Anda di halaman 1dari 12

ANALISA KUANTITATIF SIMPLISIA

(PENETAPAN SUSUT PENGERINGAN)


I. TUJUAN
Mahasiswa dapat memahami dan melakukan penetapan susut pengeringan simplisia

II. DASAR TEORI

Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami
penolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain. Simplisia merupakan bahan yang
dikeringkan. Simplisia dapat berupa simplisia nabati, simplisia hewani, dan simplisia pelikan
atau mineral (Anonim, 2000).

Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman, atau ekssudat
tanaman. Yang dimaksud dengan eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar
dari tanaman atau dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya, atau zat-zat nabati lainnya
yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya. Simplisia hewani ialah simplisia yang
berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan
belum berupa zat kimia murni. Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia yang berupa
bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah dengan cara sederhana dan belum
berupa zat kimia murni.

Untuk menjalin keseragaman senyawa aktif, keamanan ,aupun kegunaannya maka simplisia
harus memenuhi persyaratan minimal. Untuk memenuhi persyaratan minimal itu, ada
beberapa faktor yang berpengaruh antara lain:
a. Bahan baku simplisia
b. Proses pembuatan simplisia termasuk cara penyimpanan bahan baku simplisia
c. Cara pengepakan dan penyimpanan simplisia

Pemilihan sumber tanaman obat sebagai sumber bahan baku simplisia nabati merupakan
salah satu faktor yang sangat berpengfaruh pada mutu simplisia, termasuk di dalamnya
pemilihan bibit (untuk tumbuhan hasil budidaya) dan pengolahan maupun jenis tanah tempat
tumbuh tanaman obat. Sebagai sumber simplisia, tanaman obat dapat berupa tumbuhan liar
atau tanaman budidaya.

1
Tumbuhan liar umumnya kurang baik untuk dijadikan sumber simplisia jika dibandingkan
dengan tanaman budidaya, karena simplisia yang dihasilkan mutunya tidak tetap, hal ini
terutama disebabkan antara lain:

1. Umur tumbuhan atau bagian tumbuhan yang dipanen tidak tepat dan berbeda-beda. Ini
akan berpengaruh pada kadar senyawa aktif. Ini berarti bahwa mutu simplisia yang dihasilkan
sering tidak sama karena umur pada saat panen tidak sama.
2. Jenis tumbuhan yang dipanen sering kurang diperhatikan, sehingga simplisia yang
diperoleh tidak sama.
3. Lingkungan tidak tumbuh yang berbeda, sering mengakibatkan perbedaan kadar
kandungan senyawa aktif. Pertumbuhan tanaman dipengaruhi tinggi tempat, keadaan tanah,
dan cuaca.

Proses pembuatansimplisia merupakan proses tindak lanjut setelah bahan baku simplisia
selesai dipanen, sehingga sering disebut proses pasca panen. Pasca panen merupakan
kelanjutan dari proses panen terhadap tanaman budidaya atau hasil dari penambangan alam
yang berfungsi untuk membuat bahan hasil panen tidak mudah russak dan memiliki kualitas
yang baik serat mudah disimpan untuk proses selanjutnya.

Penanganan dan pengelolaan pasca panen adalah suatu perlakuan yang diberikan pada hasil
pertanian hingga produk siap dikonsumsi. Penanaman dan pengelolaan pasca panen tanaman
obat dillakukan terutama untuk menghindari kerugian-kerugian yang mungkin timbul akibat
perlakuan pra panen dan pasca panen yang kurang tepat. Hal-hal yang dapat mengakibatkan
kerugian, misalnya terjadinya perubahan sifat zat yang terdapat dalam tanaman, perlakuan
dan cara panen yang tidak tepat, masalah daerah produksi yang menyangkut keadaan iklim
dan lingkungan, teknologi pasca panen yang diterapkan, limbah, serta masalah
sosial/ekonomi dan budaya masyarakat.

