Anda di halaman 1dari 9

TELAAH JURNAL

COGNITIVE BEHAVIOUR THERAPY TO PREVENT HARMFUL COMPLIANCE


WITH COMMAND HALLUCINATIONS (COMMAND): A RANDOMISED
CONTROLLED TRIAL
TERAPI PERILAKU KOGNITIF UNTUK MENCEGAH KEPATUHAN
BERBAHAYA TERHADAP HALUSINASI PERINTAH (PERINTAH): UJI COBA
TERKONTROL SECARA ACAK

STASE KEPERAWATAN JIWA

EKO HENDRAWAN SAPUTRA


1911102412075

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KALIMANTAN TIMUR
2019
FORMAT TELAAH JURNAL
I. DESKRIPSI UMUM :
No Item
1 Judul Jurnal ;
Cognitive behaviour therapy to prevent harmful compliance with command
hallucinations (COMMAND): a randomised controlled trial
Terapi perilaku kognitif untuk mencegah kepatuhan berbahaya terhadap
halusinasi perintah (Perintah): uji coba terkontrol secara acak
2 Penulis Jurnal ;
Max Birchwood, Maria Michail, Alan Meaden, Nicholas Tarrier, Shon Lewis, Til
Wykes, Linda Davies, Graham Dunn, Emmanuelle Peters
3 Nama Jurnal/dipublikasikan oleh ;
Lancet Psychiatry 2014; 1: 23–33
4 Penelaah/review Jurnal ;
Eko Hendrawan Saputra
5 Sistematika penulisan ;
Sistematika penulisan yaitu IMRAD (Introduction, method, result and discuss)
6 Referensi Daftar Pustaka ;
31 referensi, penulisan referensi menggunakan harvard style. Rentang tahun
referensi antara tahun 1978 - 2014

II. DESKRIPSI CONTENT :


No Komponen Item Question to help " Telaah Jurnal"
Jurnal
1 Pendahuluan 1. Apa Masalah Penelitian?
Individu yang bertindak berdasarkan delusi, termasuk suara-
suara yang memerintah, merupakan penyebab keprihatinan di
tingkat sosial karena anggota masyarakat berisiko menghadapi
tindakan kekerasan. Halusinasi pendengaran adalah beberapa
yang paling menonjol dan menyusahkan dari gejala yang
resisten terhadap pengobatan, dan halusinasi perintah adalah
risiko yang paling tinggi.
2. Seberapa besar masalah tersebut? (Prevalensi/insidensi
masalah, ada peningkatannya
Individu yang mengalami skizofrenia memiliki risiko bunuh diri
yang tinggi (8%), hampir 50% individu yang mengalami gejala
resisten terhadap pengobatan. Shawyer dan rekannya
mengatakan bahwa 53% halusinasi perintah berada pada usia
dewasa, 48% dari peserta mengatakan adanya perintah untuk
tindakan berbahaya dari hasulinasi, dan naik menjadi 69%.
3. Dampak masalah jika tidak diatasi?
Apabila tidak diatasi akan membahayakan baik diri sendiri
maupun orang lain dan lingkungan.
4. Bagaimana kesenjangan yang terjadi ? Bandingkan antara
masalah yang ada/kenyataan dengan harapan/target?
Dalam kasus halusinasi ada dampak yang sangat berbahaya
yaitu perintah yang bersifat tindakan berbahaya yang
memerintah, dalam mengatasi hal ini perlu adanya tindakan
yang dapat diantisipasi oleh kien yaitu dengan terapi kognitif
5. Berdasarkan masalah penelian, apa tujuan dan hipotesis yang
ditetapkan oleh peneliti
Tujuan: untuk menilai penerimaan, efektivitas, dan efektivitas
biaya terapi kognitif untuk halusinasi perintah.
Hipotesis utama: bahwa pada peserta dengan halusinasi
perintah yang bertindak pada suara-suara dan karena itu
berisiko tinggi melakukannya lagi, terapi kognitif untuk halusinasi
perintah akan meningkatkan resistensi dan dengan demikian
mengurangi tingkat perilaku kepatuhan berbahaya lebih lanjut.
Hipotesis sekunder: kekuatan yang dirasakan dari suara
penganiayaan akan berkurang, yang akan bertindak sebagai
mediator perubahan kepatuhan; tidak akan ada perubahan
dalam frekuensi atau topografi suara; dan terapi kognitif untuk
halusinasi perintah akan mengurangi tekanan dan depresi
delusi.
2 METHODE
1. 1. Desain penelitian apa yang digunakan?
Desai
n Desain yang digunakan adalah Randomized Controlled Clinical
penelit Trials (RCT) dengan single blind (salah satu pihak tidak
ian mengetahui intervensi yang diberikan, baik peneliti maupun
responden)
Untuk Desain Eksperimen :
a. Apakah menggunakan kelompok kontrol untuk menentukan
efektifitas suatu intervensi?
Pembagian kelompok dengan rasio 1:1, terapi kognitif untuk
halusinasi dengan perintah + perawatan sepeerti biasa versus
hanya perawatan biasa selama 9 bulan.
b. Apakah peneliti melakukan random alokasi (randomisasi)?
Ya, peneliti menggunakan random alokasi dengan
OpenCDMS.25 (merupakan suatu aplikasi untuk randomisasi)
c. Jika peneliti melakukan randomisasi, bagaimana prosedurnya,
apakah dilakukan randomisasi sederhana, blok, stratifikasi?
Siapa yang melakukan randomisasi?
urutan alokasi yang dihasilkan dengan OpenCDMS.25 dan
dikelompokkan berdasarkan pusat dengan blok yang diijinkan
dengan blok acak dengan acak ukuran blok yang bervariasi
setelah stratifikasi menurut pusat. OpenCDMS kemudian
mengirim pemberitahuan email tentang alokasi kepada terapis
dan manajer percobaan. Setelah pengacakan, pemberitahuan
email tentang alokasi kelompok dikirim ke manajer percobaan,
administrator percobaan, dan terapis. Pemberitahuan email
yang mengkonfirmasi bahwa peserta telah secara acak
ditugaskan untuk pengobatan (tanpa informasi tentang alokasi
kelompok) dikirim ke asisten peneliti pusat. Administrator
percobaan kemudian mengirim surat kepada peserta dan
koordinator perawatan yang memberi tahu mereka tentang
hasil pengacakan.
d. Jika ternyata pada data dasar (base line) terdapat perbedaan
karakteristik/variabel perancu pada kedua kelompok, apakah
peneliti melakukan pengendalian pada uji statistik dengan
stratifikasi atau uji multivariate?
Tidak ada penjelasan tentang perbedaan karakteristik
variabel
e. Apakah peneliti melakukan masking atau penyamaran
dalam memberikan perlakuan pada responden
(responden tidak menyadari apakah sedang
mendapatkan intervensi yang di uji cobakan)?
Ketika penyamaran rusak, penilai lain, yang disamarkan
untuk tugas kelompok, menilai dan menilai peserta untuk
semua penilaian selanjutnya; oleh karena itu, semua
peringkat akhir ditutup.
f. Untuk menjamin kualitas pengukuran, apakah peneliti
melakukan blinding saat mengukur outcome? Blinding
merupakan upaya agar sampel atau peneliti tidak
mengetahui kedalam kelompok mana sampel
dimasukkan (eksperimen atau kontrol ). Hal ini
menunjukkan upaya peneliti meningkatkan validitas
informasi.
Iya, peneliti melakukan penyamaran dalam memberikan
perlakuan yaitu sistem single blind

