Anda di halaman 1dari 24

GAGASAN KONSERVASI AIR TANAH DENGAN PENDEKATAN SOSIAL

MENGGUNAKAN TPB (TEORY PLANNED BEHAVIOUR) DI DKI JAKARTA

Zaina Khoerunnisa Nurul Fath1


95018020

1
Program Studi Rekayasa Pengelolaan Sumber Daya Air, Fakultas Teknik Sipil, Institut Teknologi Bandung
Jl. Ganesha No.10, Lb. Siliwangi, Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat 40132
*penuliskorespondensi: [nissa2617@gmail.com]

Abstrak – Seperti sudah kita ketahui bersama bahwa air tanah Jakarta menjadi tumpuan
harapan warga Jakarta dalam pemenuhan kebutuhan air bersih. Sehingga terjadi ekstrasi air
tanah secara besar – besaran dan hampir tidak ada kendali. Akibat dari ekstrasi air tanah yang
besar ini, sistem air tanah menanggung beban yang sangat berat. Dampak dari ekstrasi air tanah
ini pada muka air tanah Jakarta adalah penurunan muka tanah 5 – 12 cm pertahun. Oleh karena
itu, penggunaan air tanah perlu dikendalikan agar tidak melebihi potensi ketersediaannya
sehingga dapat dihindari dampak negatif yang dapat terjadi, baik terhadap kondisi air tanah
yang mencakup kuantitas dan kualitasnya, serta kondisi lingkungan di sekitar keberadaan air
tanah itu sendiri. Maka dari itu, perlu gagasan konsep baik secara teknis maupun nonteknis
untuk membantu masyarakat dan pemerintah melakukan pengelolaan air tanah dengan baik.
Salah satu cara nonteknis yang dapat dilakukan adalah dengan pendekatan sosial kepada
masyarakat. Pendekatan sosial ini dipilih karena manusia adalah makhluk bebas yang dapat
melakukan berbagai hal sesuai keinginannya sendiri. Hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk
menggiring dan membentuk karakter manusia yang lebih berintegritas, yang mampu disiplin
dan peka terhadap lingkungan.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Air tanah merupakan sumber daya alam yang hingga saat ini memegang peranan penting dalam
menunjang kegiatan pengembangan di berbagai sektor pembangunan, karena sumber daya itu
menjadi andalan sebagai sumber pasokan air bersih untuk air minum dan kebutuhan pokok
rumah tangga baik di wilayah pedesaan ataupun perkotaan, suplesi air irigasi untuk pertanian
rakyat, perkebunan, pariwisata, industri, dan lain sebagainya.
Seperti sudah kita ketahui bersama bahwa air tanah Jakarta menjadi tumpuan harapan warga
Jakarta dalam pemenuhan kebutuhan air bersih. Hal ini dimungkinkan karena sistem penyedian
air bersih sudah tidak menjangkau semua warganya, diperkirakan hanya 38% warga Jakarta
yang dapat menikmatinya, sehingga pilihan sumber lain yang dapat diharapkan adalah air
tanah, karena air sungai yang mengalir ke Jakarta juga tidak layak untuk dimanfaatkan karena
permasalahan kualitas yang sangat buruk.
Jakarta merupakan Kota Besar yang terdapat berbagai jenis kegiatan penghidupan, di mulai
dari Perhotelan, Industri, hingga rumah tangga. Dan sebagian besar kegiatan tersebut
memanfaatkan air tanah sebagai sumber air bersihnya, sehingga terjadi ekstrasi air tanah secara
besar – besaran dan hampir tidak ada kendali. Akibat dari ekstrasi air tanah yang besar ini,
sistem air tanah menanggung beban yang sangat berat. Aliran imbuhan air tanah yang
seharusnya didapat dari area resapan yang berasal dari selatan Jakarta maupun yang berasal
dari resapan lokal tidak dapat mengimbangi tingkat pengambilan air tanah yang sangat tinggi.
Dengan terjadinya insiden seperti di atas, pemanfaatan air tanah terancam tidak dapat
dipertahankan keberlanjutannya, karena kemampuan sistem untuk memenuhi kebutuhan
warganya semakin menurun dan kemampuan sistem untuk memperoleh kesimbangan dirinya
juga tidak tercapai.
Oleh karena itu, penggunaan air tanah perlu dikendalikan agar tidak melebihi potensi
ketersediaannya sehingga dapat dihindari dampak negatif yang dapat terjadi, baik terhadap
kondisi air tanah yang mencakup kuantitas dan kualitasnya, serta kondisi lingkungan di sekitar
keberadaan air tanah itu sendiri. Dampak negatif yang terjadi karena penggunaan air tanah yang
demikian itu berupa serangkaian kejadian yang secara berurutan meliputi penurunan muka air
tanah secara menerus, penurunan kualitas air tanah, pencemaran air tanah, dan kerusakan
lingkungan di sekitar pusat pengambilan air tanah berupa amblesan tanah (land subsidence).
Karenanya, Pemerintah telah mengeluarkan beberapa Undang – Undang, Peraturan
Pemerintah, Peraturan Menteri, hingga Peraturan Gubernur terkait pengelolaan air tanah.
Termasuk di dalam pengelolaan tersebut adalah konservasi air tanah. Dalam pelaksanaannya,
kegiatan pengelolaan ini diserahkan ke daerah masing – masing daerah kecuali yang memang
menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Namun, peraturan dan kebijakan yang ada dirasa
kurang mampu mewujudkan pengelolaan air tanah yang baik, khususnya konservasi air tanah.
Maka dari itu, perlu gagasan konsep baik secara teknis maupun nonteknis untuk membantu
masyarakat dan pemerintah melakukan pengelolaan air tanah dengan baik. Salah satu cara
nonteknis yang dapat dilakukan adalah dengan pendekatan sosial kepada masyarakat.
Pendekatan sosial ini dipilih karena manusia adalah makhluk bebas yang dapat melakukan
berbagai hal sesuai keinginannya sendiri. Hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk menggiring
dan membentuk karakter manusia yang lebih berintegritas, yang mampu disiplin dan peka
terhadap lingkungan.
Tujuan
Tujuan dari pembuatan paper ini ialah mengkaji dan membuat gagasan yang dapat dijadikan
acuan dalam pengelolaan sumber daya air terkait dengan permasalahan air tanah di Jakarta
secara sosial. Selanjutnya merencanakan dan membuat masterplan dalam 25 tahun kedepan
untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Ruang Lingkup
Paper ini mencakup analisis program dan kebijakan yang sudah ada dan membuat gagasan
dapat diterima dan dilakukan masyarakat melalui pendekatan sosial.

