Anda di halaman 1dari 59

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Telinga merupakan organ tubuh yang memiliki urat syaraf yang cukup peka
dan sensitif, terlebih ketika masih kanak-kanak. Tulang serta sistem syaraf yang
belum sempurna pada masa kanak-kanak ini menyebabkan mereka mudah
terkena penyakit atau infeksi di telinga. Padahal telinga mempunyai fungsi
sangat penting dalam kehidupan seseorang.
Fungsi telinga adalah menerima gelombang suara dan menghantarkannya
menjadi sebuah pesan ke otak. Gelombang suara masuk ke telinga kemudian
menembus saluran telinga, dan memukul gendang telinga sehingga
menimbulkan getaran. Getaran dari gendang menyebabkan tulang kecil di
telinga bergerak dan pergerakan ini menimbulkan pengiriman gelombang suara
ke telinga bagian dalam.
Menurut perkiraan WHO pada tahun 1995 terdapat 120 juta penderita
gangguan pendengaran telinga tengah di seluruh dunia. Jumlah tersebut
mengalami peningkatan yang sangat bermakna pada tahun 2001 menjadi 250
juta orang; 222 juta diantaranya adalah penderita dewasa sedangkan sisanya ( 28
juta ) adalah anak berusia di bawah 15 tahun. Dari jumlah tersebut kira kira 2/3
diantaranya berada di negara berkembang. Peningkatan jumlah penderita
gangguan pendengaran telinga tengah ini kemungkinan disebabkan oleh
peningkatan insidens, identifikasi yang lebih baik atau akibat meningkatnya usia
harapan hidup.

B.Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk memberikan pengalaman nyata tentang Asuhan Keperawatan pada
gangguan telinga tengah
2. Tujuan Khusus
Secara khusus '' Asuhan Keperawatan pada gangguan telinga tengah '', ini
disusun supaya :
a) Perawat dapat mengetahui tentang pengertian, penyebab, klasifikasi,
tanda dan gejala, patofisiologi, pathway, pemeriksaan penunjang,
penatalaksanaa, serta komplikasi dari gangguan telinga tengah .
b) Perawat dapat memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan
syndrom steven johnson.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Anatomi Fisiologi Telinga


Telinga merupakan sebuah organ yang mampu mendeteksi/mengenal suara &
juga banyak berperan dalam keseimbangan dan posisi tubuh. Telinga pada hewan
vertebrata memiliki dasar yang sama dari ikan sampai manusia, dengan beberapa
variasi sesuai dengan fungsi dan spesies.
Setiap vertebrata memiliki satu pasang telinga, satu sama lainnya terletak
simetris pada bagian yang berlawanan di kepala, untuk menjaga keseimbangan dan
lokalisasi suara.
Suara adalah bentuk energi yang bergerak melewati udara, air, atau benda
lainnya, dalam sebuah gelombang. Walaupun telinga yang mendeteksi suara, fungsi
pengenalan dan interpretasi dilakukan di otak dan sistem saraf pusat. Rangsangan
suara disampaikan ke otak melalui saraf yang menyambungkan telinga dan otak
(nervus vestibulokoklearis).

 Bagian telinga
Telinga terdiri dari tiga bagian: telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.
Telinga dalam terdiri dari labirin osea (labirin tulang), sebuah rangkaian rongga
pada tulang pelipis yang dilapisi periosteum yang berisi cairan perilimfe & labirin
membranasea, yang terletak lebih dalam dan memiliki cairan endolimfe.
Di depan labirin terdapat koklea atau rumah siput. Penampang melintang
koklea trdiri aras tiga bagian yaitu skala vestibuli, skala media, dan skala timpani.
Bagian dasar dari skala vestibuli berhubungan dengan tulang sanggurdi melalui
jendela berselaput yang disebut tingkap oval, sedangkan skala timpani
berhubungan dengan telinga tengah melalui tingkap bulat.
Bagian atas skala media dibatasi oleh membran vestibularis atau membran
Reissner dan sebelah bawah dibatasi oleh membran basilaris. Di atas membran
basilaris terdapat organo corti yang berfungsi mengubah getaran suara menjadi
impuls. Organo corti terdiri dari sel rambut dan sel penyokong. Di atas sel rambut
terdapat membran tektorial yang terdiri dari gelatin yang lentur, sedangkan sel
rambut akan dihubungkan dengan bagian otak dengan saraf vestibulokoklearis.
Selain bagian pendengaran, bagian telinga dalam terdapat indera
keseimbangan. Bagian ini secara struktural terletak di belakang labirin yang
membentuk struktur utrikulus dan sakulus serta tiga saluran setengah lingkaran
atau kanalis semisirkularis. Kelima bagian ini berfungsi mengatur keseimbangan
rubuh dan memiliki sel rambut yang akan dihubungkan dengan bagian
keseimbangan dari saraf vestibulokoklearis

 Anatomi Telinga Tengah


Telinga tengah terdiri dari:
o Gendang Telinga,
o Tuba Eustachii,
o Cavum Timpani,
o Mastoid

a. Gendang Telinga
Gendang telinga disebut juga membrana timpani terdiri atas:
 Pars Flacida terdiri 2 lapis yaitu lapisan kutaneus dan lapisan mukosa,
 Pars Tensa terdiri dari 3 lapisan yaitu 2 lapisan seperti pars flacida namun
ditengahnya terdapat lapisan jaringan fibrous. Lapisan fibrous terdiri dari
stratum longitudinal dan stratum radial, yang kemudian membentuk anulus
fibrosus. Plika timpani anterior dan posterior melekat pada kolum malei.

b. Tuba Eustachii
Tuba Eustachii terdiri dari:
 Bagian tulang selalu terbuka, 1/3 lateral, dan
 Bagian tulang rawan dan membran selalu tertutup 2/3 medial.
 Tuba Eustachii terbuka akibat kontraksi dari otot:
 m. Tensor veli palatine,
 m Levator veli Paltini,
 M. salphingo faringeus,
 M. tensor timpani Mastoid terdiri dari selule dan antrum, gunanya sebagai
udara cadangan , sering disebut sebagai retrotimpani.

c. Kavum Timpani
Kavum Timpani merupakan runag pipi dengan volume 0,25 cc. Isinya:
1. Viscera Timpani terdiri dari:
a) Tulang pendengaran,
b) Ligamenum malei lateralis, ligamentum malei superioe dan ligamentum
imkudis posterior,
c) otot: m. tensor timpani, m. stapeideus yang terlihat adalah tendonya
sedangkan ototnya terletak dalam tulang.
d) Saraf korda timpani.
2. Mesenterium Timpani adalah lipatan mukosa yang menggantung viscera
timpani. Terdapat 15 mesenterium timpani, gunanya membeti makan viscera,
memperluas permukaan sehingga daya resorbsi tambah besar.

B. Macam-macam Gangguan Pada Telinga Tengah


TINNITUS
1. PENGERTIAN
Tinnitus adalah suatu gangguan pendengaran dengan keluhan perasaan
mendengar bunyi tanpa rangsangan bunyi dari luar. Keluhannya bisa berupa bunyi
mendenging, menderu, mendesis, atau berbagai macam bunyi lainnya. Gejalanya
bisa timbul terus menerus atau hilang timbul. (Putri Amalia dalam artikel Gangguan
Pendengaran ”Tinnitus”.FK Universitas Islam Indonesia).
Tinnitus merupakan gangguan pendengaran dengan keluhan selalu mendengar
bunyi, namun tanpa ada rangsangan bunyi dari luar. Sumber bunyi tersebut berasal
dari tubuh penderita itu sendiri, meski demikian tinnitus hanya merupakan gejala,
bukan penyakit, sehingga harus di ketahui penyebabnya. (dr. Antonius HW SpTHT
dalam artikel Suara Keras Sebabkan Telinga Mendenging. Indopos Online).
2. ETIOLOGI
Penyebab terjadinya tinnitus sangat beragam, beberapa penyebabnya antara
lain:
 Kotoran yang ada di lubang telinga, yang apabila sudah di bersihkan rasa
berdenging akan hilang,
 Infeksi telinga tengah dan telinga dalam,
 Gangguan darah,
 Tekanan darah yang tinggi atau rendah, dimana hal tersebut merangsang
saraf pendengaran,
 Penyakit meniere’s Syndrome, dimana tekanan cairan dalam rumah siput
meningkat, menyebabkan pendengaran menurun, vertigo, dan tinnitus,
 Keracunan obat,
 Penggunaan obat golongan aspirin, dsb.

3. PATOFISIOLOGI
Menurut frekuensi getarannya, tinnitus terbagi menjadi dua macam, yaitu:
o Tinnitus Frekuensi rendah (low tone) seperti bergemuruh.
o Tinnitus frekuensi tinggi (high tone) seperti berdenging.
Tinnitus biasanya dihubungkan dengan tuli sensorineural dan dapat juga terjadi
karena gangguan konduksi, yang biasanya berupa bunyi dengan nada rendah. Jika
di sertai dengan inflamasi, bunyi dengung akan terasa berdenyut (tinnitus pulsasi)
dan biasanya terjadi pada sumbatan liang telinga, tumor, otitis media, dll.
Pada tuli sensorineural, biasanya timbul tinnitus subjektif nada tinggi
(4000Hz). Terjadi dalam rongga telinga dalam ketika gelombang suara berenergi
tinggi merambat melalui cairan telinga, merangsang dan membunuh sel-sel rambut
pendengaran maka telinga tidak dapat berespon lagi terhadap frekuensi suara.
Namun, jika suara keras tersebut hanya merusak sel-sel rambut tadi maka akan
terjadi tinnitus, yaitu dengungan keras pada telinga yang di alami oleh
penerita.(penatalaksanaan penyakit dan kelainan THT edisi 2 thn 2000 hal 100).
Susunan telinga kita terdiri atas liang telinga, gendang telinga, tulang-tulang
pendengaran, dan rumah siput. Ketika terjadi bising dengan suara yang melebihi
ambang batas, telinga dapat berdenging, suara berdenging itu akibat rambut getar
yang ada di dalam rumah siput tidak bisa berhenti bergetar. Kemudian getaran itu
di terima saraf pendengaran dan diteruskan ke otak yang merespon dengan
timbulnyadenging.
Kepekaan setiap orang terhadap bising berbeda-beda, tetapi hampir setiap orang
akan mengalami ketulian jika telinganya mengalami bising dalam waktu yag cukup
lama. Setiap bising yang berkekuatan 85dB bisa menyebabkan kerusakan. Oleh
karena itu di Indonesia telah di tetapkan nilai ambang batas yangn di perbolehkan
dalam bidang industri yaitu sebesar 89dB untuk jangka waktu maksimal 8 jam.
Tetapi memang implementasinya belum merata. Makin tinggi paparan bising,
makin berkurang paparan waktu yang aman bagi telinga.

