Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu fenomena yang menyita perhatian khususnya di dunia


pendidikan zaman sekarang adalah kekerasan di sekolah, baik yang
dilakukan oleh guru terhadap siswa, maupun oleh siswa terhadap siswa
lainnya. Maraknya aksi tawuran dan kekerasan (bullying) yang dilakukan
oleh siswa di sekolah yang semakin banyak menghiasi deretan berita di
halaman media sosial.
Salah satu contohnya yang terjadi di Samarinda, Kalimantan
Timur, seorang santri bernama Rifqi (13) tewas dianiaya oleh temannya
yang sama-sama masih dibawah umur. Penganiayaan ini dipicu persoalan
utang piutang, Rifqi pernah meminjam uang kepada temannya sebesar Rp
85 ribu. Penganiayaan tersebut dilakukan lantaran uang yang dipinjam
oleh Rifqi disebutnya belum dikembalikan. Ibunya mengatakan bahwa
Rifqi memang anak yang pendiam, dan di sekolahnya pun jika disakiti
orang lain Rifqi tidak pernah melawan. (
https://m.liputan6.com/news/read/3444758/kpai-sesalkan-tewasnya-santri-
di-samarinda-oleh-temannya )
Hal seperti ini merupakan tuugas bagi guru BK atau seorang
konselor untuk menangani masalah seperti ini. Untuk menangani masalah
seperti ini guru BK di sekolah sangat berperan penting untuk menemukan
problem solving terhadap santri tersebut. Dan untuk menangani
permasalahan tersebut salah satunya dengan menggunakan teori konseling
Adlerian (Psikologi Individual). Teori ini difokuskan kepada keunikan
atau kekhasan setiap individu. Dan pada dasarnya manusia adalah
makhluk sosial. Kepribadian kita didibangun oleh interaksi dan
lingkungan sosial kita yang unik, bukan oleh usaha-usaha untuk
memuaskan kebutuhan biologis.

1
Tentunya seorang guru BK atau konselor harus bisa untuk
mendorong individu agar menggerakkan minat sosialnya dan
mengembangkan gaya hidupnya yang baru dari seorang individu. Dan hal
ini dapat kita pelajari dalam teori konseling Adlerian.
Adler berpendapat bahwa manusia lahir dalam keadaan inferioritas,
berarti merasa lemah dan tidak terampil dalam menghadapi tugas-tugasnya
yang harus diselesaikan. Sepanjang hidup, inferioritas muncul terus-
menerus seperti kita memenuhi tugas-tugas baru dan asing yang harus
dikuasai. Perasaan ini adalah penyebab dari semua perbaikan perilaku
manusia. Dalam hal ini Adler mencoba untuk mengubah atau memperbaiki
keadaan inferioritas menjadi superioritas, sehinga individu tersebut bisa
menyelesaikan serta menyesuaikan dengan tugas sosial yang mereka
temui. Dengan mempelajari teori konselor Adlerians dapat membantu
seorang individu yang susah untuk memperbaiki keadaan inferioritasnya
ke superioritas agar mampu menyelesaikan tugas-tugasnya dan hidup
bersosial dengan ideal.

B. Ruang Lingkup Pembahasan


Ruang lingkup pembahasan yang dikaji pada makalah ini adalah :
1. Pengantar
2. Riwayat Hidup
3. Pokok-pokok Bahasan (Konsep utama)
4. Proses Terapeutik
5. Tehnik dan Prosedur Terapeutik
C. Tujuan Penulisan
Tujuan isi makalah ini untuk mengetahui tentang Teori Konseling
Adlerian. Dan dengan adanya makalah ini agar bisa diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari. Baik untuk penyelesaian masalah masa lalu atau
masa depan. Semoga maklah ini bisa memberi pemahaman dan
pengetahuan tambahan bagi pembaca.

2
BAB II
TEORI KONSELING ADLERIAN

A. Pengantar
Freud dan Jung serta Alfred Adler adalah penyumbang utama
dalam pengembangan awal dari pendekatan psikodinamik terapi. Setelah
sekitar 8-10 tahun berkolaborasi, Freud dan Adler berpisah dikarenakan
mereka memiliki pendapat dan pemikiran yang berbeda satu sama lain.
Adler mengundurkan diri sebagai Presiden psikoanalitik di Vienna
masyarakat pada tahun 1911 dan mendirikan masyarakat untuk individu
psikologi pada tahun 1912. Freud kemudian menegaskan bahwa hal itu
tidak mungkin untuk mendukung konsep-konsep yang Adlerian dan masih
tetap dalam performa yang baik sebagai seorang psikoanalis.

Kemudian, sejumlah psikoanalis lain yang menyimpang dari


Freud antara lain Karen Horney, Erich Fromm dan Harry Stack Sullivan
meereka sepakat bahwa faktor-faktor relasional, sosial dan budaya sangat
penting untuk membentuk kepribadian. Terapi tiga ini biasa disebut
dengan neo-Freudians. Heinz Ansbacher (1979) telah menyarankan, untuk
menyebut mereka sebagai neo-Adlerians karena mereka pindah dari suatu
pandangan biologis dan derteministik Freud menuju pandangan sosial
psikologis dan teologi Adler (atau berorientasi pada tujuan) dari sifat
manusia.
Adler menekankan kesatuan kepribadian, bahwa manusia sebagai
makhluk-makhluk yang terintegrasi dan lengkap (sempurna). Pandangan
ini juga didukung oleh sifat dari tujuan suatu perilaku manusia. Adler
melihat manusia sebagai pencipta dan ciptaan kehidupan mereka sendiri,
yaitu orang mengembangkan gaya hidup yang baik dengan gerakan ke
arah yang unik dan ekspresi tujuan yang mereka pilih. Dalam pengertian
ini, diri manusia dibentuk oleh pengalaman pada saat masa kanak-kanak.

3
Rudolf Dreikurs adalah guru paling signifikan yang membawa
Adlerian ke Amerika Serikat untuk memperdalam belajar psikologi,
terutama sebagai prinsip-prinsip konseling yang diterapkan dalam
pendidikan baik individu, terapi kelompok bahkan keluarga.

B. Riwayat Hidup Alfred Adler


Alfred Adler lahir pada tanggal 7 Februari 1870 di Rudolfsheim,
tepatnya di kota Vienna, Austria. Adler merupakan anak ketiga dari tujuh
bersaudara, dari sepasang pedagang makanan pokok. Pada masa muda
Adler menderita penyakit pneumonia (paru-paru basah) bahkan Adler pun
hampir mengalami kematian pada masa mudanya.

Adler menikah pada tahun 1898 dengan Raissa Epstein, mereka


memiliki lima orang anak. Pada tahun 1902, dia bergabung dengan
kelompok Psikoanalitik Wina yang dibentuk oleh Freud. Pada tahun
1910, dia menjadi Presiden dari Vienna Psychoanalityc Society, tetapi
pada tahun 1911 dia keluar, karena pendapat ataun pandangannya brbeda
dengan Freud. Pada tahun 1912, dia mempublikasikan The Neurotic
Constitution. Pada tahun 1913, dia membentuk Society for Individual
Psychology. Pada tahun 1917 dia mempublikasikan tentang Study of
Organ Inferiority and its Psychical Compensation: A Contribution to
Clinical Medicine.

