Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di seluruh dunia jumlah usia lanjut (lansia) diperkirakan mencapai

angka 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun

2025 akan mencapai 1,2 milyar (Stanley,2007). Pertambahan jumlah lansia

di Indonesia dalam kurun waktu tahun 1990 sampai 2025, tergolong tercepat

didunia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa penduduk

lansia pada tahun 2000 berjumlah 14,4 juta jiwa (7,18%). Pada tahun 2010

diperkirakan menjadi 23,9 juta jiwa (9,77%) dan pada tahun 2020 akan

berjumlah 28,8 juta jiwa (11,34%) (BPS, 2010).

Karakter pasien lansia adalah multipatologi, menurunnya daya

cadangan biologis, berubahnya gejala dan tanda dari penyakit klasik,

terganggunya status fungsional pasien lansia, dan sering terdapat gangguan

nutrisi, gizi kurang atau buruk (Soejono,2006). Salah satu bentuk

terganggunya status fungsional yang paling menonjol dari pasien pralansia

dan lansia adalah penurunan fungsi kognitif. Kognitif adalah suatu konsep

yang komplek yang melibatkan sekurang-kurangnya aspek memori,

perhatian, fungsi eksekutif, persepsi, bahasa, dan fungsi motorik (Nehlig,

2010). Penurunan fungsi kognitif dapat meliputi berbagai aspek yaitu

orientasi, registrasi, atensi dan kalkulasi, memori, bahasa. Penurunan ini

dapat mengakibatkan masalah antara lain memori panjang dan informasi,

1
dalam memori panjang mereka akan kesulitan dalam mengungkapkan

kembali cerita atau kejadian yang tidak begitu menarik perhatiannya dan

informasi baru atau informasi tentang orang.

Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) mencatat penurunan

fungsi kognitif lansia diperkirakan 121 juta manusia, dari jumlah itu 5,8 %

laki-laki dan 9,5 % perempuan (Djojosugito, 2002). Perhatian dan

pengetahuan masyarakat terhadap gangguan kognitif saat ini masih sangat

kurang. Masyarakat cenderung menganggap hal tersebut sebagai bagian dari

proses menua yang wajar. Pada umumnya masyarakat baru akan mencari

pengobatan setelah terjadi gangguan kognitif yang berat dan gangguan

perilaku atau demensia, sehingga penatalaksanaanya tidak akan memberikan

hasil yang memuaskan. Penatalaksanaan gangguan kognitif pada stadium

dini baik secara farmakologis maupun non farmakologis dapat

menyembuhkan atau memperlambat progresifitas penyakitnya, sehingga

individu yang bersangkutan tetap mempunyai kualitas hidup yang baik.

Penilaian fungsi kognitif dengan pemeriksaan neuropsikologi seperti Mini

Mental State Examination (MMSE) merupakan salah satu cara penapisan

adanya gangguan kognitif secara dini.

Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang mempengaruhi

penurunan fungsi kognitif pada lansia. Peningkatan tekanan darah kronis

dapat meningkatkan efek penuaan pada struktur otak, meliputi reduksi

substansia putih dan abu-abu di lobus prefrontal, penurunan hipokampus,

meningkatkan hiperintensitas substansia putih di lobus frontalis.


Berdasarkan data WHO, Indonesia merupakan negara yang prevalensi

hipertensinya lebih besar jika dibandingkan dengan negara Asia lain seperti

Bangladesh, Korea, Nepal dan Thailand (WHO South East Asia

Region,2011). Prevalensi hipertensi pada pralansia dan lansia di Indonesia

lebih besar dibandingkan kelompok umur lain. Data Survey Kesehatan

Rumah Tangga (2004), prevalensi hipertensi pada kelompok umur 45-54

tahun 22,5% pada kelompok umur 55- 64 tahun 27,9% dan pada kelompok

umur 65 tahun keatas ada 29,3% yang menderita hipertensi. Berdasarkan

data Puskesmas Suli, tahun 2015 hipertensi merupakan urutan ke 2 dari 15

penyakit terbanyak yang melakukan kunjungan ke Puskesmas Suli.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran fungi kognitif pasien

lanjut usia dengan hipertensi diwilayah kerja puskesmas suli.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana gambaran fungsi kognitif pasien lanjut usia dengan hipertensi di

wilayah kerja Puskesmas Suli ?

1.3 Tujuan Penelitian

a. Tujuan Umum

Peneliti bertujuan untuk mengetahui gambaran fungsi kognitif pasien

lanjut usia dengan hipertensi di wilayah kerja Puskesmas suli.

b. Tujuan Khusus

1. Mengetahui gambaran pengaruh hipertensi terhadap penurunan

fungsi kognitif pada pasien lansia usia 45-59 th di wilayah kerja

Puskesmas Suli

3
2. Mengetahui gambaran pengaruh hipertensi terhadap penurunan

fungsi kognitif pada pasien lansia usia 60-74 th di wilayah kerja

Puskesmas Suli

3. Mengetahui gambaran pengaruh hipertensi terhadap penurunan

fungsi kognitif pada pasien lansia usia 75- 90 th di wilayah kerja

Puskesmas Suli

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat membantu pengembangan penelitian mengenai

gambaran hipertensi terhadap penurunan fungsi kognitif pada pasien usia lanjut.

Hasil ini diharapkan dapat memberikan masukan informasi untuk puskesmas Suli

dalam skrining dini penurunan fungsi kognitif pasien usia lanjut yang menderita

hipertensi sehingga bisa ditindak lanjuti.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hipertensi

Tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan

darah di dalam arteri. Istilah “tekanan darah” berarti tekanan pada pembuluh

nadi dari peredaran darah sistemik di dalam tubuh manusia. Tekanan darah

di bedakan antara tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik.

Hipertensi dapat di definisikan sebagai tekanan darah persisten di mana

tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik di atas 90

mmHg, pada populasi manula hipertensi di defenisikan sebagai tekanan

sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg.

Hipertensi menurut Manjoer dkk (2001) hipertensi adalah tekanan

sistolik ≤ 140 mmHg dan tekanan darah diastolic ≥ 90 mmHg atau bila

pasien memakai obat anti hipertensi. Hipertensi (HTN) adalah peningkatan

tekanan darah arteial abnormal yang langsung terus-menerus (Aplikasi

Klinis Patofisiologi edisi 2:1). Tekanan darah sistolik adalah tekanan darah

pada waktu jantung menguncup (sistole). Adapun tekanan darah diastolik

adalah tekanan darah pada saat jantung mengendor kembali (diastole).

Dengan demikian, jelaslah bahwa tekanan darah sistolik selalu lebih tinggi

dari pada tekanan darah diastolik. tekanan darah manusia selalu berayun-

ayun antara tinggi dan rendah sesuai dengan detak jantung.

5
Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, di

mana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan

meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan

jantung dan kerusakan ginjal.

