Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH KIMIA KLINIK IV

PEMERIKSAAN HORMON KORTISOL

DISUSUN OLEH :

ASYRIFA RAHMA ADZIMA (151710113001)

RAHMA PUTRI M WIES HANIF (151710113002)

AISYAA LAZULFA AULIYA ZAHRA (151710113010)

REVI ISTIGHFARINI (151710113016)

NASTITI INDAH PAKERTI (151710113022)

FERA AMALIYAH AGUSTINE (151710113029)

ZIDNY SINARIANA DIFA (151710113035)

AINUN MUBASIROH (151710113043)

PROGRAM STUDI D3 ANALIS MEDIS

FAKULTAS VOKASI

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2019
BAB I

PENDAHULUAN

Kortisol adalah hormon yang diproduksi pada kelenjar adrenal. Kelenjar adrenal
sendiri merupakan penghasil hormon yang berada di atas ginjal. Kortisol kemudian akan
dilepaskan ke dalam darah dan dialirkan ke seluruh tubuh. Kortisol berperan dalam
mengendalikan metabolisme, yaitu seluruh proses kimiawi yang terjadi pada tubuh manusia.
Oleh karena itu, kortisol bertugas untuk menjalankan beberapa fungsi diantaranya mengatur
kadar gula darah, melawan peradangan dalam tubuh, mempengaruhi pembentukan ingatan,
mengendalikan keseimbangan garam dan air dalam tubuh, menyesuaikan tekanan dengan
kondisi tubuh, membantu perkembangan janin pada ibu hamil. Produksi kortisol dikendalikan
oleh tiga organ dalam tubuh yaitu hipotalamus di otak, kelenjar pituitari, dan kelenjar adrenal.
Normalnya, kortisol memang ada dalam tubuh dengan kadar yang wajar. Bila kadar kortisol
dalam darah menurun, ketiga organ tersebut akan bekerja sama untuk memicu produksi
kortisol. Faktor lainnya seperti stres atau aktivitas fisik yang dilakukan juga mempengaruhi
proses produksi kortisol. Ketika stres atau sedang berolahraga, produksi hormon kortisol akan
meningkat. Hal ini terjadi agar tubuh mampu merespon atau beradaptasi terhadap faktor-
faktor pemicu yang disebutkan tadi. (Guyton and Hall, 2012)
Terlalu banyak atau terlalu sedikit jumlah kortisol bisa menyebabkan masalah bagi
kesehatan. Terlalu banyak kortisol disebabkan oleh tumor yang menghasilkan hormon
adrenokortikotropik, atau sedang minum obat-obatan jenis tertentu. Gejala jumlah kortisol
yang berlebihan adalah kenaikan berat badan, muka memerah atau membengkak, tekanan
darah tinggi, osteoporosis, masalah pada kulit, mudah haus, sering buang air kecil, dan mood
swing yang menyebabkan rasa gelisah, cemas, atau depresi. Sedangkan gejala kekurangan
kadar kortisol adalah kelelahan atau badan lemas, pusing (terutama saat tiba-tiba berdiri),
berat badan menurun, otot lemas, perubahan suasana hati. (Guyton and Hall, 2012)
Kortisol merupakan hormon vital yang apabila tidak terdapat dalam tubuh maka tubuh
tidak akan siap menghadapi tekanan sehari-hari. Sekresi kortisol berlebih dan peningkatan
kadar kortisol dapat menyebabkan sejumlah gangguan metabolisme. Pada saat stres terjadi
peningkatan kortikosteroid yaitu hormon kortisol. Kortisol berperan dalam stres kronik, pada
saat stres akut tubuh akan memobilisasi keadaan dengan“fight or flight reaction”, sedangkan
pada peningkatan adrenal kortisol merupakan respon dari stress kronik, apabila adanya
peningkatan kadar kortisol merupakan indikator terjadinya keadaan stres kronik atau stres
yang berulang-ulang (Silverthorne, 2001).
Dalam keadaan normal, kortisol dilepaskan dalam jumlah kecil sepanjang hari, tetapi
bila menghadapi stres kadar hormon kortisol akan meningkat. Demikian juga akibat stres
sekresi kortisol dapat meningkat sampai 20 kali. Pada keadaan stres terjadinya peningkatan
kadar kortisol, kortisol yang tinggi tidak mampu menginhibisi sekresi CRH dan ACTH
karena reseptor glukokortikoid menurun pada saat mengalami stres. Stres yang berulang
menyebabkan peningkatan CRH di hipotalamus sehingga menghambat sekresi gonadotropin,
oksitosin, vasopressin dan mengganggu proses kelahiran dan menyusui, peningkatan
glukokortikoid yaitu kortisol mengakibatkan terjadinya penurunan GnRH dan LH melalui
hipofisis anterior yang akan menurunkan sekresi gonadotropin yaitu estrogen dan progesteron
(Zangeneh, 2009).
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Prinsip dan Metode Pemeriksaan


