Anda di halaman 1dari 28

TUGAS MAKALAH KONTRASEPSI DAN KELUARGA BERENCANA

“KIE KS NON HORMONAL”

DOSEN PEMBIMBING:
dr.Desmiwarti, SpOG (K)

DISUSUN OLEH :
VIVIN PUSPASARI
RISA PUTRI IRMA (1820332011)

PROGRAM STUDI S2 ILMU KEBIDANAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya haturkan atas kehadirat Allah SWT, dimana atas rahmat
dan karunia- Nya saya dapat menyusun makalah ini yang berjudul “KIE KS NON
HORMONAL”.
Dalam proses penyusunan makalah ini, penulis mengalami banyak
permasalahan. Namun berkat arahan dan dukungan dari berbagai pihak akhirnya
makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini, dengan
segala kerendahan hati, saya mengucapkan terima kasih kepada Dosen Mata kuliah
kontrasepsi dan keluarga berencana, yaitu Ibu dr .Desmiwarti, SpOG (K) yang
telah membimbing dalam proses penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari makalah ini masih belum sempurna, baik dari isi maupun
sistematika penulisannya, maka dari itu penulis berterima kasih apabila ada kritik
dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi rekan-rekan
seperjuangan khususnya Program Pasca Sarjana Ilmu Kebidanan nantinya.

Padang, Oktober 2019

Penulis

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 KIE
A. Pengertian KIE

Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Keluarga Berencana yang


dilaksanakan oleh pihak kesehtaan termasuk dalam pelaksanaan penyuluhan
kesehatan pada umumnya. Dalam pelaksanaan program Keluarga Berencana, perlu
diperhatikan bahwa bidang tanggung jawab kesehatan mencakup segi-segi
pelayanan medis teknis dan pembinaan partisipasi masyarakat.
Dalam program Keluarga Berencana, penyuluhan kesehatan dilakukan oleh
petugas- petugas klinik baik medis, paramedis, ataupun nonmedis yang bekerja
khusus untuk Keluarga Berencana. Tenaga-tenaga kesehatan lainnya seperti
petugas sanitasi, juru cacar, petugas BCG, dan sebagiannya adalah tenaga yang
juga potesial menjalankan penyuluhan kesehatan tentang Keluarga Berencana
(Sulistyawati, 2012 : 21).

B. Tujuan KIE
Sulistyawati (2012 : 22) mengemukakan bahwa tujuan program KIE dibagi
menjadi tujuan umum dan tujuan khusus.
a. Tujuan Umum
Tujuan penyuluhan kesehatan dalam Keluarga Berencana ialah agar masyarakat
dapat menjadikan Keluarga Berencana sebagai pola kehidupan, artinya masyarakat
mengetahui, memahami, serta menyadari pentingnya Keluarga Berencana sehingga
mau melaksanakannya untuk kesehatan dan kesejahteraan bagi keluarganya,
masyarakat, serta negara pada umumnya.
b. Tujuan Khusus
1. Sasaran menggunakan salah satu metode (alat kontrasepsi) yaitu atas dasar
kebutuhan karena adanya pengertian, pengetahuan, dan kesadaran akan
kegunaanya.

3
2. Sasaran menggunakan metode Keluarga Berencana dalam waktu yang
cukup lama sehingga berpengaruh terhadap kelahiran, taraf kesehatan ibu
da keluarga, serta tingkat kesejahteraan keluarga.
3. Keluarga Berencana merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
kehidupan keluarga.

C. Prinsip – prinsip KIE/Penyuluhan


Pada dasarnya kegiatan KIE adalah untuk melakukan perubahan, maka akan
selalu ada resistensi, oposisi, dan konflik. Tidak ada faktor tunggal yang menjamin
keberhasilan KIE. Beberapa prinsip di bawah ini dapat dijadikan pedoman dalam
melakukan KIE yang sukses (BKKBN, 2015 :7) :
1. Realistis
KIE yang berhasil bersandar pada isu dan agenda yang spesifik, jelas, dan terukur.
Biasanya berdasarkan identifikasi permasalahan atau hasil dari analisis pendataan
keluarga.
2. Sistematis
KIE adalah seni tetapi bukan lukisan abstrak sehingga diperlukan perencanaan
yang akurat. KIE/Penyuluhan memerlukan perencanaan yang matang mulai dari
persiapan sampai tahapan pelaksanaan dan evaluasi.
3. Taktis
KIE tidak mungkin dilakukan secara sendiri sehingga harus membangun
kemitraan. Pelaksana lapangan Keluarga Berencana (PLKB) hendaknya selalu
membangun hubungan baik dengan mitra kerja, antara lain Kepala Desa/Lurah,
Kepala Puskesmas, dokter, bidan, tokoh agama, tokoh masyarakat, PKK, LSM
lainnya, kader dan masyarakat.
4. Strategis
KIE/Penyuluhan tidak selalu menjadi kegiatan yang berdiri sendiri namun bisa
dilakukan secara integratif dengan kegiatan lainnya di lini lapangan (bersifat luwes
sesuai karakteristik wilayahnya).
5. Berani
KIE/Penyuluhan yang bertujuan mengubah sikap mental, kepercayaan nilai-nilai
perilaku individu serta kelompok masyarakat haruslah bersifat berani memberikan

4
informasi yang jujur apa adanya. Contohnya efek samping alat dan obat
kontrasepsi.