METODOLOGI
Metodologi
Dalam melakukan penyusunan laporan tugas besar ini, digunakan metodologi sebagai berikut:
1. Studi Literatur
Mengumpulkan data atau informasi mengenai penelitian dan permasalahan sistem air tanah
di DKI Jakarta.
2. Mengumpulkan Data Sekunder
Mengumpulkan data atau informasi mengenai program dan kebijakan pemerintah pusat
maupun pemerintah daerah DKI Jakarta mengenai sistem air tanah.

GAMBARAN UMUM LOKASI


Keadaan Geografis
Provinsi Jakarta adalah ibu kota Negara Indonesia dan merupakan salah satu Provinsi di Pulau
Jawa. Secara geografis, Provinsi DKI Jakarta terletak antara 6o 12’ Lintang Selatan dan
106o48’ Bujur Timur. Dengan batas – batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Laut Jawa
Sebeiah Timur : Provinsi Jawa Barat
Sebelah Selatan : Kota Depok
Sebelah Barat : Provinsi Banten
Luas wilayah DKI Jakarta menurut SK Gubernur Nomor 171 tahun 2007 adalah sebesar 662,33
km2 untuk daratan dan 6.977,5 km2 untuk lautan termasuk wilayah daratan Kepulauan Seribu
yang tersebar di teluk Jakarta. Sedangkan secara administratif, wilayah administratif Provinsi
DKI Jakarta terbagi menjadi lima wilayah kota administratif dan satu kabupaten administratif
yaitu Kota administratif Jakarta Selatan, Kota administratif Jakarta Timur, Kota administratif
Jakarta Pusat, Kota administratif Jakarta Barat, Kota administratif Jakarta Utara dan Kabupaten
administratif Kepulauan Seribu. Daerah dengan wilayah terluas adalah Kota Jakarta Timur
dengan luas wilayah 188,03 km2. Sedangkan daerah dengan luas tersempit adalah Kabupaten
Kepulauan Seribu sebesar 8,7 km2 (BPS,Jakarta dalam angka 2010).

Gambar 1. Peta DKI Jakarta

Jumlah penduduk di DKI Jakarta selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Berdasarkan Sensus Penduduk lima tahunan, jumlah penduduk Provinsi Jakarta tahun 2000,
2005 dan 2010 secara berurut adalah 8.361.000 jiwa, 8.860.000 jiwa dan 9.588.200 jiwa.
Adapun untuk kepadatan penduduk per kilometer persegi Provinsi DKI Jakarta tahun 2000
sebesar 12.592 km2, 13.344 km2 tahun 2005 dan 14.440 km2 untuk tahun 2010 (BPS, Statistik
Indonesia 2010).
Dari data yang telah ditunjukkan, Provinsi DKI Jakarta setiap tahunnya mengalami kepadatan
penduduk. Berdasarkan data BPS Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2010 pada Tabel 1, dapat
dilihat bahwa penduduk di DKI Jakarta umumnya memadati wilayah Jakarta Pusat, Jakarta
Barat dan Jakarta Selatan dengan kepadatan penduduk secara berurutan adalah 18.745 km2,
17.147 km2 dan 15.287 km2.

Tabel 1. Luas Wilayah, Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota


Administratif 2009

Luas Penduduk Kepadatan Penduduk


No. Kabupaten/Kota
(m2) (orang) (km2)
1 Jakarta Selatan 141,27 2.159.638 15.287
2 Jakarta Timur 188,03 2.448.653 13.023
3 Jakarta Pusat 48,13 902.216 18.745
4 Jakarta Barat 129,54 2.221.243 17.147
5 Jakarta Utara 146,66 1.471.663 10.035
6 Kepulauan Seribu 8,7 19.587 2.251
Jumlah 662,33 9.223.000 13.925
Sumber: BPS, 2010

Pemimpin
Pada saat ini DKI Jakarta di pimpin oleh Gubernur Anies Baswedan dan Wakil Gubernur saat
ini kosong karena pengunduran diri Sandiaga Uno. Jabatan Ketua DPRD diduduki oleh
Prasetyo Edi Marsudi, dan sekretaris daerah (Sekda) diisi oleh Saefullah.

Kondisi Klimatologi
Jakarta beriklim tropis sebagaimana di Indonesia pada umumnya, dengan karakteristik musim
penghujan rata – rata pada bulan Oktober hingga Maret dan musim kemarau pada bulan April
hingga September. Cuaca di kawasan Jakarta dipengaruhi oleh angin laut dan darat yang
bertiup secara bergantian antara siang dan malam. Suhu udara harianrata-rata di daerah pantai
umumnya relatif tidak berubah, baik pada siang maupun malam hari. Suhu harian rata – rata
berkisar antara 26 – 28° C. Perbedaan suhu antara musim hujan dan musim kemarau relatif
kecil. Hal tersebut dapat dipahami oleh karenaperubahan suhu udara di kawasan Jakarta seperti
halnya wilayah lainnya di Indonesia tidak dipengaruhi oleh musim, melainkan oleh perbedaan
ketinggian wilayah.

Kondisi Topografi
Wilayah Jakarta merupakan dataran rendah yang sebagian besar terdiri dari lapisan batu
endapan zaman Pleitosen yang batas lapisan atasnya berada 50 meter di bawah permukaan
tanah. Bagian selatan merupakan bagian aleuvial Bogor yang terdiri atas lapisan alluvial,
sedangkan dataran rendah pantai merentang ke bagian pedalaman sekitar 10 km dan di
bawahnya terdapat lapisan endapan yang lebih tua yang tidak tampak pada permukaan tanah
karena seluruhnya merupakan endapan alluvium. Di bawah bagian utara, permukaan keras baru
terdapat pada kedalaman 10–25 m, makin ke selatan permukaan keras semakin dangkal pada
kedalaman 8–15 m, pada bagian kota tertentu, lapisan permukaan tanah yang keras terdapat
pada kedalaman 40m.

Kondisi Hidrogeologis Sistem Air Tanah Jakarta


Geologi permukaan daerah Jakarta dan sekitarnya dibagi menjadi 6 sistem, yaitu :
1. Formasi Jatiluhur
Formasi Jatiluhur (Miosen) dapat dilihat di pegunungan sebelah tenggara cekungan Jakarta,
litologi formasi ini tersusun oleh batu lempung berlapis, pasir kuarsa, dan napal. Formasi
ini mengalami pemadatan sehingga bersifat sebagai batuan dasar yang impermeabel.

