Anda di halaman 1dari 32

Bed Site Teaching

ULTRASONOGRAFI (USG) DAN PRESENTASI PEMERIKSAAN USG

Oleh:
Mirza Nuring Tyas 1840312434
Fikra Nurul Indra 1840312466

Preseptor:
Dr. dr. H. Joserizal Serudji, Sp.OG (K)

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

RSUP DR M DJAMIL PADANG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG

2019

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena dengan nikmat dan
karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Bed Site Teaching berjudul
“Ultrasonografi (USG) dan Interpretasi Pemeriksaan USG” sebagai salah satu
syarat dalam mengikuti kepaniteraan klinik di bagian Obstetri dan Ginekologi
RSUP Dr M Djamil Padang Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Penyusunan Bed Site Teaching ini merupakan salah satu syarat dalam
mengikuti kepaniteraan klinik senior di bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr
M Djamil Padang Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.. Terima kasih
penulis ucapkan kepada Dr. dr. H. Joserizal Serudji, Sp.OG (K) sebagai preseptor
dalam kepaniteraan klinik senior ini beserta seluruh jajarannya dan semua pihak
yang telah membantu dalam penyusunan Bed Site Teaching ini.

Penulis menyadari bahwa Bed Site Teaching ini jauh dari sempurna, maka
dari itu sangat diperlukan saran dan kritik untuk kesempurnaan Bed Site Teaching
ini. Penulis berharap agar Bed Site Teaching ini bermanfaat dalam meningkatkan
pengetahuan terutama bagi penulis sendiri dan bagi teman-teman dokter muda
yang tengah menjalani kepaniteraan klinik. Akhir kata, semoga Bed Site Teaching
ini bermanfaat bagi kita semua.

Padang, 10 Juni 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI
Halaman
Sampul Depan ………………………………………………………… 1
Kata Pengantar ……………………………………………………….. 2
Daftar Isi ……………………………………………………………… 3

BAB 1 PENDAHULUAN …………………………………………….. 4


1.1 Latar Belakang ………………………………………………. 4
1.2 Batasan Masalah ……………………………………………. 4
1.3 Tujuan Penulisan …………………………………………… 4
1.4 Metode Penulisan …………………………………………... 5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ……………………………………… 6


2.1 Definisi USG ………………………………………………… 6
2.2 Jenis-jenis USG ……....……………………………………… 6
2.3 Teknik Pemeriksaan USG …………………………………... 7
2.4 Prinsip USG …………………………………………………. 8
2.5 Indikasi Pemeriksaan USG Obstetri ………………………… 9
2.6 USG Kehamilan Trimester I ………………………………… 10
2.7 USG Kehamilan Trimester II dan III ……………………….. 14
BAB 3 LAPORAN KASUS ………………………………………….. 26
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………….... 48

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ultrasonografi (USG) merupakan salah satu pemeriksaan penunjang
dengan tujuan diagnostic dan penuntun untuk tindakan terapeutik dengan
menggunakan gelombang ultrasonik untuk mempelajari morfologi dan fungsi
suatu organ berdasarkan gambaran echo dari gelombang ultrasonik yang
dipantulkan oleh organ. Pada bidang obstetrik, USG pertama kali dikenalkan
sekitar 50 tahun yang lalu oleh Ian Donald, dan telah membawa kemajuan yang
sangat pesat di dalam hal diagnosis dan penanganan kehamilan.1
Pemeriksaan USG bersifat sederhana, non-invasif, aman, dan
menghasilkan informasi yang terbaru terkait perkembangan janin. Meskipun
pemeriksaan USG dipandang pemeriksaan yang aman, namun pemeriksaan tidak
boleh dilakukan tanpa didasari oleh indikasi medik yang jelas untuk menghindari
penyalahgunaan dari USG. Pemeriksaan USG dalam kehamilan memiliki indikasi
tergantung pada usia kehamilan.1,2
Di Indonesia pemeriksaan USG tidak dikerjakan secara rutin pada setiap
ibu hamil.Hal ini lebih disebabkan oleh biaya pemeriksaan USG yang masih
cukup mahal dan tidak terjangkau oleh sebagian besar ibu hamil yang
memerlukannya serta masih kurangnya pengetahuan ibu hamil akan pentingnya
pemeriksaan USG.. Sebagian besar ibu hamil juga tidak dilindungi oleh program
asuransi kesehatan.1
1.2. Batasan Masalah
Makalah ini membahas tentang ultrasonografi (USG) obstetri dan
ginekologi.
1.3. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk menambah pengetahuan penulis
mengenai ultrasonografi (USG) obstetri dan ginekologi.