4. TANDA DAN GEJALA


Pendengaran yang terganggu biasanya di tandai dengan mudah marah,
pusing, mual dan mudah lelah. Kemudian pada kasus tinnitus sendiri terdapat gejala
berupa telinga berdenging yang dapat terus menerus terjadi atau bahkan hilang
timbul. Denging tersebut dapat terjadi sebagai tinnitus bernada rendah atau tinggi.
Sumber bunyi di ataranya berasal dari denyut nadi, otot-otot dala rongga tellinga
yang berkontraksi, dan juga akibat gangguan saraf pendengaran.

5. PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG


 Anamnesis merupakan hal utama dan terpenting dalam menegakkan diagnosa
tinnitus.
 Pemerikasaan audio-metri nada murni (pure tone audiometry). Pada
pemeriksaan nada murni gamabaran khas berupa takik (notch) pada frekuensi
4kHz.
 Pemeriksaan fisik THT dan otoskopi harus secara rutin di lakukan, dan juga
pemeriksaan penala, audiometri nada murni, audiometri tutur, dan bila perlu
melakukan ENG.

6. DIAGNOSIS
Tinnitus merupakan suatu gejala klinik penyakit telinga, sehingga untuk
memberikan pengobatannya perlu di tegakkan diagnosa yang tepat sesuai dengan
penyebab, dan biasanya memanng cukup sulit untuk di ketahui.
Untuk memastikan diagnosis perlu di tanyakan riwayat terjadinya kebisingan,
perlu pemerikasaan audio-metri nada murni (pure tone audiometry). Pada
pemeriksaan nada murni gamabaran khas berupa takik (notch) pada frekuensi 4kHz.
Anamnesis merupakan hal utama dan terpenting dalam menegakkan diagnosa
tinnitus. Hal yang perlu di gali adalah seperti kualitas dan kauantitas tinnitus,
apakah ada gejala lain yangmenyertai, seperti vertigo, gangguan pendengaran, atau
gejala neurologik. Pemeriksaan fisik THT dan otoskopi harus secara rutin di
lakukan, dan juga pemeriksaan penala, audiometri nada murni, audiometri tutur,
dan bila perlu melakukan ENG.

7. PENCEGAHAN
Pencegahan terhadap tinnitus adalah sebagai berikut:
 Hindari suara-suara yang bising, jangan terlalu sering mendengarkan
suara bising(misalnya diskotik, konser musik, walkman, loudspeaker,
telpon genggam).
 Batasi pemakaian walkman, jangan mendengar dengan volume amat
maksimal.
 Gunakan pelindung telinga jika berada di tempat bising.
 Makanlah makanan yang sehat dan rendah garam.
 Minumlah vitamin yang berguna bagi saraf untuk melakukan
perbaikan, seperti ginkogiloba, vit A dan E, dan lain-lain.

8. PENATALAKSANAAN
Pada umumnya penatalaksanaan gejala tinitus dibagi dalam 5 cara, yaitu:
 Elektrofisiologik, yaitu memberi stimulus elektroakustik (rangsangan
bunyi) dengan intensitas suara yang lebih keras dari tinnitusnya, dapat
dengan alat bantu dengar atau tinnitus masker.
 Psikologik, yaitu dengan memberikan konsultasi psikologik untuk
meyakinkan pasien bahwa penyakitnya tidakmembahayakan dan bisa
disembuhkan, serta mengajarkan relaksasi dengan bunyi yang harus
didengarnya setiap saat.
 Terapi medikametosa, sampai saat ini belum ada kesepakatan yang jelas
diantaranya untuk meningkatkan aliran darah koklea, transquilizer,
antidepresan sedatif, neurotonik, vitamin dan mineral.
 Tindakan bedah, dilakukan pada tumor akustik neuroma. Namun,
sedapat mungkin tindakan ini menjadi pilihan terakhir, apabila
gangguan denging yang diderita benar-benar parah.
 Pasien juga di berikan obat penenang atau obat tidur, untuk membantu
memenuhi kebutuhan istirahat, karena penderita tinnitus biasanya
tidurnya sangat terganggu oleh tinnitus itu sendiri, sehingga perlu di
tangani, juga perlu di jelaskan bahwa gangguat tersebut sulit di tanangi,
sehingga pasien di anjurkan untuk beradaptasi dengan keadaan tersebut,
karena penggunaan obat penenang juga tidak terlalu baik dan hanya
dapat di gunakan dalam waktu singkat.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TINITUS


1. PENGKAJIAN
a. Aktivitas
 Gangguan keseimbangan tubuh,
 Mudah lelah.
b. Sirkulasi
 Hipotensi , hipertensi, pucat (menandakan adanya stres).
c. Nutrisi
 Mual
d. Sistem pendengaran
 Adanya suara abnormal(dengung)
e. Pola istirahat
 Gangguan tidur/ Kesulitan tidur
PENGKAJIAN FOKUS
Data subjektif:
a. Mudah lelah
b. Mual
c. Gangguan tidur/kesulitan tidur
d. Adanya suara abnormal ( dengung )
Data objektif:
a. Klien kelihatan pucat
b. Gangguan keseimbangan tubuh

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Cemas b/d kurangnya informasi tentang gangguan pendengaran (tinnitus).
b. Gangguan istirahat dan tidur b/d gangguan pendengaran.
c. Resiko kerusakan interaksi sosial b/d hambatan komunikasi.
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
No Tujuan/kriteria hasil Intervensi Rasional
1. Setelah dilakukan Kaji tingkat mengetahui
tindakan selama 2x24 jam kecemasan / rasa takut. tingkat kecemasan/rasa takut
diharapkan : pasien dalam menetukan
Tidak terjadi tindakan selanjutnya.
kecemasan. mengetahui
pengetahuan seberapa jauh pengetahuan
klien terhadap penyakit Kaji tingkat dan pengalaman pasien serta
meningkat. pengetahuan klien tentang pemahanaman tentang
gangguan yang di alaminya. penyakit yang di derita.
pasien
mengetahui tentang penyakit
yang dideritanya
pasien akan
Berikan penyuluhan merasa tenang dan rasa takut
tentang tinnitus. berkurang dengan penyakit
yang di derita.
Yakinkan klien mengurangi
bahwa penyakitnya dapat di ketegangan dan membuat
sembuhkan. perasaan pasien lebih
nyaman dan tenang
Anjurkan klien
untuk rileks, dan menghindari
stress.

Setelah dilakukan
2. tindakan selama 2x24 jam
diharapkan pasien:
Gangguan tidur dapat mengetahui
teratasi atau teradaptasi. tingkat dan kualitas tidur
pasien.
Kaji tingkat dapat
kesulitan tidur. memperbaiki dan
meningkatkan kualitas tidur
Kolaborasi dalam pasien.
pemberian obat penenang/ obat Rasional:
tidur. membantu pasien
bedaradaptasi dan
Setelah dilakukan Anjurkan klien menentukan solusi untuk
3. tindakan keperawatan untuk beradaptasi dengan gangguan tersebut.
selama 2x24 jam gangguan tersebut.
diharapkan :

mengetahui
tingkat pendengaran pasien
untuk menentukan tindakan
Anjurkan klien selanjutnya.
menggunakan alat bantu dengar menentukan
setiap di perlukan jika tingkat gangguan yang
Kaji seberapa parah dialami pasien.
gangguan pendengaran yang di pesan /anjuran
alami klien. yang disampaikan oleh
Jika mungkin bantu perawat kepada pasien dapat
klien memahami komunikasi diterima dengan baik oleh
nonverbal. pasien.
memudahkan
pasien berkomunikasi
Kaji kesulitan dengan keluarga atau
mendengar. perawat.
4. IMPLEMENTASI
DIAGNOSA 1
a. Mengkaji tingkat kecemasaan / rasa takut
b. Mengkaji tingkat pengetahuan klien tentang gangguan yang dialaminya
c. Memberikan penyuluhan tentang tinnitus
d. Menyakinkan klien bahwa penyakitnya dapat disembuhkan
e. Menganjurkan klien untuk rileks dan menghindari stres

DIAGNOSA 2
a. Mengkaji tingkat kesulitan tidur
b. Mengkolaborasi dalam pemberian obat penenang / obat tidur
c. Menganjurkan klien untuk beradaptasi dengan gangguan tersebut

DIAGNOSA 3
a. Mengkaji kesulitan mendengar
b. Mengkaji seberapa parah gangguan pendengaran yang dialami klien
c. Membantu klien memahami komunikasi nonverbal
d. Menganjurkan klien menggunakan alat Bantu dengar setiap diperlukan jika
tersedia

5. EVALUASI
a. Tidak terjadi kecemasan,
b. Pengetahuan klien terhadap penyakit meningkat.
c. Gangguan tidur dapat teratasi atau teradaptasi
d. Resiko kerusakan interaksi sosial dapat di minimalkan
VERTIGO
1. DEFINISI
Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar.
Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau
lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik
akibat gangguan alat keseimbangan tubuh Vertigo mungkin bukan hanya terdiri
dari satu gejala pusing saja, melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri
dari gejala somatik (nistagmus, unstable), otonomik (pucat, peluh dingin, mual,
muntah) dan pusing. Dari (http://www.kalbefarma.com).
Vertigo adalah Rasa gerakan dari tubuh/lingkungan sekitarnya diikuti gejala
susunan saraf otonom dan lainnya sebagai akibat gangguan alat keseimbangan
tubuh (Gowers).
Vertigo adalah suatu keadaan dimana penderita mengalami sensasi pergerakan
berupa sensasi gerak bumi berputar (objektif) atau merasa diri berputar (subjektif).

