Anda di halaman 1dari 45

MAKALAH FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI II

TENTANG
FARMAKOLOGI OBAT DIABETES MELLITUS
Dosen : Ririn Wirawati, S.Farm., M.Sc., Apt

Disusun Oleh :
Oviano Prasilia Rahmallah / 1704101005

PRODI S-1 FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN SAINS
UNIVERSITAS PGRI
MADIUN
2019/2020

1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaiakan tugas makalah
Farmakologi dan Toksikologi II dengan judul “FARMAKOLOGI OBAT
DIABETES MILLITUS“. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas
kelompok dalam mata kuliah kami. Atas bimbingan bapak/ibu dosen dan saran
dari teman-teman maka disusunlah makalah ini. Semoga dengan tersusunnya
makalah ini diharapkan dapat berguna bagi kami semua untuk memenuhi tugas di
perkuliahan. Dalam menyusun makalah ini, penulis banyak memperoleh bantuan
dari berbagai pihak, maka penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada
teman-teman juga bapak/ibu dosen kami. Mohon maaf bila ada kekurangan dan
kesalahan dalam makalah ini, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran
agar makalah ini bisa menjadi lebih baik. Terima kasih.

Madiun, 22 November 2019

2
DAFTAR ISI
Halaman Sampul 1
Kata Pengantar 2
Daftar Isi 3
Bab 1. Pendahuluan
A. Latar Belakang 4
B. Rumusan Masalah 4
C. Tujuan Penulisan Makalah 5
Bab 2. Pembahasan
A. Definisi Diabetes 6
B. Klasifikasi DM 6
C. Etiologi dan Patofisilogi DM 7
D. Faktor Resiko DM 13
E. Gejala Klinik 13
F. Komplikasi DM 14
G. Diagnosis DM 18
H. Terapi Non Farmakologi dan Farmakologi DM 19
I. Terapi Insulin dan Cara Pemberian 21
J. Penggolongan Obat Hiperglikemik Oral 26
K. Hal-halYgPerluDiperhatikanDlmPenggunaanObatDM 43
BAB 3.PENUTUP
A. Kesimpulan 44
B. Saran 44
DAFTAR PUSTAKA 45

3
BAB 1. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelainan metabolisme
yang ditandai dengan hiperglikemia, yang berhubungan dengan ketidak
normalan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan
oleh resistensi insulin, gangguan pada sekresi insulin, atau disebabkan
oleh keduanya (Dipiro et al., 2005). Insulin merupakan hormon yang
berperan dalam metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, yang
dihasilkan oleh sel-ß pada pankreas. Diabetes melitus pada jangka waktu
yang lama dapat menyebabkan komplikasi penyakit kardiovaskuler dan
gangguan sistem saraf (American Diabetes Association, 2012).
Jumlah penderita diabetes melitus di dunia diperkirakan akan
semakin meningkat tiap tahunnya. Berdasarkan International Diabetes
Federation (IDF) pada tahun 2013, terdapat sekitar 382 juta jiwa penderita
diabetes di dunia. Lebih dari 128,2 juta jiwa berasal dari Western Pacific
(WP) Region, dan diperkirakan akan meningkat menjadi 201,8 juta jiwa
pada tahun 2035. Indonesia termasuk dalam peringkat kedua negara
dengan jumlah penduduk penderita diabetes melitus terbesar diantara 22
negara lainnya yang tergabung di dalam WP Region, yaitu sekitar 8,5 juta
jiwa. Peringkat pertama adalah Cina sekitar 98,4 juta jiwa, dan ketiga
adalah Jepang dengan 7,2 juta jiwa.
Dalam penanggulangan kasus diabetes diperlukan adanya
pelayanan kesehatan, mencakup pelayanan kefarmasian dalam proses
pengobatan atau pencegahan penyakit diabetes melitus. Oleh sebab itu,
setiap tenaga medis terutama tenaga kefarmasian harus memiliki
pengetahuan yang cukup mengenai tata laksana terapi diabetes melitus,
baik terapai secara nonfarmakologis dan farmakologis, sehingga dapat
memberikan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah definisi tentang diabetes millitus ?
2. Apa saja klasifikasi tentang diabetes mellitus ?
3. Apa saja etiologi dan patofisiologi yang dialami oleh diabetes ?

4
4. Bagaiamana faktor resiko yang terjadi oleh penderita diabetes ?
5. Bagaimana gejala klinik penyakit diabetes ?
6. Komplikasi apa yang dapat menimbulkan penderita diabetes dan ada
berapa jenis komplikasi tersebut ?
7. Bagaimanakah diagnosis tentang penyakit diabetes ?
8. Bagaimana langkah langkah terapi non farmakologi dan farmakologi
pada penderita diabetes ?
9. Apa saja penggolongan obat hiperglikemik oral ?
10. Hal-hal apakah yang perlu diperhatikan dalam penggunaan obat
hiperglikemik oral ?
C. TUJUAN PENULISAN MAKALAH
1. Untuk mengetahui definisi tentang penyakit diabetes millitus
2. Untuk mengetahui klasifikasi tentang diabetes mellitus
3. Untuk mengetahui dan memahami etiologi dan patofisiologi yang
dialami oleh diabetes
4. Untuk mengetahui faktor resiko yang terjadi oleh penderita diabetes
5. Untuk mengetahui gejala klinik penyakit diabetes dan mencegah
penyakit tersebut
6. Untuk mengetahui komplikasi yang dapat menimbulkan penderita
diabetes dan jenis-jenis komplikasi tersebut
7. Untuk mengetahui diagnosis tentang penyakit diabetes
8. Untuk mengetahui langkah langkah terapi non farmakologi dan
farmakologi pada penderita diabetes agar mencegah penyakit diabet
9. Untuk mengetahui penggolongan obat hiperglikemik oral
10. Untuk memahami lebih dalam tentang hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam penggunaan obat hiperglikemik oral

5
BAB 2. PEMBAHASAN
A. DEFINISI DIABETES
Diabetes mellitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau
gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan
tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme
karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin.
Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi
produksi insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau
disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin
(WHO, 1999).
B. KLASIFIKASI DIABETES
Berdasarkan etiologi, DM diklasifikasikan menjadi empat macam :
1. DM tipe 1, yaitu adanya destruksi sel beta dan menjurus pada
defisiensi insulin absolut. DM tipe 1 meliputi autoimun (immune
mediated) dan idiopatik. Terjadi 5-10% kasus dari sindrom diabetes.
2. DM tipe 2, yaitu penyebabnya faktor kombinasi genetik dan non
genetik yang menyebabkan resistensi insulin dan defisiensi insulin.
Gen spesifik penyebab belum diketahui (dalam tahap penelitian)
sedangkan faktor non genetik penyebabnya meliputi usia, intake kalori
berlebih, kegemukan, berat bayi lahir rendah, dan adiposit sentral.
Terjadi hampir 90-95% kasus dari sindrom diabetes.
3. DM tipe spesifik lain, yaitu disebabkan etiologi yang bervariasi
dimana etiologi tersebut telah diketahui meliputi : (a) defek genetik
fungsi sel beta, (b) defek genetik kerja insulin, (c) penyakit eksokrin
pancreas, (d) endokrinopati, (e) karena obat/zat kimia menyebabkan
perubahan pancreas, (f) infeksi, (g) sebab imunologi yang jarang, dan
(h) sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM. Terjadi hampir 1-
2% dari kasus sindroma diabetes.
4. DM Gestasional, yaitu disebabkan adanya resistensi dan defisiensi
insulin relatif yang menyertai proses kehamilan. Terjadi hampir 3-5%
kasus pada kehamilan (Power, 2007; Triplitt et al., 2008).

6
Perbedaan antara IDDM dan NIDDM :
1. Diabetes Tipe 1 :
- Kerusakan pada sel beta
- Biasanya diderita sejak awal kehidupan seseorang; anak-anak
maupun pada remaja.
- Lebih banyak menyerang pasien di bawah umur 20 tahun.
- Pasien diabetes tipe 1 umumnya memiliki perawakan kurus.
- Pengidap diabetes tipe 1 membutuhkan insulin dalam bentuk
suntikan maupun pompa insulin.
- Diabetes tipe 1 susah diprediksi dan dicegah, sebab merupakan
kelainan genetik yang dibawa sejak lahir.
- Diabetes tipe 1 mencakup 10-15 % dari jumlah seluruh pengidap
diabetes
2. Diabetes Tipe 2 :
- Resistensi insulin dalam arti insulinnya cukup tetapi tidak bekerja
dengan baik dalam mengontrol kadar gula darah
- Menyerang usia 35 tahun ke atas atau disebut adult onset.
- Lebih banyak menyerang orang-orang bertubuh besar yang
dikategorikan kelebihan berat badan (overweight) maupun obesitas.
- Diabetes tipe 2 cukup mengonsumsi obat oral atau obattelan.
- Bisa dicegah, karena biasanya menyerang orang-orang dengan pola
makan tidak sehat dan jarang berolahraga.
- Jumlah kasus diabetes tipe 2 terutama di negara maju dan
berkembang mencapai 85-90 % dari seluruh pengidap diabetes
semua tipe.
C. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
1. Diabetes Mellitus Tipe 1
Diabetes tipe ini merupakan diabetes yang jarang atau sedikit
populasinya, diperkirakan kurang dari 5-10% dari keseluruhan
populasi penderita diabetes. Gangguan produksi insulin pada DM Tipe
1 umumnya terjadi karena kerusakan sel-sel β pulau Langerhans yang
disebabkan oleh reaksi otoimun. Namun ada pula yang disebabkan

7
oleh bermacam-macam virus, diantaranya virus Cocksakie, Rubella,
CMVirus, Herpes, dan lain sebagainya. Ada beberapa tipe otoantibodi
yang dihubungkan dengan DM Tipe 1, antara lain ICCA (Islet Cell
Cytoplasmic Antibodies), ICSA (Islet cell surface antibodies), dan
antibodi terhadap GAD (glutamic acid decarboxylase). ICCA
merupakan otoantibodi utama yang ditemukan pada penderita DM
Tipe 1. Hampir 90% penderita DM Tipe 1 memiliki ICCA di dalam
darahnya. Di dalam tubuh non-diabetik, frekuensi ICCA hanya 0,5-4%.
Oleh sebab itu, keberadaan ICCA merupakan prediktor yang cukup
akurat untuk DM Tipe 1. ICCA tidak spesifik untuk sel-sel β pulau
Langerhans saja, tetapi juga dapat dikenali oleh sel-sel lain yang
terdapat di pulau Langerhans. Sebagaimana diketahui, pada pulau
Langerhans kelenjar pankreas terdapat beberapa tipe sel, yaitu sel β,
sel α dan sel δ. Sel-sel β memproduksi insulin, sel-sel α memproduksi
glukagon, sedangkan sel-sel δ memproduksi hormon somatostatin.
Namun demikian, nampaknya serangan otoimun secara selektif
menghancurkan sel-sel β. Ada beberapa anggapan yang menyatakan
bahwa tingginya titer ICCA di dalam tubuh penderita DM Tipe 1 justru
merupakan respons terhadap kerusakan sel-sel β yang terjadi, jadi lebih
merupakan akibat, bukan penyebab terjadinya kerusakan sel-sel β
pulau Langerhans. Apakah merupakan penyebab atau akibat, namun
titer ICCA makin lama makin menurun sejalan dengan perjalanan
penyakit. Otoantibodi terhadap antigen permukaan sel atau Islet Cell
Surface Antibodies (ICSA) ditemukan pada sekitar 80% penderita DM
Tipe 1. Sama seperti ICCA, titer ICSA juga makin menurun sejalan
dengan lamanya waktu. Beberapa penderita DM Tipe 2 ditemukan
positif ICSA. Otoantibodi terhadap enzim glutamat dekarboksilase
(GAD) ditemukan pada hampir 80% pasien yang baru didiagnosis
sebagai positif menderita DM Tipe 1. Sebagaimana halnya ICCA dan
ICSA, titer antibodi anti-GAD juga makin lama makin menurun
sejalan dengan perjalanan penyakit. Keberadaan antibodi anti-GAD
merupakan prediktor kuat untuk DM Tipe 1, terutama pada populasi

