Anda di halaman 1dari 22

PANDUAN KESELAMATAN PASIEN

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Keselamatan (safety) telah menjadi isu global termasuk juga untuk rumah
sakit. Ada lima isu penting yang terkait dengan keselamatan (safety) di rumah
sakit yaitu; keselamatan pasien (pasien safety), keselamatan pekerja, atau
petugas kesehatan, keselamatan bangunan, dan peralatan di rumah sakit yang
bisa berdampak terhadap keselamatan pasien dan petugas, keselamatan
lingkungan (green productivity) yang berdampak terhadap pencemaran
lingkungan dan keselamatan bisnis, rumah sakit yang terkait dengan
kelangsungan hidup rumah sakit,kelima aspek keselamatan tersebut sangatlah
penting untuk dilaksanakan di rumah sakit. Namun harus diakui kegiatan
institusi rumah sakit dapat berjalan apabila ada pasien. Karena itu keselamatan
pasien merupakan prioritas utuma untuk dilaksanakan, dan hal tersebut terkait
dengan isu mutu dan citra rumah sakit.
Harus diakui, pelayanan kesehatan pada dasarnya adalah untuk
menyelamatkan pasien sesuai dengan yang diucapkan Hipocrates kira-kira
2400 tahun yang lalu yaitu primum, non nocere (first, do no ham). Namun
diakui dengan semakin berkembangnya ilmu dan tehnologi pelayanan
kesehatan khususnya rumah sakit menjadi semakin komplek dan berpotensi
terjadinya Kejadian Tidak Diharapkan–KTD (adverse event) apabila tidak
dilakukan dengan hati- hati.
Di rumah sakit terdapat ratusan macam obat, ratusan tes dan prosedur,
banyak alat dengan tehnologinya, bermacam jenis tenaga profesi dan non
profesi yang siap memberikan pelayanan pasien 24 jam terus menerus.
Keberagaman dan kerutinan pelayanan tersebut apabila tidak dikelola dengan
baik dapat menyebabkan terjadinya KTD.
Pada tahun 2000 institute of medicine di Amerika Serikat menerbitkan
laporan yang mengagetkan banyak pihak; TO ERR IS HUMAN, Building a
Safer Health System. Laporan ini mengemukakan penelitian di rumah sakit di
Utah dan Colorado serta New York. Di Utah dan Colorado ditemukan KTD
(adverse event) sebesar 2,9%, dimana 6,6% diantaranya meninggal. Sedangkan
di New York KTD adalah sebesar 3,7% dengan angka kematian 13,6%. Angka
kematian akibat KTD pada pasien rawat inap diseluruh Amerika yang
berjumlah 33,6% per tahun berkisar 44.000-98.000 per tahun. Publikasi WHO
pada tahun 2004, mengumpulkan angka-angka penelitian rumah sakit di
berbagai negara; Amerika, Inggris, Dermark, dan Australia, ditemukan KTD
dengan rentang 3,2-16,6%. Dengan data-data tersebut, berbagai negara segera
melakukan penelitian dan mengembanhka Sistem Keselamatan Pasien.
Di Indonesia data tentang KTD apabila Kejadian Nyaris Cedera (near
miss) masih langka, namun di lain pihak terjadi peningkatan tuduhan “mal
praktek”, yang belum tentu sesuai dengan pembuktian akhir. Dalam rangka
peningkatan keselamatan pasien di rumah sakit maka Perhimpunan Rumah
Sakit Seluruh Indonesia telah mengambil inisiatif membentuk Komite
Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKP-RS). Komite tersebut telah aktif
melaksanakan langkah-langkah persiapan pelaksanaan keselamatan pasien
rumah sakit dengan mengembangkan laboratorium program keselamatan
pasien rumah sakit.
Mengingat keselamatan pasien sudah menjadi tuntutan masyarakat maka
pelaksanaan program keselamatan pasien rumah sakit perlu dilakukan. Karena
itu diperlukan acuan yang jelas untuk melaksanakan keselamatan pasien
tersebut. Buku Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit yang
terutama berisi Standart Keselamatan Pasien Rumah Sakit dan Tujuan
Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit diharapkan dapat
membantu rumah sakit dalam melaksanakan kegiatannya. Buku Panduan ini
rencananya akan dilengkapi dengan Instrumen Penilaian yang akan dimasukan
di dalam program akreditasi rumah sakit.

