Anda di halaman 1dari 75

Overview:

Mikrobiologi dan Penyakit


Infeksi

Dr. Purnomo Hadi, M.Si., Sp.MK


Mikrobiologi FK UNDIP – 2016 1
Sasaran belajar:
A. Konsep: Inflamasi – Kolonisasi – Infeksi - Sepsis
– Intoksikasi
B. Mekanisme dan Jenis2 Infeksi
C. Rantai Epidemiologi: Host – Agent –
Environment
D. Ruang Lingkup Mikrobiologi
E. Masalah dalam penanganan Infeksi
F. Tantangan bidang Mikrobiologi dalam masalah
infeksi

2
A. KOLONISASI - INFLAMASI
KOLONISASI:
• suatu keadaan dimana ditemukan adanya agen infeksi, pada permukaan
jaringan, dimana organisme tersebut hidup, tumbuh dan berkembang biak,
tetapi tanpa disertai adanya respons imun atau gejala klinik

INFLAMASI/PERADANGAN:
• Respon jaringan terhadap adanya gangguan dari luar
• Jenis Gangguan: Fisik (trauma), Kimia, Biologis (infeksi)
• Tanda khas:
- Rubor(merah) - Tumor (bengkak)
- Calor (panas) - Dolor (sakit)

3
Inflammation Steps

4
Respon peradangan
Merupakan respon jaringan terhadap berbagai
rangsangan kimia:
– Histamine dari mast cell
– Serotonin dari platelets
– Lysosomal enzyme dari kerusakan sel darah putih
– Prostaglandin dari kerusakan membran sel

PERADANGAN
5
• Masuk dan berkembang biaknya mikroorganisme pada
jaringan host

– Menyebabkan penyakit akibat terjadinya kerusakan atau


gangguan fisiologi

• Dengan atau tanpa disertai adanya gejala dan tanda


klinis

6
Proses Infeksi:
Adherence

Colonization

Invasi - Multiplication

kerusakan jaringan, gangguan


fungsi
Gejala, tanda  Penyakit
infeksi 7
Infection Progress

Death

Number of Overt disease


microorgan
isms
Onset of symptoms Recurent disease

Uncertainty region

No disease

Time Cure
Incubation
period 8
B. MEKANISME PENYAKIT INFEKSI
(PATOGENESIS)

Mekanisme: Contoh:
Efek langsung toksin diphteria, tetanus
Efek langsung enzim S. aureus, C. perfringens
Respon peradangan (non-
spesifik)
- Lokal abses
- sistemik sepsis, septic shock
Respon imun reumatic fever
Gangguan pertumbuhan sel ca cervix, ca lambung
9
1. Efek Langsung dari Toksin:
• Sistemik:
– Diphtheri
– Tetanus
– Botulinum
• Lokal:
– Enterotoksin: V. cholerae
– Food poisoning: Staph. aureus

10
Tetanus toksin

11
Difteri

12
Enterotoxin & Food Poisoning

13
2. Efek Enzim dari Patogen:

Efek enzim Hyaluronidase dari Staphylococcus aureus 14


3a. Akibat Respon Peradangan (lokal)
pada Infeksi

Pembentukan abses

15
3b. Akibat Respon Peradangan (sistemik)
pd Infeksi: Sepsis dan Syok Septik

16
4. Penyakit akibat Reaksi Imun

Contoh penyakit akibat reaksi imun thd infeksi (S. pyogenes)

17
5. Infeksi dan induksi Neoplasma
• Hepatitis B, C vs Hepatoma
• Papilloma virus vs Ca Cervix
• Helicobacter pylori vs Ca
lambung

18
C. SEGITIGA EPIDEMIOLOGIINFEKSI :
AGENT-HOST-ENVIRONTMENT
Lingkungan
(Environtment)

Mikroba
(Agent)
– Virus Manusia
– Bakteri (Host)
– Fungi
– Parasit

19
Unsur infeksi 1: Agents

LINGKUNGAN

• Mikroba:
– Virus
– Bakteri Manusia
– Fungi
– Parasit

20
Agen infeksi menurut Patogenitasnya
• Patogen murni:Terbukti mempunyai unsur
patogenisitas: enzim, toxin dan lainnya
Contoh: Staphylococcuc aureus, Salmonella typhi,
Mycobaterium tuberculosis
• Patogen oportunistik: Menyebabkan sakit hanya
pada kondisi tertentu: gangguan sistem imun host,
pindah lokasi.
Contoh: Staphylococcus epidermidis, E. coli, kebanyakan
jenis jamur
• Non-patogen: belum pernah terbukti
menyebabkan infeksi.
Contoh: umumnya bakteri2 lingkungan