4
1.4. Metode Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan metode tinjauan kepustakaan yang
merujuk ke berbagai literatur.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Ultrasonografi


Ultrasonografi adalah alat diagnostik dengan metode visualisasi untuk
melihat struktur dalam tubuh bedasarkan gambaran echo dari gelombang
ultrasonik yang dipantulkan oleh organ dalam tubuh.3

2.2 Jenis-jenis Ultrasonografi


1. USG 2 Dimensi
Menampilkan gambar dua bidang (memanjang dan melintang).
Kualitas gambar yang baik sebagian besar keadaan janin dapat
ditampilkan.2
2. USG 3 Dimensi
Menampilkan tambahan 1 bidang gambar lagi yang disebut
koronal. Gambar yang tampil mirip seperti aslinya. Permukaan tubuh janin
dapat dilihat dengan jelas. Begitupun keadaan janin dari posisi yang
berbeda. Ini dimungkinkan karena gambarnya dapat diputar.2
3. USG 4 Dimensi
Merupakan istilah untuk USG 3 dimensi yang dapat bergerak (live
3D/ real-time) sehingga pasien dapat melihat lebih jelas dan
membayangkan keadaan janin di dalam rahim.2
4. USG Doppler
Pemeriksaan USG yang mengutamakan pengukuran aliran darah
terutama aliran tali pusat. Alat ini digunakan untuk menilai
keadaan/kesejahteraan janin. Penilaian kesejahteraan janin ini meliputi:2
1. Gerak napas janin (minimal 2x/10 menit).
2. Tonus (gerak janin).
3. Indeks cairan ketuban (normalnya 10-20 cm).
4. Doppler arteri umbilikalis.
5. Reaktivitas denyut jantung janin.

6
2.3 Teknik Pemeriksaan USG
Pemeriksaan USG dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:2
1. Pemeriksaan USG Transabdominal (USG-TA)
Pemeriksaan USG dilakukan dengan meletakkan probe (Tranduser)
pada dinding perut ibu yang sebelumnya sudah dilumuri jel. Probe yang
digunakan pada pemeriksaan USG-TA adalah jenis linear atau konveks,
dimana jenis konveks lebih banyak digunakan pada saat ini karena
menampilkan lapang pandang yang lebih luas.
Pemeriksaan USG-TA terutama dilakukan pada kehamilan
Trimester II dan III, dimana uterus telah cukup besar dan letaknya diluar
rongga pelvik. Volume cairan amnion sudah cukup banyak. Pemeriksaan
dapat dilakukan tanpa persiapan kandung kemih.
Pada kehamilan trimester I, pemeriksaan USG-TA sebaiknya
dilakukan melalui kandung kemih yang terisi penuh dengan tujuan untuk
mnyingkirkan usus keluar dari rongga pelvik, sehingga tidak menghalangi
pemeriksaan.
2. Pemeriksaan USG Transavaginal (USG-TV)
Berbeda dengan USG-TA, pemeriksaan USG-TV harus dilakukan
dalam keadaan kandung kemih yang kosong agar organ pelvik berada dekat
dengan permukaan transduser dan berada didalam area penetrasi transduser.
Jika dibandingkan USG-TA (yang harus dikerjakan dalam keadaan kandung
kemih terisi penuh), pemeriksaan USG-TV pada kehamilan trimester I lebih
dapat diterima oleh pasien. Pemeriksaan USG-TV dapat dilakukan setiap
saat, dan organ pelvik berada dalam posisi yang sebenarnya.
Pemeriksaan dilakukan dengan memasukkan probe yang sudah diberi
jel dan dibungkus dengan alat pembungkus yang juga diberi jel kedalam
vagina hingga mencapai daerah forniks.

7
Gambar 2.1 Tranducer USG

2.4 Prinsip USG


Ultrasonik adalah gelombang suara dengan frekuensi lebih tinggi daripada
kemampuan pendengaran telinga manusia, sehingga kita tidak bisa mendengarnya
sama sekali. Suara yang dapat didengar manusia mempunyai frekuensi antara 20 –
20.000 Cpd (Cicles per detik = Hz). Pemeriksaan USG ini menggunakan
gelombang suara yang frekuensinya 1 – 10 MHz.1
Gelombang suara frekuensi tinggi tersebut dihasilkan dari kristal-kristal
yang terdapat dalam suatu alat yang disebut transduser. Perubahan bentuk akibat
gaya mekanis pada kristal, akan menimbulkan tegangan listrik. Fenomena ini
disebut efek piezo-electric, yang merupakan dasar perkembangan USG
selanjutnya. Bentuk kristal juga akan berubah bila dipengaruhi oleh medan listrik.
Sesuai dengan polaritas medan listrik yang melaluinya, kristal akan mengembang
dan mengkerut, maka akan dihasilkan gelombang suara frekuensi tinggi.1
Semakih tinggi frekuensi gelombang suara, panjang gelombangnya akan
semakin pendek. Semakin pendek panjang gelombang suara yang ditransmisikan
ke dalam medium, daya penetrasinya akan semakin berkurang. Pada pemeriksaan
USG, semakin pendek panjang gelombang yang ditransmisikan ke dalam

8
medium, daya resolusinya akan semakin baik. Daya resolusi adalah kemampuan
membedakan dua titik terdekat secara terpisah.2
Jaringan yang padat seperti tulang menghasilkan gelombang pantul
berkecepatan-tinggi, yang terlihat terang pada layar. Sebaliknya, cairan
menghasilkan sedikit gelombang pantul yang terlihat gelap atau anechoic di
layar.2