Pada pemeriksaan tekanan darah akan di dapat dua angka. Angka yang

lebih tinggi di peroleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang

lebih rendah akan di peroleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik).

Tekanan darah di tulis sebagai tekanan sistolik garis miring tekanan

diastolik,misalnya 120/80 mmHg, di baca seratus dua puluh per delapan

puluh.

Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140

mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan

tekanan diastolik dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan

pada usia lanjut. Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang

mengalami kenaikan tekanan darah, tekanan sistolik terus meningkat sampai

usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60

tahun, kemudian berkurang secara perlahan bahkan menurun drastis.

Hipertensi maligna adalah hipertensi yang sangat parah, yang bila

tidak diobati akan menimbulkan kematian dalam waktu 3-6 bulan.

Hipertensi ini jarang terjadi, hanya 1 dari setiap 200 penderita hipertensi.

Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi

dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih

rendah daripada orang dewasa. Tekanan darah juga diperngaruhi oleh


aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan

lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga

berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur

malam hari.

Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on

Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure

(JNC7) klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi

kelompok normal, prahipertensi, hipertensi derajat 1 dan derajat 2 seperti

yang terlihat pada tabel 2.1 dibawah ini.

Klasifika si Tekanan Darah Tekanan

Tekanan Sistolik Darah


Normal < 120 < 80
Prahipertensi 120-139 80-89
Hipertensi derajat 1 140-159 90-99
Hipertensi derajat 2 > 160 > 100
Tabel 2.1.Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC 7

The Joint National Community on Preventation, Detection

evaluation and treatment of High Blood Preassure dari Amerika Serikat dan

badan dunia WHO dengan International Society of Hipertention membuat

definisi hipertensi yaitu apabila tekanan darah seseorang tekanan

sistoliknya 140 mmHg atau lebih atau tekanan diastoliknya 90 mmHg

atau lebih atau sedang memakai obat anti hipertensi. Pada anak-anak,

definisi hipertensi yaitu apabila tekanan darah lebih dari 95 persentil dilihat

7
dari umur, jenis kelamin, dan tinggi badan yang diukur sekurang-kurangnya

tiga kali pada pengukuran yang terpisah.

Lebih dari 90% penderita hipertensi belum diketahui penyebabnya

dengan pasti, sehingga disebut sebagai hipertensi primer. Data-data

penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan

hipertensi. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor keturunan, ciri

perseorangan dan kebiasaan hidup.

a. Faktor Keturunan

Dari data statistik terbukti seseorang akan memiliki kemungkinan lebih

besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita

hipertensi.

b. Ciri Perseorangan

Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah umur

dan jenis kelamin. Umur yang bertambah akan menyebabkan terjadinya

kenaikan tekanan darah. Tekanan darah pria umumnya lebih tinggi

dibandingkan wanita. Statistik di Amerika menunjukkan prevalensi

hipertensi pada orang kulit hitam hampir dua kali lebih banyak

dibandingkan dengan orang kulit putih.

c. Kebiasaan Hidup

Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah

konsumsi garam yang tinggi, kegemukan (makan berlebihan), stres dan

pengaruh lain.
1. Konsumsi garam yang tinggi

Dari data statistik ternyata dapat diketahui bahwa hipertensi jarang diderita

oleh suku bangsa atau penduduk dengan konsumsi garam yang rendah.

Dunia kedokteran juga telah membuktikan bahwa pembatasan konsumsi

garam dapat menurunkan tekanan darah dan pengeluaran garam (natrium)

oleh obat diuretik (pelancar kencing) akan menurunkan tekanan darah.

2. Kegemukan atau makan berlebihan

Obesitas didefinisikan sebagai kelebihan berat badan sebesar 20% atau lebih

dari berat badan ideal, perhitungan IMT ≥ 27,0. Pada orang yang menderita

obesitas ini organ-organ tubuhnya dipaksa untuk bekerja lebih berat sehinga

lebih cepat merasa gerah dan kelelahan. Akibat obesitas para penderita

cenderung menderita penyakit kardiovaskuler, hipertensi dan diabetes

mellitus.

3. Stres atau ketegangan jiwa

Hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktifitas saraf

simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten

(tidak menentu) stress yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan

darah menetap tinggi.

Stress atau ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung, rasa marah, dendam

rasa takut) dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormone

adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat,

sehingga tekanan darah akan meningkat, jika stress berlangsung cukup

9
lama, tubuh akan berusaha mengadakan penyesuaian sehingga timbul

kelainan organis atau perubahan patologis, gejala yang muncul dapat berupa

hipertensi atau penyakit maag. (Anjali, Arora, 2008).

4. Pengaruh lain

Pengaruh lain yang dapat menyebabkan naiknya tekanan darah yaitu :

• Merokok

Nikotin penyebab ketagihan merokok akan merangsang jantung, saraf, otak

dan bagian tubuh lainnya bekerja tidak normal. Nikotin juga merangsang

pelepasan adrenalin sehingga meningkatkan tekanan darah, denyut nadi dan

tekanan kontraksi otot jantung selain itu meningkatkan kebutuhan oksigen

jantung dan dapat menyebabkan gangguan irama jantung (aritmia) serta

berbagai kerusakan lainnya.

. Olahraga

Olahraga yang bersifat kompetensi dan meningkatkan kekuatan dapat

memacu emosi sehingga dapat mempercepat peningkatan tekanan darah

seperti tinju, panjat tebing dan angkat besi. (Kuswandi, 2004). Bentuk

latihan yang paling tepat untuk penderita hipertensi adalah jalan kaki,

bersepeda, senam, berenang dan aerobic, olahraga yang bersifat kompetisi

dan meningkatkan kekuatan tidak dibolehkan bagi penderita hipertensi

karena akan memacu emosi sehingga akan mempercepat peningkatan

tekanan darah.

Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala,

meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan


dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya

tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung,

pusing, wajah kemerahan dan kelelahan yang bisa saja terjadi baik pada

penderita hipertensi maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang

normal.

Hipertensi diduga dapat berkembang menjadi masalah kesehatan

yang lebih serius dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Sering kali

hipertensi disebut sebagai silent killer karena dua hal yaitu:

a. Hipertensi sulit disadari seseorang karena hipertensi tidak memiliki gejala

khusus, gejala ringan seperti pusing, gelisah, mimisan dan sakit kepala

biasanya jarang berhubungan langsung dengan hipertensi, hipertensi dapat

diketahui dengan mengukur secara

teratur.

b. Hipertensi apabila tidak ditangani dengan baik, akan mempunyai risiko

besar untuk meninggal karena komplikasi kardiovaskular seperti stroke,

serangan jantung, gagal jantung dan gagal ginjal.

Jika timbul hipertensinya berat atau menahun dan tidak terobati, bisa timbul

gejala berikut:

1. Sakit kepala

2. Kelelahan

3. Jantung berdebar-debar

4. Mual

5. Muntah

11
6. Sesak nafas

7. Gelisah

8. Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak,

mata, jantung dan ginjal.

