Anda di halaman 1dari 23

CRITICAL BOOK REPORT

ALAT UKUR FISIKA I

Tugas Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Alat Ukur Fisika

DOSEN PENGAMPU: Dr. KARYA SINULINGGA, M. Si

NAMA : BINTAMA SIHOTANG

NIM : 4192421023

KELAS : FISIKA DIK A 2019

PRODI PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

NOVEMBER 2019
KATA PENGANTAR

Pertama-tama saya mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha


Esa, sebab telah memberikan rahmat dan karuniaNya serta kesehatan kepada saya,
sehingga mampu menyelesaikan tugas “CRITICAL BOOK REPORT” . Tugas ini
dibuat untuk memenuhi salah satu mata kuliah saya yaitu “Alat Ukur Fisika”

Tugas critical book review ini disusun dengan harapan dapat menambah
pengetahuan dan wawasan kita semua khususnya dalam hal pengukuran dan alat-
alat uku fisika. Saya menyadari bahwa tugas critical book report ini masih jauh
dari kesempurnaan, apabila dalam tugas ini terdapat banyak kekurangan dan
kesalahan, saya mohon maaf karena sesungguhnya pengetahuan dan pemahaman
saya masih terbatas , karna keterbatasan ilmu dan pemahaman saya yang belum
seberapa.

Karena itu saya sangat menantikan saran dan kritik dari pembaca yang
sifatnya membangun guna menyempurnakan tugas ini. Saya berharap semoga
tugas critical book report ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan bagi saya
khususnya. Atas perhatian nya saya mengucapkan terima kasih .

Medan,November 2019

Penulis

BINTAMA SIHOTANG

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar....................................................................................................i

Daftar Isi...........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN…......…………….......………………………………...1

1.1.Rasionalisasi Pentingnya CBR….......………………………….......…1

1.2.Tujuan Penulisan CBR……..…....…………………….………………1

1.3.Manfaat CBR……………......…………………………………....…..1

1.4. Identitas buku…...................…………………………………….........2

BAB II RINGKASAN ISI BUKU………………………………………………..3

2.1.Pengukuran dan Kalibrasi..............................................................4


2.2.Standar Dan Sistem Pengukuran....................................................6
2.3.Kesalahan Dalam Pengukuran........................................................6
2.4.Analisi Statistik.............................................................................8
2.5.Mikrometer...................................................................................9
2.6.Jangka Sorong...............................................................................11
2.7.Mistar............................................................................................14
2.8.Neraca..........................................................................................14
2.9.Stopwatch........................................................................................16
2.10.Alat Ukur Kumparan Putar............................................................16

BAB III PEMBAHASAN………………………………………………........…18

3.1.Kelebihan dan Kekurangan buku……………...........……….....….18

BAB IV PENUTUP…………………………………………...……........………19

4.1.Kesimpulan……………………………………………….........…….19

4.2.Saran…………………………………………………....…..............19

DAFTAR PUSTAKA…………...…………………………....………………….20

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Rasionalisasi Pentingnya CBR

Keterampilan membuat CBR pada penulis dapat menguji kemampuan


dalam meringkas dan menganalisi sebuah buku serta membandingkan buku yang
dianalisis dengan buku yang lain, mengenal dan memberi nilai serta mengkritik
sebuah karya tulis yang dianalisis
Seringkali kita bingung memilih buku referensi untuk kita baca dan pahami,
terkadang kita hanya memilih satu buku untuk dibaca tetapi hasilnya masih
belum memuaskan misalnya dari segi analisis bahasa dan pembahasan, oleh
karena itu penulis membuat CBR alat ukur fisika ini untuk mempermudah
pembaca dalam memilih buku referensi terkhusus pada pokok bahasa tentang
pengukuran dan alat ukur fisika.

1.2. Tujuan Penulisan CBR


Manfaat penulisan cbr ini adalah:
1. Pemenuhan tugas pokok mata kuliah alat ukur fisika.
2. Menambah kemampuan berpikir lebih kritis dan analitis.
3. Meningkatkan minat untuk membaca seksama.
4. Menguatkan rasa keingintahuan terhadap karya seseorang.

