Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PEDAHULUAN PADA PASIEN SPONDILITIS TUBERCULOSA

DISUSUN OLEH :

Nama: Risdia Astrid


NIM: 1911102412021

PROGRAM PROFESI NERS

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KALIMANTAN TIMUR

2019
LAPORAN PENDAHULUAN SPONDILITIS TUBERCULOSA

A. Pengertian
Spondilitis tuberculosa adalah infeksi yang sifatnya kronis berupa
infeksi granulomatosis di sebabkan oleh kuman spesifik yaitu mycubacterium
tuberculosa yang mengenai tulang vertebra (Abdurrahman, et al 1994; 144 )
Spondilitis tuberculosa adalah infeksi yang sifatnya kronis berupa
infeksi granulomatosis di sebabkan oleh kuman spesifik yaitu mycubacterium
tuberculosa yang mengenai tulang vertebra.
Spondilitis TB disebut juga penyakit Pott bila disertai paraplegi atau
defisit neurologis. Spondilitis ini paling sering ditemukan pada vertebra Th 8-
L3 dan paling jarang pada vertebra C2. Spondilitis TB biasanya mengenai
korpus vertebra, sehingga jarang menyerang arkus vertebra (Brunner &
Suddarth, 2012).
Spondilitis tuberkulosa adalah infeksi tuberkulosis ekstra pulmonal
yang bersifat kronis berupa infeksi granulomatosis disebabkan oleh kuman
spesifik yaitu Mycobacterium tuberculosa yang mengenai tulang vertebra
sehingga dapat menyebabkan destruksi tulang, deformitas dan paraplegia
(Tandiyo, 2010).

B. Etiologi
Tuberkulosis tulang belakang merupakan infeksi sekunder dari
tuberkulosis di tempat lain di tubuh, 90-95% disebabkan oleh mikobakterium
tuberkulosis tipik (2/3 dari tipe human dan 1/3 dari tipe bovin) dan 5-10%
oleh mikobakterium tuberkulosa atipik. Kuman ini berbentuk batang,
mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh
karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TB cepat
mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa
jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat
dorman, tertidur lama selama beberapa tahun(Tandiyo, 2010).
C. Manifestasi Klinis
Kelainan neurologis yang terjadi pada 50 % kasus spondilitis
tuberkulosa karena proses destruksi lanjut berupa:
a. Paraplegia, paraparesis, atau nyeri radix saraf akibat penekanan
medula spinalis yang menyebabkan kekakuan pada gerakan berjalan dan
nyeri.
b. Gambaran paraplegia inferior kedua tungkai yang bersifat UMN
dan adanya batas defisit sensorik setinggi tempat gibbus atau lokalisasi nyeri
interkostal (Tachdjian, 2005).
Secara klinik gejala tuberkulosis tulang belakang hampir sama dengan
gejala tuberkulosis pada umumnya, yaitu badan lemah/lesu, nafsu makan
berkurang, berat badan menurun, suhu sedikit meningkat (subfebril) terutama
pada malam hari serta sakit pada punggung. Pada anak-anak sering disertai
dengan menangis pada malam hari. Pada awal dapat dijumpai nyeri radikuler
yang mengelilingi dada atau perut, kemudian diikuti dengan paraparesis yang
lambat laun makin memberat, spastisitas, klonus, hiper-refleksia dan refleks
babinski bilateral (Hidalgo, 2006).
Pada stadium awal belum ditemukan deformitas tulang vertebra dan
belum terdapat nyeri ketok pada vertebra yang bersangkutan. Nyeri spinal
yang menetap, terbatasnya pergerakan spinal, dan komplikasi neurologis
merupakan tanda terjadinya destruksi yang lebih lanjut. Kelainan neurologis
terjadi pada sekitar 50% kasus, termasuk akibat penekanan medulla spinalis
yang menyebabkan paraplegia, paraparesis, ataupun nyeri radix saraf. Tanda
yang biasa ditemukan di antaranya adalah adanya kifosis (gibbus), bengkak
pada daerah paravertebra, dan tanda-tanda defisit neurologis seperti yang
sudah disebutkan di atas (Craig, 2009).
Pada tuberkulosis vertebra servikal dapat ditemukan nyeri dan kekakuan
di daerah belakang kepala, gangguan menelan dan gangguan pernapasan
akibat adanya abses retrofaring. Harus diingat pada mulanya penekanan mulai
dari bagian anterior sehingga gejala klinis yang muncul terutama gangguan
motorik. Gangguan sensorik pada stadium awal jarang dijumpai kecuali bila
bagian posterior tulang juga terlibat (Wheeles, 2011).