Bahan tanaman yang akan menjadi bahan baku obat, dalam proses pemilihan bibit, budidaya,
hingga pemanenan tentunya memiliki standar prosedur untuk menghasilkan bahan obat yang
berkualitas. Standar prosedur secara optimal dilakukan antara lain melalui pemilihan bibit
unggul, pemberian pupuk dan pestisida serta pemilihan waktu dan cara panen sesuai bagian
tanaman yang akan dipanen untuk bahan obat (biji, daun, buah, rimpang, bunga, kayu, atau
herba). Akan tetapi disamping itu penangan pasca panenpun tak kalah penting untuk menjaga

2
kualitas hasil panen saat penyimpanan hingga siap pakai sebagai obat tradisional atau masuk
dalam proses formulasi sediaan obat modern. Tujuan dari pasca panen ini adalah untuk
menghasilkan simplissia tanaman obat yang bermutu, efek terapinya tinggi sehingga
memiliki nilai jual yang tinggi.

Produksi adalah semua kegiatan pembuatan dimulai dari pengadaan bahan awal termasuk
penyiapan bahan baku, pengolahan, pengemasan, pengawasan mutu, sampai diproleh produk
jadi yang siap untuk didistribusikan. Pembuatan simplisia secara umum dapat menggunakan
cara-cara berikut:
1. Pengeringan
2. Fermentasi
3. Proses khusus (penyulingan, pengentalan eksudat)
4. Dengan bantuan air (misal, pada pembuatan pati)

Kementrian negara risset dan teknologi mengakui bahwa aspek pasca penen merupakan hal yang
selama ini kurang diperhatikan secara optimal. Secara garis besar, tahap-tahap pembuatan
simplisia khususnya rimpang temu-temuan adalah:
1. Pengumpulan bahan baku
2. Sortasi basah
3. Pencucian
4. Perajangan
5. Pengeringan
6. Sortasi kering
7. Pengepakaan dan penyimpanan

Proses pemanenan dan preparasi simplisia merupakan proses yang menentukan mutu
simplisia dalam berbagai artian, yaitu komposisi senyawa kandungan, kontaminasi, dan
stabilitas bahan. Namun demikian, simplisia sebagai produk olahan, variasi senyawa
kandungan dapat diperkecil, diatur, diajegkan. Hal ini karena penerapan iptek pertanian pasca
panen yang terstandar.

Dalam hal simplisia sebagai bahan baku dan produk siap dikonsumsi langsung dapat
dipertimbangkan tiga konsep ungtuk menyusun parameter standar umum:

3
1. Bahwa simplisia sebagai bahan kefarmasian seharusnya memenuhi 3 parameter mutu
umum suatu bahan (material), yaitu kebenaran jenis (identifikasi), kemurnian (bebas dari
kontaminasi kimia dan biologis), serta aturan penstabilan (wadah, penyimpanan, dan
transportasi)

2. Bahwa simplisia sebagai bahan dan produk konsumsi manusia sebagai obat tetap
diupayakan memenuhi 3 paradigma seperti produk kefarmasian lainnya, yaitu:
Quality/safety/Efficacy (mutu/aman/manfaat).

3. Bahwa simplisia sebagai bahan dengan kandungan kimia yang bertanggung jawab
terhadap respon biologis harus mempunyai spesifikasi kimia, yaitu informasi, komposisi
(jenis dan kadar) senyawa kandungan.

Standarisasi simplisia tidak lain pemenuhan terhadap persyaratan sebagai bahan dan
penetapan nilai berbagai parameter dai produk seperti yang telah ditetapkan. Standarisasi
simplisia mempunyai pengertian bahwa simplisia yang akan digunakan untuk obat atau
sebagai bahan baku harus memenuhi standar mutu. Sebagai parameter standar yang
digunakan adalah persyaratan yang tercantum dalam monografi resmi terbitan DepKes RI
seperti Materia Medika Indonesia. Sedangkan sebagai produk yang langsung dikonsumsi
(serbuk jamu dsb) masih harus memenuhi persyaratan produk kefarmasian sesuai dengan
peraturan yang berlaku.

Ada tiga Parameter standarisasi simplisia sebagai bahan baku yang diperlukan dalam analisa
mutu siplisia , yaitu (Fauzi,2013):

1. Pengujian Pendahuluan ( Kebenaran Simplisia ) :

 Pengujian Organoleptik
 Pengujian Makroskopik
 Pengujian Mikroskopik

2. Parameter Non Spesifik :

 Penetapan kadar air


 Penetapan susut pengeringan
 Penetapan kadar abu
 Penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam
 Penetapan kadar sari yang larut dalam air

4
 Penetapan kadar sari yang larut dalam etanol
 Uji cemaran mikroba

3. Parameter Spesifik :

 Identifikasi kimia terhadap senyawa yang disari (Fauzi,2013).