Tes kortisol biasanya dalam bentuk tes darah. Selama tes darah, seorang
tenaga medis akan mengambil sampel darah dari vena di bagian lengan, menggunakan
jarum kecil. Setelah jarum dimasukkan, sejumlah kecil d arah akan dikumpulkan ke
dalam tabung atau botol reaksi. Ini biasanya memakan waktu kurang dari lima menit.
Karena kadar kortisol berubah sepanjang hari, waktu tes kortisol penting. Tes
darah kortisol biasanya dilakukan dua kali sehari. Di pagi hari ketika kadar kortisol
berada di titik tertinggi, dan sekitar pukul 4 sore, ketika kadarnya jauh lebih rendah.
Kortisol juga dapat diukur dalam tes urin atau saliva. Untuk tes urin kortisol,
menggunakan sampel urin 24 jam. Ini digunakan karena kadar kortisol bervariasi
sepanjang hari. Tes saliva kortisol biasanya dilakukan di rumah, larut malam, ketika
kadar kortisol lebih rendah. Tes ini menggunakan sebuah kit. Kit tersebut berisi swab
untuk mengumpulkan sampel dan sebuah wadah untuk menyimpannya. Langkah-
langkah pengerjaannya sebagai berikut:
1. Jangan makan, minum, atau menyikat gigi selama 15-30 menit sebelum tes.
2. Ambil sampel antara jam 11 malam. dan tengah malam, atau seperti yang
diinstruksikan pada kit
3. Masukkan swab ke dalam mulut.
4. Swab di mulut selama sekitar 2 menit hingga kapas tertutup air liur.
5. Jangan menyentuh ujung swab dengan jari-jari Anda.
6. Masukkan swab ke dalam wadah di dalam kit dan kirim spesimen ke penyedia kit
(laboratorium)

 Persiapan ELISA
a. Wash buffer (50 ml) yang dicairkan ke dalam air 1000 ml silinder bersih.
Tempatkan pada gelas steril, dan campurkan secara lembut.
b. Assay buffer (5 ml) yang dicairkan ke dalam air 100 ml silinder bersih.
Tempatkan pada gelas steril, dan campurkan secara lembut.
c. Biotin-conjugate dilakukan dilusi 1 : 100 dengan Assay buffer ke dalam tube
bersih.
d. Streptavidin-HRP dilakukan dilusi 1 : 200 dengan Assay buffer ke dalam
tube bersih.
e. Enzim pewarna : terdiri dari pewarna biru, hijau dan merah. Pewarna biru
ditambahkan dilusi 1 : 250 sebelum standard dan sampel dilusi. Pewarna
hijau ditambahkan 1 : 100 sebelum dilusi dari konsentrasi biotin cunjugate.
Dan pewarna merah dilakukan dilusi 1 : 250, dan dilakukan penambahan
sebagai final dari streptavidin – HRP.
f. Pre-coated ELISA 96 well plate : well yang akan digunakan ditandai