2. Formasi Bojongmanik
Formasi Bojongmanik mempunyai tiga anggota - angota yang paling bawak susunan utama
adalah batu gamping dengan selang-seling antara lempung dan pasir. Batuan umumnya
keras dengan permeabilitas rendah, tetapi mengandung retakan dan lubang hasil pelarutan
(solusi). Anggota kedua terdiri dari lempung, batu pasir kuarsa, batu tuf dengan kandungan
fosil muluska. Batuan ini bersifat impermeabel. Anggota ke tiga terdiri dari batu pasir, yang
mengandung lempung, batu pasir tuf kasar, dengan selang seling batu gamping. Batuan ini
umumnya mempunyai permeabilitas rendah.

3. Formasi Genteng
Formasi Genteng (Pliosen). Letaknya di daerah Tangerang, sekaligus merupakan bagian
dasar sungai Cisadane. Bagian atas formasi ini membentuk akuifer di daerah Tangerang.
Formasi ini tersusun oleh batu pasir kasar tufaan, lempung, gabungan fragmen pumis.

4. Formasi Vulkanik Tua


Formasi Vulkanik Tua, Fornasi ini terbagi kedalam 4 anggota yaitu Breksi lahar (Vb),
Aliran Lava Vulkanik Tua (VE), batuan Vulkanik Tua Terpropilitisasi (Vp) dan Vulkanik
Tua yang sulit dibedakan (Vu). Penyebaran formasi ini sangat luas di daerah selatan,
pegunungan barat dan timur. Sifat batuan permeabilitas tinggi sampai rendah.
5. Formasi Vulkanik Muda
Formasi Vulkanik muda, formasi ini dikelompokkan menjadi vulkanik muda (V1), batuan
vulkanik mengandung pumis (Va) dan batuan vulkanik muda (V), Batuan yang paling atas
(V) terdistribusi luas dan terdiri dari lempung tufaan, pasir, konglomerat, endapan lahar,
lapuk. Lapisan ini mempunyai permeabilitas tinggi dan membentuk akuifer tak tertekan.

6. Sedimen Aluvial.
Sedimen aluvial di Jakarta dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu: aluvium sungai daerah pantai (As),
pematang pantai (Ap) dan aluvium (Al). Aluvium sungai daerah pantai (As) merupakan
endapan sungai tua (purba) yang tersebar sepanjang pantai.

Menurut Soekardi (1982) satuan hidrogeologi Jakarta dibagi menjadi 2 lapisan yaitu akuifer
tak tertekan dan tertekan. Lapisan akuifer tak tertekan memiliki kedalaman sampai 60 m.
Lapisan ini dikelompokkan kedalam unit stratigrafi I. Lapisan ini disusun oleh litologi yang
terdidi dari lempung, lempung berpasir, lempung pasir tufaan, pasir berlempung, pasir dan
gravel.
Lapisan akuifer tertekan dikelompok kan menjadi 3 (tiga) grup. Pada grup I (A, B) terdiri dari
lapisan akuitard I, Artetis, Akuifer artetis I dan Akuitard II. Lapisan akuifer pada grup I ini
meliputi 4 (empat) satuan stratigrafi yaitu Unit II, III, IV dan V. Lapisan akuifer grup I unit II
dan III ini mempunyai Litologi yang terdiri dari Lempung keras, lempung berpasir, pasir,
grafel batu pasir, dan konglomerat. Unit IV dan V mempunyai litologi lempung, lempung
berpasir, pasir kuarsa dan lempung keras. Lapisan akuifer grup I ini diapit oleh dua buah lapisan
semi permeabel mempunyai kedalaman sampai 150 m.
Lapisan akuifer grup II C merupakan lapisan akuifer artetis II, lapisan ini termasuk dalam unit
stratigrafi VI dan VII, dengan litologi terdiri dari: lempung berpasir, pasir berlempung dengan
pasir kuarsa, pasir kuarsa gravel, lempung dan lempung berpasir. Lapisan akuifer grup II C ini
juga diapit oleh lapisan semi permeabel dengan kedalaman sampai 250 m. Lapisan akuifer grup
III D terdiri dari lapisan Akuitard III dan akuifer artetis III.
Lapisan grup III D ini termasuk dalam untit stratigrafi VIII dan IX dengan litologi yang terdiri
dari lempung berpasir, lempung gravel, utamanya lempung, lempung pasir dengan korelasi
dengan lapisan pasir. Sedimen ini mengandung konglomerat dengan sortasi bagus. Komposisi
batuan terdiri dari batuan andesitik dan basaltik. Ini merupakan daerah akuifer tak tertekan
yang bagus. Ap merupakan endapan pasir lepas, dengan ukuran halus, mengandung cangkang
fosil. Ini termasuk akuifer tak tertekan yang permeabel dan mempunyai muka air tanah rendah.
Al merupakan endapan resen, dibedakan menjadi 3 jenis yaitu alluvial pantai, aluvial sungai
dan llembah aluvial. Sedimen ini terdiri dari lempung, pasir, gravel dan boulder andesit atau
basalt, sifat permeabilitasnya tinggi. Sedimen aluvial lembah juga mempunyai permeabilitas
tinggi.

Kondisi Penggunaan Air Tanah Jakarta


Menurut Schmidt dan Haryadi (1985), pada 1918 ketika masa awal pemanfaatan air tanah di
Jakarta, jumlah pengambilan air tanah (Qabs) yang berasal dari sistem akuifer kedalaman 0 –
60 m, 60 – 100 m, 100 – 150 m, 150 – 200 m, 200 – 250 m, dan 250 – 300 m tercatat sekitar
3,42 juta m3/tahun. Pengambilan air tanah berkembang secara intensif sejak 1968 dengan 10,3
juta m3 volume air tanah per tahun diambil dari sistem akuifer produktif melalui 325 sumur bor
yang terdaftar. Volume pengambilan air tanah maksimum sekitar 33,8 juta m3 terjadi pada 1994
yang dipompa melalui 3.018 sumur produksi. Terjadi penurunan pengambilan air tanah yang
cukup berarti dari 22,6 juta m3 per tahun pada 1997 hingga 16,4 juta m3 per tahun pada 1999.
Hal ini mungkin disebabkan krisis ekonomi. Namun, pada periode setelah itu, pengambilan air
tanah terus meningkat setiap tahunnya hingga mencapai 23,6 juta m3 pada 2004. Data terakhir,
yakni 2012, menunjukkan volume pengambilan air tanah yang naik kembali menjadi sebedar
45,55 juta m3 yang diambil melalui sebanyak 1.887 sumur bor produksi.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diidentifikasi masalah – masalah sebagai berikut :
1. Meskipun akuifer basin Jakarta mempunyai karakteristik yang baik sebagai penyimpan air
tanah, perlu dikaji apakah secara kuantitatif neraca air tanah sudah menunjukkan besaran
yang seimbang antara ekstrasi dan imbuhannya.
2. Secara hidrolis karakteristik akuifer menentukan kecepatan aliran air tanah, sehingga dari
aspek ini dapat diperkirakan apakah kecepatan air tanah dapat menguimbangi kecepatan
pengambilan air tanah oleh penduduk.
3. Tindakan penanggulangan kekurangan air tanah tidak pernah berhasil mengatasi masalah
pokok. Ini dapat dilihat dari permasalahan yang terus berulang.

