Anda di halaman 1dari 1

Tambahan KIE

hormon progesteron. Ada beberapa macam peningkatan suhu tubuh yang dapat dialami wanita, yaitu
peningkatan mendadak (paling sering), peningkatan perlahan, peningkatan bertingkat yang didahului
penurunan suhu yang cukup tajam, dan peningkatan suhu seperti gergaji.

Suhu tubuh dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti penyakit, faktor situasional (mimpi
buruk), jam tidur yang ireguler, konsumsi makanan/minuman sebelum menstruasi dan kesalalhan teknis.
Penyakit yang dapat memengaruhi perubahan suhu tubuh, antara lain influenza/ISPA, infeksi/penyakit
lain yang membuat demam, inflamasi lokal pada lidah, mulut dan anus. Kesalahan teknis dapat berupa
termometer rusak.

Pada beberapa kasus, kadang suhu tubuh basal sama sekali tidak meninggi selama ovulasi atau
terkadang sudah meninggi pra-ovulasi. Suhu tubuh basal tidak meninggi pada siklus menstruasi
anovulatoir, hal ini dapat ditemukan pada gadis muda, ibu klimakterium, ibu postpartum dan ibu yang
menyusui. Bila tidak terjadi fertilisasi, korpus luteum akan berhenti bekerja, produksi progesteron
menurun dan suhu basal menurun lagi. Suhu basal setelah ovulasi lebih tinggi daripada suhu basal
sebelum ovulasi, meskipun tidak terjadi fertilisasi.

Metode ini memiliki angka kegagalan sebesar 0,3-6,6 per 100 wanita per tahun. Kerugian utama
metode suhu basal ini adalah abstinensia (menahan diri tidak melakukan sanggama) sudah harus
dilakukan pada masa praovulasi.

Metode lendir serviks (Billings)

Metode kontrasepsi ini dilakukan berdasarkan perubahan siklus lendir serviks yang terjadi karena
perubahan kadar estrogen (Gambar 5.4 dan Gambar 5.5). Pada setiap siklus menstruasi, sel serviks
memproduksi 2 macam lendir serviks, yaitu lendir estrogenik dan gestagenik.

1. Lendir estrogenik (tipe E). Lendir jenis ini diproduksi pada fase akhis sebelum ovulasi dan fase ovulasi.
Sifat lendir ini banyak, tipis, seperti air (jernih) dan viskositas rendah, elastisitas besar, bila dikeringkan
akan membentuk gambaran seperti daun pakis (fernlike patterns, ferning, arbarization).

2. Lendir gestagenik (tipe G). Lendir jenis ini diproduksi pada fase awal sebelum ovulasi dan setelah
ovulasi. Sifat lendir ini kental, viskositas tinggi, dan keruh.

Apabila ibu memutuskan memilih metode kontrasepsi ini maka abstinensia harus dilakukan pada hari
pertama diketahui adanya lendir setelah menstruasi dan berlanjut hingga hari keempat setelah gejala
puncak. Ada 3 penyulit dalam melakukan metode ini, yaitu penyulit fisiologis (sekresi vagina karena
rangsangan seksual),patologis (infeksi vagina, infeksi serviks, dan obat-obatan), dan psikologis (stres fisik
dan mental).