9. Telinga berdenging

10.Sering buang air kecil terutama di malam hari.

Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran

dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut

ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan segera. (Trisha

Macnair, 2007).

Patofisiologi

ACE (Angiotensin Converting Enzyme), memegang peran fisiologi

penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung

angiotensinogen yang diproduksi di hati selanjutnya oleh hormone, rennin

akan diubah menjadi angiotensin 1, oleh ACE yang terdapat di paru-paru

angiotensin 1 diubah menjadi angiotensin II (peranan kunci dalam

menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama.

a. Meningkatkan sekresi hormone antidiuretik (ADH) dan rasa haus, ADH

diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitasi) dan bekerja pada ginjal

untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH

sangat sedikit urin yang dieksresikan keluar tubuh sehingga menjadi pekat

dan tinggi osmolalitasnya untuk mengencerkanya volume cairan

ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan di bagian intra


seluler akibatnya volume darah meningkat yang pada akhirnya akan

meningkatkan tekanan darah.

b. Menstimulasi sekrsi aldosteron dari korteks adrenal, aldosteron merupakan

hormone steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal untuk

mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi eksresi

NaCl dengan cara mengabsorbsinya dari tubulus ginjal. Naiknya

kosentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan

volume cairan ekstra seluler yang pada giliranya akan meningkatkan

volume dan tekanan darah.

Penatalaksanaan

Bagi penderita tekanan darah tinggi penting mengenal hipertensi

dengan membuat gaya hidup positif. Jika anda baru saja menemukan tekanan

darah anda tinggi atau tidak normal, tidak perlu khawatir ada 7 langkah untuk

mengatasinya antara lain:

a. Mengatasi Risiko

Tanyakan pada diri sendiri pertanyaan berikut: apakah anda memiliki

sejarah keluarga penderita hipertensi? Apakah anda memiliki berat badan

berlebihan? Apakah anda makan makanan berkadar garam tinggi? Apakah

anda cukup olahraga atau apakah anda merokok? Jika jawaban anda ya pada

salah satu pertanyaan diatas anda berisiko memiliki tekanan darah tinggi.

b. Mengontrol pola makan

13
Apabila anda ingin terhindar dari risiko hipertensi jauhi makanan

berlemak dan mengandung garam.

c. Tingkat konsumsi potassium (K) dan magnesium (mg)

Pola makan yang rendah potassium dan magnesium menjadi salah

satu faktor pemicu tekanan darah tinggi, buah-buahan dan sayur segar

adalah sumber terbaik bagi kedua nutrisi tersebut.

d. Makan makanan jenis padi-padian

Dalam sebuah penelitian yang dimuat dalam American Journal

Clinical Nutrition ditemukan pria yang makan sedikitnya satu porsi perhari

sereal dari jenis padi-padian kecil kemungkinan terkena penyakit hingga

20%.

e. Tingkat aktifitas

Orang dengan gaya hidup yang tidak aktif akan lebih rentan terhadap

tekanan darah tinggi. Melakukan olahraga secara teratur tidak hanya

menjaga bentuk tubuh dan berat badan, tetapi juga dapat menurunkan

tekanan darah. Jika anda menyandang tekanan darah tinggi, latihan aerobic

sedang selama 30 menit sehari selama beberapa hari setiap minggu dapat

menurunkan tekanan darah. Jenis latihan yang dapat mengontrol tekanan

darah adalah : berjalan kaki, bersepeda, berenang, aerobic. (Trisna Macnair,

2007).

Tidak diragukan meningkatkan aktifitas dapat menurunkan risiko

tekanan darah tinggi, anda tidak perlu berolahraga seperti seorang atlet
hanya 30 menit sampai 45 menit 5 hari dalam seminggu cukup untuk

menurunkan hipertensi.

f. Sertakan bantuan dari kelompok pendukung

Sertakan keluarga dari teman menjadi kelompok pendukungn pada

pola hidup sehat dukungan dan partisipasi orang lain membuatnya lebih

mudah dan lebih asyik dalam menjalankan dietnya. Bagi setiap orang

dukungan keluarga berhasil dalam membuat perubahan gaya hidup untuk

mencegah tekanan darah

tinggi.

g. Berhenti merokok

Jika anda tidak merokok itu baik bagi anda, jika anda merokok

berhenti sekarang juga. Walaupun merokok tidak ada kaitanya dengan

timbulnya hipertensi. Merokok dapat menimbulkan risiko komplikasi

lainnya seperti penyakit jantung dan stroke.

h. Latihan relaksasi atau meditasi

Relaksasi berguna untuk mengurangi stress atau ketegangan jiwa,

relaksasi dilaksanakan dengan mengencangkan dan mengendorkan otot

tubuh sambil membayangkan sesuatu yang damai, indah dan menyenangkan

dilakukan dengan mendengarkan musik atau bernyanyi.

6. Pengobatan pada tekanan darah tinggi (Hipertensi)

Pengobatan pada penyakit tekanan darah tinggi harus memperhatikan

terlebih dahulu faktor penyebabnya oleh karena itu dianjurkan untuk

memeriksakan kesehatanya kepada dokter yang sama agar dokter dapat

15
mengikuti riwayat penyakit pasien dengan demikian dokter akan memiliki

obat yang tepat.

a. Pengobatan pada golongan khusus

1) Hipertensi pada golongan khusus

Obat anti hipertensi diberikan pada ibu hamil bila tekanan diastolenya ≥ 90

mmHg pada trimester pertama dan ≥ 100 mmHg para trimester ketiga.

2) Hipertensi pada dislipidemia

Obat yang biasa digunakan untuk mengatasi keadaan tersebut adalah

gemfibrozil ini dapat menurunkan kadar kolesterol total, kolesterol LDL

trigliserida dan meningkatkan kadar kolesterol HDL secara nyata.

3) Hipertensi pada pembuluh darah otak

Tekanan darah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pecahnya pembuluh

darah, apabila yang pecah adalah pembuluh darah otak keadaan ini dikenal

dengan stroke.

4) Hipertensi pada penyakit jantung

Pemberian obat pada hipertensi dengan kelalian jantung harus disesuaikan

dengan jenis gangguan pada jantung dan derajat hipertensinya.

Pemeriksaan fungsi jantung perlu dilakukan untuk menentukan

pengobatanya.

5) Hipertensi pada gagal ginjal


Pengobatan pada gagal ginjal dibedakan menjadi dua bagian besar yakni

pengobatan pada refrosklerosis benigna dan nefrosklerosis maligna,

pengobatan pada nefrosisklerosis benigna dilakukan secepatnya hingga

mendekati normal penurunan tekanan darah yang cepat akan mengurangi

kerusakan akibat nekrosis arteroti sehingga dalam jangka panjang

diharapkan terjadi perbaikan fungsi

ginjal.

