Anda di halaman 1dari 7

K3 DAN KESLING

Kesehatan, Keselamatan, dan Keamanan Kerja, biasa disingkat K3 adalah suatu


upaya guna memperkembangkan kerja sama, saling pengertian dan partisipasi efektif
dari pengusaha atau pengurus dan tenaga kerja dalam tempat – tempat kerja untuk
melaksanakan tugas dan kewajiban bersama dibidang keselamatan, kesehatan, dan
keamanan kerja dalam rangka melancarkan usaha berproduksi (Tarwaka, 2008).
Rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tetap harus mengedepankan
mutu pelayanan kepada masyarakat dengan tanpa mengabaikan upaya kesehatan dan
keselamatan kerja (K3) bagi seluruh pekerja rumah sakit (Sillahi, 1995). Dengan
meningkatnya pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat maka
tuntutan pengelolaan program kesehatan dan keselamatan kerja di lingkungan rumah
sakit (K3RS) semakin tinggi karena sumber daya manusia (SDM) rumah sakit,
pengunjung atau pengantar pasien, pasien dan masyarakat sekitar rumah sakit ingin
mendapatkan perlindungan dari gangguan kesehatan dan keselamatan kerja, baik
sebagai dampak proses kegiatan pemberian pelayanan maupun karena kondisi sarana
dan prasana yang tidak memenuhi standar yang ada di Rumah Sakit (Tarwaka, 2008).
Standar kesehatan dan keselamatan kerja di RS (K3RS) ini merupakan pedoman
yang dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan pengelolaan K3RS dan dapat
menggantikan peran standar K3RS terdahulu yang dikenal dengan kebakaran,
keselamatan kerja, dan kewaspadaan bencana. Standar K3RS sebagai acuan lebih
komprehensif karena di dalamnya terdapat standar kesehatan kerja dan standar
keselamatan kerja yang mencakup standar penanggulangan kebakaran dan
kewaspadaan terhadap bencana. Standar K3RS yang ditetapkan melalui keputusan
Menteri Kesehatan RI No. 1087/MENKES/SK/VIII/2010 diharapkan dapat diterapkan
di seluruh rumah sakit sebagai bagian dalam pengelolaan rumah sakit dan sebagai salah
satu parameter penilaian akreditasi rumah sakit yang diamanatkan oleh undang –
undang no.44 tentang Rumah Sakit (Depkes RI, 2010).
Rumah sakit harus menjamin kesehatan dan keselamatan baik terhadap pasien
penyedia layanan atau pekerja maupun masyarakat sekitar dari potensi bahaya di rumah
sakit. Oleh karena itu, Rumah Sakit dituntut untuk melaksanakan upaya kesehatan dan
keselamatan kerja (K3) yang dilaksanakan secara integritas dan menyeluruh sehingga
resiko terjadinya Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Akibat Kerja (KAK)
dapat dihindari.
Ruang Lingkup K3RS di RS PKU Muhammadiyah Delanggu terdiri dari
beberapa ruang lingkup, diantaranya yaitu :
1. Emergency Respone Plan (Rencana Tanggap Darurat) : pelatihan evakuasi dan
tanggap darurat secara periodik.
2. Fire Safety (Keamanan dari ancaman kebakaran) : pasif diinstal pada
bangunan sebagai insulator dan aktif seperti sprinkel, APAR, Hydran, alat