2. ETIOLOGI
Menurut (Burton, 1990 : 170) yaitu:
a. Lesi vestibular
o Fisiologik
o Labirinitis
o Menière
o Obat ; misalnya quinine, salisilat.
o Otitis media
o “Motion sickness”
o “Benign post-traumatic positional vertigo”
b. Lesi saraf vestibularis
o Neuroma akustik
o Obat; misalnya streptomycin
o Neuronitis vestibular
c. Lesi batang otak, serebelum atau lobus temporal
o Infark atau perdarahan pons
o Insufisiensi vertebro-basilar
o Migraine arteri basilaris
o Sklerosi diseminata
o Tumor
o Siringobulbia
o Epilepsy lobus temporal

Menurut (http://www.kalbefarma.com}
1. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer:
a) Telinga bagian luar : serumen, benda asing.
b) Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani, otitis media
purulenta akuta, otitis media dengan efusi, labirintitis, kolesteatoma,
rudapaksa dengan perdarahan.
c) Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika, trauma, serangan
vaskular, alergi, hidrops labirin (morbus Meniere ), mabuk gerakan,
vertigo postural.
d) Nervus VIII: infeksi, trauma, tumor.
e) Inti
f) Vestibularis: infeksi, trauma, perdarahan, trombosis arteria serebeli
posterior inferior, tumor, sklerosis multipleks.

2. Penyakit SSP :
a) Hipoksia Iskemia otak. : Hipertensi kronis, arterios-klerosis, anemia,
hipertensi kardiovaskular, fibrilasi atrium paroksismal, stenosis dan
insufisiensi aorta, sindrom sinus karotis, sinkop, hipotensi ortostatik,
blok jantung.
b) Infeksi: meningitis, ensefalitis, abses, lues.
c) Trauma kepala/ labirin.
d) Tumor.
e) Migren.
f) Epilepsi.
3. Kelainan endokrin: hipotiroid, hipoglikemi, hipoparatiroid, tumor medula
adrenal, keadaan menstruasi-hamil-menopause.
4. Kelainan psikiatrik: depresi, neurosa cemas, sindrom hiperventilasi, fobia.
5. Kelainan mata: kelainan proprioseptik.
6. Intoksikasi.

3. PATOFISIOLOGI
Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang
disampaikan ke pusat kesadaran. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini
adalah susunan vestibuler atau keseimbangan, yang secara terus menerus
menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. Susunan lain yang berperan
ialah sistem optik dan pro-prioseptik, jaras-jaras yang menghubungkan nuklei
vestibularis dengan nuklei N. III, IV dan VI, susunan vestibuloretikularis, dan
vestibulospinalis.
Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh
reseptor vestibuler, visual, dan proprioseptik; reseptor vestibuler memberikan
kontribusi paling besar, yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan
yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik.
Dalam kondisi fisiologis/normal, informasi yang tiba di pusat integrasi alat
keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler, visual dan proprioseptik kanan
dan kiri akan diperbandingkan, jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar,
akan diproses lebih lanjut. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata
dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. Di samping itu orang menyadari
posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. Jika fungsi alat
keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak
fisiologis, atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan, maka proses
pengolahan informasi akan terganggu, akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala
otonom; di samping itu, respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga
muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus, unsteadiness, ataksia saat
berdiri/ berjalan dan gejala lainnya (http://www.kalbefarma.com).
4. KLASIFIKASI
Berdasarkan gejala klinisnya, vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok:
1. Vertigo paroksismal, yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak,
berlangsung beberapa menit atau hari, kemudian menghilang sempurna; tetapi
suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. Di antara serangan, penderita
sama sekali bebas keluhan. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi:
 Yang disertai keluhan telinga: yang termasuk kelompok ini adalah: Morbus
Meniere, Arakhnoiditis pontoserebelaris, Sindrom Lermoyes, Sindrom
Cogan, tumor fossa cranii posterior, kelainan gigi/ odontogen.
 Yang tanpa disertai keluhan telinga; termasuk di sini adalah : Serangan
iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris, Epilepsi, Migren ekuivalen,
Vertigo pada anak (Vertigo de L'enfance), Labirin picu (trigger labyrinth).
 Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi, termasuk di sini adalah
: Vertigo posisional paroksismal laten, Vertigo posisional paroksismal
benigna.
 Vertigo kronis, yaitu vertigo yang menetap, keluhannya konstan tanpa
(Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 47) serangan akut, dibedakan
menjadi:
 Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika, meningitis Tb,
labirintitis kronis, Lues serebri, lesi labirin akibat bahan ototoksik, tumor
serebelopontin.
 Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri, ensefalitis pontis, sindrom pasca
komosio, pelagra, siringobulbi, hipoglikemi, sklerosis multipel, kelainan
okuler, intoksikasi obat, kelainan psikis, kelainan kardiovaskuler, kelainan
endokrin.
 Vertigo yang dipengaruhi posisi : Hipotensi ortostatik, Vertigo servikalis.
 Vertigo yang serangannya mendadak/akut, kemudian berangsur-angsur
mengurang, dibedakan menjadi:
 Disertai keluhan telinga : Trauma labirin, herpes zoster otikus, labirintitis
akuta, perdarahan labirin, neuritis n.VIII, cedera pada auditiva
interna/arteria vestibulokoklearis.
 Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis, sindrom arteria vestibularis
anterior, ensefalitis vestibularis, vertigo epidemika, sklerosis multipleks,
hematobulbi, sumbatan arteria serebeli inferior posterior. Ada pula yang
membagi vertigo menjadi:
 Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler.
 Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual.

5. MANIFESTASI KLINIS
Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan
reaksi dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah,
lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lemah, puyeng (dizziness), nyeri
kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung,
gelisah, lidah merah dengan selaput tipis.

6. PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG


a. Pemeriksaan fisik:
o Pemeriksaan mata
o Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh
o Pemeriksaan neurologik
o Pemeriksaan otologik
o Pemeriksaan fisik umum.
b. Pemeriksaan khusus:
o ENG
o Audiometri dan BAEP
o Psikiatrik
c. Pemeriksaan tambahan :
o Laboratorium
o Radiologik dan Imaging
o EEG, EMG, dan EKG.
7. PENATALAKSANAAN MEDIS
Terapi menurut (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 48), terdiri dari :
1. Terapi kausal
2. Terapi simtomatik
3. Terapi rehabilitatif

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN VERTIGO

1. PENGKAJIAN
a. Aktivitas / Istirahat
o Letih, lemah, malaise
o Keterbatasan gerak
o Ketegangan mata, kesulitan membaca
o Insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala
o Sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau
karena perubahan cuaca.
b. Sirkulasi
o Riwayat hypertensi
o Denyutan vaskuler, misal daerah temporal
o Pucat, wajah tampak kemerahan.
c. Integritas Ego
o Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu
o Perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan depresi
o Kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala
o Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik)
d. Makanan dan cairan
o Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang, keju,
alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus, hotdog, MSG (pada
migrain).
o Mual/muntah, anoreksia (selama nyeri).
o Penurunan berat badan
e. Neurosensoris
o Pening, disorientasi (selama sakit kepala)
o Riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke.
o Aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus.
o Perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras, epitaksis.
o Parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore
o Perubahan pada pola bicara/pola pikir
o Mudah terangsang, peka terhadap stimulus.
o Penurunan refleks tendon dalam
o Papiledema
f. Nyeri/ kenyamanan
o Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal migrain,
ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma, sinusitis.
o Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah
o Fokus menyempit
o Fokus pada diri sendiri
o Respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah.
o Otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.
g. Keamanan
o Riwayat alergi atau reaksi alergi
o Demam (sakit kepala)
o Gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis
o Drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus)
h. Interaksi sosial
o Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang berhubungan
dengan penyakit.
i. Penyuluhan / pembelajaran
o Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga
o Penggunaan alcohol/obat lain termasuk kafein. Kontrasepsi oral/hormone,
menopause.
PENGKAJIAN FOKUS
a. Data objektif
 Muntah
 Test pendengaran: tuli konduktif, neural atau campuran
 Jalan limbung/ sepoyongan
 Mata tampak sayu
 Aktivitas menurun
b. Data subjektif
 Mual (nausea)
 Rasa pusing
 Perasaan berputar (diri berputar/ subjektif) atau benda di sekitar berputar
(objektif).

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/
tekanan syaraf, vasospressor, peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan
nyeri yang dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola tidur,
gelisah.
b. Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan
relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.
c. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi
dan kurang mengingat ditandai oleh memintanya informasi, ketidak-adekuatannya
mengikuti instruksi.

3.INTERVENSI
No Tujuan / kriteria hasil Intervensi rasional
dx.
1. Setelah dilakukan Pantau tanda- Mengenal dan
tindakan selama 2x24 jam tanda vital, intensitas/skala memudahkan dalam
diharapkan nyeri hilang atau nyeri melakukan tindakan
berkurang. keperawatan.
istirahat untuk
Anjurkan klien mengurangi intesitas nyeri
istirahat ditempat tidur posisi yang
tepat mengurangi
Atur posisi penekanan dan mencegah
pasien senyaman mungkin ketegangan otot serta
mengurangi nyeri.
relaksasi
mengurangi ketegangan
dan membuat perasaan
Ajarkan teknik lebih nyaman
relaksasi dan napas dalam. analgetik
berguna untuk mengurangi
nyeri sehingga pasien
Kolaborasi untuk menjadi lebih nyaman.
pemberian analgetik.

Mengenal
sejauh dan
2. mengidentifikasi
Setelah dilakukan Kaji kapasitas penyimpangan fungsi
tindakan 2x24 jam diharapkan fisiologis yang bersifat fisiologis tubuh dan
koping individu menjadi lebih umum. memudahkan dalam
adekuat dengan kriteria hasil : melakukan tindakan
keperawatan
- mengidentifikasi klien akan
prilaku yang tidak efektif merasakan kelegaan
- mengungkapkan setelah mengungkapkan
kesadaran tentang kemampuan Sarankan klien segala perasaannya dan
koping yang di miliki untuk mengekspresikan menjadi lebih tenang
- megkaji situasi saat ini perasaannya. agar klien
yang akurat mengetahui kondisi dan
- menunjukkan pengobatan yang
perubahan gaya hidup yang diterimanya, dan
diperlukan atau situasi yang Berikan memberikan klien harapan
informasi mengenai dan semangat untuk pulih.
penyebab sakit kepala, membuat klien
penenangan dan hasil yang merasa lebih berarti dan
diharapkan. dihargai.

