Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.1 Hasil

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di poli gigi Puskesmas Baki Sukoharjo pada
bulan Agustus 2019, didapatkan 38 pasien yang terdiagnosa memiliki penyakit pulpa.

Tabel 2. Distribusi penyakit pada poli gigi Puskesmas Baki Sukoharjo


Jenis penyakit Jumlah pasien Persentase (%)
Penyakit pulpa 48 27%
Karies 27 15,18%
Persistensi 34 19,1%
periodontal 44 24,7%
Abses 23 12,9%
Fraktur dentoalveolar 2 1,12%
total 178 100%

Berdasarkan tabel 2, didapatkan penyakit yang sering dikeluhkan oleh pasien yaitu
penyakit pulpa dengan jumlah kasus 38 dan persentase 28,6%. Sedangkan terbanyak kedua
yaitu periodontal dengan jumlah kasus 32 dan persentase 24,1%. Diikuti persistensi pada
anak sebanyak 25 (18,8%), abses dengan jumlah kasus 20 (15%), karies sebanyak 12 (12,6%)
dan fraktur dentoalveolar sebanyak 2 (1,5%).

Selanjutnya, dari 38 kasus penyakit pulpa, dibuat distribusi penyakit pulpa


berdasarkan karakteristik pasien.

Tabel 3. Distribusi penyakit pulpa berdasarkan karakteristik pasien


Variabel Jumlah Persentasi (%)
Jenis kelamin
Pria 15 37,5%
wanita 25 62,5%
Umur
21-42 32 80%
43-65 8 20%
Jaminan kesehatan
Jaminan kesehatan 22 73,6%
Non Jaminan Kesehatan 18 26,4%
Jarak ke Puskesmas
Jauh (>3km) 23 57,5%
Dekat (<3km) 17 42,5%

Hasil penelitian di Puskesmas Baki menunjukkan hasil (tabel 2) dengan persentase


jenis kelamin wanita yang mengalami penyakit pulpa sebesar 42,2% sedangkan jenis kelamin
pria yang mengalami penyakit pulpa sebesar 57,8%. Sedangkan pada variabel umur
didapatkan 25 pasien berada pada rentang umur 21-42 tahun dan 13 pasien berada pada
rentang umur 43-65 tahun. Selanjutnya, pasien yang berobat pada poli gigi dengan
menggunakan jaminan kesehatan sebanyak 28 orang, sedangkan yang tidak memiliki jaminan
kesehatan sebanyak 10 orang. Pada variabel jarak dibagi menjadi 2 kategori yaitu yang
memiliki jarak dari tempat tinggal ke puskesmas >5km masuk kategori jauh sebanyak 25
orang, sedangkan yang memiliki jarak dari tempat tinggal ke puskesmas <5km masuk
kategori dekat sebanyak 13 orang.

Tabel 3. Distribusi penyakit pulpa berdasarkan klasifikasi di Puskesmas Baki Sukoharjo.


Klasifikasi Jumlah Persentasi (%)
Reversible pulpitis 5 13,1%
Acute irreversible pulpitis 9 31,6%
Chronic irreversible pulpitis 3 7,9%
Necrosis pulpa 23 47,4%
TOTAL 40 100%

Berdasarkan tabel 3 didapatkan penyakit yang paling banyak ditemukan adalah


necrosis pulpa sebanyak 18 (47,4%), lalu acute irreversible pulpitis sebanyak 12 (31,6%),
reversible pulpitis sebanyak 5 (13,1%), dan yang terakhir chronic irreversible pulpitis
sebanyak 3 (7,9%).

