Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH PENGEMBANGAN KURIKULUM MATEMATIKA

TENTANG
FUNGSI DAN PERANAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 3
1. JEVI WARDANI (E1R017027)
2. MUFTI NIDA ULIA (E1R0170
3. REKSA HANIANTARA (E1R0170
4. SITI AMINATIN AYUNAH (E1R017057)
5. MUHAMAD ARIF BIJAKSANA (E1R0170

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas
segala rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami
juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi
dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih


banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran
dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Mataram, 22 september 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................... 1

KATA PENGANTAR ................................................................................. 2

DAFTAR ISI ................................................................................................ 3

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 4

A. LATAR BELAKANG ....................................................................................... 4


B. RUMUSAN MASALAH ................................................................................... 4
C. TUJUAN MAKALAH....................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................. 5

A. FUNGSI PENGEMBANGAN KURIKULUM ................................................. 5


B. PERANAN PENGEMBANGAN KURIKULUM ............................................. 10
C. POSISI KURIKULUM DALAM PENDIDIKAN............................................. 11

BAB III PENUTUP ..................................................................................... 17

A. KESIMPULAN .................................................................................................. 17
B. SARAN .............................................................................................................. 19

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 21

3
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktifitas
belajar mengajar. Kurikulum dipandang sebagai program pendidikan yang direncanakan
dan dilaksanakan dalam pencapaian tujuan pendidikan. Apabila masyarakat dinamis,
kebutuhan anak didikpun akan dinamis sehingga tidak terasing dalam masarakat, karena
memang maysrakat berubah berdasarkan kebutuhan itu sendiri.
Pendidikan merupakan persoalan penting bagi semua insan, yang selalu menjadi
tumpuan dan harapan untuk mengembangkan individu dan masyarakat. Pendidikan juga
sebagai alat untuk memajukan peradaban, mengembangkan masyarakat, dan mencetak
generasi yang mampu melangkah sesuai dengan apa yang menjadi harapan bangsa. Maka
di dalam pendidikan diterapkan kurikulum yang berfungsi untuk mencapai tujuan tujuan
yang diharapkan. Sebelum kita bicara mengenai fungsi kurikulum, terlebih dahulu akan
dijelaskan apa yang dimaksud dengan fungsi. Kata fungsi berasal dari bahasa inggris
“function” yang mempunyai banyak arti, diantaranya yang berarti jabatan, kedudukan,
kegiatan dan sebagainya. Kurikulum merupakan salah satu asas penting dalam
pelaksanaan proses belajar mengajar, apabila asas ini baik dan kuat, maka dapat
dipastikan proses belajar mengajarpun akan semakin lancar sehingga tujuan
pendidikanpun akan tercapai. Dalam aktifitastas belajar mengajar, kedudukan kurikulum
sangat krusial karena dengan kurikulum anak didik akan memperoleh manfaat (benefit).
Demi tercapainya tujuan pendidikan dan siswa memperoleh manfaat dari
pengembangan suatu kurikulum, maka penting untuk membahas peran dan fungsi
pengembangan kurikulum. Oleh karena itu penulis kali ini membahas mengenai segenap
fungsi pengembangan kurikulum, peran pengembangan kurikulum, dan posisi
pengembangan kurikulum. Dengan memahami ketiga hal tersebut diharapkan setiap
komponen pendidikan dapat berkontribusi demi tercapainya tujuan pendidikan.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah fungsi-fungsi pengembangan kurikulum?
2. Apakah peran-peran pengembangan kurikulum?
3. Bagaimana posisi kurikulum dalam pendidikan?

C. TUJUAN MAKALAH
1. Untuk mengetahui fungsi-fungsi pengembangan kurikulum
2. Untuk mengetahui peran-peran pengembangan kurikulum
3. Untuk mengetahui posisi kurikulum dalam pendidikan

4
BAB II

PEMBAHASAN

A.FUNGSI PENGEMBANGAN KURIKULUM

Kurikulum dipandang sebagai program pendidikan yang direncanakan dan


dilaksanakan dalam mencapai tujuan pendidikan. Apabila masyarakat bersifat dinamis
maka kebutuhan peserta didik akan bersifat dinamis pula. Sehingga peserta didik tidak
terasing didalam masyarakat karena memang masyarakat berubah berdasarkan kebutuhan
masyarakat itu sendiri.

Kedudukan kurikulum dalam aktifitas belajar mengajar sangat penting disebabkan


karena dengan kurikulum, peserta didik akan memperoleh manfaat. Menurut Joesafira
(delsajoesafira.blogspot.com) disamping kurikulum memiliki manfaat terhadap peserta
didik, ia juga memiliki fungsi-fungsi, yakni:

1. Fungsi Kurikulum Dalam Rangka Pencapaian Tujuan Pendidikan


Kurikulum pada suatu sekolah merupakan sutau alat atau usaha untuk
mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan oleh sekolah yang dianggap cukup
tepat dan krusial untuk dicapai, sehingga salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah
meninjau kembali kurikulum yang selama ini digunakan oleh sekolah tersebut. Di
Indonesia diketahui ada empat tujuan utama pendidikan yakni; 1) Tujuan Nasional, 2)
Tujuan Institusional, 3) Tujuan Kurikuler, dan 4) Tujuan Instruksional.
1) Tujuan Pendidikan Nasional
Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan yang ingin dicapai dan didasari oleh
falsafah negara Indonesia (didasari oleh pancasila).
Tujuan pendidikan nasional yaitu tujuan dari keseluruhan satuan, jenis dan kegiatan
pendidikan, baik pada jalur pendidikan formal, informal dan nonformal dalam konteks
pembangunan nasional. Tujuan pendidikan nasional indonesia adalah untuk
“berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif mandiri dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Bab II Pasal 3 UU RI
No. 20 Tahun 2003).