D. Batasan Istilah
Untuk tidak menimbulkan adanya perbedaan atau pembiasan pengertian, maka
perlu ada batasan istilah yang digunakan dalam penelitian ini. Batasan yang
digunakan diambil dari pendapat pakar dalam bidangnya dan ada yang ditentukan
oleh peneliti dengan maksud untuk kepentingan penelitian ini. Beberapa batasan
istilah yang perlu dijelaskan adalah sebagai berikut:
1. Diseminasi Informasi Diseminasi informasi adalah proses penyebaran
informasi yang direncanakan, diarahkan, dan dikelola. Hal ini berbeda
dengan difusi yang merupakan alur komunikasi spontan. Sehingga terjadi
saling tukar informasi dan akhirnya terjadi kesamaan pendapat mengenai
suatu inovasi. (Ibrahim, 1988 : 29). 2. Strategi Penyuluhan (strategi disain
instruksional) Menurut AED, ada empat strategi penyuluhan yang telah
digunakan selama ini, yaitu : (Salim, 2001:104)
2. Strategi Penyuluhan (strategi disain instruksional) Menurut AED, ada empat
strategi penyuluhan yang telah digunakan selama ini, yaitu : (Salim,
2001:104)
Strategi disain instruksional Para disainer intruksional merupakan
orang-orang yang berorientasi rencana dan system. Mereka pertama-
pertama melakukan identifikasi mengenai tujuan yang hendak dicapai,
kriteria keberhasilan, partisipan, sumber-sumber, pendekatan yang
digunakan, dan waktu. Sebagai faktor-faktor yang ditimbang, dianalisa,
distrukturkan, dan dikodifikasi dalam suatu petunjuk rencana. Secara tipikal
kegiatan mereka dapat digolongkan ke dalam tiga tahapan yang luas dan
saling berkaitan, yakni :
a. Tahap perencanaan Menekankan pengumpulan informasi yang
dibutuhkan untuk menyiapkan suatu disain program yang efektif.
b. Tahap pelaksanaan Setiap putaran meliputi penjelasan informasi dasar
yang sama dengan suatu pendekatan yang sedikit berbeda. Perubahan

5
siklikal ini dimaksudkan untuk mengurangi kejenuhan khalayak, dan
memungkinkan pembaharuan keterlibatan khalayak secara kontinu.
c. Tahap evaluasi Memungkinkan perencanaan untuk mendeteksi masalah
yang muncul dan membuat perubahan penting dalam strategi
pendidikan

2.1 Konsep KB non hormonal


2.1.1 Definisi KB dan AKDR
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan,
upaya ini dapat bersifat sementara, atau dapat pula bersifat
permanen(Sarwono, 2002).
Kontrasepsi adalah merupakan suatu cara yang efektif untuk
mencegah mortalitas ibu dan anak karena dapat menolong pasangan suami
istri, menghindari kehamilan risiko tinggi(Hanafi, 2000).
Menurut WHO (1970) adalah tindakan yang membantu individu/
pasangan suami istri untuk:
1. Mendapatkan obyektif-obyektif tertentu.
2. Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan
3. Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan
4. Mengatur interval diantara kelahiran
5. Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami
istri
6. Menentukan jumlah anak dalam keluarga
AKDR adalah Suatu alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam
rahim yang bentuknya bermacam-macam, terdiri dari plastik (polythyline)
alat yang dililit tembaga (CU) ada pula yang tidak, tetapi ada pula yang
dililit dengan tembaga bercampur perak (Ag). Selain itu ada pula yang
batangnya berisi hormon progesteron(JHPIEGO, 2000).

6
2.1.2 Macam-Macam AKDR
1. AKDR Generasi Pertama
Upper Loop (Spiral)
Berbentuk spiral atau huruf S ganda terbuat dari plastik (polythyline),
dan ciri-ciri baja anti karat (cincin cina)
2. AKDR Generasi Kedua, dengan jangka pemakaian 4 tahun
1) CUT 200 B : Bentuk huruf T batangnya dililit tembaga
2) CU T : Bentuk angka 7 batangnya dililit tembaga
3) ML Cu 250 : Berbentuk 2/3 lingkaran elips yang bergerigi
batangnya dililit tembaga
3. AKDR Generasi Ketiga
1) CUT 380 A
Berbentuk T dengan lilitan tembaga yang banyak dan jangka
pemakaian 10 tahun
2) ML CU 375
Batangnya dililiti dengan tembaga berlapis perak dan jangka
pemakaian 5 tahun
3) Nova T
Batang dan lengannya diliti tembaga berlapis perak dan jangka
pemakaian 5 tahun.
4) IUD yang mengandung hormon progesterone diperbolehkan
penggunaannya oleh badan pengawas makanan dan obat di Amerika,
sedangkan IUD yang mengandung hormon leveno (gestre)
diperbolehkan penggunaannya di Finlandia. Fungsi IUD yang
mengandung hormon tersebut diatas merangsang uterus untuk
mengeluarkan sel-sel darah putih sehingga membunuh sperma.
2.1.3 Keuntungan AKDR
1. pemakaian panjang
Efektivitas tinggi walaupun masih mungkin terjadi kehamilan sekitar 2%
2. Murah dan ekonomis
3. Tidak ada kemungkinan kegagalan karena kesalahan peserta
4. Senggama tidak terganggu
5. Reversibel (bagi ibu yang ingin hamil lagi, AKDR dapat dikeluarkan
dengan mudah)