B. TUJUAN PENYUSUNAN BUKU TATA KELOLA


TUJUAN UMUM ;
Memberikan informasi dan acuan bagi Rumah Sakit Qadr dalam melaksanakan
program keselamatan pasien rumah sakit.
TUJUAN KHUSUS ;
1. Terlaksananya program keselamatan pasien Rumah Sakit Qadr secara
sistematis dan terarah.
2. Terlaksananya pencatatan insiden di Rumah Sakit Qadr dan pelaporannya
3. Sebagai acuan penyusunan instrument akreditasi Rumah Sakit Qadr

C. PENGERTIAN
1. Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety)
Suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman.
Hal ini termasuk asesment resiko, identifikasi dan pengelolahan hal yang
berhubungan Dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis insiden,
kemampuan belajar dari Insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi
solusi untuk meminimalkan Timbulnya resiko. Sistem ini mencegah oleh
kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil
tindakan seharusnya.

2. Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) (Adverse event)


Suatu kejadian yang tidak diharapkan yang mengakibatkan cidera
pasien akibat melaksanakan sutau tindakan / tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil dan bukan karena penyakit dasarnya atau kondisi
pasien. Cidera dapat diakibatkan oleh kesalahan medis atau bukan kesalahan
medis karena tidak dapat dicegah.

3. KTD yang dapat dicegah (Unpreventable adverse event)


Suatu KTD akibat yang tidak dapat dicegah dengan pengetahuan yang
mutahir

4. Kejadian Nyaris Cidera (KNC) (Near miss)


Suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan (commission) /
tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (ommission), yang
dapat menciderai pasien, tetapi cidera serius tidak terjadi, karena
keberuntungan (misalnya pasien terima suatu obat kontra indikasi, tetapi
tidak timbul reaksi obat). Karena pencegahan (suatu obat dengan over dosis
lethal akan diberikan, atau peringanan (suatu obat dengan over dosis lethal
diberikan, diketahui secara dini lalu diberikan anti dotenya).

5. Kesalahan Medis (Medical Errors)


Kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis yang
mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan atau berpotensi
mengakibatkan cidera pada pasien. Kesalahan termasuk gagal melaksanakan
sepenuhnya suatu rencana atau menggunakan rencana yang salah untuk
mencapai tujuannya. Dapat akibat melaksanakan sepenuhnya suatu rencana
atau menggunakan rencana yang salah untuk mencapai tujuannya. Dapat
akibat melaksanakan suatu tindakan (commission) atau tidak mengambil
tindakan yang seharusnya diambil (ommission).

6. Insiden Keselamatan Pasien (Patient Safety Incident)


Setiap kejadian yang tidak disengaja dan tidak diharapkan, yang dapat
mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cidera pada pasien.

7. Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien Rumah Sakit


Suatu sistim untuk mendokumentasikan insiden yang tidak disengaja
dan tidak diharapkan, yang dapat mengakibatkan atau berpotensi
mengakibatkan cidera pada pasien. Sistim ini juga mendokumentasikan
kejadian-kejadian yang tidak konsisten dengan operasional rutin rumah sakit
atau asuhan pasien.

8. Analisis Akar Masalah (Root Cause Analysis)


Suatu proses terstruktur untuk mengidentifikasi faktor penyebab
antara faktor penyebab atau faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya
penyimpangan kinerja, termasuk KTD.
9. Manajemen Resiko (Risk Management)
Dalam hubungannya dengan operasional rumah sakit, istilah
manajemen resiko dikaitkan kepada aktifitas perlindungan diri yang berati
mencegah ancaman yang nyata atau berpotensi nyata terhadap kerugian
keuangan akibat kecelakaan, cidera atau malpraktek medis.

10. Kejadian Sentinel (Sentinel Event)


Suatu KTD yang mengakibatkan kemampuan atau cidera yang serius,
biasanya dipakai untuk kejadian yang sangat tidak diharapkan atau tidak
dapat diterima seperti : operasi pada bagian tubuh yang salah. Pemilahan
kata sentinel terkait dengan keseriusan cidera yang terjadi (misalnya
amputasi pada kaki yang salah) sehingga pencarian fakta terhadap kejadian
ini mengungkapkan adanya masalah yang serius pada kebijakan dan
prosedur yang berlaku.