Dekati pasien
dengan ramah dan penuh
perhatian, ambil keuntungan megetahui
dari kegiatan yang dapat seberapa jauh pengalaman
diajarkan. dan pengetahuan klien dan
3. keluarga tentang
Setelah dilakukan penyakitnya.
tindakan 2x24 jam diharapkan
pasien paham mengenai Anjurkan pasien dengan
kondisi dan kebutuhan untuk selalu memperhatikan mengetahui penyakit dan
pengobatan dengan kriteria sakit kepala yang dialaminya kondisinya sekarang, klien
hasil: dan faktor-faktor yang dan keluarganya akan
berhubungan.
- melakukan prosedur Berikan merasa tenang dan
yang diperlukan dan penjelasan pada klien tentang mengurangi rasa cemas.
menjelaskan alasan dari suatu penyakitnya dan kondisinya untuk
tindakan. sekarang. mengurangi kecemasan
- memulai klien serta menambah
perubahan gayahidup yang pengetahuan klien tetang
diperlukan dan ikut serta dalam penyakitnya.
regimen perawatan. Diskusikan mengetahui
penyebab individual dari seberapa jauh pemahaman
sakit kepala bila diketahui. klien dan keluarga serta
menilai keberhasilan dari
tindakan yang dilakukan.
Minta klien dan agar klien
keluarga mengulangi kembali mampu melakukan dan
tentang materi yang telah merubah posisi/letak tubuh
diberikan. yang kurang baik.
Dengan
memperhatikan faktor
Diskusikan yang berhubungan klien
mengenai pentingnya posisi dapat mengurangi sakit
atau letak tubuh yang normal. kepala sendiri dengan
tindakan sederhana, seperti
berbaring, beristirahat pada
Kaji tingkat saat serangan.
pengetahuan klien dan
keluarga tentang
penyakitnya.

IMPLEMENTASI
DIAGNOSA 1
 Memantau tanda – tanda vital,intensitas atau skala nyeri
 Menganjurkan klien istirahat di tempat tidur
 Mengatur posisi pasien senyaman mungkin
 Mengajarkan teknik relaksasi dan napas dalam
 Mengkolaborasi untuk pemberian analgetik

DIAGNOSA 2
 Mengkaji kapasitas fisiologis yang bersifat umum
 Menyarankan klien untuk mengekspresikan perasaannya
 Memberikan informasi mengenai penyebab sakit kepala,penenangan dan
hasil yang diharapkan.
 Mendekati pasien dengan ramah dan penuh perhatian,ambil keuntungan dari
kegiatan yang dapat diajarkan.

DIAGNOSA 3
 Mengkaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
 Memberikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya
sekarang.
 Mendiskusikan penyebab individu dari sakit kepala bila diketahui.
 Meminta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah
diberikan.
 Mendiskusikan mengenai pentingnya posisi atau letak tubuh yang normal.
 Menganjurkan pasien untuk selalu memperhatikan sakit kepala yang
dialaminya dan faktor-faktor yang berhubungan.

5.EVALUASI
Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana tentang kesehatan
pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara
berkesinambungan, dengan melibatkan pasien, keluarga dan tenaga kesehatan
lainnya. (Carpenito, 1999:28) Tujuan Pemulangan pada vertigo adalah:
a. Nyeri dapat dihilangkan atau diatasi.
b. Perubahan gaya hidup atau perilaku untuk mengontrol atau mencegah
kekambuhan.
c. Memahami kebutuhan atau kondisi proses penyakit dan kebutuhan
terapeutik.

DIZZINESS
1. PENGERTIAN
Isitlah dizzy/pening (atau dizziness/kepeningan) dapat menjadi sulit untuk
didefinisikan karena ia dapat berarti hal-hal yang berbeda pada orang-orang yang
berbeda. Kepeningan (Dizziness) adalah perasaan pening/pusing merujuk pada
mabuk, perasaan lemah dan hampir pingsan, atau ia merujuk pada vertigo (dimana
ruangan atau orang nampaknya berputar). Kepeningan adalah perasaan dari
kelemahan dan pingsan seperti jika anda hampir pingsan.

2. ETIOLOGI
a. Tekanan Darah Rendah
b. Vertigo
c. Hipotensi Postural Atau Orthostatik
d. Tekanan Darah Tinggi
e. Diabetes
f. Penyakit-Penyakit Endokrin
g. Hiperventilasi
h. Kondisi-Kondisi Jantung
i. Vasovagal syncope

3. PATOFISIOLOGI
Setiap orang biasanya akan mengalami sensasi dizziness. Biasanya ringan,
sementara, tidak penting serta sering berhubungan dengan sebab-sebab yang jelas,
seperti minum alcohol, atau pada waktu permainan tertentu. Tetapi dizzness dapat
persisten dan hebat sehingga penderitanya mencari bantuan pengobatan. Untuk
membantu menetukan penyebab dizziness dan cara mengelolanya, terdapat daftar
riwayat penyakit sekarang dan dahulu yang relevan dengan keluhan ini, gejala-
gejala, tanda-tanda, pertimbangan terapi.
Gangguam system vestibular menyebabkan vertigo dan ketidakseimbangan,
atau hanya terjadi ketidakseimbangan. Vertigo suatu keadaan yang penderitanya
mengalami sensasi pergerakan. Pada vertigo objektif, suatu bentuk vertigo yag
lebih lazim dan terjadi dengan mata terbuka, pasien merasakan seakan-akan
lingkunannya bergerak; pada vertigo subjektif ia merasakan dirinya bergerak di
dalam suatu ruangan (mata tertutup). Bila vertigo adalah sensasi utama sorang yang
mengalami dizziness, biasanya karena gangguan system vestibular, maka sensasi
selalu disertai dengan berbagai tingkat ketidakseimbangan dan nistagmus.

4. TANDA DAN GEJALA


a. Kepeningan adalah perasaan dari kelemahan dan pingsan seperti jika anda
hampir pingsan. Gejala-gejalanya cenderung berumur pendek, tergantung pada
penyebabnya. Mungkin ada mual, berkeringat, dan penglihatan yang kabur yang
berhubungan.
b. Jika penyebabnya adalah dehidrasi atau perdarahan, gejala-gejalanya
mungkin ditimbulkan dengan berdiri secara cepat dan mungkin menghilang dengan
berbaring.
c. Gangguan-gangguan irama jantung (aritmia jantung) mungkin terjadi tanpa
peringatan dan mungkin berhubungan dengan palpitasi-palpitasi. Ini mungkin
datang dan pergi atau ia mungkin bertahan. Denyut jantung mungkin dirasa seperti
terlalu cepat (seringkali digambarkan sebagai berdebar), terlalu perlahan, dan/atau
tidak teratur (irregular).
d. Vertigo adalah sensasi dari berputar dan mungkin hadir tanpa peringatan
dan berhubungan dengan mual dan muntah. Pasien-pasien dengan persoalan-
persoalan telinga bagian dalam mungkin tidak mampu untuk bergerak tanpa
membangkitkan gejala-gejala.
e. Pasien-pasien dengan penyebab cerebellar dari vertigo sepertistroke atau
tumor, mungkin mempunyai persoalan-persoalan koordinasi yang berhubungan
atau kesulitan berjalan.

5. PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG


a. Tanda-tanda Vital: Mengambil tekanan darah dan angka nadi pasien
berbaring dan berdiri (disebut tanda-tanda vital orthostatic atau postural) seringkali
akan megindikasi status cairan dari tubuh. Pada pasien-pasien yang ter-dehidrasi
atau mempunyai perdarahan, tanda-tanda vital mungkin meningkat pada posisi
yang berubah. Bagaimanapun, pasien-pasien yang sedang meminum obat-obat
seperti beta blockers tidak akan membangkitkan angka nadi yang meningkat.
b. Pemeriksaan fisik yang disesuaikan: Sering, pemeriksaan fisik disesuaikan
pada pasien berdasarkan informasi yang disediakan dalam sejarah medis pasien.
Contohnya, seorang wanita dengan periode menstruasi yang berat mungkin
memerlukan pemeriksaan pelvis, atau seorang pasien dengan batuk dan sesak napas
mungkin memerlukan pemeriksaan yang lebih teliti dari jantung dan paru-paru.
c. Studi-studi pencitraan dan tes-tes darah: Keperluan untuk studi-studi
pencitraan dan/atau tes-tes darah akan tergantung pada kekhawatiran-kekhawatiran
yang dipunyai oleh dokter dan pasien dalam hubungan dengan penyebab dari
kepeningan. Tes-tes umum mungkin diminta termasuk:
 Complete blood count (CBC) untuk menyaring anemia atau infeksi.
 Evaluasi elektrolit-elektrolit.
 Tes gula darah.
 Tes fungsi ginjal.
 Tes tiroid.
X-rays, CT scans, dan MRI mungkin diindikasikan tergantung pada keperluan-
keperluan pasien.

6. PENATALAKSANAAN
a. Dalam penatalaksanaan sakit kepala sangat diperlukan peranan pasien untuk
mengungkapkan segala hal yang dikeluhkan dan dirasakan saat ini. Karena sakit
kepala sangat subyektif, artinya sakit yang dirasakan oleh satu individu tidak sama
dengan individu yang lain. Ada beberapa orang tahan terhadap sakit kepala yang
dirasakan sehingga tidak menganggu aktifitasnya sehari-hari, dilain pihak ada pula
yang tidak tahan sama sekali sehingga harus berbaring di tempat tidur padahal
intensitas sakit yang dirasakan adalah sama.
b. Catatlah setiap serangan sakit kepala yang anda rasakan ke dalam sebuah
buku untuk membantu mengidentifikasi penyebab dan pencetus dari sakit kepala
yang dialami. Pada saat sakit kepala timbul, catat tanggal dan jam mulainya sakit
kepala, apa saja yang anda lakukan dalam 24 jam terakhir, berapa lama anda tidur
pada malam sebelumnya, apa yang anda lakukan dan pikirkan sesaat sebelum sakit
kepala timbul, stress apa yang anda alami saat itu, berapa lama sakit kepala
dirasakan, dan apa yang anda lakukan untuk menghentikannya. Setelah lewat
beberapa kali serangan, anda bisa melihat adanya sebuah pola dari sakit kepala yang
anda rasakan.
c. Dari pola yang ada, anda dan dokter bisa mendiskusikan kira-kira apa yang
menjadi biang kerok dari sakit kepala yang di rasakan sehingga penyebab itu bisa
anda hindari. Dari sini anda sudah bisa menanggulangi sakit kepala tanpa
memerlukan obat sama sekali.
d. Terkadang sakit kepala yang dirasakan bisa berkurang bila mata ditutup dan
kepala di relaksasi. Teknik relaksasi ini dapat membantu pada beberapa orang
terutama bagi mereka yang menderita sakit kepala yang disebabkan oleh stress.
Pijatan dengan air hangat atau balsem hangat pada leher bagian belakang cukup
efektif untuk mengurangi keluhan pada mereka yang menderita sakit kepala tegang.
e. Minumlah paracetamol, aspirin atau ibuprofen bila tindakan diatas telah di
lakukan namun tidak memberikan hasil yang memuaskan. Cuma yang harus
diingat, jangan memberikan aspirin pada anak-anak karena bisa menyebabkan
sindroma Reyes. Untuk migren bisa diobati dengan aspirin, naproxen, atau obat
migren yang banyak di jual di warung-warung. Bila keluhan tidak berkurang juga,
maka anda harus segera menemui dokter untuk mendapatkan penanganan lebih
lanjut.
f. Sebagian besar obat yang dipergunakan untuk mengobati sakit kepala
sangat tidak bersahabat dengan lambung, sehingga sangat dianjurkan untuk
meminum obat tersebut setelah makan. Bila memang sebelumnya anda menderita
maag maka harus dipilih obat yang betul-betul aman untuk lambung.