Adler meninggal pada 1937 di Skotlandia, akibat serangan


jantung. Jenazahnya dikremasi di Edinburgh, tetapi menghilang. Abu
jenazah Adler baru ditemukan pada 2007, di sebuah peti di Krematorium
Warriston. Pada 2011 abu tersebut dikembalikan ke kota kelahirannya di
Vienna, untuk dimakamkan di sana.

C. Konsep Pokok
1. Pandangan Sifat Manusia
Adler meninggalkan teori-teori dasar Freud karena Adler percaya
Freud terlalu sempit dalam penekanan pada biologi dan insting. Adler

4
percaya bahwa individu mulai membentuk sebuah pendekatan untuk
kehidupan di suatu tempat pada 6 tahun pertama hidup seorang
individu. Adler berfokus pada masa lalu seseorang sebagai sesuatu
yang dirasakan di masa sekarang dan bagaimana cara individu
menginterpretasi yang mempengaruhi perilaku seseorang. Menurut
Adler, manusia termotivasi oleh keterkaitan sosial bukan oleh
dorongan seksual, tujuan perilaku dan tujuan yang diarahkan,
kesadaran dan ketidaksadaran, ini semua merupakan fokus dari suatu
terapi.
Adler menekankan pilihan dan tanggung jawab, arti hidup, serta
berjuang untuk sukses, penyelesaian, dan kesempurnaan. Adler dan
Freud menciptakan teori yang sangat berbeda, meskipun keduanya
dibesarkan di kota yang sama di era yang sama dan dididik sebagai
dokter di Universitas yang sama. Pengalaman pada masa kecil individu
berbeda, perjuangan pribadi mereka, dan dengan siapa mereka bekerja
adalah faktor dalam pengembangan sifat manusia (Schultz & Schultz,
2009).
Teori Adler sendiri dimulai dengan pertimbangan perasaan rendah
diri (Inferiority Feelings), yang ia lihat sebagai kondisi normal semua
orang dan sebagai semua sumber manusia dalam berusaha. Alih-alih
ini dianggap sebagai tanda kelemahan atau kelainan, perasaan
inferioritas menjadi mata air kreativitas. Mereka memotivasi kami
untuk berjuang dalam penguasaan, keberhasilan (Striving for
Superiority or Perfection), dan penyelesaian. Kita didorong untuk
mengatasi rasa rendah diri kita dan berjuang untuk semakin tinggi
tingkat perkembangan (Ansbacher & Ansbacher, 1956 1964).
Memang, pada usia sekitar 6 tahun visi fiksi tentang diri kita
sebagai individu yang lengkap atau sempurna mulai membentuk
menjadi sebuah tujuan hidup. Tujuan hidup untuk menyatukan
kepribadian dan menjadi sumber motivasi manusia,setiap berjuang dan
usaha untuk mengatasi rendah diri kini sejalan dengan tujuan ini.

5
Dari perspektif Adlerian, perilaku manusia tidak ditentukan oleh
keturunan dan lingkungan. Tetapi, Adler menegaskan bahwa
keturunan dan lingkungan yang tidak sama pentingnya dengan apa
yang kita pilih untuk melakukan dengan kemampuan dan keterbatasan
yang kita miliki. Meskipun Adler menolak sikap deterministik, mereka
tidak pergi dengan pemahaman yang lain dan mempertahankan bahwa
individu dapat menjadi apa pun yang mereka inginkan. Adlerians
mengakui bahwa kondisi lingkungan dan biologis membatasi
kemampuan kita untuk memilih dan membuat.
Adlerians menempatkan fokus pada reduksi individu dan
penyusunan kembali sekelompok masyarakat. Adler adalah orang
pertama yang menciptakan pendekatan subjektif psikologi yang
berfokus pada determinan perilaku seperti nilai-nilai, kepercayaan,
sikap, tujuan, minat, dan individu persepsi tentang realitas. Dia adalah
seorang pelopor pendekatan yang holistik, sosial, tujuan berorientasi,
sistemik dan kemanusiaan. Adler juga adalah terapis sistemik pertama:
yang ia kembangkanyang sangat penting untuk memahami orang-
orang di mana mereka hidup.
2. Persepsi Subjektif tentang Realitas

Adlerians mencoba untuk melihat dunia dari klien secara subjektif


dengan kerangka acuan, yang orientasinya digambarkan sebagai
fenomenologis. Memperhatikan cara individu di mana orang-orang
memahami dunia mereka sendiri, yang disebut sebagai "realitas
subjektif," termasuk persepsi, pikiran, perasaan, nilai-nilai,
kepercayaan, keyakinan dan kesimpulan dari individu itu sendiri.
Perilaku ini dipahami dari sudut pandang perspektif subjektif individu.
Dari perspektif Adlerian, realitas objektif kurang penting daripada
bagaimana cara kita menafsirkan realitas dan memaknai yang kita
pasang untuk apa yang kita alami.

6
3. Persatuan dan Pola Kepribadian
Adler memilih nama Psikologi Individu (yang berasal dari Bahasa
Latin yaitu individum, berarti indivisible yang artinya terpisahkan)
untuk pendekatan teoritisnya karena ia ingin menghindari
reduktionisme.
Adler menekankan kesatuan dan ketidakterpisahan orang tersebut
dan menekankan pemahaman seluruh pribadi seseorang dalam konteks
hidupnya. Bagaimana semua dimensi dari seseorang adalah komponen
yang saling berhubungan, dan bagaimana semua komponen ini tidak
disimak oleh gerakan individu menuju tujuan hidup. Konsep holistik
ini menyiratkan bahwa kita tidak dapat dipahami oleh beberapa
bagian; sebaliknya, semua aspek diri harus dipahami dalam hubungan
(Carlson & Englar-Carlson, 2008). Fokusnya adalah pada pemahaman
manusia seutuhnya dalam konteks sosial yang tertanam secara
keluarga, sosial budaya, sekolah, dan pekerjaan. Kita adalah makhluk
sosial, kreatif dan pengambilan keputusan yang bertindak dengan
tujuan dan tidak dapat diketahui sepenuhnya di luar konteks yang
memiliki arti dalam hidup kita (Sherman & Dinkmeyer, 1987).
Kepribadian manusia menjadi tidak bersatu atau tidak sempurna
melalui pengembangan tujuan hidup. Pikiran, perasaan, kepercayaan,
keyakinan, sikap, karakter dan tindakan seorang individu. Tindakan
adalah ungkapan ekspresinya atau keunikannya, dan semua
mencerminkan rencana kehidupan itu yang memungkinkan bertujuan
untuk gerakan menuju tujuan hidup yang dipilih sendiri. Implikasi dari
pandangan holistik inipandangan kepribadian adalah bahwa klien
merupakan bagian integral dari sistem sosial. Dan lebih menekankan
pada hubungan interpersonal daripada internal individu psikodinamika.
Perilaku sebagai tujuan dan tujuan yang berorientasi pada psikologi
individual mengasumsikan bahwa semua perilaku manusia memiliki
tujuan. Konsep yang terarah sifat dari perilaku mungkin merupakan
landasan teori Adler. Adler mengganti penjelasan deterministik dengan

7
teologis atau optimistik yang (tujuan dan sasaran tujuan). Asumsi
dasar Psikologi Individu adalah kita hanya bisa berpikir, merasa, dan
bertindak dalam berkaitan dengan tujuan kita, kita dapat dipahami
sepenuhnya hanya dengan mengetahui tujuannya dan tujuan yang
sedang kita perjuangkan. Karena tujuan akhir subjektif kita, kita
memiliki kekuatan kreatif untuk memilih apa yang kita akan terima
sebagai kebenaran, dan bagaimana kita akan berperilaku, serta
bagaimana kita akan menafsirkan peristiwa tersebut.

