Anda di halaman 1dari 15

ANALISIS KONFLIK

OVERVIEW

Pada bagian ini, pembahasan berfokus pada teori agensi, sebuah cabang dari game theory,
yang mempelajari desain pada kontrak diantara prinsipal dan agen yang memotivasi agen untuk
bekerja dalam kepentingan terbaik prinsipal. Sebuah kontrak efisien melakukan hal ini pada biaya
terendah untuk prinsipal.
`Dalam banyak kasus, prinsipal menginginkan agen untuk bekerja keras atas kepentingan
mereka.Namun, kepentingan pada konflik prinsipal dan agen, karena bekerja keras membutuhkan
upaya, dan prinsipal mungkin ingin upaya lebih daripada yang agen rela lakukan. Dalam beberapa
kasus, sifat dari upaya agen terlalu kompleks bagi prinsipal untuk mengamati upaya tersebut secara
langsung, sehingga hal tersebut akan menimbulkan masalah moral hazard, dan agen mungkin tidak
bekerja keras kecuali kalau mereka di motivasi secara cukup.
Teori agensi relevan untuk akuntansi karena kedua tipe kontrak bergantung pada laba yang
dilaporkan perusahaan. Kontrak yang didasarkan peran bagi laporan keuangan yang muncul dari teori
agensi membantu kita untuk melihat bagaimana teori pasar sekuritas efisien tidak inconsistent dengan
konsekuensi ekonomi. Pasar sekuritas bisa efisien dan kebijakan akuntansi bisa memiliki konsekuensi
ekonomi sekali implikasi konflik agar keuangan yang dilaporkan bisa dipahami.

TEORI AGENSI
Pendahuluan
Scott menggambarkan dua jenis kepentingan dari kontrak yang memiliki implikasi untuk teori
akuntansi keuangan yaitu kontrak kerja antara perusahaan atas kontrak manajer dan pinjamannya
antara manajer perusahaan dan pemberi pinjaman. Dalam kontrak ini, kita bisa memikirkan salah satu
pihak sebagai prinsipal dan lainnya agen. Misalnya, dalam kontrak kerja, perusahaan pemilik adalah
prinsipal dan manajer puncak adalah agen yang dibayar untuk menjalankan perusahaan atas nama
pemilik.
Teori agensi merupakan sebuah cabang dari game theory yang mempelajari desain kontrak
untuk memotivasi seorang agen yang rasional untuk bertindak sesuai kepentingan seorang prinsipal
ketika kepentingan agen dinyatakan memiliki konflik dengan hal-hal prinsipal.

Kontrak Agensi Diantara Pemilik Perusahaan dan Manager


Terdapat konflik moral hazard yang mendasar diantara pemilik dan manager. Dimana pemilik
merupakan sebuah proksi untuk sebagian besar pemegang saham yang memiliki konflik kepentingan
dengan manajer tersebut. Sehingga efeknya, perusahaan menunjukkan adanya pemisahan kepemilikan
dan kontrol, digambarkan oleh perusahaan tersebut sebagai dua individual rasional dengan konflik
berkepentingan.
Contoh A single-period owner manager contract yang mengenalkan beberapa konsep agency
theory dan mengilustrasikan dasar konflik moral hazard antara pemilik dan manajer.
 Misalkan sebuah perusahaan dimiliki oleh satu orang (prinsipal) dan dikelola oleh seorang
manajer (agen).
 Manajer memiliki dua pilihan yaitu : bekerja keras (work hard) dan melalaikan tugas (shirk)
 Apabila manajer bekerja keras maka hasil usaha (imbalan), yang dalam hal ini adalah laba
akan lebih tinggi.
 Pemilik perusahaan tentunya menginginkan agar manajer bekerja keras karena laba yang akan
diperoleh lebih besar. Namun di sisi lain, manajer belum tentu akan begitu saja menuruti
keinginan pemilik.
 Tindakan manajer untuk melakukan tugas sangat mungkin terjadi terutama apabila manajer
adalah seseorang yang effort-averse.
 Pemilik perusahaan tentunya harus mengendalikan moral hazard manajer.

