Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN KULIAH LAPANGAN

GEOLOGI DASAR
SUNGAI CIPAMINGKIS DAN GUNUNG PUTRI

Oleh :
Kelompok 2

Erlandga Favian Ayyasy 1806137311


Faras Syadad 1806137324
Monique Eugenia Dinar Rawung 1806137381
Muhammad Nur Faishal Farid 1806137406
Muhammad Rafi Burhani 1806137412

PROGRAM STUDI GEOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS INDONESIA
2018
1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas izin,
rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan laporan kuliah lapangan ini dengan
baik. Laporan kuliah lapangan ini disusun dengan tujuan untuk melengkapi tugas
laporan kuliah lapangan semester pertama untuk mata kuliah Geologi Dasar. Melalui
laporan kuliah lapangan ini, kami berharap agar penulis dan pembaca mampu
mengelola alam tempat kita tinggal menjadi lebih baik kedepannya dengan menjaga
dan melestarikan alam tempat kita tinggal.
Laporan kuliah lapangan ini telah kami selesaikan dengan maksimal berkat
kerjasama dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu kami sampaikan banyak
terima kasih kepada segenap pihak yang telah berkontribusi secara maksimal dalam
penyelesaian laporan kuliah lapangan ini. Diluar itu, penulis sebagai manusia biasa
menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan laporan
kuliah lapangan ini, baik dari segi tata bahasa, susunan kalimat maupun isi. Oleh sebab
itu dengan segala kerendahan hati, kami selaku penyusun menerima segala kritik dan
saran yang membangun dari pembaca.
Dengan karya ini kami berharap dapat memberikan pengetahuan tambahan tentang
keadaan geologis di daerah Cipamingkis dan Gunung Putri melalui observasi kami.
Serta, kami berharap dengan karya ini kami dapat membantu para pembaca untuk lebih
memahami keadaan geologis di daerah Cipamingkis dan Gunung Putri.
Demikian yang bisa kami sampaikan, semoga laporan kuliah lapangan ini dapat
menambah khazanah ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat nyata untuk
masyarakat luas.

Depok, 10 Desember 2018

Home Group 2

2
DAFTAR ISI

Halaman Judul................................................................................................. 1

Kata Pengantar................................................................................................. 2

Daftar Isi........................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN................................................................................ 5

1. Latar Belakang............................................................................... 5
2. Rumusan Masalah.......................................................................... 5
3. Tujuan Pengamatan....................................................................... 5
4. Waktu dan Lokasi Pengamatan..................................................... 6

BAB II TEORI DASAR................................................................................. 7

1. Geologi Regional................................................................................. 7
2. Teori dan Metode Pengamatan............................................................ 9

BAB III HASIL PENGAMATAN............................................................... 16

1. Daerah Sungai Cipamingkis................................................................ 16

Orientasi Medan................................................................................ 16

Struktur Geologi................................................................................ 17

Deskripsi Batuan............................................................................... 20

Pengukuran........................................................................................ 20

Lampiran............................................................................................ 22

2. Daerah Gunung Putri........................................................................... 25

Orientasi Medan................................................................................ 25

Struktur Geologi............................................................................... 25

Deskripsi Batuan............................................................................... 26

Lampiran........................................................................................... 28

3
BAB IV PENUTUP

Kesimpulan.............................................................................................. 30

Saran....................................................................................................... 30

Daftar Pustaka........................................................................................ 31

4
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Geologi adalah suatu bidang ilmu pengetahuan kebumian yang mempelajari segala
sesuatu mengenai planet Bumi beserta isinya yang pernah ada (Sukandarrumidi, 2014).
Untuk mempelajari geologi, kuliah melalui pembelajaran di kelas saja tidak cukup.
Karena, banyak sekali hal yang berbeda antara teori yang ada di buku dengan kondisi
lapangan yang sebenarnya. Dalam buku, singkapan terlihat lurus sempurna, sedangkan
pada kenyataan yang sebenarnya, singkapan tidak sesempurna itu melainkan
mengalami perubahan atau ter-deformasi akibat banyak faktor seperti tenaga endogen
maupun eksogen.
Maka dari itu, kuliah lapangan sangat diperlukan untuk menambah pengalaman
dan tidak hanya sekedar belajar dari buku. Dengan kuliah lapangan, para mahasiswa
diharapkan lebih mengerti tentang mata kuliah Geologi Dasar karena dengan kuliah
lapangan, mahasiswa dapat melihat langsung keadaan geologis suatu daerah dan
mengaplikasikan langsung ilmu yang telah dipelajari di dalam kelas.
Kuliah lapangan ini dilaksanakan pada 2 dan 9 Desember 2018 di dua lokasi, yaitu
daerah Sungai Cipamingkis, Citeureup dan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Daerah
Sungai Cipamingkis di Citeureup dipilih karena terdapat singkapan yang dapat diamati
dengan mudah juga sebagai pengamatan dan deskripsi batuan sedimen. Dan daerah
gunung putri dipilih karena terdapat struktur columnar joint yang unik juga sebagai
pengamatan dan deskripsi batuan beku.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara melakukan orientasi medan?
2. Bagaimana cara mengukur strike dan dip?
3. Bagaimana cara mendeskripsi batuan sedimen dan batuan beku?
4. Bagaimana geologi regional yang terdapat di kawasan Sungai Cipamingkis
dan Gunung Putri?
5. Bagaimana struktur geologi yang terdapat di kawasan Sungai Cipamingkis dan
Gunung Putri?