Berjuang untuk signifikan dan keunggulan.Adler menekankan


bahwa pengakuan perasaan rendah diri dan konsekuensi dari
perjuangan untuk kesempurnaan atau penguasaan adalah bawaan
(Ansbacher & Ansbacher, 1979). Kita mengakui bahwa kita tak
mampu dalam banyak hal, hal tersebut ditandai dengan perasaan
rendah diri.Rendah diri ini bukanlah faktor negatif dalam hidup.
Menurut Adler, saat kita mengalami rasa rendah diri kita ditarik oleh
berjuang untuk mencapai keunggulan. Adler berusaha untuk mengubah
kelemahan menjadi kekuatanmisalnya, berusaha untuk unggul dalam
satu area untuk mengkompensasi kerusakan di daerah lain. Cara yang
unik di mana orang mengembangkan gaya berjuang untuk kompetensi
adalah apa yang dimaksud dengan individualitas atau gaya hidup.
Gaya hidup. Gaya hidup sering digambarkan sebagai persepsi kita
tentang diri sendiri, orang lain, dan dunia. Ini mencakup karakteristik
individu cara berpikir individu, bertindak, perasaan, hidup, dan
berjuang menuju tujuan jangka panjang (Mosak & Maniacci, 2011).
Adler melihat kita sebagai aktor, pencipta, dan seniman. Memahami
gaya hidup seseorang adalah agak seperti memahami gaya komposer:
"kita dapat mulai di mana pun kita memilih: ekspresi setiap akan
membawa kita ke arah yang sama-menuju motif satu, satu melodi, di
mana kepribadian dibangun" (Adler, seperti dikutip dalam Ansbacher
& Ansbacher, 1956/1964, halaman 332). Interpretasi kita terhadap

8
kejadian tersebut akan membentuk suatu kepribadian. Dan interpretasi
yang salah akan menyebabkan kesalahan pengertian dari logika kita,
yang secara signifikan akan mempengaruhi perilaku tersebut.
4. Kepentingan Sosial dan Komunitas Perasaan
Istilah ini merujuk kepada kesadaran individu yang menjadi bagian
dari masyarakat dan sikap individu dalam menghadapi dunia
sosial.Proses sosialisasi terkait dengan kepentingan sosial dimulai pada
masa kanak-kanak dan membantu anak-anak untuk menemukan
tempat dalam masyarakat dan memperoleh rasa yang dimiliki, serta
kemampuan untuk membuat kontribusi (Kefir, 1981).
Psikologi individu bersandar pada pusat kepercayaan bahwa
kebahagiaan dan kesuksesan kami sebagian besar berhubungan dengan
keterhubungan sosial ini. Karena kita tertanam dalam masyarakat, dan
memang di seluruh umat manusia, kita tidak boleh difahami dalam
isolasi dari konteks sosial. Kami terutama termotivasi oleh keinginan
untuk dimiliki.Adler mengajarkan bahwa kita harus berhasil
menguasai tiga kehidupan universal tugas: membangun persahabatan
(sosial tugas), membangun keintiman (cinta-perkawinan tugas), dan
berkontribusi kepada masyarakat (pekerjaan tugas). Tujuan terapi
adalah untuk membantu klien dalam memodifikasi gaya hidup mereka
sehingga mereka dapat lebih efektif menavigasi masing-masing tugas
ini (Carlson & Englar-Carlson, 2008).
5. Kelahiran dan Hubungan Saudara
Pendekatan Adlerian unik dalam memberikan perhatian khusus
terhadap hubungan antara saudara dan posisi kelahiran psikologis
dalam satu keluarga. Adler mengidentifikasi lima posisi psikologis,
atau titik pandang, yang anak-anak cenderung untuk melihat
kehidupan: tertua, kedua dari dua bersaudara, tengah, termuda, dan
tunggal. Berikut adalah uraian tentang pengaruh urutan kelahiran
berdasarkan Ansbacher (1964), Dreikurs (1953), dan Adler
(1931/1958) :

9
a. Anak tertua
Anak tertua umumnya menerima banyak perhatian selama
waktu yang dia alami dikarenakan dia merupakan satu-satunya
anak, dia biasanya selalu dimanjakan sebagai pusat perhatian.
Adler meyakini bahwa anak yang pertama lahir akan merasa
shock dengan terjainya perubahan status dalam keluarga,
setelah kelahiran anak kedua. Bahkan dia selalu berfikir bahwa
dia tidak lagi unik dan istimewa bagi orang tuanya.
b. Anak yang lahir kedua
Ketika sejak lahir, anak kedua selalu berbagi perhatian
dengan saudaranya. Anak kedua ini selalu ingin melampaui
kakaknya agar tetap menjadi perhatian dari orang tuanya.
Perjuangan antara kedua bersaudara ini sangat kompetitif, dan
sangat berlawanan dengan sifat anatar keduanya tersebut.
c. Anak tengah
Seorang anak yang lahir pertengahan antara saudara-
saudaranya sering terjepit karena pada umumnya anak ini
sering berfikiran dengan yakin atas ketidakadilan hidupnya dan
sering merasa dicurangi. Terutama dalam keluarga yang
ditandai dengan konflik, anak tengah mungkin menjadi
operator untuk mendamaikannya. Jika ada empat anak dalam
keluarga, anak kedua akan sering merasa seperti seorang anak
tengah dan yang ketiga akan menjadi lebih santai, lebih sosial,
dan mungkin sejajar dengan anak sulung.
d. Anak bungsu
Dalam keluarga anak bungsu atau anak termuda akan selalu
menjadi bayi dalam keluarganya dan cenderung sering
dimanjakan. Karena menjadi dimanjakan atau manja,
merupakan cara mengembangkan ketidakberdayaan menjadi
suatu bentuk seni dan menjadi ahli menempatkan orang lain

10
dalam pelayanannya. Anak bungsu cenderung hidup dengan
cara mereka sendiri.
e. Anak tunggal
Anak satu-satunya cenderung memiliki permasalahan
sendiri. Meskipun dia paham beberapa karakteristik dari anak
tertua (misalnya dorongan untuk berprestasi), dia akan belajar
menghadapinya secara dewasa. Namun, seringkali anak tunggal
selalu dimanjakan oleh orang tuanya sehingga dia selalu
bergantung pada orang tuanya. Diaselalu ingin menjadi anak
satu-satunya sepanjang waktu, dan jika posisinya ditantang,
anak tunggal akan merasa ketidakadilan.