8
risiko tinggi. Disamping ketiga otoantibodi yang sudah dijelaskan di
atas, ada beberapa otoantibodi lain yang sudah diidentifikasikan, antara
lain IAA (Anti-Insulin Antibody). IAA ditemukan pada sekitar 40%
anak-anak yang menderita DM Tipe 1. IAA bahkan sudah dapat
dideteksi dalam darah pasien sebelum onset terapi insulin. Destruksi
otoimun dari sel-sel β pulau Langerhans kelenjar pankreas langsung
mengakibatkan defisiensi sekresi insulin. Defisiensi insulin inilah yang
menyebabkan gangguan metabolisme yang menyertai DM Tipe 1.
Selain defisiensi insulin, fungsi sel-sel α kelenjar pankreas pada
penderita DM Tipe 1 juga menjadi tidak normal. Pada penderita DM
Tipe 1 ditemukan sekresi glukagon yang berlebihan oleh sel-sel α
pulau Langerhans. Secara normal, hiperglikemia akan menurunkan
sekresi glukagon, namun pada penderita DM Tipe 1 hal ini tidak
terjadi, sekresi glukagon tetap tinggi walaupun dalam keadaan
hiperglikemia. Hal ini memperparah kondisi hiperglikemia. Salah satu
manifestasi dari keadaan ini adalah cepatnya penderita DM Tipe 1
mengalami ketoasidosis diabetik apabila tidak mendapat terapi insulin.
Apabila diberikan terapi somatostatin untuk menekan sekresi
glukagon, maka akan terjadi penekanan terhadap kenaikan kadar gula
dan badan keton. Salah satu masalah jangka panjang pada penderita
DM Tipe 1 adalah rusaknya kemampuan tubuh untuk mensekresi
glukagon sebagai respon terhadap hipoglikemia. Hal ini dapat
menyebabkan timbulnya hipoglikemia yang dapat berakibat fatal pada
penderita DM Tipe 1 yang sedang mendapat terapi insulin. Walaupun
defisiensi sekresi insulin merupakan masalah utama pada DM Tipe 1,
namun pada penderita yang tidak dikontrol dengan baik, dapat terjadi
penurunan kemampuan sel-sel sasaran untuk merespons terapi insulin
yang diberikan. Ada beberapa mekanisme biokimia yang dapat
menjelaskan hal ini, salah satu diantaranya adalah defisiensi insulin
menyebabkan meningkatnya asam lemak bebas di dalam darah sebagai
akibat dari lipolisis yang tak terkendali di jaringan adiposa. Asam
lemak bebas di dalam darah akan menekan metabolisme glukosa di

9
jaringan-jaringan perifer seperti misalnya di jaringan otot rangka,
dengan perkataan lain akan menurunkan penggunaan glukosa oleh
tubuh. Defisiensi insulin juga akan menurunkan ekskresi dari beberapa
gen yang diperlukan sel-sel sasaran untuk merespons insulin secara
normal, misalnya gen glukokinase di hati dan gen GLUT4 (protein
transporter yang membantu transpor glukosa di sebagian besar jaringan
tubuh) di jaringan adiposa.
2. Diabetes Mellitus Tipe 2
Diabetes Tipe 2 merupakan tipe diabetes yang lebih umum, lebih
banyak penderitanya dibandingkan dengan DM Tipe 1. Penderita DM
Tipe 2 mencapai 90-95% dari keseluruhan populasi penderita diabetes,
umumnya berusia di atas 45 tahun, tetapi akhir-akhir ini penderita DM
Tipe 2 di kalangan remaja dan anak-anak populasinya meningkat.
Etiologi DM Tipe 2 merupakan multifaktor yang belum sepenuhnya
terungkap dengan jelas. Faktor genetik dan pengaruh lingkungan
cukup besar dalam menyebabkan terjadinya DM tipe 2, antara lain
obesitas, diet tinggi lemak dan rendah serat, serta kurang gerak badan.
Obesitas atau kegemukan merupakan salah satu faktor pradisposisi
utama. Penelitian terhadap mencit dan tikus menunjukkan bahwa ada
hubungan antara gen-gen yang bertanggung jawab terhadap obesitas
dengan gen-gen yang merupakan faktor pradisposisi untuk DM Tipe 2.
Berbeda dengan DM Tipe 1, pada penderita DM Tipe 2, terutama yang
berada pada tahap awal, umumnya dapat dideteksi jumlah insulin yang
cukup di dalam darahnya, disamping kadar glukosa yang juga tinggi.
Jadi, awal patofisiologis DM Tipe 2 bukan disebabkan oleh kurangnya
sekresi insulin, tetapi karena sel-sel sasaran insulin gagal atau tak
mampu merespon insulin secara normal. Keadaan ini lazim disebut
sebagai “Resistensi Insulin”. Resistensi insulin banyak terjadi di
negara-negara maju seperti Amerika Serikat, antara lain sebagai akibat
dari obesitas, gaya hidup kurang gerak (sedentary), dan penuaan.
Disamping resistensi insulin, pada penderita DM Tipe 2 dapat juga
timbul gangguan sekresi insulin dan produksi glukosa hepatik yang

10
berlebihan. Namun demikian, tidak terjadi pengrusakan sel-sel β
Langerhans secara autoimun sebagaimana yang terjadi pada DM Tipe
1. Dengan demikian defisiensi fungsi insulin pada penderita DM Tipe
2 hanya bersifat relatif, tidak absolut. Oleh sebab itu dalam
penanganannya umumnya tidak memerlukan terapi pemberian insulin.
Sel-sel β kelenjar pankreas mensekresi insulin dalam dua fase. Fase
pertama sekresi insulin terjadi segera setelah stimulus atau rangsangan
glukosa yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa darah,
sedangkan sekresi fase kedua terjadi sekitar 20 menit sesudahnya. Pada
awal perkembangan DM Tipe 2, sel-sel β menunjukkan gangguan pada
sekresi insulin fase pertama, artinya sekresi insulin gagal
mengkompensasi resistensi insulin Apabila tidak ditangani dengan
baik, pada perkembangan penyakit selanjutnya penderita DM Tipe 2
akan mengalami kerusakan sel-sel β pankreas yang terjadi secara
progresif, yang seringkali akan mengakibatkan defisiensi insulin,
sehingga akhirnya penderita memerlukan insulin eksogen. Penelitian
mutakhir menunjukkan bahwa pada penderita DM Tipe 2 umumnya
ditemukan kedua faktor tersebut, yaitu resistensi insulin dan defisiensi
insulin.
Berdasarkan uji toleransi glukosa oral, penderita DM Tipe 2 dapat
dibagi menjadi 4 kelompok :
a. Kelompok yang hasil uji toleransi glukosanya normal
b. Kelompok yang hasil uji toleransi glukosanya abnormal, disebut
juga Diabetes Kimia (Chemical Diabetes)
c. Kelompok yang menunjukkan hiperglikemia puasa minimal (kadar
glukosa plasma puasa < 140 mg/dl)
d. Kelompok yang menunjukkan hiperglikemia puasa tinggi (kadar
glukosa plasma puasa > 140 mg/dl).
3. Diabetes Mellitus Gestasional
Diabetes Mellitus Gestasional (GDM=Gestational Diabetes
Mellitus) adalah keadaan diabetes atau intoleransi glukosa yang timbul
selama masa kehamilan, dan biasanya berlangsung hanya sementara

11
atau temporer. Sekitar 4-5% wanita hamil diketahui menderita GDM,
dan umumnya terdeteksi pada atau setelah trimester kedua. Diabetes
dalam masa kehamilan, walaupun umumnya kelak dapat pulih sendiri
beberapa saat setelah melahirkan, namun dapat berakibat buruk
terhadap bayi yang dikandung. Akibat buruk yang dapat terjadi antara
lain malformasi kongenital, peningkatan berat badan bayi ketika lahir
dan meningkatnya risiko mortalitas perinatal. Disamping itu, wanita
yang pernah menderita GDM akan lebih besar risikonya untuk
menderita lagi diabetes di masa depan. Kontrol metabolisme yang
ketat dapat mengurangi risiko-risiko tersebut.
4. Pra-diabetes
Pra-diabetes adalah kondisi dimana kadar gula darah seseorang
berada diantara kadar normal dan diabetes, lebih tinggi dari pada
normal tetapi tidak cukup tinggi untuk dikatagorikan ke dalam diabetes
tipe 2. Penderita pradiabetes diperkirakan cukup banyak, di Amerika
diperkirakan ada sekitar 41 juta orang yang tergolong pra-diabetes,
disamping 18,2 orang penderita diabetes (perkiraan untuk tahun 2000).
Di Indonesia, angkanya belum pernah dilaporkan, namun diperkirakan
cukup tinggi, jauh lebih tinggi dari pada penderita diabetes. Kondisi
pra-diabetes merupakan faktor risiko untuk diabetes, serangan jantung
dan stroke. Apabila tidak dikontrol dengan baik, kondisi pra-diabetes
dapat meningkat menjadi diabetes tipe 2 dalam kurun waktu 5-10
tahun. Namun pengaturan diet dan olahraga yang baik dapat mencegah
atau menunda timbulnya diabetes. Ada dua tipe kondisi pra-diabetes,
yaitu :
a. Impaired Fasting Glucose (IFG), yaitu keadaan dimana kadar
glukosa darah puasa seseorang sekitar 100-125 mg/dl (kadar
glukosa darah puasa normal : <100 mg/dl), atau
b. Impaired Glucose Tolerance (IGT) atau Toleransi Glukosa
Terganggu (TGT), yaitu keadaan dimana kadar glukosa darah
seseorang pada uji toleransi glukosa berada di atas normal tetapi
tidak cukup tinggi untuk dikategorikan ke dalam kondisi diabetes.

