Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI 1

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

Disusun oleh :
Agni Sjakhya Putri 3311171018
Khansa Firas Sudrajat 3311171019
Luthfiyah Nurazizah 3311171026
Helga Nitulo Berliana L. 3311171031
Suci Lelyana Ulba 3311171032
Sheyla Ulfah Hansya 3311171044

Farmasi A 2017
Kelompok 3
Jam Praktikum 10.00 - 12.50
Asisten Pembimbing :
Afif Abdulbasith, M.Si., Apt.

LABORATORIUM FARMAKOLOGI

PROGRAM STUDI SARJANA

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI

CIMAHI

2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Prinsip Percobaan


Pemisahan berdasarkan adsorbsi senyawa pada fase diam dan migrasinya oleh fase
gerak.

1.2 Tujuan Percobaan


1. Memperkenalkan cara analisis senyawa obat dengan Kromatografi Lapis Tipis.
2. Melatih kemampuan untuk melakukan KLT dan menerapkannya dalam analisis
senyawa obat.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kromatografi
Kromatografi adalah suatu metode pemisahan berdasarkan perbedaan
perpindahan dari komponen-komponen senyawa diantara dua fase yaitu fase diam
(dapat berupa zat cair atau zat padat) dan fase gerak (dapat berupa gas atau zat cair) .
Fase diam berupa zat padat maka cara tersebut dikenal sebagai kromatografi serapan,
jika zat cair dikenal sebagai kromatografi partisi. Karena fase gerak dapat berupa zat
cair dan gas maka ada empat macam sistem kromatografi.
1. Fase gerak zat cair–fase diam padat
 Kromatografi lapis tipis
 Kromatografi penukar ion
2. Fase gerak gas–fase diam padat
 Kromatografi gas padat
3. Fase gerak zat cair–fase diam zat cair
 Kromatografi cair kinerja tinggi
4. Fase gerak gas–fase diam zat cair:
 Kromatografi gas cair
 Kromatografi kolom kapiler

2.1.2 Kromatografi lapis tipis


Kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan oleh Izmailoff danSchraiber
pada tahun 1938. KLT merupakan bentuk kromatografi planar, selainkromatografi
kertas dan elektroforesis. Berbeda debgan kromatografi kolom yang mana fase diamnya
diisikan atau dikemas di dalamnya, pada kromatografi lapistipis, fase diamnya berupa
lapisan yang seragam.
Kromatografi lapis tipis ialah metode pemisahan fisikokimia. Lapisan pemisah
terdiri atas bahan berbutir-butir (fase diam). Tahap-tahap analisa KLT dimulai dari
persiapan tangki kromatograf, aplikasi sampel keplat KLT, menjalankan kromatograf
dan menentukan nilai Rf. Kromatografi lapis tipis menggunakan plat tipis yang dilapisi
denganadsorben seperti silika gel, aluminium oksida (alumina) maupun
selulosa.Adsorben tersebut berperan sebagai fasa diam.
Fasa gerak yang digunakan dalam KLT sering disebut dengan eluen. Pemilihan
eluen didasarkan pada polaritassenyawa dan biasanya merupakan campuran dari
beberapa cairan yang berbeda telah di ketahui kepolaritasnya,
sehingga didapatkan perbandingan tertentu.Eluen (fasa gerak/mobile) yang umumnya
dipilih berdasarkan ‘trial dan eror” dimasukkan ke dalam tangki kromatograf (chamber)
zat yang akan dianalisa ditotolkan diplat klt menggunakan pipa kapiler dan selanjutnya
dimasukkan pada chamber yang sudah diisi eluen.
Campuran yang akan dipisah berupa larutan yang ditotolkan baik berupa bercak
ataupun pita, setelah plat atau lapisan dimasukkan ke dalam bejana tertutup rapat yang
berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak), pemisahan terjadi selama
perambatan kapiler (pengembangan), selanjutnya senyawa yang tidak berwarna harus
ditampakkan. Pendeteksian bercak hasil pemisahan dapat dilakukan dengan beberapa
cara. Untuk senyawa tak berwarna cara yang paling sederhana adalah dilakukan
pengamatan dengan sinar ultraviolet. Beberapa senyawa organik bersinar atau
berfluorosensi jika disinari dengan sinar ultraviolet gelombang pendek (254 nm) atau
gelombang panjang (366 nm), jika dengan cara itu senyawa tidak dapat dideteksi maka
harus dicoba disemprot dengan pereaksi yang membuat bercak tersebut tampak
a. Fase diam (lapisan penjerap) Kromatografi lapis tipis, fase diam berupa lapisan
tipis yang terdiri atas bahan padat yang dilapiskan pada permukaan penyangga
datar yang biasanya terbuat dari kaca, dapat pula terbuat dari plat polimer atau
logam. Lapisan melekat pada permukaan dengan bantuan bahan pengikat,
biasanya kalsium sulfat atau amilum. Dua sifat yang penting dari fase diam
adalah ukuran partikel dan homogenitasnya, karena adesi terhadap penyokong
sangat tergantung pada kedua sifat tersebut
b. Fase gerak (pelarut pengembang) Fase gerak ialah medium angkut yang terdiri
atas satu atau beberapa pelarut, jika diperlukan sistem pelarut multi komponen,
harus berupa suatu campuran sesederhana mungkin yang terdiri atas maksimum
tiga komponen. Pemisahan senyawa organik selalu menggunakan pelarut
campur. Tujuan menggunakan pelarut campur adalah untuk memperoleh
pemisahan senyawa yang baik. Kombinasi pelarut adalah berdasarkan atas
polaritas masing-masing pelarut, sehingga dengan demikian akan diperoleh
sistem pengembang yang cocok. Pelarut pengembang yang digunakan dalam
kromatografi lapis tipis antara lain: n-heksan, karbontetraklorida, benzen,
kloroform, eter, etilasetat, piridian, aseton, etanol, metanol dan air
c. Harga Rf Mengidentifikasi noda-noda dalam kromatografi lapis tipis sangat
lazim menggunakan harga Rf (Retordation Factor) yang didefinisikan sebagai:
jarak yang ditempuh oleh bercak
𝑅𝑓 = jarak yang ditempuh oleh eluen