D. Proses Konseling
1. Tujuan Konseling
Konseling Adlerian bertumpu pada kesepakatan yang kolaboratif
antara klien dan konselor secara umum, proses konseling termasuk
membentuk suatu hubungan yang berdasarkan pada sikap saling
menghormati, penilaian gaya hidup dan psikologis holistik, dan
mengungkapkan tujuan yang salah dan asumsi yang salah dalam gaya
hidup seseorang. Hal ini diikuti oleh reduksi atau reorientasi terhadap
klien ke arah kehidupan yang berguna dan bermanfaat.
Tujuan utama terapi ini adalah untuk mengembangkan seorang
klien agar memiliki dan membantu dalam mengadopsi perilaku dan
proses yang dicirikan oleh perasaaan masyarakat dan kepentingan sosial.
Hal ini dicapai dengan meningkatkan kesadaran diri klien dan menantang
serta memodifikasinya secara mendasar. (Dreikurs, 1967, 1997).
Milliren, Evans dan Newbauer (2007), mengidentifikasi tujuan terapi
Adlerian: "untuk membantu klien dan untuk memahami gaya hidup yang
unik bagi mereka dan untuk bertindak sedemikian rupa untuk memenuhi
tugas-tugas hidup dengan keberanian dan kepentingan sosial" (hal. 145).

11
Adlerians tidak melihat klien sebagai "orang sakit" dan yang
berusaha untuk menjadi "sembuh." Adlerian bertumpu pada model
pertumbuhan kepribadian bukan model medis. Seperti Mosak dan
Maniacci (2011): "Adlerian tidak tertarik dalam menyembuhkan orang
sakit tetapi dalam reeducating individu dan penyusunan kembali
masyarakat" (hal. 78).
Alih-alih ini klien sering berkecil hati karena terjebak dalam
semacam patologi. Proses konseling berfokus pada penyediaan
informasi, pengajaran, membimbing, dan menawarkan dorongan kepada
klien yang tidak dianjurkan. Konselor Adlerian memberi klien
kesempatan untuk melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda, namun
terserah kepada klien untuk memutuskan apakah akan menerima atau
tidak. Adlerians mendidik klien dengan memandang baru diri mereka,
orang lain, dan kehidupan.
Tujuan dari konseling Adlerian sebagai berikut: (Raymond J. Corsni,
tt:77)
 Memelihara interest sosial
 Mengurangi Inferior Feelings, mengatasi rasa takut, mengenal
kemampuan diri dan memanfaatannya.
 Mengubah gaya hidup
 Mengubah motivasi atau nilai-nilai yang keliru.
 Mendorong klien untuk meyakini sesama derajat dirinya dengan
orang lain.
 Membantu klien agar menjadi orang yang dapat memberikan
kontribusi terhadap orang lain.

2. Fungsi dan Peran Konselor


Adlerian menyadari bahwa klien dapat menjadi berkecil hati dan
berfungsi tidak epektif karena salah kepercayaan, nilai yang salah, dan
merasa tidak berguna. Konseling ini beroperasi dengan asumsi bahwa
klien akan merasa dan berperilaku lebih baik setelah mereka menemukan

12
dan memperbaiki kesalahan dasar mereka. Salah satu cara untuk melihat
peran konseling Adlerian adalah bahwa mereka membantu klien dalam
pemahaman, tantangan, dan perubahan mereka yang lebih baik bagi
kehidupannya. "(Disque & Bitter, 1998, hal 434).
Fungsi utama konseling adalah membuat penilaian menyeluruh
terhadap fungsi klien yang sering mengumpulkan informasi tentang gaya
hidupnya dengan menggunakan kuesioner pada konstelasi keluarga klien,
yang meliputi orang tua, saudara kandung, dan orang lain yang tinggal di
rumahnya. Dengan penggunaan kuesioner ini memberi gambaran bagi
dunia sosial seorang individu.
Konselor juga menggunakan ingatan awal sebagai prosedur
penilaian. Ingatan awal didefinisikan sebagai "cerita tentang peristiwa
yang seseorang katakan terjadi satu kali sebelum berusia 10 tahun
"(Mosak & Di Pietro, 2006, hal 1).
Sedangkan kenangan awal adalah insiden spesifik yang diingat
klien, bersamaan dengan perasaan dan pemikirannya yang menyertai
kejadian pada masa lalu. Ingatan ini sangat bergunadalam mendapatkan
pemahaman yang lebih baik tentang klien (Clark, 2002).
Proses dari mengumpulkan kenangan awal adalah bagian dari apa
yang disebut penilaian gaya hidup, yang melibatkan belajar memahami
tujuan dan motivasi klien.

Mosak dan Maniacci (2011) menganggap mimpi sebagai bagian


penting dari proses penilaian. Freud berasumsi bahwa mimpi
menginginkan pemenuhan. Disisi lain Adler melihat mimpi sebagai
latihan untuk kemungkinan tindakan di masa depan. Sama seperti ingatan
awal refleksi, tujuan jangka panjang klien, mimpi memungkinkan
jawaban atas kehadiran masalah pada klien.

13
3. Pengalaman Klien dalam Konseling
Bagaimana klien mempertahankan gaya hidup mereka, dan
mengapa mereka menolak untuk mengubahnya? Lainnya kata-kata, ini
bisa diprediksi, bagaimanapun juga dapat bertahan terhadap perubahan
hidup seseorang. Pada umumnya orang yang gagal untuk berubah
dikarenakan mereka tidak mengenali kesalahannya, dalam pemikiran
mereka atau tujuan dari perilaku mereka, bahkan tidak tahu apa yang
harus dilakukan, dan takut meninggalkan pola lama untuk hasil baru yang
tidak dapat diprediksi (Sweeney, 2009).
Klien dalam konseling Adlerian di fokuskan pada pekerjaan
mereka dan pada hasil yang diinginkan dan gaya hidup yang tangguh
yang bisa memberi perubahan baru untuk tindakan mereka.
Dalam konseling, klien mengeksplorasi apa yang oleh Adlerians disebut
logika pribadi, konsep tentang diri, orang lain, dan kehidupan yang
merupakan filosofi dimana gaya hidup seseorang berdasarkan. logika
pribadinya yang melibatkan keyakinan dan keyakinan kita yang
menghalangi kepentingan sosial (Carlson,Watts, & Maniacci, 2006).
Permasalahan klien timbul karena berdasarkan kesimpulan logika pribadi
mereka yang sering kali tidak sesuai dengan persyaratan kehidupan
sosial. Terapi membantu klien untuk menemukan tujuan perilaku atau
gejala dan kesalahan dasar yang terkait dengan penanganan pribadi
mereka. Belajar bagaimana untuk memperbaiki asumsi dan kesimpulan
yang salah sangat penting untuk konseling.

Untuk memberikan contoh konkret, pikirkan tentang usia paruh


baya yang tertekan secara kronis yaitu pria yang memulai konseling,
setelah penilaian gaya hidup selesai, dasar kesalahan ini
diidentifikasikan :

o Dia telah meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang


peduli padanya.