D. Patofiiologi
Basil TB masuk ke dalam tubuh sebagian besar melalui traktus
respiratorius. Pada saat terjadi infeksi primer, karena keadaan umum yang
buruk maka dapat terjadi basilemia. Penyebaran terjadi secara hematogen.
Basil TB dapat tersangkut di paru, hati limpa, ginjal dan tulang. Enam hingga
delapan minggu kemudian, respons imunologik timbul dan fokus tadi dapat
mengalami reaksi selular yang kemudian menjadi tidak aktif atau mungkin
sembuh sempurna. Vertebra merupakan tempat yang sering terjangkit
tuberkulosis tulang. Penyakit ini paling sering menyerang korpus vertebra.
Penyakit ini pada umumnya mengenai lebih dari satu vertebra. Infeksi berawal
dari bagian sentral, bagian depan, atau daerah epifisial korpus vertebra.
Kemudian terjadi hiperemi dan eksudasi yang menyebabkan osteoporosis dan
perlunakan korpus. Selanjutnya terjadi kerusakan pada korteks epifise, discus
intervertebralis dan vertebra sekitarnya. Kerusakan pada bagian depan korpus
ini akan menyebabkan terjadinya kifosis yang dikenal sebagai gibbus.
Berbeda dengan infeksi lain yang cenderung menetap pada vertebra yang
bersangkutan, tuberkulosis akan terus menghancurkan vertebra di dekatnya
(Alfarisi, 2011)
Kemudian eksudat (yang terdiri atas serum, leukosit, kaseosa, tulang
yang fibrosis serta basil tuberkulosa) menyebar ke depan, di bawah
ligamentum longitudinal anterior dan mendesak aliran darah vertebra di
dekatnya. Eksudat ini dapat menembus ligamentum dan berekspansi ke
berbagai arah di sepanjang garis ligament yang lemah (Alfarisi, 2011).
Pada daerah servikal, eksudat terkumpul di belakang fasia
paravertebralis dan menyebar ke lateral di belakang muskulus
sternokleidomastoideus. Eksudat dapat mengalami protrusi ke depan dan
menonjol ke dalam faring yang dikenal sebagai abses faringeal. Abses dapat
berjalan ke mediastinum mengisi tempat trakea, esophagus, atau kavum
pleura. Abses pada vertebra torakalis biasanya tetap tinggal pada daerah toraks
setempat menempati daerah paravertebral, berbentuk massa yang menonjol
dan fusiform. Abses pada daerah ini dapat menekan medulla spinalis sehingga
timbul paraplegia. Abses pada daerah lumbal dapat menyebar masuk
mengikuti muskulus psoas dan muncul di bawah ligamentum inguinal pada
bagian medial paha. Eksudat juga dapat menyebar ke daerah krista iliaka dan
mungkin dapat mengikuti pembuluh darah femoralis pada trigonum skarpei
atau regio glutea (Qittun, 2008).
Abses tuberkulosis biasanya terdapat pada daerah vertebra torakalis atas
dan tengah, tetapi yang paling sering pada vertebra torakalis XII. Bila
dipisahkan antara yang menderita paraplegia dan nonparaplegia maka
paraplegia biasanya pada vertebra torakalis X sedang yang non paraplegia
pada vertebra lumbalis. Penjelasan mengenai hal ini sebagai berikut : arteri
induk yang mempengaruhi medulla spinalis segmen torakal paling sering
terdapat pada vertebra torakal VIII sampai lumbal I sisi kiri. Trombosis arteri
yang vital ini akan menyebabkan paraplegia. Faktor lain yang perlu
diperhitungkan adalah diameter relatif antara medulla spinalis dengan kanalis
vertebralisnya. Intumesensia lumbalis mulai melebar kira-kira setinggi
vertebra torakalis X, sedang kanalis vertebralis di daerah tersebut relatif kecil.
Pada vertebra lumbalis I, kanalis vertebralisnya jelas lebih besar oleh karena
itu lebih memberikan ruang gerak bila ada kompresi dari bagian anterior
(Qittun, 2008).
E. Pathway Spondialisis TB