ASKEP KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DIZZINESS


1. PENGKAJIAN
a. Aktivitas / Istirahat
 Letih, lemah, malaise.
 Keterbatasan gerak.
 Ketegangan mata, kesulitan membaca.
 Insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala.
 Sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau
karena perubahan cuaca.
b. Sirkulasi
- Riwayat hypertensi
- Denyutan vaskuler, misal daerah temporal
- Pucat, wajah tampak kemerahan.
c. Integritas Ego
- Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu
- Perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan depresi
- Kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala
- Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik)
d. Makanan dan cairan
- Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang,
keju, alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus,
hotdog, MSG (pada migrain).
- Mual/muntah, anoreksia (selama nyeri)
- Penurunan berat badan
e. Neurosensoris
- Pening, disorientasi (selama sakit kepala)
- Riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke.
- Aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus.
- Per ubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras, epitaksis.
- Parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore
- Perubahan pada pola bicara/pola pikir
- Mudah terangsang, peka terhadap stimulus.
f. Nyeri/ kenyamanan
- Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal migrain,
ketegangan otot, tumor otak, pascatrauma, sinusitis.
- Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah
- Fokus menyempit
- Fokus pada diri sndiri
- Respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah.
- Otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.
g. Keamanan
- Riwayat alergi atau reaksi alergi
- Demam (sakit kepala)
- Gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis
- Drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus)
h. Interaksi sosial
- Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang
berhubungan dengan penyakit.
i. Penyuluhan / pembelajaran
- Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga
- Penggunaan alcohol/obat lain termasuk kafein. Kontrasepsi
oral/hormone, menopause.

PENGKAJIAN FOKUS
Data subjektif
- Mual
- Muntah
- Anoreksia
- Insomnia

Data objektif
- Pucat,wajah tampak kemerahan
- Penurunan berat badan
- Hipertensi
- Depresi

2. DIAGNOSA
1. Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/
tekanan syaraf, vasospasme, peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan
nyeri yang dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola tidur,
gelisah.
2. Ansietas b/d ancaman,atau perubahan status kesehatan.
3. Gangguan istirahat dan tidur b/d gangguan rasa nyeri yang di rasakan

3. INTERVENSI KEPERAWATAN
No Tujuan & kriteria Intervensi Rasional
Dx hasil
1. Setelah dilakukan Kolaborasi Mengenal d
tindakan keperawatan untuk pemberian analgetik. memudahkan dalam melakuk
selama 2x24 jam Anjurkan klien tindakan keperawatan.
diharapkan nyeri hilang istirahat ditempat tidur istirahat un
/berkurang. Dengan Atur posisi mengurangi intesitas nyeri.
kriteria hasil: pasien senyaman mungkin.
posisi yang te
mengurangi penekanan d
- klien Ajarkan teknik mencegah ketegangan otot se
mengungkapkan rasa relaksasi dan napas dalam mengurangi nyeri.
nyeri berkurang Pantau tanda- relaksasi mengura
- tanda-tanda vital tanda vital, intensitas/skala ketegangan dan memb
normal nyeri. perasaan lebih nyaman
2. - pasien tampak 0 analgetik bergu
tenang dan rileks untuk mengurangi nyeri sehing
pasien menjadi lebih nyaman.

Instruksikan
pasien dalam aspek program
Setelah dilakukan pengobatan Memandukan
tindakan keperawatan Beri informasi intervensi terapeutik d
selama 2x24 jam mengenai dizziness dan partisipatif dalam perawatan d
diharapkan pasien penanganannya. keterampilan koping pada m
mengalami penurunan lalu dapat mengurangi ansietas
ansietas dengan kriteria Meningkatkan
hasil: pengetahuan memba
Cemas Dorong pasien mengurangi ansietas.
berkurang atau hilang. mendiskusikan ansietas dan
gali keprihatinan mengenai Meningkatkan
serangan vertigo. kesadaran dan pemaham
Ajarkan pasien hubungan antara tingkat antie
teknik penatalaksanaan dan perilaku.
stress atau lakukan rujukan
3. bila perlu. Memperbaiki
Beri upaya manajemen stress, mengura
kenyamanan dan hindari frekwensi dan beratnya serang
aktivitas yang menyebebkan vertigo sebagai penyeb
stress dizziness.
Kaji tingkat situasi penuh str
ansietas. dapat memperberat gejala kond
ini.
Setelah dilakukan pengetahuan pas
tindakan keperawatan Bantu pasien membantu mengurangi ansieta
selama 2x24 jam mengidentifikasi
diharapakan gangguan keterampilan koping yang
tidur dapat teratasi telah dilakukan dengan
dengan kriteria hasil berhasil pada masa lalu. mengetahui ting
:Gangguan tidur dapat dan kualitas tidur pasien.
teratasi atau teradaptasi Rasional: da
Anjurkan klien memperbaiki dan meningkatk
untuk beradaptasi dengan kualitas tidur pasien.
gangguan tersebut. Rasional: memba
Kolaborasi pasien bedaradaptasi d
dalam pemberian obat menentukan solusi un
penenang/ obat tidur. gangguan tersebut.

Kaji tingkat
kesulitan tidur.

IMPLEMENTASI
DIAGNOSA 1
- Memantau tanda – tanda vital,intensitas/skala nyeri
- Menganjurkan klien istirahat ditempat tidur
- Mengatur posisi pasien senyaman mungkin
- Mengajarkan teknik relaksasi dan napas dalam
- Mengkolaborasi untuk pemberian analgetik
DIAGNOSA 2
- Mengkaji tingkat ansietas
- Memberikan informasi mengenai dizzinnes dan penanganannya.
- Mendorong pasien mendiskusikan ansietas dan gali keperihatinan
serangan vertigo.
- Mengajarkan pasien teknik penatalaksanaan stres atau lakukan rujukan
bila perlu
- Memberikan upaya kenyamanan dan hindari aktivitas yang
menyebabkan stres
- Menginstruksikan pasien dalam aspek program pengobatan
DIAGNOSA 3
- Mengkaji tingkat kesulitan tidur
- Mengkolaborasi dalam pemberian obat penenang / obat tidur
- Menganjurkan klien untuk beradaptasi dengan gangguan tersebut.

5. EVALUASI
Nyeri dapat dihilangkan atau diatasi.
Perubahan gaya hidup atau perilaku untuk mengontrol atau mencegah
kekambuhan.
Memperlihatkan penurunan ansietas atau tidak mengalami ansietas .
Memperlihatkan kenyamanan.
Gangguan tidur dapat di atasi

SINDROM MENIERE

1. PENGERTIAN
Penyakit Meniere adalah suatu penyakit yang ditandai oleh serangan
berulang vertigo (perasaan berputar), tuli dan tinnitus (telinga
berdenging).http://sehat-enak.blogspot.com/2010/01/penyakit-meniere.html.
Penyakit meniere adalah suatu kelainan labirin yang etiologinya belum
diketahui dan mempunyai trias gejala yang khas,yaitu gangguan
pendengaran,tinnitus dan serangan vertigo (Kapita Selekta Edisi 3).
Penyakit Meniere adalah suatu sindrom yang terdiri dari serangan vertigo,
tinnitus, dan berkurangnya pendengaran secara progresif.

2. ETIOLOGI
Penyebab penyakit Meniere tidak diketahui namun terdapat berbagai teori,
termasuk pengaruh neurokimia dan hormonal abnormal pada aliran darah yang
menuju ke labirin, gangguan elektrolit dalam cairan labirin, reaksi alergi, dan
gangguan autoimun.
Penyakit Meniere masa kini dianggap sebagai keadaan dimana terjadi
ketidakseimbangan cairan telinga tengah yang abnormal yang disebabkan oleh
malapsorbsi dalam sakus endolimfatikus. Namun, ada bukti menunjukkan bahwa
banyak orang yang menderita penyakit Meniere mengalami sumbatan pada duktus
endolimfatikus. Apapun penyebabnya, selalu terjadi hidrops endolimfatikus, yang
merupakan pelebaran ruang endolimfatikus. Baik peningkatan tekanan dalam
sistem ataupun ruptur membran telinga dalam dapat terjadi dan menimbulkan gejala
Meniere.
3. PATOFISIOLOGI
Gejala klinis penyakit meniere disebabkan oleh adanya hidrofs endolimfa
pada koklea dan vestibulum. Hidrops yang terjadi mendadak dan hilang timbul
diduga disebabkan oleh: 1. meningkatnya tekanan hidrostatik pada ujung arteri 2.
berkurangnya tekanan osmotic di dalam kapiler 3. meningkatnya tekanan osmotic
ruang ekstrakapiler 4. jalan keluar sakus endolimfatikus tersumbat, sehingga
terjadi penimbunan cairan endolimfa.
Pada pemeriksaan histopatologi tulang temporal, ditemukan pelebaran dan
perubahan morfologi pada membran reissner. Terdapat penonjolan ke dalam skala
vestibule, terutama di daerah apeks koklea helikotrema. Sakulus juga mengalami
pelebaran yang dapat menekan utrikulus. Pada awalnya pelebaran skala media
dimulai dari daerah apeks koklea, kemudian dapat meluas mengenai bagian tengah
dan basal koklea. Hal ini yang dapat menjelaskan terjadinya tuli saraf nada rendah
pada penyakit meniere.