14
o Dia menolak orang sebelum mereka memiliki kesempatan
untuk menolaknya.
o Dia sangat kritis terhadap dirinya sendiri, mengharapkan
kesempurnaan.
o Dia memiliki harapan bahwa segala sesuatunya akan
berjalan dengan baik.
o Dia membebani dirinya dengan rasa bersalah karena dia
yakin dia membiarkan semua orang

Dalam konseling, pria ini akan belajar bagaimana menantang


struktur logika pribadinya. Dalam kasusnya logis tersebut berjalan sebagai
berikut:

• "Saya pada dasarnya tidak bisa dicintai."


• "Dunia dipenuhi orang-orang yang cenderung menolak."
• "Oleh karena itu, saya harus menjaga diri saya sendiri sehingga saya
tidak akan terluka."
Orang ini memegang beberapa kesalahan mendasar, dan logika
pribadinya menawarkan psikologis yang fokus untuk perawatan. Tema
sentral atau keyakinan dalam kehidupan klien ini mungkin: "Saya harus
mengendalikan segalanya dalam hidup saya." "Saya harus sempurna
dalam segala hal saya tahu. "
Mudah untuk melihat bagaimana depresi mungkin mengikuti
pemikiran ini, tapi Adlerians juga tahu bahwa depresi berfungsi sebagai
alasan untuk mundurnya pria ini dari kehidupan.
Penting bagi terapis untuk mendengarkan tujuan dasar klien ini
tingkah laku. Adlerians melihat perasaan sebagai selaras dengan
pemikiran dan sebagai bahan bakar untuk berperilaku Pertama kita
berpikir, kalau begitu kita merasa, dan kemudian kita bertindak.
4. Hubungan antara Konselor dan Klien
Adlerians menganggap hubungan konselor dan klien yang baik
menjadi satu diantara yang sederajat yaitu berdasarkan kerja sama, rasa

15
saling percaya, rasa hormat, kepercayaan, kolaborasi, dan keselarasan
tujuan. Mereka menempatkan nilai khusus pada pemodelan komunikasi
konselor dan bertindak dengan itikad baik. Dari awal terapi, hubungan
adalah kolaborasi, ditandai oleh dua orang yang bekerja sama spesifik,
tujuan yang disepakati. Konselor Adlerian berusaha untuk membangun
dan merawat aliansi terapeutik egaliter dan hubungan orang-ke-orang
dengan mereka klien.
Mengembangkan hubungan konseling yang kuat sangat penting
untuk hasil yang sukses (Carlson et al, 2006). Dinkmeyer dan Sperry
(2000) mempertahankannya dipermulaan konseling klien harus mulai
merumuskan rencana, atau kontrak, merinci apa yang mereka inginkan,
bagaimana mereka berencana untuk mencapai tujuan mereka, apa yang
mencegahnya. Mereka berhasil mencapai tujuan mereka, bagaimana
mereka bisa berubah menjadi tidak produktif perilaku menjadi perilaku
yang konstruktif, dan bagaimana mereka dapat memanfaatkan
sepenuhnya aset mereka dalam mencapai tujuan mereka. Kontrak
terapeutik ini menetapkan tujuan dari proses konseling dan menentukan
tanggung jawab terapis dan klien. Teknik dan prosedur konseling
Adlerian disusun sekitar empat tujuan utama yang sesuai dengan empat
fase proses konseling (Dreikurs, 1967).

E. Prosedur dan Tehnik Konseling


1. Prosedur atau Tahapan Konseling
Konseling Adlerian memiliki tahapan terstruktur yang sesuai
dengan empat tahap proses terapi (Dreikurs, 1967). Fase-fase ini tidak
akan linear dan tidak akan mengalami kemajuan jika dalam langkah
yang kaku. Fase-fase ini adalah sebagai berikut:
Tahap 1 : Menetapkan Hubungan yang tepat dengan Klien
Praktisi Adlerian bekerja secara kolaboratif dengan klien,
dan hubungan ini didasarkan dengan rasa ketertarikan yang tumbuh
dalam suaatu kepedulian, keterlibatan atau pertemanan. Kemajuan

16
terapi mungkin hanya ada ketika keselarasantujuan yang jelas
ditetapkan antara konselor dan klien. Proses konseling, agar epektif
harus berurusan dengan masalah-masalah pribadi klien dan
bersedia untuk mengeksplorasi dan mengubahnya. Efektivitas
terapi pada fase selanjutnya dari terapi adlerian ini didasarkan pada
perkembangan dan kelanjutan dari hubungan terapi (watt, 2000;
Watt & Pietrzak, 2000).
Konseling Adlerian berfokus untuk membuat kontak orang
ke orang dengan klien daripada memulai dengan “masalah”.
Keprihatinan klien akan muncul dengan cepat dalam konseling ini,
namun fokus awal kita harus pada orang tersebut, bukan fokus
pada masalahnya. Salah satu cara untuk menciptakan kontak yang
efektif anatara konselor dengan klien yaitu konselor membantu
klien untuk menyadari aset dan kelebihan dari diri seorang klien.
Selama fase awal, hubungan positif tercipta dengan
mendengarkan, menanggapi, menunjukkan rasa hormat terhadap
kemampuan klien untuk memahami tujuan dan mencari perubahan,
serta menunjukkan iman, harapan dan kepedulian. Ketika klien
menjalani terapi, mereka biasanya memiliki rasa harga diri dan
harga dirinya bisa berkurang. Mereka kurang percayapada
kemampuan mereka untuk menghadapi tugas-tugas kehidupan.
Terapis memberikan dukungan, yang merupakan penangkal
keputusasaan.
Adlerians lebih memperhatikan pengalaman subjektif klien
daripada menggunakan tekniknya. Mereka menyesuaikan teknik
mereka dengan kebutuhan masing-masing klien. Selama tahap
awal konseling, teknik utama hadir dan didengarkan dengan
empati, mengikuti pengalaman subjektif klien semaksimal
mungkin, mengidentifikasi dan mengklarifikasi tujuan, dan
menyarankan firasat awal tentang tujuan gejala klien, tindakan, dan
interaksi.

17
Jika klien merasa sangat mengerti dan menerima, klien
cenderung berfokus pada apa yang dia inginkan dari terapi dan
dengan demikian menetapkan tujuan. Pada tahap ini, fungsi
konselor adalah memberikan perspektif sudut lebar yang pada
akhirnya akan membantu klien melihat dunia mereka secara
berbeda.