2. 1. Siapa populasi target dan populasi terjangkau ?


Populasi
Peserta dari tiga pusat UK di Birmingham (yang termasuk situs
dan di Leicester), London, dan Mancheste.
Sampel
2. Siapa sampel penelitian ? Apa kriteria inklusi dan ekslusi
sampel?
Kriteria inklusi:
 Penderita skizofrenia atau gangguan suasana hati dan
berada diperawatan tim klinis
 Usia > 16 tahun
 Memiliki riwayat halusinasi perintah yang membahayakan
diri sendiriatau orang lain >6 bulan
Kriteria eksklusi:
 Gangguan organik atau diagnosis primer gangguan
kecanduan atau kurang mampu berbahasa Inggris
3. Bagaimana metode sampling yang digunakan untuk memilih
sampel dari populasi target ?
Peneliti menggunakan aplikasi dalam menentukan randomisasi
sampel OpenCDMS.25
4. berapa jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ?
Metode atau rumus apa yang digunakan untuk menentukan
jumlah sampel ?
197 responden, peneliti tidak menyebutkan rumus yang
digunakan untuk menentukan jumlah sampel

3. 1. Variabel apa saja yang diukur dalam penelitian ?


Pengukur
an atau Terapi kognitif dan halusinasi dengan perintah
pengump 2. Metode apa yang digunakan untuk mengumpulkan data ?
ulan data Voice Compliance Scale (VCS), skala ini adalah skala
kategorikal yang membutuhkan wawancara menyeluruh sesuai
dengan jadwal Penilaian Kognitif Suara untuk mendapatkan
catatan terperinci dari semua suara dan respons emosional dan
perilaku terhadapnya.
3. Alat ukur apa yang digunakan untuk mengumpulkan data ?
 Voice Compliance Scale (VCS)
 Personal Knowledge Questionnaire and Omniscience
Scale (untuk mengukur keyakinan pendengar tentang
pengetahuan suara tentang informasi pribadi)
 Beliefs About Voices Questionnaire-Revised (BAVQ-R)
(untuk menilai keyakinan utama tentang niat suara,
apakah baik hati atau jahat, dan reaksi emosional dan
perilaku peserta terhadap suara tersebut)
4. Bagaimana validitas dan realibilitas alat ukur/ instrumen
yang digunakan ? Apakah peneliti menguji validitas dan
reliabilitas alat ukur ? Jika dilakukan apa metode yang
digunakan untuk menguji validitas dan realibitas alat ukur
dan bagaimana hasilnya ?
Peneliti melakukan uji validitas dan reliabilitas skala ini
memiliki keandalan internal yang baik (Cronbach α = 0,85)
dengan reliabilitas pengujian ulang 1 minggu yang tinggi (r =
0,82)
5. Siapa yang melakukan pengukuran atau pengumpulan data ?
Apakah dilakukan pelatihan khusus untuk observer atau yang
melakukan pengukuran ?
Peneliti

4. Analisis 1. Uji statistik apa yang digunakan untuk menguji hipotesis atau
Data menganalisis data ?
Analogous random-effects models
2. Untuk penelitian eksperimen apakah peneliti menggunakan
metode intention to treat atau on treatment analysis?
 Intention To Treat adalah menganalisis semua sampel
yang mengikuti penelitian, baik yang drop out, loss of
follow up atau berhenti sebelum penelitian selesai.
Sampel yang drop out dianggap hasil intervensi yang
gagal.
-
 On treatment analysis hanya menganalisis sampel yang
mengikuti penelitian sampai selesai saja, sedangkan
sampel drop out dianggap tidak mengikuti penelitian dan
tidak diikutkan dalam analisis.
Peneliti menganalisis responden yang mengikuti
penelitian sampai selesai
2. Program atau Softhware statistik apa yang digunakan peneliti
untuk menganalisis data ?
Stata (version 12)

3 HASIL
PENELITIAN
1. Alur 1. Bagaimana alur (flow) penelitian yang menggambarkan
penelitian responden yang mengikuti penelitian Sampai selesai, drop out