MK : GANGGUAN
CITRA TUBUH
Sumber ; Alfarisi, 2011

F. Klasifikasi Perjalanan Infeksi TB

Bakteri TB menyebar di dalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan dan


saluran cerna, denga perjalanan infeksi berlangsung dalam 4 fase (Ramachandran &
Paramaisvan, 2003 dalam Moesbar, 2006):
1. Fase Primer
Basil masuk melalui saluran pernafasan sampai ke alveoli. Jaringan paru
timbul reaksi radang yang melibatkan sistem pertahanan tubuh, dan membentuk
afek primer. Bila basil terbawa ke kelenjar limfoid hilus, maka akan timbul
limfadenitis primer, suatu granuloma sel epiteloid dan nekrosis perkijuan. Afek
primer dan limfadenitis primer disebut kompleks primer. Sebagian kecil dapat
mengalami resolusi dan sembuh tanpa meninggalkan bekas atau sembuh melalui
fibrosis dan kalsifikasi.
2. Fase Miliar
Kompleks primer mengalami penyebaran miliar, suatu penyebaran
hematogen yang menimbulkan infeksi diseluruh paru dan organ lain. Penyebaran
bronkogen menyebarkan secara langsung kebagian paru lain melalui bronkus
dan menimbulkan bronkopneumonia tuberkulosa. Fase ini dapat berlangsung
terus sampai menimbulkan kematian, mungkin juga dapat sembuh sempurna
atau menjadi laten atau dorman.
3. Fase Laten
Kompleks primer ataupun reaksi radang ditempat lain dapat mengalami
resolusi dengan pembentukan jaringan parut sehingga basil menjadi dorman.
Fase ini berlangsung pada semua organ yang terinfeksi selama bertahun tahun.
Bila terjadi perubahan daya tahan tubuh maka kuman dorman dapat mengalami
reaktivasi memasuki fase ke 4, fase reaktivasi. Bila bakteri TB memasuki tulang
belakang maka bakteri TB berdublikasi dan berkoloni kemudian mendestruksi
korpus vetebra dan terjadi penyempitan ringan pada diskus. Setelah itu, terjadi
destruksi massif pada korpus vetebra dan terbentuk abses dingin yang kemudian
terjadi kerusakan pada diskus intervetebralis dan terbentuk gibus (penonjolan
tulang) sehingga bentuk badan kifosis (Agrawal, Patgaonkar, & Nagariya, 2010).
4. Fase Reaktivasi

Fase reaktivasi dapat terjadi di paru atau diluar paru. Pada paru, reaktifasi
penyakit ini dapat sembuh tanpa bekas, sembuh dengan fibrosis dan kalsifikasi
atau membentuk kaverne dan terjadi bronkiektasi. Reaktivasi sarang infeksi
dapat menyerang berbagai organ selain paru. Ginjal merupakan organ kedua
yang paling sering terinfeksi ; selanjutnya kelenjar limfe, tulang, sendi, otak,
kelenjar adrenal, dan saluran cerna. Tuberkulosa kongenital dapat ditemukan
pada bayi, ditularkan melalui vena umbilical atau cairan amnion ibu yang
terinfeksi(Agrawal, Patgaonkar, & Nagariya, 2010).