1.3. Manfaat CBR


Manfaat yang dapat kita simpulkan pada hal diatas ialah:
1. Menambah wawasan pengetahuan tentang pengertian tentang pengukuran
dan kalibrasi, standar dan sistem pengukuran, kesalahan dalam
pengukuran, analisa statistik, mikrometer dan jangka sorong, mistar,
neraca, stopwatch, dan alat ukur kumparan putar.

1
2. Mempermudah pembaca mendapatkan inti dari sebuah buku yang telah di
lengkapi dengan ringkasan buku , pembahasan isi buku, serta kekurangan
dan kelebihan buku tersebut.
3. Melatih siswa merumuskan serta mengambil kesimpulan-kesimpulan atas
buku-buku yang dianalisis tersebut.

1.4. Identitas buku yang direview


Identitas buku yang akan saya analisis/riview adalah:
Buku I :
1. Judul buku : FISIKA DASAR 1
2. Pengarang : Motlan Sirait dan Eidi Sihombing
3. Kota terbit : Bandung
4. Tahun terbit : 2010
5. Penerbit : Citapustaka Media Perintis
6. Tebal buku : x+246 halaman
7. ISBN : 978-602-8826-52-5

Buku II:
1. Judul buku : INSTRUMENTASI DAN ALAT UKUR
2. Pengarang : Poerwanto dan Juliza Hidaayat dan Anizar
3. Kota terbit : Yokyakarta
4. Tahun terbit : 2012
5. Penerbit : Graha Ilmu
6. Tebal buku : viii+128 halaman
7. ISBN : 978-979-756-360-8

Buku III:
1. Judul buku : PENGETAHUAN TEKNIK ELEKTRONIKA
2. Pengarang : Drs.Daryanto
3. Kota terbit : Jakarta
4. Tahun terbit : 2011

2
5. Penerbit : Bumi Aksara
6. Tebal buku : 116 halaman
7. ISBN :-

Buku IV:
1. Judul buku : MENGGUNAKAN ALAT UKUR
2. Pengarang : Muhammad Nur Eli
3. Kota terbit : Jakarta
4. Tahun terbit : 2013
5. Penerbit : Multi Kreasi Satudelapan
6. Tebal buku : iv+88 halaman
7. ISBN : 978-979-073-701-3

Buku V:
1. Judul buku : PENGGUNAAN DAN PEMELIHARAAN ALAT
UKUR
2. Pengarang : Agus Dian Prasetyo
3. Kota terbit : Yokyakarta
4. Tahun terbit : 2017
5. Penerbit : Relasi Inti Media
6. Tebal buku : viii+134 halaman
7. ISBN : 978-602-5436-69-7

3
BAB II
RINGKASAN ISI BUKU

2.1 Pengukuran Dan Kalibrasi


a. Pengukuran
Pengukuran merupakan proses membandingkan ukuran (dimensi)
yang tidak diketahui terhadap standar ukur tertentu.Proses pengukuran
akan menghasilkan angka yang diikuti dengan nama besaran acuan ini.Bila
tidak diikuti nama besaran acuan, hasil pengukuran menjadi tidak berarti.
Pengukuran panjang dilakukan dengan menggunakan mistar, jangka
sorong, dn mikrometer sekrup.Pengukuran berat menggunakan neraca
dengan berbagai ketelitian, mengukur kuat arus listeik menggunakan
amperemeter,mengukur waktu dengan stopwatch, mengukur suhu dengan
termometer, dan sebagainya (Nur Eli,2013).

b. Kalibrasi
Kalibrasi adalah mencocokkan harga-harga yang ada pada skala
ukur dengan harga-harga standar atau harga sebenarnya. Sebetulnya,
kalibrasi ini tdak saja dilakukan pada alat-alat ukur yang lama atau habis
pakai, tetapi juga untuk alat-alat ukur yang baru dibuat (Prasetio,2017).