dan data dan loss of follow up?
base line Ukuran sampel terakhir adalah 197 peserta (64 dari Birmingham,
23 Leicester, 62 London, dan 48 Manchester), dengan 98
peserta dialokasikan untuk terapi kognitif untuk halusinasi
perintah + pengobatan seperti kelompok biasa dan 99 ke
kelompok pengobatan seperti biasa. 165 (84%) peserta dinilai
sepenuhnya patuh dan 32 (16%) patuh sebagian atau
memenuhi standar VCS. 164 (83%) dari 197 peserta
menyelesaikan penilaian tindak lanjut 18 bulan, 17 (9%)
menolak untuk menyelesaikan penilaian, 11 (6%) tidak dapat
dihubungi, tiga (2%) meninggal, dan dua (1) %) tidak sehat.
Terapis yang merekam kepatuhan tinggi terhadap terapi kognitif
menerima peserta pertama yang ditugaskan secara acak.
Pertama, ini diinformasikan oleh kerangka kerja teoritis yang
divalidasi dengan baik, yang dapat digunakan untuk
memprediksi kepatuhan seseorang terhadap suara dan tekanan
yang terkait daripada adanya gejala psikotik. Kedua, mengikuti
proses bertahap yang diinformasikan oleh model kognitif kita.
Ketiga, model mengusulkan variabel tunggal yang merupakan
target terapi dan juga mediator yang dihipotesiskan: kekuatan
yang berbeda antara suara dan pendengar suara. Intervensi
disampaikan di klinik NHS dengan penjangkauan ke rumah
peserta oleh sembilan terapi kognitif yang diawasi di masing-
masing pusat oleh seorang klinisi terkemuka dengan keahlian
dalam terapi perilaku kognitif untuk psikosis. Terapis
memberikan intervensi hanya ke terapi kognitif untuk halusinasi
perintah + pengobatan seperti kelompok biasa. Pengawasan
kelompok di lokasi dilakukan dua minggu sekali dengan
konferensi video untuk memantau kepatuhan terhadap protokol
dan untuk meminimalkan perbedaan pusat dalam implementasi.
Terapi kognitif untuk halusinasi perintah diberikan selama
maksimal 9 bulan (sekitar 25 sesi terapi).
2. Bagaimana karakteristik responden dan baseline data?
Dibagi menjadi kriteria inklusi dan eksklusi
3. Pada penelitian eksperimen apakah variabel perancu
(counfounding variabel) dalam data base line tersebarseimbang
pada setiap kelompok?jika tidak seimbang apa dilakukan peneliti
untuk membuat penelitian bebas dari pengaruh variabel
perancu?
Data baseline seimbang
2. 1. Apa hasil utama dari penelitian? Jika peneliti melakukan uji
Hasil hipotesis, apakah hipotesis penelitian terbukti atau tidak
Peneli terbukti(bermakna atau tidak secara statistik)?apakah hasil
tian penelitian juga bermakna secara klinis?
98 (50%) dari 197 peserta ditugaskan untuk terapi kognitif
untuk halusinasi perintah + pengobatan seperti biasa dan 99
(50%) untuk pengobatan seperti biasa. Pada 18 bulan, 39
(46%) dari 85 peserta dalam kelompok perlakuan seperti biasa
sepenuhnya memenuhi suara dibandingkan dengan 22 (28%)
dari 79 dalam terapi kognitif untuk halusinasi perintah +
pengobatan seperti kelompok biasa (rasio odds 0,45 , 95% CI
0,23–0,88, p = 0,021). Pada 9 bulan efek pengobatan tidak
signifikan (0,74, 0,40 –1,39, p = 0,353). Namun, pengobatan
dengan interaksi tindak lanjut tidak signifikan dan efek
pengobatan yang umum untuk kedua titik tindak lanjut adalah
0,57 (0,33-0 ,98, p = 0,042).
2. Untuk penelitian eksperimn dengan variabel dependen
kategorik, apakah peneliti menjelaskan tentang nilai kpentingan
klinis dari hasil penelitian seperti number need to treat(NNT),
relative risk reduction(RRR) atau absolute risk reduction (ARR)
Penelitit tidak menyelaskan variabel kategorik