7
2.1.4 Kerugian IUD
1. Efek samping yang umum terjadi:
1). Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan
berkurang setelah 3 bulan)
2). Haid lebih lama dan banyak
3). Spotting/perdarahan antar menstruasi
4). Saat haid lebih sakit
2. Komplikasi lain
1). Merasakan sakit dan kejang selama 3-5 hari setelah pemasangan
2). Perdarahan besar pada waktu haid atau diantaranya yang
memungkinkan penyebab anemia.
3). Perforasi dinding uterus (sangat jarang, bila pemasangannya benar)
3. Tidak mencegah IMS termasuk HIV dan AIDS
4. Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan
yang sering berganti pasangan
5. Penyakit radang panggul terjadi setelah perempuan dengan IMS dengan
memakai AKDR
6. Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah
pemasangan AKDR. Biasanya menghilang dalam 1-2 hari.
7. Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri. Petugas kesehatan
terlatih yang harus melepaskan AKDR
8. Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi AKDR
untuk mencegah kehamilan normal.
2.1.5 Mekanisme Kerja IUD
1. Mekanisme kerja utama : sperma dihancurkan oleh sel-sel macrofag pada
tempat-tempat kontak IUD sehingga 99,98% sperma mati, akibatnya
jumlah sperma yang masuk ke dalam tuba sedikit.
2. Mekanisme kerja lain : adanya benda asing yang menyebabkan
perubahan biokimia dan histology endometrium sehingga terjadi lisis
endometrium, selain itu hormon prostagladin meningkat sehingga uterus
berkontraksi dan akibatnya implantasi tidak terjadi.

8
2.1.6 Indikasi Pemakaian IUD
1. Metode untuk wanita yang tidak memerlukan tindakan rutin tiap hari
sebelum senggama
2. Metode untuk wanita yang menyukai perlindungan efektif jangka
panjang tapi tidak permanent
3. Metode untuk wanita yang tidak menyukai kontrasepsi hormonal atau
untuk wanita perokok berat dan berumur > 35 tahun
4. Metode untuk wanita yang sedang menyusui
5. Metode untuk wanita yang puas dan merasa aman memakai IUD dimasa
lalu
6. Metode untuk wanita yang mempunyai anak satu atau lebih.
2.1.7 Kontra Indikasi Pemakaian IUD
1. Kehamilan
2. Gangguan perdarahan (perdarahan haid hebat dan perdarahan diluar
haid)
3. Radang alat kelamin
4. Curiga tumor ganas di alat kelamin
5. Tumor jinak rahim
6. Kelainan bawaan rahim
7. Erosia pada portio yang pathologis
8. Alergi terhadap logam
9. Berkali-kali terkena infeksi panggul atau endometritis pasca
keguguran/pasca salin dalam waktu 3 bulan terakhir.
2.1.8 Saat Pemasangan IUD
1. Pada waktu haid (hari terakhir haid atau hari sebelum berakhir haid)
2. Serviks lembut dan sedikit terbuka
3. Perdarahan dan sakit perut mungkin tidak terjadi
4. Segera setelah induksi haid atau abortus spontan
5. Setelah melahirkan (post partum)
1). Segera setelah melahirkan, 2-4 hari setelah melahirkan
2). 40 hari setelah melahirkan

9
6. Setiap saat bila yakin tidak ada kehamilan
Petunjuk bagi klien
7. Kembali memeriksakan diri setelah 4 sampai 6 minggu pemasangan
AKDR
8. Selama bulan pertama mempergunakan AKDR, periksalah benang
AKDR secara rutin terutama setelah haid
9. Setelah bulan pertama pemasangan hanya perlu memeriksakan
keberadaan benang setelah haid apabila mengalami
1). Kram/kejang diperut bagian bawah
2). Perdarahan spotting diantara haid atau setelah senggama
3). Nyeri setelah senggama atau apabila pasangan mengalami tidak
nyaman selama melakukan hubungan seksual.
10. Copper T 380 A perlu dilepas setelah 10 tahun pemasangan tetapi dapat
dilakukan lebih awal apabila diinginkan:
1). Tidak dapat meraba benang AKDR
2). Merasakan bagian yang keras dari AKDR
3). AKDR terlepas
4). Siklus terganggu
5). Terjadi pengeluaran cairan dari vagina yang mencurigakan
6). Adanya infeksi
2.1.9 Penanganan Efek Samping
1. Amenorea
Periksa apakah sedang hamil, apabila tidak jangan dilepas, tetapi
selidiki penyebabnya, bila hamil, sarankan untuk melepas IUD usia
kehamilan kurang dari 13 minggu.
2. Kejang
Pastikan dan tegaskan adanya PRP dan penyebab lain dari kekejangan
tanggulangi penyebabnya apabila ditemukan
3. Perdarahan vagina yang hebat dan tidak teratur
Pastikan dan tegaskan adanya infeksi pelvik dan kehamilan ektopik.
Apabila tidak ada kelainan patologis, perdarahan berlanjut serta
perdarahan bebas, lakukan konseling dan pemantauan.