4. TANDA DAN GEJALA


a. Merasa berputar tiap kali berdiri
b. Mual dan muntah
c. Telinga terasa penuh
d. Pendengaran berkurang
e. Telinga berdenging

5. KLASIFIKASI
a. Penyakit Meniere vestibular
Penyakit Meniere vestibular ditandai dengan adanya vertigo episodic
sehubungan dengan tekanan dalam telinga tanpa gejala koklear.
Tanda dan gejala:
- Vertigo hanya bersifat episodic
- Penurunan respons vestibuler atau tak ada respons total pada telinga
yang sakit
- Tak ada gejala koklear
- Tak ada kehilangan pendengaran objektif
- Kelak dapat mengalami gejala dan tanda koklear

b. Penyakit Meniere klasik


Tanda dan gejala:
- Mengeluh vertigo
- Kehilangan pendengaran sensorineural berfluktuasi
- tinitus
- Penyakit Meniere koklea

c. Penyakit Meniere koklea


Penyakit Meniere koklea dikenali dengan adanya kehilangan pendengaran
sensorineural progresif sehubungan dengan tnitus dan tekanan dalam telinga tanpa
temuan atau gejala vestibuler.
Tanda dan gejala:
- Kehilangan pendengaran berfluktuasi
- Tekanan atau rasa penuh aural
- Tinnitus
- Kehilangan pendengaran terlihat pada hasil uji
- Tak ada vertigo
- Uji labirin vestibuler normal
- Kelak akan menderita gejala dan tanda vestibuler.

6. MANIFESTASI KLINIS
- Gejalanya berupa seangan vertigo tak tertahankan episodic yang
sering disertai mual dan/atau muntah, yang berlangsung selama 3-24 jam dan
kemudian menghilang secara perlahan.
- Secara periodik, penderita merasakan telinganya penuh atau
merasakan adanya tekanan di dalam telinga.
- Kehilangan pendengaan sensorineural progresif dan
fluktuatif.Tinnitus bisa menetap atau hilang-timbul dan semakin memburuk
sebelum, setelah maupun selama serangan vertigo.
- Pada kebanyakan penderita, penyakit ini hanya menyerang 1
telinga dan pada 10-15% penderita, penyakit ini menyerang kedua telinga.

7. PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG


Pemeriksaan fisik biasanya normal kecuali pada evaluasi nervus cranial
ke VIII. Garputala (uji weber) akan menunjukkan lateralisasi ke sisi berlawanan
dengan sisi yang mengalami kehilangan pendengaran (sisi yang terkena penyakit
Meniere).
Audiogram biasanya menunjukkan kehilangan pendengaran
sensorineural pada telinga yang sakit. Kadang audiogram dehidrasi dilakukan di
mana pasien diminta meminum zat penyebab dehidrasi, seperti gliserol atau urea,
yang secara teoritis dapat menurunkan jumlah hidrops endolimfe.
Elektrokokleografi menunjukkan abnormalitas pada 60% pasien yang
menderita penyakit meniere.
Elektronistagmogram bisa normal atau menunjukkan penurunan
respons vestibuler.
CT scan atau MRI kepala
Elektroensefalografi
Stimulasi kalorik

8. PENATALAKSANAAN
a. Diet
Banyak pasien dapat mengontrol gejala dengan mematuhi diet rendah garam
(2000 mg/hari). Jumlah natrium merupaka salah satu faktor yang mengatur
keseimbangan cairan dalam tubuh. Retensi natrium dan ciran dapat memutuskan
keseimbangan halus antara endolimfe dan perilimfe di dalam telinga dalam.
Garam Natrium terdapat secara alamiah dalam bahan makanan atau
ditambahkan kemudian pada waktu memasak atau mengolah. Makanan berasal dari
hewan biasanya lebih banyak mengandung garam Natrium daripada makanan
berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Garam Natrium yang ditambahkan ke dalam makanan biasanya berupa ikatan
: natrium Chlorida atau garam dapur, Mono Sadium Glumat atau vetsin, Natrium
Bikarbonat atau soda kue, Natrium Benzoat atau senyawa yang digunakan untuk
mengawetkan daging seperti cornet beef.
Makanan yang diperbolehkan adalah:
1. Semua bahan makanan segar atau diolah tanpa garam natrium, yang
berasal dari tumbuh-tumbuh, seperti :
Beras, kentang, ubi, mie tawar, maezena, hunkwee, terigu, gula pasir.
Kacang-kacangan dan hasil oleh kacang-kacangan seperti kacang hijau,
kacang merah, kacang tanah, kacang tolo, tempe, tahu tawar, oncom.
Minyak goreng, margarin tanpa garam.
Sayuran dan buah-buahan.
Bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, jahe, kemiri,
kunyit, kencur, laos, lombok, salam, sereh, cuka.
2. Bahan makanan berasal dari hewan dalam jumlah terbatas
3. Minuman seperti the, sirup, sari buah.
Makanan yang perlu dibatasi:
1. Semua bahan makanan segar atau diolah tanpa garam Natrium, yang
berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti :
Roti biskuit, kraker, cake dan kue lain yang dimasak dengan garam dapur
dan atau soda.
Dendeng, abon, corned beef, daging asap, bacon, ham, ikan asin, ikan
pindang, sarden, ebi, udang kering, telur asing, telur pindang.
Keju, Keju kacang tanah (pindakas).
Margarin, mentega.
Acar, asinan sayuran dalam kaleng.
Asinan buah, manisan buah, buah dalam kaleng.
Garam dapur, vetsin, soda kue, kecap, maggi, terasi, petis, taoco, tomato
ketcup.
2. Otak, ginjal, paru-paru, jantung dan udang mengandung lebih banyak
natrium. Sebaiknya bahan makanan ini dihindarkan.
Kafein dan nikotin merupakan stimulan vasoaktif, dan menghindari kedua zat
tersebut dapat mengurangi gejala. Ada kepercayaan bahwa serangan vertigo dipicu
oleh reaksi alergi terhadap ragi dalam alkohol dan bukan karena alkoholnya.
a. Farmakologis
Tindakan pengobatan untuk vertigo terdiri atas antihistamin, seperti meklizin
(antivert), yang menekan sistem vestibuler. Tranquilizer seperti diazepam (valium)
dapat digunakan pada kasus akut untuk membantu mengontrol vertigo, namun
karena sifat adiktifnya tidak digunakan sebagai pengobatan jangka panjang.
Antiemetik seperti supositoria prometazin (phenergan) tidak hanya mengurangi
mual dan muntah tapi juga vertigo karena efek antihistaminnya. Diuretik seperti
Dyazide atau hidroklortiazid kadang dapat membantu mengurangi gejala penyakit
Meniere dengan menurunkan tekanan dalam sistem endolimfe. Pasien harus
diingatkan untuk makan-makanan yang mengandung kalium, seperti pisang, tomat,
dan jeruk ketika menggunakan diuretik yang menyebabkan kehilangan kalium.
b. Penatalaksanaan Bedah
Dekompresi sakus endolimfatikus atau pintasan secara teoritis akan
menyeimbangkan tekanan dalam ruangan endolimfe. Pirau atau drain dipasang di
dalam sakus endolimfatikus melalui insisi postaurikuler.
Obat ortotoksik, seperti streptomisisn atau gentamisisn, dapat diberikan kepada
pasien dengan injeksi sistemik atau infus ke telinga tengah dan dalam.
Prosedur labirinektomi dengan pendekatan transkanal dan transmastoid juga
berhasil sekitar 85% dalam menghilangkan vertigo, namun fungsi auditorius telinga
dalam juga hancur.
Pemotongan nervus nervus vestibularis memberikan jaminan tertinggi sekitar
98% dalam menghilngkan serangan vertigo. Dapat dilakukan translabirin (melali
mekanisme pendengaran) atau dengan cara yang dapat mempertahankan
pendengaran (suboksipital atau fosa kranialis medial), bergantung pada derajat
hilangnya pendengaran. Pemotongan saraf sebenarnya mencegah otak menerima
masukan dari kanalis semisirkularis.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN SINDROM


MINIERE
1. PENGKAJIAN
Data Subyektif:
mengeluh telinga kanan sering berdenging
perasaan penuh di bagian dalam telinga.
Beberapa bulan ini sering terbangun dari tidur karena merasa berputar
(vertigo) selama kira-kira 30 menit dan hilang sendiri
saat vertigo sampai mual dan muntah.
Data Obyektif:
Hasil pemeriksaan Weber suara hanya terdengar pada telinga kiri
auditorium menunjukkan adanya sensorineural hearing loss.

Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
1 Data subjektik: Gangguan Gangguan pola
Beberapa bulan ini pendengaran tidur
sering terbangun dari tidur karena
merasa berputar (vertigo) selama
kira-kira 30 menit dan hilang
sendiri
mengeluh telinga
kanan sering berdenging
perasaan penuh di
bagian dalam telinga
Data Obyektif:
Hasil pemeriksaan
Weber suara hanya terdengar pada
telinga kiri
auditorium
menunjukkan adanya
sensorineural hearing loss.
2 Data subjektik: Mual dan Resiko
Beberapa bulan ini sering muntah kekurangan volume
terbangun dari tidur karena cairan
merasa berputar (vertigo) selama
kira-kira 30 menit dan hilang
sendiri
Saat vertigo sampai
mual dan muntah
Data Obyektif:
-