D. TUJUAN KPRS
1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit
2. Meningkatnya akutanbilitas Rumah Sakit terhadap pasien dan masyarakat
3. Menurunnya kejadian tidak diharapkan (KTD) di Rumah Sakit
4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan pada kejadian yang tidak diharapkan

E. STANDAR KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT QADR


Mengingat masalah keselamatan pasien merupakan masalah yang perlu
ditangani segera di Rumah Sakit di Indonesia maka diperlukan standar
keselamatan pasien Rumah Sakit yang merupakan acuan bagi Rumah Sakit di
Indonesia untuk melaksanakan kegiatannya. Standar keselamatan pasien
Rumah Sakit yang disusun ini mengacu pada Hospital Patient Safety Standart
yang dikelluarkan oleh Joint Commision on Acceditation of Health
Organizations,Illinois,USA,tahun2002, yang disesuaikan dan kondisi perumah
sakitan di Indonesia. Standar keselamatan pasien wajib diterapkan Rumah
Sakit dan penilaiannya dilakukan dengan menggunakan Instrument Akreditasi
Rumah Sakit.

Standar keselamatan pasien tersebut terdiri dari 7 standar yaitu :


1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga
3. Keselamatan pasien dan keseimbangan pasien
4. Penggunaan metode per metode peningkatan kinerja untuk melaksanakan
evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
6. Mendidik staff tentang keselamatan pasien
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staff untuk mencapai keselamatan pasien

Uraian 7 standar tersebut diatas adalah sebagai berikut :


 Standar 1 tentang hak pasien
Standar :
Pasien dan kelurganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi
tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya
kejadian tidak diharapkan.
Kriteria :
1. Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan
2. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan
3. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan
secara jelas dan benar kepada pasien dan keluarganya tentang rencana
dan hasil pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk
kemungkinan terjadinya kejadian tidak diharapkan.

 Standar II Mendidik pasien dan keluarga


Standar :
Rumah sakit harus mendidik pasien dan keluarganya tentang Kewajiban dan
Tanggung jawab pasien dalam asuhan keluarga.
Kriteria :
Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dengan
keterlibatan pasien yang merupakan partner dengan proses pelayanan.
Karena itu, di Rumah Sakit harus ada sistim dan mekanisme mendidik
pasien dan keluarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien
dalam asuhan pasien. Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien dan
keluarga dapat :
1. Memberikan informasi yang benar, jelas, lengkap dan jujur
2. Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab pasien dan keluarga
3. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti
4. Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan
5. Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan Rumah Sakit
6. Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa
7. Memenuhi kewajiban financial yang disepakati

 Standar III Keselamatan pasien dan kesinambungan


Standar :
Rumah sakit menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi
antar tenaga dan unit pelayanan.
Kriteria :
1. Terdapat koordinasi pelayanan secara menyeluruh mulai dari pasien
masuk, pemeriksaan, diagnosis, perencanaan pelayanan.
2. Terdapat koordinasi pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan
pasien dan kelayakan sumber daya secara berkesinambungan sehingga
pada seluruh tahap pelayanan transisi antar unit pelayanan dapat berjalan
baik dan lancar
3. Terdapat koordinasi pelayanan yang mencakup peningkatan komunikasi
untuk memfasilitasi dukungan keluarga, pelayanan keperawatan,
pelayanan social, konsultasi dan rujukan, pelayanan kesehatan primer
dan tindak lanjut lainnya
4. Terdapat komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan
sehingga dapat tercapainya proses koordinasi tanpa hambatan, aman dan
efektif