2.5 Indikasi Pemeriksaan USG Obstetri


Pemeriksaan USG di Eropa, dikerjakan secara rutin sedikitnya 1-2 kali
selama masa kehamilan. Di Indonesia, pemeriksaan USG tidak dikerjakan secara
rutin, melainkan atas indikasi klinis, yaitu bila dalam pemeriksaan klinis dijumpai
keadaan yang meragukan atau mencurigakan adanya kelainan dalam kehamilan.
Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan USG maka perlu dibuat suatu
pedoman untuk mengatur penggunaan USG dibidang obstetri.2
Indikasi pemeriksaan USG pada kehamilan trimester I :2
a. Penentuan adanya kehamilan intrauterin
b. Penentuan adanya denyut jantung mudigah atau janin
c. Penentuan usia kehamilan
d. Penentuan kehamilan kembar
e. Perdarahan pervaginam
f. Terduga kehamilan ektopik
g. Terdapat nyeri pelvik
h. Terduga kehamilan mola
i. Terduga adanya tumor pelvik atau kelainan uterus
j. Membantu tindakan invasif, seperti pengambilan sampel jaringan vili
koriales (chorionic villus sampling), pengangkatan IUD.
Indikasi pemeriksaan USG pada kehamilan trimester II dan III :2
a. Penentuan usia kehamilan
b. Evaluasi pertumbuhan janin
c. Terduga kematian janin
d. Terduga kehamilan kembar
e. Terduga kelainan volume cairan amnion

9
f. Evaluasi kesejahteraan janin
g. Ketuban pecah dini atau persalinan preterm
h. Penentuan presentasi janin
i. Terduga inkompetensia serviks
j. Terduga plasenta previa
k. Terduga solusio plasenta
l. Terduga kehamilan mola
m. Terdapat nyeri pelvik atau nyeri abdomen
n. Terduga kehamilan ektopik
o. Kecurigaan adanya kelainan kromosomal (usia ibu ≥ 35 tahun, atau
hasil tes biokimia abnormal)
p. Evaluasi kelainan kongenital
q. Riwayat kelainan kongenital pada kehamilan sebelumnya
r. Terduga adanya tumor pelvik atau kelainan uterus
s. Membantu tindakan invasif, seperti amniosentesis, kordosentesis atau
amnioinfusi
Pemeriksaan USG diagnostik secara scanning bersifat aman dan
noninvasif. Sejauh ini tidak ada kontraindikasi untuk pemeriksaan USG dalam
kehamilan.4

2.6 USG Kehamilan Trimester I


1. Kantung Gestasi / Kantong Kehamilan (Gestational Sac, GS)
Struktur kantung gestasi (KG) intrauterin dapat terlihat mulai kehamilan 4,5
minggu dengan USG-TV (17 hari pasca konsepsi, atau sekitar 10 hari sejak
blostosis bernidasi kedalam lapisan endometrium). Pada saat itu diameter
mencapai 2-3 mm. Struktur KG intrauterin secara konsisten terlihat mulai
kehamilan 5 minggu, saat diameter mencapai > 5 mm. Dengan USG-TA
kehamilan intrauterin dapat terlihat setelah diameter KG mencapai 5 mm; dan
secara konsisten terlihat mulai kehamilan 6 minggu, saat diameter KG mencapai >
10 mm.5
Kantung Gestasi terlihat sebagai struktur kistik (anechoic) berbentuk bundar
atau oval, dengan dinding yang hiperekoik, dan letak eksentrik didalam lapisan

10
endometrium yang menebal.Struktur tersebut berasal dari kantung korion yang
berisi cairan korion. Gambaran hiperekoik dinding KG berasal dari lapisan korion,
jaringan trofoblast, dan desidua kapsularis. Sering kali dinding KG terlihat sebagi
dua lapisan konsentrik (double decidual sac), dimana lapisan sebelah dalam
berasal dari chorion laeve dan desidua kapsularis; sedangkan lapisan sebelah luar
berasal dari desidua parietalis atau desidua vera.6

Gambar 2.2 Gestasional Sac


Struktur KG harus dibedakan dari struktur anekoik lainnya didalam cavum
uteri, seperti hematometra, hidrometra, kista endometrial, endometritis, atau
kantung gestasi palsu (Pseudo-gestational Sac) pada kehamilan ektopik.2
Perhitungan umur kehamilan dengan mengukur kantong kehamilan dapat
diperoleh dengan cara:6
1. Mengukur diameter kantong kehamilan digunakan rumus:
Umur kehamilan (minggu) = rata-rata GS (mm) + 25,43 / 7,02 minggu
atau umur kehamilan (minggu) = diameter kantong kehamilan (cm) x
1,384 + 4,452.
2. Bila diameter kantong kehamilan belum mencapai 25 mm, maka secara
kasar umur kehamilan dapat dihitung dengan rumus :
Umur kehamilan (hari) = Diameter kantung kehamilan + 30
3. Mengukur volume kantong kehamilan dan diperlukan pengukuran 2
dimensi dengan 3 ukuran (L, T dan AP), selanjutnya dimasukkan dalam
rumus : GS volume (ml) = L(cm) x T(cm) x AP (cm) x 0,5233. Hasil ini

11
kemudian dimasukkan dalam tabel yang sudah tersedia untuk menentukan
umur kehamilan.
Selain untuk menentukan umur kehamilan, pemeriksaan keadaan kantong
kehamilan juga untuk konfirmasi kehamilan intrauterin dan untuk menyingkirkan
blighted ovum.