PENGUJIAN PENDAHULUAN

A. Uji Organoleptik

Uji organoleptik dilakukan untuk mengetahui kebenaran simplisia menggunakan panca indra
dengan mendeskripsikan bentuk, warna, bau, dan rasa sebagai berikut :

1. Bentuk : padat, serbuk, kering, kental, dan cair


2. Warna : warna dari ciri luar dan warna bagian dalam

3. Bau : aromatik, tidak berbau, dan lain-lain

4. Rasa : pahit, manis, khelat, dan lain-lain

5. Ukuran : panjang, lebar

6. Uji Makroskopik

B. Uji makroskopik

Uji mikroskopik dilakukan dengan menggunakan kaca pembesar atau tanpa menggunakan
alat. Cara ini dilakukan untuk mencari khususnya morfologi, ukuran, dan warna simplisia yang diuji.

C. Uji Mikroskopik

Uji mikroskopik dilakukan dengan menggunakan mikroskop yang derajat pembesarannya


disesuaikan dengan keperluan. Simplisia yang diuji dapat berupa sayatan melintang, radial, paradermal
maupun membujur atau berupa serbuk. Pada uji mikroskopik dicari unsur – unsur anatomi jaringan yang
khas. Dari pengujian ini akan diketahui jenis simplisia berdasarkan fragmen pengenal yang spesifik bagi
masing – masing simplisia.

D. Uji Histokimia

5
Uji histokimia bertujuan untuk mengetahui berbagai macam zat kandungan yang terdapat dalam
jaringan tanaman. Dengan pereaksi spesifik, zat – zat kandungan tersebut akan memberikan warna yang
spesifik pula sehingga mudah dideteksi.

PARAMETER NON-SPESIFIK

1. Penetapan Kadar Air ( MMI )

Kandungan air yang berlebihan pada bahan / sediaan obat tradisional akan mempercepat
pertumbuhan mikroba dan juga dapat mempermudah terjadinya hidrolisa terhadap kandungan
kimianya sehingga dapat mengakibatkan penurunan mutu dari obat tradisional. Oleh karena itu batas
kandungan air pada suatu simplisia sebaiknya dicantumkan dalam suatu uraian yang menyangkut
persyaratan dari suatu simplisia (Fauzi,2013). Tujuan dari penetapan kadar air adalah utuk mengetahui
batasan maksimal atau rentang tentang besarnya kandungan air dalam bahan. Hal ini terkait dengan
kemurnian dan adanya kontaminan dalam simplisia tersebut. Dengan demikian, penghilangan kadar
air hingga jumlah tertentu berguna untuk memperpanjang daya tahan bahan selama penyimpanan.
Simplisia dinilai cukup aman bila mempunyai kadar air kurang dari 10%.

2. Penetapan Susut Pengeringan ( MMI )

Susut pengeringan adalah persentase senyawa yang menghilang selama proses pemanasan
(tidak hanya menggambarkan air yang hilang, tapi juga senyawa menguap lain yang hilang).
Berdasarkan Farmakope Indonesia edisi III, susut pengeringan adalah kadar bagian yang
menguap suatu zat. Kecuali dinyatakan lain, suhu penetapan adalah 105⁰C dan penetapannya
sebagai berikut : timbang seksama 1 g sampai 2 g zat dalam botol timbang dangkal yang
tertutp yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu penetapan selama 30 menit dan telah
ditara. Jika zat berupa hablur besar, sebelum ditimbang digerus dengan cepat hingga ukuran
butiran lebih kurang 2 mm. Ratakan zat dalam botol timbang dengan menggoyangkan botol,
hingga merupakan lapisan setebal lebih kurang 5 mm sampai 10 mm. masukkan kedalam
ruang pengering, buka tutupnya, keringkan pada suhu penetapan hingga bobot tetap. Sebelum
penimbangan, biarkan botol dalam keadaan tertutup mendingin dalam eksikator hingga suhu
kamar. Jika suhu lebur zat lebih rendah dari suhu penetapan, pengeringan dilakukan pada
suhu antara 5⁰ dan 10⁰ dibawah suhu leburnya selama 1 jam sampai 1 jam, kemudian pada
suhu penetapan selama waktu yang ditentukan atau hingga bobot tetap.