12
Diagnosa IGT ditetapkan apabila kadar glukosa darah seseorang 2
jam setelah mengkonsumsi 75 gram glukosa per oral berada
diantara 140-199 mg/dl (Soegondo S., 2004)
D. FAKTOR RESIKO
Setiap orang yang memiliki satu atau lebih faktor risiko diabetes
selayaknya waspada akan kemungkinan dirinya mengidap diabetes. Para
petugas kesehatan, dokter, apoteker dan petugas kesehatan lainnya pun
sepatutnya memberi perhatian kepada orang-orang seperti ini, dan
menyarankan untuk melakukan beberapa pemeriksaan untuk mengetahui
kadar glukosa darahnya agar tidak terlambat memberikan bantuan
penanganan. Karena makin cepat kondisi diabetes melitus diketahui dan
ditangani, makin mudah untuk mengendalikan kadar glukosa darah dan
mencegah komplikasi-komplikasi yang mungkin terjadi.
E. GEJALA KLINIK
Diabetes seringkali muncul tanpa gejala. Namun demikian ada
beberapa gejala yang harus diwaspadai sebagai isyarat kemungkinan
diabetes. Gejala tipikal yang sering dirasakan penderita diabetes antara
lain poliuria (sering buang air kecil), polidipsia (sering haus), dan polifagia
(banyak makan/mudah lapar). Selain itu sering pula muncul keluhan
penglihatan kabur, koordinasi gerak anggota tubuh terganggu, kesemutan
pada tangan atau kaki, timbul gatal-gatal yang seringkali sangat
mengganggu (pruritus), dan berat badan menurun tanpa sebab yang jelas.
- Pada DM Tipe I gejala klasik yang umum dikeluhkan adalah
poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat badan, cepat merasa
lelah (fatigue), iritabilitas, dan pruritus (gatal-gatal pada kulit).
- Pada DM Tipe 2 gejala yang dikeluhkan umumnya hampir tidak ada.
DM Tipe 2 seringkali muncul tanpa diketahui, dan penanganan baru
dimulai beberapa tahun kemudian ketika penyakit sudah
berkembang dan komplikasi sudah terjadi. Penderita DM Tipe 2
umumnya lebih mudah terkena infeksi, sukar sembuh dari luka, daya
penglihatan makin buruk, dan umumnya menderita hipertensi,

13
hiperlipidemia, obesitas, dan juga komplikasi pada pembuluh darah
dan syaraf (Anonim, 2005).
F. KOMPLIKASI DIABETES MELLITUS
Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik dapat menimbulkan
komplikasi akut dan kronis. Berikut ini akan diuraikan beberapa
komplikasi yang sering terjadi dan harus diwaspadai.
1. Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah efek samping yang umum dari pengobatan
dengan insulin dan obat antidiabetik oral, terutama sulfonilurea dan
merupakan faktor utama mencegah pasien dengan tipe 1 dan diabetes 2
dari mencapai normoglikemia. Hal tersebut tergantung pada
kelangsungan penyediaan glukosa, dan interupsi untuk lebih dari
beberapa menit mengarah ke pusat disfungsi sistem saraf, gangguan
kognisi dan akhirnya koma. Otak tidak dapat mensintesis glukosa atau
penyimpanan lebih dari 5 menit pasokan glikogen. Hipoglikemia lebih
sering terjadi pada anak-anak dan mungkin mengakibatkan gangguan
kognitif dan menurunkan prestasi akademik pada anak-anak yang
didiagnosis dengan diabetes di bawah usia 5 tahun. Otak berkembang
sangat sensitif terhadap hipoglikemia. Respon fisiologis untuk
penurunan produksi glukosa darah plasama menghasilkan berbagai
gejala yang membantu individu mengenali hipoglikemia dan
mengambil tindakan korektif. Gejala hipoglikemia disebabkan oleh
aktivasi simpatis atau parasimpatis sistem saraf (misalnya tremor,
palpitasi atau berkeringat), atau 'Neuroglycopenic', disebabkan oleh
efek kurangnya glukosa pada otak (misalnya mengantuk, kebingungan
dan kehilangan kesadaran). Sakit kepala dan mual mungkin merupakan
gejala malaise non – spesifik (Bilous dan Donelly, 2010).
2. Hiperglikemia
Hiperglikemia adalah keadaan dimana kadar gula darah melonjak
secara tiba-tiba. Keadaan ini dapat disebabkan antara lain oleh stress,
infeksi, dan konsumsi obat-obatan tertentu. Hiperglikemia ditandai
dengan poliuria, polidipsia, polifagia, kelelahan yang parah (fatigue),

14
dan pandangan kabur. Apabila diketahui dengan cepat, hiperglikemia
dapat dicegah tidak menjadi parah. Hipergikemia dapat memperburuk
gangguan-gangguan kesehatan seperti gastroparesis, disfungsi ereksi,
dan infeksi jamur pada vagina. Hiperglikemia yang berlangsung lama
dapat berkembang menjadi keadaan metabolisme yang berbahaya,
antara lain ketoasidosis diabetik (Diabetic Ketoacidosis = DKA), yang
dapat berakibat fatal dan membawa kematian. Hiperglikemia dapat
dicegah dengan kontrol kadar gula darah yang ketat (Anonim, 2005).
3. Komplikasi Makrovaskular
Tiga jenis komplikasi makrovaskular yang umum berkembang
pada penderita diabetes adalah penyakit jantung koroner, penyakit
pembuluh darah otak, dan penyakit pembuluh darah perifer. Walaupun
komplikasi makrovaskular dapat juga terjadi pada DM tipe 1, namun
yang lebih sering merasakan komplikasi makrovaskular ini adalah
penderita DM tipe 2 yang umumnya menderita hipertensi, dislipidemia
dan atau kegemukan. Kombinasi dari penyakit-penyakit komplikasi
makrovaskular dikenal dengan berbagai nama, antara lain Syndrome
X, Cardiac Dysmetabolic Syndrome, Hyperinsulinemic Syndrome,
atau Insulin Resistance Syndrome. Karena penyakit-penyakit jantung
sangat besar risikonya pada penderita diabetes, maka pencegahan
komplikasi terhadap jantung harus dilakukan sangat penting dilakukan,
termasuk pengendalian tekanan darah, kadar kolesterol dan lipid darah.
Penderita diabetes sebaiknya selalu menjaga tekanan darahnya tidak
lebih dari 130/80 mm Hg. Untuk itu penderita harus dengan sadar
mengatur gaya hidupnya, termasuk mengupayakan berat badan ideal,
diet dengan gizi seimbang, berolah raga secara teratur, tidak merokok,
mengurangi stress dan lain sebagainya (Anonim, 2005).
4. Komplikasi Mikrovaskular
Komplikasi mikrovaskular terutama terjadi pada penderita diabetes
tipe 1. Hiperglikemia yang persisten dan pembentukan protein yang
terglikasi (termasuk HbA1c) menyebabkan dinding pembuluh darah
menjadi makin lemah dan rapuh dan terjadi penyumbatan pada

15
pembuluh-pembuluh darah kecil. Hal inilah yang mendorong
timbulnya komplikasi-komplikasi mikrovaskuler, antara lain :
- Diabetes Retinopati
Retinopati diabetes mungkin adalah komplikasi mikrovaskuler
diabetes yang paling umum. Hal ini berdasarkan ~10.000 kasus baru
kebutaan setiap tahun di Amerika Serikat sendiri. Risiko
mengembangkan retinopati diabetes atau komplikasi mikrovaskuler
diabetes lainnya tergantung pada kedua durasi dan keparahan
hiperglikemia. Aldosa reduktase dapat berpartisipasi dalam
pengembangan komplikasi diabetes. Aldosa reduktase adalah enzim
awal dalam poliol jalur intraseluler. Jalur ini melibatkan konversi
glukosa menjadi alkohol glukosa (sorbitol). Kadar glukosa yang
tinggi meningkatkan fluks molekul gula melalui jalur poliol, yang
menyebabkan akumulasi sorbitol dalam sel. Stres osmotik dari
akumulasi sorbitol telah didalilkan sebagai mekanisme yang
mendasari dalam pengembangan komplikasi mikrovaskular diabetes,
termasuk diabetes retinopati. Stres oksidatif juga mungkin
memainkan peran penting dalam cedera selular dari hiperglikemia.
Kadar glukosa yang tinggi dapat merangsang produksi radikal bebas
dan pembentukan oksigen reaktif. Penelitian pada hewan
menunjukkan bahwa pengobatan dengan antioksidan, seperti vitamin
E, mungkin menurunkan beberapa disfungsi vaskular terkait dengan
diabetes, tetapi pengobatan dengan antioksidan belum ditunjukkan
untuk mengubah perkembangan retinopati atau komplikasi
mikrovaskuler lain dari diabetes (Fowler, 2008).
Faktor pertumbuhan, termasuk faktor pertumbuhan endotel
vaskular (VEGF), hormon pertumbuhan, dan perubahan faktor
pertumbuhan β, juga telah didalilkan memainkan peran penting
dalam perkembangan diabetik retinopati. Produksi VEGF meningkat
pada diabetes retinopati, mungkin dalam menanggapi hipoksia.
Dalam model hewan, produksi VEGF dikaitkan dengan kurangnya
perkembangan retinopati. Diabetes retinopati umumnya

16
diklasifikasikan sebagai latar belakang atau proliferatif. Hal ini
penting untuk memiliki pemahaman umum tentang fitur dari
masing-masing untuk menafsirkan laporan pemeriksaan mata dan
menyarankan perkembangan penyakit dan prognosis pasien. Latar
belakang retinopati termasuk fitur seperti perdarahan kecil di lapisan
tengah retina. Microaneurysms adalah dilatasi vaskular kecil yang
terjadi di retina, sering sebagai tanda pertama dari retinopati. Tanda
klinis muncul sebagai titik- titik merah selama pemeriksaan retina.
Edema retina dapat terjadi akibat kebocoran mikrovaskuler dan
indikasi penghalang darah-retina. Edema retina mungkin
memerlukan intervensi karena kadang-kadang dikaitkan dengan
kerusakan visual. Retinopati proliferatif ditandai dengan
pembentukan darah baru di permukaan retina dan dapat
menyebabkan perdarahan vitreous. Daerah putih pada retina (cotton
wool spots) dapat menjadi tanda akan terjadinya retinopati
proliferasi. Jika proliferasi terus terjadi, kebutaan dapat terjadi
melalui vitreous perdarahan dan traksi retina detasemen. Tanpa
intervensi, kehilangan penglihatan mungkin terjadi. Fotokoagulasi
laser sering dapat mencegah retinopati proliferatif. Oleh karena itu,
pengawasan ketat keberadaan atau perkembangan retinopati pada
pasien dengan diabetes sangat penting (Fowler, 2008).
- Diabetes Nefropati
Perubahan patofisiologi utama dalam diabetik nefropati terdiri dari
peristiwa jaringan kompleks yang menyebabkan kerusakan
glomerular filtration membrane (GFM), kerusakan permanen kapiler
glomerulus dan hilangnya fungsi ginjal. GFM terdiri dari tiga
lapisan: endotelium glomerulus, membran glomerulus dasar dan
podosit epitel, yang memungkinkan sangat selektif dalam
ultrafiltrasi dari plasma darah dan mempertahankan keseimbangan
vasokonstriksi dan pelebaran. Perubahan penting lainnya meliputi:
ekspansi sel mesangial, nodul Kimmelstiel-Wilson,
glomerulosklerosis dan interstitial tubular fibrosis. Perubahan ini