5
2) Tujuan Institusional / Lembaga
Tujuan institusional merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh setiap sekolah atau
lembaga pendidikan. Tujuan institusional ini merupakan penjabaran dari tujuan
pendidikan sesuai dengan jenis dan sifat sekolah atau lembaga pendidikan. Oleh karena
itu, setiap sekolah atau lembaga pendidikan memiliki tujuan institusionalnya sendiri –
sendiri. Tidak seperti tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional lebih bersifat
kongkrit. Tujuan institusional ini dapat dilihat dalam kurikulum setiap lembaga
pendidikan.
3) Tujuan Kulikuler
Tujuan kulikuler adalah tujuan yang ingin dicapai oleh setiap bidang studi. Tujuan ini
dapat dilihat dari GBPP (Garis – garis Besar Program Pembelajaran) setiap bidang studi.
Tujuan kulikuler merupakan penjabaran dari tujuan institusional sehingga kumulasi dari
setiap tujuan kulikuler ini akan menggambarkan tujuan istitusional. Artinya, semua
tujuan kulikuler yang ada pada suatu lembaga pendidikan diarahkan untuk mencapai
tujuan institusional yang bersangkutan.
4) Tujuan Instruksional / Tujuan Pembelajaran
Tujuan instruksional adalah tujuan yang ingin dicapai dari setiap kegiatan
instruksional atau pembelajaran. Tujuan ini seringkali dibedakan menjadi dua bagian,
yaitu :
 Tujuan Instruksional (tujuan pembelajaran) Umum
Tujuan instruksional umum adalah tujuan pembelajaran yang sifatnya masih umum
dan belum dapat menggambarkan tingkah laku yang lebih spesifik. Tujuan instruksional
umum ini dapat dilihat dari tujuan setiap pokok bahasan suatu bidang studi yang ada di
dalam GBPP.
 Tujuan Instruksional (tujuan pembelajaran) Khusus
Tujuan instruksional khusus merupakan penjabaran dari tujuan instruksional umum.
Tujuan ini dirumuskan oleh guru dengan maksud agar tujuan instruksional umum
tersebut dapat lebih dispesifikasikan dan mudah diukur tingkat ketercapaiannya.
2. Fungsi Kurikulum Bagi Peserta Didik
Keberadaan kurikulum sebagai organisasi belajar yang tersusun merupakan suatu
persiapan bagi peserta didik, peserta didik diharapkan dapat dikembangkan seirama
dengan tahap-tahap perkembangan anak sebagai bekal untuk menjalani hidupnya nanti.
3. Fungsi kurikulum bagi pendidik

6
Fungsi kurikulim bagi guru/pendidik adalah;
 Sebagai pedoman kerja dalam menyusun dan mengorganisir pengalaman belajar para
peserta didik.
 Sebagai pedoman untuk mengadakan evaluasi terhadap perkembangan peserta didik
dalam rangka menyerap sejumlah pengalaman yang diberikan.
4. Fungsi Kurikulum Bagi Kepala Sekolah dan Pembina Sekolah
Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah dan para pembina sekolah lainnya adalah:
 Sebagai pedoman dalam melaksanakan fungsi supervisi yaitu memperbaiki situasi
belajar
 Sebagai pedoman dalam melaksanakan fungsi supervisi dalam menciptakan situasi
belajar anak didik ke arah yang lebih baik
 Sebagai pedoman dalam melaksanakan fungsi supervisi dalam memberikan bantuan
kepada guru atau pendidik agar dapat memperbaiki proses mengajar
5. Fungsi Kurikulum Bagi Orang Tua Peserta Didik
Kurikulum bagi orang tua peserta didik memiliki fungsi agar orang tua dapat
berpartisipasi membantu sekolah dalam memajukan putra-putrinya. Bantuan yang
dimaksud dapat berupa konsultasi langsung ke sekolah atau guru mengenai masalah-
masalah yang menyangkut anak-anak mereka. Bantuan yang berupa materi dari para
orang tua dapat disampaikan melalui lembaga BP3 (Badan Pembantu Penyelenggara
Pendidikan) atau yang kita kenal sebagai komite sekolah, dengan membaca dan
memahami kurikulum sekolah, para orang tua teersebut dapat mengetahui pengalaman
belajar yang dipaerlukan anak-anak mereka. Dengan demikian partisipasi orang tua tidak
kalah pentingnya dalam menyukseskan proses belajar-mengajar di sekolah.
6. Fungsi Kurikulum Bagi Sekolah Pada Tingkat Diatasnya
Fungsi kurikulum dalam hal ini dapat dibagi menjadi dua jenis tertentu, yakni:
 Pemeliharaan keseimbangan proses pendidikan
Pemahaman kurikulum yang dimiliki oleh suatu sekolah, sekolah pada tingkatan
diatasnya dapat melakukan penyesuian didalam kurikulumnya yakni jika sebagian dari
kurikulum di suatu sekolah telah diajarkan pada sekolah yang berada dibawahnya, maka
sekolah dapat meninjau kembali atas perlu atau tidaknya bagian tersebut diajarkan. Jika
keterampilan-keterampilan tertentu yang diperlukan dalam mempelajari kurikulum suatu
sekolah belum diajarkan pada sekolah yang berada dibawahnya, sekolah dapat