Maka berdasarkan Example 9.1 pada buku scott hal.359, terdapat beberapa alternatif
keputusan untuk mengatasi konflik tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Merancang kontrak untuk mengontrol moral hazard
b. Mengkontrak manajer dan meningkatkan dengan menggunakan a2. Dalam kata lain tetap
memperkerjakan manajer bersangkutan dan puas dengan laba yang tidak maksimal.
c. Pemantauan langsung. Apabila pemilik bisa mengawasi langsung tindakan manajer tanpa
biaya yang besar, maka masalah akan dapat diselesaikan. Kontrak antara pemilik dan manajer
dapat direvisi, misalnya manajer akan memperoleh gaji yang lebih rendah apabila pemilik
mendapati manajer telah melalaikan tugas. Tipe kontrak seperti ini disebut first best contract.
Namun dalam kenyataannya, first best contract sering kali tidak diperoleh. Hal ini disebabkan
karena sangat sulit bagi pemilik untuk mengawasi secara langsung pekerjaan manajer yang
sangat kompleks.
d. Pemantauan tidak langsung. Karena pekerjaan manajer tidak dapat diawasi secara langsung,
maka pekerjaan manajer dapat diatributkan dengan hal lain. Misalnya apabila laba perusahaan
lebih rendah daripada yang diharapkan pemilik, maka pemilik dapat menganggap manajer
telah melalaikan tugas, sehingga pemilik akan memberikan gaji yang lebih renah kepada
manajer. Dengan demikian manajer tentunya akan memilih untuk bekerja keras. Namun
demikian, pengawasan tidak langsung tidak akan menghasilkan first best contract, karena
apabila perusahaan mengalami kerugian, maka tidak jelas apakah kerugian ini disebabkan
oleh manajer yang lalai ataukah situasi yang buruk, dan bisa karena alasan legal dan
instritusional sehingga pemilik tidak dapat mengenakan penalti kepada manajer.
e. Pemilik menyewakan perusahaan kepada manager. Jika alternatif ini dipilih, maka pemilik
akan meminta pembayaran hasil usaha (seperti sewa) dari manajer dalam jumlah yang tetap
setiap periode. Dengan demikian pemilik tidak lagi mempedulikan tindakan apa yang akan
dilakukan manajer karena risiko pengelolaan perusahaan akan dipikul oleh manajer. Tetapi
karena manajer diminta untuk menanggung risiko, maka besarnya sewa yang bersedia dibayar
manajer akan lebih rendah daripada manfaat yang harusnya diperoleh pemilik apabila first
best contract dapat terwujud. Selisih antara besarnya manfaat yang seharusnya diperoleh
pemilik dan besarnya sewa yang ditetapkan disebut dengan biaya agensi. Pemilik sangat
menginginkan komponen biaya lainnya dari biaya kontrak minimal.
f. Memberikan manajer sebagian laba atas keuntungan. Dengan memberikan bagian laba kepada
manajer, maka manajer akan memiliki motivasi untuk bekerja keras. Aspek kontrak seperti ini
disebut dengan incentive-compability karena manajer memiliki dorongan untuk bekerja keras,
sejalan dengan keinginan pemilik. Namun karena pemilik memberikan bagian laba kepada
manajer maka manfaat yang diterima pemilik akan lebih rendah dibandingkan dengan first
best contract. Dengan demikian biaya agensi tetap ada meskipun jumlahnya lebih rendah
dibandingkan dengan apabila pemilik menyewakan perusahaan kepada manajer. Kontrak
yang memberikan manajer bagian laba dikenal dengan second best contract.

Biaya agensi adalah salah satu biaya kontrak yang merupakan bagian dari teori kontrak.
Seperti yang sudah didiskusikan, perusahaan akan menginginkan mengatur tata kelola perusahaan
secara efisien, dan kami menjelaskan bahwa kontrak efisien akan tergantung pada bentuk perusahaan
dari organisasi dan lingkungannya. Semenjak perusahaan diatur dengan pemisahan dari kepemilikan
dan pengendalian, kami menduga hal ini merancang dan mengadopsi kontrak bagi hasil dengn biaya
agensi terendah.Seperi kontrak yang dikenakan risiko kompensasi minimum yang dibutuhkan untuk
mendorong manajer untuk bekerja keras. Hal ini menimbulkan pertanyaan, dapatkah akuntan
meningkatkan kemampuan dari laba bersih untuk memprediksi pembayaran. Ini merupakan salah satu
pertanyaan terpenting bagi akuntan.

KEUNTUNGAN INFORMASI MANAJER


Manajemen Laba
Pada kenyataannya, laba bersih bukan berisi hasil prediksi. Laba bersih tetap berbasis pada
campuran model pengukuran. Jadi, seperti yang telah diketahui oleh akuntan, sering kali manajer
terlibat dalam manajemen laba. Memang, ini merupakan prediksi dari teori kontrak. Untuk lebih
mengerti peran dari laba bersih sebagai pengukuran kinerja, kita harus memperbolehkan untuk
kemungkinan bahwa manajer mungkin bias atau jika tidak telah mengatur laba yang dilaporkan.
Ada berbagai bentuk manfaat informasi manajer yang dapat diambil. Satu kemungkinan
adalah bahwa manajer mungkin memiliki informasi tentang hasil sebelum penandatanganan kontrak
(disebut informasi sebelum kontrak). Sebagai contoh, manajer boleh memiliki informasi pembayaran
tinggi yang akan terjadi, dan, kecuali jika pemilik bisa menegstrak informasi ini, boleh masuk
kedalam kontrak dengan niat untuk melalaikan, mengambil keuntungan dari pembayaran yang tinggi
untuk menghasilkan pendapatan yang tinggi serta kompensasi. Jika tidak, manajer boleh memperoleh
informasi pembayaran setelah menandatangani kontrak akan tetapi sebelum memilih sebuah tindakan
(informasi sebelum keputusan). Jika informasi pembayaran cukup buruk, manajer boleh
mwngundurkan diri kecualijika situasi ini diperbolehkan dalam kontrak. Sebelum kemungkinan
lainnya manajer boleh menerima informasi setelah tindakan dipilih (informasi pasca tindakan).
Sebagai contoh, manajer boleh mempelajari apa itu laba bersih setelah dilaporkan kepada pemilik.
Jika pemilik tidak bisa mengamati laba bersih yang tidak dikelola, manajer boleh mengelola
pendapatan agar mendapatkan kompensasi yang maksimal.
Dengan asumsi bahwa imbalan tidak dapat diobservasi baik oleh manajer maupun pemilik
sampai dengan periode pelaporan selanjutnya, maka net income yang terlibat oleh keduanya pada
waktu berjalan adalah net income yang mengandung gangguan yang dihasilkan oleh sistem akuntansi,
sehingga manajer tidak dapat mengendalikan dan mengatur gangguan angka-angka yang merupakan
karakteristik tersebut. Akuntan dapat meningkatkan efisiensi kontrak dengan mengurangi gangguan
melalui peningkatan pengukuran.
Manajer dapat mengambil beberapa alternatif yang menguntungkan dari kondisi tersebut,
salah satunya mengenai pilihan untuk menyepakati atau mundur dari kontrak yang disodorkan,
dengan mempertimbangkan mengenai kemungkinan memperoleh informasi mengenai imbalan
sebelum kontrak dilakukan. Pemilik, disisi lain hanya dimungkinkan untuk memantau laba yang
dilaporkan oleh manajer. Sehingga manajer memiliki peluang untuk mengeksploitasi akuntansi
sampai dengan tingkatan yang dapat memberi kompensasi maksimum bagi dirinya sendiri. Sebagai
solusi, perubahan atas kontrak mutlak diperlukan. Perubahan yang menguntungkan kedua belah
pihak, namun dapat pula meningkatkan kepercayaan investor bahwa net income bebas dari distorsi
manajer dan bias akuntansi, kondisi yang biasa disebut sebagai revelation principle. Prinsi revelation
dapat diterapkan jika:
 Kebenaran tersebut tidak digunakan untuk melawan manajer.
 Tidak terdapat batasan dalam bentuk kontrak.
 Tidak terdapat batasan kemampuan manajer dalam mengkomunikasikan informasi.
Pembahasan selanjutnya adalah mengenai bagaimana mengelola dan mengontrol manajer
dalam upaya mengelola laba melalui standar akuntansi dan prinsip akuntansi yang berlaku umum
yang memberi batasan mengenai sejauhmana tindakan akuntansi dapat atau tidak dapat diambil.