ANALISIS
Seperti diketahui bahwa sarana penyediaan air bersih untuk Jakarta tidak sepenuhnya dapat
diperoleh dari Perusahaan Air Minum (PAM), maka air tanah merupakan salah satu cara yang
paling praktis dipilih bagi warga Jakarta untuk memperoleh air bersih sebagai sumber air bersih
alternatif. Air baku yang dipergunakan untuk penyediaan air bersih yang dilayani oleh PDAM
berasala dari air permukaan. Namaun jangkauan pelayanan PDAM hanya mampu melayani
sebagian kota tertentu saja dengan persentasi sekitar 60% terlayani karena untuk mendapatkan
air bersih dari PDAM warga harus membayar setiap bulannya. Ini menyebabkan masyarakat
Jakarta harus mengandalkan air tanah sebagai alternatif utama pemenuhan kebutuhan air
bersihnya.
Keterbatasan penyediaan air permukaan ini juga memicu industri dalam usaha pemenuhan air
bersihnya mengandalkan air tanah. Untuk industri skala besar, air yang dibutuhkan tidak cukup
dipenuhi hanya dengan sumur dangkal saja, akan tetapi sudah merambah air tanah yang
semakin tidak terkendali. Ini menyebabkan penurunan muka air tanah dan juga penurunan
tinggi tekan yang ekstrim. Menurut Ditjen SDA, penurunan muka air tanah Jakarta mencapai
angka 5 – 12 cm per tahun, dan diperkirakan akan mencapai 120 cm pada 10 tahun yang akan
dating. Ini dapat memicu ketegangan sosial, karena secara langsung berdampak pada
penyediaan air bersih warga sekitarnya. Belum lagi penurunan muka tanah ini menyebabkan
potensi banjir Jakarta dan banjir rob di Jakarta Utara semakin parah. Selain itu penurunan tanah
ini dapat berdampak pada infrastruktur yang ada.
Dari segi fisik, secara geologis akuifer Jakarta mempunyai kemampuan yang baik dalam
menyimpan air tanah. Akan tetapi ini sifatnya hanya local, untuk secara keseluruhan,
kemampuan untuk mengalirkan air tanah hingga ke kewasan utara Jakarta sangat rendah.
Kecepatan aliran tanah yang diekspresikan dengan angka kelaluan hidrolis yang rendah, yakni
berkisar 0,00002 m/detik hingga 0,0001 m/detik, atau kurang lebih 2 m/hari. (Samsuhadi,
2009). Oleh karena itu banyak terjadi masalah penurunan muka air tanah.
Konsep pemecahan masalah air tanah yang utama adalah ditujukan untuk menaikkan muka air
tanah (dan tinggi tekan). Wacana pengisian buatan akan lebih tepat jika diterapkan untuk
mengisi air tanah tertekan, sedangkan untuk air tanah dangkal dapat mengandalkan resapan
dari air yang mengalir di permukaan tanah. Permasalahan ini dapat dilaksanakan dengan baik
jika dalam penyelesaiannya melibatkan Stakeholders yang lebih luas dan masyarakat sesuai
batasan fisik akuifer basin Jakarta.
Dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan diharapkan masyarakat diikutsertakan dalam
strategi pengelolaan di bidang sumber daya air. Adapun strategi pengelolaan yang dapat
ditempuh dalam rangka pengelolaan air tanah adalah sebagai berikut :
a. Mengoptimalkan upaya konservasi rehabilitasi dan penghematan sumberdaya air (baik air
permukaan maupun air tanah) melalui sosialisasi penghematan, meningkatkan kerjasama
antar unit dan instansi terkait dalam pengelolaan dan penegakan hokum.
b. Meningkatkan partisipasi dan akuntibilitas masyarakat, swasta, dan pemerintah dalam
mengatasi masalah air tanah (baik secara kualitatif maupun kuantitatif) dan
mengikutsertakan masyarakat dalam penegakan hukum dalam penanganan sumber
permasalahan.

Usaha yang dilakukan pemerintah sebenarnya sudah cukup banyak, dimulai dari program –
program untuk menanggulangi permasalahan ini. Program – program tersebut adalah sebagai
berikut :
a. Ruang Terbuka Hijau
Ruang terbuka hijau berfungi meningkatkan kualitas air tanah, mencegah banjir,
mengurangi polusi udara dan pengatur iklim mikro. Fungsi lainnya yaitu sosial-ekonomi
untuk memberikan fungsi sebagai ruang interaksi sosial, sarana rekreasi dan sebagai
tetenger (landmark) kota.

Gambar . Ruang Terbuka Hijau

b. Sumur Resapan
Sumur Resapan adalah sumur atau lubang pada permukaan tanah yang berfungsi untuk
menampung air yang terbuang ataupun air hujan dan meresapkannya ke dalam tanah.
Sumur resapan dapat membantu restorasi air tanah dan mengurangi limpasan air di
permukaan.
Gambar . Sumur Resapan Skala Rumah Tangga

c. Injeksi Air Tanah


Injeksi Air Tanah adalah aktivitas manusia yang direncanakan untuk memasukkan air, (air
hujan, air permukaan dari sungai dan danau, dan air lebihan limpasan (run off)) dengan cara
gravitasi maupun pompa.
 Artificial Aquifer Creation adalah pembuatan akuifer buatan di dalam lapisan aquifer
yang cukup dalam.
 Aquifer Recharge adalah injeksi air tanah untuk mengisi kembali wilayah aquifer yang
air tanahnya diambil secara berlebih.
 Aquifer Storage and Recovery adalah teknologi injeksi air ke akuifer untuk mentimpan
air sebagai kebutuhan baik jangka pendek maupun panjang.
Gambar . Injeksi Air Tanah

d. Pemanenan Air Hujan


Pemanenan air hujan atau Rainwater Harvesting merupakan metode atau teknologi yang
digunakan untuk mengumpulkan air hujan yang berasal dari atap bangunan, permukaan
tanah, jalan atau perbukitan batu dan dimanfaatkan sebagai salah satu sumber suplai air
bersih.
Gambar . Pemanenan Air Hujan

e. Air Perusahaan Air Minum (PAM)


Air PAM merupakan sumber air berbayar yang disediakan oleh perusahaan PAM. Air PAM
didistribusikan di Jakarta dengan cara menggunakan air dari sumber air perusahaan,
memfilternya, kemudian disalurkan ke bangunan yang berlangganan PAM.

f. Giant Sea Wall


Giant Sea Wall merupakan sebuah proyek terintegrasi membangun kawasan pesisir utara
Jakarta sebagai upaya pemerintah dalam menghadapi penurunan muka tanah khususnya di
Jakarta Utara yang menyebabkan sering terjadinya banjir rob (banjir air laut). Adapun tiga
komponen di dalamnya, yakni, pertahanan pesisir dari ancaman banjir, penyediaan sumber
air bersih, serta peluang investasi antara lain untuk properti transportasi darat, dan
pembangunan deep sea port.