Gambar 2.3. Kantong kehamilan

2. Yolk Sac
Suatu kehamilan intrauterin baru dapat dipastikan setelah terlihat struktur
yolk sac didalam KG. Yolk sac berbentuk cincin berdinding tipis yang letaknya
didalam ruang korion. Dengan USG-TV akan konsisten terlihat mulai kehamilan
5,5 minggu, saat diameter KG >10 mm; sedangkan dengan USG-TA akan
konsisten terlihat mulai kehamilan 6 minggu setelah diameter KG >20 mm.2
Selama kehamilan 5-10 minggu diameter yolk sac mencapai 5-6 mm. Setelah
itu yolk sac akan menyusut dan pada kehamilan 12 minggu biasanya tidak terlihat
lagi. Apabila yolk sac tidak ditemukan dalam kantung gestasi yang diameternya >
10 mm (USG-TV) atau > 20mm (USG-TA), maka kemungkinan besar kehamilan
tidak akan berkembang normal dan akan mengalami abortus.6

12
Gambar 2.4 USG usia kehamilan 5 minggu

3. Crown Rumph Length (CRL)


CRL adalah ukuran terpanjang janin dari kepala sampai bokong tanpa
menyertakan anggota gerak. Dengan USG-TV struktur janin pertama kali dapat
terlihat pada kehamilan 5,5 minggu, berupa penebalan pada dinding yolk sac.
Panjangnya sekitar 2-3 mm dan belum memperlihatkan denyut jantung. Panjang
janin akan bertambah sekitar 1-2 mm perhari. Panjang mudigah dinyatakan
dengan ukuran jarak kepala-bokong (JKB) atau Crown-Rump Length (CRL).
Janin mulai menunjukkan aktivitas denyut jantung pada usia kehamilan sekitar 6
minggu. Setelah CRL mencapai 5 mm dan diameter KG sekitar 18 mm. Sejak itu
struktur janin dan aktivitas denyut jantung akan konsisten terlihat dengan USG-
TV. Dengan USG TA struktur mudigah akan konsisten terlihat setelah diameter
KG > 25 mm.1,2

Gambar 2.5 Pengukuran CRL

13
Cara mendapatkan bidang potong untuk pengukuran CRL adalah sebagai
berikut:
1. Usahakan janin ditampilkan pada potongan sagital.
2. Janin dalam sikap ekstensi.
3. Janin diukur pada jarak terpanjang.
4. Kaliper ditempatkan pada tepi luar kepala dan bokong janin tanpa
mengukur anggota gerak atau yolk sac.
5. Hasil yang dipakai merupakan rata-rata dari 3 pengukuran.
Perhitungan umur kehamilan dengan mengukur CRL dengan cara :
1. Setelah mengukur CRL, selanjutnya digunakan rumus :
Umur kehamilan (hari) = 8,052 x (CRL)1/2 + 23,73.
2. Menggunakan the rule of thum untuk mendapatkan umur kehamilan secara
kasar, yaitu :
Umur kehamilan (minggu) = CRL (cm) + 6,5.

2.7 Ultrasonografi Kehamilan Trimester II Dan III


Pemeriksaa USG pada kehamilan trimester II dan III dilakukan dengan
cara transabdominal tanpa persiapan kandung kemih. Pada kondisi tertentu
pemeriksan dilakukan melalui kandung kemih yang setengah berisi atau dengan
USG-TV, misalnya untuk menentukan letak plasenta, ketebalan segmen bawah
uterus (SBU), kondisi serviks, dan tumor pelvik.2,6
1. Penentuan Usia Kehamilan1
Penentuan usia kehamilan pada trimester II paling akurat dilakukan
sebelum kehamilan 20 minggu, misalnya melalui pengukuran kepala dan tulang
panjang, dengan tingkat kesalahan ± 1 minggu. Setelah kehamilan 20 minggu
variasi pertumbuhan janin semakin melebar, sehingga pengukuran biometri untuk
menentukan usia kehamilan menjadi tidak akurat lagi. Pemeriksaan USG serial
dengan sedikitnya interval 2 minggu dapat menambah akurasi pemeriksaan.
Berbagai struktur anatomi janin dapat digunakan sebagai biometri untuk
menentukan usia kehamilan, seperti Diameter biparietal (DBP), lingkar kepala,
panjang tulang (Femur, tibia, humerus,radius, klavikula), jarak orbita, lebar
serebelum, panjang ginjal, dan panjang telapak kaki.