21
Jenis agen infeksi

22
The Size of Infection agents

Light Microscope Light Microscope


400X Electron
400X Light
Microscope
Microscope
>10.000X
1000X
(parasit: 15 – 18 μm)

Fungi 10 – 12 μm E. coli (bacteria) Chlamydia


1 – 5 μm Virus,23prion
< 1μm
Unsur infeksi 2: Host

LINGKUNGAN

• Mikroba:
Host/ • Faktor
– Virus
Manusia predisposisi
– Bakteri
• Faktor risiko
– Fungi
– Parasit

24
Agent vs Immune System:

• Viruses
• Bacteria Patogenisity Immune respons
• Fungal
• Parasytes
Antibiotic is not
the only
recovery
determinant ..!
25
Predisposisi : Sistem Pertahanan Host
(Sistem Imun)
1. Sistem Imun Nonspesifik
– Pasif:
• Struktur pelindung (kulit, selaput lendir)
• Bahan-bahan kimia: asam lambung
• Flora normal
– Aktif:
• Peradangan
• Fagositosis

2. Sistem Imun Spesifik:


– Humoral : antibodi
– Seluler : limfosit T sitotoksik
Sistem imun non-spesifik:
• Kulit dan mukosa
• Reaksi radang
• Fagositosis

Sistem imun spesifik:


 Aktivasi Sel Limfosit T-Helper
 Produksi antibodi
 Pembentukan klon memori

27
Faktor Predisposisi Host dalam Infeksi
• Faktor yang mempengaruhi:
– status imun dan imunisasi,
– umur,
– status gizi,
– penyakit kronis (mis : DM)
– luka bakar yang luas,
– trauma atau pembedahan,
– pengobatan dengan imunosupresan

• Faktor lain:
– jenis kelamin, ras atau
– etnis tertentu/genetik

28
Faktor Risiko Host dalam Infeksi
• Tindakan medis invasif: operasi, ventilator,
kateter, infus
• Pekerjaan
• Gaya Hidup
• Kebudayaan
• Tingkat pendidikan
• Sosial Ekonomi

29
Unsur infeksi 3: Lingkungan

LINGKUNGAN

• Mikroba:
– Virus
– Bakteri Manusia
– Fungi
– Parasit

30
Lingkungan sebagai Sumber Infeksi:
1. Benda hidup:
1. Manusia:
– Pasien (Sakit)
– Karier: (dalam masa inkubasi, masa
penyembuhan, fase kronis asimtomatis)
– Endogen: flora normal/komensal, infeksi laten

2. Binatang: Zoonosis (anthrax), Vektor


(nyamuk),
Carrier (lalat)

2. Benda mati:
• Makanan/minuman
• Udara, air
• Peralatan: rumah tangga, medis

31
PPI:
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI

32
Cara penularan:
• Utama (dari manusia):
– Kontak:
• Langsung
• Tidak langsung
– Droplet
– Airborne
• Hewan :
– Zoonosis
– Gigitan
• Lingkungan

 Dipermudah dan diperluas karena kemudahan


transportasi dan mobilitas

33
Prinsip Dasar PPI:
KEWASPADAAN ISOLASI:
1. Standard Precaution: Kewaspadaan Standar

2. Transmission Base Precaution: Kewaspadaan


Berdasarkan Transmisi

34
Kewaspadaan Standar:
• Gabungan dari:
– Universal Precautions/ Kewaspadaan Universal
– Body Substance Isolation/ Isolasi duh tubuh
• Merupakan kewaspadaan terhadap darah dan semua
cairan tubuh (termasuk: feses, lendir hidung,
sputum, urin, atau muntahan, kecualikeringat)
• Diterapkan/ditujukan terhadap semua orang
(petugas kesehatan, klien, pengunjung, keluarga)