G. Komplikasi
Komplikasi yang paling serius dari spondilitis TB adalah Pott’s
paraplegia. Pada stadium awal spondilitis TB, munculnya Pott’s paraplegia
disebabkan oleh tekanan ekstradural pus maupun sequester atau invasi
jaringan granulasi pada medula spinalis dan jika Pott’s paraplegia muncul
pada stadium lanjut spondilitis TB maka itu disebabkan oleh terbentuknya
fibrosis dari jaringan granulasi atau perlekatan tulang ( ankilosing ) di atas
kanalis spinalis.
Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah ruptur dari abses
paravertebra torakal ke dalam pleura sehingga menyebabkan empiema
tuberkulosis, sedangkan pada vertebra lumbal maka nanah akan turun ke otot
iliopsoas membentuk psoas abses yang merupakan cold abcess (Alfarisi,
2011).

H. Pemeriksaan Diagnostik

a. Pemeriksaan Laboratorium
1. Peningkatan laju endapan darah (LED) dan mungkin disertai
mikrobakterium
2. Uji mantoux positif
3. Pada pemeriksaan biakan kuman mungkin ditemukan
mikrobakterium
4. Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limpe regional
5. Pemeriksaan histopatologis dapat ditemukan tuberkelPemeriksaan
Radiologis
b. Pemeriksaan Radiologis
1. Foto thoraks untuk melihat adanya tuberculosis paru
2. Foto polos vertebra ditemukan osteoporosis disertai penyempitan
diskus intervertebralis yang berada di korpus tersebut
3. Pemeriksaan mieleografi dilakukan bila terdapat gejala-gejala
penekanan sumsum tulang
4. Foto CT Scan dapat memberikan gambaran tulangsecara lebih detail
dari lesi, skelerosisi, kolap diskus dan gangguan sirkumferensi tulang
5. Pemeriksaan MRI mengevaluasi infeksi diskus intervetebra dan
osteomielitis tulang belakang dan adanya menunjukan penekanan
saraf (Brunner & Suddarth, 2012).

I. Penatalaksanaan
Pada prinsipnya pengobatan tuberkulosis tulang belakang harus
dilakukan sesegera mungkin untuk menghentikan progresivitas penyakit serta
mencegahparaplegia.
Prinsip pengobatan paraplegia Pott adalah:
1. Pemberian obat antituberkulosis
2. Dekompresi medulla spinalis
3. Menghilangkan/ menyingkirkan produk infeksi
4. Stabilisasi vertebra dengan graft tulang (bone graft)
Penatalaksanaan pada pasien spondilitis TB terdiri atas:
1. Terapi konservatif berupa:
 Tirah baring (bed rest)
 Memberi korset yang mencegah gerakan vertebra /membatasi gerak
vertebra
 Memperbaiki keadaan umum penderita
 Pengobatan antituberkulosa
Standar pengobatan di indonesia berdasarkan program P2TB paru adalah :
a. Kategori 1
Untuk penderita baru BTA (+) dan BTA (-) / rontgen (+), diberikan
dalam 2 tahap:
 Tahap 1:
Rifampisin 450 mg + Etambutol 750 mg + INH 300 mg +
Pirazinamid 1500 mg
Obat ini diberikan setiap hari selama 2 bulan pertama (60 kali).
 Tahap 2:
Rifampisin 450 mg + INH 600 mg
Diberikan 3 kali seminggu (intermitten) selama 4 bulan (54 kali).

