
senyawa nitrogen dioksida dan senyawa nitrogen monoksida merupakan bilangan
bulat dan sederhana. Perbandingannya adalah sebagai berikut.
Massa nitrogen dalam 1,75
2
senyawa NO2 gram
= =
Massa nitrogen dalam 0,87
1
senyawa NO2 gram

Berdasarkan hasil eksperimennya, John Dalton merumuskan Hukum Kelipatan


Perbandingan atau Hukum Perbandingan Berganda yang bunyinya adalah sebagai
berikut.
Jika dua jenis unsur bergabung membentuk lebih dari satu senyawa dan jika
massa-massa salah satu unsur dalam senyawa-senyawa tersebut sama (tetap)
sedangkan massa-massa unsur lainnya berbeda, maka perbandingan massa unsur
lainnya dalam senyawa-senyawa tersebut merupakan bilangan bulat dan
sederhana.
1. Perbandingan massa N dan O dalam senyawa NO dan NO2 adalah sebagai
berikut.
Massa
Pembentuk
Senyawa
(gram)
N O
NO 21 24
NO2 28 64
Buktikan apakah kedua rumus senyawa tersebut memenuhi Hukum Kelipatan
Perbandingan?
Jawab
Jika massa N pada senyawa NO disamakan dengan massa N pada senyawa
NO2 yaitu 28 gram, maka massa O pada NO dapat dihitung dengan rumus berikut
ini.
Massa O pada NO = 28/21 × 24 gram = 32 gram
Dengan demikian, perbandingan massa menjadi seperti berikut.
Massa
Pembentuk
Senyawa
(gram)
N O
NO 28 32
NO2 28 64
Dari perbandingan ini, untuk perbandingan massa N yang sama ternyata
perbandingan massa oksigennya 32 : 64 atau 1 : 2 yang merupakan bilangan bulat
dan sederhana. Dengan demikian, kedua rumus tersebut telah memenuhi Hukum
Kelipatan Perbandingan.

2. Dua buah senyawa dibentuk oleh unsur P dan Q dengan perbandingan massa
sebagai berikut.
% Massa
Senyawa Unsur
P Q
I 80 20
II 66,5 33,5
Apakah rumus senyawa sesuai dengan Hukum Perbandingan Berganda?
Jawab
Misalkan massa senyawa = 100 gram, maka
Untuk Senyawa I
Massa P = 80/100 × 100 gram = 80 gram
Massa Q = 20/100 × 100 gram = 20 gram
Untuk Senyawa II
Massa P = 66,5/100 × 100 gram = 66,5 gram
Massa Q = 33,5/100 × 100 gram = 33,5 gram
Dengan demikian, data di atas menjadi seperti berikut.
Massa
Unsur
Senyawa
(gram)
P Q
I 80 20
II 66,5 33,5
Agar salah satu unsur massanya sama, misalkan unsur Q disamakan menjadi 20
gram, maka:
Massa P pada senyawa II = 20/33,5 × 66,5 gram = 40 gram
Sehingga data tersebut menjadi.
Massa
Unsur
Senyawa
(gram)
P Q
I 80 20
II 40 20
Untuk massa Q yang sama, perbandingan PI dan PII adalah 80 : 40 atau 2 : 1 yang
merupakan bilangan bulat dan sederhana. Jadi, rumus senyawa tersebut
memenuhi Hukum Kelipatan Perbandingan.

Hukum Perbandingan Volume Gay Lussac


Pada tahun 1808, seorang ahli kimia Prancis bernama Joseph Louis-Gay
Lussac mengamati volume gas-gas yang terlibat dalam suatu reaksi seperti gas
hidrogen (H2), oksigen (O2), klorin (Cl2) dan Nitrogen (N2). Pengamatan
menunjukkan bahwa pada reaksi pengukuran temperatur dan tekanan yang sama
diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel Hasil Percobaan I Volume H2 Tetap
V H2 V O2 V H2O
20 mL 5 mL 10 mL
20 mL 10 mL 20 mL
20 mL 15 mL 20 mL
20 mL 20 mL 20 mL