 Standar IV Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk


melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien.
Standar :
Rumah Sakit harus mendisign proses baru atau memperbaiki proses yang
ada, memonitor, dan mengevaluasi kinerja melalu pengumpulan data,
menganalisis secara intensif kejadian tidak diharapkan dan melakukan
perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien.
Kriteria :
1. Setiap Rumah Sakit harus melakukan proses perencanaan (design) yang
baik, mengacu pada visi, misi dan tujuan Rumah Sakit, kebutuhan pasien,
petugas pelayanan kesehatan, kaidah klinis terkini, praktek bisnis yang
sehat, dan faktor-faktor lain yang berpotensi resiko bagi pasien sesuai 7
langkah menuju keselamatan pasien Rumah Sakit.
2. Setiap Rumah Sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja yang
antara lain terkait dengan pelaporan : pelaporan insiden, akreditasi,
manajemen risiko, utilisasi, mutu pelayanan keuangan.
3. Setiap Rumah Sakit harus melakukan evaluasi intensif terkait dengan
semua kejadian tidak diharapkan dan secara proaktif, melakukan evaluasi
satu proses kasus resiko tinggi.

 Standar V Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien.


Standar :
1. Pimpinan mendorong dan implementasi program keselamatan pasien
secara terintegrasi dalam organisasi melalui penerapan tujuh langkah
menuju keselamatan pasien Rumah Sakit
2. Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif untuk identifikasi
risiko keselamatan pasien dan program menekan atau mengurangi
kejadian tidak diharapkan
3. Pimpinan mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi unit
dan individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang
keselamatan pasien
4. Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adikuat untuk mengukur,
mengkaji dan meningkatkan kinerja Rumah Sakit serta meningkatkan
keselamatan pasien
5. Pimpinan mengukur dan mengkaji efektifikasi konstribusinya dalam
meningkatkan kinerja Rumah Sakit dan keselamatan pasien
Kriteria :
1. Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan pasien
2. Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan dan
program meminimalkan insiden, yang mencakup jenis-jenis kejadian
yang memerlukanperhatian mulai dari kejadian nyaris cidera (near miss)
sampai dengan kejadian tidak diharapkan (adverse event)
3. Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari
Rumah Sakit terintegrasi dan berpartisipasi dalam program keselamatan
pasien
4. Tersedia prosedr cepat tanggap terhadap insiden, termasuk asuhan
terhadap pasien yang terkena musibah, membatasi resiko pada pasien dan
menyampaikan informasi yang benar dan jelas untuk keperluan analisis
5. Tersedia mekanisme intern dan eksternal berkaitan dengan insiden
termasuk penyediaan informasi yang benar dan jelas tentang analisa akar
masalah (RCA), kejadian nyaris cidera (near miss) dan kejadian sentinel
pada saat program keselamatan pasien mulai dilaksanakan
6. Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden, misalnya
menangani kejadian sentinel (Sentinel Event) atau kejadian proaktif
untuk memperkecil resiko termasuk mekanisme untuk mendukung staff
dalam kaitan dengan kejadian sentinel
7. Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit
dan antar pengelola pelayanan di dalam Rumah Sakit dengan pendekatan
antar disiplin
8. Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan dalam
kebutuhan dalam kegiatan perbaikan kinerja Rumah Sakit dan perbaikan
keselamatan pasien, termasuk evaluasi berkala terhadap kecukupan
sumber daya
9. Tersedianya sasaran terukur dan pengumpulan informasi menggunakan
kriteria pro okjektif untuk mengevaluasi efektifitas perbaikan kinerja
Rumah Sakit dan keselamatan pasien, termasuk rencana tindak lanjut dan
implementasi

 Standar VI Mendidik Staff tentang keselamatan pasien


Standar :
1. Rumah Sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan dan orientasi untuk
setiap jabatan dengan keselamatan pasien secara jelas
2. Rumah Sakit menyeleggarakan pendidikan dan pelatihan yang
berkelanjutan untuk meningkatkan serta memelihara kompetensi staff
serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien
Kriteria :
1. Setiap Rumah Sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan dan orientasi
bagi staff baru yang membuat topik keselamatan pasien sesuai dengan
tugas masing-masing
2. Setiap Rumah Sakit harus mengintegrasikan topik keselamatan pasien
dalam setiap kegiatan inservice training dan memberikan pedoman yang
jelas tentang pelaporan insiden
3. Setiap Rumah Sakit harus menyelenggarakan pelatihan tentang
kerjasama kelompok (Team Work) guna mendukung pendekatan
interdisiplin dan kolaborasi dalam rangka melayani pasien
 Standar VII Komunikasi merupakan kunci staff untuk mencapai
keselamatan pasien
Standar :
1. Rumah Sakit merencanakan dan mendisain proses manajemen informasi
keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan
eksternal
2. Transmisi dan informasi harus tepat waktu dan akurat
Kriteria :
1. Perlu disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendisain proses
manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang hal-hal yang
terkait dengan keselamatan pasien
2. Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk
merevisi manajemen informasi yang ada