14
a. Diameter Biparietal (BPD)1
BPD adalah jarak maksimal antara tulang parietal depan dan belakang
pada posisi kepala oksiput transversa. Pengukuran BPD paling akurat dalam
penentuan usia kehamilan antara 12-28 minggu dimana pertumbuhan BPD
menunjukkan garis yang linier. Disamping untuk menentukan umur kehamilan,
pengukuran ini dapat juga digunakan untuk menentukan berat janin dan deteksi
kelainan kepala janin (makrosefalus, mikrosefalus atau hidrosefalus).
Cara mendapatkan bidang potong untuk pengukuran BPD adalah sebagai
berikut:
1. Cari potongan kepala sampai mendapatkan bentuk paling simetris, yaitu
jarak antara garis tengah dan tulang kepala pada kedua sisi harus sama.
2. Pengukuran DBP dilakukan pada penampang aksial kepala setinggi
thalamus (bidang transtalamik), karena melalui bidang ini akan diperoleh
ukuran DBP yang terbesar. Potongan harus tegak lurus pada garis tengah.
3. Gunakan gain yang rendah untuk mencegah penebalan tulang tengkorak
karena artefak.
4. Bentuk kepala harus oval yang dikonfirmasi dengan indeks sefalik (normal
antara 75-85).
5. Pengukuran dilakukan pada jarak biparietal yang terbesar, dari permukaan
luar tulang parietal bagian proksimal kearah permukan dalam parietal
bagian distal (‘luar kedalam’), tegak lurus falx cerebri. Penelitian lain
melakukan pengukuran BPD pada permukaan luar tulang parietal bagian
proksimal dan distal (‘luar ke-luar’).
Pada waktu mencari BPD kita akan melihat thalamus sebagai suatu
struktur berbentuk “hati” atau “anak panah “. Ujung dari bentuk “anak panah”
tersebut adalah arah daerah tulang belakang janin, sehingga dengan memeriksa
BPD kita dapat pula sekaligus mengetahui presentasi dan posisi janin.

15
Gambar 2.6. Bidang potong untuk pengukuran BPD

Tabel 2.1. Daftar tabel biometri janin; ukuran BPD normal sesuai usia
kehamilan
Weeks 12 13 14 15 1 6 17 18 19 20 21 22 2 3 24 25 2 6 2 7
BPD (mm) 21 25 28 32 3 5 39 42 46 49 52 55 5 8 61 64 6 7 6 9
Weeks 28 29 30 31 3 2 33 34 35 36 37 38 3 9 40 41 4 2
BPD (mm) 72 74 77 79 8 2 84 86 88 90 92 94 9 5 97 98 100

b. Lingkar Kepala (Head Circumference, HC)1,2


HC digunakan pada keadaan dimana indeks sefalik diluar batas normal,
yaitu terlalu bulat (brakhisefalus) atau terlalu oval (dolikosefalus).Pengukuran
pada keadaan ini memberi hasil yang lebih baik dari BPD untuk menentukan
umur kehamilan.Selain untuk menentukan umur kehamilan, HC juga digunakan
untuk mendiagnosis mikrosefalus atau PJT.
Untuk menentukan bidang yang baik untuk pengukuran BPD perlu
ditentukan indeks sefalik, yaitu perbandingan antara diameter biparietal (BPD)
dengan diameter oksipito-frontalis (OFD). Indeks ini tidak berubah selama
kehamilan, yaitu 0,75-0,85. Bila indeks lebih kecil atau lebih besar maka BPD
tidak digunakan untuk menentukan umur kehamilan dan digantikan dengan HC.

16
Perhitungan umur kehamilan dengan mengukur HC dapat diperoleh dengan cara :
1. Menggunakan rumus :
HC = 1,57 (BPD + OFD)
2. Mengukur lingkar kepala secara langsung menggunakan tracing.

Tabel 2.2. Daftar tabel biometri janin; ukuran HC normal sesuai usia
kehamilan
Weeks 1 2 13 14 15 1 6 17 18 19 2 0 2 1 2 2 2 3 2 4 2 5 2 6 2 7
H C
7 0 84 98 111 124 137 150 162 175 187 198 210 221 232 242 252
(mm)
Weeks 2 8 29 30 31 3 2 33 34 35 3 6 3 7 3 8 3 9 4 0 4 1 4 2
H C
262 271 280 288 296 304 311 318 324 330 335 340 344 348 351
(mm)

c. Lingkar Perut (Abdominal Circumference, AC)1.2


Pengukuran AC biasanya untuk menaksir besarnya janin setinggi hepar.
Pada keadaan dimana terjadi gangguan nutrisi yang lama maka hepar janin akan
mengecil. Dengan demikian pengukuran AC dimaksudkan untuk menilai status
gizi atau nutrisi dari janin.
Untuk menentukan umur kehamilan maka parameter ini mempunyai nilai
diagnostik yang paling rendah dibandingkan dengan BPD, FL atau HC akan tetapi
sangat bermanfaat untuk menentukan pertumbuhan janin dan taksiran berat badan
janin serta diagnosis mikrosefsalus.6

17
Gambar 2.7. Bidang potong untuk pengukuran AC
Cara pengukuran AC untuk perhitungan umur kehamilan adalah :
1. Langsung mengukur keliling abdomen janin menggunakan tracing.
2. Menggunakan rumus :
AC = (Diameter Transversa + Diameter Antero-posterior) x 1,57
selanjutnya dimasukkan ke dalam tabel yang tersedia.