7
mempertimbangkan dalam memasukkan program tentang keterampilan-keterampilan itu
kedalam kurikulumnya.
 Penyiapan tenaga kerja
Jika suatu sekolah berfungsi menyiapkan tenaga pendidik bagi sekolah yang berada
dibawahnya maka sangat perlu sekolah tersebut memahami kurikulum sekolah yang
berada dibawahnya
7. Fungsi Kurikulum Bagi Masyarakat Sebagai Pemakai Lulusan Sekolah
Dengan mengetahui kurikulum pada suatu sekolah, masyarakat sebagai pemakai
lulusan dapat melaksanakan sekurang-kurangnya dua hal :
 Ikut memberikan kontribusi dalam memperlancar pelaksanaan program pendidikan yang
membutuhkan kerja sama dengan pihak orang tua dan masyarakat.
 Ikut memberikan saran dan kritik yang membangun demi penyempurnaan program
pendidikan disekolah agar lebih serasi dengan kebutuhan masyarakat dan lapangan kerja

Menurut Dakir (2004), fungsi kurikulum dibedakan menjadi empat yaitu; (1) fungsi
kurikulum bagi para penulis, (2) fungsi kurikulum bagi guru, (3) fungsi kurikulum bagi
kepala sekolah, dan (4) fungsi kurikulum bagi masyarakat

1. Fungsi Kurikulum Bagi Para Penulis


Para penulis bahan ajar terlebih dahulu membuat analisis instruksional untuk
membuat berbagai pokok bahasan maupun sub bahasan. Selanjutnya menyusun Garis-
garis Besar Program Pengajaran (GBPP) untuk mata pelajaran tertentu, baru kemudian
menyusun berbagai sumber bahan pelajaran yang relevan. GBPP adalah ikhtisar
keseluruhan program pengajaran yang terdiri atas tujuan kulikuler, tujuan instruksional
umum, dan ruang lingkup bahan pengajaran, yang diatur dan disusun secara berurutan
menurut semester/caturwulan dan kelas yang berfungsi sebagai pedoman bagi para
pengawas, kepala sekolah, dan guru dalam rangka melaksanakan kegiatan belajar
mengajar di sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan.
Program itu disusun per bidang studi dalam rangka pelaksanaan kurikulum
sekolah. Misalnya GBPP bidang studi IPS, IPA, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan
sebagainya.
GBPP terdiri atas empat komponen, yakni tujuan kurikuler, tujuan intruksional
umum, pokok bahasan dan subpokok bahasan, tingkat dan semester. Tiap tingkat dan

8
semester telah ditentukan bahan pelajaran dan sumber perpustakaan (atau sedang
dikembangkan).
2. Fungsi Kurikulum Bagi Guru
Bagi guru baru, yang perlu diperhatikan pertama kali adalah mengenai kurikulum,
selanjutnya Garis-garis Besar Program Pengajaran, kemudian guru mencari bahan
pelajaran dari berbagai sumber yang relevan atau yang telah ditentukan oleh Depdiknas.
Sesuai dengan fungsi kurikulum maka guru mesti mencermati tujuan pendidikan yang
akan dicapai oleh lembaga pendidikan dimana ia bekerja. Oleh karena itu fungsi
kurikulum harus sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai.
3. Fungsi Kurikulum Bagi Kepala Sekolah
Bagi kepala sekolah baru, yang pertama kali perlu dipelajari adalah apa tujuan dari
lembaga yang akan dipimpinnya, kemudian mencari kurikulum yang sekarang digunakan
terutama yang terdapat pada buku-buku petunjuk pelaksanaan, selanjutnya melakukan
supervisi kurikulum.
4. Fungsi Kurikulum Bagi Masyarakat
Kurikulum adalah alat dari sekolah sebagai produsen, sedangkan masyarakat adalah
sebagai konsumennya. Fungsi kurikulum sekolah yang diharapkan masyarakat adalah:
 Kurikulum Pendidikan umum mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan
keterampilan dengan pengkhususan yang diwujudkan pada tingkat-tigkat akhir masa
pendidikan
 Kurikulum pendidikan kejuruan mempersiapkan peserta didik dapat bekerja dalam
bidang tertentu di dalam masyarakat.
 Kurikulum pendidikan luar biasa disediakan bagi peserta didik yang menyandang
kelainan untuk disiapkan agar dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan masyarakat.
 Kurikulum pendidikan kedinasan disiapkan oleh suatu Departemen Pemerintahan atau
Lembaga Pemerintahan Non Departemen dengan tujuan untuk meningkatkan
kemampuan dalam pelaksanaan tugas kedinasan nantinya.
 Kurikulum pendidikan keagamaan menyiapkan penguasaan pengetahuan khusus
pendidikan agama dengan harapan lulusannya dapat menjadi pembina agama yang baik
di masyarakat.
 Kurikulum pendidikan akademik menyiapkan penguasaan ilmu pengetahuan agar
lulusannya dapat menjadi pioner-pioner pembangunan diatas dasar konsep yang tangguh.