C. Tujuan Pengamatan
1. Untuk mengetahui cara melakukan orientasi medan.

5
2. Untuk mengetahui cara mengukur strike dan dip.
3. Untuk mendeskripsi batuan sedimen dan batuan beku.
4. Untuk mengetahui geologi regional yang terdapat di kawasan Sungai
Cipamingkis dan Gunung Putri.
5. Untuk mengetahui struktur geologi yang terdapat di kawasan Sungai
Cipamingkis dan Gunung Putri.

D. Waktu dan Lokasi Pengamatan

Lokasi kuliah lapangan terdiri atas 2 lokasi, yaitu kawasan Sungai Cipamingkis
dan Gunung Putri. Pada lokasi pertama yaitu Sungai Cipamingkis, kuliah dan
pengamatan dimulai dari pukul 09.00-11.30 WIB. Lokasi kuliah dan pengamatan di
kawasan sungai Cipamingkis yang terdapat di daerah Citeureup ini terletak pada
koordinat 6°31.670’S, 106o55.778’E. Pada lokasi kedua yaitu Gunung Putri, kuliah
dan pengamatan dimulai dari pukul 12.30-15.30 WIB. Lokasi kuliah dan pengamatan
di Gunung Putri ini terbagi atas dua sudut pandang pada koordinat 6 o27’32’’S,
106o53’43’’E dan pada koordinat 6o27’33’’S, 106o53’23”E.

6
BAB II

TEORI DASAR

A. Geologi Regional
Lokasi pada Sungai Cipamingkis, Citereup dan Gunung Putri kita ketahui bahwa
daerah tersebut termasuk salah satu daerah yang terdapat pada geologi regional lembar
bogor.
1. Sungai Cipamingkis

Gambar 2.1.1 Peta Dasar Daerah Sungai Cipamingkis

Berdasarkan peta geologi regional, dapat diketahui bahwa formasi yang terdapat
pada daerah Sungai Cipamingkis yaitu formasi Klapanunggal dan formasi Jatiluhur.
Pada formasi Jatiluhur, jurus perlapisan batuannya pada umumnya berarah barat-timur.
dalam blok Jonggol. Dengan demikian Antiklin Jatiluhur inilah yang paling berperan
terhadap naiknya batuan sedimen Tersier ke permukaan. (Abdurrokhim & Ito, 2013)

7
Gambar 2.1.2 Kolom Stratigrafi pada NWJB dan Cekungan Bogor

Formasi Jatiluhur ini, terdapat endapan yang disusun oleh percampuran antara
batuan sedimen klastik dan karbonat (Sudjatmiko, 1972). Sedimen yang terdapat pada
Formasi Jatiluhur ini berasal dari utara (Abdurrokhim & Ito, 2013). Formasi Jatiluhur
yang memiliki umur Miosen tengah ini ( 13 juta tahun yang lalu ) dicirikan dengan
endapanendapan deep-water, antara slope–shelf margin (lereng-laut dangkal).

2. Gunung Putri
Daerah Klapanunggal dan sekitarnya, Kecamatan Gunung Putri Dan Cileungsi,
Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat dengan luas ± 9 km x 10 km atau 90 km2 dan
terletak ± 30 km arah Timurlaut Kota Bogor dan ± 40 km arah Tenggara dari Kota
Jakarta. Secara fisiografi masuk ke dalam batas antara zona antiklinorium Bogor dan
zona dataran pantai utara Jakarta., dibagi menjadi 5 (lima) satuan geomorfologi, yaitu
Satuan Geomorfologi Perbukitan Karst, Satuan Geomorfologi Bukit Monoklin, Satuan
Geomorfologi Bukit Intrusi, Satuan Geomorfologi Dataran Endapan Kipas Aluvial, dan
Satuan Dataran Endapan Aluvial Memiliki pola aliran sungai yang berkembang adalah
dendritik dan multibasinal, dengan stadia sungai muda menuju dewasa, pada jentera
geomorfik dewasa menuju tua. Satuan batuan tertua yang tersingkap adalah
Batulempung Gampingan Sisipan Batupasir Gampingan (Formasi Jatiluhur), berumur
Miosen Tengah (N9 - N13), diendapkan pada lingkungan laut dangkal, secara menjari
diendapkan Satuan Batuan Batugamping (Formasi Klapanunggal), umur Miosen
Akhir (N14 – N17) pada lingkungan laut dangkal. Pada Miosen Akhir – Pliosen Awal
(N18 – N19) terjadi Intrusi dan terbentuk satuan Basalt (Gunung Dago). Secara tidak