2.2 Standar dan Sistem Pengukuran


a. Besaran
Besaran adalah sesutu yang dapat diukur dan diopersikan. Agar
ukursn numerik tersebut mempunyai artti besaran tersebut harus diberikan
satuan dan pemberian satuan ini berlaku secara universal diseluruh dunia.
Jadi, apabila anda menukur sesuatu besaran dan mencatat dengan angka
20, maka secara fisika angka ini tidak ada artinya.
Besaran–besaran fisika dikelompokkan atas besaran dasar dan
besaran turunan.Besaran dasar adalah besaran yang memerlukan defenisi
yang jelas dan brediri sendiri, sedangkan besaran turunan adalah besaran
yang diturunkan dari besaran-besaran dasar.

4
b. Besaran Dasar
Pemberian satuan dari besaran yang ttidak seragam, menghasilkan
pengertian yang simpang siur. Untuk menyeragamkan pengertian dan
penggunaan bersa satuan, maka diadakan pertemuan internasional dalam
periode 1954-1971 dalam pengunaan satuan dari tujuh besaran
pokok.Sistem satua yang disepakati ini, disebut Satuan Internasional
disingkat dengan SI (Motlan,2010). Ketujuh besaran dasar tersebut
adalah:
No Besaran Dasar Nama Lambang Dimensi
1. Panjang Meter M [L]
2. Massa Kilogram kg [M]
3. Waktu Sekon(detik) S [T]
4. Arus listrik Ampere A [I]
5. Suhu Kelvin K [ɵ]
6. Jumlah zat Mol mol [N]
7. Intensitas cahaya Kandela cd [J]

c. Besaran Turunan
Selain sitem besaran-besaran dasar, masih ada besaran turunan yaitu
besaran yang satuannya ditetapkan berdasarkan satuan-satuan besaran
dasar. Sebagi contoh:
1. Kelajuan adalah perubahan jarak dibagi waktu. Satuannya diturunkan
dari satuan panjang dan satuan waktu yaitu m/s.
2. Percepatan dalah perubahan kelajuan dibagi waktu. Satuannya
diturunkan dari satuan kelajuan dan satuan waktu yaitu m/s2.
3. Gaya, satuannya diturunkan dari satuan massa dan sattuna perubahan
kelajuan yaitu : kgm/ s2, atau disingkat denagn N.
4. Usaha, satuannya diturunkan dari satuan gaya dan satuan panjang
yaitu : kg m2/s2.

5
5. Daya, satuannya diturunkan dari satuan usaha dan satuan waktu yatu :
kg m2/s3, atau J/s (Motlan,2010).

2.3. Kesalahan dalam Pengukuran


Dalam proses pengukuran paling tidak ada tiga faktor yang terlibat
yaitu alat ukur, benda ukur dan orang yang melakukan pengukuran. Masih
ada faktor lain lagi yang juga sering menimbulkan penyimpangan
pengukuran yaitu lingkungan. Lingkungan yang kurang tepat akan
mengganggu jalannya proses pengukuran
1. Kesalahan pengukuran karena alat ukur
Untuk mengurangi terjadinya penyimpangan pengukuran sampai
seminimal mungkin maka alat ukur yang akan dipakai harus di
kalibrasi terlebih dahulu. Kalibrasi ini diperlukan disamping untuk
mengecek kebenaran skala ukurnya juga untuk menghindari sifat-sifat
yang merugikan dari alat ukur, seperti kestabilan nol, kepasifan,
pengambangan, dan sebagainya
2. Kesalahan pengukuan karena benda ukur
Benda ukur biasanya mempunyai sifat elastis, artinya bila ada
beban atau tekanan dikenakan pada benda tersebut maka akan terjadi
perubahan bentuk. Bila tidak hati- hati dalam mengukur benda-benda
ukur yang bersifat elastis maka penyimpangan hasil pengukuran pasti
akan terjadi. Oleh karena tekanan kontak dari sensor alat ukur harus
diperkirakan besarnya.
3. Kesalahan pengukuran karena faktor si pengukur
Kesalahan pengukuran dari faktor manusia ini dapat dibedakan
antara lain sebagai berikut: kesalahan karena kondisi manusia,
kesalahan karena metode yang digunakan, kesalahan karena
pembacaan skala ukur yang digunakan:
a. Kesalahan Karena Kondisi Manusia
Kondisi badan yang kurang sehat dapat mempengaruhi
proses pengukuran yang akibatnya hasil pengukuran juga kurang