komunikasi, perangkat security.
3. Patient Safety (Jaminan Keamanan Pasien) : no INOS, no worry, easy accesss,
system friendly.
4. Workers Health (Kesehatan pekerja dengan menjamin lingkungan, peralatan,
metode perilaku kerja sehat dan aman).
5. Pengelolaan Bahan Berbahaya.
6. Sanitasi Lingkungan
7. Pengendalian dan Penanganan Limbah.
8. Pendidikan, Pelatihan dan Promosi
9. Pencatatan dan Pelaporan.
Bahaya – bahaya potensial di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Delanggu yang
disebabkan oleh faktor biologi (virus, bakteri, jamur, parasit), faktor kimia (antiseptik,
reagen, gas anastesi), faktor ergonomi (lingkungan kerja, cara kerja, dan posisi kerja
yang salah), faktor fisik (suhu, cahaya, bising, listrik, getaran, dan radiasi), faktor
psikososial (kerja bergilir, beban kerja, hubungan sesama pekerja atau atasan) dapat
mengakibatkan penyakit atau kecelakaan akibat kerja.
PAK di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Delanggu umumnya berkaitan
dengan Faktor Biologi (kuman patogen umumnya berasal dari pasien), Faktor Kimia
(pemaparan dalam dosis kecil yang terus – menerus yang umumnya pada kulit, gas
anastesi pada hati), Faktor Ergonomi (cara duduk yang salah, cara mengangkat pasien
yang salah), Faktor Fisik (panas pada kulit, tegangan tinggi pada sistem reproduksi,
radiasi pada sistem produksi sel darah), Faktor Psikologis (ketegangan di kamar bedah,
penerimaan pasien gawat darurat, bangsal penyakit jiwa, dll).
Sumber bahaya yang ada di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Delanggu harus
diidentifikasi dan dinilai untuk menntukan tingkat resiko yang merupakan tolak ukur
kemungkinan terjadinya kecelakaan PAK. Bahaya – bahaya potensial di Rumah Sakit
dapat dikelompokkan seperti dalam tabel berikut :
Bahaya Fisik Diantaranya : radiasi pengion, radiasi non pengion, suhu panas, suhu
dingin, bising getaran, dan pencahayaan.
Bahaya Kimia Diantaranya : etilyn oxide, formaldehide, glutaraldehide, eter,
halotane, tetrane, merkuri, clorine.
Bahaya Biologi Diantaranya : virus (hepatitis B, hepatitis C, influenza, HIV), bakteri
(s.sapropyticus, bacillus sp, poryonybacterium sp, h. Influenzae, s.
Pnemunoiae, m. Mengitidis, b. Streptococcus, pseudomonas), jamur
(candida), dan parasit (s.scabei).
Bahaya Ergonomi Cara kerja yang salah diantaranya : posisi kerja statis, angkat angkut
pasien, membungkuk, menarik, mendorong.
Bahaya Psikososial Kerja shift, stress beban kerja, hubungan kerja, post traumatic.
Bahaya Mekanik Terjepit, terpotong, terpukul, tersayat, tergulung, tersayat benda
tajam
Bahya Listrik Sengatan listrik, hubungan arus pendek, petir, listrik statis
Kecelakaan Kecelakaan benda tajam
Limbah RS Limbah medis (vial obat, nanah, darah)
Limbah non medis Limbah cairan tubuh manusia (droplet, sputum, liur)
Tabel 2. Bahaya – Bahaya Potensial di Rumah Sakit