8
selaras di atasnya diendapkan Satuan Endapan Kipas Vulkanik berumur Plistosen
Awal – Plistosen Akhir (N22 - N23) pada lingkungan darat dan selanjutnya selama
Holosen – sekarang, proses erosi berlangsung terus dan diendapkan
Aluvial.(Sukandarrumidi, 2014)

B. Teori dan Metode Pengamatan


Geologi struktur adalah bagian dari ilmu geologi yang mempelajari tentang bentuk
(arsitektur) batuan sebagai hasil dari proses deformasi. Adapun deformasi batuan
adalah perubahan bentuk dan ukuran pada batuan sebagai akibat dari gaya yang bekerja
di dalam bumi. Secara umum pengertian geologi struktur adalah ilmu yang mempelajari
tentang bentuk arsitektur batuan sebagai bagian dari kerak bumi serta menjelaskan
proses pembentukannya. Beberapa kalangan berpendapat bahwa geologi struktur lebih
ditekankan pada studi mengenai unsur-unsur struktur geologi, seperti perlipatan (fold),
rekahan (fracture), patahan (fault), dan sebagainya yang merupakan bagian dari satuan
tektonik (tectonic unit), sedangkan tektonik dan geotektonik dianggap sebagai suatu
studi dengan skala yang lebih besar, yang mempelajari obyek-obyek geologi seperti
cekungan sedimentasi, rangkaian pegunungan, lantai samudera, dan sebagainya.
(Sukandarrumidi, 2014)
Jenis-jenis struktur geologi:
 Kekar
Kekar adalah struktur retakan/rekahan terbentuk pada batuan akibat suatu gaya
yang bekerja pada batuan tersebut dan belum mengalami pergeseran. Secara umum
dicirikan oleh adanya pemotongan bidang perlapisan batuan, terisi mineral lain, dan
adanya kenampakan breksiasi. Struktur kekar dapat dikelompokkan berdasarkan sifat
dan karakter retakan/rekahan serta arah gaya yang bekerja pada batuan tersebut. Kekar
yang umumnya dijumpai pada batuan adalah sebagai berikut:
 Shear Joint adalah retakan yang membentuk pola saling berpotongan
membentuk sudut lancip dengan arah gaya utama.
 Tension Joint adalah retakan/rekahan yang berpola sejajar dengan arah gaya
utama.
 Extension Joint (Release Joint) adalah retakan/rekahan yang berpola tegak lurus
dengan arah gaya utama.

 Lipatan
Lipatan adalah deformasi lapisan batuan yang terjadi akibat dari gaya tegasan sehingga
batuan bergerak dari kedudukan semula membentuk lengkungan. Lipatan dapat dibagi
dua, yaitu lipatan sinklin atau lipatan yang bentuknya yang cekung ke arah atas dan
lipatan antiklin atau lipatan yang bentuknya cembung ke arah atas.

 Patahan

9
Patahan atau sesar adalah struktur rekahan yang telah mengalami pergeseran.
Umumnya disertai oleh struktur yang lain seperti lipatan, rekahan, dan lain-lain. Jenis-
jenis patahan, yaitu:
 Normal Fault adalah patahan yang terjadi karena gaya tegasan tensional
horisontal pada batuan, yaitu ketika “hangingwall block” mengalami pergeseran
relatif ke arah bagian bawah terhadap “footwall block”.
 Reverse Fault yaitu patahan yang terjadi karena hasil dari gaya tegasan
kompresional horisontal pada batuan yang “hangingwall block”-nya relatif
bergeser ke arah atas terhadap “footwall block”.
 Transform Fault yaitu jenis patahan “strike-slip faults” yang khas terjadi pada
batas lempeng, dimana dua lempeng saling berpapasan satu dan lainnya secara
horisontal.
 Thrust Fault yaitu patahan yang kemiringan bidang patahannya lebih kecil dari
15⁰.
 Strike Slip Fault yaitu patahan yang pergerakan relatifnya berarah horisontal
mengikuti arah patahan. Patahan jenis ini berasal dari tegasan geser yang bekerja
di dalam kerak bumi.