Mengendalikan Manajemen Laba


Manajemen laba dapat mengarah pada manager shirking.Untuk mengendalika manajemen
laba yang oportunis, responnya adalah untuk memperkuat tata kelola perusahaan. Sebagai contoh,
komite audit dan kompensasi dewan dapat termasuk anggota independen dan terpelajar secara
keuangan, untuk mengawasi manajemen laba. Cara untuk mengendalikan manajemen laba yaitu
membatasinya dengan GAAP, sampai pada insentif manajer untuk bekerja keras telah dipulihkan.

Teori Agensi dengan Norma Psikologis


Scott mengusulkan bahwa ini merupakan waktu untuk pendukung teori perilaku investor
rasional and non-rational untuk mempertimbangkan memindahkan teori bersama. Fischer dan Huddart
(FH, 2008) menunjukkan penelitian psikologis mengusulkan bahwa perilaku individu dipengaruhi
oleh norma personal dan sosial. Norma personal adalah karakteristik bawaan individual, seperti
kepercayaan dalam kerja keras atau perasaan bahwa manajemen laba adalah buruk.Norma sosial
didefinisikan FH sebagai perilaku rata-rata dari kelompok sebaya. Sebagai contoh, manajer dapat
merasa bahwa, dalam rata-rata, manajer dari perusahaan yang sama menerima manajemen laba.
Norma ini mempengaruhi perilaku individual. Sehingga, manajer dengan etika kerja yang
kuat dan penerimaan lemah terhadap norma sosial yang menerima manajemen laba akan
membutuhkan bagian laba lebih rendah untuk memotivasi kerja keras daripada manajer dengan etika
kerja yang lemah dan penerimaan norma sosial yang kuat. Manajer yang belakangan akan termotivasi
untuk bekerja kurang keras, mungkin mengganti manajemen laba untuk usaha yang sebaliknya dia
berikan. Dampaknya, norma pribadi dan sosial berinteraksi untuk mempengaruhi usaha manajer dan
insentif manajemen laba.

PEMBAHASAN DAN RINGKASAN


Kita telah mempelajari sebuah model agensi single period. Model ini mengilustrasikan
beberapa aspek penting dari teori agensi yaitu:
1. Upaya seorang agen nampaknya tidak dapat diamati dalam konteks pemilik-manajer karena
pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian yang mencirikan bahwa perusahaan tersebut
berada dalam masyarakat industri maju. Kontrak yang paling efisien akan melakukannya dengan
biaya keagenan serendah mungkin
2. Sifat kontrak yang paling efisien sangat bergantung pada apa yang diamati bersama-sama
a. Jika upaya agen dapat diamati bersama, baik secara langsung maupun tidak langsung, maka
gaji dengan nilai tetap akan paling efisien jika prinsipal bersifat netral risiko. Kontrak ini
disebut dengan first best
b. Terkecuali perusahaan tersebut memiliki durasi yang sangat singkat, tidak mungkin payoff
upaya manajer dalam periode berjalan dapat diamati sampai akhir periode berjalan tersebut. Hal
ini terjadi karena aliran kas jenis-jenis tertentu upaya manajer, tidak akan terealisasi sampai
periode selanjutnya, artinya sampai kontrak kompensasi yang sedang berjalan habis masa
berlakunya
c. Jika upaya yang dilakukan oleh agen tidak dapat diamati, maka kontrak paling efisien mungkin
adalah yang memberi agen tersebut bagian dari laba bersih.
d. Jika upaya, payoff, dan laba bersih tidak dapat diamati, maka kontrak yang optimal adalah
kontrak sewa dimana prinsipal menyewakan perusahaan tersebut kepada manajer untuk biaya
rental yang besarnya ditetapkan dimuka, dan oleh karenanya menginternalisasikan keputusan
upaya agen tersebut.
3. Mengingat agen diasumsikan bersifat penghindar risiko, maka membebankan risiko kepadanya
akan mengurangi manfaat kompensasi yang diharapkan. Para akuntan dapat meningkatkan
efisiensi kontrak kompensasi dengan meningkatkan kemampuan laba bersih untuk memprediksi
payoff
4. Jika laba bersih menjadi ukuran kinerja, maka manajer memiliki keunggulan informasi yang lebih
besar daripada pemilik. Hal tersebut terjadi karena manajer mengontrol sistem akuntansi
perusahaan, sementara pemilik hanya mengamati angka laba bersih yang dilaporkan oleh manajer.
Hal tersebut menimbulkan kemungkinan manajemen laba. Meskipun demikian, dengan
menggunakan GAAP untuk membatasi kisaran manajemen laba, maka akuntan mungkin dapat
mempertahankan insentif manajer untuk bekerja keras.
5. Perilaku etis oleh manajer, karena norma secara personal melawan shirking dan/atau manajemen
laba, bisa memimpin untuk sebuah kontrak yang lebih efisien, hal-hal lain yang sama.