10
4. Benang yang hilang
Periksa apakah klien hamil, bila tidak hamil dan AKDR masih ditempat,
tidak ada tindakan yang perlu dilakukan bila tidak yakin AKDR masih
berada di dalam rahim dan klien tidak hamil, maka klien dirujuk untuk
dilakukan pemeriksaan rontgen/USG.
5. Cairan vagina/dugaan penyakit radang panggul
Bila penyebabnya kuman gonokokus atau klomidio, cabut AKDR dan
berikan pengobatan yang sesuai.
(Saifuddin, Abdul, 2003)
2.2 Tinjauan Teori Manajemen Varney
I. Pengkajian
A. Data Subyektif
1. Biodata
Nama Istri / Suami : Untuk mengetahui identitas pasien
Umur : Untuk mengetahui umur pasien,
menentukan konseling dan resiko.
Pendidikan : Untuk mengetahui tingkat pengetahuan
yang digunakan sebagai dasar dalam
memberikan asuhan.
Pekerjaan : Untuk menggetahui status ekonomi dan
aktifitas ibu.
Alamat : Untuk mengetahui tempat tinggal pasien
sehingga memudahkan kunjungan
rumah.
2. Alasan Datang
Untuk mengetahui alasan pasien datang ke BPS.

3. Keluhan Utama
Perubahan pada haid seperti mual, sakit kepala, nyeri payudara
ringan dan penambahan berat badan.
4. Riwayat Haid

11
Untuk mengetahui umur berapa ibu menarche, bagaimana
siklusnya, lama haid, jumlah darah haid, pernah mengalami
dysmenore atau tidak, fluor albus, Hari Pertama Haid Terakhir
(HPHT) sehingga diketahui keadaan alat reproduksi ibu normal
atau tidak.
5. Riwayat Perkawinan
Untuk mengetahui berapa kali ibu kawin, sehingga dapat
diketahui ibu hamil dari suami keberapa.
Untuk mengetahui berapa lama ibu kawin
Untuk mengetahui umur berapa ibu kawin, ibu kawin usia yang
berisiko tinggi (kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun)
atau tidak.
6. Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Untuk mengetahui apakah ibu pernah menderita penyakit
menular, kronis maupun turunan.
7. Riwayat Kesehatan Sekarang
Untuk mengetahui apakah ibu sedang menderita suatu penyakit
menular ataupun kronis pada saat itu.
8. Riwayat Kesehatan Keluarga
Untuk mengetahui apakah anggota keluarga dari pasien ada
yang menderita penyakit menular seperti hepatitis dan penyakit
keturunan.
9. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas Yang Lalu
Untuk mengetahui apakah terjadi komplikasi selama ibu hami,
bersalin dan nifas serta apakah ibu menyusui atau tidak.
10. Riwayat KB
Untuk mengetahui KB apa yang dipakai ibu sebelumnya.
11. Pola Kebiasaan Sehari-hari
Untuk mengetahui apakah kebiasaan ibu bertentangan dengan
kesehatan.
12. Data Psikologis
Untuk mengetahui kekhawatiran ibu mengenai KB.

12
13. Data Sosial Budaya
Untuk mengetahui budaya yang dapat mempengaruhi pemilihan
KB.
14. Data Spiritual
Untuk mengetahui keyakinan pasien mengenai hal-hal yang
berkaitan.
B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
a. Kesadaran umum : Baik
b. Kesadaran : Composmentis / somnolen / apatis
c. Tanda-tanda vital :
TD : 110 / 70 – 120 / 80 mmHg
N : 80 – 100 x / menit
R : 16 – 24 x / menit
S : 365 – 3720C
d. Berat badan sekarang
2. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Rambut : Untuk mengetahui kebersihan dan rontok
atau tidak.
Muka : Pucat atau tidak, flek atau tidak.
Mata : Simetris atau tidak, konjungtiva pucat atau
tidak sklera ikterus atau tidak.
Hidung : Ada pernafasan cuping hidung atau tidak.
Dada : Puting menonjol atau tidak, hiperpigmentasi
areola mammae atau tidak.
Abdomen : Untuk mengetahui adanya tanda-tanda
kehamilan.
Genetalia : Terdapat condiloma akuminata ada / tidak.
Ekstermitas : Atas : Pergerakan bebas atau tidak, cacat
atau tidak, oedema atau tidak.
Bawah : Pergerakan bebas atau tidak,
oedema atau tidak, varices atau
tidak.

13
b. Palpasi
Leher : Teraba pembesaran kelenjar tyroid dan vena
jugolaris atau tidak.
Dada : Ada benjolan abnormal atau tidak, ada nyeri
tekan atau tidak.
Abdomen : Ada nyeri tekan atau tidak, ada benjolan
abnormal atau tidak.
c. Auskultasi
Dada : Ada ronchi atau wheezing atau tidak.
d. Perkusi : Reflek patella +/-
II. Identifikasi Diagnosa Masalah
Dx : Ny “…” Usia … tahun P…. Ab… dengan Akseptor Baru KB IUD
Ds : Ibu mengatakan ingin KB
Do : Tekanan darah : 110 / 70 – 120 / 180 mmHg
Nadi : 80 – 90 x / menit
Pernafasan : 20 – 30 x / menit
Suhu : 36 – 370C
III. Identifikasi Masalah Potensial
Masalah yang dapt ditimbulkan dari pemasangan IUD
IV. Identifikasi Kebutuhan Segera
Lakukan konseling melalui komunikasi, informasi dan edukasi.