Faktor-faktor yang mempengaruhi harga Rf :


a. Struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan Universitas
Sumatera Utara 35
b. Sifat penjerap
c. Tebal dan kerataan dari lapisan penjerap
d. Pelarut dan derajat kemurniannya
e. Derajat kejenuhan uap pengembang dalam bejana
f. Teknik percobaan

KLT dapat mengatasi sampel yang terkontaminasi, seluruh kromatogram dapat


dievaluasi, mempersingkat proses perlakuan sampel sehingga hemat waktu dan biaya.
Kehadiran pengotor atau partikel yang terjerap dalam sorben fase diam tidak menjadi
masalah, karena lempeng hanya digunakan sekali (habis pakai). Deteksi senyawa
menjadi mudah ketika senyawa secara alami dapat berwarna atau berberfluoresensi atau
menyerap sinar UV.
Namun, perlakuan penambahan pereaksi penampak noda dengan penyemprotan
atau pencelupan terkadang diperlukan untuk menghasilkan turunan senyawa yang
berwarna atau berfluoresensi. Pada umumnya senyawa aromatik terkonjugasi dan
beberapa senyawa tak jenuh dapat menyerap sinar UV. Senyawa-senyawa ini dapat
dianalisis dengan KLT dengan fase diam yang diimpregnasi indikator fluoresensi dan
deteksi dapat dilakukan hanya dengan pemeriksaan di bawah sinar UV 254 nm.
Beberapa keuntungan dari kromatografi lapis tipis ini sebagai berikut :
1) Kromatografi lapis tipis banyak digunakan untuk tujuan analisis.
2) Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan perekasi warna,fluorinsasi
atau dengan radiasi menggunakan sinar ultraviolet. T2.
3) Dapat dilakukan elusi secara menaik, atau dengan cara elusi 2 dimensi.merupakan
bercak yang tidak bergerak.
4) Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang
akanditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak.
Penggunaan umum KLT adalah untuk menentukan banyaknya komponen
dalam campuran, identifikasi senyawa, memantau berjalannya suatu reaksi,
menentukan efektivitas pemurnian, menentukan kondisi yang sesuai untuk
kromatografi kolom, serta memantau kromatografi kolom, melakukan screeningsampel
untuk obat.
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3. 1. 1 Alat yang digunakan
1) Bejana kromatogragi yang berisi pelat KLT
2) Pelat KLT