F. ORGANISASI&TATA LAKSANA KESELAMATAN PASIEN RS QADR


a. STRUKTUR ORGANISASI
Struktur Organisasi Keselamatan Pasien RS Qadr

Direktur RS Qadr

Wadir RS Qadr

KETUA
KKPRS
(Komite Keselamatan Pasien RS)

SEKRETARIS

SUB DEP SUB DEP SUB DEP


KESELAMATAN PPI KESEHATAN DAN
PASIEN KESELAMATAN KERJA
1. Dr. Ambril Nurdin Direktur Rumah Sakit Qadr
2. Dr. Zakirman Wadir Rumah Sakit Qadr
3. Amin Lukman, S.E Ketua KKPRS
4. Dwi Wahyuni Sekretaris
5. Rembyung Hartati, Amd.Kep Sub. Dep Keselamatan Pasien
6. Siti Sundari Anggota
7. Leily Idzanursiam, S.Gz Anggota
8. Dedeh Ernawati, S.Kep Sub Dep PPI
9. Sri Mulyani, Amd.Kep Anggota
10. Rutiah, Amd.Kep Anggota
11. Rini Handayani, Amd.Kep Anggota
12. Mohammad Sjifaa, SKM, M.M Sub Dep Kes. & Keselamatan Pasien

b. ORGANISASI DAN TATA KELOLA


1. Tugas dan Fungsi
 Memperlakukan panduan dan menetapkan pedoman yang terkait
dengan keselamatan pasien Rumah Sakit
 Melakukan sosialisasi dan advokasi keselamatan pasien Rumah Sakit
kepada pemerintah pusat, pemerintah propinsi dan pemerintah
kabupaten / kota serta PERSI daerah dan Rumah Sakit
 Bersama-sama dengan KARS melakukan pelatihan keselamatan
pasien Rumah Sakit
 Menyelenggarakan workshop, seminar, semiloka, lokakarya, lomba
poster dan lain sebagainya yang terkait dengan program keselamatan
pasien Rumah Sakit
 Bersama-sama dengan KARS melakukan Audit keselamatan pasien
Rumah Sakit
 Mengembangkan laboratorium uji coba program keselamatan pasien
Rumah Sakit
 Mengembangkan Rumah Sakit model untuk rujukan Rumah Sakit
lainnya dalam melaksanakan keselamatan pasien Rumah Sakit
 Melakukan penelitian / kajian dan pengembangan program
keselamatan pasien Rumah Sakit
 Mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan insiden yang
meliputi kejaidan tidak diharapkan, Kejadian Nyaris Cedera dan
kejadian Sentinel
 Bersama-sama dengan KARS melakukan evaluasi panduan, pedoman
dan pelaksanaan program keselamatan pasien Rumah Sakit
 Secara berkala memberikan laporan kegiatan ke Departemen
Kesehatan

2. Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab


Tugas Pemimpin Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit Qadr :
 Menjamin implementasi program keselamatan pasien secara
terintegrasi
 Menjamin kesinambungan program dengan mengidentifikasi risiko
keselamatan pasien dan pengurangan resiko
 Merencanakan peningkatan kinerja dan penyesuaian prioritas
 Mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi
 Mengembangkan peraturan dan prosedur dalam rangka kerja sama
 Menyiapkan SDM yang memadai untuk meningkatkan kinerja RS
dalam meningkatkan keselamatan pasien
 Mengevaluasi keselamatan pasien