Perubahan gaya hidup

Gaya hidup yang baik untuk menghindari terjangkitnya penyakit

hipertensi dan berbagai penyakit degeneratif lainnya adalah:

1) Mengurangi konsumsi garam dan lemak jenuh

2) Melakukan olahraga secara teratur dan dinamik (tidak mengeluarkan

tenaga terlalu banyak seperti berenang, jogging (jalan kaki cepat), naik

sepeda)

3) Meningkatkan porsi buah-buahan dan sayuran segar dalam pola makan

4) Mengkonsumsi kalium dalam jumlah tinggi seperti semangka, avokad,

kismis, pisang, tomat, kentang dan biji bunga matahari dapat membantu

menjaga tekanan darah agar tetap normal.

5) Menjauhkan dan menghindarkan stress dengan pendalaman agama sebagai

salah satu upayanya.

Pengaturan Makanan

Upaya penanggulangan hipertensi melalui pengaturan makanan pada

dasarnya dnegan mengurangi konsumsi lemak dan diet rendah garam dan

17
diet rendah kalori. Jumlah kalori yang diberikan pada diet rendah kalori

disesuaikan dengan berat badan.

Pilihan obat dalam mengatasi hipertensi diantaranya:

1) Hipertensi tanpa komplikasi diuretic, beta bloken

2) Indikasi tertentu enhibitor ACE, penghmabat reseptor angiotensin II, Alfa

bloker, alfa-beta bloker, antagonisca, diuretic.

3) Indikasi yang disesuaikan: diabetes mellitus tipe I dengan protein nuria

inhibitor ACE, gagal jantung ibhibitor ACE diuretic, hipertensi sistolik

terisolasi, infark miokard beta bloker (non ISA) inihibitor ACE (dengan

disfungsi sistolik).

Bila tekanan darah tidak dapat diturunkan dalam satu bulan, dosis obat

dapat disesuaikan sampai dosis maksimal atau menambahkan obat golongan

lain atau mengganti obat pertama dengan obat golongan lain. Sasaran

penurunan tekanan darah adalah kurang dari 140/90 dengan efek samping

minimal penurunan dosis obat dapat dilakukan pada golongan hipertensi

ringan yang sudah terkontrol dengan baik selama satu tahun.

1. Diuretik

Diuretic adalah obat yang memperbanyak kencing, mempertinggi

pengeluaran garam (NaCl) dengan turunya kadar Na+ makan tekanan darah

akan turun dan efek hipotensifnya kurang kuat. Obat yang sering digunakan

adalah obat yang daya kerjanya panjang sehingga dapat digunakan dosis

tunggal, diutamakan diuretic yang hemat kalium seperti spironolacton,

HCT, Furosemide.
2. Alfa-Bloker

Alfa blocker adalah obat yang dapat memblokir reseptor alfa dan

menyebabkan vasodilatasi perifer serta turunya tekanan darah karena efek

hipotensinya ringan sedangkan efek sampingnya agak kuat misalnya

hipotensi ostotatik dan tachikardia maka jarang digunakan. Seperti

prognosin dan terazosin.

3. Beta-Blocker

Mekanisme kerja obat beta-blocker belum diketahui dengan pasti

diduga kerjanya berdasarkan beta blocker pada jantung sehingga

mengurangi daya dan frekuensi kontrasi jantung. Dengan demikian tekanan

darah akan menurun dan daya hipotensinya baik.

Seperti : propanolol, bisoprolol, dan antenolol.

4. Obat yang bekerja sentral

Obat yang bekerja sentral dapat mengurangi pelepasan non adrenalin

sehingga menurunkan aktifitas saraf adrenergik perifer dan turunya tekanan

darah, penggunaan obat ini perlu memperhatikan efek hipotensi ostatik

seperti reserpine, clonidine dan metildopa

5. Vasodilator

Obat vasodilator dapat langsung mengembangkan dinding arteriola

sehingga daya tahan pembuluh perifer berkurang dan tekanan darah

menurun seperti hidralazine dan tecrazine.

6. Antagonis Kalsium

19
Mekanisme obat antagonis kalisum adalah menghambat pemasukan

ion kalsium ke dalam sel otot polos pembuluh dengan efek vasidilatasi dari

turunya tekanan darah seperti :

nipedipin,amlodipine, dan verapamil.

7. Penghambat ACE

Obat penghambat ACE ini menurunkan tekanan darah dengan cara

menghambat angiotensin converting enzyme yang berdaya

vasodilatori kuat seperti captopril, lisinopril.

Tabel 2.3
Beberapa obat antihipertensi yang sering dipakai

N Jenis Dosis sehari Frekuens


Mi Mak pemakaia
sehar
1 Diuretik

HC 12,5- 5 1x

Chlorbalidon 12,5- 5 1x

Indopamid 2,5 5 1x

Spironolacton 2,5 1 1x
2 Bekerja netral

Clonidene 0,1 1,2 2x

Gufacine 1 3 1x

Methidopa 25 200 2x
3 Penyekat alfa-

Prozoin 1- 2 2x
Doxazosin 1-2 15 1x

Terazosin 1-2 20 1x
4 Penyekat beta

Metoprolol 50 200 1x

Atenolol 25 150 1x

Propanolol 40 320 1x

Acebutolol 200 1200 1x


5 Vasodilator

Hydralazine 50 300 2x

Ecarazine HCL 30 120 2x


6 Penghambat ACE

Captopril 25-50 300 1-3x

Lisinopril 5 40 1x

Enalapril 2,5-5 40 1-2x

a. Pencegahan Hipertensi dengan cara tradisional

Banyak ramuan tradisional yang dapat dipercaya untuk menurunkan

tekanan darah, beberapa ramuan sudah diteliti secara laboratories contoh

yang berkhasiat menurunkan tekanan darah: cincau hijau, daun dan buah

alpukat, mengkudu masak (pace), mentimun, daun seledri, daun selada dan

bawang putih.

21
Tabel 2.4

Efek Samping obat anti hipertensi

Golongan obat Efek samping

Thiazide/diuretic menyerupai - Kadar kalium dalam darah

thiaziae misalnya aprinox rendah (dideteksi dengan

pemeriksaan darah)

- Toleransi glukosa terganggu

(kadar glukosa darah diatas

normal) terutama jika dikombinasi

dengan beta blocker (dideteksi

pemeriksaan darah)

- Peningkatan kadar kolesterol

LDL, trigliserida dan asam urat

(cek darah dan urine).