b. Kategori 2
Untuk penderita BTA(+) yang sudah pernah minum obat selama
sebulan, termasuk penderita dengan BTA (+) yang kambuh/gagal yang
diberikan dalam 2 tahap yaitu :
 Tahap I
Streptomisin 750 mg + INH 300 mg + Rifampisin 450 mg +
Pirazinamid 1500mg + Etambutol 750 mg
Obat ini diberikan setiap hari. Untuk Streptomisin injeksi hanya 2
bulan pertama (60 kali) dan obat lainnya selama 3 bulan (90 kali).
 Tahap 2
INH 600 mg + Rifampisin 450 mg + Etambutol 1250 mg
Obat ini diberikan 3 kali seminggu (intermitten) selama 5 bulan (66
kali).
Kriteria penghentian pengobatan yaitu apabila keadaan umum penderita
bertambah baik, laju endap darah menurun dan menetap, gejala-gejala klinis
berupa nyeri dan spasme berkurang serta gambaran radiologik ditemukan
adanya union pada vertebra.
2. Terapi operatif
Indikasi dilakukannya tindakan operasi adalah:
 Bila dengan terapi konservatif tidak terjadi perbaikan paraplegia atau
malah semakin berat. Biasanya tiga minggu sebelum tindakan operasi
dilakukan, setiap spondilitis tuberkulosa diberikan obat
tuberkulostatik.
 Adanya abses yang besar sehingga diperlukan drainase abses secara
terbuka dan sekaligus debrideman serta bone graft.
 Pada pemeriksaan radiologis baik dengan foto polos, mielografi
ataupun pemeriksaan CT dan MRI ditemukan adanya penekanan
langsung pada medulla spinalis.
Walaupun pengobatan kemoterapi merupakan pengobatan utama bagi
penderita tuberkulosis tulang belakang, namun tindakan operatif masih
memegang peranan penting dalam beberapa hal, yaitu bila terdapat cold abses
(abses dingin), lesi tuberkulosa, paraplegia dan kifosis.
a. Abses Dingin (Cold Abses)
Cold abses yang kecil tidak memerlukan tindakan operatif oleh
karena dapat terjadi resorbsi spontan dengan pemberian
tuberkulostatik. Pada abses yang besar dilakukan drainase bedah. Ada
tiga cara menghilangkan lesi tuberkulosa, yaitu:
a. Debrideman fokal
b. Kosto-transveresektomi
c. Debrideman fokal radikal yang disertai bone graft di bagian
depan.
Paraplegia
b. Paraplegia
Penanganan yang dapat dilakukan pada paraplegia, yaitu:
a. Pengobatan dengan kemoterapi semata-mata
b. Laminektomi
c. Kosto-transveresektomi
d. Operasi radikal
e. Osteotomi pada tulang baji secara tertutup dari belakang
c. Kifosis
Operasi pada pasien kifosis dilakukan dengan 2 cara:
1. Operasi kifosis
Operasi kifosis dilakukan bila terjadi deformitas yang hebat,.
Kifosis mempunyai tendensi untuk bertambah berat terutama pada
anak-anak. Tindakan operatif dapat berupa fusi posterior atau
melalui operasi radikal.
2. Operasi PSSW
Operasi PSSW adalah operasi fraktur tulang belakang dan
pengobatan tbc tulang belakang yang disebut total treatment.
Metode ini mengobati tbc tulang belakang berdasarkan masalah dan
bukan hanya sebagai infeksi tbc yang dapat dilakukan oleh semua dokter.
Tujuannya, penyembuhan TBC tulang belakang dengan tulang belakang
yang stabil, tidak ada rasa nyeri, tanpa deformitas yang menyolok dan
dengan kembalinya fungsi tulang belakang, penderita dapat kembali ke
dalam masyarakat, kembali pada pekerjaan dan keluarganya (Alfarisi, 2011).
PROSES KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Proses keperawatan adalah suatu sistem dalam merencanakan pelayanan

asuhan keperawatan dan juga sebagai alat dalam melaksanakan praktek

keperawatan yang terdiri dari lima tahap yang meliputi : pengkajian,

penentuan diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

1. Pengkajian.

Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses

keperawatan. Pengkajian di lakukan dengan cermat untuk mengenal

masalah klien, agar dapat memeri arah kepada tindakan keperawatan.