3. Tugas Tim Subdep Keselamatan Pasien Rumah Sakit Qadr :


Melakukan suatu proses dalam pemberian pelayanan RS terhadap pasien
yang lebih aman.
Terdiri dari :
 Assessment resiko
 Identifikasi dan Manajemen resiko terhadap pasien
 Pelaporan dan analisis insiden
 Kemampuan untuk belajar dan menindaklanjutkan insiden
 Menerapkan solusi untuk mengurangi serta meminimalisir resiko
4. Hubungan tata cara kerja internal
1) Antar Departemen dilingkungan Rumah Sakit Qadr wajib menerapkan
prinsip koordinasi integrasi dan sinkronisasi yangn menyangkut
pelaksanaan Keselamatan Pasien Rumah Sakit Qadr
2) Mencari solusi atas kendala-kendala yang terjadi dalam pelaksanaan
tugas Keselamatan Pasien Rumah Sakit Qadr

c. STANDAR KOMPETENSI
Standar kompetensi pejabat dilingkungan Rumah Sakit Qadr
berdasarkan pada UU No.44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit dan Naskah
Akademik Pengembangan Kompetensi SDM Dokkes Polri Desember 2007.

d. TUJUH LANGKAH MENUJU KESELAMATAN PASIEN


1. Bangun Kesadaran akan Nilai Keselamatan Pasien
2. Pimpin dan Dukung Staff Anda
3. Integrasikan Aktivitas Pengelola Risiko
4. Kembangkan Sistem Pelaporan
5. Libatkan dan Berkomunikasi dengan Pasien
6. Belajar dan berbagi pengalaman Tentang Keselamatn Pasien
7. Cegah Cedera Melalui Implementasi Sistem Keselamatan Pasien

Tujuh langkah keselamatan pasien Rumah Sakit merupakan


panduan yang komprehensif untuk menuju keselamatan pasien, sehingga
tujuh langkah tersebut secara menyeluruh harus dilaksanakan oleh setiap
Rumah Sakit.
Dalam pelaksanaan, tujuh langkah tersebut tidak harus berurutan
dan tidak harus serentak. Pilih langkah-langkah yang paling strategis dan
paling mudah dilaksanakan di Rumah Sakit. Bila langkah-langkah ini
berhasil maka kembangkan langkah-langkah yang belum dilaksanakan.
Bila tujuh langkah ini dilaksanakan dengan baik Rumah Sakit dapat
menambah pengguna metode-metode lainnya.
e. PROGRAM KERJA
SCHEDUL ( JADWAL ) PELAKSANAAN KEGIATAN
2016
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

2 Pembentukan Tim KPRS X


3 Rapat Tim X X X X X X X X X X X
Pelatihan
4 X X X X X X X X X
KPRS/Sosialialisasi
5 Menyusun SPO DPJP X X
Menyusun SPO transfer info
6 X X X X X X X X X X
dan koordinasi pelayanan
Menyusun SPO pencatatan
7 X X
dan pelaporan KTD & KNC
Melaksanakan pencatatan
8 X X X X X X X X X
dan pelaporan KTD & KNC
Monitor dan Analisis 1
9 proses pelayanan yang X X X
berisiko tinggi

G. PENCATATAN DAN PELAPORAN


a. RUMAH SAKIT
1. Rumah sakit wajib melakukan pencatatan dan pelaporan insiden yang
meliputi kejadian tidak diharapkan (KTD), kejadian nyaris cedera dan
kejadian sentinel.
2. Pencatatan dan pelaporan Insiden (KTD,KNC, dan Sentinel) mengacu
kepada Buku Pedoman Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien (IKP)
yang dikeluarkan Oleh Komite Keselamatan Pasien Rumah-PERSI
3. Pelaporan Insiden terdiri dari;
 Pelaporan internal yaitu mekanisme/ alur pelaporan KPRS di internal
rumah sakit
 Pelaporan eksternal yaitu pelaporan dari rumah sakit ke Komite
Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Pelaporan eksternal wajib
dilakukan oleh rumah sakit sesuai kebutuhan dalam instrumen
akreditasi rumah sakit yaitu pada Instrumen Akreditasi Administrasi
dan Manajemen
4. Unit Keselamatan Pasien Rumah Sakit melakukan pencatatan kegiatan
yang telah dilakukan dan membuat laporan kegiatan kepada Direktur
Rumah Sakit secara berkala

b. KKPRS – PERSI
1. Merekapitulasi laporan insiden dari rumah sakit dan menjaga kerahasian
2. Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit melakukan kajian dan analisis
dari Laporan insiden rumah sakit serta melakukan sosialisasi hasil
analisis dan Solusi masalah ke rumah sakit – rumah sakit melalui PERSI
Daerah