Tabel 2.3. Daftar tabel biometri janin; ukuran AC normal sesuai usia
kehamilan
Weeks 12 13 14 15 1 6 1 7 18 1 9 2 0 2 1 2 2 2 3 2 4 2 5 2 6 2 7
AC(mm) 56 69 81 93 105 117 129 141 152 164 175 186 197 208 219 229
Weeks 28 29 30 31 3 2 3 3 34 3 5 3 6 3 7 3 8 3 9 4 0 4 1 4 2
AC(mm) 240 250 260 270 280 290 299 309 318 327 336 345 354 362 371

d. Panjang Femur (Femur Lenght, FL)1,2


Akurasi pengukuran FL cukup lebar, yaitu  4-5 minggu dan tidak dapat
menggantikan BPD, tetapi dapat sebagai pembanding atau bila BPD tidak dapat
diukur dengan baik, misalnya kepala sudah jauh masuk panggul atau kelainan
kepala seperti anensefalus.Pegukuran dilakukan terhadap diafisis tulang femur
yang berada pada posisi horizontal.

18
Gambar 2.8 Bidang potong untuk pengukuran FL

Tabel 2.4 Daftar tabel ukuran FL normal sesuai usiakehamilan


Weeks 12 13 14 15 1 6 17 18 19 20 21 22 2 3 2 4 2 5 2 6 2 7
FL (mm) 8 11 15 18 2 1 24 27 30 3 3 36 39 4 2 4 4 4 7 4 9 5 2
Weeks 28 29 30 31 3 2 33 34 35 36 37 38 3 9 4 0 4 1 4 2
FL (mm) 54 56 59 61 6 3 65 67 68 7 0 72 73 7 5 7 6 7 8 7 9

2. Penentuan Pertumbuhan dan Besar Janin1,2


Pertumbuhan janin terhambat tipe asimetrik terlihat pada besar atau berat
janin yang berkurang, sedangkan panjang janin hanya sedikit terpengaruh.
Ditandai dengan lingkar abdomen mengecil. Pada pertumbuhan janin terhambat
tipe simetrik terlihat pada berat dan panjang janin berkurang. Ditandai dengan
lingkar perut dan kepala.
3. Malformasi Janin1,2
Sebagian besar sering diketahui sebelum usia kehamilan 20 minggu.
Pertandanya adalah volume cairan amnion yang abnormal, pertumbuhan janin
terhambat, kelainan morfologi bentuk tubuh dan struktur organ, ukuran biometri
janin abnormal, arteri umbilikal tunggal, aktifitas biofisik janin berkurang.
4. Plasenta1,2
a. Ukuran Plasenta
Sampai kehamilan 20 minggu plasenta menempati sekitar ¼ luas
permukaan miometrum, dan ketebalannya tidak lebih dari 2-3 cm.
Menjelang kehamilan aterm plasenta menempati sekitar 1/8 luas
permuakaan miometrium, dan ketebalannya dapat mencapai 4-5 cm,
ketebalan plasenta normal jarang melebihi 4 cm. Plasenta yang menebal
(plasentomegali) dapat dijumpai pada ibu yang menderita diabetes

19
melitus, ibu anemia (Hb < 8 g%), hidrops fetalis, tumor plasenta, kelainan
kromosom, infeksi (sifilis, CMV), dan perdarahan plasenta. Plasenta yang
menipis dapat dijumpai pada preeklampsia, pertumbuhan janin terhambat
(PJT), infark plasenta, dan kelainan kromosom.Belum ada batasan yang
jelas mengenai ketebasan minimal plasenta yang dianggap normal.
Beberapa penulis memakai batasan tebal minimal plasenta normal 1,5-2,5
cm dan berat plasenta rata-rata 500 gram.
b. Letak (posisi) Plasenta
Plasenta bisa berkembang dibagian mana saja pada permukaan
endometrium, sesuai dengan letak implantasi blastosis. Letak plasenta
yang menutupi ostium uteri internum (OUI) pada kehamilan trmester I
tidak akan selamanya menjadi plasenta previa. Dengan bertambahnya usia
kehamilan, sebagian besar vili akan mengalami atrofi, uterus semakin
membesar, dan segmen bawah uterus akan terbentuk, plasenta yang
semula menutupi OUI akan bergeser keatas, sehingga letaknya menjadi
normal. Dahulu pergeseran letak plasenta ini dikenal sebagai migrasi
plasenta. Plasenta previa dijumpai pada sekitar 7,5% kehamilan trimester
II. Akan tetapi hanya 0,5% yang akan tetap menjadi plasenta previa pada
kehamilan aterm. Oleh sebab itu, setiap tindakan section cessaria elektif
yang dilakukan atas indikasi plasenta previa sebaiknya didasarkan atas
diagnosis yang ditegakkan pada kehamilan aterm.1,2