IMPLIKASI TEORI AGENSI BAGI AKUNTANSI


Holmstrom (1979), memberikan perluasan terhadap model agensi, yang mana membolehkan
lebih dari satu ukuran kinerja. Holmstrom berasumsi bahwa usaha agen tidak bisa diobservasi oleh
principal, tetapi imbalan bisa diobservasi pada akhir period. Holmstrom menunjukkan kemungkinan
mengurangi biaya agensi pada kontrak model second best dengan syarat bahwa ukuran kinerja kedua
(misalnya harga saham) juga bisa diobservasi dan mengandung beberapa informasi tentang usaha
manajer diluar yang terkandung dalam ukuran kinerja yang pertama (seringnya adalah laba).
Holmstrom mengasumsikan bahwa usaha dari agen tidak dapat diamatio oleh prinsipal tetapi
imbalannya dapat diamati pada akhir periode tertentu. Di lain pihak, Feltham dan Xi (1994)
menunjukkan bahwa model Holmstrom atas kasus imbalan tidak dapat diamati, jika sekumpulan
manajer mungkin melakukan aksi yang konstan.
Holmstrom menunjukkan secara formal bahwa sebuah kontrak yang didasarkan pada sebuah
pengukuran kinerja seperti net income kurang efisien daripada first best, sumber dari kerugian
efisiensi adalah kebutuhan agen yang risk averse untuk mentoleransi risiko dalam rangka
menghasilkan kecenderungan untuk menolak. Hal ini mengakibatkan munculnya sebuah pertanyaan
apakah second best contract dapat dibuat lebih efisien dengan mendasarkan pada pengukuran second
performance dalam penambahannya pada net income. Sebagai contoh harga saham juga merupakan
informasi mengenai kinerja manajer.
Holmstrom menyatakan bahwa menyediakan pengukuran yang kedua (harga saham) juga
dapat diobservasi dan memberikan beberapa informasi mengenai usaha manajer yang terdapat pula
dalam pengukuran yang pertama. Sebagai efeknya, net income dan harga saham bersama-sama akan
merefleksikan lebih baik mengenai usaha manajer sekarang daripada hanya salah satu saja. Tentu saja,
harga saham cenderung tidak stabil, dan dipengaruhi oleh kejadian ekonomi secara luas. Namun,
analisa Holmstrom menunjukkan bahwa tidak peduli seberapa mengganggunya variabel kedua,
variabel tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi dari second best contract, jika
variabel tersebut mengandung paling sedikit beberapa tambahan informasi usaha.
Pertanyaan yang kemudian muncul menjadi satu dari proporsi relatif dari kompensasi yang
didasarkan pada net income, versus didasarkan pada harga saham, dalam compensation contracts.
Sehingga, implikasi yang menarik dari model Holmstrom adalah bahwa seiring dengan net income
bersaing dengan sumber informasi lainnya untuk investor dalam teori pasar modal yang efisien, net
income juga bersaing dengan sumber informasi lainnya untuk memotivasi manajer dalam teori agensi.
Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai apa karakteristik yang harus dimiliki sebuah
pengukuran kinerja, jika pengukuran tersebut digunakan untuk kontribusi pada kontrak kompensasi
yang efisien. Salah satu dari karakteristik penting adalah sensitivitas. Sensitivitas adalah tingkat
dimana nilai ekspetasi dari sebuah pengukuran kinerja meningkat seiring dengan kerja keras manajer,
atau menurun jika yang terjadi sebaliknya. Karakteristik penting lainnya adalah keakuratan dalam
memprediksi imbalan dan usaha manajer.
Karakteristik yang diperlukan oleh net income jika digunakan untuk mengukur kinerja tidak
sama dengan jika digunakan sebagai input yang berguna dalam keputusan investasi. Dapat
disimpulkan bahwa tantangan untuk akuntan adalah untuk memelihara dan meningkatkan peran dari
net income sebagai pengukuran kinerja seorang manaejr adalah menghasilkan angka net income yang
merepresentasikan tradeoff terbaik yang mungkin antara sensitivitas dan keakuratan.

Kekakuan Kontrak
Teori agensi berasumsi bahwa hukum positif berwenang untuk menegakkan ketentuan
kontrak dan mengadili perselisihan yang timbul dari kontrak. Hal ini mengingat bahwa kontrak-
kontrak yang dibuat oleh para pihak pada umumnya sangat kaku dan rinci, merujuk pada efek dari
teori agensi dan konsekuensi ekonomi sebagaimana diuraikan sebelumnya. Kontrak cenderung untuk
kaku pada waktu ditandatangani.
Kontrak yang tidak mengantisipasi semua kemunngkinan realisasi keadaan adalah tidak
lengkap. Membangun sebuah komitmen formal untuk menegosiasikan kembali kontrak dibawah
tangan adalah mungkin, namun jika negosiasi kembali tersebut adalah baik untuk manajer, prospek
dari negosiasi kembali tersebut mengurangi usaha insentif manajer, yang tidak termasuk dalam
ketertarikan investor.
Akibatnya, konsekuensi dari memasuki suatu kontrak hanya karena itu adalah kontrak, dan
maka cenderung kaku. Keadaan yang tidak terduga sebelumnya menyebabkan biaya untuk perusahaan
dan/atau manajer tersebut. Manajer tidak baik terpengaruh oleh perubahan dari peraturan-peraturan
akuntansi dipertengahan jalan yang mengambil ketidak senangan akan akuntan-akuntan yang
memperkenalkan perubahan peraturan daripada pihak lainnya dalam kontrak.