6
Pengukuran sisa zat dilakukan dengan pengeringan pada temperatur 105⁰C selama 30 menit
atau sampai berat konstan dan dinyatakan dalam persen (metode gravimetri).

A = bobot awal
B = bobot akhir

Untuk simplisia yang tidak mengandung minyak atsiri, susut pengetingan diidentikkan
dengan kadar air, yaitu kandunagn air karena simplisia berada di atmosfer dan lingkungan
teruka sehingga dipengaruhi oleh kelembaban lingkungan penyimpanan.

3. Penetapan Kadar Abu (MMI)

Penetapan kadar abu merupakan cara untuk mengetahui sisa yang tidak menguap dari suatu
simplisia pada pembakaran. Pada penetapan kadar abu total, abu dapat berasal dari bagian jaringan
tanaman sendiri atau dari pengotoran lain misalnya pasir atau tanah (Fauzi,2013).

4. Penetapan Kadar Abu yang tidak larut Asam (MMI)

Ditujukan untuk mengetahui jumlah pengotoran yang berasal dari pasir atau tanah silikat
(Fauzi,2013).

5. Penetapan Kadar Sari yang larut dalam air (MMI)

Pengujian ini dimaksutkan untuk mengetahui jumlah senyawa yang dapat tersari dengan air dari
suatu simplisia (Fauzi,2013).

6. Penetapan Kadar Sari yang larut dalam etanol (MMI)

Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui jumlah senyawa yang dapat tersari dengan etanol
dari suatu simplisia (Fauzi,2013).

7. Uji Cemaran Mikroba


8. Uji Aflatoksin

7
Uji ini bertujuan untuk mengetahui cemaran aflatoksin yang dihasilkan oleh jamur Aspergillus
flavus (Fauzi,2013).

PARAMETER SPESIFIK

Parameter ini digunakan untuk mengetahui identitas kimia dari simplisia. Uji kandungan kimia
simplisia digunakan untuk menetapkan kandungan senyawa tertentu dari simplisia. Biasanya dilakukan
dengan analisa kromatografi lapis tipis (KLT). Sebelum dilakukan KLT perlu dilakukan preparasi dengan
penyarian senyawa kimia aktif dari simplisia yang masih kasar (Fauzi,2013).

Identifikasi kimia terhadap senyawa tersari

Kandungan kimia simplisia nabati pada umumnya dapat dikelompokkan sebagai berikut : minyak
atsiri, karotenoid, steroid, triterpenoid, alkaloid, asam lemak, senyawa fenolik ( fenol-fenol asam
fenolat, fenil propanolol, flavonoid, antrakuinon, antosianin, xanton) asam organik, glikosida,
saponin, tani, karbohidrat dan lain-lain. Simplisia yang diuji adalah simplisia tunggal yang berupa
rajangan serbuk, ekstrak atau dalam bentuk sediaan. Mula-mula serbuk simplisia disari dengan larutan
penyari yang berbeda-beda polaritasnya berturut-turut pelarut non polar, pelarut kurang polar.
Masing-masing pelarut secara selektif akan memisahkan kelompok kandungan kimia tersebut. Pelarut
yang bersifat non polar seperti eter minyak tanah (petroleum eter) atau heksan. Pelarut kurang polar
seperti eter, clhoroform dll. Pelarut yang polar seperti etanol, air atau campuran keduanya dengan
berbagai perbandingan, umumnya dipakai etanol air 70% (Fauzi,2013). Penyarian dilakukan dengan
cara pengocokan berkali-kali sehingga hasil pengocokan terakhir bila diuapkan tidak meninggalkan
sisa, atau dengan alat soxhlet (Fauzi,2013). Untuk cara pengocokan dianjurkan untuk melakukan
perendaman awal dengan cairan penyari selama satu malam. Penggunaan alat soxhlet hanya
dianjurkan untuk penyarian kandungan kimia yang telah diketahui stabil. Penggunaan eter sebagai
cairan penyari tidak dianjurkan mengingat sifatnya yang mudah terbakar (Fauzi,2013