17
terjadi karena faktor genetik dan lingkungan terkait dengan diabetes,
penderita hiperglikemia yang paling signifikan dan hipertensi.
Kelainan fisiologis awal adalah hiperfiltrasi glomerulus dan
hipertensi intra-glomerular, disertai dengan timbulnya
mikroalbuminuria. Unsur-unsur seluler ginjal menanggapi
hiperglikemia oleh berbagai jalur : hemodinamik, metabolisme, dan
inflamasi (Cochran, 2016).
- Diabetes Neuropati
Diabetes neuropati adalah sekelompok gangguan saraf yang dapat
menyebabkan mati rasa dan nyeri. Berbagai saraf dalam tubuh dapat
terlibat, termasuk di kaki, pergelangan kaki, lengan, dan organ
seperti jantung, sistem pencernaan, dan organ seks. Saraf individu
dapat terlibat, tetapi lebih umum, pola neuropati saraf banyak efek
dan lokasi yang berbeda (polineuropati) terjadi. Risiko
mengembangkan neuropati meningkat lama selama seseorang
memiliki diabetes. Glukosa darah dan kadar lipid yang tinggi, suplai
darah terganggu pada saraf, obesitas, tekanan darah tinggi, merokok,
dan alkohol semua berkontribusi untuk pengembangan neuropati
(American Medical Association, 2015).
G. DIAGNOSIS
Berdasarkan American College of Clinic Pharmacy, terdapat
beberapa cara diagnosis untuk mendiagnosis DM berdasarkan tipe DM :
1. Diagnosis DM Tipe 1 dan 2
Parameter glikemik pada pasien yang tidak hamil :
a. Fasting Plasma Glucose (FPG)
- Metode termudah dan sering digunakan
- 126 mg/dL atau lebih
b. Random Plasma Glucose
- 200 mg/dL atau lebih dengan gejala hiperglikemia
- Gejala hiperglikemia disertai dengan poliuria, polidipsia,
dan kehilangan berat badan
- Kosentrasi hemoglobin A1c (A1c) baik

18
c. Test Toleran Glukosa oral
- Konsentrasi glukosa plasma selama 2 jam proses
pencernaan dengan 75 gram glukosa oral
- 200 mg/dL atau lebih
- Lebih sensitif dan spesifik dibandingkan dengan FPG tetapi
tidak praktis bila digunakan
d. Dengan hasil test yang abnormal, pasien sebaiknya di tes kembali
e. A1c (hemoglobin)
- 6,5% atau lebih
- Kurang sensitive dibandingkan dengan FPG tetapi tidak
mengharuskan untuk puasa dan hasilnya kurang bervariasi
dari hari ke hari
- Nilai A1c tidak akurat pada pasien penderita anemia
hemolitik, malaria kronik, atau pasien yang baru saja
menerima transfuse darah atau kehilangan banyak darah.
2. Diagnosis diabetes gestational
Parameter glikemik pada pasien hamil
a. 75 gram OGTT pada kehamilan 24-28 minggu
b. Puasa : 92 mg/dL atau lebih
c. 1 jam setelah OGTT: 180 mg/dL atau lebih
d. 2 jam setelah OGTT: 153 mg/dL atau lebih
3. Diagnosis prediabetes
a. Berkurangnya glukosa puasa: FPG diantara 100-125 mg/dL
b. Berkurangnya glukosa toleran: 2 jam glukosa plasma setelah
OGTT (75 g diantara 140 dan 199 mg/dL)
H. TERAPI NON FARMAKOLOGI DAN FARMAKOLOGI
1. Terapi Non-Farmakologi
a. Pengaturan Diet
Diet yang baik merupakan kunci keberhasilan terapi
diabetes. Diet yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi
seimbang terkait dengan karbohidrat, protein, dan lemak. Jumlah
kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stress

19
akur, dan kegiatan fisik yang pada dasarnya ditujukan untuk
mencapai dan mempertahankan berat badan ideal. Penurunan berat
badan telah dibuktikan dapat mengurangi resistensi insulin dan
memperbaiki respon sel-sel beta terhadap stimulus glukosa
b. Olahraga
Berolahraga secara teratur akan menurunkan dan menjaga
kadar gula darah tetap normal. Olahraga yang disarankan adalah
yang bersifat Continuous, Rhymical, Interval, Progressive,
Endurance Training dan disesuaikan dengan kemampuan serta
kondisi penderita. Beberapa olahraga yang disarankan antara lain
jalan, lari, bersepeda dan berenang. Latihan teratur setiap hari,
dapat memperbaiki metabolisme glukosa, asam lemak, keton
bodies, dan merangsang sintesis glikogen.
2. Terapi Farmakologi Diabetes Melitus
Terapi farmakologi diberikan bila pengaturan makan dan latihan
jasmani belum menghasilkan sasaran glukosa darah yang ditetapkan.
Terapi farmakologi terdiri atas Obat Hipoglikemik Oral (OHO), injeksi
insulin dan injeksi antidiabetes yang lain. Saat ini ada enam kelas obat
antidiabet oral meliputi golongan (1) sulfonylurea, (2) glinid, (3)
biguanid, (4) tiazolidinedion (TZD), (5) penghambat glukosidase alfa,
dan (6) penghambat DPP-IV. Obat antidiabetes yang penggunaan
dengan cara injeksi adalah (1) insulin, (2) analog GLP, dan (3) analog
amylin. Obat antidiabetes oral sering dikelompokkan menurut
mekanisme aksi dalam menurunkan glukosa. Biguanid dan TZD sering
dikategorikan sebagai “sensitizer” insulin karena kemampuannya
untuk menurunkan resistensi insulin, sulfonilurea dan glinid sering
dikategorikan sebagai pensekresi insulin karena obat-obat tersebut
meningkatkan pelepasan insulin endogen (Katzung, 2009; Triplitt et
al., 2008).

20
I. TERAPI INSULIN DAN CARA PEMBERIAN
1. Pengertian Terapi Insulin
Terapi insulin merupakan satu keharusan bagi penderita DM Tipe
1. Pada DM Tipe I, sel-sel β Langerhans kelenjar pankreas penderita
rusak, sehingga tidak lagi dapat memproduksi insulin. Sebagai
penggantinya, maka penderita DM Tipe I harus mendapat insulin
eksogen untuk membantu agar metabolisme karbohidrat di dalam
tubuhnya dapat berjalan normal. Walaupun sebagian besar penderita
DM Tipe 2 tidak memerlukan terapi insulin, namun hampir 30%
ternyata memerlukan terapi insulin disamping terapi hipoglikemik oral.
2. Pengendalian Sekresi Insulin
Pada prinsipnya, sekresi insulin dikendalikan oleh tubuh untuk
menstabilkan kadar gula darah. Apabila kadar gula di dalam darah
tinggi, sekresi insulin akan meningkat. Sebaliknya, apabila kadar gula
darah rendah, maka sekresi insulin juga akan menurun. Dalam keadaan
normal, kadar gula darah di bawah 80 mg/dl akan menyebabkan
sekresi insulin menjadi sangat rendah. Stimulasi sekresi insulin oleh
peningkatan kadar glukosa darah berlangsung secara bifasik. Fase 1
akan mencapai puncak setelah 2-4 menit dan masa kerja pendek,
sedangkan mulai kerja (onset) fase 2 berlangsung lebih lambat, namun
dengan lama kerja (durasi) yang lebih lama pula.
3. Mekanisme Kerja Insulin
Insulin mempunyai peran yang sangat penting dan luas dalam
pengendalian metabolisme. Insulin yang disekresikan oleh sel-sel β
pankreas akan langsung diinfusikan ke dalam hati melalui vena porta,
yang kemudian akan didistribusikan ke seluruh tubuh melalui
peredaran darah. Efek kerja insulin yang sudah sangat dikenal adalah
membantu transpor glukosa dari darah ke dalam sel. Kekurangan
insulin menyebabkan glukosa darah tidak dapat atau terhambat masuk
ke dalam sel. Akibatnya, glukosa darah akan meningkat, dan
sebaliknya sel-sel tubuh kekurangan bahan sumber energi sehingga
tidak dapat memproduksi energi sebagaimana seharusnya. Disamping

21
fungsinya membantu transport glukosa masuk ke dalam sel, insulin
mempunyai pengaruh yang sangat luas terhadap metabolisme, baik
metabolisme karbohidrat dan lipid, maupun metabolisme protein dan
mineral.insulin akan meningkatkan lipogenesis, menekan lipolisis,
serta meningkatkan transport asam amino masuk ke dalam sel. Insulin
juga mempunyai peran dalam modulasi transkripsi, sintesis DNA dan
replikasi sel. Itu sebabnya, gangguan fungsi insulin dapat
menyebabkan pengaruh negatif dan komplikasi yang sangat luas dari
berbagai organ dan jaringan tubuh.
4. Prinsip Terapi Insulin
a. Semua penderita DM Tipe 1 memerlukan insulin eksogen karena
produksi insulin endogen oleh sel-sel β kelenjar pankreas tidak ada
atau hampir tidak ada
b. Penderita DM Tipe 2 tertentu kemungkinan juga membutuhkan
terapi insulin apabila terapi lain yang diberikan tidak dapat
mengendalikan kadar glukosa darah
c. Keadaan stres berat, seperti pada infeksi berat, tindakan
pembedahan, infark miokard akut atau stroke
d. DM Gestasional dan penderita DM yang hamil membutuhkan
terapi insulin, apabila diet saja tidak dapat mengendalikan kadar
glukosa darah.
e. Ketoasidosis diabetik
f. Insulin seringkali diperlukan pada pengobatan sindroma
hiperglikemia hiperosmolar non-ketotik.
g. Penderita DM yang mendapat nutrisi parenteral atau yang
memerlukan suplemen tinggi kalori untuk memenuhi kebutuhan
energi yang meningkat, secara bertahap memerlukan insulin
eksogen untuk mempertahankan kadar glukosa darah mendekati
normal selama periode resistensi insulin atau ketika terjadi
peningkatan kebutuhan insulin.
h. Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat
i. Kontra indikasi atau alergi terhadap OHO

22
5. Cara Pemberian

Gambar 1. Lokasi Penyuntikkan Insulin


Sediaan insulin saat ini tersedia dalam bentuk obat suntik yang
umumnya dikemas dalam bentuk vial. Kecuali dinyatakan lain,
penyuntikan dilakukan subkutan (di bawah kulit). Lokasi penyuntikan
yang disarankan ditunjukan pada gambar diatas. Penyerapan insulin
dipengaruhi oleh beberapa hal. Penyerapan paling cepat terjadi di
daerah abdomen, diikuti oleh daerah lengan, paha bagian atas dan
bokong. Bila disuntikkan secara intramuskular dalam, maka
penyerapan akan terjadi lebih cepat, dan masa kerjanya menjadi lebih
singkat. Kegiatan fisik yang dilakukan segera setelah penyuntikan
akan mempercepat waktu mula kerja (onset) dan juga mempersingkat
masa kerja. Selain dalam bentuk obat suntik, saat ini juga tersedia
insulin dalam bentuk pompa (insulin pump) atau jet injector, sebuah
alat yang akan menyemprotkan larutan insulin ke dalam kulit. Sediaan
insulin untuk disuntikkan atau ditransfusikan langsung ke dalam vena
juga tersedia untuk penggunaan di klinik. Penelitian untuk menemukan
bentuk baru sediaan insulin yang lebih mudah diaplikasikan saat ini
sedang giat dilakukan. Diharapkan suatu saat nanti dapat ditemukan
sediaan insulin per oral atau per nasal.
6. Penggolongan Sediaan Insulin
Untuk terapi, ada berbagai jenis sediaan insulin yang tersedia, yang
terutama berbeda dalam hal mula kerja (onset) dan masa kerjanya