V. Intervensi
Dx : Ny “…” Usia … tahun P…. Ab…. dengan Akseptor Baru
KB IUD
Tujuan : Klien tetap menjadi akseptor KB aktif
Klien ingin menjarangkan kehamilan
KH : - Klien mampu mengerti dan memahami keuntungan,
kerugian dan efek samping KB IUD.
-Klien tidak terjadi kehamilan.
-

14
Intervensi :
1. Lakukan pendekatan therapeutik pada ibu
R/ Dengan pendekatan therapeutik ibu dapat lebih kooperatif
2. Jelaskan pada ibu tentang tindakan yang akan dilakukan
R/ Ibu lebih kooperatif dengan tindakan yang akan dilakukan
3. Anjurkan pada ibu untuk mengosongkan kandung kemih
R/ Membantu ibu lebih tenang
4. Persiapan alat pemasangan IUD steril
R/ Dengan persiapan alat yang lengkap dan steril dapat
memperlancar pemasangan IUD dan mengurangi resiko terjadinya
infeksi
5. Persiapkan tempat pemasangan IUD
R/ Dengan persiapan tempat yang aman dan nyaman akan
membantu menjaga privasi klien
6. Atur posisi ibu secara litotomi
R/ Posisi litotomi memudahkan dalam melakukan pemasangan IUD
7. Lakukan pemasangan IUD dengan benar dan hati-hati
R/ Pemasangan IUD dengan benar dan hati-hati dapat menentukan
keberhasilan pemakaian IUD
8. Ajarkan pada ibu cara memeriksa benang IUD
R/ Untuk mengetahui keberadaan IUD apakah masih terpasang/tidak
9. Anjurkan pada ibu untuk menunggu 15 menit setelah
pemasangan IUD
R/ Untuk mengamati adanya reaksi dari pemasangan IUD
10. Anjurkan pada ibu untuk kontrol 1 minggu lagi
R/ Untuk mengetahui keluhan-keluhan dan reaksi dari pemasangan
IUD pada ibu.
VI. Implementasi
Pelaksanaan dari intervensi.
VII. Evaluasi
Mengacu pada hasil implementasi.

15
BAB III
TINJAUAN KASUS

I. PENGKAJIAN
Tanggal : 20-03-2010
Jam : 16.00 WIB
a. Data Obyektif
1. Biodata
Nama : Ny “N” Nama Suami : Tn “S”
Umur : 34 tahun Umur : 40 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku : Jawa Suku : Jawa
Pendidikan : SMP Pendidikan : SMA
Pekerjaan :- Pekerjaan : Swasta
Penghasilan :- Penghasilan :-
Alamat : Curungrejo Alamat : Curungrejo
2. Alasan Datang
Ibu mengatakan ingin pasang spiral
3. Keluhan Utama
Ibu mengatakan tidak ada keluhan
4. Riwayat Penyakit Yang Lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menurun seperti
darah tinggi, kencing manis, asma, maupun penyakit menular seperti
TBC, penyakit kunging. Ibu tidak sedang menderita penyakit tumor,
kanker.
5. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menurut seperti
darah tinggi, kencing manis, asma, maupun penyakit menular seperti
TBC, penyakit kuning. Ibu tidak sedang menderita penyakit tumor
dan kanker.

16
6. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit
menurun seperti darah tinggi, kencing manis, asma, maupun penyakit
menular seperti TBC, penyakit kuning. Dalam keluarga tidak ada yang
menderita penyakit tumor dan kanker.
7. Riwayat haid
Menarcher : 13 tahun
Siklus : 28 hari
Lama : 4 - 5 hari
Jumlah : Hari 1-2 ganti 2 softek/hari, hari 3 dan seterusnya 1
softek/hari
Keluhan : tidak pernah nyeri haid
Fluor albus : Kadang-kadang 2 hari sebelum haid, warna putih tidak
berbau
HPHT : 15 Maret 2010
8. Riwayat Perkawinan
Menikah : 1x
Lama menikah : 14 tahun
Usia pertama menikah : 20 tahun
9. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu

Kehamilan Persalinan Anak Nifas


No Hamil Umur K
Suami Penolong Cara Penyulit Sex BBL Mati Usia Hari Menyusui
ke kehamilan
1 1 I 9 bln Dukun Normal - ♂ 3100gr - 13 40 1 th
th
2 II 9 bln Bidan Normal - ♀ 3000gr - 7 th 40 1 th
3 III 9 bln Bidan Normal - ♂ 3200gr - 3 th 40 1,5 th

10. Riwayat KB
Setelah menikah ibu tidak menggunakan KB setelah kelahiran anak
pertama ibu menggunakan KB suntik 3 bulan selama 5 tahun setelah
kelahiran anaknya yang ke 2 ibu menggunakan KB suntik 3 bulan
selama 3 tahun selama menggunakan KB suntik Ibu mengatakan tidak
ada keluhan, setelah itu ibu memutuskan untuk tidak menggunakan

