Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan

sifat-sifat yang khas, termasuk bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak

berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan.

Salah satu cara untuk melihat dan mengamati bentuk sel bakteri dalam keadaan

hidup sangat sulit, sehingga untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan

atau pewarnaan sel bekteri, sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah diamati.

Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu

mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecatan. Oleh

karena itu teknik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salahsatu cara yang paling

utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologi.

Mikroba sulit dilihat dengan cahaya karena tidak mengadsorbsi atau

membiaskan cahaya. Alasan inilah yang menyebabkan zat warna digunakan

untuk mewarnai mikroorganisme. Zat warna mengadsorbsi dan membiaskan

cahaya sehingga kontras mikroba dengan sekelilingnya dapat ditingkatkan.

Penggunaan zat warna memungkinkan pengamatan strukur seperti spora, flagela,

dan bahan inklusi yng mengandung zat pati dan granula fosfat (Entjang, 2003)

Melihat dan mengamati bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit, kerena selain

bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil. Untuk mengatasi hal

tersebut maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bekteri, sehingga sel
dapat terlihat jelas dan mudah diamati. Olek karena itu teknik pewarnaan sel

bakteri ini merupakan salahsatu cara yang paling utama dalam penelitian-

penelitian mikrobiologi (Rizki,

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan

1.4 Manfaat
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Perkembangan Mikroorganisme

Mikroorganisme berawal dari ditemukannya mikroskop oleh Anthony van

Leeuwenhoek (1633-1723). Pada mulanya, mikroskop temuan tersebut masih

sangat sederhana, hanya dilengkapi satu lensa dengan jarak fokus yang sangat

pendek, tetapi dapat menghasilkan bayangan jelas yang setara dengan perbesaran

50-300 kali. Pengamatan yang dilakukan oleh Leeuwenhoek di antaranya

pengamatan terhadap struktur mikroskopis biji, jaringan tumbuhan, dan

invertebrata kecil. Penemuan terbesar pada zamannya dan diketahui sebagai

dunia mikroorganisme, yang disebut sebagai animalculus atau hewan kecil.

Animalculus adalah berbagai jenis mikroorganisme yang sekarang diketahui

sebagai protozoa, algae, khamir, dan bakteri (Widodo, 2015).

2.2 Morfologi Bakteri

Secara harafiah, morfologi berarti pengetahuan tentang bentuk (morphos).

morfologi dalam cabang ilmu biolgi adalah ilmu tentang bentuk organisme,

terutama hewan dan tumbuhan dan mencakup bagian-bagiannya. Morfologi

bakteri dapat dibedakan menjadi dua yaitu, morfologi makroskopik (colonial

morfologi) dan morfologi mikroskopis (seluler morfologi).

Morfologi mikroskopik adalah karakterisitik bekteri yang dilhat melalui

pengamatan dibawah mikrsokop. Bentuk bakteri sangat bervariasi, tetapi secara

umum ada 3 tipe, yaitu :


1. Bentuk bulat (kokus)

Gambar 2.1 Bentuk Bakteri Kokus

Bentuk coccus (coccus = sferis atau tidak bulat betul) dapat di

bedakan lagi menjadi :

a. Monococcus : berbentuk bulat, satu-satu. Contohnya gonorhoe.

b. Dipolococcus : berbentuk bulat, bergandengan dua-dua. Misalnya

diplococcus pneumonia.

c. Staphylococcus : berbentuk bulat, tersusun seperti untaian buah anggur.

Misalnya Staphyllococcus aureus, Staphyllococcus epidermidis,

Staphyllococcus saprofiticoccus.

d. Streptococcus : berbentuk bulat, bergandengan spserti rantai, sebagai

hasil pembelahan sel kesatu atau dua arah dalam satu garis. Misalnya

Streptococcus feacalis, Streptococcus lactis, dll.

e. Sarcina : bebentuk bulat, terdiri dari 8 sel yang yang tersusun dalam

bentuk kubus sebagai hasil pembelahan sel ke 3 arah. Misalnya :

Thiosarcina rosea (Sagulani dkk, 2018).


f. Tetracoccus atau gaffkya : berbentuk bulat tersusun dari 4 sel berbentuk

bulat tersusun dari 4 sel berbentuk bujur sangkar, sebagai hasil

pembelahan sel kedua arah. Misalnya Pediococcus (Sagulani dkk,

2018).