23
(duration). Sediaan insulin untuk terapi dapat digolongkan menjadi 4
kelompok, yaitu :
a. Insulin masa kerja singkat (Short-acting/Insulin), disebut juga
insulin reguler
b. Insulin masa kerja sedang (Intermediate-acting)
c. Insulin masa kerja sedang dengan mula kerja cepat
d. Insulin masa kerja panjang (Long-acting insulin) (IONI, 2000 dan
Soegondo, 1995).
No. Jenis Sediaan Insulin Mula Kerja Puncak Massa
(Jam) (Jam) Kerja
(Jam)
1. Masa kerja Singkat 0,5 1-4 6-8
(Shortacting/
Insulin), disebut juga insulin
Reguler
2. Masa kerja Sedang 1-2 6-12 18-24
3. Masa kerja Sedang, Mula 0,5 4-15 18-24
kerja cepat
4. Masa kerja panjang 4-6 14-20 24-36

Respon individual terhadap terapi insulin cukup beragam, oleh sebab itu
jenis sediaan insulin mana yang diberikan kepada seorang penderita dan berapa
frekuensi penyuntikannya ditentukan secara individual, bahkan seringkali
memerlukan penyesuaian dosis terlebih dahulu. Umumnya, pada tahap awal
diberikan sediaan insulin dengan kerja sedang, kemudian ditambahkan insulin
dengan kerja singkat untuk mengatasi hiperglikemia setelah makan. Insulin kerja
singkat diberikan sebelum makan, sedangkan insulin kerja sedang umumnya
diberikan satu atau dua kali sehari dalam bentuk suntikan subkutan. Namun,
karena tidak mudah bagi penderita untuk mencampurnya sendiri, maka tersedia
sediaan campuran tetap dari kedua jenis insulin regular (R) dan insulin kerja
sedang (NPH). Waktu paruh insulin pada orang normal sekitar 5-6 menit, tetapi
memanjang pada penderita diabetes yang membentuk antibodi terhadap
insulin.Insulin dimetabolisme terutama di hati, ginjal dan otot. Gangguan fungsi

24
ginjal yang berat akan mempengaruhi kadar insulin di dalam darah (IONI,
2000).
7. Sediaan Insulin Yang Beredar di Indonesia
Dalam tabel 7 disajikan beberapa produk obat suntik insulin yang
beredar di Indonesia (IONI, 2000 dan Soegondo, 1995).
Nama Golongan Mula Puncak Masa Sediaan
Sediaan Kerja (jam) Kerja
(jam) (jam)
Actrapid Masa kerja 0,5 1-3 8 40 Ul/ml
HM singkat
Actrapid Masa kerja 0,5 2-4 24 100 Ul/ml
HM singkat
Penfiil
Insulatard Masa kerja 0,5 4-12 24 40 Ul/ml
HM sedang, mula
Penfiil kerja cepat
Monotard Masa kerja 2,5 7-15 24 100 Ul/ml
HM sedang, mula
kerja cepat
Protamin Kerja lama 4-6 14-20 24-36 40 Ul/ml
Zinc dan 100
Sulfat Ul/ml

Untuk tujuan terapi, dosis insulin dinyatakan dalam unit internasional (UI).
Satu UI merupakan jumlah yang diperlukan untuk menurunkan kadar gula
darah kelinci sebanyak 45 mg%. Sediaan homogen human insulin
mengandung 25-30 U/mg.

8. Penyimpanan Sediaan Insulin (Soegondo, 1995)


Insulin harus disimpan sesuai dengan anjuran produsen obat yang
bersangkutan. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan :
a. Insulin harus disimpan di lemari es pada temperatur 2-8o C. Insulin
vial Eli Lily yang sudah dipakai dapat disimpan selama 6 bulan
atau sampai 200 suntikan bila dimasukkan dalam lemari es. Vial

25
Novo Nordisk insulin yang sudah dibuka, dapat disimpan selama
90 hari bila dimasukkan lemari es.
b. Insulin dapat disimpan pada suhu kamar dengan penyejuk 15-20 ºC
bila seluruh isi vial akan digunakan dalam satu bulan. Penelitian
menunjukkan bahwa insulin yang disimpan pada suhu kamar lebih
dari 30°C akan lebih cepat kehilangan potensinya. Penderita
dianjurkan untuk memberi tanggal pada vial ketika pertama kali
memakai dan sesudah satu bulan bila masih tersisa sebaiknya tidak
digunakan lagi.
c. Penfill dan pen yang disposable berbeda masa simpannya. Penfill
regular dapat disimpan pada temperatur kamar selama 30 hari
sesudah tutupnya ditusuk. Penfill 30/70 dan NPH dapat disimpan
pada temperatur kamar selama 7 hari sesudah tutupnya ditusuk.
d. Untuk mengurangi terjadinya iritasi lokal pada daerah penyuntikan
yang sering terjadi bila insulin dingin disuntikkan, dianjurkan
untuk mengguling-gulingkan alat suntik di antara telapak tangan
atau menempatkan botol insulin pada suhu kamar, sebelum
disuntikkan.
J. PENGGOLONGAN OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL
Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat-obat hipoglikemik oral
dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu :
a. Obat-obat yang meningkatkan sekresi insulin, meliputi obat
hipoglikemik oral golongan sulfonilurea dan glinida (meglitinida dan
turunan fenilalanin).
b. Sensitiser insulin (obat-obat yang dapat meningkatkan sensitifitas sel
terhadap insulin), meliputi obat-obat hipoglikemik golongan biguanida
dan tiazolidindion, yang dapat membantu tubuh untuk memanfaatkan
insulin secara lebih efektif.
c. Inhibitor katabolisme karbohidrat, antara lain inhibitor α-glukosidase
yang bekerja menghambat absorpsi glukosa dan umum digunakan
untuk mengendalikan hiperglikemia post-prandial (post-meal
hyperglycemia) disebut juga “starch-blocker”.

26
1. Golongan Sulfonilurea
Merupakan obat hipoglikemik oral yang paling dahulu ditemukan.
Sampai beberapa tahun yang lalu, dapat dikatakan hampir semua obat
hipoglikemik oral merupakan golongan sulfonilurea. Obat hipoglikemik
oral golongan sulfonilurea merupakan obat pilihan (drug of choice) untuk
penderita diabetes dewasa baru dengan berat badan normal dan kurang
serta tidak pernah mengalami ketoasidosis sebelumnya. Senyawa-
senyawa sulfonilurea sebaiknya tidak diberikan pada penderita gangguan
hati, ginjal dan tiroid. Obat-obat kelompok ini bekerja merangsang sekresi
insulin di kelenjar pankreas, oleh sebab itu hanya efektif apabila sel-sel β
Langerhans pankreas masih dapat berproduksi. Penurunan kadar glukosa
darah yang terjadi setelah pemberian senyawa-senyawa sulfonilurea
disebabkan oleh perangsangan sekresi insulin oleh kelenjar pancreas. Sifat
perangsangan ini berbeda dengan perangsangan oleh glukosa, karena
ternyata pada saat glukosa (atau kondisi hiperglikemia) gagal merangsang
sekresi insulin, senyawa-senyawa obat ini masih mampu meningkatkan
sekresi insulin. Oleh sebab itu, obat-obat golongan sulfonilurea sangat
bermanfaat untuk penderita diabetes yang kelenjar pankreasnya masih
mampu memproduksi insulin, tetapi karena sesuatu hal terhambat
sekresinya. Pada penderita dengan kerusakan sel-sel β Langerhans
kelenjar pancreas, pemberian obat-obat hipoglikemik oral golongan
sulfonilurea tidak bermanfaat. Pada dosis tinggi, sulfonilurea
menghambat degradasi insulin oleh hati. Absorpsi senyawa-senyawa
sulfonilurea melalui usus cukup baik, sehingga dapat diberikan per oral.
Setelah diabsorpsi, obat ini tersebar ke seluruh cairan ekstrasel. Dalam
plasma sebagian terikat pada protein plasma
terutama albumin (70-90%).

a. Efek Samping (Handoko dan Suharto, 1995; IONI, 2000)


Efek samping obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea
umumnya ringan dan frekuensinya rendah, antara lain gangguan
saluran cerna dan gangguan susunan syaraf pusat. Gangguan saluran

27
cerna berupa mual, diare, sakit perut, hipersekresi asam lambung dan
sakit kepala. Gangguan susunan syaraf pusat berupa vertigo, bingung,
ataksia dan lain sebagainya. Gejala hematologik termasuk leukopenia,
trombositopenia, agranulosistosis dan anemia aplastik dapat terjadi
walau jarang sekali. Klorpropamida dapat meningkatkan ADH
(Antidiuretik Hormon). Hipoglikemia dapat terjadi apabila dosis tidak
tepat atau diet terlalu ketat, juga pada gangguan fungsi hati atau ginjal
atau pada lansia. Hipoglikemia sering diakibatkan oleh obat-obat
hipoglikemik oral dengan masa kerja panjang.
b. Interaksi Obat (Handoko dan Suharto, 1995; IONI, 2000)
Banyak obat yang dapat berinteraksi dengan obat-obat sulfonilurea,
sehingga risiko terjadinya hipoglikemia harus diwaspadai. Obat atau
senyawa senyawa yang dapat meningkatkan risiko hipoglikemia
sewaktu pemberian obat-obat hipoglikemik sulfonilurea antara lain:
alkohol, insulin, fenformin, sulfonamida, salisilat dosis besar,
fenilbutazon, oksifenbutazon, probenezida, dikumarol, kloramfenikol,
penghambat MAO (Mono Amin Oksigenase), guanetidin, steroida
anabolik, fenfluramin, dan klofibrat.
c. Peringatan dan Kontraindikasi (IONI, 2000)
- Penggunaan obat-obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea
harus hati hati pada pasien usia lanjut, wanita hamil, pasien
dengan gangguan fungsi hati, dan atau gangguan fungsi ginjal.
Klorpropamida dan glibenklamida tidak disarankan untuk
pasien usia lanjut dan pasien insufisiensi ginjal. Untuk pasien
dengan gangguan fungsi ginjal masih dapat digunakan
glikuidon, gliklazida, atau tolbutamida yang kerjanya singkat.
- Wanita hamil dan menyusui, porfiria, dan ketoasidosis
merupakan kontra indikasi bagi sulfonilurea.
- Tidak boleh diberikan sebagai obat tunggal pada penderita
diabetes yuvenil, penderita yang kebutuhan insulinnya tidak
stabil, dan diabetes melitus berat.