9
 Kurikulum pendidikan profesional menyiapkan penerapan-penerapan di bidang tertentu,
dengan harapan lulusannya dapat bekerja secara profesional dimasyarakat.

Menurut Hilda Taba, fungsi kurikulum diantaranya sebagai transmisi (mengawetkan dan
meneruskan kebudayaan), transformasi (mengadakan perubahan atau rekonstruksi
sosial), dan pengembangan individu (aktualisasi diri).

B.PERANAN PENGEMBANGAN KURIKULUM


Otonomi pendidikan memberikan peluang kepada banyak pihak-pihak yang terkait
dengan dunia persekolahan untuk dapat memberikan kontribusi yang lebih, sehingga
dapat mencerdaskan anak bangsa.
Sebagai salah satu komponen dalam system pendidikan, paling tidak kurikulum
memiliki tiga peran, yaitu peran konservatif, peranan kreatif, serta peran kritis dan
evaluatif :
1. Peran Konservatif
Salah satu tugas dan tanggung jawabs ekolah sebagai suatu lembaga pendidikan
adalah mewariskan nilai-nilai dan budaya masyarakat kepada generasi muda yakni siswa.
Siswaperlumemahami dan menyadarinorma-norma dan pandanganhidupmasyarakatnya,
sehingga ketika mereka kembali ke masyarakat, mereka dapat menjunjung tinggi dan
berperilaku sesuai dengan norma-norma tersebut.
Peran konservatif kurikulum adalah melestarikan berbagai nilai budaya sebagai
warisan masa lalu. Dikaitkan dengan era globalisasi sebagai akibat kemajuan ilmu
pengetahuan dan tekhnologi, yang memungkinkan mudahnya pengaruh budaya asing
menggerogoti budaya lokal, maka peran konservatif dalam kurikulum memiliki arti yang
sangat penting. Melalui peran konservatifnya, kurikulum berperan dalam menangkal
berbagai pengaruh yang dapat merusak nilai-nilai luhur masyarakat, sehingga keajegan
dan identitas masyarakat akan terpelihara dengan baik.
2. Peran Kreatif
Ternyata tugas dan tanggung jawab sekolah tidak hanya sebatas mewariskan nilai-
nilai lama. Sekolah memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan hal-hal baru sesuai
dengan tuntutan zaman. Sebab pada kenyataannya masyarakat tidak bersifat statis, akan
tetapi dinamis yang selalu mengalami perubahan. Dalam rangka inilah kurikulum
memiliki peran kreatif. Kurikulum harus mampu menjawab setiap tantangan sesuai
dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat yang cepat berubah.
Dalam peran kreatifnya, kurikulum harus mengandung hal-hal baru sehingga dapat
membantu siswa untuk dapat mengembangakan setiap potensi yang dimilikinya agar
dapat berperan aktif dalam kehidupan social masyarakat yang senantiasa bergerak maju
secara dinamis. Kurikulum harus berperan kreatif, sebab manakala kurikulum tidak
mengandung unsur-unsur baru maka pendidikan selamanya akan tertinggal, yang
berartiapa yang diberikan di sekolah pada akhirnyaakankurangbermakna, karena tidak
relevan lagi dengan kebutuhan dan tuntutan social masyarakat.

10
3. Peran Kritis dan Evaluatif
Tidak setiap nilai dan budaya lama harus tetap dipertahankan, sebab kadang-kadang
nilai dan budaya lama itu sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan masyarakat,
demikian juga ada kalanya nilai dan budaya baru yang mana yang harus dimiliki anak
didik. Dalam rangka inilah peran kritis dan evaluative kurikulum diperlukan. Kurikulum
harus berperan dalam menyeleksi dan mengevaluasi segala sesuatu yang dianggap
bermanfaat untuk kehidupan anak didik.
Dengan ini, masyarakat menjadi salah satu pengguna jasa pendidikan yang menaruh
harapan besar terhadap sekolah untuk dapat mengangkat derajat mereka pada tempat
yang lebih baik karena sekolah menjadikan masyarakat sebagai manusia terdidik.
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh banyak ahli dapat disimpulkan bahwa
pengertian kurikulum dapat ditinjau dari duasisi yang berbeda, yakni menurut pandangan
lama dan pandangan baru. Menurut pandangan lama kurikulum adalah sejumlah mata
pelajaran yang harus ditempuh murid untuk memperoleh ijazah. Dan menurut pandangan
baru kurikulum adalah bukan hanya terdiri atas mata pelajaran tetapi meliputi semua
kegiatan dan pengalaman yang menjadi tanggung jawab sekolah.Sedangkan, dalam
Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar
dan Menengah oleh Badan Standar Nasional Pendidikan 2006 (BNSP) Kurikulum adalah
seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara
yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Kurikulum merupakan salah satu konsep sistematis yang disusun untuk mencapai
satu tujuan pendidikan. Akan tetapi, Di dalam kelas, kurikulum adalah benda hidup yang
dinamis, karena seorang guru harus menerjemahkan kurikulum itu dalam bentuk
interaksi hidup antara guru dan siswa.
Pengembangan kurikulum adalah proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan
rencana kurikulum yang luas dan spesifik. Pengembangan kurikulum dilihat dari segi
Pengelolaannya dapat dibedakan menjadi beberapa bagian,
seperti Sentralisasi dan desentralisasi. Sentralisasi adalah kurikulum yang disusun oleh
tim khusus di tingkat pusat. Sedangkan, desentralisasi adalah kurikulum yang disusun
oleh sekolah ataupun kelompok sekolah tertentu dalam suatu wilayah atau daerah. Jadi,
dalam pengembangan kurikulum desentralisasi, sekolah mempunyai peran penting untuk
mengembangkan dan melaksanakan kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan dan
perkembangan anak dalam masyarakat, yang tentu memerlukan peserta lain diantaranya
adalah kepala sekolah, guru dan komite sekolah. Mereka berperan sebagai unsur yang
setiap hari terlibat dalam kurikulum.
C.POSISI KURIKULUM DALAM PENDIDIKAN
Kurikulum memiliki posisi sentral dalam setiap upaya pendidikan. Posisi sentral ini
menunjukkan bahwa di setiap unit pendidikan kegiatan kependidikan yang utama adalah
proses interaksi akademik antara peserta didik, pendidik, sumber dan lingkungan. Posisi
sentral ini menunjukkan pula bahwa setiap interaksi akademik adalah jiwa dari
pendidikan. Dapat dikatakan bahwa kegiatan pendidikan atau pengajaran pun tidak dapat
dilakukan tanpa interaksi dan kurikulum adalah desain dari interaksi tersebut.