C. Stratigrafi
Stratigrafi dalam arti luas adalah ilmu yang membahas aturan, hubungan dan
kejadian (genesa) macam-macam batuan di alam dalam ruang dan waktu sedangkan
dalam arti sempit ialah ilmu pemerian lapisan-lapisan batuan. (Djuhaeni, 1996)

a. Prinsip Stratigrafi

Dalam mempelajari stratigrafi, terdapat 6 prinsip dasar yang dapat digunakan dalam
penanggalan relatif, yaitu:

a) Superposisi (Nicholas Steno, 1638 – 1686) ”The Lower is the older and the
Upper is the younger” yang batuan yang tertua atau yang terendapkan paling awal
akan berada di paling bawah dan batuan yang termuda atau yang terendapkan
paling akhir akan berada di atas, dengan syarat lapisan ini belum terdeformasi.

b) Hukum Datar Asal (Original Horizontality; Nicholas Steno, 1638 – 1686) Prinsip
ini manyatakan bahwa material sedimen yang dipengaruhi oleh gravitasi akan
membentuk lapisan yang mendatar (horizontal). Implikasi dari pernyataan ini
adalah lapisan-lapisan yang miring atau terlipatkan, terjadi setelah proses
pengendapan. Namun terdapat pengecualian pada keadaan tertentu (contohnya pada
lingkungan delta dan pantai) yang menyebabkan pengendapan miring atau disebut
kemiringan asli (original dip).

10
c) Kesinambungan lateral (Lateral Continuity; Nicholas Steno, 1638 – 1686)
Lapisan sedimen diendapkan secara menerus dan berkesinambungan sampai batas
cekungan sedimentasinya. Penerusan bidang perlapisan adalah penerusan bidang
persamaan waktu atau merupakan dasar dari prinsip korelasi stratigrafi. Dalam
keadaan normal suatu lapisan sedimen tidak mungkin terpotong secara lateral
dengan tiba-tiba, kecuali oleh beberapa hal yang menyebabkan terhentinya
kesinambungan lateral, yaitu: pembajian, yaitu kondisi dimana lapisan batuan di
tepi cekungan sedimen menipis perubahan fasies, yaitu perbedaan sifat litologi
dalam suatu garis waktu pengendapan yang sama, atau perbedaan lapisan batuan
pada umur yang sama. pemotongan karena ketidakselarasan, yaitu dimana urutan
batuan di bawah bidang ketidakselarasan membentuk sudut dengan batuan di
atasnya Pemotongan ini terjadi pada lapisan batuan di bawah bidang
ketidakselarasan. Pergeseran lapisan batuan karena terjadinya sesar/patahan .

d) Azas Pemotongan (Cross-cutting Relationship; James Hutton, 1726-1797)


Intrusi batuan beku atau sesar harus lebih muda daripada batuan yang diterobosnya.

e) Inclusio, Suatu inklusi (fragmen suatu batuan di dalam tubuh batuan lain) harus
lebih tua daripada batuan yang mengandungnya tersebut.

f) Faunal Succession (Wiliam smith, 1769-1839). Sisa dari suatu organisme atau
sesuatu bukti yang menunjukkan kehidupan pada masa lampau dapat menjadi fosil
yang terawetkan di dalam suatu perlapisan batuan. Kenampakan fisiknya berubah
secara bertahap dan teratur sejalan dengan waktu dan menjadi pertanda kehidupan suatu
zaman yang dapat digunakan untuk menghubungkan suatu sistem pengendapan dengan
sistem yang lain.
D. Orientasi Medan
Lokasi dapat ditentukan dengan metode resection. Resection adalah menentukan
kedudukan di peta dengan menggunakan dua atau lebih medan yang dikenali, seperti
bukit (Sukandarrumidi, 2014). Langkah-langkah resection:
a) Melakukan orientasi pada peta
b) Mencari tanda medan yang mudah dikenali di lapangan dan di peta, minimal dua
tanda medan
c) Membuat sumbu pada pusat tanda-tanda medan itu menggunakan penggaris dan
busur
d) Membidik dengan kompas tanda-tanda medan tersebut dari posisi kita, sudut
bidikan dari kompas itu disebut azimuth

11
e) Memindahkan sudut bidikan yang didapat ke peta, dan menghitung sudut
pelurusnya perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah
posisi kita di peta.
Metode lain yang dapat digunakan untuk menentukan lokasi yaitu metode
intersection. Pada metode intersection, posisi ditentukan pada peta dengan
menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali di lapangan. Intersection
digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat di
lapangan, tetapi sukar untuk dicapai. (Sukandarrumidi, 2014) Langkah-langkah metode
intersection:
a) Melakukan orientasi medan, dan memastikan posisi kita
b) Membidik objek yang kita amati
c) Memindahkan sudut yang kita dapat di peta
d) Lakukan langkah b dan c dari posisi lain
e) Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi obyek
yang dimaksud.