Rekonsiliasi Atas Teori Pasar Sekuritas Efisien dengan Konsekuensi Ekonomi


Teori keagenan mendemonstrasikan kontrak kompensasi yang mungkin paling baik biasanya
mendukung kompensasi manajer pada satu atau lebih atas pengukuran kinerja. Kemudian, manajer
memiliki motivasi untuk memaksimalkan kinerja mereka, kinerja yang lebih tinggi membawa pada
ekspetasi imblan yang lebih tinggi, ini juga merupakan tujuan yang diharapkan oleh pemegang saham.
Pensejajaran ini menjelaskan mengapa kebijakan akuntansi mempunyai konsekuensi yang
ekonomi, disamping implikasi dari teori pasar sekuritas efisien. Dalam teori pasar sekuritas efisien,
hanya kebijakan akuntansi yang mempengaruhi arus kas yang diharapkan menghasilkan konsekuensi
ekonomi. Berdasarkan pendapat atas dasar kontrak, konsekuensi ekonomi tidak bergantung pada
kebijakan akuntansi yang memiliki pengaruh langsung ke arus kas.
Kadang ini merupakan kekauan yang diproduksi oleh the signing of binding
(penandatanganan kontrak), kontrak yang tidak lengkap yang menciptakan perhatian manajer, dan
yang membawa pada intervensi mereka dalam proses pembuatan standar. Kekakuan tersebut tidak
dapat berbuat apa-apa apabila perubahan kebijakan akuntansi mempengaruhi arus kas.
Sehingg, konsekuensi ekonomi dan pasar sekuritas efisien tidak selalu inconsitent. Kadang
mereka dapat digabungkan dengan teori akuntansi positif, dengan dukungan normatif dari teori agensi
yang menyarankan mengapa perusahaan memasuki pekerjaan dan kontrak hutang yang bergantung
pada informasi akuntansi.

PENELITIAN-PENELITIAN TERKAIT TEORI KEAGENAN


Agency Theory : An Assessmentand Review
(Kathleen M. Eisenhardt, 1989)
Teori keagenan adalah teori yang penting, namun kontroversial. Penelitian ini mengulas teori
keagenan, kontribusinya terhadap teori organisasi, pekerjaan empiris yang telah ada dan
mengembangkan fenomena yang telah diuji. Diperoleh kesimpulan bahwa teori keagenan (a)
menawarkan wawasan yang unik ke dalam sistem informasi, ketidakpastian hasil, insentif, dan risiko,
dan (b) merupakan perspektif empiris yang valid, terutama ketika digabungkan dengan perspektif
yang saling melengkapi. Rekomendasi utama adalah untuk menggabungkan perspektif keagenan
dalam studi tentang berbagai masalah yang dimiliki struktur yang kooperatif.
Secara lebih detail, penelitiannya membahas empat pertanyaan, pertama, apa yang dimaksud
dengan teori keagenan, kedua apakah kontribusi teori keagenan terhadap teori organisasi, ketiga
apakah teori keagenan secara empiris valid, dan terakhir apakah topik dan konteks yang bermanfaat
bagi peneliti organisasi yang menggunakan teori keagenan? Mengidentifikasi bagaimana teori
keagenan berguna untuk organisasi, memerlukan pemahaman atas situasi dimana perspektif keagenan
dapat memberikan pengaruh teoritis.
Kontribusi utama dari makalah ini adalah untuk menyajikan proposisi dapat diuji,
mengidentifikasi kontribusi dari teori pemikiran organisasi, dan mengevaluasi literatur empiris yang
masih ada.Kesimpulan keseluruhan adalah bahwa teori keagenan adalah tambahan yang berguna
untuk teori organisasi.Ide-ide teori keagenan risiko, ketidakpastian hasil, insentif, dan sistem
informasi yang kontribusi baru untuk berpikir organisasi, dan bukti empiris mendukung teori,
terutama ketika digabungkan dengan perspektif teoritis yang saling melengkapi.

Asal Usul Teori Keagenan


Selama 1960-an dan awal 1970-an, ekonom mengeksplorasi pembagian risiko antara
individu-individu atau kelompok (misalnya, Arrow, 1971; Wilson, 1968). Literatur ini
menggambarkan masalah berbagi risiko sebagai salah satu yang muncul ketika pihak bekerja sama
memiliki sikap yang berbeda terhadap risiko. Teori keagenan memperluas literatur berbagi risiko ini
untuk memasukkan apa yang disebut masalah keagenan yang terjadi ketika pihak bekerja sama
memiliki tujuan yang berbeda dan pembagian kerja (Jensen & Meckling, 1976; Ross, 1973). Secara
khusus, teori keagenan diarahkan pada hubungan badan di mana-mana, di mana satu pihak (prinsipal)
delegasi bekerja untuk yang lain (agen), yang melakukan pekerjaan itu.Teori keagenan mencoba
untuk menggambarkan hubungan ini menggunakan metafora kontrak (Jensen & Meckling, 1976).
Teori keagenan berkaitan dengan menyelesaikan dua masalah yang dapat terjadi dalam
hubungan badan. Yang pertama adalah masalah keagenan yang timbul ketika (a) keinginan atau
tujuan dari prinsipal dan agen konflik dan (b) sulit atau mahal bagi prinsipal untuk memverifikasi apa
yang benar-benar melakukan agen. Masalahnya di sini adalah bahwa kepala sekolah tidak dapat
memverifikasi bahwa agen telah berperilaku tepat.Yang kedua adalah masalah pembagian risiko yang
timbul ketika prinsipal dan agen memiliki sikap yang berbeda terhadap risiko.Masalahnya di sini
adalah bahwa prinsipal dan agen dapat memilih tindakan yang berbeda karena preferensi risiko yang
berbeda.