Tidak cukup hanya dengan program – program yang dicanangkan oleh Pemerintah, jika
masyarakatnya tetap melakukan hal – hal yang semakin membahayakan kondisi Jakarta, perlu
adanya suatu kebijakan atau regulasi yang tegas dan wajib ditaati sebagai upaya mengatasi
penurunan permukaan tanah di DKI Jakarta. Undang – undang, Peraturan Pemerintah,
Keputusan Gubernur yang telah diberlakukan ialah sebagai berikut :
a. PP No. 65 Tahun 2001 tentang Pajak
PP No. 65 Tahun 2001 menerangkan tentang pajak penggunaan air tanah dan air permukaan
pada BAB V pasal 33 – 37. Pajak sebesar 20% untuk pengambilan air tanah dan 10% untuk
pengambilan air permukaan.
b. PP No. 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 28 Tahun 2002 Tentang
Bangunan dan Gedung
Pada penjelasan pasal 20 ayat 4 yang berbunyi “Penetapan KDB didasarkan pada luas
kaveling/persil, peruntukan atau fungsi lahan, dan daya dukung lingkungan.” Sedangkan
daya dukung lingkungan adalah kemampuan lingkungan untuk menampung kegiatan dan
segala akibat/dampak yang ditimbulkan yang ada di dalamnya, antara lain kemampuan
daya resapan air, ketersediaan air bersih, volume limbah yang ditimbulkan, dan
transportasi. Penetapan KDB dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan keandalan
bangunan gedung; keselamatan dalam hal bahaya kebakaran, banjir, air pasang, dan/atau
tsunami; kesehatan dalam hal sirkulasi udara, pencahayaan, dan sanitasi; kenyamanan
dalam hal pandangan, kebisingan, dan getaran;
kemudahan dalam hal aksesibilitas dan akses evakuasi; keserasian dalam hal perwujudan
wajah kota; ketinggian bahwa makin tinggi bangunan jarak bebasnya makin besar.
Penetapan KDB dimaksudkan pula untuk memenuhi persyaratan keamanan misalnya
pertimbangan keamanan pada daerah istana kepresidenan, sehingga ketinggian bangunan
gedung di sekitarnya tidak boleh melebihi ketinggian tertentu. Juga untuk pertimbangan
keselamatan penerbangan, sehingga untuk bangunan gedung yang dibangun di sekitar
pelabuhan udara tidak diperbolehkan melebihi ketinggian tertentu. Dalam hal pemilik tanah
memberikan sebagian area tanahnya untuk kepentingan umum, misalnya untuk taman atau
prasarana/sarana publik lainnya, maka pemilik bangunan dapat diberikan
kompensasi/insentif oleh pemerintah daerah. Kompensasi dapat berupa kelonggaran KLB
(bukan KDB), sedangkan insentif dapat berupa keringanan pajak atau retribusi.
c. PP No. 16 Tahun 2004 tentang Pengendalian Terhadap Penggunaan Lahan dan
Penatagunaan Tanah
d. UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
e. Peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 2008 tentang Air Tanah
PP No. 43 Tahun 2008 tentang Air Tanah di dalamnya membahas tentang rekomendasi
teknis izin pengelolaan dan pengusahaan air. PP No. 43 Tahun 2008 sebagai turunan dari
UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, hingga diterbitkan Putusan MK No.
85/PUU-11/2013 yang membatalkan UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
Dengan pembatalan itu, PP No. 43 Tahun 2008 tentang Air Tanah sebagai acuan untuk
menerbitkan peraturan Menteri tentang rektek dan perizinan air tanah secara otomatis tidak
berlaku. Pascaputusan MK itu, rancangan peraturan Menteri tentang rektek dan perizinan
air tanah saat ini sedang disusun dengan mengacu kepada UU No. 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah pada Lampiran CC Suburusan Geologi huruf b, serta PP No. 121
Tahun 2015 tentang Pengusahaan Sumber Daya Air Pasal 10 ayat (9), Pasal 33, Pasal 35
ayat (2), dan Pasal 48. Mengacu kepada PP No. 121 Tahun 2015 Pasal 1 huruf 12, rektek
adalah persyaratan teknis yang harus dipenuhi dalam pemberian izin. Mengadopsi
ketentuan pada Pasal 1 itu, rektek air tanah adalah persyaratan teknis yang harus dipenuhi
dalam pemberian izin di bidang air tanah.
f. Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 17 Tahun 2010 tentang Pajak Air Tanah
Peraturan daerah ini berisikan tentang objek dan subjek pajak, hingga tarif pajak yang
ditetapkan. Objek pajak adalah pengambilan dan/atau pemanfaatan air tanah kecuali
pengambilan air tanah oleh Pemerintah Daerah dan Pusat, pengambilan air tanah untuk
keperluan dasar rumah tangga, pengairan pertanian dan perikanan, serta peribadatan dan
juga pengambilan air tanah untuk pemadaman kebakaran. Tarif pajak ditetapkan sebesar
20% dari dasar pengenaan pajak. Dasar pengenaan pajak ditetapkan dari nilai perolehan air
tanah dengan mempertimbangkan jenis sumber air, lokasi sumber air, tujuan pemanfaatan,
volume air yang diambil, kualitas air dan tingkat kerusakan lingkungan. Ketentuan lebih
lanjut dijelaskan pada Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 38 Tahun 2017 tentang
Pemungutan Pajak Air Tanah.
g. Permen ESDM No. 15 Tahun 2012 tentang Penghematan Penggunaan Air Tanah
Permen ini berisi tentang kewajiban pelaporan untuk para pemegang izin pemakaian dan
pengusahaan air tanah dengan target akhir 10% dihitung dari rata – rata penggunaan air
tanah selama 6 bulan terakhir. Penghematan dapat dilakukan dengan cara – cara sebagai
berikut :
 Menggunakan air tanag secara efektif dan efisien untuk berbagai macam kebutuhan;
 Mengurangi penggunanaan air tanah;
 Menggunakan kembali air tanah;
 Mendaur ulang air tanah;
 Mengambil air tanah sesuai dengan kebutuhan;
 Menggunakan air tanah sebagai alternatif terakhir;
 Mengembangkan dan menerapkan teknologi hemat air;
 Memberikan insentif bagi pelaku penghematan air tanah; dan/atau
 Memberikan disensentif bagi pelaku pemborosan air.
h. Permen ESDM No. 24 Tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Konservasi
Air Tanah
Balai konservasi air tanah merupakan unit pelaksana teknis di lingkungan Badan Geologi
yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Pusat Sumber Daya
Air Tanah dan Geologi Lingkungan. Balai Konservasi Air Tanah mempunyai tugas
melaksanakan pemantauan kondisi air tanah dan penanggulangan dampak pengambilan air
tanah pada Cekungan Air Tanah Jakarta, serta pengembangan teknologi konservasi air
tanah. Balai Konservasi Air Tanah menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :
 Penyusunan rencana dan anggaran, serta pelaksanaan kerjasama dan pengelolaan
informasi;
 Pelaksanaan pemantauan kondisi air tanah;
 Pelaksanaan penanggulangan dampak pengambilan air tanah;
 Penyiapan bahan rekomendasi teknis pemanfaatan air tanah dan penanggulangan
dampak pengambilan air tanah;
 Pelaksanaan pengembangan teknologi konservasi air tanah;
 Pengelolaan sarana dan prasarana teknis;
 Pelaksanaan evaluasi konservasi air tanah; dan/atau
 Pelaksanaan ketatausahaan, kepegawaian, keuangan dan rumah tangga.
i. Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 20 Tahun 2013 tentang Sumur Resapan
Maksud dan tujuan disusunnya Peraturan Gubernur ini adalah dalam rangka
mengoptimalkan pembuatan sumur resapan di kalangan masyarakat dan pemerintah yang
bertujuan untuk menampung, menyimpan dan menambah cadangan air tanah serta dapat
mengurangi limpasan air hujan ke salura pembuangan dan badan air lainnya, sehingga
dapat mengurangi timbulnya genangan dan banjir dan sekaligus dapat dimanfaatkan pada
musim kemarau.
j. Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 279 Tahun 2018 tentang Tim Pengawasan
Terpadu Penyediaan Sumur Resapan dan Instalasi Pengolahan Air Limbah serta
Pemanfaatan Air Tanah Di Bangunan Gedung dan Perumahan
Keputusan Gubernur ini adalah pembentukan tim dalam pengawasan dari pelaksanaan
Peraturan Gubernur No. 20 Tahun 2013 tentang sumur resapan. Diharapkan dengan
pembentukan tim ini dapat merealisasikan pembuatan sumur resapan di DKI Jakarta untuk
konservasi air tanah dan mengurangi dampak dari eksploitasi air tanah yang sudah
berlangsung lama di DKI Jakarta.