6
tepat. Bila kondisi badan kurang sehat, sewaktu mengukur
mungkin badan sedikit gemetar, maka posisis alat ukur terhadap
benda ukur sedikit mengalami perubahan. Akibatnya, kalau tidak
terkontrol tentu hasil pengukurannya juga ada penyimpangan. Atau
mungkin juga penglihatan yang sudah kurang jelas walau pakai
kaca mata sehingga hasil pembacaan skala ukur juga tidak tepat.
b. Kesalahan Karena Metode Pengukuran yang Digunakan
Kekurang tepatan metode yang digunakan ini berkaitan
dengan cara memilih alat ukur dan cara menggunakan atau
memegang alat ukur. Cara memegang dan meletakkan alat ukur
pada benda kerja juga akan mempengaruhi ketepatan hasil
pengukuran. Misalnya posisi ujung sensor jam ukur, posisi mistar
baja, posisi kedua rahang ukur jangka sorong, posisi kedua ujung
ukur dari mikrometer, dan sebagainya. Bila posisi alat ukur ini
kurang diperhatikan letaknya oleh si pengukur maka tidak bisa dih-
indari terjadinya penyimpangan dalam pengukuran.
c. Kesalahan Karena Pembacaan Skala Ukur
Kurang terampilnya seseorang dalam membaca skala ukur
dari alat ukur yang sedang digunakan akan mengakibatkan banyak
terjadi penyimpangan hasil pengukuran. Kebanyakan yang terjadi
karena kesalahan posisi waktu membaca skala ukur. Kesalahan ini
sering disebut, dengan istilah paralaks.
Ada beberapa faktor yang harus dimiliki oleh seseorang yang akan
melakukan pengukuran yaitu:
1. Memiliki pengetahuan teori tentang alat ukur yang memadai dan
memiliki ketrampilan atau pengalaman dalam praktek- praktek
pengukuran.
2. Memiliki pengetahuan tentang sumber-sumber yang dapat
menimbulkan penyimpangan dalam pengukuran dan sekaligus tahu
bagaimana cara mengatasinya.

7
3. Memiliki kemampuan dalam persoalan pengukuran yang
meliputi bagaimana menggunakannya, bagaimana, mengkalibarasi
dan bagaimana memeliharanya.
4. Kesalahan karena faktor lingkungan
Ruang laboratorium pengukuran atau ruang-ruang lainnya
yang digunakan untuk pengukuran harus bersih, terang dan teratur
rapi letak peralatan ukurnya. Menurut standar internasional bahwa
suhu atau temperatur ruangan pengukur yang terbaik adalah 20°C
apabila temperatur ruangan pengukur sudah mencapai 20 C, lalu
ditambah lampu-lampu penerang yang terlalu banyak, maka
temperatur ruangan akan berubah. Seperti kita ketahui bahwa
benda padat akan berubah dimensi ukurannya bila terjadi
perubahan panas (Prasetio,2017).

2.4. Analisa Statistik


Pemilihan Analisis Data
 Untuk data kuantitatif, yaitu data yang berupa angka atau bisa
diangkakan, analisis statistik lebih tepat digunakan.
 Statistik deskriptif dan statistik inferensial.
 Statistik deskriptif digunakan untuk membantu memaparkan
(menggambarkan) keadaan yang sebenarnya (fakta) dari satu
sampel penelitian -> penelitian deskriptif.
 Penelitian deskriptif tidak untuk menguji suatu hipotesis.

Rambu-rambu Pemilihan Teknik Analisis Statistika

 Jenis penelitian (deskriptif, inferensial).


 Jenis variabel (terikat, bebas).
 Tingkat pengukuran variabel (nominal, ordinal, interval).
 Banyaknya variabel (satu, lebih dari satu ).

8
 Maksud statistik (kecenderungan memusat, variabilitas, hubungan
(korelasi, asosiasi), pembandingan (komparasi), interaksi, kesesuaian,
dan sebagainya).