 Prosedur ELISA
a. Ditambahkan 0,025 ml (25µl) dilusi sampel secara duplikat ke dalam well
kosong
b. Ditambahkan 0,050 ml (50µl) reagent cortisol enzyme dalam masing-masing
well,
c. Digoyangkan microplate secara perlahan selama 20-30 detik agar tercampur
d. Siapkan cortisol biotin- reagent
e. Ditambahkan 0,050 ml (50µl) cortisol biotin-reagent, kemudian ditutup
dengan film adesif dan diinkubasi pada suhu ruangan pada microplate shaker
selama 20-30 detik, lalu diinkubasi selama 1 jam.
f. Siapkan stresptavidin-HRP
g. Dilakukan aspirasi dan pencucian well sebanyak tiga kali dengan washing
solution seperti tahap pertama
h. Ditambahkan 0,100 ml (100µl) dilusi Streptavidin-HRP ke dalam masing-
masing well, kemudian ditutup lalu diinkubasi selama satu jam
i. Dilakukan aspirasi dan pencucian well sebanyak tiga kali dengan washing
solution seperti tahap pertama
j. Hentikan reaksi enzim dengan ditambahkan 0,050 ml (50µl) substrat stop
solution ke dalam masing-masing well, kemudian digoyangkan selama 15-20
detik dan ditutup lalu diinkubasi selama 10 menit pada suhu ruangan, dan
harus dilindungi dari cahaya. Warna akan berubah menjadi biru gelap karena
bereaksi terhadap enzim.
k. Hasil pada microplate reader dibaca dengan panjang gelombang 450nm
 Syarat Pemeriksaan Hormon kortisol:
1. tidak mengkonsumsi kortikosteroid sistemik dalam 1 bulan terakhir,
2. sampel bukan merupakan sampel dengan penyakit infeksi berat/kronis
(tuberkulosis paru, diabetes melitus, HIV, sepsis),
3. Tidak mengonsumsi obat-obat kontrasepsi (estrogen, progesteron) dan
ketokonasol dalam 1 bulan terakhir,
4. sampel bukan merupakan sampel dari pasien hamil atau menyusui
5. tidak melakukan olahraga yang berat sehari sebelum dilakukan pengambilan
sampel untuk pemeriksaan kortisol
6. pengambilan sampel dilakukan saat pagi hari , yaitu antara pukul 08.00-
09.00, dan pukul 16.00 saat sore hari, ini karena kadar kortisol dapat berubah
dalam sehari

2.2. Syarat Pemeriksaan


1. Tidak mengkonsumsi kortikosteroid sistemik dalam 1 bulan terakhir
2. Sampel bukan merupakan sampel dengan penyakit infeksi berat/kronis
(tuberkulosis paru, diabetes melitus, hiv, sepsis)
3. Tidak mengonsumsi obat-obat kontrasepsi (estrogen, progesteron) dan
ketokonasol dalam 1 bulan terakhir
4. Sampel bukan merupakan sampel dari pasien hamil atau menyusui
5. Tidak melakukan olahraga yang berat sehari sebelum dilakukan pengambilan
sampel untuk pemeriksaan kortisol
6. Pengambilan sampel dilakukan saat pagi hari , yaitu antara pukul 08.00-09.00,
karena kadar kortisol dapat berubah dalam sehari

2.3. Faktor Interferens


Hormon Kortisol meningkat pada :
1. beberapa penyakit hati dan ginjal
2. obesitas
3. infeksi
4. stress
5. kehamilan
Hormon Kortisol meningkat pada :

1. konsumsi obat obatan tertentu termasuk phenytoin, glukokortikoid sintetik dan yg


mengandung androgen
KESIMPULAN

Pemeriksaan kortisol metode ELISA ini dapat dilakukan dengan menggunakan sampel darah,
urine, dan saliva. Pemeriksaan ini dilakukan 2 kali dalam sehari yaitu pada pagi dan sore hari
akibat kadar kortisol yang dapat berubah dalam satu harinya. Konsumsi obat-obatan tertentu
juga dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Sehingga persiapan sebelum pengambilan
sampel harus diperhatikan.
DAFTAR PUSTAKA

Guyton A.C., Hall J.E. 2012. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 11. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC

Marsudi Hartono, Diah Mira Indramaya, Novia Indriyani Adhisty. 2015. Kadar Kortisol
Saliva Menggambarkan Kadar Kortisol Serum Pasien Dermatitis Atopik Vol.27 No. 3.
Surabaya : Departemen/staf Medik Fungsional Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/ Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo
Surabaya

Medlineplus. 2015. Cortisol Test. U.S: Nasional Library of Medicine. Diakses 04 Mei 2019.

Silverthorn. 2001. Human Physiology An Integrated Approach. Second Edition. United States
of America: Benjamin Cummings

Talbott, Shawn. 2007. The Cortisol Connection. United States of America: Hunter House
Publisher

Widyastuti, Yany. 2014. Analisis Kadar Kortisol untuk Melihat Hubungan Stres Akademik
terhadap Status Penyakit Periodontal pada Peserta Program Spesialis Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Depok: Universitas Indonesia.