Agency Theory
Positivist Agency Theory
Peneliti positivis telah difokuskan pada identifikasi situasi di mana prinsipal dan agen
cenderung memiliki konflik tujuan dan kemudian menggambarkan mekanisme pemerintahan yang
membatasi perilaku mementingkan diri sendiri agen. Penelitian positivis secara matematis kurang
daripada penelitian principal-agent. Juga, peneliti positivis telah berfokus hampir secara eksklusif
pada kasus khusus dari hubungan principal-agent diantara pemilik dan manajer, perusahaan publik
(Berle & Sarana, 1932).
Dari perspektif teoritis, aliran positivis telah peduli dengan menggambarkan mekanisme
pemerintahan yang memecahkan masalah keagenan. Jensen (1983, p. 326) menjelaskan kepentingan
ini sebagai “mengapa hubungan kontraktual tertentu muncul.” Dua proposisi menangkap mekanisme
tata kelola yang diidentifikasi dalam aliran positivis. Salah satu proposisi adalah bahwa kontrak
berbasis out-come telah efektif dalam mengendalikan kesempatan agen. Argumennya adalah bahwa
kontrak tersebut membatasi preferensi agen dengan orang-orang dari prinsipal karena imbalan untuk
kedua bergantung pada tindakan yang sama, dan, oleh karena itu, konflik kepentingan antara prinsipal
dan agen berkurang.

Penelitian Prinsipal-Agen
Dibandingkan dengan aliran positivis, teori principal-agent abstrak dan matematis dan, karena
itu, kurang dapat diakses untuk organizational scholars. Bagi organizational scholars, perbedaan-
perbedaan antara positivist agency theory dan penelitian prinsipal-agen memberikan latar belakang
untuk memahami kritik dari teori. Namun, perbedaan tsb tidak penting. Sebaliknya, hal yang penting
adalah bahwa dua aliran saling melengkapi: teori positivis mengidentifikasi berbagai alternatif
kontrak, dan teori principal-agent yang menunjukkan kontrak yang paling efisien di bawah berbagai
tingkat ketidakpastian hasil, penghindaran risiko, informasi, dan variabel lain dijelaskan di bawah.
Fokus dari literatur principal-agent adalah pada penentuan kontrak secara optimal, perilaku
dibandingkan hasil, antara prinsipal dan agen. Model sederhana mengasumsikan tujuan konflik antara
prinsipal dan agen, hasil mudah diukur, dan agen yang lebih risk averse dari prinsipal.

Agency Theory dan Literatur Oranisasi


Meskipun Perrow (1986) menyatakan bahwa teori keagenan sangat berbeda dari teori
organisasi, teori keagenan memiliki beberapa kaitan ke perspektif organisasi secara umum (lihat Tabel
2). Pada awalnya, teori keagenan konsisten dengan karya-karya klasik Barnard (1938) pada sifat
perilaku kooperatif dan Maret dan Simon (1958) pada bujukan dan kontribusi dari hubungan kerja.
Seperti dalam karya sebelumnya, hal yang paling penting pada teori keagenan adalah konflik tujuan
yang melekat ketika individu dengan preferensi yang berbeda terlibat dalam usaha koperasi, dan
metafora penting adalah kontrak.

Kontribusi Teori Agensi

Teori keagenan mengingatkan kita bahwa banyak dari kehidupan organisasi didasarkan pada
kepentingan pribadi. Teori keagenan juga menekankan pentingnya struktur masalah umum di seluruh
topik penelitian. Barney dan Ouchi (1986) menjelaskan, penelitian organisasi telah menjadi topik,
daripada teori. Teori keagenan mengingatkan kita bahwa struktur masalah umum memang ada di
seluruh domain penelitian. Oleh karena itu, hasil dari satu wilayah penelitian (misalnya, integrasi
vertikal) mungkin erat dengan orang lain dengan struktur masalah umum (misalnya, kompensasi).
Teori keagenan juga membuat dua kontribusi khusus untuk memikirkan organisasi. Yang
pertama adalah pembenahan informasi. Dalam teori keagenan, informasi dianggap sebagai komoditas:
Ini memiliki biaya, dan dapat dibeli. Hal ini memberikan peranan penting untuk sistem formal
informasi, seperti anggaran, MBO, dan dewan direksi, dan informal, seperti pengawasan manajerial,
yang unik dalam penelitian organisasi.Implikasinya adalah bahwa organisasi dapat berinvestasi dalam
sistem informasi untuk mengontrol agen oportunisme.
Sumbangan kedua teori keagenan adalah implikasi risiko. Organisasi diasumsikan memiliki
masa depan yang tidak pasti. Masa depan dapat membawa kemakmuran, kebangkrutan, atau
beberapa hasil menengah, dan masa depan yang hanya sebagian dikendalikan oleh anggota organisasi.
Efek lingkungan seperti peraturan pemerintah, munculnya pesaing baru, dan teknis inovasi dapat
mempengaruhi hasil. Teori keagenan cenderung mekirkan organisasi dengan mendorong konsekuensi
ketidakpastian hasil implikasi mereka untuk menciptakan risiko.