Program dan kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah DKI Jakarta untuk
menyelesaikan permasalahan air tanah faktanya sudah sangat baik. Namun kenyataan di
lapangan permasalahan pemanfaatan air tanah ini sangat sulit dilaksanakan dan belum dapat
menimbulkan efek yang berkelanjutan. Sehingga diperlukan upaya lebih keras untuk
menyelesaikan permasalahan ini. Untuk menghasilkan solusi terbaik, perlu keterlibatan semua
pihak, tidak hanya pemerintah saja tapi juga masyarakat. Kerjasama antara pemerintah dan
masyarakat yang berkesinambungan antara program dan kebijakan pemerintah dan sikap
masyarakat akan menimbulkan efek perubahan yang luar biasa untuk masa depan. Maka, selain
kebijakan tadi, diperlukan adanya strategi yang dapat membuat masyarakat menjadi bagian
utama secara langsung menyelesaikan permasalahan ini dan mendukung program dan
kebijakan pemerintah. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan pendekatan secara
sosial.
Pendekatan sosial yang dilakukan dapat mengacu pada konsep TPB (Teory Planned
Behaviour). TPB (Teory Planned Behaviour) biasanya digunakan sebagai variabel intervening
untuk menjelaskan intention (niat) seseorang yang kemudian menjelaskan perilaku orang
tersebut. TPB (Theory of Planned Behavior) merupakan perluasan dari TRA (Theory of
Reasoned Action). Dalam TRA dijelaskan bahwa niat seseorang terhadap perilaku dibentuk
oleh dua faktor utama yaitu attitude toward the behavior dan subjective norms (Fishbein dan
Ajzen, 1975), sedangkan dalam TPB ditambahkan satu faktor lagi yaitu perceived behavioral
control (Ajzen, 1991).
Gambar 2. Teory Planned Behaviour (TPB)