17
KB dengan alasan ingin punya anak lagi, setelah kelahiran anak ke 3
kemudian ibu menggunakan KB pil selama
1 tahun, ibu berhenti menggunakan KB pil karena timbul flek-flek
hitam di wajah dan mamutuskan menggunakan KB suntik 3 bulanan
selama 2 tahun sampai akhirnya sekarang ibu memutuskan untuk
menggunakan KB IUD dengan alasan ibgin membatasi jumlah anak.
11. Pola Kebiasaan Sehari-hari
Pola Kebiasaan Di rumah
1. Nutrisi - Makan 3x1 hari porsi 1 piring komposisi nasi, lauk,
sayuran, kadang buah-buahan
- Minum air putih sebanyak 5-6 gelas.hari
2. Eliminasi - BAB: 1-2 /hari dengan konsistensi lunak, warna kuning
- BAK: 5-7 /hari warna kuning jernih
3. Personal Hygiene Ibu mandi + gosok gigi 2x/ahri, keramas 3x seminggu,
ganti baju setaip selesai mandi dan ganti celana dalam
setiap basah atau kotor
4. Istirahat Tidur siang + 2 jam (13.00 – 15.00 WIB)
Tidur malam + 7 jam (21.00 – 04.00 WIB)
5. Aktivitas Sehari-hari ibu mengerjakan pekerjaan rumah tangga
seperti memasak, menyapu, mencuci dll
6. Kebiasaan Ibu tidak pernah merokok, tidak minum-minuman
beralkohol dan tidak minum jamu
12. Data Psikososial, Budaya dan Spiritual
a. Psikologis
Ibu mengatakan ingin menggunakan KB spiral, begitu juga
dengan suaminya juga mendukungnya
b. Sosial dan budaya
Ibu tinggal dengan suami dan ketiga anaknya. Hubungan diantara
mereka harmonis begitu juga dengan tetangga dan petugas
kesehatan, dalam keluarga tidak ada pantangan ber KB
c. Spiritual
Ibu beragama Islam, dan selalu mengerjakan sholat lima waktu,
kadang-kadang ikut pengajian dikampungnya

b. Data Obyektif

18
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : baik
Kesadaran : composmentis
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Suhu : 36 5oC
Nadi : 80 x/menit
RR : 20 x/menit
BB : 50 kg
2. Pemeriksaan Fisik
b. Inspeksi
Kepala : Bersih, kulit tidak berketombe, rambut warna
hitam, rambut tidak bercabang
Wajah : Tidak pucat, tidak oedema, terdapat flek-flek hitam
disekitar bawah mata dan pipi
Mata : Simetris, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak
ikterus
Hidung : Simetris, bersih, tidak ada sekret, tidak ada polip
Telinga : Bersih, simetris, tidak ada peneluaran serumen
Mulut : Bibir lembab, tidak tampak stomatitis, lidah bersih,
tidak terdapat karies gigi
Leher : Tidak tampak pembesaran kelenjar thyroid dan
vena jugularis
Dada : Tidak ada retraksi, simetris
Payudara : Simetris, putting susu menonjol
Adboment : Tidak terdapat bekas luka operasi, terdapat urine
albican
Genetalia : Bersih tidak oedema, tidak ada varises, penyebaran
rambut pubis merata, tidak terdapat condiloma
akuminata, maupun condiloma talata
Anus : tidak terlihat haemoroid

Ekstremitas : Atas : Simetris, tidak oedema

19
Bawah : Simetris tidak oedema, tidak terlihat
varises
c. Palpasi
Leher : Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar Thyroid
maupun vena jugularis
Payudara : Tidak teraba benjolan abnormal, tidak ada nyeri
tekan
Abdomen : Tidak ada nyeri tekan, tidak teraba benjolan
abnormal
Genetalia : Tidak teraba kelenjar bartolini
Ekstremitas : Atas : Simetris, tidak oedem
Bawah : Simetris, tidak ada varises, tidak oedema
d. Auskultasi
Dada : Tidak terdengan ronchi dan wheezing
e. Perkusi
Perut : Tidak kembung
Reflek patella : +/+
f. Inspekulo
Tidak ada lesi/keputihan pada vagina, tidak serviksitis, dan tidak
ada tanda-tanda kehamilan (serviks membiru = tanda chadwick)

II. IDENTIFIKASI MASALAH/DIAGNOSA


Dx : Ny “N” usia 34 tahun P3003 Ab000 dengan akseptor baru KB IUD
Ds : Ibu mengatakan ingin pasang spiral
Do : keadaan umum : baik
Kesadaran : composmentis
TTV
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Suhu : 36 5oC
Respirasi : 20 x/menit
Palpasi

20
Abdomen : Tidak nyeri tekan, tidak teraba benjolan abnormal
Inspekulo : Tidak ada lesi/keputihan pada vagina, tidak serviksitis dan
tidak ada tanda kehamilan (serviks membiru tanda
chadwick)

III. ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL


-
IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
-
V. INTERVENSI
Dx : Ny “N” Usia 34 tahun P3003 Ab000 dengan Akseptor Baru KB IUD
Tujuan : setelah dilakukan asuhan kebidanan pemasangan IUD lancar
Kriteria hasil : Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Komposmentis
Tekanan Darah : 90/60 – 130/90 mmHg
Nadi : 60 – 100 x/menit
Suhu : 36 5oC – 37 5oC
Respirasi : 16 – 24x/menit
Tidak terjadi perforasi
Intervensi :
1. Lakukan pendekatan therapeutik pada ibu
R/ Dengan pendekatan therapeutik ibu dapat lebih kooperatif
2. Jelaskan pada ibu tentang tindakan yang akan dilakukan
R/ Ibu lebih kooperatif dengan tindakan yang akan dilakukan
3. Anjurkan pada ibu untuk mengosongkan kandung kemih
R/ Membantu ibu lebih tenang