- Disfungsi ereksi (impotensi pada

pria)

- Gout (radang pada persendian

akibat peningkatan kadar gula)


Alfa blocker - Inkontinensia

- Rasa melayang pada saat berdiri


(misalnya cardura)

Beta-blocker - Kadar glukosa tidak terkontrol


(misalnya cardicor) - Latargi (lesu)

- Gangguan memori dan

kosentrasi

- Gejala penyakit arteri perifer

memburuk, sirkulasi yang buruk

pada tungkai.
Inhibitor ACE - Batuk

- Fungsi ginjal memburuk


(misalnya capoten)
- Hipotensi (akut, penurunan

tekanan darah tiba-tiba)

- Ruam
Blocker kenal kalsium golongan - Edema perifer (akumulasi cairan

non-dihydropyridine misalnya dan pembengkakan di mata kaki)

ticdiem - Pembesaran gusi dan konstipasi

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai tropi

bertujuan menentukan adanya kerusakan jaringan dan faktor risiko lain atau

mencari penyebab hipertensi, biasanya diperiksa urinalisa, darah perifer

lengkap, kimia darah, (kalium, natrium, kreatinin, gula darah puasa,

kolesterol total, kolesterol HDL, dan EKG.

Diagnosis

Diagnosis hipertensi tidak dapat ditegakan dalam satu kali pengukuran

hanya dapat ditetapkan setelah dua kali atau lebih pengukuran pada

23
kunjungan yang berbeda, kecuali terdapat kenaikan yang tinggi atau gejala-

gejala klinis pengukuran tekanan darah dilakukan dalam keadaan pasien

duduk bersandar setelah beristirahat selama 5 menit dengan ukurang

pengukuran lengan yang sesuai (menutupi 80% lengan) tensimeter dengan

air raksa masih tetap dianggap alat pengukuran yang terbaik.

Anamnesis dilakukan meliputi tingkat hipertensi dan lama

menderitanya, riwayat dan gejala penyakit, penyakit yang berkaitan seperti

penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit serebrovaskuler. Apakah

terdapat riwayat penyakit dalam keluarga, gejala-gejala yang berkaitan

dengan penyebab hipertensi, perubahan aktifitas/kebiasaan (merokok),

konsumsi makanan, riwayat obat-obat bebas, hasil dan efek samping terapi

antihipertensi sebelumnya bila ada dan faktor psikososial lingkungan

(keluarga, pekerjaan dll).

Dalam pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan darah dua

kali atau lebih dengan jarak 2 menit, kemudian diperiksa ulang pada lengan

kontralateral dikaji perbandingan berat badan dan tinggi pasien, kemudian

dilakukan pemeriksaan funduskopi untuk mengetahui adanya retio

hipertensif, pemeriksaan leher untuk mencari bising carotid, pembesaran

vena, atau kelenjara tiroid. ( Komplikasi

Pemakaian obat dalam jangka panjang bisa menyebabkan berbagai

komplikasi seperti terganggunya fungsi atau terjadi kerusakan organ otak,

ginjal, jantung dan mata. Kerusakan pada otak terjadi pembesaran otot

jantung bagian kiri yang berakhir pada kegagalan jantung. Kejadian ini
biasanya ditandai dengan bengkak pada kaki, kelopak mata, kelelahan dan

sesak nafas.

Kerusakan pada ginjal akibat hipertensi bisa menurunkan ginjal

sebagai penyaring racun dalam tubuh sekaligus sebagai produsen hormone

yang dibutuhkan tubuh, penderita yang mengalami komplikasi ginjal harus

cuci darah setiap minggu dengan biaya yang mahal sementara itu gangguan

pada mata sering tidak disadari sebagai akibat tekanan darah tinggi,

kerusakan pada mata buta menyebabkan kebutaan atau gangguan

penglihatan.

Kerusakan pada otak ditandai dengan nyeri kepala hebat, berubahnya

kesadaran kejang dengan deficit neurology fokal ozotermia, mual dan

muntah. Ensefalopati dapat terjadi terutama pada hipertensi maligna,

tekanan yang tinggi pada kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan

kapiler dan mendorong cairan kedalam ruang intertisium diseluruh susunan

saraf pusat.

2.2 LANSIA

Definisi lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang

untuk mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis.

Kegagalan ini berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup

serta peningkatkan kepekaan secara individual.

Menurut WHO, usia lanjut dibagi menjadi empat kriteria berikut: usia

pertengahan (middle age)adalah 45-59 tahun, lanjut usia (ederly) adalah 60-

25
74 tahun, lanjut usia tua (old) adalah 75-90 tahun, usia sangat tua (very old)

adalah diatas 90 tahun

2.3 Konsep Menua

Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan

kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri dan mempertahankan fungsi

normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi serta

memperbaiki kerusakan yang diderita. Seiring dengan proses tersebut tubuh

mengalami masalah kesehatan yang biasa disebut penyakit degeneratif

(Maryam, 2008)

Terdapat dua jenis penuaan antara lain, penuaan primer, merupakan

proses kemunduran tubuh gradual tak terhindarkan yang dimulai pada masa

awal kehidupan dan terus berlangsung selama bertahun-tahun, terlepas dari

apa yang orang-orang lakukan untuk menundanya. Sedangkan penuaan

sekunder merupakan hasil penyakit, kesalahan dan penyalahgunaan faktor-

faktor yang sebenarnya dapat dihindari dan berada dalam kontrol seseorang

(Papalia, 2008)

Banyak perubahan yang dikaitkan dengan proses menua merupakan

akibat dari kehilangan yang secara bertahap. Lansia mengalami perubahan-

perubahan fisik diantaranya perubahan sel, sistem persarafan, sistem

pendengaran, sistem penglihatan, sistem kardiovaskuler, sistem pengaturan

suhu tubuh, sistem respirasi, sistem gastrointestinal, sistem genitourinari,

sistem endokrin, sistem muskuloskeletal, disertai juga dengan perubahan-

perubahan mental menyangkut perubahan ingatan (memori).(Watson,2003)


2.4 Kognitif Pada Lansia

Kognitif merupakan suatu proses pikir yang membuat seseorang

menjadi waspada terhadap objek pikiran atau persepsi, mencakup semua

aspek pengamatan, pemikiran dan ingatan (Dorland, 2002). Kognitif adalah

suatu konsep yang kompleks yang melibatkan sekurang-kurangnya aspek

memori, perhatian, fungsi eksekutif, persepsi, bahasa, dan fungsi

psikomotor (Nehlig, 2010).

Perubahan kognitif yang terjadi pada lansia, meliputi berkurangnya

kemampuan meningkatkan fungsi intelektual, berkurangnya efisiensi

transmisi saraf di otak (menyebabkan proses informasi melambat dan

banyak informasi hilang selama transmisi), berkurangnya kemampuan

mengakumulasi informasi baru dan mengambil informasi dari memori, serta

kemampuan mengingat kejadian masa lalu lebih baik dibandingkan

kemampuan mengingat kejadian yang baru saja terjadi.

Fungsi kognitif seseorang meliputi berbagai fungsi berikut, antara

lain:

a. Orientasi

Orientasi dinilai dengan pengacuan terhadap personal, tempat dan

waktu. Orientasi terhadap personal (Kemampuan menyebutkan namanya

sendiri ketika ditanya) menunjukkan informasi yang “overlearned”

Kegagalan dalam menyebutkan namanya sendiri sering mereflesikan

negatifism, distraksi, gangguan pendengaran atau penerimaan bahasa.

