Anda di halaman 1dari 13

REKAYASA IDE

PERPAJAKAN

“ANALISIS KURANGNYA KESADARAN PEDAGANG TERHADAP


MEMBAYAR PAJAK”

DOSEN PENGAMPU : OK Sofyan Hidayat., SE., M.Si., Ak.,CA

OLEH :

Arif Wahyudi (7183220035)

Dandi Abdul Halim (7182220015)

Filza Aulia Rahman Siregar (7183520020)

Intan Khairullah (7183220057)

Muhammad Rizki Adha (7183520048)

AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas Rekayasa Ide perpajakan ini
dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga penulis berterima kasih
kepada Bapak Ok Sofyan Hidayat., Se., M.Si., Ak.,Ca. telah memberikan tugas Rekayasa
Ide ini kepada kami.

kami sangat berharap hasil Rekayasa Ide ini dapat berguna bagi semua orang. Kami
juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan. Oleh sebab itu,
penulis berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami
buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.

Semoga makalah hasil Rekayasa Ide sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri
maupun orang lain. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata
yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi
perbaikan makalah hasil Rekayasa Ide ini diwaktu yang akan datang.

Medan, Mei 2019

penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pembayaran pajak merupakan perwujudan dari kewajiban kenegaraan dan peran serta
masyarakat mengumpulkan dana untuk pembiayaan negara dan pembangunan nasional.
Pajak yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat melalui perbaikan
dan penambahan pelayanan publik, mengalokasikan pajak tidak hanya untuk rakyat
pembayaran pajak juga untuk kepentingan rakyat yang tidak wajib membayar pajak.
Direktorat Jenderal Pajak dalam rangka meningkatkan penerimaan pajak, yaitu dengan
memperluas subyek dan obyek pajak atau dengan menjaring wajib pajak baru. Di lain
pihak perkembangan usaha-usaha kecil dan menengah yang demikian dinamis barangkali
jauh meninggalkan jangkauan pajak. Meskipun jaring pengaman bagi wajib pajak (berupa
Nomor Pokok Wajib Pajak) agar melaksanakan kewajiban perpajakannya sudah dipasang,
terutama bagi usaha-usaha kecil menengah tersebut, tetapi masih tetap ditemukan usaha-
usaha kecil menengah yang lepas dari jeratan pajak. Sebenarnya masih banyak wajib
pajak potensial yang belum terdaftar sebagai wajib pajak aktual. Ketidaktaatan dalam
membayar pajak tidak hanya terjadi pada lapisan pengusaha saja tetapi telah menjadi
rahasia umum bahwa para pekerja profesional lainnya juga tidak taat untuk membayar
pajak. Pemungutan pajak memang bukan suatu pekerjaan yang mudah, disamping peran
serta aktif dari petugas perpajakan, juga dituntut kemauan dari para wajib pajak itu
sendiri. Dimana menurut undang-undang perpajakan, Indonesia menganut sistem self
assessment yang memberi kepercayaan terhadap wajib pajak untuk menghitung, menyetor
dan melapor sendiri pajaknya, menyebabkan kebenaran pembayaran pajak tergantung
pada kejujuran wajib pajak sendiri dalam pelaporan kewajiban perpajakannya. Kepatuhan
wajib pajak dalam membayar kewajiban perpajakannya merupakan hal penting dalam
penarikan pajak tersebut. Penyebab kurangnya kepatuhan tersebut antara lain adalah asas
perpajakan, yaitu bahwa hasil pemungutan pajak tersebut tidak langsung dinikmati oleh
para wajib pajak. Memang harus disadari bahwa jalan-jalan raya yang halus, pusat-pusat
kesehatan masyarakat, pembangunan sekolah-sekolah negeri, irigasi yang baik, dan
fasilitas-fasilitas publik lainnya yang dapat dinikmati masyarakat itu merupakan hasil dari
pembayaran pajak. Masyarakat sendiri dalam kenyataanya tidak suka membayar pajak.
Hal ini disebabkan masyarakat tidak pernah mengetahui wujud konkret imbalan dari uang
yang dikeluarkan untuk membayar pajak. Undang-undang pajak di Indonesia saat ini
dalam pelaksanaannya menganut sistem self assesment. Sistem pemungutan ini
mempunyai arti bahwa besarnya pajak yang terutang dipercayakan kepada Wajib Pajak
(WP) itu sendiri, dimana WP harus melaporkan secara teratur seluruh jumlah pajak yang
telah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan perpajakan.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka makalah ini mempunyai rumusan masalah sebagai
berikut :