E. Pengukuran Strike dan Dip


Dalam melakukan penelitian lapisan dan struktur, seorang geologist haruslah
mengetahui kedudukan batuan di permukaan bumi, dengan mengukur arah penyebaran
dan kemiringan batuan. Dalam ilmu Geologi untuk mengukur :
 Singkapan Tunggal
 Posisi berdiri atau memplot
 Puncak Bukit
Penyebaran dan kemiringan disebut dengan Strike and Dip. Data yang dihasilakan akan
dinyatakan dalam besaran sudut. Dalam kuliah lapangan kali ini pengukuran strike
and dip dilakukan pada sesar naik dan lapisan yang ada di daerah sungai cipamingkis.
Untuk mengetahui strike and dip nya maka diperlukan pengetahuan untuk
mengukurnya. Berikut merupakan cara untuk mengukur strike and dip :
a. Strike
Strike atau Jurus dapat diartikan sebagai arah garis yang dibentuk oleh
persimpangan dari fault, bed, or other planar feature dengan bidang horizontal. Strike
atau Jurus menunjukkan sikap atau posisi fitur struktural linier seperti faults, beds,
joints, and folds. (Sukandarrumidi, 2014) Cara mengukuran menggunakan kompas
geologi dalam pengukuran Strike :
1. buat kekar yang ingin di ukur serata mungkin ( bisa menggunakan papan jalan)
2. letakan sisi sebelah east (E) atau timur pada permukaan yang sudah stabil
3. seimbangkan kompas dengan cara melihat Bull's Eye Level

12
4. kunci kompas agar jarum kompas tidak berubah
5. beri garis pada papan atau kekar ( berguna untuk mengukur dip)
6. tuliskan derajat yang dihasilkan oleh jarum kompas yang menuju arah utara
7. tulis sesuai dengan N XX ˚E (XX ialah derajat yang dihasilkan oleh jarum
kompas)

b. Dip
Kemiringan atau dip adalah besaran sudut vertikal yang arahnya tegak lurus 90°
dari arah strike (Sukandarrumidi, 2014). Cara mengukur dip menggunakan kompas
geologi :
1. Pada garis yang telah dibuat ketika mengkur strike, tempelkan kompas bagian barat
(W)
2. Pastikan untuk tegak lurus ( 90°)
3. Putar klinometer yang berada di dalam kompas hingga Bull's Eye Level dalam
klinometer seimbang
4. Catat angka yang ditunjakan oleh klinometer.
Hasil pengukuran strike dan dip dapat di tulis dangan N (derajat Strike) E / (derajat
Dip) atau dapat dibaca North to East ( Nilai Strike) and (Nilai Dip). Dari langkah
langkah yang dilakukan untuk mengukur strike and dip, didapati bahwa strike and dip
sesar yang ada di daerah Sungai Cipamingkis ialah N 106° E / 61° sedangkan untuk
Perlapisannya didapati strike and dip sebesar N 178° E / 23°

F. Deskripsi Batuan
a. Batuan Beku
Batuan beku adalah batuan yang berasal dari proses pendinginan dan penghabluran
lelehan batuan di dalam bumi yang berasal dari magma (Sukandarrumidi, 2014) .
Dalam melakukan deskripsi batuan beku dikenal dengan istilah tekstur dan struktur.
Tekstur menunjukkan hubungan antarmineral. Dikenal beberapa terminology, yaitu
sebagai berikut :
1. Tekstur Porfiritik, bila semua jenis mineral pembentuk batuan dapat dibedakan satu
sama lain. Pada tekstur jenis ini selalu tampak mineral phenocryst. Jenis tekstur ini
tampak jelas pada batuan intrusif.
2. Tekstur Afanitik, bila semua jenis mineral pembentuk batuan sulit dibedakan satu
sama lain. Tidak tampak adanya phenocryst. Jenis tekstur ini tampak pada batuan beku
ekstrusif.

13
3. Tekstur Faneritik, bila di dalam batuan tersebut dapat terlihat mineral penyusunnya,
meliputi bentuk kristal, ukuran butir dan hubungan antar butir (kristal satu dengan
kristal lainnya atau kristal dengan kaca).
Singkatnya, batuan beku mempunyai tekstur fanerik apabila mineral penyusunnya, baik
berupa kristal maupun gelas/kaca, dapat diamati. Selain terminology tekstur, dalam
batuan beku dikenal pula istilah struktur. Dikenal tiga jenis struktur (Sukandarrumidi,
2014), yaitu sebagai berikut :
1. Struktur Holokristalin, bila mineral-mineral penyusun batuan semuanya berbentuk
Kristal yang euhedral sehingga mudah dikenal. Euhedral adalah bentuk Kristal yang
ideal. Bentuk Kristal euhedral akan terjadi bila proses pembekuan magma berlangsung
secara perlahan.
2. Struktur Holohialin, bila semua mineral-mineral penyusun batuan berbentuk gelas
sehingga tidak mudah dikenal. Bentuk gelas terjadi bila proses pembekuan magma
berlangsung dengan cepat.
3. Struktur Hipokristalin, bila sebagian batuan terdiri dari massa gelas dan sebagian lagi
terdiri dari massa Kristal.