H. PELAPORAN INSIDEN
Banyak metode digunakan untuk mengidentifikasi resiko, salah satu
caranya adalah dengan mengembangkan sistem pelaporan dan sistem analisis.
Dapat dipastikan bahwa sistem pelaporan akan mengajak semua orang dalam
organisasi untuk peduli akan bahaya/ potensi bahaya yang dapa terjadi kepada
pasien. Pelaporan juga penting digunakan untuk memonitor upaya pencegahan
terjadinya error sehingga diharapkan dapat mendorong dilakukannya
investigasi selanjutnya.
 Mengapa pelaporan insiden penting?
Karena pelaporan akan terjadi awal proses pembelajaran untuk mencegah
kejadian yang sama terulang kembali
 Bagaimana memulainya?
Dibuat suatu sistem pelaporan insiden di rumah sakit meliputi kebijakan,
alur, pelaoran, formulir pelaporan dan prosedur pelaporan yang harus di
sosialisasikan pada seluruh karyawan
 Apa yang harus dilaporkan
Insiden yang dilaporkan adalah kejadian yang sudah terjadi, potensial terjadi
ataupun yang nyaris terjadi
 Siapa yang membuat laporan Insiden?
Siapa saja atau semua staf RS yang pertama menemukan kejadian
Siapa saja atau semua staf yang terlibat dalam kejadian
 Masalah yang di hadapi dalam Laporan Insiden ?
 Laporan dipersepsikan sebagai ‘ Pekerja Perawat’
 Laporan sering di sembunyikan / Underreport, karena takut di salahkan
 Laporan sering terlambat
 Bentuk laporan miskin data karena adanya budaya blame culture
 Bagaimana cara membuat laporan Insiden ( Insident report)
Karyawan diberikan pelatihan mengenai sistem pelaporan insiden mulai dari
maksud, tujuan dan manfaat laporan, alur pelaporan, bagaimana cara
mengisi Formulir laporan insiden, kapan harus melaporkan, pengertian yang
digunakan dalam sistem pelaporan dan cara menganalisa laporan.

I. ALUR PELAPORAN INTERNAL


ALUR PELAPORAN INSIDEN KESELAMATAN PASIEN
J. ALUR PELAPORAN EKSTERNAL
1. Laporan hasil investigasi sederhana/analasis akar masalah/RCA yang terjadi
pada pasien dilaporkan oleh Tim di RS (internal) Pimpinan RS ke KKP-RS
dengan mengisi formulir Laporan Insiden Keselamatan Pasien
2. Laporan di kirim ke KKP-RS

K. ANALISIS MATRIKS GRADING RESIKO


Penilaian matriks resiko adalah suatu metode analisis kualitatif untuk
menentukan derajat resiko suatu insiden berdasarkan Dampak dan
Probabilitasnya
Probabilitas Tidak Signifikan 1 Minor 2 Moderat 3 Mayor 4 Katastropik 5
L. DPJP
1. Pengertian
DPJP adalah seseorang dokter yang bertanggung jawab atas pengelolaan
asuhan medis seorang pasien
2. Tugas
a. DPJP bertugas mengelola rangkaian asuhan medis seorang pasien sesuai
standart pelayanan medis/profesi ; anamnesa, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan penunjang medis/pemeriksaan lain, untuk penegakan
diagnosis, selanjutnya perencanaan dan pemberian therapi , pelaksanaan
tindak lanjut/follow-up/evaluasi asuhan medis sampai dengan
rehabilitasi. selain itu melakukan konsultasi sesuai kebutuhan/indikasi
baik untuk pendapatan atau rawat bersama
b. DPJP harus membuat rencana pelayanan, dimuat dalam berkas rekam
medis . Rencana pelayanan lengkap adalah memuat segala aspek asuhan
medis, yang akan diberikan, termasuk pemeriksaan, konsultasi,
rehabilitasi pasien tersebut
c. DPJP wajib memberikan pendidikan/edukasi kepada pasien tentang
kewajiban terhadap rumah sakit dan bila diperlukan di bantu oleh staff
dokter/perawat/staf administrasi. Perihal bantuan ini harus di atru dalam
pola operasional DPJP oleh Komite Medis.
Hal- hal yang menjadi kewajiban pasien adalah ;
1. Memberi informasi yang benar, jelas, dan jujur
2. Mengetahui kewajibannya dan tanggung jawab pasien dan keluarga
3. Mengajukan pertanyaan untuk hal yang tidak di mengerti
4. Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan
5. Mematuhi intruksi dan menghormati peraturan rumah sakit
6. Memperhatikan sikap menghormati dan tenggang rasa
7. Memenuhi kewajiban financial yang disepakati