3. 1. 2 Bahan yang digunakan (Sampel dan Zat Pembanding)


Zat pembanding dan sampel yang digunakan dalam percobaan adalah:
1) Sulfadiazin
2) Sulfametoksazol
3) Sulfadimidin
Keterangan: Sampel dalam keadaan campuran.
Eluen:
1) Butanol
2) Metanol
3) N-heksana
4) Klorofom

3.2 Diagram Alir

Eluen

-Diamkan kedalam bejana

-Diamkan 24 jam (bejana besar)/ 30 menit


(bejana kecil)

-Hitung jumlah eluen yang dibutuhkan


Bejana Kromatgrafi Jenuh
Pelat KLT
-Siapkan dengan ukuran tertentu.

-Menentukan garis awal penotolan zar pada


pelat KLT (jarak garis batas) dengan tepian pelat
0,5 – 1,0 cm, garis tidak boleh terendam.

-Melakukan penotolan zat pada garis awal


sebanyak 3x menggunkana pipa kapiler.

-Keringkan dengan bantuan pengering.

-Lakukan proses elusi sampai eluen membasahi


seluruh permukaan fasa diam menuju garis batas
akhir.

-Setelah garis tercapai, mengeluarkan


kromatografi dari dalam bejana.

-Keringkan dengan cara diangin-anginkan.

-Diamati dengan pengamatan bercak dibawah


lampu UV dan pengamatan bercak yang
disediakan.

-Dihitung Rf setiap bercak.

-Analisis jenis sampel.

Dari hasil percobaan, dapat diduga bahwa sampel no.3


mengandung senyawa Sulfametoksazol da Sulfadimidin yang
berfluoresensi pada 254 nm yang meberikan warna kuning gelap.

3.3 Cara Kerja


3. 3. 1. Pelat, Pelarut, Eluen, Penampak Bercak
1) Pelat KLT yang digunakan adalah silica gel yang dilekatkan pada kertas
aluminium dengan ukuran tertentu (sudah disediakan dan disesuaikam dengan
ukuran bejana kromatografi).
2) Pelarut sampel dan pembanding yang digunakan : ammonia dan methanol.
3) Pembuatan larutan pembanding:
a) Untuk Sulfadiazin:
100 mg zat dilarutkan dalam 5 ml amonia pa, kemudian ditambahkan
metanol sampai 25 ml.
b) Untuk Sulfametoksazol da Sulfadimidin:
50 mg zat dilarutkan dalam 5 ml amonia pa, kemudian ditambahkan metanol
sampai 25 ml.
4) Eluen yang digunakan adalah:
a) Eluen A: n-heksana – kloroform – butanol= 1:1:1
b) Eluen B: metanol – kloroform= 5:95
5) Pelarut penampak bercak: larutan p-DAB HCl