11
Dalam posisi maka kurikulum merupakan bentuk akuntabilitas lembaga pendidikan
terhadap masyarakat. Setiap lembaga pendidikan, apakah lembaga pendidikan yang
terbuka untuk setiap orang ataukah lembaga pendidikan khusus haruslah dapat
mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya terhadap masyarakat. Lembaga
pendidikan tersebut harus dapat memberikan "academic accountability" dan "legal
accountability" berupa kurikulum. Oleh karena itu jika ada yang ingin mengkaji dan
mengetahui kegiatan akademik apa dan apa yang ingin dihasilkan oleh suatu lembaga
pendidikan maka ia harus melihat dan mengkaji kurikulum. Jika seseorang ingin
mengetahui apakah yang dihasilkan ataukah pengalaman belajar yang terjadi di lembaga
pendidikan tersebut tidak bertentangan dengan hukum maka ia harus mempelajari dan
mengkaji kurikulum lembaga pendidikan tersebut.

Dalam pengertian "intrinsic" kependidikan maka kurikulum adalah jantung


pendidikan Artinya, semua gerak kehidupan kependidikan yang dilakukan sekolah
didasarkan pada apa yang direncanakan kurikulum. Kehidupan di sekolah adalah
kehidupan yang dirancang berdasarkan apa yang diinginkan kurikulum. Pengembangan
potensi peserta didik menjadi kualitas yang diharapkan adalah didasarkan pada
kurikulum. Proses belajar yang dialami peserta didik di kelas, di sekolah, dan di luar
sekolah dikembangkan berdasarkan apa yang direncanakan kurikulum. Kegiatan evaluasi
untuk menentukan apakah kualitas yang diharapkan sudah dimiliki oleh peserta didik
dilakukan berdasarkan rencana yang dicantumkan dalam kurikulum. Oleh karena itu
kurikulum adalah dasar dan sekaligus pengontrol terhadap aktivitas pendidikan. Tanpa
kurikulum yang jelas apalagi jika tidak ada kurikulum sama sekali maka kehidupan
pendidikan di suatu lembaga menjadi tanpa arah dan tidak efektif dalam
mengembangkan potensi peserta didik menjadi kualitas pribadi yang maksimal.

Untuk menegakkan akuntabilitasnya maka kurikulum tiak boleh hanya membatasi


diri pada persoalan pendidikan dalam pandangan perenialisme atau esensialisme. Kedua
pandangan ini hanya akan membatasi kurikulum, dan pendidikan, dalam kepeduliaannya.
Kurikulum dan pendidikan melepaskan diri dari berbagai masalah social yang muncul,
hidup, dan berkembang di masyarakat. Kurikulum menyebabkan sekolah menjadi
lembaga menara gading yang tidak terjamah oleh keadaan masyarakat dan tidak
berhubungan dengan masyarakat. Situasi seperti ini tidak dapat dipertahankan dan

12
kurikulum harus memperhatikan tuntutan masyarakat dan rencana bangsa untuk
kehidupan masa mendatang. Problema masyarakat harus dianggap sebagai tuntutan,
menjadi kepeduliaan dan masalah kurikulum. Apakah kurikulum bersifat
mengembangkan kualitas peserta didik yang diharapkan dapat memperbaiki masalah dan
tatangan masyarakat ataukah kurikulum merupakan upaya pendidikan membangun
masyarakat baru yang diinginkan bangsa menempatkan kurikulum pada posisi yang
berbeda.

Secara singkat, posisi kurikulum dapat disimpulkan menjadi tiga. Posisi pertama
adalah kurikulum adalah "construct" yang dibangun untuk mentransfer apa yang sudah
terjadi di masa lalu kepada generasi berikutnya untuk dilestarikan, diteruskan atau
dikembangkan. Pengertian kurikulum berdasarkan pandangan filosofis perenialisme dan
esensialisme sangat mendukung posisi pertama kurikulum ini. Kedua, adalah kurikulum
berposisi sebagai jawaban untuk menyelesaikan berbagai masalah social yang berkenaan
dengan pendidikan. Posisi ini dicerminkan oleh pengertian kurikulum yang didasarkan
pada pandangan filosofi progresivisme. Posisi ketiga adalah kurikulum untuk
membangun kehidupan masa depan dimana kehidupan masa lalu, masa sekarang, dan
berbagai rencana pengembangan dan pembangunan bangsa dijadikan dasar untuk
mengembangkan kehidupan masa depan.