Susut pengeringan adalah persentase senyawa yang menghilang selama proses pemanasan
(tidak hanya menggambarkan air yang hilang, tapi juga senyawa menguap lain yang hilang).
Berdasarkan Farmakope Indonesia edisi III, susut pengeringan adalah kadar bagian yang
menguap suatu zat. Kecuali dinyatakan lain, suhu penetapan adalah 105⁰C dan penetapannya
sebagai berikut : timbang seksama 1 g sampai 2 g zat dalam botol timbang dangkal yang
tertutp yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu penetapan selama 30 menit dan telah
ditara. Jika zat berupa hablur besar, sebelum ditimbang digerus dengan cepat hingga ukuran
butiran lebih kurang 2 mm. Ratakan zat dalam botol timbang dengan menggoyangkan botol,
hingga merupakan lapisan setebal lebih kurang 5 mm sampai 10 mm. masukkan kedalam

8
ruang pengering, buka tutupnya, keringkan pada suhu penetapan hingga bobot tetap. Sebelum
penimbangan, biarkan botol dalam keadaan tertutup mendingin dalam eksikator hingga suhu
kamar. Jika suhu lebur zat lebih rendah dari suhu penetapan, pengeringan dilakukan pada
suhu antara 5⁰ dan 10⁰ dibawah suhu leburnya selama 1 jam sampai 1 jam, kemudian pada
suhu penetapan selama waktu yang ditentukan atau hingga bobot tetap.

Pengukuran sisa zat dilakukan dengan pengeringan pada temperatur 105⁰C selama 30 menit
atau sampai berat konstan dan dinyatakan dalam persen (metode gravimetri).

A = bobot awal
B = bobot akhir

Untuk simplisia yang tidak mengandung minyak atsiri, susut pengetingan diidentikkan
dengan kadar air, yaitu kandunagn air karena simplisia berada di atmosfer dan lingkungan
teruka sehingga dipengaruhi oleh kelembaban lingkungan penyimpanan.

URAIAN SIMPLISIA
Kunyit

Kingdom : Plantae
Sub kingdom : Tracheobionta
Super divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Zingiberidae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Spesies : Curcuma domestica Val.

Kandungan kimia :
Kandungan kimia yang terdapat dalam rimpang kunyit adalah sebagai berikut :
o zat warna kurkuminoid yang merupakan suatu senyawa diarilheptanoid 3-4% yang terdiri
dari Curcumin, dihidrokurkumin, desmetoksikurkumin dan bisdesmetoksikurkumin.

9
o Minyak atsiri 2-5% yang terdiri dari seskuiterpen dan turunan fenilpropana turmeron
(aril-turmeron, alpha turmeron dan beta turmeron), kurlon kurkumol, atlanton, bisabolen,
seskuifellandren, zingiberin, aril kurkumen, humulen.
o Arabinosa, fruktosa, glukosa, pati, tanin dan dammar
o Mineral yaitu magnesium besi, mangan, kalsium, natrium, kalium, timbal, seng, kobalt,
aluminium dan bismuth (Sudarsono et.al, 1996).
Khasiat :
Bagian yang sering dimanfaatkan sebagai obat adalah rimpang; untuk, antikoagulan,
antiedemik, menurunkan tekanan darah, obat malaria, obat cacing, obat sakit perut,
memperbanyak ASI, stimulan, mengobati keseleo, memar dan rematik. Kurkuminoid pada
kunyit berkhasiat sebagai antihepatotoksik (Kiso et al., 1983) enthelmintik, antiedemik,
analgesic. Selain itu kurkumin juga dapat berfungsi sebagai antiinflamasi dan antioksidan
(Masuda et al., 1993). Menurut Supriadi, kurkumin juga berkhasiat mematikan kuman dan
menghilangkan rasa kembung karena dinding empedu dirangsang lebih giat untuk
mengeluarkan cairan pemecah lemak. Minyak atsiri pada kunyit dapat bermanfaat untuk
mengurangi gerakan usus yang kuat sehingga mampu mengobati diare.

III. BAHAN dan ALAT

 Bahan :
Serbuk rimpang kunyit
 Alat – alat :
Botol timbang, timbangan elektronik, oven, eksikator.