Pendidikan kepada pasien/keluarganya diberikan dalam bentuk


penjelasan secara lisan dan kemudian DPJP mencatat dalam berkas
rekam medis bahwa DPJP sudah memberikan penjelasan
3. Pengaturan
a. Kebijakan DPJP ditetapkan dengan SK Direktur; tentang DPJP, tentang
wewenang komite medis dalam pengaturan DPJP
b. Pola operasional DPJP ditetapkan oleh komite medis ; tentang
pengatruan DPJP internal dalam K. SMF, pengaturan DPJP Utama,
tentang ruang lingkup DPJP, tentang kepada siapa DPJP bertanggung
jawab dan pengaturan lain yang diperlukan

4. Operasional
 Dalam hal rawat bersama cakupan pelayanan seorang DPJP adalah sesuai
dengan bidang/keahlian/kompetensinya, misalnya seorang DPJP
mengelola seorang pasien penyakit dalam, bila pasien tersebut di
konsulkan untuk masalah penyakit di bidang bedah maka seorang DPJP
lain yang akan mengelola asuhan bedah bagi pasien tersebut
 Bila pasien dikelola oleh lebih dari satu DPJP, maka ditentukan DPJP
utama sebagai Koordinator

M. MONITOR DAN EVALUASI


a. Rumah sakit
1. Pimpinan rumah sakit secara berkala melakukan monitoring dan evaluasi
program keselamatan pasien yang dilaksanakan oleh unit kerja
keselamatan pasien rumah sakit
2. Unit Kerja Keselamatan Pasien Rumah Sakit secara berkala (paling lama
2th) melakukan evaluasi pedoman , kebijakan dan prosedur keselamatan
pasien yang dipergunakan di rumah sakit
3. Unit kerja Keselamatan Pasien Rumah Sakit melakukan evaluasi
kegiatan setiap triwulan dan membuat tindak lanjutnya

b. Tugas Manager
Pimpinan rumah sakit secara berkala melakukan monitoring dan evaluasi
program keselamatan pasien yang di laksanakan oleh unit kerja keselamatan
pasien rumah sakit
c. Analisa Penyebab dan Rekomendasi
 Penyebab insident daat diketahui setelah melakukan investigasi dan
analisa baik investigasi sederhana (simple investigasi) maupun
investigasi komprehensif (root cause analysis)
 Penyebab insiden terbagi dua yaitu;
1. Penyebab langsung (immediate/direct cause)
Penyebab yang langsung berhubungan dengan insiden/dampak
terhadap pasien
2. Akar masalah (root cause)
Penyebab yang melatar belakangi penyebab langsung (underlying
cause)
 Faktor kontribusi adalah faktor yang melatar belakangi terjadinya insiden
penyebab insiden dapat di golongkan berdasarkan penggolongan faktor
kontributor. Faktor Kontributor dapat di pilih lebih dari satu
PENUTUP
Dengan semakin meningkatnya tuntutan masyarakta terhadap pelayanan di rumah
sakit maka pelaksanaan kegiatan keselamatan pasien rumah sakit , sangatlah
penting . Melalui kegiatan ini diharapkan terjadi penekanan insideng sehingga
dapat lebih meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit di
Indonesia. Program Keselamatan Pasien merupakan never ending proses, karena
itu diperlukan budaya termasuk motivasi yang tinggi untuk bersedianya
melaksanakan program keselamatan pasien secara berkesinambungan dan
kelanjutan.