Secara formal, tuntutan masyarakat terhadap pendidikan diterjemahkan dalam tujuan


pendidikan nasional, tujuan pendidikan jenjang pendidikan dan tujuan pendidikan
lembaga pendidikan. Tujuan pendidikan nasional adalah tujuan besar pendidikan bangsa
Indonesia yang diharapkan tercapai melalui pendidikan dasar. Apabila pendidikan dasar
Indonesia adalah 9 tahun maka tujuan pendidikan nasional harus tercapai dalam masa
pendidikan 9 tahun yang dialami seluruh bangsa Indonesia. Tujuan di atas pendidikan
dasar tidak mungkin tercapai oleh setiap warganegara karena pendidikan tersebut,
pendidikan menengah dan tinggi, tidak diikuti oleh setiap warga bangsa. Oleh karena itu
kualitas yang dihasilkannya bukanlah kualitas yang harus dimiliki seluruh warga bangsa
tetapi kualitas yang dimiliki hanya oleh sebagian dari warga bangsa.

Jenjang Pendidikan Dasar terdiri atas pendidikan Sekolah Dasar/Madrasah


Ibtidaiyah (SD/MI) dan Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs)
atau program Paket A dan Paket B. Setiap lembaga pendidikan ini memiliki tujuan yang
berbeda. SD/MI memiliki tujuan yang tidak sama dengan SMP/MTs baik dalam

13
pengertian ruang lingkup kualitas mau pun dalam pengertian jenjang kualitas. Oleh
karena itu maka kurikulum untuk SD/MI berbeda dari kurikulum untuk SMP/MTs baik
dalam pengertian dimensi kualitas mau pun dalam pengertian jenjang kualitas yang harus
dikembangkan pada diri peserta didik.

Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36


ayat (3) menyatakan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang dan jenis
pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan
memperhatikan:

a. peningkatan iman dan takwa;


b. peningkatan akhlak mulia;
c. peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;
d. keragaman potensi daerah dan lingkungan;
e. tuntutan pembangunan daerah dan nasional;
f. tuntutan dunia kerja;
g. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
h. agama;
i. dinamika perkembangan global; dan
j. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan

Pasal ini jelas menunjukkan berbagai aspek pengembangan kepribadian peserta


didik yang menyeluruh dan pengembangan pembangunan masyarakat dan bangsa, ilmu,
kehidupan agama, ekonomi, budaya, seni, teknologi dan tantangan kehidupan global.
Artinya, kurikulum haruslah memperhatikan permasalahan ini dengan serius dan
menjawab permasalahan ini dengan menyesuaikan diri pada kualitas manusia yang
diharapkan dihasilkan pada setiap jenjang pendidikan (pasal 36 ayat (2)).

Secara formal, tuntutan masyarakat terhadap pendidikan juga diterjemahkan dalam


bentuk rencana pembangunan pemerintah. Rencana besar pemerintah untuk kehidupan
bangsa di masa depan seperti transformasi dari masyarakat agraris ke masyarakat
industri, reformasi dari system pemerintahan sentralistis ke system pemerintahan
disentralisasi, pengembangan berbagai kualitas bangsa seperti sikap dan tindakan
demokratis, produktif, toleran, cinta damai, semangat kebangsaan tinggi, memiliki daya
saing, memiliki kebiasaan membaca, sikap senang dan kemampuan mengembangkan
ilmu, teknologi dan seni, hidup sehat dan fisik sehat, dan sebagainya. Tuntutan formal
seperti ini harus dapat diterjemahkan menjadi tujuan setiap jenjang pendidikan, lembaga
pendidikan, dan pada gilirannya menjadi tujuan kurikulum.

14
Sayangnya, kurikulum yang dikembangkan di Indonesia masih membatasi dirinya
pada posisi sentral dalam kehidupan akademik yang dipersepsikan dalam pemikiran
perenialisme dan esensialisme. Konsekuensi logis dari posisi ini adalah kurikulum
membatasi dirinya dan hanya menjawab tantangan dalam kepentingan pengembangan
ilmu dan teknologi. Struktur kurikulum 2004 yang memberikan sks lebih besar pada
mata pelajaran matematika, sains (untuk lebih mendekatkan diri pada istilah yang
dibenarkan oleh pandangan esensialis), dan teknologi dengan mengorbankan
Pengetahuan Sosial dan Ilmu Sosial, PPKN/kewarganegaraan, bahasa Indonesia dan
daerah, serta bidang-bidang yang dianggap kurang "penting". Alokasi waktu ini adalah
"construct" para pengembang kurikulum dan jawaban kurikulum terhadap permasalahan
yang ada.

Kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kurikulum 2004 gagal menjawab
keseluruhan spectrum permasalahan masyarakat. Kurikulum 2004 hanya menjawab
sebagian (kecil) dari permasalahan yang ada di masyarakat yaitu rendahnya penguasaan
matematika dan ilmu alamiah (sains) yang diindikasikan dalam tes seperti TIMMS atau
tes seperti UAN. Permasalahan lain yang terjadi di masyarakat dan dirumuskan dalam
ketetapan formal seperti undang-undang tidak menjadi perhatian kurikulum 2004.
Tuntutan dunia kerja yang seharusnya menjadi kepeduliaan besar dalam model
kurikulum berbasis kompetensi tidak muncul karena kompetensi yang digunakan
kurikulum dikembangkan dari diisplin ilmu dan bukan dari dunia kerja, masyarakat,
bangsa atau pun kehidupan global.