b. Batuan Sedimen

Batuan sedimen klastik adalah batuan sedimen yang berasal dari hasil rombakan batuan
yang telah ada berupa batuan beku, metamorf, atau sedimen dan kemudian terangkut
melalui media air, angin, atau gletser(Sukandarrumidi, 2014). Dalam mendeskripsi
batuan sedimen, dikenal dengan istilah warna, dan tekstur. Warna dibagi menjadi dua,
yaitu:
1. Warna segar merupakan warna dari batuan yang belum tercampur dengan
lingkungan sekitarnya. Warna segar ini warna di dalam batuan yang tidak terkena udara
luar, biasanya untuk melihatnya harus dipecahkan terlebih dahulu dengan palu geologi.
2. Warna lapuk merupakan warna dari batuan yang sudah tercampur dengan
lingkungan sekitarnya. Warna lapuk ini warna batuan yang tersingkap.
Untuk tekstur yang terdapat dalam batuan sedimen terdiri dari fragmen batuan / mineral
dan matrik (masa dasar). Adapun yang termasuk dalam tekstur pada batuan sedimen
klastik terdiri dari: Besar butir (grain size), Bentuk butir (grain shape), kemas (fabric),
pemilahan (sorting), sementasi, kesarangan (porosity), dan kelulusan (permeability)
(Djauhari, 2012).

14
1. Besar Butir (Grain Size) adalah ukuran butir dari material penyusun batuan sedimen
diukur berdasarkan klasifikasi Wenworth.
2. Bentuk butir (Grain shape) pada sedimen klastik dibagi menjadi: Rounded
(Membundar), Sub-rounded (Membundar-tanggung), Subangular (Menyudut-
tanggung), dan Angular (Menyudut). Kebundaran (Sphericity): Selama proses
pengangkutan (transportasi), memungkinan butiran butiran partikel yang diangkut
menjadi berkurang ukurannya oleh akibat abrasi. Abrasi yang bersifat acak akan
menghasilkan kebundaran yang teratur pada bagian tepi butiran.
3. Kemas (Fabric) adalah hubungan antara masa dasar dengan fragmen batuan /
mineralnya. Kemas pada batuan sedimen ada 2, yaitu : Kemas Terbuka, yaitu hubungan
antara masa dasar dan fragmen butiran yang kontras sehingga terlihat fragmen butiran
mengambang diatas masa dasar batuan. Kemas tertutup, yaitu hubungan antar fragmen
butiran yang relatif seragam, sehingga menyebabkan masa dasar tidak terlihat).
4. Pemilahan (sorting) adalah keseragaman ukuran butir dari fragmen penyusun batuan.
Pemilahan adalah tingkat keseragaman ukuran butir. Partikel partikel menjadi terpilah
atas dasar densitasnya (beratjenisnya), karena energi dari media pengangkutan.
5. Sementasi adalah bahan pengikat antar butir dari fragmen penyusun batuan. Macam
dari bahan semen pada batuan sedimen klastik adalah: karbonat, silika, dan oksida besi.
6. Kesarangan (Porocity) adalah ruang yang terdapat diantara fragmen butiran yang ada
pada batuan. Jenis porositas pada batuan sedimen adalah Porositas Baik, Porositas
Sedang, Porositas Buruk.
7. Kelulusan (Permeability) adalah sifat yang dimiliki oleh batuan untuk dapat
meloloskan air. Jenis permeabilitas pada batuan sedimen adalah permeabilitas baik,
permeabilitas sedang, permeabilitas buruk.

BAB III
HASIL PENGAMATAN

3.1 Sungai Cipamingkis


3.1.1 Orientasi Medan
Pada saat berada di lapangan, perlu dilakukan orientasi medan untuk
mengetahui posisi kita di peta. Selain menggunakan kompas geologi dan peta topografi
gunung putri dalam menentukan posisi, kami juga mengamati medan disekitar untuk

15
menyesuaikan posisi kami di peta. Kami melakukan orientasi medan di Sungai
Cipamingkis dengan tahap seperti berikut:
1. Menyamakan utara pada peta dengan utara kompas
2. Menentukan titik tertinggi pada peta topografi atau medan yang mudah
dikenali di lapangan dan di peta minimal 2.
3. Mencari azimuth titik tersebut menggunakan kompas geologi.
4. Pegang kompas dengan sejajar, setelah itu bidik objek yang akan dicari
azimuthnya. Koordinat dari kedua titik yang kami tembak adalah N 263 E
dan N 30 E.
5. Kemudian dibuat sumbu pada pusat kedua titik tersebut menggunakan
penggaris dan busur. Setelah itu tarik garis lurus sehingga muncul
perpotongan garis berupa suatu titik, dan titik itulah lokasi dimana kami
berdiri.