Tahap 2: Jelajahi Dinamika Psikologis Individu


Tujuan tahap kedua dari konseling Adlerian adalah untuk
mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang gaya hidup
individu.Selama tahap penilaian ini, fokusnya adalah pada konteks
sosial dan budaya individu.Tahap penilaian ini hasil dari dua
bentuk wawancara: wawancara subjektif dan wawancara objektif
(Dreikurs, 1997).
Dalam wawancara subjektif, konselor membantu klien
untuk menceritakan kisah hidupnya dengan sepenuhnya. Proses ini
difasilitasi oleh penggunaan empati dengan mendengarkan dan
menanggapi.Wawancara subjektif harus mengikuti dari rasa heran,
kagum, dan ketertarikan. Apa kata klien akan memicu ketertarikan
pada konselor dan secara alami, untuk pertanyaan pertanyaan
paling penting berikutnya tentang klien dan kisah hidupnya.
Sedangkan wawancara objektif mencari informasi tentang
(a) bagaimana masalah dalam kehidupan klien dimulai; (b)
kejadian yang mengendap; (c) riwayat medis, termasuk pengobatan
saat ini dan masa lalu; (d) sejarah sosial; (e) alasan klien memilih
terapi saat ini; (f) orang tersebut menghadapi tugas hidup; dan (g)
penilaian gaya hidup. Mozdzierz dan rekan-rekannya (1986).
Konstelasi keluarga Adler menganggap keluarga asal
memiliki dampak sentral pada kepribadian seseorang. Adler
menyarankan bahwa melalui konstelasi keluarga, setiap orang
membentuk pandangan dirinya yang unik, yang lain, dan

18
kehidupannya. Faktor-faktor seperti nilai budaya dan keluarga,
harapan peran gender, dan sifat hubungan interpersonal semuanya
dipengaruhi oleh pengamatan anak terhadap pola interaksi dalam
keluarga. Penilaian Adlerian sangat bergantung pada eksplorasi
konstelasi keluarga klien, termasuk evaluasi klien terhadap kondisi
yang terjadi di keluarga saat orang tersebut adalah anak kecil
(suasana keluarga), tatanan kelahiran, hubungan orang tua dan nilai
keluarga, dan keluarga besar dan budaya.
Beberapa pertanyaan ini hampir selalu dieksplorasi :
• Siapa anak favorit?

• Apa hubungan ayahmu dengan anak-anak? Ibumu

• Anak mana yang paling mirip ayahmu? Ibumu? Dalam hal apa?

• Siapa diantara saudara kandung yang paling berbeda dari Anda?

• Siapa diantara saudara kandung yang paling menyukai Anda?

• Apa yang Anda sukai saat kecil?

Ingatan awal( early recollections )Seperti yang akan


Anda ingat, prosedur penilaian lain yang digunakan oleh Adlerians
adalah meminta klien untuk memberikan kenangan paling awal,
termasuk usia orang pada saat kejadian yang diingat dan perasaan
atau reaksi yang terkait dengan ingatan tersebut. Ingatan awal
adalah kejadian satu kali, biasanya sebelum usia 9 tahun,
digambarkan oleh klien secara detail. Adler beralasan bahwa dari
jutaan ingatan awal kita mungkin telah memilih kenangan spesial
yang memproyeksikan keyakinan penting dan bahkan kesalahan
dasar kehidupan kita. Ingatan awal adalah serangkaian misteri kecil
yang bisa dijalin bersama menjadi permadani yang mengarah pada
pemahaman tentang bagaimana kita melihat diri kita sendiri,
bagaimana kita melihat dunia, apa tujuan hidup kita, apa yang

19
memotivasi kita, apa yang kita hargai dan percayai, dan apa yang
kita antisipasi untuk masa depan kita (Clark, 2002; Mosak & Di
Pietro, 2006).

Dalam menafsirkan ingatan awal ini, Adlerians dapat


mempertimbangkan pertanyaan seperti ini:

 Bagian apa yang dibutuhkan klien dalam memori? Apakah klien


seorang pengamat atau peserta?
 Siapa lagi yang ada dalam ingatan? Posisi apa yang dimiliki orang
lain dalam kaitannya dengan klien?
 Apa tema dominan dan keseluruhan pola ingatan?
 Perasaan apa yang diungkapkan dalam ingatan?
 Mengapa klien memilih untuk mengingat acara ini? Apa yang klien
coba sampaikan?

Tahap 3: Mendorong Pemahaman Diri dan Wawasan


Mosak dan Maniacci (2011) mendefinisikan wawasan sebagai
"pemahaman yang diterjemahkan ke dalam tindakan konstruktif" (hal
89). Ketika Adlerians berbicara tentang wawasan, mereka mengacu
pada pemahaman tentang motivasi yang beroperasi dalam kehidupan
klien.
Pengungkapan dan interpretasi tepat waktu adalah teknik yang
memfasilitasi proses mendapatkan wawasan. Interpretasi
berhubungan dengan motif dasar klien untuk berperilaku seperti di
sini dan saat ini. Pengungkapan Adlerian dan interpretasi berkaitan
dengan menciptakan kesadaran akan arah seseorang dalam hidup,
tujuan dan tujuan seseorang, logika pribadi seseorang dan cara
kerjanya, dan perilaku seseorang saat ini.Tafsiran Adlerian adalah
saran yang disajikan secara tentatif berupa pertanyaan terbuka yang
bisa dieksplorasi dalam sesi. Mereka adalah firasat atau tebakan, dan

20
mereka sering dimulai dengan ungkapan-ungkapan seperti "Saya bisa
saja salah, tapi saya bertanya-tanya apakah. . . , "" Mungkinkah itu? . .
,"

Melalui proses ini, konselor dan klien akhirnya memahami


motivasi klien, cara-cara di mana motivasi ini sekarang berkontribusi
terhadap pemeliharaan masalah, dan apa yang dapat dilakukan klien
untuk memperbaiki situasi. Selama fase terapi ini, konselor membantu
klien memahami keterbatasan gaya hidup yang telah dipilih klien.

Tahap 4: Reorientasi Klien

Tahap akhir dari proses terapeutik adalah tahap berorientasi


aksi yang dikenal sebagai reorientasi dan reeducation: menempatkan
wawasan ke dalam praktek. Fase ini berfokus pada membantu klien
menemukan perspektif baru dan lebih fungsional. Klien didorong dan
ditantang untuk mengembangkan keberanian untuk mengambil risiko
dan melakukan perubahan dalam kehidupan mereka. Selama fase ini,
klien dapat memilih untuk mengadopsi gaya hidup baru berdasarkan
wawasan yang mereka dapatkan pada fase terapi sebelumnya.

Adlerians lebih tertarik pada perubahan perilaku. Reorientasi


melibatkan pergeseran aturan interaksi, proses, dan motivasi.
Pergeseran ini difasilitasi melalui perubahan kesadaran, yang sering
terjadi selama sesi terapi dan yang diubah menjadi tindakan di luar
kantor terapi (Bitter & Nicoll, 2004). Selain itu, terutama pada fase
terapi ini, Adlerians fokus pada reeducation. Terapi Adlerian
bertentangan dengan depresiasi diri, isolasi, dan retret, dan ini
membantu klien mendapatkan keberanian dan terhubung dengan
kekuatan di dalam diri mereka sendiri, kepada orang lain, dan
kehidupan. Sepanjang fase ini, tidak ada intervensi yang lebih penting
daripada dorongan.