Anggap setiap orang (pasien atau petugas): sangat


berpotensi menularkan & rentan terhadap infeksi.
Komponen Utama Kewaspadaan Standar

1. Cuci tangan
2. Sarung tangan
3. Masker,pelindung mata & pelindung wajah
4. Gaun/apron
5. Peralatan perawatan Pasien
6. Pengendalian lingkungan – limbah
7. Penanganan Linen
8. Kesehatan karyawan
9. Penempatan pasien
10. Etika batuk/higiene saluran nafas

2-36
5-36
Kewaspadaan Standar (1):
cuci tangan
Cuci tangan (reguler,prosedural):
 sebelum dan sesudah menyentuh
darah/cairan tubuh
 setelah melepas sarung tangan
 setelah & sebelum kontak dengan pasien
yang berbeda.

37
Kewaspadaan Standar (2): sarung
tangan
Memakai sarung tangan (kedua tangan):
 Sarung tangan bersih sebelum menyentuh
benda basah (kulit terkelupas, selaput
mukosa, darah/cairan tubuh, peralatan kotor,
sampah terkontaminasi

 Sarung tangan steril:


 sebelum melakukan tindakan invasif.

38
Kewaspadaan Standar (3): APD dan teknik
aseptik
 Pakai pembatas fisik:
 goggles, masker ,gaun dan celemek - jika
mungkin terpercik atau terkena tetesan
darah maupun cairan tubuh lain

 Gunakan bahan antiseptik:


 membersihkan kulit, membersihkan luka
sebelum operasi,cuci tangan atau cuci
tangan operasi dengan antiseptik berbahan
dasar alkohol.
2-39
Kewaspadaan Terhadap jarum/benda
tajam:
 Jalankan praktek aman di tempat kerja:
 tidak menutup/membengkokkan jarum
suntik
 memberikan alat tajam dengan aman
 menjahit luka dengan peralatan yang benar

40
Luka tusuk jarum

300 luka tusuk/100 TT/tahun


21.5% selama tindakan
78.5% setelah tindakan
Recapping
Melepas jarum / scalpel

Yunihastuti, et al. Health Care Workers’ Behaviour during HIV Occupational Exposure Reported to Pokdisus AIDS Jakarta
2004-2006
Penanganan benda tajam
Jangan recapping jarum bekas pakai (kategori IB),
kecuali dengan tehnik 1 tangan
Dilarang mematahkan jarum, melepaskan,
membengkokkan jarum bekas pakai.

Bila memberikan benda


tajam, gunakan cara
yang aman

2-42
5-42
Proses recapping
yang aman:
Metoda satu tangan

2-43
5-43
Penanganan sampah/limbah
Warna Tempat Sampah:
 Kuning:sampah Infeksius

 Hitam:non infeksius/
domestik
 Merah:Radioaktif

 Ungu :Cytotoksik

Wadah:
 Tahan bocor dan tahan
tusukan
 Harus mempunyai pegangan
yang dapat dijinjing dengan
satu tangan
 mempunyai penutup yang44
Kewaspadaan Standar (3)

 Buang sampah infeksius dengan aman:


 Melindungi petugas yang menangani
 Mencegah luka
 Mencegah penyebaran infeksi ke masyarakat.

 Proses peralatan, sarung tangan dan benda lain:


 Dekontaminasi
 Dibersihkan
 Sterilisasi/ DTT sesuai prosedur yang dianjurkan.