4. Persiapan alat pemasangan IUD steril


R/ Dengan persiapan alat yang lengkap dan steril dapat memperlancar
pemasangan IUD dan mengurangi resiko terjadinya infeksi
5. Persiapkan tempat pemasangan IUD

21
R/ Dengan persiapan tempat yang aman dan nyaman akan membantu
menjaga privasi klien
6. Beri tahu ibu bentuk IUD yang akan di pasang
R/ Agar ibu mengetahui bentuk IUD yang akan di pasang sehinnga ibu
merasa nyaman.
7. Atur posisi ibu secara litotomi
R/ Posisi litotomi memudahkan dalam melakukan pemasangan IUD
8. Lakukan pemasangan IUD dengan benar dan hati-hati
R/ Pemasangan IUD dengan benar dan hati-hati dapat menentukan
keberhasilan pemakaian IUD
9. Ajarkan pada ibu cara memeriksa benang IUD
R/ Untuk mengetahui keberadaan IUD apakah masih terpasang/tidak
10. Anjurkan pada ibu untuk menunggu 15 menit setelah pemasangan IUD
R/ Untuk mengamati adanya reaksi dari pemasangan IUD
11. Anjurkan pada ibu untuk kontrol 1 minggu lagi
R/ Untuk mengetahui keluhan-keluhan dan reaksi dari pemasangan IUD
pada ibu.
VI. IMPLEMENTASI
Dx : Ny “N” usia 34 tahun P3003 Ab000 dengan akseptor baru KB IUD
1. Melakukan pendekatan therapeutik pada ibu
dengan memperkenalkan diri pada ibu, menanyakan tujuan dan keluhan –
konseling.
2. Menjelaskan pada ibu tentang tindakan
yang akan dilakukan. Bahwa dalam pemeriksaan akan dilakukan
pemasangan alat dalam rahim.
3. Menganjurkan pada ibu untuk
mengosongkan kandung kemihnya.
4. Mempersiapkan alat pemasangan IUD steril seperti spekulum, tenakulum,
tampon tang, sonde uterus, sarung tangan, kasa depres, betadin, IUD,
bengkok, larutan klorin.

22
5. Mempersiapkan tempat pemasangan IUD
dengan menutup korden atau jendela dan pintu.
6. Memberi tahu ibu bentuk IUD yang akan di
pasang.
7. Mengatur posisi ibu secara litotomi, menganjurkan ibu untuk tidur dengan
posisi kedua kaki ditekuk.
8. Melakukan pemasangan IUD dengan benar
dan hati-hati.
a. Mencuci tangan dengan sabun dan membilas di air mengalir dan
mengeringkan dengan handuk
b. Memasang spekulum
c. Memeriksa adanya keputihan abnormal, servicitis (tidak ditemukan
keputihan abnormal maupun servicitis)
d. Melepas speculum dan melakukan pemeriksaan dalam untuk
mengetahui apakah terdapat nyeri goyang portio, pembesaran uterus,
(tidak terdapat nyeri goyang partio, pembesaran uterus, posisi uterus
antefleksi).
e. Memasang spekulum 2, menjepit porsio dengan tenakulum arah jam
11.
f. Memasang sonde untuk mengetahui posisi uterus dan kedalam cavum
uteri
g. Membuka kemasan IUD, memasukkan pendorong ke dalam tabung
inserter.
h. Memasukkan lengan IUD ke dalam tabung inserter dengan cara
menahan ke-2 ujung lengan IUD dari atas penutup transparan dengan
jari telunjuk dari ibu jari tangan kiri, dorong inserter dengan tangan
kanan sampai ke pangkal lengan sehingga ke-2 lengan akan terlipat.
Tarik tabung inserter melewati ke-2 ujung lengan, kemudian dorong
inserter dan terasa ada tahanan yaitu batas lengan lempengan tembaga.
i. Memegang leher biru dari atas penutup transparan dan dorong tabung
inserter sampai jarak antara ujung lengan yang terlipat dengan ujung
leher biru bagian depan (dekat lengan IUD) sama panjang dengan
kedalaman cavum uteri yang telah diukur dengan sonde.
j. Memasukkan IUD dengan pelan dan hati-hati ke dalam kanalis
servikalis sesuai dengan arah dan posisi uterus, dorong tabung inserter
sampai leher biru menyentuh serviks atau sampai terasa ada tahanan.

23
k. Memegang dan menahan tenakulum dan pendorong degnan tangan
kiri, tangan kanan mendorong tabung inserter sampai pangkal
pendorong.

l. Mendorong kembali tabung inserter dengan pelan dan hati-hati sampai


terasa ada tahanan.

m. Mengeluarkan pendorong dengan tetap memegang dan menahan


tabung inserter, kemudian mengeluarkan sebagian tabung inserter dari
kanalis servikalis, gunting benang IUD 3-4 cm dari lubang serviks.

n. Melepas tenakulum, kemudian menekan bekas jepitan tenakulum


dengan kasa depres sampai perdarahan berhenti.

o. Buang bahan-bahan habis pakai kedalam tempat sampah yang sudah


disediakan.

p. Membereskan alat-alat dan merendam dalam larutan klorin 0,5%


selama 10 menit.