Tabel Hasil Percobaan II Volume O2 Tetap


V H2 V O2 V H2O
10 mL 10 mL 10 mL
15 mL 10 mL 15 mL
20 mL 10 mL 20 mL
25 mL 20 mL 20 mL

Dalam eksperimen I, pada saat volume O2 10 mL dan seterusnya, volume H2O tidak
berubah yaitu 20 mL. Demikian pula pada eksperimen II, volume H2O tidak
berubah lagi (20 mL) setelah volume H2 mencapai 20 mL (volume O2 = 10 mL).
Dengan demikian, Gay Lussac menemukan bahwa perbandingan volume hidrogen
: oksigen : uap air adalah 2 : 1 : 2 dengan persamaan reaksi sebagai berikut.
20 mL gas H2 + 10 mL gas O2 → 20 mL H2O

Sejalan dengan percobaan tersebut, reaksi gas-gas lain juga diukur perbandingan
volumenya, seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut ini.
Tabel Perbandingan Volume Gas-Gas dalam Reaksi
Persamaan Reaksi Perbandingan Volume
H2(g) + Cl2(g) → 2HCl(g) 10 mL : 10 mL : 20 mL
3H2(g) + N2(g) → 2NH3(g) 15 mL : 5 mL : 10 mL
N2(g) + 2O2(g) → 2NO2(g) 10 mL : 20 mL : 20 mL

Berdasarkan data perbandingan volume gas-gas yang bereaksi, Gay Lussac


merumuskan Hukum Perbandingan Volume (Hukum Gay-Lussac) yang bunyinya
adalah seabagai berikut.
Pada suhu dan tekanan yang sama (tetap), perbandingan volume gas-gas yang
bereaksi dan volume gas-gas hasil reaksi merupakan bilangan bulat dan
sederhana.
Pada suhu dan tekanan yang sama, artinya pada wujud gas, volume gas-gas
tersebut berbanding sebagai bilangan bulat dan sederhana. Bulat mengandung
arti bilangan bulat. Sederhana menunjukkan bilangan tersebut di bawah angka 10.
Oleh karena perbandingan volume gas-gas tersebut sesuai dengan perbandingan
koefisien gas-gas, maka dapat dikatakan.
Perbandingan koefisien reaksi =
perbandingan volume gas

Karena perbandingan volume gas-gas sesuai dengan koefisien reaksi masing-


masing gas, maka untuk dua buah gas, misalnya gas A dan gas B yang terlibat
dalam suatu persamaan reaksi, berlaku hubungan sebagai berikut.
Volume Koefisien
A A
=
Volume Koefisien
B B
Koefisien
Volume A Volume
= ×
A Koefisien B
B

Contoh :

1. Sepuluh mL gas nitrogen (N2) dan 15 mL gas oksigen (O2) tepat habis bereaksi
menjadi 10 mL gas NaOb. Tentukan rumus kimia gas NaOb tersebut!
Jawab
Perbandingan koefisien = perbandingan volume
Koefisien N2 : O2 : NaOb = 10 : 15 : 10 = 2 : 3 : 2
Dengan demikian, persamaan reaksinya dapat kita tulis sebagai berikut.
2N2 + 3O2 → 2NaOb
Karena jumlah atom di ruas kiri dan ruas kanan itu sama, maka harga indeks a dan
b dapat dicari dengan cara sebagai berikut.
Jumlah atom N kiri = jumlah atom N kanan
2 × 2 = 2a
4 = 2a
a=2
Jumlah atom O kiri = jumlah atom O kanan
3 × 2 = 2b
6 = 2b
b=3
Dengan demikian, rumus kimia senyawa tersebut adalah N2O3.