2-45
Alur Pemrosesan Alat Medis Bekas Pakai
DEKONTAMINASI
Rendam dalam larutan klorin 0.5 % selama 10 menit

Pembersihan
(Cuci bersih, tiriskan, keringkan)

Sterilisasi Disinfeksi Disinfeksi


(peralatan kritis) tingkat tinggi tingkat rendah
Masuk dalam pembuluh (peralatan semi kritikal) (peralatan non kritikal)
darah/jaringan tubuh
Masuk dalam mucosa Hanya pada permukaan
Instrumen bedah tubuh tubuh yang utuh
Endotracheal tube, NGT Tensi meter, termometer
Perlindungan Petugas:

Imunisasi petugas kesehatan


• Imunisasi:
– Hepatitis A
– Hepatitis B
– Influenza
– Pneumococcus
• PPP: Profilaksis Paska Pajanan

2-47
Penempatan pasien
Tempatkan pasien yang infeksius dalam ruang
terisolasi.
Bila tidak memungkinkan dilakukan kohorting

2-48
5-48
Etika batuk/higiene sal nafas
• Komponen baru Kewaspadaan Standar
• Berasal dr kontrol terhadap MTB
• Target:pasien,keluarga dan teman pasien dg diagnosis
infeksi sal nafas yg dapat di transmisikan,batuk,
rhinorrhoe , pilek:

Program:
1. edukasi pasien,keluarga,pengunjung
2. beri gambar dg bahasa mudah difahami bagi pasien
3. menutup mulut/hidung dg tisu saat batuk,pakai
masker
4. cuci tangan setelah kontak dg sekresi sal nafas
5. beri jarak >3 feet bg pasien infeksi saluran nafas di
ruang tunggu pasien (bila memungkinkan) ,pakaikan
masker 5-49
Etika batuk/higiene sal nafas
• Efektif menurunkan transmisi patogen droplet
melalui saluran nafas (influenza,adenovirus, B
pertusis, Mycoplasma pneumoniae)
• Petugas dg infeksi sal nafas menjauhi kontak
langsung dg pasien, memakai masker

5-50
Praktek menyuntik yang aman
• Pakailah jarum yang steril, disposable,pada
tiap suntikan untuk mencegah kontaminasi pd
peralatan injeksi dan terapi
• Pd saat melakukan tindakan lumbal punksi,
anastesi spinal dan epidural, klinisi memakai
masker, unt mencegah transmisi droplet flora
orofaring

5-51
Kewaspadaan Berdasarkan
Transmisi

5-52
Transmission Base Precaution/
Kewaspadaan Berdasarkan Penularan:
Terbagia atas
1. Contact Precaution
2. Droplet Precaution
3. Airborne Precaution

• Dapat terjadi kombinasi transmisi


• Penerapannya sebagai tambahan
kewaspadaan standar
53
Penerapan Kewaspadaan
Berdasarkan Transmisi
• Kewaspadaan Berdasarkan Transmisi
diterapkan pada pasien dengan gejala atau
dicurigai terinfeksi kuman menular/infeksius

• Kewaspadaan Berdasarkan Penularan


bersama Kewaspadaan Standar bertujuan 
memutus rantai penularan

2-54
Penularan Kontak:
• ~ semua jenis infeksi dapat menular melalui
kontak
• Penyebab utama penularan
• Paling mudah dicegah: cuci tangan, sarung
tangan
• Kontak:
– Langsung
– Tidak langsung

Purnomo Hadi 55
Contact Precaution:
• Merupakan mode penularan infeksi utama

• Merupakan cara pencegahan infeksi paling


mudah

• Penting: disiplin perilakuk petugas kesehatan


dlm menjalankan prinsip-prinsip Kewaspadaan
Standar

56
Kewaspadaan Transmisi Kontak
Penempatan pasien :
• 1 kamar tersendiri atau kohor (dikumpulkan) dengan
pasien yang terinfeksi agen infeksi sama

Alat Pelindung Diri


• Sarung tangan:
– Pada saat merawat pasien, ganti bila kontak dg bagian terinfeksi,
– buka sarung tangan sebelum keluar ruangan
• Gaun :
– Bila diperkirakan pakaian akan tercemar saat kontak dg pasien, permukaan lingkungan
atau peralatan pasien (diare, inkontinensia, kolonostomi, slang drainase).
– Lepaskan gaun sebelum meninggalkan ruangan dan pastikan pakaian tidak menyentuh
lagi permukaan tercemar dlm ruangan
Kewaspadaan Transmisi Kontak (2)

• Pemindahan pasien :
– Pastikan tindakan kewaspadaan terhadap pasien telah dilakukan agar tidak
menjadi sumber penularan selama proses transportasi