2. Bentuk batang (basil)

Gambar 2.2 Bentuk Bakteri Basil

Bakteri bentuk batang dapat dibedakan ke dalam bentuk batang

panjang dan batang pendek, dengan ujung datar atau lengkung. Bentuk

batang dapat dibedakan lagi atas bentuk batang yang mempunyai garis

tengah sama atau tidak sama di seluruh bagian panjangnya. Bakteri bentuk

batang dapat terdiri atas :

a. Sel tunggal (monobasil), contohnya : Escherichia coli.

b. Bergandengan dua-dua (diplobacil.

c. Sebgai rantai (streptobacil), atau sebagai jaringan tiang (palisade),

contohnya : Bacillus anthraxis (Sagulani dkk, 2018).


3. Bentuk lengkung atau spiral

Gambar 2.3 Bentuk Bakteri spiral

a. Bentuk koma (vibrio) jika lengkunganya kurang dari setengah

lingkaran. Contohnya vibrio vholera, penyabab penyakit kolera.

b. Bentuk spiral jika lengkungannya lebih dari setengah lingkaran.

Contohnya Spirillium minor yang menyebabkan demam dengan

perantara gigitan tikus atau hewan pengerat lainnya.

c. Bentuk spiroseta : berupa spiral yang halus dan lentur, lebih berkelok

dengan ujung lebih runcing. Contohnya Treponema pollidum,

penyebab penyakit sifiilis (Sagulani dkk, 2018).

2.2 Definisi Pewarnaan sederhana

Pewarnaan sederhana yaitu pewarnaan dengan menggunakan satu macam zat

warna dengan tujuan hanya untuk melihat bentuk sel bakteri dan untuk

mengetahui morfologi dan susunan selnya . pewarnaan ini dapat menggunakan

pewarnaan basa pada umumnya antara lain kristal violet , metylen blue, karbol,

fuchsin, dan safranin (lay ,1994). Pewarnaan sederhana merupakan teknik


pewarnaan yang paling banyak digunakan. Disebut sederhana karena hanya

menggunakan satu jenis zat warna untuk mewarnai organisme tersebut.

Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarnaan- pewarnaan sederhana

karena sitoplasamanya bersifat basofilik (suka dengan basa). Zat-zat warna yang

digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkolin. Dengan

pewarnaan sederhana dapat mengetahui bentuk dan rangkaian sel-sel bakteri.

Pewarna basa yang biasa digunakan untuk pewarnaan sederhana ialah metilen

biru, kristal violet, dan karbol fuehsin yang mana pewarnaan sederhana ini dibagi

lagi menjadi dua jenis pewarnaan.

2.3 Prinsip Pewarnaan Sederhana

Pada pewarnaan sederhana, apusan bakteri diwarnai dengan suatu pereaksi

tunggal, yang menghasilkan warna yang sangat kontraks antara organisme

dengan latar belakangnya. Tujuan pewarnaan sederhana yaitu untuk

mengelusidasi morfologi dan susunan sel-sel bakteri. Pewarna. Peawrna-pewarna

basa yang paling sering digunakan yaitu metilen biru, Kristal violet, dan karbol

fuksin. (Sagulani dkk, 2018).

2.4 Macam-Macam Pewarnaan

1. Pewarnaan Sederhana

Pemberian warna pada bakteri atau jasad renik lain dengan

menggunakan larutan tunggal suatu pewarna pada lapisan tipis atau olesan

yang sudah di fiksasi, dinamakan pewarnaan sederhana. Lapisan tadi

dimasukkan dalam larutan pewarna selama jangka waktu tertentu, kemudian


larutan itu dicuci dengan air dan kaca objeknya dikeringkan dengan kertas

penghisap. Sel akan terwarnai merata, kecuali bagian-bagian tertentu akan

tampak terwarnai lebih gelap (Widodo, 2015).

2. Pewarnaan Diferensial

Prosedur pewarnaan yang dapat menghasilkan perbedaan di antara sel-

sel mikroorganisme atau bagian-bagian sel mikroorganisme disebut teknik

pewarnaan diferensial. Teknik ini menggunakan lebih dari satu larutan zat

pewarna (Widodo, 2015).