2.5. Mikrometer

Mikrometer adalah alat untuk mengukur ketebalan suatu benda. Mi


krometer dapat mengukur mulai dari ketelitian 0,01mm sampai 0,002 mm.
Kekurangan dari mikrometer adalah hanya dapat mengukur sampai 25mm.

Bagian-bagian mikrometer adalah sebagai berikut:

1. Bingkai, bingkai berbentuk huruf C terbuat dari bahn logam yang


tahan panas serta dibuat agak tebal dan kuat. Tujuannya untuk
meminimalisir peregangan dan pengerutan yang mengganggu
pengukuran.
2. Landasan (anvil), berfungsi sebagai penahan ketika benda diletakkan
diantara anvil dan spindel.
3. Gelendong (spindel), merupakan silinder yang dapat digerakkan
menuju landasan.
4. Pengunci (lock) berfungsi sebagai penahan spindel agar tidak begerak
ketiak mengukur benda.
5. Sleeve, tempat skala utama.
6. Thimble, temat skala nonius berada.
7. Ratchet Knob, untuk memejukan atau memundurkan spindel agar sisi
benda yang akan diukur tepat berada diantara spindel dan anvil.

9
Macam-macam mikrometer

1. Mikrometer luar (outside mikrometer) yang berfungsi mengukur


dimensi luar.
2. Mikrometer dalam yang berfungsi mengukur dimensi dalam.
3. Mikrometer kedalaman yang berfungsi mengukur kedalaman.
Skala pada multimeter

a. Skala utama, terdiri dari angka 1,2,3,4,5 mm dan seterusnya.


b. Skala Nonius (SN), skala pada pegangan putar yang membentuk garis
lurus dengan garis mendatar skala diam dikalikan 0,01 mm.
1. Cara Membaca Mikrometer Sekrup
Untuk menggunakan mikrometersekrupcdapat dilakukan dengan
langkah berikut :
 Putar bidal (pemutar) berlawanan arah dengan arah jarum jam
sehingga ruang antara kedua rahang cukup untuk ditempati benda
yang akan diukur.
 Letakkan benda di antara kedua rahang.
 Putar bidal (pemutar) searah jam sehingga saat poros hampir
menyentuh benda, pemutaran dilakukan dengan menggunakan roda
bergigi agar poros tidak menekan benda. Dengan memutar roda
berigi ini, putaran akan berhenti segera setelah poros menyentuh
benda. Jika sampai menyentuh benda yang diukur, pengukuran
menjadi tidak teliti.
 Putar sekrup penggeser hingga terdengar bunyi klik satu kali.
 Baca hasil pengukuran pada skala utama dan skala nonius dengan
rumus :
H = (skala utama x 0,5 mm) + (skala nonius x 0,01 mm)
2. Fungsi Mikrometer Sekrup
Mikrometer sekrup biasa digunakan untuk mengukur ketebalan dan
diameter suatu benda. Mikrometer memiliki ketelitian sepuluh kali

10
lebih teliti daripada jangka sorong. Ketelitiannya sampai 0,01 mm
(Prasetyo,2017) dan (Nur Eli,2013).

2.6. Jangka Sorong


1. Pengertian Jangka Sorong
Jangka sorong adalah alat ukur yang ketelitiannya dapat mencapai
seperseratus milimeter.

Bagian-bagian Jangka Sorong :


 Rahang dalam
Rahang dalam digunakan untuk mengukur sisi luar dari suatu
benda. Terdiri atas rahang tetap dan rahang geser.
 Rahang luar
Rahang luar digunakan untuk mengukur sisi dalam dari suatu
benda. Terdiri atas rahang tetap dan rahang geser.
 Depth probe
Depth probe digunakan untuk mengukur kedalaman dari suatu
benda.
 Skala Utama (dalam cm)
Pada skala utama, angka 0 - 17 menunjukan skala dalam cm
sedangkan garis - garis yang lebih pendeknya dalam mm. Sepuluh
skala utama memiliki panjang 1 cm sehingga dua sekala utama
yang berdekatan berukuran 0,1 cm atau sama dengan 1 mm.
 Skala utama (dalam inchi)