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi cedera b/d perubahan mobilitas karena gangguan cara jalan
dan vertigo.
2. Ansietas b/d ancaman,atau perubahan status kesehatan dan efek
ketidakmampuan vertigo.
3. Resiko terhadap trauma b/d kesulitan keseimbangan.
4. Kurang perawatan
diri,makan,mandi/higiene,berpakaian/berdandan,toileting,b/d disfungsi labirin dan
vertigo.
.3 INTERVENSI
No Tujuan & kriteris hasil Intervensi Rasional
Dx
1. Setelah dilakukan Letakkan bantal pada Riwaya
tindakan keperawatan selama kedua sisi kepal untuk membatasi memberikan das
2x24 jam diharapkan pasien gerakkan intervensi selanjutn
bebas dar cedera dengan Kaji luasnya Luasnya
kriteria hasil : ketidakmampuan dalam ketidakmampuan
bebas dari cedera hubungannya dengan aktivitas resiko jatuh.
yang berkaitan dengan hidup sehari-hari.
ketidakseimbangan Ajarkan atau tekankan Latihan
dan/jatuh. terapi vestibular/keseimbangan mempercepat
sesuai keten labirin yang dapat
vertigo dan ganggua
Menghi
Berikan atau ajari cara gejala akut vertigo.
pemberian obat anti vertigo dan atau
obat penenang vestibular serta beri
petunjuk pada pasien mengenai efek Mengur
sampingnya. kemungkinan jatuh
2. Dorong pasien untuk Gerakka
berbaring bila merasa memperberat vertig
Setelah dilakukan pusing,dengan pagar tempat tidur
tindakan keperawatan selama dinaikkan
2x24 jam diharapkan ansietas Kaji vertigo yang
hilang atau berkurang dengan meliputi riwayat, amitan, gambaran Meman
kriteria hasil : serangan, durasi, frekuensi, dan intervensi terape
cemas berkurang adanya gejala telinga yang terkait partisipatif dalam
diri, keterampilan k
pasien tampak kehilangan pendengaran, tinitus, masa lalu dapat
rileks. rasa penuh di telinga. ansietas.
Mening
Instruksikan pasien pengetahuan
dalam aspek program pengobatan mengurangi ansieta
Mening
kesadaran dan
3. hubungan antara tin
Beri informasi dan perilaku.
mengenai vertigo dan Mempe
Setelah dilakuakan penanganannya. manajemen stress,
tindakan keperawatan selama frekwensi dan
2x24 jam diharapkan resiko Dorong pasien serangan fertigo.
trauma berkurang denga n mendiskusikan ansietas dan gali situasi
kriteria hasil : keprihatinan mengenai serangan dapat memperbe
Mampu vertigo. kondisi ini.
mengidentifikasi bahaya Ajarkan pasien teknik pengeta
dilingkungan rumah. penatalaksanaan stress atau lakukan membantu mengura
Memperlihatkan rujukan bila perlu.
peningkatan aktivitas tanpa Beri upaya kenyamanan
menggunakan alat Bantu. dan hindari aktivitas yang Kelaina
menyebebkan stress perifer menyebabka
Kaji tingkat ansietas. tanda ini.
4. Bantu pasien mengidentifikasi Cara
keterampilan koping yang telah abnormal yang dap
Setelah dilakukan dilakukan dengan berhasil pada pasien tidak bisa
tindakan selama 2x 24 jam masa lalu jatuh.
diharapkan pasien mampu . keseimb
merawat diri dengan kriteris tergantung pada si
hasil : vestibuler dan propr
Mempertahankan Bantu mengidentifikasi peningk
personal hyegene. bahaya dilingkungan rumah. aktivitas dapat
Bergabung mencapai kemba
dalam aktivitas pengalih. Bantu ambulasi bila ada keseimbangan.
indikasi Adaptas
lingkungan rum
menurunkan resiko
Lakukan pengkajian proses rehabilitasi.
ketajaman penglihatan dan defisit
proprioseptif

Dorong peningkatan
tingkat aktivitas dengan atau tanpa Kebosa
menggunakan alat Bantu. terlihat, begitu ju
membantu
Lakukan pengkajian toleransi maupun ke
untuk gangguan keseimbangan dan Untuk m
/atau fertigo dengan menarik informasi mengen
riwayat dan dengan pemeriksaan yang nyata mau
adanya nistagmus, romberg positif, dirasakan yang me
dan ketidak mampuan melakukan tingkat aktivitas,
romberg tandem. rasa harga diri dan p
pasien.

Diskusikan pola
aktivitas pengalih yang biasa
dengan pasien. Berikan kesempatan
untuk melanjutkan aktivitas
pengalih yang sangat berarti.
Kaji tingkat dan jenis
aktivitas pengalih untuk
merencanakan aktivitas yang sesuai.

. IMPLEMENTASI
DIAGNOSA 1
Mengkaji vertigo yang meliputi riwayat, awitan, gambaran seragam,
durasi, frekwensi adanya gejala telinga yang terkait ( kehilangan pendengaran,
tinitus, rasa penuh ditelinga ).
Mengkaji luasnya ketidak mampuandalam hubungannya dengan
aktivitas hidup sehari-hari
Mengajarkan atau menekankan terapi vestibuler/keseimbangan yang
sesuai dengan ketentuan.
Memberikan atau mengajari cara pemberian obat anti vertigo dan atau
obat penenangvestibuler serta memberi petunjuk pada pasien mengenai efek
sampingnya.
Mendorong pasien untuk berbaring bila merasa pusing, dengan pagar
tempat tidur dinaikan.
Meletakan bantal pada kedua sisi kepala untuk membatasi gerakan.

DIAGNOSA 2
Mengkaji tingkat ansietas. Membantu pasien mengidentifikasi
keterampilan koping yang telah dilakukan dengan berhasil pada masa lalu.
Memberikan informasi mengenai vertigo dan penanganannya.
Mendorong pasien mendiskusikan ansietas dan menggali keprihatinan
mengenai serangan vertigo.
Mengajarkan pasien teknik penatalaksanaanstress atau melakukan
rujukan bila perlu.
Memberikan upaya kenyamanan dan mungkin dari aktivitas yang
menyebabkan stres.
Instruksikan pasien dalam aspek program pengobatan.

DIAGNOSA 3
Melakukan pengkajian untuk gangguan keseimbangan dan atau vertigo
dengan menarik riwayat dan dengan pemeriksaan adanya nistagmus, romberg
positif, dan ketidakmampuan melakukan romberg tandem.
Membantu ambulasi bila ada indikasi.
Melakukan pengkajian ketajaman penglihatan devisit proprioseptif.
Mendorong peningkatan aktivitas dengan atau tanpa menggunakan alat
bantu.
Membantu mengidentifikasi bahaya dilingkungan rumah.

DIAGNOSA 4
Mengkaji tingkat dan jenis aktivitas pengalih untuk merencanakan
aktivitas yang sesuai.
Mendiskusikan pola aktivitas pengalih yang biasa dengan pasien.
Memberikan kesempatan untuk melanjutkan aktivitas pengalih yang sangat berarti

5. EVALUASI
1. Resiko tinggi cedera
Memperlihatkan adanya pengurangan resiko cedera :
Klien mengerti dan mampu mengikuti terapi vestibular.
Klien tahu dan mengerti cara meminum obat yang benar dan efek
samping obat.
Dan mempertahankan tirah baring bila merasa pusing.
2. Ansietas
Memperlihatkan penurunan ansietas atau tidak mengalami ansietas :
Melaporkan atau mendiskusikan ansietas.
Mengikuti teknik penatalaksanan stress.
Memperlihatkan kenyamanan.
Menghindari aktivitas yang menyebabkan stress
3. Resiko terhadap trauma
Memperlihatkan adanya pengurangan resiko terhadap trauma :
Memperlihatkan peningkatan aktivitas tanpa menggunakan alat Bantu.
Mampu mengidentifikasi bahaya dilingkungan rumah
4. Kurang perawatan diri
memperlihatkan perubahan atau peningkatan personal hygiene :
Melakukan aktivitas yang sesuai dengan jenis aktivitas pengalih.
Melaporkan pola aktivitas pengalih
Mampu melanjutkan aktivitas pengalih.

LABIRINTITIS

1. PENGERTIAN
Labirititis adalah inflamasi pada telinga bagia dalam (wikipedia).

Inflamasi telinga dalam yang dapat disebabkan oleh bakteri maupun virus (
Brunner & Suddart ).
Labirinitis pada dasarnya di kenal dua macam dan dengan gejala yang berbeda,
labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin disebut dengan labirinitis umum (
general ), dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat, kemudian yang mengenai
hanya sebagian atau terbatas disebut labirinitis terbatas ( labirinitis sirkumskripta )
menyebabkan terjadinya vertigo saja atau tuli saraf saja.

2. ETIOLOGI
Virus penyebab yang paling sering terindentifikasi adalah :
Gondongan
Rubella
Rubeola
Influenza
Penyakit viral saluran nafas

3. PATOFISIOLOGI
Secara etiologi labirinitis terjadi karena penyebaran infeksi ke ruang
perlimfa. Terdapat dua bentuk labirinitis, yaitu labirinitis serosa dan labirinitis
supuratif. Labirinitis serosa dapat berbentuk labirinitis serosa difus dan labirinitis
serosa sirkumskripta. Labirinitis supuratif dibagi dalam labirinitis supuratif akut
difus dan labirinitis supuratif kronik difus.
Pada labirinitis serosa toksin menyebabkan disfungsi labirin tanpa invasi sel
radang, sedangkan pada labirin supurati dengan invasi sel radang ke labirin.,
sehingga terjadi kerusakan yang iereversibel, seperti fibrosa dan osifikasi.
Pada kedua jenis labirinitis tersebut operasi harus esgera dilakukan untuk
menghilangkan infeksi dari telinga tengah. Kadang – kadang diperlukan juga
drenase nanah dari labirin untuk mencegah terjadinya meningitis. Pemberian
antibiotika yang adekuat terutama ditujukan kepada pengobatan otitis media kronik.
4. TANDA DAN GEJALA
Ditandai dengan awitan yang mendadak vertigo yang melumpuhkan.
Mual dan muntah
Kehilangan derajat tertentu
tinitus
5. PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan fisik :
- Pemeriksaan mata
- Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh
- Pemeriksaan neurologik
- Pemeriksaan otologik
- Pemeriksaan fisik umum.
2. Pemeriksaan khusus :
- ENG
- Audiometri dan BAEP
- Psikiatrik
3. Pemeriksaan tambahan :
- Laboratorium
- Radiologik dan Imaging
- EEG, EMG, dan EKG.

6. PENATALAKSANAAN
Procholoperance biasanya sudah ditentukan untuk menolong mengurangi
gejala-gejala pada vertigo dan mual muntah.
Karena kecemasan mengganggu keseimbangan proses penggantian, hal ini
sangat penting untuk mengobati penyakit waktu lama digunakan adalah tidak
merekomendasikan karena pada yang bersifat mengakibatkan kecanduan
pada benzodiazepenis dan campur tangan mereka boleh karena penggantian
vestibular dan menyesuaikan kekenyalan.
Tanda-tanda menganjurkan bahwa selektif serotonin reuptake inhibitors
mugkin menjadi pengobatan efektif pada labirintitis. Tindakan dengan
menghilangkan gejala-gejala kecemasan dan mungkin merangsang pertumbuhan
saraf baru sampai telinga dalam. Membiarkan aliran deras penggantian vestibular
yang terjadi. Pemeriksaan mempunyai SSRIs vestibular dengan cara langsung dan
dapat mengurangi kepusingan.
Beberapa tanda menganjurkan bahwa labirintitis disebabkan oleh virus,
seharusnya dapat diobati dengan langkah-langkah lebih dini dengan kortikosteroid
seperti prednisone dan mungkin pengobatan antivirus seperti valacilovir sesegera
mungkin untuk mencegah kerusakan telinga dalam.
Terapi rehabilitasi vestibular (VRT) adalah jalan sangat efektif untuk pada
dasarnya menurunkan sisa kepusingan dari labirintitis. VRT bekerja dengan
menyebabkan otak untuk mulai digunakan mekanisme saraf untuk
penyesuaian,kekenyalan, dan penggantian. Petunjuk, durasi, frekuensi dan
besarnya pada olahraga-olahraga secara langsung adalah lekat menyambung
dengan penyesuaian dan kesembuhan. Simetri adalah lebih dengan cepat memugar
saat olahraga VRT adalah khususnya menyesuaikan kepasien.
Salah satu studi menemukan bahwa pasien yang percaya mereka yang tak
terkendali oleh mereka menunjukkan perkembangan yang sangat lambat untuk
penyembuhan total, setelah beberapa lama luka awal pada vestibular telah
disembuhkan. Ilmu tersebut menyatakan bahwa pasien yang mengganti dengan
baik adalah salah satunya adalah tingkat psycological, tak takut pada gejala-gejala
dan memiliki beberapa kendali mereka. Khususnya penurunan pandangan negatif
melebihi waktu lebih baik pada pasien dirawat dengan pemulihan daripada tidak
dirawat. Sangatlah penting kepercayaan mendasar yang hanya cenderung
peramalan perubahan pada rintangan dalam 6 bulan tindakan .