27
Orientasi tempat dinilai dengan menanyakan negara, provinsi, kota,

gedung, dan lokasi dalam gedung. Sedangkan orientasi waktu dinilai

dengan menanyakan tahun, musim, bulan, hari dan tanggal. Karena

perubahan waktu lebih sering daripada tempat, maka waktu dijadikan indeks

yang paling sensitif untuk disorientasi.

b. Bahasa

Fungsi bahasa merupakan kemampuan yang meliputi 4 parameter,

yaitu kelancaran, pemahaman, pengulangan dan penamaan.

1) Kelancaran

Kelancaran merujuk pada kemampuan untuk menghasilkan kalimat

dengan panjang, ritme dan melodi yang normal. Suatu metode yang dapat

membantu menilai kelancaran pasien adalah dengan meminta pasien

menulis atau membaca spontan.

2) Pemahaman

Pemahaman merujuk pada kemampuan memahami sesuatu perkataan

atau perintah, dibuktikan dengan mampunya seseorang melakukan perintah

tersebut.

3) Pengulangan

Kemampuan seseorang untuk mengulangi suatu pernyataan atau

kalimat yang diucapkan seseorang.

4) Penamaan

Penamaan merujuk pada kemampuan seseorang untuk

menamai suatu objek beserta bagian-bagiannya.


c. Atensi

Atensi merujuk pada kemampuan seseorang untuk merespon stimulus

spesifik dengan mengabaikan stimulus yang lain di luar lingkungannya.

1) Mengingat segera

Aspek ini merujuk pada kemampuan seseorang untuk mengingat

sejumlah kecil informasi selama <30 detik dan mampu untuk

mengeluarkanya kembali.

2) Konsentrasi

Aspek ini merujuk pada sejauh mana kemampuan seseorang untuk

memusatkan perhatiannya pada satu hal. Fungsi ini dapat dinilai dengan

meminta seseorang tersebut untuk mengurangkan 7 secara berturut-turut

dimulai dari angka 100 atau dengan memintanya mengeja kata secara

terbalik.

d. Memori

Memori verbal yaitu kemampuan seseorang untuk

mengingat kembali informasi yang diperolehnya.

1) Memori baru

Kemampuan seseorang untuk mengingat kembali

informasi yang diperolehnya pada beberapa menit atau hari

yang lalu.

2) Memori lama

29
Kemampuan untk mengingat informasi yang

diperolehnya pada beberapa minggu atau bertahun-tahun yang

lalu.

3) Memori visual

Kemampuan seseorang untuk mengingat kembali

informasi berupa gambar.

e. Fungsi konstruksi, mengacu pada kemampuan seseorang

untuk membangun dengan sempurna. Fungsi ini dapat

dinilai dengan meminta orang tersebut untuk menyalin

gambar, memanipulasi balok atau membangun kembali

suatu bangunan balok yang telah dirusak sebelumnya.

f. Kalkulasi, yaitu kemampuan seseorang untuk menghitung angka.

g. Penalaran, yaitu kemampuan seseorang untuk membedakan

baik buruknya suatu hal, serta berpikir abstrak

2.5 Teori Mempertahankan Fungsi Kognitif

Peningkatan jumlah lansia harus diimbangi dengan kesiapan keluarga

dan tenaga kesehatan dalam memandirikan dan meminimalisir bantuan

ADL (Activity Daily Living) makan, minum, mandi, berpakaian dan

menaruh barang pada lansia, karena pada lansia terjadi penurunan atau

perubahan antara lain perubahan fisiologis yang menyangkut masalah

sistem muskuloskeletal, saraf, kardiovaskuler, respirasi, indra, dan

integumen, hal ini yang menghambat keaktifan dan keefektifan lansia dalam

pemenuhan kebutuhan sehari-hari secara mandiri. Sebenarnya tidak ada


batas yang tegas, pada usia berapa penampilan seseorang mulai menurun.

Pada setiap orang, fungsi fisiologis alat tubuhnya sangat berbeda-beda baik

dalam hal pencapaian puncak maupun penurunannya. (Departemen

Kesehatan Republik Indonesia, 2008)

Perawat atau keluarga sangat berperan penting dalam membantu

lansia yang mengalami penurunan pada aspek kognitif, yaitu dengan

menumbuhkan dan membina hubungan saling percaya, saling besosialisasi,

dan selalu mengadakan kegiatan yang bersifat kelompok, selain itu

mempertahankan fungsi kognitif lansia upaya yang dapat dilakukan adalah

dengan cara menggunakan otak secara terus menerus dan diistirahatkan

dengan tidur,kegiatan seperti membaca, mendengarkan berita dan cerita

melalui media sebaiknya dijadikan sebuah kebiasaan hal ini bertujuan agar

otak tidak beristirahat secara terus menerus (Departemen Kesehatan

Republik Indonesia,2008).

2.6 MMSE (Mini Mental State Examination)

MMSE awalnya dirancang sebagai media pemeriksaan status mental

singkat serta terstandarisasi yang memungkinkan untuk membedakan antara

gangguan organik dan fungsional pada pasien psikiatri. Sejalan dengan

banyaknya pengguna tes ini selama bertahun-tahun, kegunaaan MMSE

berubah menjadi suatu media untuk mendeteksi dan mengikuti

perkembangan gangguan kognitif yang berkaitan dengan kelainan

neurodegeneratif, misalnya penyakit Alzheimer

31
MMSE merupakan suatu skala terstruktur yang terdiri dari 30 paoin

dikelompokkan menjadi tujuh kategori: orientasi terhadap tempat(negara,

provinsi, kota, gedung, dan lantai), orientasi terhadap waktu (tahun, musim,

bulan, hari, dan tanggal), registrasi (mengulang dengan cepat 3 kata), atensi

dan konsentrasi (secara berurutan mengurangi 7, dimulai dari angka

100,atau mengeja kata WAHYU secara terbalik), mengingat kembali

(mengingat kembali 3 kata yang telah diulang sebelumnya), bahasa

(memberi nama 2 benda, mengulang kalimat, membaca dengan keras dan

memahami suatu kalimat, menulis kalimat, dan mengikuti perintah 3

langkah), dan konstruksi visual (menyalin gambar)

Skor MMSE diberikan berdasarkan jumlah item yang benar, skor yang

makin rendah mengindikasikan perfomance yang buruk dan gangguan

kognitif yang makin parah. Skor total berkisar antara 0-30 (performance

sempurna). Skor ambang MMSE yang pertama kali direkomendasikan

adalah 24 atau 25, memiliki sensivitas dan spesifitas yang baik untuk

mendeteksi demensia, bagaimanapun, beberapa studi sekarang ini

menyatakan bahwa skor ini terlalu rendah. Studi-studi ini menunjukkan

bahwa demensia dapat didiagnosis dengan keakuratan baik pada beberapa

orang dengan skor MMSE antara 24-27.