3. 3. 2. Prosedur Percobaan
1) Setiap bejana kromatografi harus dijenuhkan terlebih dahulu degan satu jenis eluen
(eluen A atau eluen B), dengan cara memasukkan eluen ke dalam bejana kemudian
didiamkan selama 24jam (bejana besar) atau 30 menit (untuk bejana kecil/mikro).
Hitung jumlah eluen yang dibutuhkan.
2) Pelat KLT disiapkan, dengan ukuran tertentu.
3) Tentukan garis awal peotolan zat pada pelat KLT seperti pada gambar. Garis ini
bergina sebagai acuan untuk tempat penotolan zat, garis ini tidak boleh terendam
dalam eluen. Untuk KLT mikro, jarak garis batas (awal dan akhir) dengan tepi pelat
KLT sekitar 0,5 – 1,0 cm. garis awal dan batas akhir eluen diperjelas dengan pensil
(tidak boleh dengan tinta pulpen).
4) Lakukan penotolan zat (sampel atau pembanding) dilakukan pada garis awal sebanyak
3 kali menggunakan pipa kapiler. Setiap menotolkan zat, harus dikeringkan dengan
bantuan pengering agar diameter bercak penotolan kurang dari 3mm. untuk setiap
jenis pembanding atau sampel menggunakan pipa kapiler yang berbeda.
5) Lakukan proses elusi sampai eluen membasahi seluruh permukaan fasa diam menuju
garis batas akhir.
6) Setelah garis akhir tercapai, kromatogram dikeluarkan dari bejana, kemudian
dikeringkan dengan diangin-anginkan.
7) Kromatogram yang sudah kering diamati dengan cara:
a) Pengamatan bercak di bawah Lampu UV
b) Pengamtan bercak dengan penampak bercak yang disediakan
8) Nilai Rf setiap bercak (pembanding dan sampel) dihitung, kemudian dianalisis jenis
sampelnya.
𝑱𝒂𝒓𝒂𝒌 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒕𝒆𝒎𝒑𝒖𝒉 𝒃𝒆𝒓𝒄𝒂𝒌
𝑹𝒇 =
𝑱𝒂𝒓𝒂𝒌 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒕𝒆𝒎𝒑𝒖𝒉 𝒆𝒍𝒖𝒆𝒏
Rf.1 = (jarak b/jarak p)
Rf.2 = (jarak c/jarak p)
Jarak b dan c diukur dari garis awal (a) sampai titik berat setiap bercak

𝑹𝒇 𝒔𝒂𝒎𝒑𝒆𝒍
𝑹𝒈 =
𝑹𝒇 𝒑𝒆𝒎𝒃𝒂𝒏𝒅𝒊𝒏𝒈
9) Berikan kesimpulan dan saran.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan


No Prosedur Hasil percobaan

1 Bejana kromatografi dijenuhkan dengan eluen, di Eluen A yang dibutuhkan


hitung jumlah eluen yang dibutuhkan sebanyak 6 mL

Eluen B yang dibutuhkan


sebanyak 6 mL.

2 Pelat KLT disiapkan, dengan ukuran tertentu Pelat KLT berukuran 7x4 cm

3 Ditentukan garis awal penotolan zat pada pelat KLT Jarak garis batas awal dan
akhir dengan tepi pelat KLT
adalah 0,5 dan 1 cm

4 Dilakukan penotolan zat pada garis awal sebanyak


3 kali menggunakan pipa kapiler

Sampel dan pembanding 1, 2, 3


ditotolkan

5 Dilakukan proses elusi

Eluen bergerak/merembes ke
bagian atas lempeng
6 Kromatogram yang sudah kering di amati di bawah
lampu UV

Senyawa berfluoresensi warna


kuning di bawah lampu UV
254nm

7 Kromatogram di reaksikan dengan P-DAB HCl

Terlihat bercak berwarna


kuning

8 Nilai Rf dihitung dan di analisis jenis sampelnya Eluen A

Nilai Rf sampel 1= 0,8

Nilai Rf sampel 2= 0,69

Nilai Rf pembanding 1= 0,36

Nilai Rf pembanding 2= 0,8

Nilai Rf pembanding 3= 0,709


Eluen B

Nilai Rf sampel 1= 0,109

Nilai Rf sampel 2= 0,36

Nilai Rf pembanding 1= 0,05

Nilai Rf pembanding 2= 0,36

Nilai Rf pembanding 3= 0,72

Sampel mengandung senyawa


sulfametoksazol dan
sulfadimidin.