Sumber: Hugo Irwanto

Sumber:
Erlandga
Favian

16
3.2.2 Struktur Geologi Sungai Cipamingkis

Singkapan Formasi Jatiluhur (Sumber: Emir Rakhim)

Singkapan yang diamati terletak pada sisi barat dari arah aliran sungai. Di
singkapan tersebut terdapat struktur geologi berupa sesar, ketidakselarasan dan prinsip
stratigrafi. Struktur geologi yang diamati adalah sesar naik, lalu ada ketidakselarasan
(disconformity), ketidakselarasan menyudut (angular unconformity), dan prinsip
stratigrafi kesinambungan lateral.

17
Sesar Naik (Sumber: Monique Rawung)

18
Kesinambungan Lateral (Sumber: Monique Rawung)

19
Ketidakselarasan (Disconformity)
(Sumber: Emir Rakhim)

Angular Unconformity (Sumber: Monique Rawung)

20
3.1.3 Deskripsi Batuan

1. Warna a. Warna segar : Abu-abu kehitaman


b. Warna lapuk : Abu-abu
2. Tekstur a. Ukuran Butir : Silt (Lanau)
b. Bentuk Butir : Sub-Rounded
c. Kemas : Tertutup
3. Struktur Sedimen : Parallel Lamination
4. Kandungan CaCO3 : Tidak Ada
5. Kandungan Fosil : Tidak Ada
6. Kekerasan : Agak Keras
7. Kontak : Tidak Selaras
8. Nama Batuan : Batu lanau (Siltstone)

Lapuk Warna Segar

i Burhani Sumber: Rafi Burhani


3.1.4 Pengukuran Strike dan Dip
Dalam kuliah lapangan yang dilakukan, pertama kali yang diukur adalah
strike kemudian dip dari batuan tersebut.
Langkah Pengukuran Strike:
1. Menempelkan papan jalan sesuai dengan arah kemiringan lapisan batuan yang
akan diukur
2. Tempelkan sisi east kompas geologi pada papan jalan dan atur sampai bulls eye
berposisi tepat di tengah lingkaran.

21
3. Buatlah garis sesuai penempelan kompas.
4. Derajat yang ditunjuk jarum kompas arah utara itulah yang menandakan besar
strike dari lapisan batuan tersebut

Langkah Pengukuran Dip:


1. Menempelkan sisi west kompas geologi tegak lurus dengan garis strike.
2. Atur bagian klinometer supaya gelembung di tabung berada di tengah.
3. Kunci perputaran klinometer dan catat besaran yang ditunjukkan clinometer
scale

Hasil pengukuran Strike dan Dip yang kami dapati adalah berikut:
1. Berdasarkan pengukuran yang kami
lakukan pada lapisan batuan yang di
dalam lingkaran biru, di dapati pada
lapisan ini memiliki strike dip
sebesar:
N 198 ˚ E / 27

(Sumber: Ratna Maulidia)

2. Pada lapisan di lingkaran berwarna


merah, didapati strike-dip sebesar:
N 194 ˚ E / 25

3. Pada lapisan di lingkaran berwarna


hijau, didapati strik-dip sebesar:
N 194 ˚ E / 16

(Sumber: Ratna Maulidia)

22
3.1.5 Lampiran

23
24
25
3.2 Gunung Putri
3.2.1 Orientasi Medan Gunung Putri
Pada saat berada di lapangan, perlu dilakukan orientasi medan untuk
mengetahui posisi kita di peta. Selain menggunakan kompas geologi dan peta topografi
gunung putri dalam menentukan posisi, kami juga mengamati medan disekitar untuk
menyesuaikan posisi kami di peta. Kami melakukan orientasi medan di dua tempat di
derah Gunung Putri dengan hasil koordinat tempat pertama yaitu 6°27’32’’S,
106°53’43’’E dan koordinat tempat kedua yaitu 6°27’33’’S, 106°53’23”E.

3.2.2 Struktur Geologi Gunung Putri

Tempat Pertama Gunung Putri (Sumber: Rafi Burhani)

Tempat Kedua Gunung Putri (Sumber: Nadya Faudilla)

26
Struktur geologi yang kami amati di gunung putri adalah columnar joint atau
kekar kolom. Lava menyusut saat mendingin dan mengeras. Penyusutan yang terjadi
memisahkan batu-batu tersebut sehingga membentuk retakan selagi batu-batu itu
mendingin. Ketika kerak yang padat setebal 0,5 sentimeter terbentuk di permukaan
magma, celah lima atau enam sisi terbentuk. Saat lava terus berlanjut mendingin dan
mengeras, retakan tumbuh ke bawah melalui aliran. Retakan tersebut disebut columnar
joint atau kekar kolom yaitu kekar yang terbentuk dari aliran lava dan membentuk tiang
segilima atau segienam (Thompson & Turk, 1997).