21
Proses dorongan. Dorongan adalah prosedur Adlerian yang
paling khas, dan ini penting bagi semua tahap konseling dan terapi.
Hal ini sangat penting karena orang menganggap perubahan dalam
kehidupan mereka. Dorongan secara harfiah berarti "membangun
keberanian." Keberanian berkembang ketika orang menjadi sadar akan
kekuatan mereka, ketika mereka merasa berada dan tidak sendirian,
dan ketika mereka memiliki harapan dan dapat melihat kemungkinan
baru bagi diri mereka dan kehidupan mereka sehari-hari. Dorongan
berarti menunjukkan kepercayaan pada orang-orang, mengharapkan
mereka untuk bertanggung jawab atas kehidupan mereka, dan menilai
mereka untuk siapa mereka (Carlson et al., 2006).

Dorongan mengambil banyak bentuk, tergantung fase proses


konseling. Dalam fase hubungan, dorongan menghasilkan rasa saling
menghormati yang diharapkan oleh pembimbing. Pada tahap penilaian,
yang sebagian dirancang untuk menerangi kekuatan pribadi, klien
didorong untuk menyadari bahwa mereka bertanggung jawab atas
kehidupan mereka sendiri dan dapat membuat pilihan yang berbeda
berdasarkan pemahaman baru. Selama reorientasi, dorongan datang
saat kemungkinan baru dihasilkan dan ketika klien dikenali dan diberi
kesempatan untuk melakukan langkah positif untuk mengubah hidup
mereka menjadi lebih baik.

Perubahan dan pencarian kemungkinan baru. Selama fase


reorientasi konseling, klien membuat keputusan dan memodifikasi
tujuan mereka. Mereka didorong untuk bertindak seolah-olah mereka
adalah orang-orang yang mereka inginkan, yang dapat berfungsi untuk
menantang asumsi yang membatasi diri sendiri. Klien diminta untuk
menangkap diri mereka sendiri dalam proses mengulangi pola lama
yang menyebabkan perilaku tidak efektif. Komitmen merupakan
bagian penting dari reorientasi. Jika klien berharap untuk berubah,
mereka harus bersedia mengatur tugas untuk dirinya sendiri dalam

22
kehidupan sehari-hari dan melakukan sesuatu yang spesifik tentang
masalah mereka. Dengan cara ini, klien menerjemahkan wawasan baru
mereka ke dalam tindakan nyata. Bitter dan Nicoll (2004) menekankan
bahwa perubahan nyata terjadi antara sesi, dan bukan pada terapi itu
sendiri. Mereka menyatakan bahwa tiba pada strategi untuk perubahan
merupakan langkah awal yang penting, dan menekankan bahwa
dibutuhkan keberanian dan dorongan bagi klien untuk menerapkan apa
yang telah mereka pelajari dalam terapi terhadap kehidupan sehari-
hari. Fase yang berorientasi aksi ini adalah saat untuk memecahkan
masalah dan membuat keputusan. Konselor dan klien
mempertimbangkan kemungkinan alternatif dan konsekuensinya,
mengevaluasi bagaimana alternatif ini akan memenuhi tujuan klien,
dan memutuskan tindakan spesifik. Alternatif terbaik dan
kemungkinan baru adalah yang dihasilkan oleh klien, dan konselor
harus menawarkan dukungan dan dorongan kepada klien selama tahap
proses ini.

Membuat perbedaan. Konselor Adlerian berusaha membuat


perbedaan dalam kehidupan klien mereka. Perbedaan itu bisa
diwujudkan dengan perubahan perilaku atau sikap atau persepsi.
Adlerians menggunakan banyak teknik untuk mempromosikan
perubahan, beberapa di antaranya telah menjadi intervensi umum pada
model terapeutik lainnya. Teknik yang sesuai dengan nama kedekatan,
saran, humor, keheningan, niat paradoks, bertindak seolah-olah,
meludahi sup klien, menangkap diri sendiri, teknik tombol tekan,
eksternalisasi, reauthoring, menghindari perangkap, konfrontasi,
penggunaan cerita dan dongeng. , analisis ingatan awal, penilaian gaya
hidup, dorongan, penetapan tugas dan komitmen, pemberian pekerjaan
rumah, dan penghentian dan peringkasan semuanya telah digunakan
(Carlson & Slavik, 1997; Carlson et al., 2006; Dinkmeyer & Sperry,

23
2000; Disque & Bitter, 1998; Mosak & Maniacci, 2011; Mozdzierz,
Peluso, & Lisiecki, 2009).

2. Teknik Konseling
a. Assesment

Assesment yaitu proses pengumpulan informasi tentang


klien melalui kuesioner. Informasi yang dikumpulkan itu meliputi
beberapa aspek (1) deskripsi gejala-gejala masalah dan faktor
penyebabnya, (2) keberfungsian (peranan) konseling dalam
hubungannya dengan keluarga, teman bermain atau sekolah, teman
kerja, dan suami/istri (3) keluarga klien (dinamika dan konstelai
keluarga), (4) masalah kesehatan, termasuk penggunaan alkohol,
dan obat-obatan, dan (5) konseling sebelumnya, dan sikap klien
terhadap konselor.

b. Socratic Questioning
Socratic questioning yaitu teknik pertanyaan-pertanyaan
sokrates sebagai yang melahirkan ide-ide baru. Karakteristik
pertanyaan sokrates adalah (1) memungkinkan klien memperoleh
wawasan melalui serangkaian pertanyaan, (2) gayanya yang ramah,
sopan, dan diplomatif, (3) penuh persahabatan, (4) pada tahap
pertama dilakukan pengumpulan informasi, klarifikasi makna dan
eksplorasi perasaan, (5) pada pertengahan, diajukan pertanyaan-
pertanyaan untuk mengungkap perasaan cara berfikir dan tujuan-
tujuan yang disadari, (6) dampak perasaan cara berfikir, atau tujuan
terhadap kebutuhan pribadi atau sosial, (7) melahirkan dan
mengevaluasi pilihan-pilihan baru, (8) pada tahap akhir,
membimbing klien untuk bertanggung jawab dalam mengambil
keputusan.

24
c. Guided and Eidetic Imagery
Yang dimaksud eidtic imagery yaitu jelas (vivid) tetapi
tidak nyata ( unreal), terutama ingatan-ingatan pada masa kecil.
Proses konseling melahirkan perasaan-perasaan baru klien, dan
klien mungkin memerlukan tindakan lebih lanjut untuk
mengungkap atau mengubah perasaan-perasaan tersebut. Teknik
ini membantu klien untuk mengungkap emosinya yang
tersembunyi. Teknik ini juga digunakan untuk mengungkap
imajinasi-imajinasi simbolik tentang manusia atau situasi yang
membangkitkan emosi yang sangat kuat. Klien mungkin memiliki
perasaan dan imajinasi yang negatif tentang anggota keluarga.
Melalui teknik ini, klien dibantu ntuk menyembuhkan perasaan
benci, rasa bersalah, dan rasa takut.
d. Role Playing

Klien mungkin kehilangan pengalaman yang sangat


berharga bagi dirinya, seperti kasih sayang dari orang tuanya.
Teknik ini dimaksudkan untuk mengatasi defisiensi (kekurangan)
ini. Melalui teknik ini, klien berlatih tingkah-tingkah baru dibawah
supervisi konselor.