Posisi kurikulum yang dikemukakan di atas barulah pada posisi kurikulum dalam
mengembangkan kehidupan social yang lebih baik. Posisi ketiga yaitu kurikulum
merupakan "construct" yang dikembangkan untuk membangun kehidupan masa depan
sesuai dengan bentuk dan karakteristik masyarakat yang diinginkan bangsa. Posisi ini
bersifat konstruktif dan antisipatif untuk mengembangkan kehidupan masa depan yang
diinginkan. Dalam posisi ketiga ini maka kurikulum seharusnya menjadi jantung
pendidikan dalam membentuk generasi baru dengan memberikan kesempatan kepada
peserta didik mengembangkan potensi dirinya memenuhi kualitas yang diperlukan bagi
kehidupan masa mendatang.

Pertanyaan yang muncul adalah kualitas apa yang harus dimiliki semua manusia
Indonesia yang telah menyelesaikan wajib belajar 9 tahun? Ini adalah kualitas minimal

15
dan harus dimiliki seluruh anggota bangsa. Jika pasal 36 ayat (3) Undang-Undang nomor
20 tahun 2003 dijadikan dasar untuk mengidentifikasi kualitas minimal yang harus
dimiliki bangsa Indonesia maka kurikulum haus mengembangkannya. Jika mentalitas
bangsa Indonesia yang diinginkan adalah mentalitas baru yang religius, produktif, hemat,
memiliki rasa kebangsaan tinggi, mengenal lingkungan, gemar membaca, gemar
berolahraga, cinta seni, inovatif, kreatif, kritis, demokratis, cinta damai, cinta kebersihan,
disiplin, kerja keras, menghargai masa lalu, menguasai pemanfatan teknologi informasi
dan sebagainya maka kurikulum harus mampu mengembangkan potensi peserta didik
untuk memiliki kualitas tersebut sebagai kualitas dasar atau kualitas minimal bangsa
yang menjadi tugas kurikulum SD/MI dan SMP/MTs.

Jika masa depan ditandai oleh berbagai kualitas baru yang harus dimiliki peserta
didik yang menikmati jenjang pendidikan menengah maka adalah tugas kurikulum untuk
memberikan peluang kepada peserta didik mengembangkan potensi dirinya. Jika
penguasaan ilmu, teknologi, dan seni di jenjang pendidikan menengah diarahkan untuk
persiapan pendidikan tinggi maka kurikulum harus mampu memberi kesempatan itu.
Barangkali untuk itu sudah saatnya konstruksi kurikulum SMA dengan model penjurusan
yang sudah berusia lebih dari 50 tahun itu ditinjau ulang. Model baru perlu
dikembangkan yang lebih efektif, bersesuaian dengan kaedah pendidikan, dan didasarkan
pada kajian keilmuan terutama kajian psikologi mengenai minat/interest sebagai model
penjurusan untuk kurikulum SMA.

Posisi kurikulum di jenjang pendidikan tinggi memang berbeda dari jenjang


pendidikan dasar dan menengah. Jika kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah lebih memberikan perhatian yang lebih banyak pada pembangunan aspek
kemanusiaan peserta didik maka kurikulum pendidikan tinggi berorientasi pada
pengembangan keilmuan dan dunia kerja. Kedua orientasi ini menyebabkan kurikulum di
jenjang pendidikan tinggi kurang memperhatikan kualitas yang diperlukan manusia di
luar keterkaitannya dengan disiplin ilmu atau dunia kerja. Dalam banyak kasus bahkan
terlihat bahwa kurikulum pendidikan tinggi tidak juga memperhatikan hal-hal yang
berkenaan dengan kualitas kemanusiaan yang seharusnya terkait dengan pengembangan
ilmu dan dunia kerja. Kualitas kemanusiaan seperti jujur, kerja keras, menghargai
prestasi, disiplin, taat aturan, menghormati hak orang lain, dan sebagainya terabaikan
dalam kurikulum pendidikan tinggi walau pun harus diakui bahwa Kepmen 232/U/1999
mencoba memberikan perhatian kepada aspek ini.

16
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Kedudukan kurikulum dalam aktifitas belajar mengajar sangat penting disebabkan
karena dengan kurikulum, peserta didik akan memperoleh manfaat. Fungsi kurikulum
diantaranya:

1.Fungsi Kurikulum Dalam Rangka Pencapaian Tujuan Pendidikan

a. Tujuan Pendidikan Nasional


Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan yang ingin dicapai dan didasari
oleh falsafah negara Indonesia (didasari oleh pancasila).
b. Tujuan Institusional / Lembaga
Tujuan institusional merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh setiap sekolah atau
lembaga pendidikan.
c. Tujuan Kulikuler
Tujuan kulikuler adalah tujuan yang ingin dicapai oleh setiap bidang studi.
d. Tujuan Instruksional / Tujuan Pembelajaran
Tujuan instruksional adalah tujuan yang ingin dicapai dari setiap kegiatan
instruksional atau pembelajaran. Tujuan ini seringkali dibedakan menjadi dua
bagian, yaitu :
1. Tujuan Instruksional (tujuan pembelajaran) Umum
Tujuan instruksional umum adalah tujuan pembelajaran yang sifatnya masih
umum dan belum dapat menggambarkan tingkah laku yang lebih spesifik.
2. Tujuan Instruksional (tujuan pembelajaran) Khusus
Tujuan instruksional khusus merupakan penjabaran dari tujuan instruksional
umum.