3. Pewarnaan Gram

Salah satu teknik pewarnaan diferensial yang penting dan paling luas

digunakan untuk bakteri ialah pewarnaan Gram. Dalam proses ini olesan

bakteri yang terfiksasi dikenai larutan-larutan ungu kristal, larutan yodium,

alkohol (sebagai bahan pemucat), dan safranin atau beberapa pewarna

tandingan lain yang sesuai. Hasil pewarnaan bakteri dengan metode Gram ini

menghasilkan dua kelompok bakteri yaitu:

Bakteri Gram positif yaitu bakteri yang mempertahankan zat pewarna

ungu kristal dan karenanya tampak ungu tua. Kelompok yang lain adalah

bakteri Gram negatif, yaitu bakteri yang akan kehilangan ungu kristal ketika

dicuci dengan alkohol, dan sewaktu diberi pewarna tandingan dengan warna

merah safranin, tampak berwarna merah. Perbedaan warna bakteri menjadi

ungu dan merah disebabkan oleh perbedaan struktur kimiawi bakteri tersebut.
Teknik pewarnaan Gram ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1884 oleh

seorang ahli Bakteriologi Denmark, Christian Gram (Widodo, 2015).


BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu Dan Tempat

Adapun waktu dan tempat dalam pelaksanaan praktikum Bakteriologi ini

yaitu dilaksanakan pada hari Senin tanggal, 18 Maret 2019 pukul 13.00 s/d selesai

WITA di laboratorium mikrobiologi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES)

Bina Mandiri Gorontalo.

3.2 Pra Analitik

Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan pada tanggal, 18 Maret 2019. Alat

dan bahan yang digunakan yaitu :

1. Pembakar busen

2. Baki pewarnaan

3. Kertas lensa

4. Kaca objek

5. Ose inokulasi

6. Mikroskop

7. Kertas bibulous

8. Metilen biru

9. Kristal violet

10. Karbol fuksin


11. Biakan Escherichia coli dan Bacilius cereus berumur 24 jam dan agar

miring nutrient serta biakan staphylococcus aureus berumur 24 jam dalam

kaldu nutrient.

3.3 Analitik

1. Siapkan empat kaca objek bersih

2. dengaan menggunakan teknik steril, siapkan masing-masing apusan dan tiga

organisme dan pada satu kaca objek yang tersisa buatlah apusan yang terdiri

atas campuran S Aureus dan E Coli. Lakukan tahap ini denan menempatkan

setetes air di atas kaca objek, dan kemudian pindahkan masing-masing

organisme secara terpicah dari tetesan air dengan ose yang steril dan

didinginkan. Homogenkan dan sebarkan organisme tersebut menggunakan

ose inakulasi dengan gerakan melingkar

3. Biarkan apusan mengering di udara dan kemudian lakukan fiksasi panas

dengan cara seperti biasa

4. Genangi apusan perlahan-liahan dengan kristal violet dan biarkan selama 1

menit

5. Bilaslah apusan dengan air keran secara perlahan-lahan

6. Genangi apusan secara perilahan dengan peluntur iodin Gram dan biarkan

selama 1 menit

7. Bilas dengan air keran secara perlahan

8. Pucatkan warna dengan etil alkohol 95 % Catatan: jangan memucatkan

secara berlebihan Tambahkan pereaksi setetes demi seletes sampai aliran


alkohol yang menetes hampir jemih, hanya menunjukkan warna biru yang

sangat tipis

9. Bilas dengan air keran secara perlahan

10. Berikan pewarna tandingan dengan safranin selama 45 detk

11. Bilas dengan air mengalir secara perlahan

12. Keringkan dengan kertas bibulous dan amal di bawah lensa objektif-celup

minyak.
3.2

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan pada tanggal, 18 Maret 2019

didapatkan hasil sebagai berikut :

No. Gambar Keterangan

4.2 Pembahasan
BAB V

PENUTUP

1.1 Kesimpulan

1.2 Saran

Dalam melaksanakan praktikum mengenai pewarnaan sederhana, diharapkan

ketika dalam pemberian larutan warna dilakukan secara hati-hati dan teliti, dan

harus sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan.


DAFTAR PUSTAKA

Widodo, L. U. 2015. Artikel Sejarah, Ruang Lingkup, dan Perkembangan


Mikrobiologi. Di akses 23 Maret 2019.
Dwidjoseputro. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta.
Hadioetomo, Ratna, S. 1990. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek Teknik Dan
Prosedur Laboratorium. Gramedia. Jakarta
Waluyo, lud. 2010. Buku Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Umum.. UMM
Malang.
Sagulani, Roniadi dkk. 2018. Buku Saku TLM (Teknologi Laboratorium Medik). Edisi
Pertama. Di akses tanggal 23 Maret 2019.