Standar pelayanan kesehatan kerja di rumah sakit (K3RS) yaitu bahwasannya


setiap rumah sakit wajib melaksanakan pelayanan kesehatan kerja seperti tercantum
pada pasal 23 dalam UU Kesehatan No. 23 tahun 1992 dan Peraturan Menteri Tenaga
Kerja dan Transmigrasi RI No. 03/men/1982 tentang pelayanan kesehatan kerja.
Adapun bentuk pelayanan kesehatan kerja yang dilakukan di RS Pku Muhammadiyah
Delanggu, sebagai berikut :
1. Melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum kerja bagi pekerja :
a) Pemeriksaan fisik
b) Pemeriksaan penunjang dasar (foto thorax, laboratorium rutin, EKG)
c) Pemeriksaan khusus sesuai dengan jenis pekerjaannya
2. Melaksanakan pendidikan dan penyuluhan / pelatihan tentang kesehatan kerja dan
memberikan bantuan kepada pekerja di Rumah Sakit dalam penyesuaian diri baik
fisik maupun mental terhadap pekerjanya, antara lain :
a) Informasi umum Rumah Sakit dan fasilitas atau sarana yang terkait dengan K3
b) Informasi tentang resiko dan ahaya khusus di tempat kerjanya
c) SOP kerja, SOP peralatan, SOP penggunaan alat pelindung diri dan kewajibannya
d) Orientasi K3 di tempat kerja
e) Melaksanakan pendidikan, pelatihan ataupun promosi / penyuluhan kesehatan
kerja secara berkala dan berkesinambunan sesuai kebutuhan dalam rangka
menciptakan budaya K3
3. Melakukan pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus sesuai dengan pejanan di
Rumah Sakit :
a) Setiap pekerja Rumah Sakit wajib mendapat pemeriksaan berkala minimal
setahun sekali
b) Sednagkan untuk pemeriksaan khusus disesuaikan dengan jenis dan besar pejanan
serta umur dari pekerja tersebut
c) Adapun jenis pemeriksaan khusus yang perlu dilakukan antara lain sebagai
berikut :
- Pemeriksaan audiometri untuk pekerja yang terpajan bising seperti pekerja
IPSR, operator telepon, dan lain – lain.
- Pemeriksaan gambaran darah tepi untuk pekerja radiologi
- Melakukan upaya preventif (vaksinasi Hepatitis B pada pekerja yang
terpajan produk tubuh manusia)
- Pemeriksaan HbSAG dan HIV untuk pekerja yang berhubungan dengan
darah dan produk tubuh manusia (dokter, dokter gigi, perawat,
laboratorium, petugas kesling, dan lain – lain)
- Pemeriksaan fungsi paru untuk pekerja yang terpajan debu seperti
incenerator.
4. Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental (rohani) dan kemampuan fisik
pekerja :
a) Pemberian makanan tambahan dengan gizi yang mencukupi untuk pekerja dinas
malam, petugas radiologi, petugas lab, petugas kesling, dan lain – lain.
b) Olahraga, senam kesehatan, dan rekreasi
c) Pembinaan mental / rohani
5. Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi pekerja yang
menderita sakit :
a) Memberikan pengobatan dasar secara gratis kepada seluruh pekerja
b) Memberikan pengobatan dan menanggung biaya pengobatan untuk pekerja yang
terkena Penyakit Akibat Kerja (PAK)
c) Menindaklanjuti hasil pemeriksaan kesehatan berkala dan pemeriksaan kesehatan
khusus
d) Melakukan upaya rehabilitasi sesuai penyakit terkait
6. Melakukan pemeriksaan kesehatan khusus pada pekerja Rumah Sakit yang akan
pensiun atau pindah kerja :
a) Pemeriksaan kesehatan fisik
b) Pemeriksaan laboratorium lengkap, EKG, Paru (foto thorax dan fungsi paru)
7. Melakukan koordinasi dengan tim anitia Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
mengenai penularan infeksi terhadao pekerja dan pasien :
a) Pertemuan koordinasi
b) Pembahasan kasus
c) Penanggulangan kejadian infeksi nosokomial
8. Melaksanakan kegiatan surveilans kesehatan kerja :
a) Melakukan mapping tempat kerja untuk mengidentifikasi jenis bahaya dan
besarnya resiko
b) Melakukan identifikasi ekerja berdasarkan jenis pekerjaannya, lama pajanan, dan
dosis pajanan
c) Melakukan analisa hasil pemeriksaan kesehatan berkala dan khusus
d) Melakukan tindak lanjut analisa pemeriksaan kesehatan berkala dan khusus
(dirujuk ke spesialis terkait, rotasi kerja, merekomendasikan pemberian istirahat
kerja)
e) Melakukan pemantauan perkembangan kesehatan pekerja
9. Melaksanakan pemantauan lingkungan kerja dan ergonomi yang berkaitan dengan
kesehatan kerja (pemantauan/pengukuran terhadap faktor fisik, kimia, biologi,
psikososial, dan ergonomi)
10. Membuat evaluasi, pencatatan, dan pelaporan kegiatan kesehatan kerja yang
disampaikan kepada Direktur Rumah Sakit dan Unit Teknis terkait di wilayah kerja
Rumah Sakit :
a) Data seluruh pekerja rumah sakit
b) Data pekerja rumah sakit yang sakit yang dilayani
c) Data pekerja luar rumah sakit yang sakit yang dilayani
d) Cakupan MCU bagi pekerja di rumah sakit
e) Angka absensi pekerja rumah sakit karena sakit
f) Kasus penyakit umum di kalangan pekerja rumah sakit
g) Kasus penyakit umum di kalangan pekerja luar rumah sakit
h) Jenis penyakit yang terbanyak di kalangan pekerja rumah sakit
i) Jenis penyakit yang terbnayak di kalangan pekerja luar rumah sakit
j) Kasus penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan (pekerja Rumah Sakit)
k) Kasus penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan (pekerja luar rumah sakit)
l) Kasus kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjan (pekerja rumah sakit)
m) Kasus kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjan (pekerja luar rumah sakit)