4 Diskusi 1. Bagaimana interprestasi peneliti terhadap hasil penelitian?


(discuss) Apakah peneliti membuat interprestasi yang rasional dan ilmiah
tentang hal-hal yang ditemukan dalam penelitian berdasarkan
teori terkini? Catatan : meskipun hasil penelitian tidak sesuai
dengan hipotesis, namun suatu penelitian tetap berkualitas jika
peneliti mampu menjelaskan rasional secara ilmiah mengapa
hipotesisnya tidak terbukti.
Terapi untuk halusinasi perintah tampak lebih besar pada 18
bulan dari pada 9 bulan. Selisih di ff dalam pengobatan e ff ects
di 9 bulan dan 18 bulan tidak signifikan. Namun demikian, efek
pada 9 bulan tidak signifikan, menunjukkan bahwa terapi
kognitif untuk halusinasi perintah mungkin memiliki efek
tertunda. Penjelasan ini masuk akal karena intervensi
disampaikan secara perlahan dan mantap selama 9 bulan
kepada peserta yang rentan; dengan demikian, peserta
mungkin lebih patuh selama periode ini, sebelum intervensi
memiliki waktu untuk sepenuhnya mengambil efek.
2. Bagaimana peneliti membandingkan hasil penelitiannya dengan
penelitian-penelitian terdahulu serta teori yang ada saat ini untuk
menunjukkan adanya relevansi?
Cochrane, dari perbandingan terapi perilaku kognitif dengan
intervensi psikososial kontrol, menunjukkan bahwa kesimpulan
pasti tidak dapat ditarik karena jumlah percobaan yang tidak
mencukupi, tetapi ada beberapa bukti kesetaraan. Hasil dari
halusinasi perintah menyelesaikan ketidakpastian tentang
efektivitas terapi perilaku kognitif dalam mengurangi bahaya dari
perintah halusinasi, dan menyarankan bahwa generasi
percobaan berikutnya akan lebih efektif jika mereka didorong
oleh teori dan perilaku sasaran atau kesusahan, daripada gejala
psikosis.
3. Bagaimana peneliti menjelaskan makna dan relevansi hasil
penelitiannya dengan perkembangan ilmu
keperawatan/kesehatan serta terhadap pemecahan masalah?
Penelitit tidak menjelaskan di jurnal mengenai CBT terhadap
perkembangan ilmu keperawatan
4. Bagaiman nilai kepentingan (importancy)hasil penelitian?
Hasil tidak signifikan
5. Bagaimana applicability hasil penelitian menurut peneliti?apakah
hasil penelitian dapat diterapkan pada tatanan praktik
keperawatan ditinjau dari aspek fasilitas,pembiayaan, sumber
daya manusia, dan aspek legal?
Tidak dijelaskan, hanya saja asumsi pribadi penelaah bahwa
terapi ini dapat diterapkan di layanan klinik
6. Apakah mungkin penelitian ini direplukasi pada setting praktik
klinik lainnya?
Memungkinkan
7. Apakah peneliti menjelaskan kekuatan dan kelemahan
penelitian? Apakah kelemahan ini tidak menurunkan validitas
hasil penelitian?
Tidak di jelaskan
Format Telaah Jurnal Stase Keperawatan Dasar Profesi (KDP) by Ns. Enok Sureskiarti.,M.Kep