Pelaksanaan

MMSE dapat dilaksanakan selama kurang lebih 5-10 menit. Tes ini

dirancang agar dapat dilaksanakan dengan mudah oleh semua profesi


kesehatan atau tenaga terlatih manapun yang telah menerima instruksi untuk

penggunaannya.

Validitas

Performance pada MMSE menunjukkan kesesuaian dengan berbagai

tes lain yang menilai kecerdasan, memori dan aspek-aspek lain fungsi

kognitif pada berbagai populasi. Skor MMSE memiliki kesesuaian dengan

skor pada tes Clock Drawing pada pasien lansia dan pasien dengan penyakit

Alzheimer, dan juga pada tes seperti Information Memory Concentration

(IMC), tes Composite neuropsycological and Brief Cognitive Rating Scale

(BCRS).

Skor pada MMSE pertama kali diajukan sebagai ambang skor yang

mengindikasikan disfungsi kognitif. Dalam 13 studi berurutan yang menilai

keefektifan ambang skor MMSE <23 untuk mendeteksi demensia, sensivitas

berkisar antara 63%-100% dan spesifitas berkisar antara 52%-99%.

Penggunaan klinis

MMSE merupakan pemeriksaan status mental singkat dan mudah

diaplikasikan yang telah dibuktikan sebagai instrumen yang dapat dipercaya

serta valid untuk mendeteksi dan mengikuti perkembangan gangguan

kognitif yang berkaitan dengan penyakit neurodegeneratif. Hasilnya,MMSE

menjadi suatu metode pemeriksaan status mental yang digunakan paling

banyak didunia. Tes ini digunakan secara luas pada praktik klinis dan

kecemerlangannya sebagai instrumen skrining kognitif telah dibuktikan

dengan pencantuman bersama dengan Diagnosis Interview Schedule dalam

33
studi National Institute of Mental Health ECA dan oleh daftarnya yang

menyebutkan MMSE sebagai penilai fungsi kognitif yang

direkomendasikan untuk kriteria diagnosis penyakit Alzheimer yang

dikembangkan oleh konsorsium National Institute of Neurological and

Communication Disorders and Stroke and the Alzheimer Disease and

Related Disorders Association(McKhann,1984)

Data psikometri luas MMSE menunjukkan bahwa tes ini memiliki tes

retest dan reliabilitas serta validitas sangat baik berdasarkan diagnosis klinik

independen demensia dan penyakit Alzheimer. Karena performance pada

MMSE dapat dibiaskan oleh pengaruh status pendidikan rendah pada pasien

yang sehat, beberapa pemeriksa merekomendasikan untuk menggunakan

ambang skor berdasarkan umur dan status pendidikan untuk mendeteksi

demensia.

Kelemahan terbesar MMSE yang banyak disebutkan ialah batasannya

atau ketidakmampuannya untuk menilai kemampuan kognitif yang

terganggu di awal penyakit Alzheimer atau gangguan demensia lain

(misalnya terbatas item verbal dan memori dan tidak adanya penyelesaian

masalah atau judgment), MMSE juga relatif tak sensitif terhadap penurunan

kognitif yang sangat ringan (terutama pada individual dengan status

pendidikan tinggi). Walaupun batasanbatasan ini mengurangi manfaat

MMSE, tes ini tetap menjadi instrumen yang sangat berharga untuk

penilaian fungsi kognitif.

Intepretasi MMSE
Intepretasi MMSE didasarkan pada skor yang diperoleh pada saat

pemeriksaan:

Skor 24-30 diintepretasikan sebagai fungsi kognitif normal.

Skor<24 berarti definite gangguan kognitif

35
BAB III

METODE

3.1. Kerangka Teori

3.2 Metodologi Penelitian

3.2.1 Ruang lingkup penelitian

Ruang lingkup penelitian ini meliputi bidang Ilmu Penyakit Dalam,

Ilmu Geriatri dan Psikiatri

3.2.2 Lokasi dan waktu penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di acara bulanan Prolanis di Suli

Bawah. Waktu penelitian dilakukan pada hari Senin tanggal 25 Maret

2019.

3.2.3 Desain penelitian

Jenis penelitian bersifat deskriptif.


3.3.4 Populasi dan sampel penelitian

Populasi penelitian

Semua pasien usia lanjut yang datang ke acara bulanan Prolanis di

wilayah kerja Puskesmas Suli pada hari Senin tanggal 25 Maret 2019.

Sampel penelitian

Jumlah pasien usia lanjut yang datang ke acara bulanan Prolanis

Cara Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi

Kriteria inklusi:

1. Merupakan pasien usia lanjut yang berumur ≥ 45 tahun di wilayah kerja

Puskesmas Suli..

2. Pasien usia lanjut yang memiliki pendidikan minimal SD/setara, sehingga

bisa baca, tulis dan menggambar.

3. Menderita penyakit hipertensi dan tidak menderita penyakit lain.

Kriteria eksklusi :

1. Pasien usia lanjut yang mengalami kecacatan mental dan fisik

3.2.5 Variabel penelitian

Variabel bebas : Hipertensi

Variable tergantung : Penurunan fungsi kognitif

3.2.6 Definisi operasional

Hipertensi adalah tekanan darah lebih dari 140/90mmHg.

Penurunan Fungsi kognitif adalah penurunan kemampuan orientasi, registrasi,

atensi, dan kalkulasi serta bahasa dan pemahaman.

37
Lansia adalah orang yang berusia lebih dari atau sama dengan 45 tahun, terdiri

atas:

 Usia pertengahan (middle age)adalah 45-59 tahun, lanjut usia (ederly) adalah

60-74 tahun

 Lanjut usia tua (old) adalah 75-90 tahun,

 Usia sangat tua (very old) adalah diatas 90 tahun

Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian berupa kuesioner yang mengacu pada kuesioner

MMSE. Instrumen ini tidak dilakukan uji validitas dan reliabilitas karena telah

banyak digunakan untuk meneliti tentang fungsi kognitif lansia.

3.2.7 Teknik Pengumpulan Data

Data diperoleh dari pengisian kuesioner yang telah disiapkan oleh peneliti

dengan menggunakan teknik wawancara.

3.2.8 Pengolahan dan Analisis data

Pengolahan Data (editing)

Meneliti kembali apakah lembar kuesioner sudah cukup baik sehingga

dapat di proses lebih lanjut. Editing dapat dilakukan di tempat pengumpulan data

sehingga jika terjadi kesalahan maka upaya perbaikan dapat segera dilaksanakan.

Pengkodean (Coding)

Usaha mengklarifikasi jawaban-jawaban yang ada menurut macamnya,

menjadi bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode.

Pemasukan Data (Entry)

Memasukan data ke dalam perangkat komputer sesuai dengan kriteria.