Konsep ini dapat diterapkan untuk membentuk normative beliefs dengan tujuan merangsang
pikaran masyarakat untuk melakukan tindakan yang pro terhadap penyelesaian permasalahan
ini. Bahkan, diharapkan sedikit demi sedikit dapat merubah watak masyarakat menjadi manusia
yang lebih berintegritas dan lebih peduli lagi terhadap lingkungan sekitar. Memang untuk
mencapai tujuan ini diperlukan waktu yang tidak sedikit. Semua negara maju yang
masyarakatnya aware terhadap lingkungan sekitar, seperti Jepang, membutuhkan waktu
belasan bahkan puluhan tahun untuk membangun manusianya.
Untuk mendukung konsep tersebut dapat dibuat program yang dipegang langsung tanggung
jawabnya oleh Balai Konservasi Air Tanah. Konsep program yang dapat diterapkan adalah
membuat sebuah komunitas kecil, melatihnya, lalu menyebarkan konsep yang sudah diberikan.
Program ini dapat dilaksanakan dengan menggandeng kerjasama dengan program
pembangunan desa atau dengan membuat UPT (Unit Pelaksana Teknis) tersendiri sebagai
kepanjang tanganan pemerintah (Balai Konservasi Air Tanah). Tahapan konsep konservasi air
tanah secara jelasnya, diuraikan di bawah ini :
1. Kaderisasi
Dalam sebuah organisasi, kita mengenal dengan sebutan kaderisasi. Menurut KBBI,
kaderisasi berawal dari kata "kader" yang memiliki makna yaitu,"orang yang diharapkan
akan memegang peran yang penting dalam sebuah organisasi." Dengan demikian,
kaderisasi adalah suatu proses dalam membentuk kader – kader baru dalam sebuah
organisasi tersebut. Selain itu, kaderisasi juga menciptakan kader – kader yang mendukung
sesuai dengan yang diinginkan, bukan paksaan semata.
Pola kaderisasi berawal dari sebuah konsep. Konsep itu sendiri haruslah dibutuhkan
pendidikan dan ilmu pengetahuan, aktualisasi, serta kesejahteraan baik dari segi jasmani
maupun rohani. Dengan kebutuhan tersebut, konsep akan menciptakan sesuatu yakni
sebuah tugas dalam pembentukan kepribadian untuk masa depan yang lebih baik. Dengan
membentuk kepribadian ini, tentu juga akan membentuk sebuah pengembangan diri, baik
dalam soft skill maupun hard skill. Pengembangan diri ini juga untuk menciptakan
kemampuan dalam berpikir dan mengkritisi agar dapat menciptakan masa depan yang
ideal. Yang dimaksud dengan masa depan yang ideal adalah pribadi seseorang yang akan
datang setelah mengikuti sebuah kaderisasi sehingga tercipta pribadi yang partisipatif,
aspiratif, mandiri, beretika, dan non hegemoni.
Kaderisasi ini bermaksud mengubah attitude seseorang dan selanjutnya kader ini berharap
dapat mengubah suasana lingkungan sehingga membentuk suasana yang mempengaruhi
subjective norm seseorang dalam mengambil keputusan dalam bertindak.
Dengan kaderisasi, diharapkan dapat mencetak orang – orang yang dapat menggerakan dan
membantu masyarakat dengan berpartisipasi terhadap semua kegiatan pembentukan
karakter dan mengaspirasi masyarakat di setiap desa agar lebih peduli terhadap isu
lingkungan dan secara bersama – sama berubah menjadi manusia yang berintegritas.
Tidak semua individu dapat diandalkan untuk menjadi seorang kader, karena seorang kader
harus memiliki kemampuan jiwa kemimpinan, public speaking yang mampu
mempengaruhi lingkungannya.

2. Sosialisasi
Sosialisasi adalah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu
generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog
menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses
sosialisasi diajarkan peran – peran yang harus dijalankan oleh individu.
Diharapkan para kader pembawa perubahan ini dapat mensosialisasikan nilai yang telah
didapatkan dari proses kaderisasi dan bersama masyarakat membangun kepribadian yang
menunjukkan nilai kita sebagai manusia yang berintegritas. Dan diharapkan dengan
sosialisasi ini, konsep konservasi air tanah dan konsep pribadi yang berintegritas dapat
tertanam dalam setiap masyarakat Indonesia. Serta, ditanamkan bahwa sumber daya bumi
ini, tanah ini bukanlah milik pribadi, bukan untuk pemenuhan kebutuhan dan hasrat seorang
diri, namun sumber daya ini adalah milik bersama yang perlu dimanfaatkan dengan
bijaksana.
Maksud sosialisasi diharapkan sedikit demi sedikit menciptakan suatu suasana di
lingkungan masyarakat agar tercipta suatu “norma” baru yang mengatur mengenai
ketertiban mengenai pengelolaan sumber daya air.
Norma baru ini diharapkan mampu mempengaruhi faktor subjective norm pada diri
seseorang dalam membentuk niat dan behavior individu sehingga individu tersebut dapat
melakukan sesuatu berdasarkan norma baru yang sudah “tercipta”.

3. Program Kerja
Setelah kaderisasi dan sosialisasi telah dilakukan dengan baik, atau sedang berjalannya
proses tersebut, diperlukan suatu program kerja yang dapat membantu jalannya proses
kaderisasi dan sosialisasi untuk memastikan proses ini berjalan dengan baik.
Program yang dapat dilakukan adalah melaksanakan Peraturan Perundang – Undangan
yang sudah ada, meneruskan dan memantapkan program yang sudah ada, dan atau
membuat suatu program yang inovatif yang mudah diterima oleh masyarakat dengan
mengikuti trend yang ada agar program yang dibuat menjadi mungkin serta menyenangkan
untuk dilakukan oleh masyarakat segala umur.
Program yang harus dilaksanakan adalah pajak air tanah perlu dilaksanakan dengan sanksi
yang tegas, pelaksanaan sumur resapan wajib dan pengawasannya diperketat, atau diadakan
bantuan dari pemerintah untuk membangun sumur resapan komunal. Serta program desa
dengan melakukan kerja bakti 2 minggu satu kali untuk menjaga lingkungan tetap bersih.
Tabel 2. Gagasan Konservasi Sistem Air Tanah di DKI Jakarta