4.2 Pembahasan
Pada percobaan ini dilakukan pemisahan senyawa sulfa melalui kromatografi
lapis tipis (KLT). Kromatografi adalah metode yang digunakan untuk pemisahan
komponen dari suatu campuran dimana komponen akan terdistribusi antara 2 fase, yaitu
fase diam dan fase gerak. Pada KLT, pemisahan berlangsung di atas adsorben yang
melekat tipis pada lempeng inert. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk
mengidentifikasi senyawa apa saja yang terkandung dalam sampel. Prinsip dari
pecobaan ini adalah berdasarkan adanya perbedaan kepolaran senyawa.
Fase diam yang digunakan adalah silica gel. Silica gel merupakan serbuk padat
yang bersifat polar, sifat polar ini akan mengadsorpsi senyawa yang juga polar, senyawa
polar akan berada di bagian bawah kromatogram karena teradsorpsi oleh fase diam.
Sedangkan fase gerak yang digunakan ada 2, yang pertama (eluen A) terdiri dari n-
heksan, kloroform, dan butanol dengan perbandingan (1:1:1) dan yang kedua (eluen B)
terdiri dari metanol dan kloroform dengan perbandingan (5:95). Fase gerak yang
digunakan merupakan pelarut organik, karena pelarut organik bersifat volatil/mudah
menguap sehingga kromatogram cepat kering ketika akan di analisis. Fase gerak ini
terdiri dari campuran senyawa yang bersifat polar dan non polar, hanya saja
persentasenya yang berbeda. N-heksan dan kloroform bersifat polar, sedangkan butanol
dan metanol bersifat polar. Eluen A bersifat lebih non polar dibanding eluen B karena
persentase senyawa yang bersifat non polar (n-heksan & kloroform) lebih besar dari
senyawa polar (butanol), begitupun sebaliknya, eluen B bersifat lebih polar dari eluen
A karena persentase senyawa yang bersifat polar (butanol) lebih besar dari senyawa non
polar (kloroform).
Sebelum dilakukan elusi sampel, chamber terlebih dahulu dijenuhkan dengan
fase gerak. Tujuan penjenuhan ini agar sampel maupun pembanding dapat dipartisi
dengan mudah oleh eluen.
Setelah chamber dijenuhkan, dilakukan penotolan sampel pada fase diam.
Pemisahan yang optimal apabila penotolan sampel dilakukan sekecil dan sesempit
mungkin, karena jika terlalu banyak dan lebar maka resolusi akan turun. Selain itu jika
penotolan dilakukan pada tempat yang salah, maka akan menimbulkan bercak yang
menyebar dan puncak ganda. Pada praktikum yang kami lakukan, sampel ditotolkan
sebanyak 3-5 kali menggunakan pipa kapiler agar menghasilkan noda bediameter 3
mm. Pada saat penotolan, sebaiknya tidak lakukan hanya satu kali karena jika dilakukan
satu kali dikhawatirkan pada saat elusi, sampel dan pembanding akan hilang sehingga
tidak akan tampak terlihat pada sinar UV.
Setelah proses pengembangan selesai, kemudian dilakukan deteksi bercak
menggunakan cara fisikokimia, yaitu dengan menggunakan sinar UV dan dengan
direaksikan dengan reagen P-DAB HCl.
Sampel di amati di bawah lampu UV 254, hal ini dikarenakan sampel dan
pembanding yang digunakan tidak berwarna dan noda tidak akan tampak jika dilihat
langsung oleh mata di bawah cahaya normal. Setelah diamati di bawah lampu sinar UV
254, diperoleh 4 noda yang berfluoresensi warna kuning.
P-DAB HCl digunakan sebagai pereaksi karena merupakan reagen khusus
golongan sulfonamida, yang jika direaksikan akan menghasilkan warna kuning-jingga.
Pada kromatogram yang di elusi eluen A, jarak yang di tempuh sampel 1 adalah 4,4 cm,
jarak yang di tempuh sampel 2 adalah 3,8 cm, jarak yang di tempuh pembanding 1
adalah 2 cm, jarak yang di tempuh pembanding 2 adalah 4,4 cm, jarak yang di tempuh
pebanding 3 adalah 3,9 cm. Pada kromatogram yang di elusi eluen B, jarak yang di
tempuh sampel 1 adalah 0,6 cm, jarak yang di tempuh sampel 2 adalah 0,2 cm, jarak
yang di tempuh pembanding 1 adalah 0,3 cm, jarak yang di tempuh pembanding 2
adalah 0,2 cm, jarak yang di tempuh pembanding 3 adalah 0,4 cm.
Dari besar jarak tersebut, dapat dihitung nilai Rf. Rf merupakan perbandingan
jarak yang ditempuh solut dengan yang ditempuh fase gerak. Nilai Rf merupakan
derajat retensi suatu komponen dalam fase diam. Nilai Rf yang besar menandakan
bahwa senyawa tersebut memiliki daya pisah zat terhadap solvent pada kondisi
maksimum, sedangkan nilai Rf yang kecil menandakan bahwa solvent memiliki daya
pisah zat yang minimum. Bila nilai Rf sama maka senyawa tersebut memiliki ciri yang
sama, sedangkan jika nilai Rf berbeda maka senyawa tersebut berbeda. Nilai Rf eluen
A sampel 1 adalah 0,8, Nilai Rf sampel 2 adalah 0,69, Nilai Rf pembanding 1 adalah
0,36, Nilai Rf pembanding 2 adalah 0,8, Nilai Rf pembanding 3 adalah 0,709. Nilai Rf
eluen B sampel 1 adalah 0,109, Nilai Rf sampel 2 adalah 0,36, Nilai Rf pembanding 1
adalah 0,05, Nilai Rf pembanding 2 adalah 0,36, Nilai Rf pembanding 3 adalah 0,72.
Pada eluen A, nilai Rg sampel 1 dengan pembanding 2 adalah 1, nilai Rg sampel
2 dengan pembanding 3 adalah 0,97. Sedangkan pada eluen B, nilai Rg sampel 1 dengan
pembanding 2 adalah 1, nilai Rg sampel 2 dengan pembanding 3 adalah 0,5.
Dapat disimpulkan bahwa senyawa sampel tersebut mengandung 2 senyawa
obat yaitu sulfametoksazol dan sulfadimidin karena Rf antara sampel dengan
pembanding hampir sama dan nilai Rgnya besar.
Adapun faktor kesalahan yang dapat terjadi dari praktikum KLT adalah apabila
konsentrasi dan komposisi larutan yang digunakan tidak sesuai maka akan
mengganggu nilai Rf. Pada saat tidak terbentuknya noda bulat sempurna, hal ini juga
dapat disebakan oleh -senyawa asing dan pencemaran pada pelarut yang digunakan
(wadah yang digunakan kotor) ataupun adanya partikel lain yang menempel pada
lempeng. tidak sesuainya perbandingan eluen yang digunakan berdasarkan prosedur
yang sudah ada, eluen yang digunakan tingkat kepolaranya rendah (semakin polar eluen
maka semakin mudahterserap) ,eluen tidak dijenuhkan sebelum proses KLT, eluen
melewati tanda batas pada lempeng tipis, dan jika Chamber tidak ditutup.
BAB V