Gambar 2.9. Bidang potong gambaran plasenta

c. Bentuk Plasenta
Plasenta merupaka organ fetomaternal yang bentuknya menyerupai
cakram (discoid).1,2

20
d. Perlekatan abnormal plasenta
Beberapa isitilah yang digunakan untuk menyatakan perlekatan
abnormal plasenta pada dinding uterus, seperti plasenta akreta, plasenta
inkreta, dan plasenta pankreta.Dalam perkembangannya plasenta melekat
pada dinding uterus melalui desidua basalis.Kadang-kadang desidua
basalis tidak terbentuk sempurna sehingga vili korionik melekat langsung
pada miometrum (plasenta akreta), menginvasi lapisan myometrium
(plasenta inkreta), bahkan menembus lapisan myometrium dan serosum
uterus (plasenta perkreta).1

Gambar 2.10 Plasenta previa


4. Tali Pusat
Tali pusat adalah penghubung janin dengan ibunya. Tali pusat terdiri dari
2 arteri umbilical yang mengalirkan darah kotor (berisi zat metabolic) dan sebuah
vena umbilical yang mengalirkan darah segar yang kaya oksigen dan nutrien dari
plasenta ke janin. Kelainan yang dapat terlihat dalam USG contohnya adalah
melilitnya tali pusar pada leher. Hal ini akan berbahaya karena dapat mencekik
janin. Pemeriksaan lilitan tali pusar dapat dilakukan dengan colour dopler. Jika
terlihat warna disekeliling leher janin, mungkin itu adalah lilitan tali pusat.6

21
Gambar 2.11. Bidang potong pemeriksaan lilitan tali pusar dengan colour dopler

5. Cairan Amnion
Cairan amnion mempunyai peran yang sangat penting bagi perkembangan
dan pertumbuhan janin.Kelainan jumlah cairan amnion dapat terjadi, dan
seringkali merupakan petanda yang paling awal terlihat pada janin yang
mengalami gangguan.1,2

Gambar 2.12 Hydramnion

a. Mekanisme pengaturan cairan amnion


Jumlah cairan amnion selama kehamilan sangat bervariasi dan
ditentukan oleh mekanisme yang mengatur produksi dan pengambilan
cairan amnion oleh janin.Sapai kehamilan 20 minggu cairan amnion
terutama diproduksi melalui selaput amnion dan kulit janin, sebagian
lainnya melalui lempeng korionik, tali pusat, paru, ginjal, dan saluran
pencernaan.Pengambilan cairan amnion terjadi melalui selaput amnion,

22
kulit, lempeng korionik, tali pusat,paru, dan saluran pencernaan. Setelah
kehamilan 20 minggu, jumlah cairan amnion sekitar 500 ml, kemudian
jumlahnya terus meningkat hingga mencapai jumlah maksimal sekitar
1000ml pada kehamilan 34 minggu. Jumlah cairan amnion sekitar 800-900
ml pada kehamilan aterm, berkurang hingga 350 ml pada kehamilan 42
minggu, dan 250 ml pada kehamilan 43 minggu.

Gambar 2.13 Olygohidramnion


b. Pengukuran cairan amnion
Penilaian jumlah cairan amnion melalui pemeriksaan USG dapat
dilakukan dengan cara subjektif ataupun semikuantitatif.
1. Penilaian subjektif
Dalam keadaan normal, janin tampak bergerak bebas dan
dikelilingi oleh cairan amnion.Struktur organ janin, plasenta dan tali pusat
dapat terlihat jelas. Kantung-kantung amnion terlihat dibeberapa tempat
terutama pada daerah di antara kedua tungkai bawah dan di antara dinding
depan dan belakang uterus. Pada kehamilan trimester II biasanya terlihat
sebagian dari tubuh janin bersentuhan dengan dinding depan uterus. Pada
keadaan polihidramnion, janin menjauh dari dinding depan uterus
sehingga tidak ada bagian tubuh janin yang bersentuhsn dengan dinding
depan uterus. Janin berada diluar daya penetrasi gelombang ultrasonic
sehingga sulit terlihat melalui USG.1,2
Pada keadaan oligohidramnion cairan amnion disebut berkurang
bila kantung amnionnya hanya terlihat di daerah tungkai bawah dan
disebut habis bila tidak terlihat lagi kantung amnion.Pada keaadaan ini,

23
aktivitas gerakan janin menjadi berkurang. Struktur janin sulit untuk
dipelajari, dan ekstremitas tampak berdesakan.1,
2. Penilaian Semi kuantitatif
a. Pengukuran diameter vertical yang terbesar pada salah satu
kantong amnion .
b. Pengukuran indeks cairan amnion.
Pengukuran 1 kantung amnion dilakukan dengan mencari kantung
amnion terbesar, bebas dari bagian tali pusat dan ekstremitas janin yang
dapat ditemukan melalui transduser yang diletakkan tegak lurus terhadap
kontur dinding abdomen ibu.Pengukuran dilakukan pada diameter vertical
kantung amnion.
Pemeriksaan cairan amnion juga dapat dilakukan dengan cara
metode AFI (Amniotic Fluid Indeks) yang diperkenalkan oleh Phelan :
1. Abdomen dibagi atas 4 kuadran
2. Setiap kuadran diukur indeks cairan amnionnya
3. Pengukuran harus tegak lurus dengan bidang horizontal dan tidak
adaboleh ada bagian janin diantaranya.