Keberhasilan proses keperawatan sangat tergantung pada kecermatan dan

ketelitian dalam tahap pengkajian. Tahap pengkajian terdiri dari tiga

kegiatan yaitu : pengumpulan data, pengelomp[okan data, perumusan

diagnosa keperawatan.

a. Pengumpulan data.

Secara tehnis pengumpulan data di lakukan melalui anamnesa

baik pada klien, keluarga maupun orang terdekat dengan klien.

Pemeriksaan fisik di lakukan dengan cara , inspeksi, palpasi, perkusi

dan auskultasi.

1) Identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan,

status perkawinan, agama, suku bangsa, pendidikan, alamat,


tanggal/jam MRS dan diagnosa medis.

2) Riwayat penyakit sekarang.

Keluhan utama pada klien Spodilitis tuberkulosa terdapat

nyeri pada punggung bagian bawah, sehingga mendorong klien

berobat kerumah sakit. Pada awal dapat dijumpai nyeri

radikuler yang mengelilingi dada atau perut. Nyeri dirasakan

meningkat pada malam hari dan bertambah berat terutama pada

saat pergerakan tulang belakang. Selain adanya keluhan utama

tersebut klien bisa mengeluh, nafsu makan menurun, badan

terasa lemah, sumer-sumer (Jawa) , keringat dingin dan

penurunan berat badan.

3) Riwayat penyakit dahulu

Tentang terjadinya penyakit Spondilitis tuberkulosa

biasany pada klien di dahului dengan adanya riwayat pernah

menderita penyakit tuberkulosis paru.

4) Riwayat kesehatan keluarga.

Pada klien dengan penyakit Spondilitis tuberkulosa salah

satu penyebab timbulnya adalah klien pernah atau masih

kontak dengan penderita lain yang menderita penyakit

tuberkulosis atau pada lingkungan keluarga ada yang menderita

penyakit menular tersebut.


5) Riwayat psikososial

Klien akan merasa cemas terhadap penyakit yang di

derita, sehingga kan kelihatan sedih, dengan kurangnya

pengetahuan tentang penyakit, pengobatan dan perawatan

terhadapnya maka penderita akan merasa takut dan bertambah

cemas sehingga emosinya akan tidak stabil dan mempengaruhi

sosialisai penderita.

6) Pola - pola fungsi kesehatan

a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat.

Adanya tindakan medis serta perawatan di rumah

sakit akan mempengaruhi persepsi klien tentang kebiasaan

merawat diri , yang dikarenakan tidak semua klien mengerti

benar perjalanan penyakitnya. Sehingga menimbulkan salah

persepsi dalam pemeliharaan kesehatan. Dan juga

kemungkinan terdapatnya riwayat tentang keadaan

perumahan, gizi dan tingkat ekonomi klien yang

mempengaruhi keadaan kesehatan klien.

b. Pola nutrisi dan metabolisme.

Akibat dari proses penyakitnya klien merasakan

tubuhnya menjadi lemah dan amnesia. Sedangkan kebutuhan

metabolisme tubuh semakin meningkat, sehingga klien akan


mengalami gangguan pada status nutrisinya.

c. Pola eliminasi.

Klien akan mengalami perubahan dalam cara

eliminasi yang semula bisa ke kamar mandi, karena lemah

dan nyeri pada punggung serta dengan adanya penata

laksanaan perawatan imobilisasi, sehingga kalau mau BAB

dan BAK harus ditempat tidur dengan suatu alat. Dengan

adanya perubahan tersebut klien tidak terbiasa sehingga

akan mengganggu proses aliminasi.

d. Pola aktivitas.

Sehubungan dengan adanya kelemahan fisik dan

nyeri pada punggung serta penatalaksanaan perawatan

imobilisasi akan menyebabkan klien membatasi aktivitas

fisik dan berkurangnya kemampuan dalam melaksanakan

aktivitas fisik tersebut.

e. Pola tidur dan istirahat.