Sasaran/Target Strategi
Sub Hasil Kebijakan Lembaga/Instansi
No. yang Ingin
Aspek Analisis (2019-2024) (2024-2034) (2034-2040) Operasional Terkait
Dicapai
A. Perbaikan Sistem Air Tanah DKI Jakarta
1. Perbaikan Penurunan Menyerapkan air - Pembuatan grand - Melakukan - Melakukan Meningkatkan Pemerintah DKI
dan muka tanah 5 sebanyak – design untuk kegiatan kegiatan inflow air ke Jakarta
pencegahan – 12 cm per banyaknya pada RTH (Ruang pembukaan lahan pembangunan dalam tanah
penurunan tahun akuifer dangkal Terbuka Hijau) untuk RTH injeksi air
tanah dan akuifer dalam sesuai dengan - Melakukan permukaan
bertambah peraturan tata kegiatan (banjir) ke dalam
parah
ruang kota pembangunan tanah
- Injeksi air tanah injeksi air
permukaan
(banjir) ke dalam
tanah
2. Pencegahan Banjir dari Terbebas dari - Pembuatan grand - Pembangunan Melakukan Design dan Pemerintah Pusat dan
banjir rob laut sering bahaya banjir rob design dan Giant Sea Wall kegiatan pembangunan Pemerintah DKI
dan intrusi terjadi di dan intrusi air laut evaluasi design pembangunan Giant Sea Wall Jakarta
air laut daerah Jakara yang sudah ada injeksi air
Utara dan untuk permukaan (banjir)
instrusi air laut pembangunan ke dalam tanah
di sumur –
Giant Sea Wall
sumur warga
3. Peningkatan Cakupan layan Berkurangnya - Perbaikan sistem - Peningkatan - Peningkatan - Kerjasama Pemerintah Pusat,
layanan air bersih ketergantungan layanan PAM kapasitas kapasitas dengan Pemerintah DKI
penyediaan PAM hanya terhadap air tanah - Keterjangkauan produksi air produksi air membentuk Jakarta, PAM
air bersih di 60% harga air bersih bersih bersih UPT atau
DKI Jakarta bagi warga - Peningkatan - Peningkatan dengan pihak
- Kerjasama cakupan daerah cakupan daerah swasta
dengan layan 80% layan 100% - Perbaikan
membentuk UPT - Meminimalkan sistem
atau dengan harga air bersih layanan PAM
pihak swasta
B. Konservasi Air Tanah DKI Jakarta
1. Pemanfaatan Cakupan layan Mengurangi - Menerapkan - Menerapkan - Penegakan - Aplikasi dari Pemerintah Pusat,
Air air bersih dari ketergantungan air konsep konsep hukum untuk program yang Pemerintah DKI
Permukaan air permukaan tanah pemanenan air pemanenan air masyarakat yang sudah ada Jakarta, Masyarakat
hanya hujan untuk skala hujan untuk skala mengewajibkan
mengandalkan rumah tangga, rumah tangga, pembuatan
PAM sumur resapan sumur resapan biopori
dan biopori dan biopori
secara komunal individu untuk
setiap rumah
C. Konservasi Air Tanah secara Sosial
1. Konservasi Banyak Masyarakat - Penegakan - Penegakan - Penegakan - Penegakan Pemerintah Pusat,
Air Tanah masyarakat menjadi pribadi hukum terhadap hukum terhadap hukum terhadap hukum Pemerintah DKI
secara yang tidak yang berintegritas pelaku eksploitasi pelaku eksploitasi pelaku eksploitasi - Kaderisasi Jakarta, Masyarakat
Sosial mengerti dan dan peduli terhadap air tanah air tanah air tanah - Sosialisasi
tidak peduli lingkungan - Menimbulkan - Menimbulkan - Menimbulkan peraturan
terhadap kesadaran kesadaran kesadaran perundang –
lingkungan
masyarakat akan masyarakat akan masyarakat akan undangan
aturan aturan aturan - Rehabilitasi
- Mengikutsertakan - Mengikutsertakan - Mengikutsertakan zona kritis
masyarakat masyarakat masyarakat - Pemberdayaan
dalam usaha dalam usaha dalam usaha masyarakat
konservasi konservasi konservasi
(Kaderisasi) (Sosialisasi) (Program Kerja)
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kesimpulan
Eksploitasi air tanah di DKI Jakarta yang berlebihan menyebabkan beberapa dampak yang
merugikan kehidupan sehari – hari. Dampak tersebut adalah muka tanah di DKI Jakarta terus
turun setiap tahunnya dengan kira – kira penurunan 5 – 12 cm pertahun dan intrusi air laut yang
memasuki tanah/sumur – sumur warga di daerah Jakarta Utara.
Untuk menyelesaikan permasalahan ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dengan
regulasi kebijakan yang jelas dengan sanksi yang tegas, lalu membuat program – program yang
bermanfaat bagi penyelesaian masalah, serta membuat masyarakat berpartisipasi langsung
dalam kehidupan sehari – hari untuk mengurangi ketergantungan terhadap air tanah. Untuk
membuat masyarakat dapat berpartisipasi langsung dalam penyelesaian permasalahan ini salah
satu caranya dengan pendekatan sosial untuk merubah paradigma masyarakat mengenai
permasalahan lingkungan. Tahapannya yang pertama adalah kaderisasi, setelah itu, sosialisasi
dan terakhir adalah membuat program – program yang mengikuti trend saat ini (up-to-date)
dan mendukung pemerintah.

Rekomendasi
Paper ini merupakan suatu gagasan yang dapat dijadikan pedoman pembuatan program
mengenai konservasi air tanah di DKI Jakarta. Oleh karena itu, perlu tindak lanjut dari konsep
ini dengan membuat secara detail mengenai acara kaderisasi dan sosialisasi serta program –
program yang perlu dibuat.

DAFTAR PUSTAKA

Herlambang, Arie., Indriatmoko, R. Haryoto. 2005. Pengelolaan Air Tanah dan Intrusi Air
Laut. Jakarta: JAI. Vol 1 No. 2.

Pemerintah Indonesia. 2001. Peraturan Pemerintah No. 65 tentang Pajak. Lembaran RI Tahun
2001 No. 65. Jakarta : Sekretariat Negara.

Pemerintah Indonesia. 2004. Peraturan Pemerintah No. 16 Pengendalian Terhadap Penggunaan


Lahan dan Penatagunaan Tanah. Lembaran RI Tahun 2004 No. 16. Jakarta: Sekretariat Negara.

Pemerintah Indonesia. 2005. Peraturan Pemerintah No. 36 tentang Peraturan Pelaksanaan UU


No. 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan dan Gedung. Lembaran RI Tahun 2001 No. 36. Jakarta:
Sekretariat Negara.
Pemerintah Indonesia. 2007. Undang – undang No. 26 tentang Penataan Ruang. Lembaran RI
Tahun 2007 No. 26. Jakarta: Sekretariat Negara.
Pemerintah Indonesia. 2008. Undang – undang No. 43 tentang Air Tanah. Lembaran RI Tahun
2008 No. 43. Jakarta: Sekretariat Negara.

Pemerintah Indonesia. 2010. Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 17 tentang Pajak Air
Tanah. Jakarta: Sekretariat Negara.

Pemerintah Indonesia. 2012. Peraturan Menteri ESDM No. 15 tentang Penghematan


Penggunaan Air Tanah. Jakarta: Sekretariat Negara.

Pemerintah Indonesia. 2013. Peraturan Menteri ESDM No. 24 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Balai Konservasi Air Tanah. Jakarta: Sekretariat Negara.

Pemerintah Indonesia. 2013. Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 20 tentang Sumur
Resapan. Jakarta: Sekretariat Negara.

Pemerintah Indonesia. 2018. Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 279 tentang Tim
Pengawasan Terpadu Penyediaan Sumur Resapan dan Instalasi Pengolahan Air Limbah serta
Pemanfaatan Air Tanah Di Bangunan Gedung dan Perumahan. Jakarta: Sekretariat Negara.

Samsuhadi. 2009. Pemanfaatan Air Tanah Jakarta. Jakarta: JAI. Vol 5. No. 1.

Surinati, Dewi. 2014. Paradigma Giant Sea Wall. Jakarta: Oseana. Vol XXXIX,, No. 4.

Tirtomihardjo, Haryadi., Setiawan, Taat. Tanpa Tahun. Zona Konservasi Air Tanah Sebagai
Dasar Pertimbangan dalam Penerbitan Rekomendasi Teknis Penggunaan Air Tanah – (Studi
Kasus: Cekungan Air Tanah Jakarta (CAT Jakarta). Bandung: Kementerian ESDM.