Kesimpulan
Pengertian teori agensi adalah hubungan yang mencerminkan struktur dasar keagenan antara
principal dan agen yang terlibat dalam perilaku yang kooperatif, tetapi memiliki perbedaan tujuan dan
berbeda sikap terhadap risiko. Adapun kontribusi teori keagenan terhadap teori organisasi yaitu :
1. Teori keagenan mengingatkan kita bahwa banyak dalam kehidupan organisasi didasarkan
pada kepentingan diri sendiri (self interest).
2. Dalam teori keagenan, informasi dianggap sebagai komoditas, memiliki biaya, dan dapat
dibeli. Implikasinya adalah bahwa organisasi dapat berinvestasi dalam sistem informasi untuk
mengontrol oportunisme seorang agen.
3. Kontribusi teori keagenan selanjutnya adalah implikasi resiko. Organisasi diasumsikan
memiliki masa depan yang tidak pasti. Implikasinya adalah bahwa ketidakpastian hasil
ditambah dengan perbedaan kesediaan untuk menerima risiko harus mempengaruhi kontrak
antara prinsipal dan agen.

PENELITIAN-PENELITIAN TERKAIT TEORI KEAGENAN


A Reexamination of Agency Theory Assumptions : Extensions and Extrapolations
(Peter Wright, Ananda Mukherji, Mark J. Kroll)

Abstrak
Dalam artikel ini kita mendiskusikan teori agensi dalam konteks individu prinsipal dan agen,
dan juga dalam konteks organisasinya dan kelompoknya. Teori agensi diperiksa dalam konteks
orientasi tujuan, kewajiban dan timbal balik, resiko, dan kepentingan pribadi. Kami menawarkan
proposisi asumsi-asumsi teori agensi yang telah diberikan. Dalam relaksasi asumsi atas teori agensi,
wawasan dari luar literatur agensi, khususnya dari teori perilaku yang digunakan. Implikasi dari teori
agensi dan perpanjangannya pada teori ini juga didiskusikan dalam hubungan pada hasil yang
berkaitan dengan perubahan ekonomi.

Pendahuluan
Fokus agensi teori adalah pada sebuah kontrak yang meminimalkan biaya berkaitan dengan
hubungan agensi. Teori agensi berakar dalam utilitarianisme ekonomi (Ross,1973). Secara sempit,
berfokus pada hubungan prinsipal dan agen, dan dengan sekumpulan asumsi yang telah diberikan,
kontribusi dari teori ini adalah bahwa ini menyediakan prediksi secara logika tentang apa rasional
individu yang mungkin dilakukan jika ditempatkan dalam sebuah hubungan. Bahkan, hubungan
agensi telah dipahami dalam beberapa konteks pada sebuah prinsipal dan agen tunggal. Masalah
agensi menjadi lebih terbukti-jika kedua prinsipal dan agen merupakan utility maximizers, karena
asumsinya menyatakan bahwa agen tidak akan bertindak dalam kepentingan terbaik prinsipal (Jensen
& Meckling).
State of The Art in Economics and Management
Paradigma Ekonomi dan Manajemen
Ada dua fundamental dan pendekatan berbeda dalam menganalisis dan memahami perilaku.
March (1994) dalam sebuah essay pada pembuatan keputusan, mendiskusikan dua lingkup yang luas
dari teori. Salah satu dari lingkup teori secara formal, menggambarkan ulang paradigma ekonomi
dimana berfokus pada pembuatan pilihan rasional ke arah memaksimalkan utilitas. Sedangkan lainnya
lingkup perilaku dari pembuatan keputusan, yang menggambarkan paradigma manajemen.
Dua perspektif yang berbeda tersebut membahas dua sudut pandang yang berbeda yang
dimiliki tentang masyarakat. Pandangan ekonomi adalah bahwa manusia egois dan jika tanpa
pengawasan akan bertindak oportunis dengan tipu daya dan kebohongan. Sebaliknya, teori
manajemen berbeda mengenai asumsi tentang agen. Perspektif ekonomi dan manajemen memberi
cukup otonomi dan kebebasan untuk agen. Disebutkan ulang dalam paradigma ekonomi, asumsi
adalah bahwa agen akan selalu menggunakan otonomi ini untuk memperkaya diri sendiri dengan
biaya prinsipal. Menggunakan perspektif strukturasi dan memberikan penjelasan otonomi agen,
Giddens Amerika, bagaimanapun, menyatakan bahwa "perilaku aktor dalam Masyarakat diperlakukan
sebagai hasil dari hubungannya determinan sosial dan psikologis, dimana yang pertama mendominasi
yang terakhir melalui pengaruh kunci yang dikaitkan dengan unsur-unsur normatif. Giddens (1983)
memberikan kekuatan yang cukup refleksivitas dan kontrol ke agen yang mampu memonitor,
merasionalisasi, dan memotivasi tindakannya berdasarkan penilaian kondisi tidak diakui tindakan, dan
konsekuensi yang tidak diinginkan dari tindakan. Giddens (1983), dengan demikian, berfokus pada
kecenderungan nonekonomi dari agen.

Selain itu, dalam paradigma manajemen, otonomi agen tidak harus digunakan secara negatif,
tetapi bahwa otonomi memiliki dan dapat digunakan untuk berbagai kemungkinan positif. Teori
stakeholder perusahaan dalam literatur manajemen (Donaldson & Preston, 1995; Jones, 1995; Quinn
& Jones, 1995) aspek yang bermanfaat bagi otonomi agen telah diduga. Di bawah agen sudut pandang
pemangku kepentingan, dalam banyak kasus, beroperasi dengan pertimbangan moral dan etika. Selain
perspektif stakeholder, penelitian manajemen telah mengembangkan sebuah badan mengesankan
sastra yang telah berkembang independen dari asumsi klasik dalam ilmu ekonomi tentang teori
keagenan (lihat bagian sebelumnya, dan juga Wiseman dan GomezMejia 1998 untuk review). Badan
penelitian ini tidak hanya menantang asumsi yang dibatasi pada agensi-yang berdasarkan model teoris
formal, tetapi telah memberikan bukti kuat untuk menggabungkan lebih luas, pendekatan yang lebih
holistik dalam memahami hubungan principal-agent. Banyak penelitian ini memberikan dukungan
teoritis dan empiris yang menarik untuk menggabungkan perspektif perilaku positif dalam memahami
hubungan interpersonal.