Adanya nyeri pada punggung dan perubahan

lingkungan atau dampak hospitalisasi akan menyebabkan

masalah dalam pemenuhan kebutuhan tidur dan istirahat.

f. Pola hubungan dan peran.

Sejak sakit dan masuk rumah sakit klien mengalami

perubahan peran atau tidak mampu menjalani peran


sebagai mana mestinya, baik itu peran dalam keluarga

ataupun masyarakat. Hal tersebut berdampak terganggunya

hubungan interpersonal.

g. Pola persepsi dan konsep diri.

Klien dengan Spondilitis tuberkulosa seringkali

merasa malu terhadap bentuk tubuhnya dan kadang -

kadang mengisolasi diri.

h. Pola sensori dan kognitif.

Fungsi panca indera klien tidak mengalami

gangguan terkecuali bila terjadi komplikasi paraplegi.

i. Pola reproduksi seksual.

Kebutuhan seksual klien dalam hal melakukan

hubungan badan akan terganggu untuk sementara waktu,

karena di rumah sakit. Tetapi dalam hal curahan kasih

sayang dan perhatian dari pasangan hidupnya melalui cara

merawat sehari - hari tidak terganggu atau dapat

dilaksanakan.

j. Pola penaggulangan stres.

Dalam penanggulangan stres bagi klien yang belum

mengerti penyakitnya , akan mengalami stres. Untuk

mengatasi rasa cemas yang menimbulkan rasa stres, klien

akan bertanya - tanya tentang penyakitnya untuk


mengurangi stres.

k. Pola tata nilai dan kepercayaan.

Pada klien yang dalam kehidupan sehari - hari

selalu taat menjalankan ibadah, maka semasa dia sakit ia

akan menjalankan ibadah pula sesuai dengan

kemampuannya. Dalam hal ini ibadah bagi mereka di

jalankan pula sebagai penaggulangan stres dengan percaya

pada tuhannya.

7) Pemeriksaan fisik.

a. Inspeksi.

Pada klien dengan Spondilitis tuberkulosa kelihatan lemah,

pucat, dan pada tulang belakang terlihat bentuk kiposis.

b. Palpasi.

Sesuai dengan yang terlihat pada inspeksi keadaan tulang

belakang terdapat adanya gibus pada area tulang yang

mengalami infeksi.

c. Perkusi.

Pada tulang belakang yang mengalami infeksi terdapat nyeri

ketok.

d. Auskultasi.

Pada pemeriksaan auskultasi keadaan paru tidak di temukan

kelainan.
8) Hasil pemeriksaan medik dan laboratorium.

a. Radiologi

- Terlihat gambaran distruksi vertebra terutama bagian anterior,

sangat jarang menyerang area posterior.

- Terdapat penyempitan diskus.

- Gambaran abses para vertebral ( fusi form ).

b. Laboratorium

- Laju endap darah meningkat

c. Tes tuberkulin.

Reaksi tuberkulin biasanya positif.

b. Analisa.

Setelah data di kumpulkan kemudian dikelompokkan menurut data

subjektif yaitu data yang didapat dari pasien sendiri dalm hal komukasi

atau data verbal dan objektiv yaitu data yang didapat dari pengamatan,

observasi, pengukuran dan hasil pemeriksaan radiologi maupun

laboratorium. Dari hasil analisa data dapat disimpulkan masalah yang di

alami oleh klien.


B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencidera fisiologis.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan integritas struktur tulang.
3. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional.