1.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di poli gigi Puskesmas Baki Sukoharjo
selama bulan Agustus didapatkan pada tabel 1, penyakit yang sering dikeluhkan oleh pasien
yaitu penyakit pulpa dengan jumlah kasus 38 dan persentase 28,6%. Prevalensi penyakit
pulpa pada Puskesmas Baki cukup tinggi. Hal tersebut disebabkan karena pada umumnya
masyarakat mengabaikan karies yang belum menimbulkan keluhan. Padahal ketika sudah
menimbulkan keluhan, biasanya proses karies sudah berlanjut. Jika karies terus berlanjut dan
tidak tertangani dapat menyebabkan terjadinya nekrosis pulpa (Setyowati, 2010).

Selanjutnya, dari 38 kasus penyakit pulpa, dibuat distribusi penyakit pulpa


berdasarkan karakteristik pasien. Didapatkan pada tabel 2 bahwa persentase jenis kelamin
wanita yang mengalami penyakit pulpa sebesar 57,8% sedangkan jenis kelamin pria yang
mengalami penyakit pulpa sebesar 42,2%. Hal ini disebabkan oleh gigi perempuan erupsi
pada usia lebih dini. Erupsi dini sangat berpengaruh pada kerentanan gigi terhadap karies.
Faktor pengunyahan dan kebersihan masing-masing gigi juga dapat mempengaruhi karies
pada perempuan dan laki-laki (Sharfer, 2012).

Pasien berusia 21-42 tahun mengalami penyakit pulpa sebanyak 25 dengan


persentase 65,7% dibandingkan pasien berusia 43-65 tahun sebanyak 13 dengan persentasi
34,3%. Menurut tarigan (2014) periode pubertas (remaja) terjadi perubahan hormonal yang
dapat menimbulkan pembengkakan gusi, sehinga kebersihan mulut menjadi kurang terjaga.
Hal ini menyebabkan persentase penyakit pulpa lebih tinggi. Sedangkan pada usia antara 40-
50 tahun, sisa-sisa makanan sering lebih sulit dibersihkan karena sudah terjadi penurunan
gusi dan lebih cenderung mengalami kehilangan gigi (Tarigan, 2014).

Selanjutnya, pasien yang berobat pada poli gigi dengan menggunakan jaminan
kesehatan sebanyak 28 orang, sedangkan yang tidak memiliki jaminan kesehatan sebanyak 10
orang. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat wilayah Sukoharjo sudah sadar akan
pentingnya jaminan kesehatan.

Kecenderungan kejadian penyakit pulpa jauh lebih tinggi pada pasien dengan jarak
antara tempat tinggal ke Puskesmas >5km atau masuk kategori jauh sebesar 65,7%,
sedangkan jarak dekat atau jarak <5km sebesar 34,3%. Terdapat hubungan yang bermakna
antara faktor jarak dan waktu tempuh ke Puskesmas terhadap kesehatan gigi masyarakat yaitu
semakin dekat jarak dan waktu tempuh semakin besar persentase kesehatan gigi
masyarakatnya. Dan begitu pula sebaliknya, semakin jauh jarak dan waktu tempuh maka
semakin buruk kesehatan gigi masyarakatnya (Pratiwi, 2012).

Pada tabel 3 didapatkan bahwa penyakit pulpa paling banyak adalah necrosis pulpa
dengan prevalensi sebesar 47,4%. Banyaknya distribusi kasus necrosis pulpa dapat
dikarenakan rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan kesehatan gigi dan
mulut. Pasien rata-rata baru akan berobat ke dokter gigi apabila mengalami rasa sakit yang
sangat atau adanya rasa tidak nyaman seperti bau yang dapat disebabkan gangren pulpa.
Kemungkinan apabila hana sebatas sakit ringan seperti reversible pulpitis, pasien lebih
memilih merawat dan menyembuhkan diri sendiri sesuai dengan literatur yang dibuat oleh
Prof. Dr. Edgar Schafer. Perilaku ini menyebabkan tidak terawatnya kesehatan gigi dan pulpa
sehingga menyebabkan karies dapat terus menyebar ke dalam pulpa mengakibatkan
terjadinya necrosis pulpa apabila dibiarkan saja dalam waktu lama (Larasati, 2014).