9. Mengajarkan pada ibu cara memeriksa


benang IUD yaitu pada saat setelah haid, anjurkan ibu untuk memeriksa
benang IUD dengan cara mencuci tangan, masukkan jari tengah pada alat
kemaluan ibu dan meraba benang IUD. Bila benang teraba berarti IUD
masih terpasang, bila tidak teraba kemungkinan IUD terlepas.

10. Menganjurkan pada ibu untuk menunggu 15


menit setelah pemasangan IUD ibu mengatakan perutnya tidak sakit, tidak
mual.

11. Menganjurkan pada ibu untuk kontrol ulang


1 minggu lagi pada tanggal 27 Maret 2010.

24
VII. EVALUASI
Tanggal : 20-03-2010
Jam : 13.00 WIB
Diagnosa : Ny “N” usia 34 tahun P3003 Ab000 dengan akseptor baru KB IUD
1. Ibu mengerti dengan tindakan apa yan g akan dilakukan petugas
kesehatan
2. Ibu sudah mengosongkan kandung kemimnya
3. Ibu sudah mengetahui bentuk IUD yang akan di pasang
4. Ibu dapat mengatur posisi litotomi dengan benar
5. Ibu mengerti bagaimana cara memeriksa benang IUD
6. Ibu menunggu 15 menit sebelum pulang setelah iud selesai di pasang
7. Ibu mengatakan 1 minggu lagi akan kembali ke bidan untuk kontrol

25
BAB IV
PEMBAHASAN

IUD merupakan metode untuk wanita yang tidak memerlukan tindakan


rutin tiap hari atau sebelum senggama, mempunyai perlindungan efektif jangka
panjang tapi tidak permanen, dapat digunakan untuk wanita yang kontrasepsi
hormonal atau untuk wanita perokok berat dan berumur lebih dari 35 tahun, untuk
wanita yang sedang menyusui.
Dalam laporan ini penulis membuat asuhan kebidanan pada Ny “N” usia 34
tahun P3003 Ab000 dengan akseptor baru KB IUD. Sebelum melakukan tindakan,
untuk memudahkan pemasangan penulis melakukan pengkajian yang terdiri dari
data obyektif dan subyektif. Hal ini dilakukan untuk mencari, apakah terjadi
kesenjangan antara teori dan praktek. Setelah dilakukan pengkajian secara lengkap,
penulis melakukan identifikasi masalah/diagnosa, kemudian kebutuhan segera dan
dilanjutkan pengembangan rencana atau intervensi, dan implementasi.
Secara teori dan praktek dalam pemasangan IUD tidak terdapat kesenjangan di
dalam pelaksanaan intervensi dan implementasi banyak penjelasan atau KIE yang
harus diterima oleh klien serta pertanyaan yang harus diungkapkan klien.
Setelah pelaksanaan intervensi dan implementasi selesai, barulah penulis
mengadakan evaluasi, yang berisi tentang hasil dari tindakan yang dilakukan.
Dalam melakukan evaluasi pada kasus ini, harus benar-benar dilakukan dengan
teliti. Karena dalam kasus ini jika IUD tidak terpasang dengan rapi dan aman maka
akan potensial terjadi infeksi.

26
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
AKDR adalah salah satu alat kontrasepsi yang paling sedikit
ditemukan angka kegagalannya karena keefektifannya begitu tinggi.
Mekanisme kerja AKDR yaitu menghancurkan sperma yang dilakukan oleh
sel-sel makrolog pada tempat-tempat kontak IUD dan mekanisme kerja
lainnya adalah dengan adanya benda asing menyebabkan perubahan biokimia
dan histology endometrium sehingga terjadi lisis endometrium, selain itu
hormon prostaglandin meningkat sehingga uterus berkontraksi dan akibatnya
implantasi tidak terjadi.
Pada kasus ini klien ingin memasang IUD karena jangka waktu
pemakaiannya yang lama yaitu 10 tahun, aman digunakan untuk wanita yang
sudah berusia lebih dari 35 tahun dan dapat digunakan pada wanita yang tidak
cocok menggunakan KB bermonal.

5.2 Saran
a. Kepada Mahasiswa agar tetap mempertahankan untuk melakukan
tindakan therapeutik pada klien sehingga terjalin hubungan yang baik.
b. Kepada petugas agar tetap mempertahankan tindakan pencegahan infeksi
baik sebelum maupun sesudah melakukan tindakan.
c. Pada klien diharapkan dapat menjaga personal hygiene sehingga tidak
menimbulkan komplikasi.

27
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Bari Syaifudin 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal, Jakarta : YBP.SP
Buku Acuan Nasional Pelayanan Keluarga Berencana, 1996. NRC. POGI, Jakarta:
YBP.SP
JHPIEGO. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, 2000. Pelatihan
Penyelenggara IUD dan Implant.
Prawirohardjo, Sarwono, 2002. Ilmu Kebidanan, Jakarta: YBP.SP

28