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN LABIRINTITIS

1. PENGKAJIAN
a. Aktivitas
- Gangguan keseimbangan tubuh
- Mudah lelah
b. Sirkulasi
- Hipotensi , hipertensi, pucat (menandakan adanya stres).
c. Nutrisi
- Mual
d. Sistem pendengaran
- Adanya suara abnormal(dengung)
e. Pola istirahat
- Gangguan tidur/ Kesulitan tidur

PENGKAJIAN FOKUS
Data subjektif
- Mudah lelah
- Mual
- Gangguan tidur/kesulitan tidur
- Adanya suara abnormal ( dengung )
- Suhu tubuh tinggi
Data objektif
- Klien kelihatan pucat
- Gangguan keseimbangan tubuh

2. Melalui aliran darah mencegah meningitis

3. DIAGNOSA
Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/
tekanan syaraf, vasospasme, peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan
nyeri yang dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola tidur,
gelisah.
Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan proses
infeksi

4. INTERVENSI
No
Tujuan / kriteria hasil Intervensi Rasional
Dx
1. Setelah dilakukan Pantau tanda- Mengenal
tindakan selama 2x24 jam tanda vital, intensitas/skala memudahkan dalam
diharapkan nyeri hilang atau nyeri tindakan keperawatan.
berkurang.dengan kriteria Anjurkan klien istirahat
pasien tidak meringis lagi, istirahat ditempat tidur mengurangi intesitas nyer
lebih santai. Atur posisi
pasien senyaman mungkin posisi yan
mengurangi penekanan da
ketegangan otot serta
Ajarkan teknik nyeri.
relaksasi dan napas dalam. relaksasi
ketegangan dan membu
Kolaborasi untuk lebih nyaman
pemberian analgetik. analgetik ber
mengurangi nyeri sehin
menjadi lebih nyaman.
Kaji saat
Setelah di lakukan timbulnya demam. Dapat d
2. tindakan keperawatan selama pola/tingkat demam.
2x24 jam diharapkan suhu Observasi tanda- Tanda-tanda
tubuh turun dengan kriteria tanda vital : suhu, nadi, TD, merupakan acuan untuk
hasil: badan pasien tidak pernafasan setiap 3 jam. keadan umum klien.
panas lg. Berikan Penjelasan
penjelasan tentang penyebab kondisi yang dilami k
demam atau peningkatan membantu mengurangi
suhu tubuh klien dan keluarga.
Untuk menga
Berikan dan menganjurkan klien d
penjelasan pada klien dan untuk lebih kooperatif .
keluarga tentang hal-hal yang
dilakukan. Keterlibatan
sangat berarti dala
penyembuhan klien di RS
Jelaskan
pentingnya tirah baring bagi Peningkatan
klien dan akibatnya jika hal mengakibatkan penguap
tersebut tidak dilakukan. tubuh meningkat sehin
Anjurkan klien diimbangi dengan asupan
untuk banyak minum kurang banyak.
lebih 2,5 – 3 liter/hari dan Kompres a
jelaskan manfaatnya membantu menurunkan
pakaian tipis akan dapa
. meningkatkan penguapan
Berikan kompres .
hangat dan anjurkan memakai Antipiretika yang
pakaian tipis reseptor di hypothala
meregulasi suhu tubuh se
tubuh diupayakan mend
normal
Berikan
antipiretik sesuai dengan
instruksi

5. IMPLEMENTASI
DIAGNOSA 1
- Memantau tanda – tanda vital,intensitas/skala nyeri
- Menganjurkan klien istirahat ditempat tidur
- Mengatur posisi pasien senyaman mungkin
- Mengajarkan teknik relaksasi dan napas dalam
- Mengkolaborasi untuk pemberian analgetik
DIAGNOSA 2
- Mengkaji timbulnya demam
- Memantau TTV
- Menjelaskan tentang demam
- Menginformasikan tindakan yang akan dilakukan
- Memberikan kompres hangat
- Berkolaborasi dalam pemberian obat

6. EVALUASI
Nyeri dapat dihilangkan atau diatasi.
Suhu tubuh normal.
Perubahan gaya hidup atau perilaku untuk mengontrol atau mencegah
kekambuhan.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Telinga merupakan sebuah organ yang mampu mendeteksi/mengenal suara &
juga banyak berperan dalam keseimbangan dan posisi tubuh.
Telinga terdiri dari tiga bagian: telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.
Telinga dalam terdiri dari labirin osea (labirin tulang), sebuah rangkaian rongga
pada tulang pelipis yang dilapisi periosteum yang berisi cairan perilimfe & labirin
membranasea, yang terletak lebih dalam dan memiliki cairan endolimfe.
 Anatomi Telinga Tengah
Telinga tengah terdiri dari:
o Gendang Telinga,
o Tuba Eustachii,
o Cavum Timpani,
o Mastoid

Terdapat beberapa masalah kesehatan pada bagan telinga tenga


TINNITUS
Tinnitus adalah suatu gangguan pendengaran dengan keluhan perasaan
mendengar bunyi tanpa rangsangan bunyi dari luar. Keluhannya bisa berupa bunyi
mendenging, menderu, mendesis, atau berbagai macam bunyi lainnya. Gejalanya
bisa timbul terus menerus atau hilang timbul. (Putri Amalia dalam artikel Gangguan
Pendengaran ”Tinnitus”.FK Universitas Islam Indonesia).
Tinnitus merupakan gangguan pendengaran dengan keluhan selalu mendengar
bunyi, namun tanpa ada rangsangan bunyi dari luar. Sumber bunyi tersebut berasal
dari tubuh penderita itu sendiri, meski demikian tinnitus hanya merupakan gejala,
bukan penyakit, sehingga harus di ketahui penyebabnya. (dr. Antonius HW SpTHT
dalam artikel Suara Keras Sebabkan Telinga Mendenging. Indopos Online).

VERTIGO
Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar.
Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau
lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik
akibat gangguan alat keseimbangan tubuh Vertigo mungkin bukan hanya terdiri
dari satu gejala pusing saja, melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri
dari gejala somatik (nistagmus, unstable), otonomik (pucat, peluh dingin, mual,
muntah) dan pusing. Dari (http://www.kalbefarma.com).
Vertigo adalah Rasa gerakan dari tubuh/lingkungan sekitarnya diikuti gejala
susunan saraf otonom dan lainnya sebagai akibat gangguan alat keseimbangan
tubuh (Gowers).
Vertigo adalah suatu keadaan dimana penderita mengalami sensasi pergerakan
berupa sensasi gerak bumi berputar (objektif) atau merasa diri berputar (subjektif).

DIZZINESS
Isitlah dizzy/pening (atau dizziness/kepeningan) dapat menjadi sulit untuk
didefinisikan karena ia dapat berarti hal-hal yang berbeda pada orang-orang yang
berbeda. Kepeningan (Dizziness) adalah perasaan pening/pusing merujuk pada
mabuk, perasaan lemah dan hampir pingsan, atau ia merujuk pada vertigo (dimana
ruangan atau orang nampaknya berputar). Kepeningan adalah perasaan dari
kelemahan dan pingsan seperti jika anda hampir pingsan.

SINDROM MENIERE
Penyakit Meniere adalah suatu penyakit yang ditandai oleh serangan berulang
vertigo (perasaan berputar), tuli dan tinnitus (telinga berdenging).http://sehat-
enak.blogspot.com/2010/01/penyakit-meniere.html.
Penyakit meniere adalah suatu kelainan labirin yang etiologinya belum
diketahui dan mempunyai trias gejala yang khas,yaitu gangguan
pendengaran,tinnitus dan serangan vertigo (Kapita Selekta Edisi 3).
Penyakit Meniere adalah suatu sindrom yang terdiri dari serangan vertigo,
tinnitus, dan berkurangnya pendengaran secara progresif

LABIRINTITIS
Labirititis adalah inflamasi pada telinga bagia dalam (wikipedia).
Inflamasi telinga dalam yang dapat disebabkan oleh bakteri maupun virus (
Brunner & Suddart ).
Labirinitis pada dasarnya di kenal dua macam dan dengan gejala yang berbeda,
labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin disebut dengan labirinitis umum (
general ), dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat, kemudian yang mengenai
hanya sebagian atau terbatas disebut labirinitis terbatas ( labirinitis sirkumskripta )
menyebabkan terjadinya vertigo saja atau tuli saraf saja.
.

B. SARAN
Diharapkan agar menjaga kesehatan telinga dengan selalu memperhatikan
kebershan telinga dan tidak membiasakan membersikannya dengan menggunakan
benda tajam yang menjadikan telinga gampang terkena infeksi
DAFTAR PUSTAKA

http://sehat-enak.blogspot.com/2010/01/penyakit-meniere.html.
http://id.wikipedia.org/wiki/Vertigo
http://medicastore.com/penyakit/25/Vertigo.html
Marilynn E. Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan
dan pendokumentasian pasien, ed.3, EGC, Jakarta, 1999.
Ludman Harold, Petunjuk Penting Pada Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan,
Hipocrates, Jakarta,2007.
Mansjoer a, Triyanti K, Savitri R, Wardhani WI, Setowulan W. Penyakit Menierre.
Dalam : KApita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jakarta : FKUI. 2001.