Gambar 2.14. 4 kuadrant abdomen

24
Tabel 2.5. Interpretasi Pengukuran cairan amnion dengan metode AFI
Hasil Pengukuran Interpretasi
>2cm atau <8cm Volume cairan amnion normal
>8cm Polihidroamnion
8-12cm Polihidroamnion ringan
12-16cm Polihidroamnion sedang
>16cm Polihidroamnion berat
1-2cm Borderline, evaluasi ulang
<1cm Oligohidroamnion

c. Oligohidramnion
Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan oligohidramnion adalah
kelainan kongenital, PJT, ketuban pecah, kehamilan postterm, insufisiensi
plasenta, dan obat-obatan (misalnya dari golongan antiprostaglandin).Kelainan
kongenital paling sering yang menimbulkan oligohidrmanion adalah kelainan
saluran kemih (kelainan ginjal bilateral dan obstruksi uretra) dan kelainan
kromosomm (triploidi, trisomy 18 dan 13).Insufisiensi plasenta oleh sebab apapun
dapat menyebabkan hipoksia janin. Hipoksia janin yang berlangsung kronis akan
memicu mekanisme redistribusi darah. Salah satu dampaknya adalah terjadi
penurunan aliran darah ke ginjal, produksi urin berkurang, dan terjadi
oligohidrmanion.Oligohidramnion yang terjadi oleh sebab apapun akan
berpengaruh akan beroengaruh buruk kepada janin. Komplikasi yang sering
terjadi adalah PJT, hypoplasia paru, deformitas pada wajah dan skelet, kompresi
tali pusat, dan aspirasi meconium pada masa intrapartum, dan kematian janin.1,2
d. Polihdramnion
Polihidramnion dapat terjadi akibat kelainan kongenital, diabetes mellitus,
janin besar, kehamilan kembar, kelainan pada plasenta dan tali pusat, dan obat-
obatan. Kelainan kongenital yang sering menimbulkan polihidrmanion adalah
defek tabung neural, obstruksi traktus gastrointestinal bagian atas, dysplasia
skelet, dan kelainan kromosom (trisomy 21,18,dan 13). Komplikasi yang sering
terjadi pada polihidramnion adalah malpresentasi janin, ketuban pecah, prolapse
tali pusat, persalinan preterm, dan gangguan pernapasan ibu.1,2

25
BAB III

LAPORAN KASUS

Kasus 1

Nama : Ny. P
Umur : 33 tahun
No RM : 00.96.71.06
Pemeriksaan : G3P2A0H2 gravid 14-15 minggu + post radical
mastektomi + Radioterapi

Hasil USG

26
27
Janin hidup tunggal intrauterin
Aktivitas gerak janin baik
FHR (+) : 163 bpm (reguler)
Biometri :
CRL = 8,73 cm
BPD = 3,14 cm
FL = 1,71 cm
EDO = 17 – 12 – 2019
Kesan : Gravid 14-15 minggu sesuai biometri janin
Janin hidup tunggal intrauterin

Kasus 2

Nama : Ny. N
Umur : 32 tahun
No RM : 00.96.18.15
Pemeriksaan : G4P2A1H2 gravid aterm 39-40 minggu + ITP

Hasil USG

28
29
Janin hidup tunggal intrauterin, letak memanjang, presentasi kepala
Aktivitas gerak janin baik
FHR : 148 bpm (reguler)
Biometri:
BPD = 8,93 cm
AC = 28,74 cm
FL = 7,76 cm
EFW = 2767 gr
AFI = 6,04 cm
SDAU = 1,95
Plasentas tertanam di corpus posterior
Kesan : Gravid 37-38 mg sesuai biometri janin
Janin hidup tunggal intrauterin

30
DAFTAR PUSTAKA

1. Wiknjosastro H, 2009. Ultrasonografi dalam Obstetri. Dalam:


Wiknjosastro, Hanifa ed, Ilmu Kebidanan Edisi Keempat. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

2. Cunningham, Leveno, Bloom dkk. Obstetri William Edisi 23 Volume 2.


Jakarta : EGC, 2010.

3. Dorland, Newman, 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29,


Jakarta:EGC.

4. Boer A, 2005. Ultrasonografi. Dalam: Rasad, Sjahriar. Radiologi


Diagnostik Edisi Kedua. Jakarta: Balai Penerbit FK UI.

5. Suririnah, 2008. Buku Pintar Kehamilan dan Persalinan. Jakarta: PT.


Gramedia Pustaka Utama.

6. Macdougall J, 2003. Ultrasonografi. Dalam: Macdougall, Jane ed.


Kehamilan Minggu demi Minggu. Jakarta: Erlangga.

31
32