11
Pada skala utama, angka 0 - 6 menunjukan skala dalam inchi
sedangkan garis - garis yang lebih pendeknya dalam fraksi.
 Skala nonius (dalam 1/10 mm)
Sepuluh skala nonius memiliki panjang 9 mm, sehingga jarak dua
skala nonius yang saling berdekatan adalah 0,9 mm. Dengan
demikian, perbedaan satu skala utama dan satu skala nonius adalah
1 mm - 0,9 mm = 0, 1 mm atau 0,01 cm. Skala Nonius (untuk
inchi)
 Pengunci
Digunakan untuk menahan bagian - bagian yang bergerak ketika
pengukuran seperti rahang atau Depth probe.
2. Jenis-Jenis Jangka Sorong
a. Jangka sorong nonius ( Vernier Caliper )
Ada dua jenis utama dari jangka sorong nonius. Jenis pertama
hanya digunakan untuk mengukur dimensi luar dan dimensi dalam
sedangkan jenis kedua selalu untuk mengukur dimensi luar dan
dimensi dalam, juga dapat digunakan untuk mengukur ketinggian.
b. Jangka sorong Jam (Dial Caliper)
Mistar ingsut / jangka sorong jam yang memakai jam ukur sebagai
ganti dari skala nonius. Gerak lurus dari sensor diubah menjadi gerak
berputar dari jam penunjuk dengan perantaraan roda gigi. Pada poros
jam ukur dan batang bergigi yang melekat di tengah-tengah sepanjang
batang ukur.
c. Jangka sorong Ketinggian (Hight Gauge)
Suatu jenis jangka sorong yang berfungsi sebagai pengukur
ketinggian disebut jangka sorong ketinggian. Alat ukur ini dilengkapi
dengan rahang ukur yang bergerak vertical pada batang berskala yang
tegak lurus dengan landasannya. Skala utama pada batang ukur ada
yang dapat diatur ketinggiannya, dengan menggunakan penyetel yang
terletak dipuncaknya. Dengan demikian pembacaan ukuran dapat
diatur mulai dengan bilangan bulat.

12
3. Kegunaan dan Penggunaan Jangka Sorong
 Kegunaan jangka sorong adalah:
a) Untuk mengukur suatu benda dari sisi luar dengan cara diapit
b) Untuk mengukur sisi dalam suatu benda yang biasanya berupa
lubang (pada pipa, maupun lainnya) dengan cara diulur untuk
mengukur kedalamanan celah/lubang pada suatu benda dengan cara
menancapkan / menusukkan bagian pengukur.

 Penggunaan Jangka Sorong


Adapun penggunaan jangka sorong, adalah sebagai berikut :

a) Mengukur Diameter Luar Benda


Cara mengukur diameter, lebar atau ketebalan benda: Putarlah
pengunci ke kiri, buka rahang, masukkan benda ke rahang bawah
jangka sorong, geser rahang agar rahang tepat pada benda, putar
pengunci ke kanan.
b) Mengukur Diameter Dalam Benda
Cara mengukur diameter bagian dalam sebuah pipa atau tabung :
Putarlah pengunci ke kiri, masukkan rahang atas ke dalam benda
,geser agar rahang tepat pada benda, putar pengunci ke kanan.
c) Mengukur Kedalaman Benda
Cara mengukur kedalaman benda : Putarlah pengunci ke kiri, buka
rahang sorong hingga ujung lancip menyentuh dasar tabung, putar
pengunci ke kanan (Prasetyo,2017) dan (Nur Eli,2013).

2.7. Mistar

13
Mistar adalah sebuah alat pengukur dan alat bantu gambar untuk
menggambar garis lurus. Terdapat berbagai macam mistar, dari mulai
yang lurus sampai yang berbentuk segitiga (biasanya segitiga siku-
siku sama kaki dan segitiga siku-siku 30°–60°). Mistar dapat terbuat
dari plastik, logam, berbentuk pita dan sebagainya. Juga terdapat
mistar yang dapat dilipat.
1. Tingkat ketelitiannya
Skala terkecil dari mistar adalah 1 mm (0,1 cm) dan ketelitiannya
setengah skala terkecil 0, 5 mm (0,05 cm).
2. Cara menggunakan atau membacanya
Pembacaan skala pada mistar dilakukan dengan kedudukan mata
pengamat tegak lurus dengan skala mistar yang dibaca.