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
sampel nomor 3 mengandung senyawa Sulfametoksazol dan Sulfadimidin serta
berflouresensi pada 254 nm yang memberikan warna kuning gelap.

5.2 Saran
Untuk praktikan selanjutnya, diharapkan agar lebih berhati – hati dalam proses elusi
dan pengukuran RF serta RG.
DAFTAR PUSTAKA

Johnson, E. L. 1991. Dasar Kromatografi Cair . Bandung: ITB

Day, R.A dan Underwood, A.L.2001.Analisis Kimia Kuantitatif .Jakarta :Erlangga.


Sudjadi. 1988. Metode Pemisahan .Yogyakarta: UGM Press

Gholib, Ibnu.2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar


Rudi,L. 2010. Penuntun Dasar-Dasar Pemisahan Analitik. Universitas Haluoleo. Kendari

Roy J. Gritter, James M. Bobbit, Arthur E. S. 1991.“Pengantar Kromatografi ”. Penerbit ITB :


Bandung.
LAMPIRAN

1. Foto

Gambar 1. Bahan – bahan yang Gambar 2. Bahan yang digunakan


digunakan (Senyawa Sulfa) (Pelat KLT)

Gambar 3. Alat yang digunakan Gambar 4. Proses elusi dengan

(Chamber) eluen A

Gambar 5. Proses elusi dengan Gambar 6. Hasil flouresensi

eluen B pada kromatogram dengan eluen A


Gambar 7. Hasil penyemprotan P-DAB HCL Gambar 8. Hasil flouresensi

pada kromatogram dengan eluen A pada kromatogram dengan eluen B

Gambar 9. Kromatogram dengan eluen A dan eluen B

2. Perhitungan Rf dan Rg
I. Volume Eluen
1. Eluen A
1
a. N-heksan = 3 𝑥 6 𝑚𝑙 = 2 𝑚𝑙
1
b. CHCL3 = 3 𝑥 6 𝑚𝑙 = 2 𝑚𝑙
1
c. Butanol = 3 𝑥 6 𝑚𝑙 = 2 𝑚𝑙
2. Eluen B
5
a. Metanol = 100 𝑥 4 𝑚𝑙 = 0,2 𝑚𝑙
5
b. CHCL3 = 100 𝑥 4 𝑚𝑙 = 3,8 𝑚𝑙