28
- Obat-obat golongan sulfonilurea cenderung meningkatkan
berat badan.
d. Klasifikasi Sulfonilurea
Dikenal 2 generasi Sulfonilurea :
- Generasi I : Tolbutamid, Tolazonamid dam Klorpropamid
- Generasi II : Gliburid, Glipizid, Gliklazid dan Glimepirid,
berpotensi hipoglikemik paling besar dan daya kerjanya atas
dasar berat badan 10-100x lebih kuat (Tjay & Rahardja, 2007).
e. Farmakokinetika Sulfonilurea
Sulfonilurea diserap dengan baik melalui saluran GI. Penurunan
penyerapan terjadi ketika bersama makanan. Gliburide memiliki
formulasi micronized yang menyediakan bioavailabilitas yang lebih
baik dan memungkinkan untuk dosis yang lebih rendah. Setelah
diserap, sulfonilurea terikat protein yang tinggi. Obat golongan ini
memiliki waktu paruh yang pendek tetapi efek penurunan glukosa
tahan lama dan memungkinkan dosis sehari sekali. Sulfonilurea
dimetabolisme di hati dan terutama diekskresikan oleh ginjal.
Gliburide memiliki metabolit aktif yang lemah, dieliminasi melalui
ginjal dan dapat menumpuk pada pasien dengan penurunan fungsi
ginjal (misalnya pasien geriatri) (Archer et al., 2013).
f. Efektivitas Sulfonilurea
Apabila diberikan pada dosis yang cukup, semua sulfonylurea
sama efektifnya dalam menurunkan glukosa darah. Rata-rata HbA1c
akan turun 1,5-2% dengan kadar glukosa darah puasa akan turun
sebesar 60-70 mg/dL. Sebagian besar pasien tidak mencapai target
dengan terapi tunggal. Sulfonilurea menunjukkan penurunan dari
komplikasi mikrovaskuler pada DM Tipe 2. Sampai saat ini
sulfonilurea tidak mempunyai manfaat yang signifikan pada
komplikasi kardiovaskular maupun efek samping yang signifikan
pada komplikasi makrovaskular α (Triplitt et al., 2008).
Obat Hipoglikemik Oral Keterangan
Gliburida (Glibenklamida) Memiliki efek hipoglikemik yang poten
Contoh Sediaan : sehingga pasien perlu diingatkan untuk

29
- Glibenclamide melakukan jadwal makan yang ketat.
(generik) Gliburida dimetabolisme dalam hati, hanya
- Abenon (Heroic), 25% metabolit diekskresi melalui ginjal,
- Clamega (Emba sebagian besar diekskresi melalui empedu
Megafarma) dan dikeluarkan bersama tinja. Gliburida
efektif dengan pemberian dosis tunggal. Bila
pemberian dihentikan, obat akan bersih
keluar dari serum setelah 36 jam.
Diperkirakan mempunyai efek terhadap
agregasi trombosit. Dalam batas-batas
tertentu masih dapat diberikan pada
beberapa pasien dengan kelainan fungsi hati
dan ginjal. (Handoko dan Suharto, 1995;
Soegondo, 1995).
Glipizida Mempunyai masa kerja yang lebih lama
Contoh Sediaan : dibandingkan dengan glibenklamid tetapi
- Aldiab (Merck) lebih pendek dari pada klorpropamid.
- Glucotrol (Pfizer) Kekuatan hipoglikemiknya jauh lebih besar
- Glyzid (Sunthi dibandingkan dengan tolbutamida.
Sepuri) Mempunyai efek menekan produksi glukosa
- Minidiab (Kalbe hati dan meningkatkan jumlah reseptor
Farma) insulin. Glipizida diabsorpsi lengkap
- Glucotrol sesudah pemberian per oral dan dengan
cepat dimetabolisme dalam hati menjadi
metabolit yang tidak aktif. Metabolit dan
kira-kira 10% glipizida utuh diekskresikan
melalui ginjal (Handoko dan Suharto, 1995;
Soegondo,1995).
Glikazida Mempunyai efek hipoglikemik sedang
Contoh Sediaan : sehingga tidak begitu sering menyebabkan
- Diamicron (Darya efek hipoglikemik. Mempunyai efek anti
Varia) agregasi trombosit yang lebih poten. Dapat
- Glibet (Dankos) diberikan pada penderita gangguan fungsi

30
- Glicab (Tempo Scan hati dan ginjal yang ringan (Soegondo,
Pacific) 1995).
- Glidabet (Kalbe
Farma)
Glimepirida Memiliki waktu mula kerja yang pendek dan
Contoh Sediaan : waktu kerja yang lama, sehingga umum
- Amaryl diberikan dengan cara pemberian dosis
tunggal. Untuk pasien yang berisiko tinggi,
yaitu pasien usia lanjut, pasien dengan
gangguan ginjal atau yang melakukan
aktivitas berat dapat diberikan obat ini.
Dibandingkan dengan glibenklamid,
glimepirid lebih jarang menimbulkan efek
hipoglikemik pada awal pengobatan
(Soegondo, 1995).
Glikuidon Mempunyai efek hipoglikemik sedang dan
Contoh Sediaan : jarang menimbulkan serangan hipoglikemik.
- Glurenorm Karena hampir seluruhnya diekskresi
(Boehringer melalui empedu dan usus, maka dapat
Ingelheim) diberikan pada pasien dengan gangguan
fungsi hati dan ginjal yang agak berat
(Soegondo, 1995).

2. Golongan Meglitinida dan Turunan Fenilalanin


Obat-obat hipoglikemik oral golongan glinida ini merupakan obat
hipoglikemik generasi baru yang cara kerjanya mirip dengan golongan
sulfonilurea. Kedua golongan senyawa hipoglikemik oral ini bekerja
meningkatkan sintesis dan sekresi insulin oleh kelenjar pankreas.
Umumnya senyawa obat hipoglikemik golongan meglitinida dan turunan
fenilalanin ini dipakai dalam bentuk kombinasi dengan obat-obat
antidiabetik oral lainnya.
Obat Hipoglikemik Oral Keterangan
Repaglinida Merupakan turunan asam

31
Contoh Sediaan: benzoat. Mempunyai efek
- Prandin/NovoNorm/ GlucoNorm hipoglikemik ringan sampai
(Novo Nordisk) sedang. Diabsorpsi dengan cepat
setelah pemberian per oral, dan
diekskresi secara cepat melalui
ginjal. Efek samping yang
mungkin terjadi adalah keluhan
saluran cerna (Soegondo, 1995).
Nateglinida Merupakan turunan fenilalanin,
Contoh Sediaan : cara kerja mirip dengan
- Starlix (Novartis Pharma AG) repaglinida. Diabsorpsi cepat
setelah pemberian per oral dan
diekskresi terutama melalui
ginjal. Efek samping yang dapat
terjadi pada penggunaan obat ini
adalah keluhan infeksi saluran
nafas atas (ISPA) (Soegondo,
1995).

3. Golongan Biguinida
Obat hipoglikemik oral golongan biguanida bekerja langsung pada
hati (hepar), menurunkan produksi glukosa hati. Senyawa-senyawa
golongan biguanida tidak merangsang sekresi insulin, dan hampir tidak
pernah menyebabkan hipoglikemia. Satu-satunya senyawa biguanida yang
masih dipakai sebagai obat hipoglikemik oral saat ini adalah metformin.
Metformin masih banyak dipakai di beberapa negara termasuk Indonesia,
karena frekuensi terjadinya asidosis laktat cukup sedikit asal dosis tidak
melebihi 1700 mg/hari dan tidak ada gangguan fungsi ginjal dan hati.
a. Farmakologi Biguanida
Metformin meningkatkan sensitivitas insulin pada liver dan
jaringan perifer. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan
masukan glukosa pada jaringan perifer. Mekanisme pasti bagaimana
metformin meningkatkan sensitivitas sedang diteliti. Metformin tidak

32
mempunyai efek langsung pada sel β pankreas, meskipun kadar
insulin menurun. Selain itu diketahui bahwa efek utama adalah
dengan menurunkan produksi glukosa hepatik melalui aktivasi enzim
AMP-activated protein kinase dan meningkatkan stimulasi ambilan
glukosa oleh otot skelet dan jaringan lemak. Metformin selain
menurunkan glukosa juga menurunkan kolesterol total (5-10%) dan
trigliserida (10-20%) dan kemungkinan menjaga kadar HDL-C
(Katzung, 2009; Triplitt et al., 2011; Kroon dan Williams, 2013).
b. Farmakokinetika Biguanida
Absorpsi oral metformin adalah 50-60%; dieliminasi unchanged
oleh ekskresi ginjal, klirens menjadi lebih besar dari laju filtrasi
glomerulus karena sekresi aktif ke dalam cairan tubulus. Metformin
terakumulasi pada pasien dengan penurunan fungsi ginjal. Waktu
paruh berkisar 1,5 - 4,5 jam, tapi durasi kerjanya lama lagi,
memungkinkan dua kali dosis harian (Ritter, 2008).
c. Efektivitas Biguanida
Metformin menurunkan HbA1c 1,5-2% kadar glukosa darah puasa
60-80 mg/dL dan tampak berkurang kemampuannya menurunkan
kadar glukosa puasa apabila kadarnya terlalu tinggi (>300 mg/dL).
Metformin mempunyai efek positif terhadap sindroma resistensi
insulin. Metformin menurunkan TG (Trigliserida) plasma dan LDL-C
(low density lipoprotein-C) 8-15%, meningkatkan HDL (high density
lipoprotein) sekitar 2%, menurunkan PAI dan menurunkan berat
badan (2-3 kg). metformin tidak mempunyai perbedaan yang
signifikan dalam penurunan komplikasi mirovaskular dibandingkan
dengan terapi insulin intensif atau sulfonilurea. Metformin
menurunkan komplikasi makrovaskular pasien DM Tipe 2 dengan
berat badan obese menurut UKPDS. Dilaporkan metformin
menurunkan kematian karena diabetes dan infark miokard (Triplitt et
al., 2008).
d. Efek Samping Biguanida

33
Efek samping yang paling umum adalah ketidaknyamanan perut,
sakit perut, diare, dan anoreksia. Efek ini dapat diminimalkan dengan
mentitrasi dosis perlahan dan mengkonsumsi bersamaan dengan
makanan. Extended-release metformin (Glucophage XR) dapat
mengurangi efek samping GI. Asidosis laktat jarang terjadi dan dapat
diminimalkan dengan menghindari penggunaan pada pasien dengan
insufisiensi ginjal (kreatinin serum 1,4 mg / dL atau lebih [≥124
umol / L] pada wanita dan 1,5 mg / dL atau lebih [≥133 umol / L]
pada laki-laki), gagal jantung kongestif, atau kondisi predisposisi
hipoksemia atau asidosis laktat (DiPiro et al., 2015).
e. Interaksi Obat Biguanida
Obat hipoglikemik oral lainnya aditif dengan metformin. Etanol
merupakan predisposisi terkait asidosis laktat metformin (Ritter,
2008).
f. Dosis dan Cara Pemberian Biguanida
Metformin lepas cepat 500 mg dua kali sehari digunakan bersama
makan untuk mengurangi efek samping pada saluran cerna metformin
dapat ditingkatkan 500 mg setiap minggu sampai target glikemik atau
2000 mg/hari dicapai. Metformin 850 mg diberikan sekali sehari dan
ditingkatkan setiap 1-2 minggu menuju dosis maksimum 850 mg tiga
kali sehari. Tersedia sediaan extended release untuk membantu
meminimalkan efek samping pada saluran cerna (Triplitt
et al., 2008).