2.8. Neraca
Neraca Ohaus adalah alat ukur massa benda dengan ketelitian 0.01
gram. Prinsip kerja neraca ini adalah sekedar membanding massa
benda yang akan diukur dengan anak timbangan. Anak timbangan
neraca Ohaus berada pada neraca itu sendiri. Kemampuan pengukuran
neraca ini dapat diubah dengan menggeser posisi anak timbangan
sepanjang lengan. Anak timbangan dapat digeser menjauh atau
mendekati poros neraca . Massa benda dapat diketahui dari
penjumlahan masing-masing posisi anak timbangan sepanjang lengan
setelah neraca dalam keadaan setimbang. Ada juga yang mengatakan
prinsip kerja massa seperti prinsip kerja tuas.

1. Skala dalam Neraca O’haus


Banyaknya skala dalam neraca bergantung pada neraca lengan
yang digunakan. Setiap neraca mempunyai skala yang berbeda-beda,
tergantung dengan lengan yang digunakannya. Ketelitian neraca
merupakan skala terkecil yang terdapat dalam neraca yang digunakan
disaat pengukuran. Misalnya pada neraca Ohauss dengan tiga lengan

14
dan batas pengukuran 310 gram mempunyai ketelitian 0,01 gram. Hal
ini erat kaitannya ketika hendak menentukan besarnya ketidakpastian
dalam pengukuran. Berdasarkan referensi bahwa nilai ketidakpastian
neraca ohaus adalah 0,05.
2. Jenis Neraca
 Neraca O’haus dua lengan
 Neraca O’haus tiga Lengan
 Neraca Pasar
3. Cara Pengukuran, Pembacaan dan Penulisan Massa Benda Dengan
Neraca Ohaus
Dalam mengukur massa benda dengan neraca Ohaus dua lengan
atau tiga lengan sama. Ada beberapa langkah di dalam melakukan
pengukuran dengan menggunakan neraca ohaus, antara lain:
 Meletakkan benda yang akan diukur massanya.
 Menggeser skalanya dimulai dari yang skala besar baru gunakan
skala yang kecil. Jika panahnya sudah berada di titik setimbang 0.
 Jika dua garis sejajar sudah seimbang maka baru memulai
membaca hasil pengukurannya.
Untuk membaca hasil pengukuran menggunakan Neraca dapat
dilakukan dengan langkah sebagai berikut :

 Bacalah Skala yang ditunjukkan oleh anting (pemberat) pada


masing-masing lengan neraca.
 Hasil Pengukuran (xo) = Penjumlahan dari masing-masing Lengan
Misalnya pada neraca Ohauss III lengan berarti hasilnya= LenganI +
Lengan II +Lengan III.

2.9. Stopwatch

Stopwatch mrupakan alat ukur waktu yang memiliki ketelitian 0,1


sekon untuk stopwatch mekanis dan stopwatch elektronik memiliki
ketelitian 0,001 sekon.

15
1. Cara menggunakan atau membacanya
Cara menggunakan jam sukat dengan memulai menekan tombol di
atas dan berhenti sehingga suatu waktu detik ditampilkan sebagai
waktu yang berlalu. Kemudian dengan menekan tombol yang kedua
pengguna dapat menyetel ulang jam sukat kembali ke nol. Tombol
yang kedua juga digunakan sebagai perekam waktu.
2. Macam-Macam Stopwatch
Macam-macam stopwatch hanya mempunyai 2 jenis, antara lain :
o Analog: Alat ini adalah alat pengukur waktu konvensional /
manual. Dengan menggunakan jarum seperti arloji sebagai alat
pengukurnya.