IV. PROSEDUR
Mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok masing – masing melakukan
:
1. Keringkan botol timbang bertutup pada temperatur 105⁰C selama 30 menit.
2. Dinginkan dalam eksikator selama 15 menit
3. Timbang beratnya, catat.
4. Timbang seksama 1 g serbuk rimpang kunyit, masukkan ke dalam botol timbang
tersebut, ratakan.
5. Keringkan dalam oven temperatur 105⁰C (tutup botol dibuka) selama 1 jam.
6. Dinginkan dalam eksikator selama 15 menit.
7. Timbang botol timbang beserta isinya, catat.
8. Ulangi pengeringan hingga bobot tetap.
9. Hitung susut pengeringan serbuk rimpang kunyit (tidak lebih dari 15,0%).

V. HASIL PENGAMATAN dan PERHITUNGAN


Perhitungan
Sebelum pengeringan:
Massa botol timbang bertutup = 19,5061 gr
Massa serbuk rimpang kunyit = 1,0059 gr (A)
Massa botol timbang bertutup + serbuk rimpang kunyit = 20,512 gr (B)

10
Setelah Pengeringan:
Massa botol timbang bertutup + serbuk rimpang kunyit = 20,4190 gr (C)

VI. PEMBAHASAN

Setiap tahap dalam pembuatan simplisia sangat mempengaruhi standar kualitas dari simplisia yang
bersangkutan. Untuk mengendalikan mutu simplisia adalah dengan melakukan standarisasi simplisia,
salah satunya yaitu pengujian susut pengeringan. Susut pngeringan adalah kadar bagian yang
menguap suatu zat, kecuali dinyatakan lain , suhu penetapan adalah 105oC , keringkan pada suhu
penetapan hingga bobot tetap. Jika suhu lebur zat lebih rendah dari suhu penetapan, pengeringan
dilakukan pada suhu antara 5oC dan 10oC dibawah suhu leburnya selama 1 jam sampai 2 jam,
kemudian pada suhu penetapan selama waktu yang ditentukan atau hingga bobot tetap. Susut
pengeringan = (bobot awal – bobot akhir) / bobot awal x 100% Untuk simplisia yang tidak
mengandung minyak atsiri dan sisa pelarut organik menguap, susut pengeringan diidentikkan dengan
kadar air, yaitu kandungan air karena simplisia berada di atmoster dan ligkungan terbuka sehingga
dipengaruhi oleh kelembaban lingkungan penyimpanan.

Pada praktikum kali ini dilakukan uji susut pengeringan pada simplisia serbuk rimpang kunyit.
Dilakukan dengan cara mengeringkan botol timbang tertutup pada temperature 105 0C selam 30 menit,
kemudian didinginkan dalam eksikator selam 15 menit, timbang beratnya dan catat. Kemudian
timbang seksama serbuk rimpang kunyit sebanyak 1 gram masukkan ke dalam botol timbang tersebut,
ratakan. Keringkan dalam oven pada temperature 105 0C (tutup botol dibuka) selam 1 jam. Dinginkan
dalam eksikator selama 15 menit, timbang botol timbang beserta isinya, catat. Ulangi pengeringan
hingga bobot tetap, kemudian di hitung susut pengeringan serbuk rimpang kunyit (tidak lebih dari
15%). Pada praktikum didapat bobot rimpang kunyit sebelum pengeringan 1,0054 gram, massa botol
timbang tertutup 19,5061 gram, Massa botol timbang tutup+serbuk rimpang kunyit 20,512 gram.
Kemudian bobot setelah pengeringan, massa botol timbang tertututup+serbuk rimpang kunyit 20,4190

11
gram. Dari data tersebut kemudian dihitung nilai susut pengeringan yaitu hasil yang didapat sebanyak
9,25%.

VII. KESIMPULAN
Simplisia rimpang kunyit yang diuji memenuhi standar uji penetapan susut pengeringan yaitu nilainya
9,25% . Nilai ini dibawah dari nilai yang ditetapkan yaitu tidak lebih dari 15%.

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Anonim, 19789 Farmakope Indonesia edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Jakarta
Dalimartha, Setiawan. 1999. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Trubus Agriwidya.
Surahman dan Herawati, Murti. 2003. Farmakognosi Jilid II , Cetakan Ketiga. Sekretariat
Bersama Sekolah Menengah Farmasi:Jakarta.
Putu Era Sandhi Kusuma,S.Farm.,M.Phil.,Apt dkk. Penuntun Praktikum Farmakognosi.
Akademi Farmasi Saraswati Denpasar : Bali.
Anonim, 1980. Materia Medika Indonesia Jilid IV, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta

12

Anda mungkin juga menyukai