PENGOLAHAN LIMBAH
1. LIMBAH CAIR
Dalam penanganan air limbah dari kegiatan operasional, terdapat dua jenis air
limbah yaitu air limbah domestik karyawan dan pengunjung pasien, serta air limbah
dari aktifitas medis dan non medis rumah sakit. Untuk pengelolaan air limbah, maka
RSU PKU Muhammadiyah Delanggu membangun IPAL dengan proses biofilter

anaerob-aerob. Pengolahan air limbah dengan proses biofilter anaerob-aerob

adalah proses pengolahan air limbah dengan cara menggabungkan proses biofilter
anaerob dengan proses biofilter aerob. Dengan menggunakan proses biofilter
anaerob maka polutan organik yang ada di dalam air limbah akan terurai menjadi gas
karbon dioksida (CO2) dan methan tanpa menggunakan energi (blower udara), tetapi
amoniak dan gas hidrogen sulfida (H2S) tidak hilang. Agar supaya hasil air olahan
dapat memenuhi baku mutu maka air hasil olahan dari proses biofilter anaerob
selanjutnya diproses menggunakan biofilter aerob. Dengan proses biofilter aerob
polutan organik yang masih tersisa akan terurai menjadi gas karbon dioksida (CO2)
dan air (H2O), amoniak akan teroksidasi menjadi nitrit selanjutnya akan menjadi
nitrat, sedangkan gas H2S akan diubah menjadi sulfat.

IPAL proses biofilter anaerob-aerob melalui tahapan proses sebagai berikut:

1) Air limbah masuk ke dalam bak pemisah lemak, bak pemisah lemak berfungsi
agar pemisahan lemak dapat lebih sempurna sehingga air limbah masuk ke IPAL
sudah bersih dari lemak dan minyak.
2) Pengaliran air limbah dari bak pemisah lemak ke dalam bak pengendap awal (bak
ekualisasi), yang fungsinya mengendapkan partikel lumpur, pasir dan kotoran
organik tersuspensi. Selain berfungsi mengendapkan, bak ini juga berfungsi
sebagai bak pengurai senyawa organik yang berbentuk padatan, pengurai lumpur
(sludge digestion) dan penampung lumpur.
3) Selanjutnya, air limpasan dari bak pengendap dialirkan ke bak anaerob (biofilter
anaerob), yang diisi dengan media bahan plastik tipe sarang tawon. Didalam bak
ini, zat-zat organik yang ada di dalam air limbah diuraikan oleh bakteri anaerobik.
4) Setelah itu, limpasan air limbah dari bak anaerob dialirkan ke bak aerob atau
biofilter yang juga telah diisi dengan media bahan plastik tipe sarang tawon. Pada
bak ini, limbah akan diaerasi dengan mengalirkan oksigen ke dalam bak, agar
mikroorganisme yang ada dapat bekerja menguraikan zat organik yang ada dalam
air limbah.
5) Selanjutnya air dialirkan ke bak pengendap akhir, dimana lumpur aktif yang
mengandung mikroorganisme diendapkan dan dipompa kembali kebagian inlet
bak aerasi dengan pompa sirkulasi lumpur, sedangkan air limpasan (over flow)
dialirkan ke bak klorinasi, untuk membunuh mikroorganisme patogen.

2. LIMBAH PADAT

Dalam pengolahan limbah padat, terdapat dua jenis limbah padat yaitu limbah
domestik dan limbah medis. Untuk pengolahan limbah domestik, RSU PKU
Muhammadiyah Delanggu bekerjasama dengan Dinas terkait yang diambil setiap
seminggu sekali. Sedangkan untuk limbah medis, yang termasuk diantaranya limbah
infeksius dan non-infeksius, RSU PKU Muhammadiyah Delanggu belum bisa
mengolah sendiri dan bekerjasama dengan pihak swasta yaitu PT. SPJ. Pengambilan
limbah medis dilakukan setiap tiga hari sekali yang sudah di tampung dalam ruangan
khusus.