D. Rencana Asuhan Keperawatan


N SDKI SLKI SIKI
O
1. Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen Nyeri (I.08238) :
berhubungan semala 1 x 8 jam diharapkan nyeri akut  Observasi
dengan agen teratasi dengan kriteria hasil; 1.1 Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
pencidera Tingkat Nyeri (L.080066) : kualitas, intensitas nyeri.
fisiologis 1. Keluhan nyeri : 1.2 identifikasi skala nyeri.
(D.0077) 1.3 monitor terapi komplementer yang di berikan.
 Terapeutik 1 2 3 4 5
2. Meringis : 1.4 Berikan terapi nonfarmakologis untuk
menghilangkan nyeri (terapi musik dan terapi pijat)
1.5 Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri untuk
1 2 3 4 5
3. Pola napas : meredakan nyeri.
 Edukasi
1.6 Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri. 1 2 3 4 5
Indikator : 1.7 Jelaskan strategi meredakan nyeri.
1 = meningkat / memburuk  Kolaborasi
2 = cukup meningkat/memburuk 1.8 kolaborasi pemberian analgetik bila perlu.
3 = sedang
4 = cukup menurun/membaik
5 = menurun/membaik

2. Gangguan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Dukung Ambulasi (I.06171):


mobilitas selama 3x24 jam diharapkan masalah  Monotor :
fisik Gangguan mobilitas fisik pada pasien 2.1 Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik
berhubungan meningkat dengan kriteria: lainnya.
dengan 2.2 Identifikasi korelasi fisik melakkan ambulasi.
integritas 1. Pergerakan ekstermitas meningkat  Terapeutik :
struktur 12345
2.3 Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat bantu.
tulang (D. 2. Retang gerak ROM meningkat 2.5 Fasilitasi melakukan mobiliasi fisik, jik perlu
0054)  Edukasi : 12345
2.6 Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi
3. nyeri menurun 2.7 Anjurkan mobilisasi dini
12345
4. Gerekan terbatas menurun
12345
Indikator :
1 = meningkat / memburuk
2 = cukup meningkat/memburuk
3 = sedang
4 = cukup menurun/membaik
5 = menurun/membaik

3. Ansietas Setelah dilakukan tindakan keperawatan


semala 3 x 24 jam diharapkan masalah Terapi Relaksasi (I.09326):
berhubungan
ansietas dapat teratasi dengan kriteria  Observasi
dengan hasil : 3.1 identifikasi teknik rileksasiyang pernah
Tingkat ansietas (L.09093): digunakan.
krisis
1. Perilaku gelisah : 3.2 periksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan
situasional darah, dan suhu
1 2 3 4 5
(D.0080)  Terapeutik
2. Frekuensi pernapasan : 3.3 Ciptakan lingkunganyang tenang dan tanpa
gangguan serta pencahayaan yang cukup, suhu 1 2 3 4 5
ruangan yang nyaman.
3.Tekanan darah : 3.4 Berikan informasi mengenai teknik rileksasi yang
diberikan.
3.5 Gunakan nada usara lembut da berirama. 1 2 3 4 5
Indikator Hasil : 3.6 gunakan relaksasi sebagai strategi penunjang
1 = meningkat analgetik.
2 = cukup meningkat  Edukasi
3 = sedang 3.7 Jelaskan tujuan,manfaat, batasan, dan jenis
4 = cukup menurun rileksasi.
5 = menurun 3.8 Jelaskan secara rici intervensi yang dipilih
3.9 Anjurkan mengambil posisinyaman.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth, 2012, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa
Waluyo Agung., Yasmin Asih., Juli., Kuncara., I.made karyasa, EGC, Jakarta.
Doengoes, Marilynn E & Moorehouse, Mary Frances & Geissler, Alice. (2000).
Nursing Care Plans Guidelines for Planning and Documenting Patien Care.
Edisi III. F. A Davis Company: Philadelphia.
Epi, I. G., Purniti, P. S., Subanada, I. B., & Astawa, P. (2008). Spondilitis
Tuberkulosis. Sari Pediatri , 177-183
Mansjoer, Arief.(2009). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jilid 1. Penerbit Media
Aesculapius FKUI : Jakarta.
Moesbar, N. (2006). Infeksi Tuberkulosa pada Tulang Belakang. Majalah Kedokteran
Nusantara Volume 39 , 279-289.
Vitriana. (2002). Spondilitis Tuberkulosa. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Fisik dan
Rehabilitasi FK-UNPAD.
Mutaqqin, Arif. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta : EGC