2. Ke dalam tabung eudiometer dimasukkan gas O2 dan gas SO2, kemudian


dilewatkan bunga api listrik. Pada suhu 25°C dan tekanan 1 atm, volume gas-gas
yang bereaksi diukur. Hasilnya ditunjukkan pada tabel berikut.
Pada volume O2 tetap:
Percobaan ke- Volume O2 Volume SO2 Volume SO3
1 10 mL 10 mL 10 mL
2 10 mL 15 mL 15 mL
3 10 mL 20 mL 20 mL
4 10 mL 25 mL 20 mL

Pada volume SO2 tetap:


Percobaan ke- Volume O2 Volume SO2 Volume SO3
1 5 mL 20 mL 10 mL
2 10 mL 20 mL 20 mL
3 15 mL 20 mL 20 mL
4 20 mL 20 mL 20 mL

■ Bagaimana perbandingan volume SO : O : SO ? Apakah sesuai dengan Hukum


2 2 3

Perbandingan Volume?
■ Tuliskan persamaan reaksinya beserta koefisien reaksi berdasarkan hasil
percobaan.
Jawab
Pada volume O2 tetap
Cermati percobaan ke-3, volume SO3 tidak berubah lagi saat volume SO2 mencapai
20 mL.
Pada volume SO2 tetap
Cermati percobaan ke-2, volume SO3 tidak berubah lagi saat volume O2 mencapai
10 mL.
■ Perbandingan volume SO : O : SO adalah 2 2 3

SO2 + O2 → SO3
20 mL : 10 mL : 20 mL
Jadi, SO2 : O2 : SO3 = 2 : 1 : 2
Dengan demikian, data tersebut sesuai dengan Hukum Gay-Lussac.
■ Persamaan reaksi yang terjadi adalah
2SO2(g)+ O2(g)→ 2SO3(g)

Hukum (Hipotesis) Avogadro


Baca Juga:

 Contoh Soal Penerapan Hukum Gay Lussac, Avogadro & Konsep Mol dalam Perhitungan Kimia
 Kumpulan Contoh Soal + Pembahasan Stoikiometri Reaksi Kimia Lengkap Bagian 5
 5 Hukum Dasar Kimia, Bunyi, Rumus, Contoh Soal dan Pembahasan 2

Pada awalnya, Hukum Gay Lussac tidak dapat dijelaskan oleh para ilmuwan
termasuk John Dalton, sang pencetus teori atom. Ketidakmampuan Dalton karena
ia menganggap partikel unsur selalu berupa atom tunggal (monoatomik).
Kemudian pada tahun 1811, seorang ahli Fisika dari Italia bernama Amadeo
Avogadro melanjutkan eksperimen yang telah dilakukan oleh Gay Lussac.

Avogadro mengaitkan perbandingan volume gas dalam reaksi dengan jumlah


partikel. Avogadro berpendapat suatu gas seperti hidrogen, oksigen dan nitrogen
yang bereaksi berupa molekul diatomik bukan monoatomik sehingga rumus
kimianya adalah H2, O2 dan N2 bukan H, O dan N. Percobaan dari Gay Lussac
dituliskan oleh Avogadro sebagai berikut.
Gay Lussac:
2 volume gas hidrogen + 1 volume gas oksigen → 2 volume uap air
Avogadro:
2 molekul gas hidrogen + 1 molekul gas oksigen → 2 molekul uap air
2H2(g) + O2(g) → 2H2O(g)

Berdasarkan penulisan tersebut, 2 molekul uap air dapat dibentuk dengan


mereaksikan 2 molekul hidrogen dengan 1 molekul oksigen. Dari sini Avogadro
mengajukan hipotesis yang dikenal sebagai Hipotesis Avogadro yang berbunyi
sebagai berikut.
Pada suhu dan tekanan yang sama , semua gas dengan volume yang sama
akan mengandung jumlah molekul yang sama pula.

Makna hipotesis tersebut dapat diartikan bahwa pada suhu dan tekanan yang
sama, perbandingan volume gas-gas yang bereaksi menunjukkan perbandingan
molekul-molekulnya. Sebagai gambaran, tinjau reaksi antara gas N2 dan gas
O2 menghasilkan gas NO2 berikut ini.
■ 1 volume N + 2 volume O → 2 volume NO
2 2 2

■ 1 molekul N + 2 molekul O → 2 molekul NO


2 2 2

■ n molekul N + 2n molekul O → 2n molekul NO


2 2 2

Apabila reaksi yang diukur pada suhu dan tekanan yang sama, jumlah molekul
O2 yang bereaksi adalah dua kali jumlah molekul N2 (volumenya 2×) dan jumlah
molekul NO2 yang dihasilkan adalah dua kali jumlah molekul N2 atau sama dengan
jumlah molekul O2. Oleh karena hipotesis Avogadro dapat diterima kebenarannya
dan dapat dibuktikan kapanpun dan oleh siapapun, maka hipotesis tersebut telah
dikukuhkan sebagai Hukum Avogadro.