25
BAB III
ANALISIS KASUS

A. Kasus
Jimy adalah seorang laki-laki berusia 24 tahun. Dia pengangguran dan
mengikuti sesi konseling karena memiliki beberapa permasalahan yang
menggangunya. Masalah pertama adalah dia merasa depresi dan frustrasi
dengan hidupnya karena dia tida mempunyai pekerjaan. Pernah dia kuliah,
akan tetapi tidak tamat karena tidak serius dan banyak bolos sehingga dia
Drop Out (DO) oleh kampusnya. Dia merasa hidupnya sudah tidak berarti
dan tidak memiliki tujuan hidup yang jelas. Ia mengatakan dalam dirinya
bahwa dia tidak layak untuk hidup bahagia seperti orang lain. Ada
keinginan dalam hatinya untuk menikah dan hidup bahagia bersama
wanita pilihannya akan tetapi melihat kondisinya sekarang, dia merasa
frustrasi terhadap dirinya. Ia mengatakan setiap kali mendekati
perempuan, dia merasa cemas dan dalam pikirannya seringkali muncul
pikiran bahwa perempuan itu pasti berpikir jelek tentang kondisinya yang
buruk dan tidak punya pekerjaan. Ketika dihadapkan pada pemikiran
terhadap masalah yang ia hadapi, ia langsung mabuk dengan meminum
alcohol dengan tujuan supaya menghilangkan pikirannya yang stres. Akan
tetapi kadangkala ia berpikir untuk bunuh diri agar terbebas dari tekanan
yang ia rasakan. Ia merasa hidupnya tidak berarti. Satu-satunya yang ia
rasakan berarti adalah ia memiliki ibu yang baik hati. Akan tetapi, setiap
kali melihat ibunya, seringkali muncul pikiran bahwa dirinya tidak
berguna dan tidak bisa membahagiakan ibunya.

26
B. Analisis Kasus dalam Persfektif Teori
Konseling Adlerian ini pada dasarnya untuk membantu agar
konseli memperoleh insight atau wawasan yang mencerahkan dalam
mengubah masalah tersebut, sehingga konseli memiliki kemampuan untuk
berpikir yang benar dan merancang tujuan hidup yang realistik. Disamping
itu, konseling Adlerian konseli dibantu untuk mengembangkan perasaan
equality with other people dan mau bekerja sama atau berkooperasa
dengan orang lain.
Kasus dari Jimy ini menurut teori Adlerian bisa di atasi dengan
psikologi individual dengan empat tahap. konselor harus bisa membangun
hubungan yang baik dulu dengan Jimy. Konselor disini perlu menjadi
pendengar yang baik untuk jimy, agar jimy merasa di hargai dan di
hormati sehingga jimy bisa lebih terbuka pada konselor mengenai masalah
yang membuat dia merasa rendah diri (membangun hubungan).
Konselor harus membuat jimy sadar terlebih dahulu atas kesalahan dari
perspektif dia mengenai inferioritasnya itu. Konselor kemudian
menawarkan diri untuk menginterpretasikan dari apa yang diungkapkan
jimy. Dari kasus jimy ini bisa diketahui bahwa penyebab utamanya adalah
ia terlalu dimanjakan oleh ibumya yang membuat ia tidak memiliki rasa
percaya tinggi dan merasa dirinya sangat jelek dan berburuk snagka pada
orang lain. Inti di tahap ini adalah konselor harus bisa membuat jimy sadar
bahwa pesepsinya itu salah, dan jimy harus sadar dan membuka diri untuk
bisa berubah (menjelajahi dinamika psikologi individu). Ada dua
bentuk wawancara, yaitu wawancara subjektif dan objektif. Konselor
membantu jimy untuk bisa menceritakan masalahnya seutuh mungkin.
Bagaimana konstalasi keluarga, dan menayakan kenangan jimy saat ia
kecil. Setelah itu, kemudian konselor myatukan keduanya dan membuat
interpretasinya. Tujuannya agar bisa memberikan pemahaman (beri
dorongan dan wawasan) pada jimy, bahwa persepsi mengenai dirinya itu
adalah salah. Jimy jika ingin terlepas dari masalahnya itu, dia perlu

27
merubah persepsi terhadap dirinya itu terlebih dahulu (reorientasi dan
reeduksi). Jimy di dorong untuk berani melangkah inferioritas menuju
superioritas.

28
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Teori Adlerian didasari dari teori psikoanalisis dari Sigmund
Freud, namun memisahkan diri karena menurut Adler teori psikoanalisis
terlalu berlebihan. Inti dari teori ini adalah menekankan pada social
interest (minat sosial) yaitu perasaan menyatu dengan masyarakat.
Latar belakang terciptanya teori ini salah satuya dari pengalaman
hidup Adler itu sendiri yaitu dia tidak bisa memiliki rasa kepercayaan
kepada ibunya karena ibunya terlalu memanjakan Adler.
Hakikat manusia menurut Adler adalah manusia itu pencipta dari
hidupnya itu sendiri. Setiap manusia memiliki inferioritas dari dirinya
yang bisa menjadi kekuatan untuk manusia itu mencapai tingkat
superioritas. Adler juga memandang dari perspektif subjektif, dimana
manusia itu memandang semua kejadian dihidupnya sebagai suatu
fenomenologis. Kepribadian menurut Adler dibentuk oleh interpretasi
manusia mengenai fenomenologis itu. Kemudian adanya minat sosial yang
perlu dikembangkan di diri individu agar superioritasnya bisa dicapai,
karena adanya pengaruh lingkungan masyarakat yang memberikan rasa
aman, nyaman, dan memberikan konstribusi. Adlerpun berpendapat gaya
hidup seseorang sangat berpengaruh dikehidupan individu. Jika Freud
melihat dari aspek seksual, beda lagi dengan Adler. Adler melmilih urutan
kelahiran dari seseorang yang bisa mempengaruhi kepribadian maupun
persepsi ia di waktu sekarang.
Proses konseling Adlerian lebih mengacu pada klien. Klien di
bipandang bukan sebagai orang yang sakit mental, tapi melakukan
reorientasi dan reeduksi pada pembentukan persektif klien.
Teknik dan prosedur yang digunakan dalam proses terapi Adlerian
ini adalah pertama perlu membentuk terlebih dahulu hubungan yang baik
dengan klien, kedua konselor haru bisa menjelajahi dan memahami

29
dinamika perkembangan psikologi klien, ketiga konselor harus bisa
memberi dorongan agar klien memiliki wawasan baru yang nantinya akan
membentuk kesadaran pada klien mengenai perspektif yang salah, dan
yang terakhir adalah membentuk kembali dan mendidik ulang perspektif
yang salah pada klien untuk membentuk perspektif klien yang baru.
B. Rekomendasi
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna,
karena kami masih dalam proses belajar. Untuk kedepannya kami akan
lebih fokus dan menambah sumber-sumber yang lebih banyak. Kami
sangat mengharapkan kepada pembaca untuk membaca referensi yang
lainnya untuk menyempurnakan pengetahuan dari makalah yang telah
kami buat.

30
DAFTAR PUSTAKA

Corey, Gerald.(2013). Theory and Practice of Counseling and


Psychotherapy.USA: Brooks/Cole.

31

Beri Nilai