• Peralatan pasien :
• Sedapat mungkin berikan peralatan tersendiri.
• Bila tidak memungkinkan lakukan pembersihan dan
disinfeksi sebelum digunakan untuk pasien lain.
Droplet Precaution:
• Cairan yang dikeluarkan, terutama pada
waktu:
– Bicara
– Bersin
– Batuk
• Droplet:
– Percikan >5µm melayang di udara jatuh mengenai mukosa
mata, hidung atau mulut yang ada pada jarak dekat
– Droplet tidak selamanya melayang diudara
• Mengkontaminasi sekitarnya  penularan
kontak
2-59
Purnomo Hadi 60
Pakai masker tetap cantik

Purnomo Hadi 61
Team work
Kewaspadaan Transmisi Droplet
Tempatkan pasien di kamar tersendiri atau dengan
pasien infeksi yg sama (bila tidak memungkinkan) dan
beri jarak antar pasien 1m

Pengelolaan udara khusus tidak diperlukan, pintu boleh


terbuka

Gunakan masker bedah dalam jarak 1 m dari pasien (2


m pada pasien flu burung)

Pemindahan pasien :
Minimalisasi transportasi pasien, pasangkan masker
pada pasien saat proses pemindahan
Airborne Precaution:
• Udara/Airborne
– Percikan/partikel berukuran kecil < 5mm yang
melayang/menetap di udara

– Mikroorganisme infeksius dapat menyebar luas


melalui aliran udara dan terhisap oleh individu
rentan baik di dekat atau pada jarak jauh (TBC,
cacar air/varicella, campak)

2-64
Penularan droplet  Udara

Purnomo Hadi 65
Penularan udara: tidak terbatas

Purnomo Hadi 66
Kewaspadaan Transmisi Udara/Airborne

1. Penempatan pasien :
• Di ruangan dengan tekanan negatif termonitor
• Pertukaran udara setiap 5-10 menit atau 6-12 x per jam
• Jangan gunakan AC sentral, tapi gunakan AC + filter HEPA
(high efficiency particulate air) yang menyaring udara
ruangan yang dibuang keluar.
• Pintu harus selalu tertutup rapat.
• Bila tdk memungkinkan, kumpulkan pasien (kohor) dengan
pasien infeksi sama
Suplai udara R. negatif (R. Isolasi AI)

--

-
Kewaspadaan Transmisi Udara (2)
2. Perlindungan jalan napas :
• Gunakan proteksi (respirator N95) bila memasuki ruangan
pasien dg TB paru.
• Individu yg sudah imun tidak perlu menggunakan proteksi jalan
napas
3. Individu rentan tidak diperbolehkan masuk
4. Pemindahan pasien :
• Minimalisasi pemindahan pasien, pasangkan masker bedah pada
pasien saat transportasi
5. Diterapkan pada tindakan yang menghasilkan aerosol,
yang sangat diperlukan
Air Purifying Respirators –N95
(filter)
Masker bedah N95: 85-95% effective
Powered Air Purifying Respirators (PAPR) –
Hooded (versus face-piece)

• 99.99% effective
PPI-airborne: Ruang Rawat Jalan

72
PPI-airborne: Ruang perawatan

73
Salam dari Sabang…
Refferences:

1. Koneman EW, Allen SD, Dowell VR, Janda WM, Sommers HM, Winn WC.
Color Atlas and Textbook of Diagnostic Microbiology. 3rded. 1988. JB
Lippincott Co. Pennsylvania.
2. Mims CA, Playfair JHL, Roitt IM, Wakelin DW, Williams R, Anderson RM.
Medical microbiology. Mosby. London. 1995
3. Talaro K, Talaro A. Foundations in micrbiology. McGraw-Hill. London. 1996.
4. Murray PR, Baron EJ, Jorgensen JH, Pfaller MA, Yolken RH. Manual of clinical
microbiology. 8thed. ASM Press. Washington DC. 2003.
5. Mandell, GL., Bennett JE., Dolin R., Mandell, Douglas, and Bennett’s:
Principle and practice of infectious disesases. 5th. ed. Churchill Livingstone.
2000.
6. Neal R. Chamberlain, Ph.D.: Infectious Diseases Fall 2005. Internet. Internet

75