II. Rf dan Rg pada Eluen A


1. Rf Sampel
Jarak yang ditempuh bercak 4,4 cm
a. Rf Sampel 1 = = 5,5 cm = 0,8 𝑐𝑚
Jarak yang ditempuh eluen
Jarak yang ditempuh bercak 3,8 cm
b. Rf Sampel 2 = = 5,5 cm = 0,69 𝑐𝑚
Jarak yang ditempuh eluen

2. Rf Pembanding 1, Pembanding 2, dan Pembanding 3


a. Rf Pembanding 1
Jarak yang ditempuh bercak 2 cm
(Sulfadiazin) = = 5,5 cm = 0,36 𝑐𝑚
Jarak yang ditempuh eluen
b. Rf Pembanding 2
Jarak yang ditempuh bercak 4,4 cm
(Sulfametoksazol) = = = 0,8 𝑐𝑚
Jarak yang ditempuh eluen 5,5 cm

c. Rf Pembanding 3
Jarak yang ditempuh bercak 3,9 cm
(Sulfadimidin) = = = 0,7 𝑐𝑚
Jarak yang ditempuh eluen 5,5 cm

3. Rg Eluen A
Rf Sampel 1 0,8 cm
a. Rg Sampel 1 = Rf = 0,8 = 1 𝑐𝑚
Pembanding 2 cm
Rf Sampel 1 0,8 cm
Rg Sampel 1 = Rf = 0,7 = 1,14 𝑐𝑚
Pembanding 3 cm
Rf Sampel 2 0,69 cm
b. Rg Sampel 2 = Rf = = 0,86 𝑐𝑚
Pembanding 2 0,8 cm
Rf Sampel 2 0,69 cm
Rg Sampel 2 = Rf = = 0,97 𝑐𝑚
Pembanding 3 0,7 cm

III. Rf dan Rg pada Eluen B


1. Rf Sampel
Jarak yang ditempuh bercak 0,6 cm
a. Rf Sampel 1 = = = 0,1 𝑐𝑚
Jarak yang ditempuh eluen 5,5 cm
Jarak yang ditempuh bercak 0,2 cm
b. Rf Sampel 2 = = 5,5 cm = 0,36 𝑐𝑚
Jarak yang ditempuh eluen

2. Rf Pembanding 1, Pembanding 2, dan Pembanding 3


a. Rf Pembanding 1
Jarak yang ditempuh bercak 0,3 cm
(Sulfadiazin) = = = 0,05 𝑐𝑚
Jarak yang ditempuh eluen 5,5 cm
b. Rf Pembanding 2
Jarak yang ditempuh bercak 0,2 cm
(Sulfametoksazol) = = = 0,36 𝑐𝑚
Jarak yang ditempuh eluen 5,5 cm
c. Rf Pembanding 3
Jarak yang ditempuh bercak 0,4 cm
(Sulfadimidin) = = 5,5 cm = 0,72 𝑐𝑚
Jarak yang ditempuh eluen

3. Rg Eluen A
Rf Sampel 1 0,1 cm
a. Rg Sampel 1 = Rf = 0,36 = 0,27 𝑐𝑚
Pembanding 2 cm
Rf Sampel 1 0,1 cm
Rg Sampel 1 = Rf = 0,72 = 0,13 𝑐𝑚
Pembanding 3 cm
Rf Sampel 2 0,36 cm
b. Rg Sampel 2 = Rf = 0,36 = 1 𝑐𝑚
Pembanding 2 cm
Rf Sampel 2 0,36 cm
Rg Sampel 2 = Rf = 0,72 = 0,5 𝑐𝑚
Pembanding 3 cm