Fokus Pada Individu


Teori agensi fokus pada hubungan diantara individu prinsipal dan agen, karena meneliti
pertukaran ekonomi antara mereka. Kepatuhan yang ketat untuk asumsi, di mana kita akan lebih
rumit. kami memprediksi akan mengakibatkan hasil suboptimal. Itu karena masalah keagenan dan,
akibatnya, biaya agen tidak bisa sepenuhnya dihilangkan, menurut teori ini, kecuali peran kepala
sekolah dan agen digabungkan menjadi satu (yaitu, dalam kasus seorang individu yang memiliki
seratus persentase perusahaan).
Kami berspekulasi, bagaimanapun, bahwa agen individu mungkin memiliki beragam orientasi,
yang berkaitan dengan manfaat nonfinansial dibandingkan biaya di tempat tertentu kerja mereka.
Misalnya, beberapa agen tidak hanya dapat mengkonsumsi perquisites tetapi mungkin juga work-
averse. Agen ini tidak mungkin untuk melakukan tanggung jawab pada pekerjaan tertentu mereka,
konsisten dengan argumen dari teori keagenan (Jensen & Meckling, 1976). Untuk agen ini, kelalaian
kemungkinan disukai karena dengan cara ini mereka dapat menurunkan disutilitas mereka terkait
dengan upaya diinvestasikan secara khusus dalam pekerjaan mereka. Ingat bahwa kelalaian adalah
sumber yang paling penting dari konflik keagenan (Jensen & Meckling, 1976, hlm. 487). Dalam
keadaan ini, asumsi atas tujuan konflik mungkin tepat, karena melalaikan pada bagian dari agen
sangat merugikan kepentingan prinsipal.
Individu biasanya diasumsikan risk averse (Jemison, 1987; March & Shapira, 1987: Wright et
al, 1996.). Dalam teori keagenan, bagaimanapun, asumsi ini merefleksikan mengenai pokok tetapi
bukan agen. Pada tingkat individu, ekstensi lain yang dapat dibuat mengenai teori keagenan adalah
untuk merefleksikan asumsi bahwa agen menghindari risiko.

Fokus dalam Kelompok dan Organisasi


Sebelumnya telah dibahas bahwa biaya agensi bertambah karena diasumsikan bahwa
prinsipal dan agen memiliki orientasi tujuan yang berbeda serta preferensi risiko. Dalam pengaturan
ini, agen tidak diharapkan untuk berperilaku secara bertanggung jawab. Dengan demikian, hasil
suboptimal mungkin terkait dengan hubungan keagenan sebagai self-interest secara utilitas
memaksimalkan agen dianggap akan kompetitif terkait dengan pokok self-interest. Atau, dengan
merefleksikan asumsi teoritis keagenan, yang berpendapat bahwa self-interest individu lain dalam
situasi tertentu dapat kooperatif terkait satu sama lain. Dalam keadaan ini, agen dapat berperilaku
secara bertanggung jawab dan hasil yang optimal mungkin terkait dengan hubungan agensi.

KESIMPULAN

Biaya agensi pasti bertambah, jika diasumsikan per teori keagenan bahwa kepentingan
individu yang kompetitif terkait satu sama lain di pertukaran mereka dalam kelompok atau organisasi.
Akibatnya, untuk mengendalikan biaya agensi, ada kebutuhan untuk kontrak resmi lebih ditentukan
dalam economic exchange.
Implikasi kebijakan secara umum
Masalah keagenan terpusat pada literatur tata kelola perusahaan yang didebatkan (Arrow,
1971, Arrow, 1985, Fama, 1980, Fama & Jensen, 1983, Jensen & Meckling, 1976, Ross, 1973,
Wright, Ferris, Sarin & Awasthi, 1996 antara lain). Ketegangan seharusnya ada antara tujuan
pemegang saham (atau kepala sekolah) versus tujuan manajer (atau agen). Perlu dicatat bahwa
fokus dan maksud dari kedua paradigma, ekonomi dan paradigma manajemen, yang mungkin serupa
dalam sumber daya yang Society harus efisien dialokasikan. Pada tingkat Masyarakat, baik ekonomi
dan paradigma manajemen memiliki tujuan yang sama dalam upaya untuk meningkatkan efisiensi,
mengoptimalkan alokasi sumber daya, dan meningkatkan Tabungan. Akibatnya, dua perspektif atau
paradigma berusaha untuk mencapai tujuan yang sama melalui cara-cara yang berbeda.

Dari sudut pandang kebijakan publik pandang, kita tidak percaya bahwa kita dapat atau
bahkan harus berusaha untuk mengintegrasikan atau mendamaikan dua perspektif ini. Dua pendekatan
adalah gejala dari sikap dasar kita dan asumsi tentang sifat orang. Teori ini terkenal motivasi
(McGregor, 1960) akan berfungsi sebagai analogi yang wajar untuk menunjukkan bagaimana dua
perspektif dan asumsi yang terkait dapat berbeda secara signifikan, namun tujuan akhir adalah, yaitu,
bagaimana meningkatkan produktivitas yang sama.

DAFTAR PUSTAKA

Scott, William R. 2015. Financial Accounting Theory. Prentice-Hall, Toronto, Canada.


Eisenhardt, K. (1989). Agency Theory: An Assessment and review. Academy of Management Review,
14 (1):57-74.
Wright, P., et al.2001. A reexamination of agency theory assumptions: extensions and extrapolations.
Journal of Socio Economics, Vol.30, 413-429.