Dari semua penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perbandingan


volume sebanding dengan perbandingan koefisien, sehingga perbandingan
koefisien juga menyatakan perbandingan jumlah molekul sesuai dengan konsep
Hukum Avogadro.
Perbandingan koefisien
Hukum reaksi sama

Avogadro dengan perbandingan
jumlah molekul

Apabila Hukum Perbandingan Volume Gay Lussac kita gabungkan dengan Hukum
Avogadro maka untuk suhu dan tekanan yang sama, kita peroleh hubungan
antara perbandingan volume, jumlah molekul dan koefisien reaksi sebagai
berikut.
Perbandingan volume = perbandingan molekul
= perbandingan koefisien

Contoh :

1. Pada suhu dan tekanan tertentu, gas N2 direaksikan dengan gas H2 menjadi gas
NH3. Jika gas H2 yang bereaksi sebanyak 7,5 × 1023 molekul, berapakah jumlah
molekul NH3 yang terbentuk?
Jawab
■ Pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas yang volumenya sama akan
mengandung jumlah molekul yang sama (menurut Avogadro)
■ Koefisien reaksi menyatakan perbandingan volume gas-gas yang bereaksi
(menurut Gay Lussac).
■ Persamaan reaksi kimia dari reaksi N dan H dapat dituliskan sebagai berikut.
2 2

H2(g) + N2(g) → NH3(g) [belum setara]


Baca: Cara Mudah Menyetarakan Persamaan Reaksi Kimia.
3H2(g) + N2(g) → 2NH3(g) [setara]

Dari soal diketahui bahwa gas H2 yang bereaksi sebanyak 7,5 × 1023 molekul dan
berdasarkan persamaan reaksi kimia di atas, koefisien H2 adalah 3. Hal ini
mengandung pengertian bahwa dalam 3 volume H2 terkandung 7,5 × 1023 molekul
maka dalam 2 volume NH3 terkandung:
⇔ (2 volume NH3/3 volume H2) × 7,5 × 1023 molekul H2
⇔ (2/3) × 7,5 × 1023 = 5,0 × 1023
Jadi, jumlah molekul NH3 yang terbentuk adalah sebanyak 5,0 × 1023 molekul.

2. Diketahui 0,5 liter gas hidrokarbon CxHy tepat bereaksi dengan 1,75 liter gas
oksigen menghasilkan 1 liter gas karbon dioksida dan 1,5 liter uap air. Semuanya
diukur pada suhu dan tekanan yang sama. Tentukan rumus gas hidrokarbon
tersebut!
Jawab:
CxHy(g) + O2(g) → CO2(g) + H2O(g)
Perbandingan volume antara gas hidrokarbon, oksigen, karbon dioksida dan uap
air adalah sebagai berikut.
⇔ CxHy : O2 : CO2 : H2O = 0,5 L : 1,75 L : 1 L : 1,5 L
⇔ CxHy : O2 : CO2 : H2O = 2 : 7 : 4 : 6
Karena perbandingan volume = perbandingan koefisien, maka persamaan reaksi
kimia di atas bisa kita tuliskan sebagai berikut.
2CxHy(g) + 7O2(g) → 4CO2(g) + 6H2O(g)
Kemudian, kita samakan jumlah atom di ruas kiri dengan jumlah atom di ruas
kanan sebagai berikut.
■ Jumlah atom C di kiri = jumlah atom C di kanan
2x = 4
x=2
■ Jumlah atom H di kiri = jumlah atom H di kanan
2y = 12
y=6
Dengan demikian, rumus gas hidrokarbon tersebut adalah C2H6.

3.