Obat Hipoglikemik Oral Keterangan

34
Metformin Satu-satunya golongan biguanida
Contoh Sediaan : yang masih dipergunakan sebagai
- Metformin (generic) obat hipoglikemik oral. Bekerja
- Benoformin (Benofarma) menurunkan kadar glukosa darah
- Bestab (Yekatria) dengan memperbaiki transport
- Diabex (Combiphar) glukosa ke dalam sel-sel otot.
- Eraphage (Guardian) Obat ini dapat memperbaiki
- Formell (Alpharma) uptake glukosa sampai sebesar 10-
- Glucotika (Ikapharmindo) 40%. Menurunkan produksi
- Glucophage (Merck) glukosa hati dengan jalan
- Gludepatic (Fahrenheit) mengurangi glikogenolisis dan
glukoneogenesis (Soegondo,
1995)

4. Golongan Tiazolidindion (TZD)


Senyawa golongan tiazolidindion bekerja meningkatkan kepekaan
tubuh terhadap insulin dengan jalan berikatan dengan PPARγ (peroxisome
proliferator activated receptor-gamma) di otot, jaringan lemak, dan hati
untuk menurunkan resistensi insulin. Senyawa-senyawa TZD juga
menurunkan kecepatan glikoneogenesis.
a. Farmakologi Thiazolidendion
Contoh obat ini adalah rosiglitazone dan pioglitazone. Obat bekerja
dengan berikatan pada peroxisomen proliferator activated reseptor
gamma (PPAR gamma) suatu respeptor inti di sel otot dan sel lemak.
Obat ini mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan
meningkatkan jumlah pentranspor glukosa, sehingga meningkatkan
ambilan glukosa di perifer. TZD mempengaruhi adipokin (misal
angiotensinogen, TNF alfa, interleukin-6, PAI-1), yang mempengaruhi
sensitivitas insulin. Adinopektin yang menurun pada kondisi obese
dan diabetes ditingkatkan oleh TZD, memperbaiki fungsi endotel,
sensitivitas insulin dan memiliki efek antiinflamasi yang poten. Obat
ini kontraindikasi pada edema dan juga pada gangguan faal hati.

35
Penggunaan obat tidak bergantung jadwal makan (Triplitt et al., 2008;
Kroon dan Williams, 2013).
b. Farmakokinetika Thiazolidenidion
Pioglitazone dan rosiglitazone keduanya diabsorpsi dengan baik
dengan atau tanpa makanan. Keduanya 99% terikat albumin.
Pioglitazone utamanya dimetabolisme CYP2C8, dan dalam jumlah
yang sedikit oleh CYP3A4. Sementara rosiglitazone utamanya
dimetabolisme oleh CYP2C8 dan dalam jumlah yang sedikit oleh
CYP2C9. Bentuk terkonjugasi dua pertiga ditemukan dalam urin,
sisanya dalam feses. Waktu paruh pioglitazone dan rosiglitazone
berturut-turut 3-7 jam dan 3-4 jam. Kedua obat mempunyai lama kerja
sebagai antihiperglikemi lebih dari 24 jam (Triplitt et al., 2008).
c. Efektivitas Thiazolidenidion
Rata-rata penurunan HbA1c pada pemberian pioglitazone dan
rosiglitazone selama terapi 1 bulan adalah 1,5% dan penurunan gula
darah puasa 60-70 mg/dL. Keduanya dilaporkan menurunkan
komplikasi mikrovaskular namun demikian efektivitasnya pada
komplikasi makrovaskular masih kontroversial (Triplitt et al., 2008).
d. Efek Samping Thiazolidenidion
Mengingat efek dari thiazolidinediones pada diferensiasi adiposit
dan proliferasi, khususnya di adiposit perifer, tidaklah mengherankan
bahwa efek samping pengobatan thiazolidinedion adalah penigkatan
berat badan dan massa lemak perifer. Bahkan, cenderung terjadi
korelasi antara peningkatan lemak perifer dan perbaikan klinis dalam
sensitivitas insulin dan glikemia pada diabetes tipe 2. Di sisi lain,
lemak visceral yang muncul jauh lebih metabolik “berbahaya” dari
lemak perifer, tidak meningkat dan mungkin pada kenyataannya
menurun dengan terapi thiazolidinedion. Efek samping yang mungkin
menghalangi penggunaan thiazolidinedion pada pasien dengan gagal
jantung parah adalah retensi cairan. Ini adalah efek kelas penting,
yang dapat mengakibatkan edema perifer, terutama pada pasien yang
memakai insulin secara bersamaan (yang mungkin sendiri

36
menyebabkan beberapa peningkatan cairan interstitial). Peningkatan
hasil volume plasma dalam setetes kecil dalam konsentrasi
hemoglobin karena hemodilusi. Hal ini jarang signifikan secara klinis
(Greenfield et al., 2004).
e. Interaksi Obat
Ada interaksi obat yang signifikan telah dilaporkan dengan
thiazolidinediones, tetapi perlu dicatat bahwa dalam kombinasi
dengan sulfonilurea, hipoglikemia dapat terjadi karena kombinasi dari
sensitivitas insulin ditingkatkan (thiazolidinedion) dan ditingkatkan
sekresi insulin (sulfonilurea). Thiazolidinedion dimetabolisme oleh
sitokrom P450 2C8 (dan oleh CYP3A4 untuk pioglitazone), tetapi
pada dosis konvensional ternyata tidak mempengaruhi aktivitas enzim
tersebut. Perhatian tetap harus dilakukan ketika menggunakan
thiazolidinedion dalam kombinasi dengan obat dimetabolisme oleh
enzim ini (Greenfield et al., 2004).
f. Dosis dan Cara Pemberian Thiazolidenidion
Dosis Pioglitazone mulai 15 mg per oral sekali sehari; dosis
maksimum 45 mg/hari. Rosiglitazone dimulai dengan 2 sampai 4 mg
per oral sekali sehari; dosis maksimum 8 mg / hari. Dosis 4 mg dua
kali sehari dapat mengurangi A1C sebesar 0,2% hingga 0,3% lebih
dari 8 mg diminum sekali sehari (DiPiro et al, 2015).
Obat Hipoglikemik Oral Keterangan
Rosiglitazone Cara kerja hampir sama dengan
Contoh Sediaan : pioglitazon, diekskresi melalui urin
- Avandia (GlaxoSmithKline) dan feses. Mempunyai efek
hipoglikemik yang cukup baik jika
dikombinasikan dengan metformin.
Pada saat ini belum beredar di
Indonesia.
Pioglitazone Mempunyai efek menurunkan
Contoh Sediaan : resistensi insulin dengan
- Actos (Takeda Chemicals meningkatkan jumlah protein
Industries Ltd) transporter glukosa, sehingga

37
meningkatkan uptake glukosa di sel-
sel jaringan perifer. Obat ini
dimetabolisme di hepar. Obat ini
tidak boleh diberikan pada pasien
gagal jantung karena dapat
memperberat edema dan juga pada
gangguan fungsi hati. Saat ini tidak
digunakan sebagai obat tunggal.

5. Golongan Inhibitor α-Glukosidase


Senyawa-senyawa inhibitor α-glukosidase bekerja menghambat
enzim alfa glukosidase yang terdapat pada dinding usus halus. Enzim-
enzim α-glukosidase (maltase, isomaltase, glukomaltase dan sukrase)
berfungsi untuk menghidrolisis oligosakarida, pada dinding usus halus.
Inhibisi kerja enzim ini secara efektif dapat mengurangi pencernaan
karbohidrat kompleks dan absorbsinya, sehingga dapat mengurangi
peningkatan kadar glukosa post prandial pada penderita diabetes.
Senyawa inhibitor α-glukosidase juga menghambat enzim α-amilase
pankreas yang bekerja menghidrolisis polisakarida di dalam lumen usus
halus. Obat ini merupakan obat oral yang biasanya diberikan dengan dosis
150-600 mg/hari. Obat ini efektif bagi penderita dengan diet tinggi
karbohidrat dan kadar glukosa plasma puasa kurang dari 180 mg/dl.
Obat ini hanya mempengaruhi kadar glukosa darah pada waktu
makan dan tidak mempengaruhi kadar glukosa darah setelah itu. Obat-
obat inhibitor α-glukosidase dapat diberikan sebagai obat tunggal atau
dalam bentuk kombinasi dengan obat hipoglikemik lainnya. Obat ini
umumnya diberikan dengan dosis awal 50 mg dan dinaikkan secara
bertahap sampai 150-600 mg/hari. Dianjurkan untuk memberikannya
bersama suap pertama setiap kali makan.

a. Farmakologi Penghambat Glukosidase α


Acarbose menghambat baik alpha amilase dan alpha-glukosidase
lainnya, sehingga mencegah penyerapan pati dan karbohidrat lain dari

38
perbatasan intestine. Voglibose dan miglitol menghambat disakarida,
tetapi tidak berpengaruh pada pati yang dicerna enzim alfa amilase.
Kelas ini mengandung senyawa yang menunda penyerapan
karbohidrat di usus, mengurangi glikemia postprandial, dan
membantu mengelola diabetes. Acarbose juga memiliki efek hemat
insulin, menyebabkan peningkatan hormon incretin, glukagon seperti
peptide- 1 dan menghambat pelepasan postprandial dari gastric
inhibitory polypeptide (GIP), dan membantu mengurangi berat tubuh.
Acarbose dan voglibose tidak diserap dari usus, dan memiliki
bioavailabilitas yang rendah. Miglitol sebaliknya, hampir sepenuhnya
diserap dari bagian atas usus. Ketiga AGIs (alpha glucosidase
inhibitors) didistribusikan di ruang ekstraselular, dengan afinitas
jaringan rendah dan variabel protein yang mengikat. Acarbose dan
voglibose diekskresikan melalui jalur fekal, sedangkan miglitol
diekskresikan oleh ginjal (Kalra, 2014).
b. Farmakokinetik Penghambat Glukosidase α
Obat golongan ini mencegah pemecahan sukrosa dan karbohidrat
kompleks di kecil usus, memperpanjang penyerapan karbohidrat. Efek
bersih adalah pengurangan glukosa postprandial (40-50 mg / dL; 2,2-
2,8 mmol / L) dengan relatif tidak merubah GDP (~ 10%
pengurangan). Khasiat sederhana dengan pengurangan A1C rata-rata
0,3% menjadi 1%. Obat ini cocok untuk pasien yang dekat tingkat
target A1C dengan tingkat FPG mendekati normal tetapi tingkat
postprandial yang tinggi (DiPiro, 2015).
c. Efektivitas Penghambat Glukosidase α
Konsentrasi glukosa postprandial turun (40-50 mg/dL), sedangkan
kadar glukosa puasa relatif tidak diubah (~10%). Rata-rata penurunan
HbA1c 0,3-1%. Keduanya dilaporkan menurunkan komplikasi
mikrovaskular dan makrovaskular tetapi penelitian tersebut terbatasi
oleh jumlah sampel yang sedikit (Kroon dan Williams, 2013).
d. Efek Samping Penghambat Glukosidase α