3.2.3 Deskripsi Batuan Beku Gunung Putri

 Lokasi 1 Gunung Putri

1. Warna a. Warna segar : Abu-abu kehitaman


b. Warna lapuk : Abu-abu kecoklatan
2. Komponen a. Fenokris : Kuarsa
b. Massa dasar : Andesit
3. Tekstur a. Ukuran kristal : Afanitik
b. Derajat kristalisasi : Holokristalin
c. Kemas : Equigranular
d. Bentuk kristal : Subhedral
4. Komposisi Mineral
Mineral Utama:a. Kuarsa = 35%
b. Plagioklas = 5%
c. K-Feldspar = 5%
5. Struktur : Columnar Joint
6. Nama Batuan : Diorit Basalt

27
Sampel batuan beku Gn. Putri Sampel batuan beku Gn. Putri
warna segar (Sumber: Valdy warna lapuk (Sumber: Valdy
Bintang) Bintang)

 Lokasi 2 Gunung Putri

1. Warna a. Warna segar : Abu-abu keputihan

b. Warna lapuk : Abu-abu kecoklatan

2. Komponen a. Fenokris : Kuarsa

b. Massa dasar : Andesit

3. Komponen a. Ukuran kristal : Afanitik

b. Derajat kristalisasi : Holokristalin

c. Kemas : Equigranular

d. Bentuk kristal : Anhedral

4. Komposisi Mineral

Mineral Utama:

a. Kuarsa = 10%

b. Plagioklas = 25%

c. Amphibole = 60%

5. Struktur : Columnar Joint

28
6. Nama Batuan : Andesit

Sampel batuan beku Gn. Putri Sampel batuan beku Gn. Putri
warna segar (Sumber: Valdy warna lapuk (Sumber: Valdy
Bintang) Bintang)

3.2.4 Lampiran

Sketsa Singkapan Gunung Putri 1


Sumber: Hilmi Abdullah

29
Sketsa Singkapan Gunung Putri 2
Sumber: Hilmi Abdullah

30
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Pada kuliah lapangan 1 geologi dasar yang kami lakukan, banyak hal
baru yang kami lihat dan pelajari, seperti bentuk dari lapisan batuan
yang sebenarnya lebih susah didefinisikan, berbeda dengan contoh
lapisan batuan yang ada di buku teori. Hal pertama yang dilakukan
adalah orientasi medan dengan menggunakan kompas dan peta
topografi untuk mengetahui letak posisi kita berada. Pada peta
topografi terdapat garis kontur yang menghubungkan titik-titik
berketinggian sama dari muka laut dengan sifat yang melambangkan
setiap daerah. Sebelum melakukan deskripsi batuan secara mikro, kita
melakukan identifikasi singkapan secara makro. Setelah itu beru kita
mendeskripsi batuan yang terdapat disingkapan secara mikro. Untuk
mengetahui deskripsi dan klasifikasi dari singkapan batuan,
menggunakan komparator dan lup. Setelah melakukan pengamatan
batuan yang ada pada dua lokasi tersebut, hasil pengamatan batuan
sedimen di Sungai Cipamingkis adalah batu lanau. Kemudian pada
lokasi Gunung Putri, terdapat singkapan intrusi batuan beku berupa
Columnar Joint. Pada umumnya, columnar joint memiliki struktur
yang lurus. Namun pada lokasi pengamatan, telah mengalami tenaga
endogen sehingga membuat singkapan tersebut mengalami perubahan
sudut menjadi miring. Hasil pengamatan batuan beku di Gunung Putri
adalah batuan andesit dan batuan basalt.

4.2 Saran

1. Diharapkan peralatan kuliah lapangan dapat diperbaharui lagi untuk


mempermudah pengamatan dan pengambilan sampel
2. Diharapkan adanya pengarahan tentang teknik pengambilan sampel

31
3. Diharapkan adanya peralatan pengaman untuk mengambil sampel
sehingga tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan
4. Diharapkan adanya prosedur pelatihan untuk menghadapi kejadian
yang tidak diinginkan
5. Diharapkan mahasiswa mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum
terjun ke lapangan seperti sudah dapat menguasai materi yang akan
diaplikasikan di lapangan agar tidak bingung dalam menentukan
analisis di lapangan serta melakukan latihan fisik rutin agar tidak
mudah lelah saat di lapangan.

4.3 Daftar Pustaka


 Geological Institute, Alexandria, Virginia, 788 p.
 Thompson, G., & Turk, J. (1997). Introduction to Physical Geology. Brooks Cole.

 Abdurrokhim. 2017. Stratigrafi Sikuen Formasi Jatiluhur di Cekungan Bogor, Jawa


Barat. Bulletin of Scientific Contribution, Volume 15, Nomor 2, Agustus 2017 : 167 –
172.
 Sams Boggs, J. (2006). Principles of Sedimentology and Stratigraphy Fourth Edition.
Upper Saddle River: Pearson Education, Inc.
 Sukandarrumidi et al. 2017. Geologi Umum Bagian Kedua. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.

32