3.4 Petugas Penyuluhan

Petugas yang berpartisipasi dalam penyuluhan mini project ini adalah :

1. Dokter Internsip Puskesmas Suli

2. Dokter Umum Puskesmas Suli

3.5 Lokasi dan Waktu Penyuluhan

Kegiatan penyuluhan dilaksanakan di Ruang Pertemuan posyandu lansia

suli bawah pada hari Senin, 25 Maret 2019.

3.6 Sasaran Penyuluhan

Sasaran pada kegiatan mini project ini terbagi menjadi 3 kelompok:

- Sasaran primer : Peserta Prolanis di Puskesmas Suli

- Sasaran sekunder : Pegawai Puskesmas Suli

- Sasaran tersier : Stakeholders (BPJS, Kepala Puskesmas Suli)

39
BAB IV

HASIL PENELITIAN

Jumlah pasien usia lanjut yang memenuhi kriteria inklusi di Puskesmas Suli

yang berjumlah 50 orang. Penelitian ini dilakukan dengan wawancara

menggunakan MMSE kepada responden. Hasil penelitian dari pengumpulan data

disajikan dalam bentuk tabel yang dilakukan untuk mendiskripsikan variabel

dengan menggunakan distribusi frekuensi dengan ukuran presentase.

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi fungsi kognitif pasien lansia berusia ≥45 -

59 tahun

Hipertensi Fungsi kognitif Fungsi kognitif Total


normal terganggu

Frekuensi % Frekuensi % Frekuensi %

Ya 2 10% 18 90% 20 100%

Tidak 1 25% 3 75% 4 100%

Total 3 12.5% 21 87.5% 24 100%

Dari tabel diketahui bahwa pasien usia lanjut berusia ≥45-59 tahun, yang

menderita hipertensi dengan gangguan fungsi kognitif jauh lebih banyak

dibandingkan yang memiliki fungsi kognitif normal. Sedangkan yang tidak

menderita hipertensi dengan gangguan fungsi kognitif lebih sedikit dibandingkan

yang memiliki fungsi kognitif normal.


Tabel 4.2 Distribusi frekuensi fungsi kognitif pasien lansia berusia 60-74
tahun

Hipertensi Fungsi kognitif Fungsi kognitif Total


normal terganggu

Frekuensi % Frekuensi % Frekuensi %

Ya 0 0% 18 100% 18 100%

Tidak 3 37.5% 5 62.5% 8 100%

Total 3 11.5% 23 88.5% 26 100%

Dari tabel diketahui bahwa pasien usia lanjut berusia 60-74 tahun, yang

menderita hipertensi dengan gangguan fungsi kognitif lebih banyak dibandingkan

yang memiliki fungsi kognitif normal. Sedangkan yang tidak menderita hipertensi

dengan gangguan fungsi kognitif lebih banyak dibandingkan yang memiliki

fungsi kognitif normal

Tabel 4.3 Distribusi frekuensi fungsi kognitif pasien lansia berusia 75-90 tahun

Fungsi Kognitif Total


Fungsi Kognitif Normal
Hipertensi
terganggu
Frekuensi % Frekuensi %
Ya 0 0 0 0 0
Tidak 0 0 0 0 0
Pada penelitian ini tidak didapatkan sampel dengan usia responden antara

75-90 tahun dan >90 tahun.

41
BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Gambaran Fungsi Kognitif Dengan Hipertensi

Hasil penelitian berdasarkan penyakit hipertensi yaitu didapatkan

bahwa pasien usia lanjut usia 45-59 tahun di wilayah kerja Puskesmas

Suli dengan penyakit hipertensi sebanyak 20 orang dan tanpa penyakit

hipertensi sebanyak 4 orang. Dari penelitian yang dilakukan, usia dari

pasien usia lanjut dibagi menurut WHO menjadi menjadi empat kriteria

berikut: usia pertengahan (middle age) adalah 45-59 tahun, lanjut usia

(elderly) adalah 60-74 tahun, lanjut usia tua (old) adalah 75-90 tahun,

usia sangat tua (very old) adalah diatas 90 tahun (Makhfudli, 2009)

Dari kriteria usia pertengahan (middle age) yaitu usia 45-59 tahun,

didapatkan hasil dengan frekuensi yang menderita hipertensi dengan

gangguan fungsi kognitif (75%) lebih banyak dibandingkan yang

memiliki fungsi kognitif normal (8,3%).

Dari kriteria lanjut usia (elderly) yaitu usia 60-74 tahun didapatkan

hasil dengan frekuensi yang menderita hipertensi dengan gangguan

fungsi kognitif (69,6%) lebih banyak dibandingkan yang memiliki fungsi

kognitif normal (0%).

Dari kriteria lanjut usia tua (old) yaitu usia 75-90 tahun dan (very

old) > 90 tahun peneliti tidak mendapatkan sampel responden sehingga

tidak dimasukkan ke dalam penelitian.


Terdapat hubungan antara penyakit hipertensi dengan penurunan

fungsi kognitif pasien usia lanjut sesuai dengan penelitian yang

membandingkan penderita lanjut usia yang dikelompokkan berdasarkan

usia dan adanya hipertensi maupun tidak ada hipertensi/normotensi.

Hasilnya menunjukkan bahwa fungsi kognitif penderita hipertensi lebih

terganggu (Kuusisto,1993).

5.2 Keterbatasan Penelitian

1. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional yaitu penelitian

yang hanya menganalisa suatu keadaan dalam suatu saat tertentu saja.

2. Adanya kemungkinan terjadinya bias karena faktor kesalahan

interpretasi responden dalam memahami maksud dari pertanyaan

sebenarnya. Jawaban responden tergantung pada pemahaman

responden terhadap pertanyaan kuesioner.

3. Sampel yang kurang banyak sehingga perbandingan antara pasien

hipertensi dan normotensi tidak didapatkan jumlah yang sebanding

dan persebaran data berdasarkan tekanan darah tidak normal.

43
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Terdapat gambaran pada pasien hipertensi dengan penurunan fungsi

kognitif pada pasien lansia usia 45-59tahun (90%) dan lansia usia 60-74

tahun (100%)

5.2Saran

1. Bagi keluarga dapat memberikan dukungan emosional dan perhatian

khusus bagi pasien usia lanjut yang mengalami penurunan fungsi

kognitif, karena keluarga memiliki peranan penting dalam

mempertahankan fungsi kognitif pasien. Keluarga harus lebih aktif lagi

dalam berinteraksi terhadap pasien,misalnya dengan mengajak pasien

untuk mengisi TTS (Teka-teki Silang)

2. Bagi praktisi kesehatan dapat lebih baik lagi dalam menangani dan

mendeteksi secara dini pasien usia lanjut yang mengalami penurunan

fungsi kognitif, sehingga penurunan fungsi kognitif dapat diperlambat.

3. Bagi penelitian selanjutnya, penelitian dapat dilakukan dengan jumlah

sampel yang lebih besar,dan mencari faktor-faktor lain yang turut

berpengaruh terhadap fungsi kognitif pada lansia.