2.10. Alat Ukur Kumparan Putar


Yang dimaksud dengan alat ukur kumparan putar adalah alat
pengukur yang bekerja berdasarkan prinsip dari adanya suatu
kumparan listrik yang ditempatkan di medan magnet yang berasal dari
magnet yang permanen, arus yang dialirkan melalui kumparan akan
menyebabkan kumparan tersebut berputar. Alat ukur kumparan putar
adalah alat ukur penting yang dipakai untuk bermacam arus, tidak
hanya untuk arus arah akan tetapi dengan alat-alat pertolongan lainnya
dapat pula digunakan untuk arus bolak-balik. Pemakaian dari alat
ukur kumparan putar adalah sangat luas, mulai dari ukuran yang ada
dilaboratorium sampai pada alat ukur yang dipasang di pusat-pusat
pembangkit listrik, alat ukur yang digunakan ini digunakan sebagai
alat ukur untuk meningkatkan arus tegangan listrik.

Dalam alat ukur kumparan putar, pada umumnya kumpar sebuah


putarnya dibuat dengan persetujuan dari aluminium, lengkap dengan
listrik yang disediakan oleh jaringan pendek dan diberikan pada
kumparan saat peredam. Bila kumparan- yang berputar disebabkan
oleh arus I yang mengalir melalui- nya maka di dalam kerangkanya

16
akan timbul arus induksi ini di- sebabkan karena pergantian
aluminium ini terjadi di medan maknit pada celah udara yang
meningkatkan kecepatan yang sebanding lurus pada kecepatan
perputaran akan diinduksikan dalam persetujuan tersebut.

Pada prinsipnya alat ukur kumparan putar terdiri dari unit


penggerak pengontrol dan peredam akan tetapi untuk konstruksi
konstruksi dari alat ukur ini lebih dari lumpur untuk konstruksi
konstruksi dan alat ukur ini lebib mudah untuk membaginya ke dalam
sirkuit maknetis, bagian yang berputar, skala dan manfaat . Sirkuit
maknetis dalam alat ukur kumparan putar dibuat oleh maknit
permanen, umumnya dibuat dari baja khrom atau baja tuangan, juga
digunakan menggunakan logam campuran dari Alnico (Al 8%; Ni
14% Co 24%, Cu 3% dan sisanya Fe) (Daryanto,2005).

Bagian bagian alat ukur


kumparan putar: 4. Kumparan putar
5. Pegas spiral
1. Magnit tetap.
6. Jarum petunjuk
2. Kutub sepatu
7. Rangka kumparan putar
3. Inti besi
8. Tiang poros

17
BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Kelebihan Buku

3.2. Kekurangan Buku

19
BAB IV

PENUTUP

4.1. KESIMPULAN

4.2. SARAN
Saran penulis kepada pembaca semoga critical book report ini
dapat bermanfaat bagi Anda, dengan membaca critical book report ini kita
akan termotivasi dan mengerti dalam pembuatan sebuah kritikal.Penulis
sangat mengharapkan kritik dan saran yang mendukung dari pembaca.
Penulis sangat menyadari critical book report ini masih banyak kesalahan
dalam pembuatan.Mohon maaf jika dalam pembuatan critical book report
ini terdapat kesalahan yang ditemukan oleh pembaca baik dilihat itu dari
segi penulisan, penggunaan bahasa,dll. Untuk itu penulis mohon maaf
karena penulis sangat menyadari bahwa setiap manusia tidak ada yang
sempurna.

20
DAFTAR PUSTAKA

Daryanto. 2011. Pengetahuan Teknik Elektronika. Jakarta: Bumi Aksara.


Eli,Muhammad Nur. 2013. Menggunakan Alat Ukur. Jakarta: Multi Kreasi
Satudelapan.
Poerwanto dan Juliza Hidaayat dan Anizar. 2012. Instrumentasi Dan Alat Ukur.
Yokyakarta: Graha Ilmu.
Prasetyo, Agus Dian. 2017. Penggunaan Dan Pemeliharaan Alat Ukur.
Yokyakarta: Relasi Inti Media.
Sirait, Motlan dan Eidi Sihombing. 2010. Fisika Dasar 1. Bandung: Citapustaka
Media Perintis.

21