39
AGI menunda pencernaan karbohidrat kompleks. Mekanisme aksi
ini mengarah ke penurunan glikemia dan efek osmotik yang tidak
diinginkan. Disakarida yang tetap berada dalam lumen usus mungkin
menyebabkan perut kembung, diare dan sakit perut. AGI yang efektif
bila tertelan pada awal makan, yaitu suapan pertama dari makanan.
Tes fungsi hati juga harus dilakukan sebelum dan secara berkala
setelah memulai terapi acarbose pada pengobatan pertama 6-12 bulan.
Hipoglikemia jarang terjadi dengan AGI monoterapi. Namun,
penggunaan bersamaan dari AGI dengan insulin atau sulfonilurea
dapat memicu kejadian hipoglikemia episodik. Hipoglikemia yang
disebabkan oleh AGI harus diatasi oleh monosakarida (glukosa,
fruktosa) (Kalra, 2014).
e. Dosis dan Cara Pemberian Penghambat Glukosidase α
Dosis permulaan sehari 3 kali 50 mg, bila perlu dinaikkan setelah
1-2 minggu sampai maksimal sehari 3 kali 100 mg. dianjurkan untuk
memberikannya bersama suapan pertama setiap kali makan (DIH,
2009).
Obat Hipoglikemik Oral Keterangan
Acarbose Acarbose dapat diberikan dalam terapi
Contoh Sediaan : kombinasi dengan sulfonilurea, metformin,
- Glucobay (Bayer) atau insulin.
- Precose
Miglitol Miglitol biasanya diberikan dalam terapi
Contoh Sediaan : kombinasi dengan obat-obat antidiabetik
- Glycet oral golongan sulfonilurea

6. Penghambat DPP-IV
a. Farmakologi Penghambat DPP-IV
Incretin peptida seperti gastric inhibitory polypeptide (GIP) dan
glukagonlike peptide (GLP-1) bertanggung jawab untuk modulasi

40
glukosa darah postprandial dengan mempromosikan sekresi insulin
dari sel β pankreas dan melalui efek glukagonostatik. GLP-1 dan GIP
cepat tidak aktif oleh DPP-IV, yang mengarah ke waktu paruh pendek.
DPP-IV juga menunjukkan peningkatan sensitivitas insulin,
mengurangi hipertrofi islet pankreas, dan perlindungan terhadap
streptozotocin yang menginduksi hilangnya sel β dan hiperglikemia.
Penghambatan DPP-IV juga meningkatkan kontrol glikemik
postprandial, menunjukkan mekanisme tambahan untuk DPP-IV pada
efek antihiperglikemik (Zhong et al, 2015).
b. Farmakokinetik Penghambat DPP-IV
Bioavailabilitas absolut setelah penggunaan secara oral sekitar
87%. Waktu paruh sitagliptin 12 jam dan sekitar 79% dari dosis
sitagliptin dikeluarkan melalui urin dalam bentuk tidak berubah
melalui sekresi aktif. Kadar sitagliptin meningkat 2-3 kali
dibandingkan subjek sehat pada penderita dengan gangguan ginjal
sedang (klirens kreatinin 30 sampai < 50 ml/menit), 3,8 kali pada
gangguan ginjal berat (klirens kreatinin < 30 ml/menit) dan 4,5 kali
pada gangguan ginjal tahap akhir (dialisis). Makanan tidak
mempengaruhi kinetika absorpsi sitagliptin dan vidagliptin.
Vidagliptin diabsorpsi secara cepat dan hampir sempurna (85%)
setelah penggunaan rute oral. Dalam 1-2 jam tmax tercapai (Triplitt et
al., 2008).
c. Efektivitas Penghambat DPP-IV
Rata-rata penurunan pada HbA1c dengan vidagliptin atau
stiagliptin berkisar 0,7% sampai 1% pada dosis maksimum. Penurun
HbA1c bergantung pada kadar baseline HbA1c sebelum terapi.
Semakin tinggi kadar baseline semakin besar penurunan HbA1c
(Triplitt et al., 2008).
d. Interaksi Obat Golongan Penghambat DPP-IV
Baik sitagliptin maupun vidagliptin tidak tampak berinteraksi
dengan obat lain. Sitagliptin dimetabolisme oleh CYP3A4 sebanyak
20% dan sedikit oleh CYP2C8. Sitagliptin dan vidagliptin tidak

41
tampak menghambat ataupun menginduksi CYP450. Sitagliptin
merupakan substat dari p-glycoprotein tetapi mempunyai efek yang
tidak bermakna pada kinetika digoksin dan, siklosporin A
meningkatkan AUC hanya sekitar 30%. Saxagliptin dimetabolisme
oleh CYP3A4/5 sehingga berinteraksi dengan beberapa obat secara
signifikan. Dengan demikian, apabila saxagliptin digunakan secara
bersamaan dengan penghambat enzim CYP3A4/5 diantaranya
ketokonazol, itrakonazol, klaritromisin, dan penghambat protease
seperti indinavir maka dosis saxagliptin hendaknya diturunkan
menjadi 2,5 mg/hari (Triplitt et al., 2008; Kroon dan Williams, 2013).
e. Efek Samping Penghambat DPP-IV
Obat golongan ini ditoleransi dengan baik, berat badan netral dan
tidak menimbulkan efek samping GI. Hipoglikemia ringan dapat
terjadi, namun DPP-4 inhibitor tidak meningkatkan risiko
hipoglikemia sebagai monoterapi atau dikombinasikan dengan obat
yang memiliki insiden rendah hipoglikemia. Urtikaria dan/atau edema
wajah dapat terjadi pada 1% dari pasien, dan penghentian obat
dibenarkan. Kasus yang jarang terjadi sindrom Stevens-Johnson telah
dilaporkan. Saxagliptin menyebabkan pengurangan terkait dosis pada
jumlah limfosit absolut; pemberhentian harus dipertimbangkan jika
infeksi berkepanjangan terjadi (DiPiro et al, 2015).
f. Dosis dan Pemberian Penghambat DPP-IV
Dosis vidagliptin oral 50-100 mg/hari. Dosis sitagliptin oral 100
mg/hari kecuali ada gangguan ginjal. Dosis 50 mg/hari
direkomendasikan jika klirens kreatinin 30 sampai < 50 ml/menit, atau
25 mg jika kurang dari 30 ml/menit. Sementara itu dosis ekivalen
adalah sebagai berikut: dosis 50 mg untuk laki-laki dengan kreatinin >
1,7 – 3 mg/dL dan wanita > 1,5 – 2,5 mg/dL. Dosis 25 mg untuk laki-
laki > 3 mg/dL dan wanita > 2,5 mg/dL (Triplitt et al., 2008).
K. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM
PENGGUNAAN OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL

42
1. Dosis selalu harus dimulai dengan dosis rendah yang kemudian
dinaikkan secara bertahap.
2. Harus diketahui betul bagaimana cara kerja, lama kerja dan efek
samping obat-obat tersebut.
3. Bila diberikan bersama obat lain, pikirkan kemungkinan adanya
interaksi obat.
4. Pada kegagalan sekunder terhadap obat hipoglikemik oral,
usahakanlah menggunakan obat oral golongan lain, bila gagal lagi,
baru pertimbangkan untuk beralih pada insulin.
5. Hipoglikemia harus dihindari terutama pada penderita lanjut usia, oleh
sebab itu sebaiknya obat hipoglikemik oral yang bekerja jangka
panjang tidak diberikan pada penderita lanjut usia.
6. Usahakan agar harga obat terjangkau oleh penderita.

43
BAB 3. PENUTUP
A. KESIMPULAN
Diabetes atau yang disebut juga dengan kencing gula adalah
penyakit yang sangat ditakuti karena pengobatannya belum dilakukan
secara sempurna, sehingga banyak penderita penyakit diabetes rata-rata
meninggal dunia. Tetapi semuanya itu dapat diatasi dengan pengobatan
baru seperti penyuntikan insulin ke dalam tubuh. Insulin adalah hormon
yang bertanggungjawab, terutama pada metabolisme glukosa. Insulin akan
menaikan pengambilan glukosa ke dalam sel, menaikan peguraian glukosa
secara oksidatif, menaikan pembentukan glikogen dalam hati dan otot
serta menstimulasi pembentukan lemak dan protein. Dalam sel, glukosa
yang disimpan dalam hati dan otot sebagai cadangan. Jika mekanisme
kerja insulin terhadap glukosa tersebut terganggu, maka kadar glukosa
dalam darah akan meningkat. Pengobatan lain untuk penyakit diabetes
selain menyuntik hormon insulin. Pengobatan penyakit diabetes secara
kimia yaitu Sulfonilurea, Biguanida, Alpha Glikosidase, Meglitinid,
Tiazolidinedion. Adapun alernatif lain pengobatan penyakit diabetes yaitu
dengan diet, berolahraga, dan mengurangi konsumsi makanan dengan
kadar gula tinggi
B. SARAN
Semoga dengan adanya makalah ini diharapkan pembaca dapat
memahami tentang farmakologi obat diabetes mellitus sehingga pembaca
dapat menambah pengetahuan mengenai materi tersebut. Makalah ini
masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan
kritikan dan saran dari pembaca agar makalah ini lebih sempurna dan bisa
berguna bagi pembaca

44
DAFTAR PUSTAKA
American Diabetes Association (ADA) , 2012. Diagnosis and Classification of
Diabetes Mellitus. Diabetes Care volume 35 Supplement 1 pp.64-71.

American Medical Association, 2015. American Medical Association Complete


Guide to Prevention and Wellness. Wiley, United State of America.
Anonim, 2005, Pharmaceutical Care untuk Penyakit Diabetes Melitus, Depkes
RI, Jakarta.

Basuki E. Penyuluhan Diabetes Mellitus. Dalam Soegondo S, Soewondo P dan


Subekti I (eds). Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu, Pusat Diabetes dan
Lipid RSUP Nasional Cipto Mangunkusumo-FKUI, Jakarta,2004.

Bilous, R. & Donelly, R.2010.Buku Pegangan Diabetes Edisi Ke 4. Jakarta :


Bumi Medika
Dipiro, J.T., et al. 2005. Pharmacotherapy Handbook. Sixth edition. The Mc.
Graw Hill Company. USA. Page : 1891-1939.
DiPiro J.T., Wells B.G., Schwinghammer T.L. and DiPiro C. V., 2015,
Pharmacotherapy Handbook, Ninth Edit., McGraw-Hill Education Companies,
Inggris

Handoko, T., dan Suharto, B., 1995, Insulin, Glukogen, dan Antidiabetik Oral
Dalam Ganiswara, S. G., Setiabudy, R., Suyatna, F .D., Purwantyastuti dan
Nafrialdi, (eds),Farmakologi Dan Terapi, Edisi IV, 467-481, Bagian
Farmakokinetika, FKUI, Jakarta.

Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000 (IONI 2000). Direktorat Jenderal


Pengawasan Obat dan Makanan. Departeman Kesehatan Republik
Indonesia, 2000
Soegondo S. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Mellitus Terkini. Dalam
Soegondo S, Soewondo P dan Subekti I (eds). Penatalaksanaan Diabetes
Mellitus Terpadu, Pusat Diabetes dan Lipid RSUP Nasional Cipto

Triplitt, C.L., Charles, A.R., & William, L.I., 2015, Diabetes Mellitus, dalam
Dipiro,J.T., Robert, L.T, Gary, C.Y., Barbara, G.W., L. Michael Posey,
Pharmacotherapy APhatophysiologic Aproach, 7, Newyork, McGraw Hill

WHO Department of Noncommunicable Disease Surveillance Geneva.Definition,


Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus and its Complications. Report
of a WHO ConsultationPart 1: Diagnosis and Classification of Diabetes
Mellitus . 1999Mangunkusumo-FKUI, Jakarta, 2004

45