2.Fungsi Kurikulum Bagi Peserta Didik

3.Fungsi kurikulum bagi pendidik

Fungsi kurikulim bagi guru/pendidik adalah;


 Sebagai pedoman kerja dalam menyusun dan mengorganisir pengalaman belajar para
peserta didik.
 Sebagai pedoman untuk mengadakan evaluasi terhadap perkembangan peserta didik
dalam rangka menyerap sejumlah pengalaman yang diberikan.

17
4.Fungsi Kurikulum Bagi Kepala Sekolah dan Pembina Sekolah

Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah dan para pembina sekolah lainnya adalah:

 Sebagai pedoman dalam melaksanakan fungsi supervisi yaitu memperbaiki situasi


belajar
 Sebagai pedoman dalam melaksanakan fungsi supervisi dalam menciptakan situasi
belajar anak didik ke arah yang lebih baik
 Sebagai pedoman dalam melaksanakan fungsi supervisi dalam memberikan bantuan
kepada guru atau pendidik agar dapat memperbaiki proses mengajar

5.Fungsi Kurikulum Bagi Orang Tua Peserta Didik

Kurikulum bagi orang tua peserta didik memiliki fungsi agar orang tua dapat
berpartisipasi membantu sekolah dalam memajukan putra-putrinya.

6.Fungsi Kurikulum Bagi Sekolah Pada Tingkat Diatasnya

Fungsi kurikulum dalam hal ini dapat dibagi menjadi dua jenis tertentu, yakni:
 Pemeliharaan keseimbangan proses pendidikan
 Penyiapan tenaga kerja

7.Fungsi Kurikulum Bagi Masyarakat Sebagai Pemakai Lulusan Sekolah

Dengan mengetahui kurikulum pada suatu sekolah, masyarakat sebagai pemakai


lulusan dapat melaksanakan sekurang-kurangnya dua hal :
 Ikut memberikan kontribusi dalam memperlancar pelaksanaan program pendidikan yang
membutuhkan kerja sama dengan pihak orang tua dan masyarakat.
 Ikut memberikan saran dan kritik yang membangun demi penyempurnaan program
pendidikan disekolah agar lebih serasi dengan kebutuhan masyarakat dan lapangan kerja

8.Fungsi Kurikulum Bagi Para Penulis

9.Fungsi Kurikulum Bagi Guru

10.Fungsi Kurikulum Bagi Kepala Sekolah

11.Fungsi Kurikulum Bagi Masyarakat

18
Kurikulum adalah alat dari sekolah sebagai produsen, sedangkan masyarakat adalah
sebagai konsumennya.

Kurikulum juga memiliki peranan ,diantaranya:

1. Peran Konservatif
Salah satu tugas dan tanggung jawabs ekolah sebagai suatu lembaga pendidikan
adalah mewariskan nilai-nilai dan budaya masyarakat kepada generasi muda yakni siswa.
2. Peran Kreatif
Ternyata tugas dan tanggung jawab sekolah tidak hanya sebatas mewariskan nilai-
nilai lama. Sekolah memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan hal-hal baru sesuai
dengan tuntutan zaman.
3. Peran Kritis dan Evaluatif
Tidak setiap nilai dan budaya lama harus tetap dipertahankan, sebab kadang-kadang
nilai dan budaya lama itu sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan masyarakat,
Adapun posisi kurikulum dalam pendidikan Secara singkat, posisi kurikulum dapat
disimpulkan menjadi tiga. Posisi pertama adalah kurikulum adalah "construct" yang dibangun
untuk mentransfer apa yang sudah terjadi di masa lalu kepada generasi berikutnya untuk
dilestarikan, diteruskan atau dikembangkan.
Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36
ayat (3) menyatakan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang dan jenis
pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan
memperhatikan:

k. peningkatan iman dan takwa;


l. peningkatan akhlak mulia;
m. peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;
n. keragaman potensi daerah dan lingkungan;
o. tuntutan pembangunan daerah dan nasional;
p. tuntutan dunia kerja;
q. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
r. agama;
s. dinamika perkembangan global; dan
t. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan

B. SARAN

Komponen pendidikan hendaknya mempunyai kemauan yang tinggi untuk


melaksanakan pengembangan kurikulum melalui program pembelajaran yang terencana,
dengan selalu memperhatikan tujuan pendidikan nasional. Ketika proses pembelajaran

19
sesuai dengan kurikulum maka akan tercipta sumber daya manusia berupa peserta didik
yang unggul dan berguna di tengah – tengah masyarakat.

20
DAFTAR PUSTAKA
Turmuzi,Muhammad dan Laila Hayati.2012.Telaah Kurikulum Matematika.
Mataram: Arga Puji Press
http://guruprophetic.blogspot.com/2013/03/tujuan-pendidikan-nasionalinstitusional.html
https://winamartiana.wordpress.com/2011/09/24/garis-besar-program-pengajaran-gbpp/

21