1. Bagaimana tingkat kesadaran pedagang untuk membayar pajak ?

2. Bagaimana strategi meningkatkan kesadaran pedagang untuk membayar pajak?

C. TUJUAN
1. Untuk Memenuhi Tugas rekayasa ide perpajakan
2. Untuk Mengetahui strategi yang bisa meningkatkan kesadaran pedagang dalam
membayar pajak
3. Untuk Mengetahui tingkat kesadaran pedagang dalam membayar pajak.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian pajak.
Masalah pajak telah diatur dalam UUD 1945 pasal 23 ayat 2. Pajak adalah iuran resmi
yang wajib dibayarkan oleh wajib pajak (orang atau badan usaha) kepada negara
berdasarkan undang-undang, tanpa mendapat balas saja secara langsung. Ada banyak
pengertian pajak menurut para ahli. Salah satunya adalah menurut Prof. Dr.
Djajadiningrat: pajak adalah kewajiban masyarakat untuk menyerahkan sebagaian
kekayaan karena suatu keadaan ataupun karena kejadian yang ditetapkan pemerintah dan
bersifat dapat dipaksanakan dengan balas jasa yang tidak dapat diberikan secara langsung
dari negara.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2007 tentang perubahan


ketiga atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan, pengertian pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang
oleh pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak
mendapatkan imblan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi
sebenar-benarnya kemakmuaran rakyat. Pajak mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

1. Iuran wajib yang harus dibayarkan para wajib pajak

2. Dipungut berdasarkan undang-undang

3. Digunakan untuk kepentingan umum

4. Wajib pajak tidak diberi balas jasa atau manfaat secara langsung

B. Kemauan Membayar Pajak

Kepatuhan adalah motivasi seseorang, kelompok atau organisasi untuk berbuat atau
tidak berbuat sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Kepatuhan wajib pajak (Santoso,
2008) adalah wajib pajak mempunyai kesediaan untuk memenuhi kewajiban
perpajakannya sesuai dengan peraturan yang berlaku tanpa perlu diadakannya
pemeriksaan, investigasi seksama, peringatan ataupun ancaman dan penerapan sanksi baik
hukum maupun administrasi. Sesuai pasal 17 C KUP Jis KMK Nomor 544/KMK.04/2000
Direktorat Jenderal Pajak tealah mengeluarkan kriteria Wajib Pajak Patuh. Wajib Pajak
Patuh adalah Wajib Pajak yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak sebagai Wajib
Pajak yang memenuhi kriteria tertentu yang dapat diberikan pengembalian pendahuluan
atas kelebihan pembayaran pajak. Kriteria Wajib Pajak Patuh tersebut antara lain sebagai
berikut: a. Tepat waktu dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan Pajak baik Pajak
Tahunan maupun Pajak Masa. b. Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis
pajak, kecuali telah memperoleh izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak.
Mengacu pada ketentuan yang mengatur tentang angsuran dan penundaan pembayaran
pajak, tidak semua jenis pajak yang terutang dapat diangsur. Pajak yang dapat diangsur
pembayarannya adalah: pajak yang masih harus diabayar dalam Surat Tagihan Pajak,
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan,
Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, dan Putusan Banding yang
menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar tambah. Tidak termasuk tunggakan pajak
sehubungan dengan SPT yang diterbitkan untuk 2 (dua) masa pajak berakhir. c. Tidak
pernah dijatuhi hukuman karena melakukan tindakan pidana dibidang perpajakan dalam
jangka waktu 10 tahun terakhir yang mengakibatkan kerugian Negara. d. Apabila
dilakukan pemeriksaan pajak, koreksi fiskal yang dilakukan oleh pemeriksa pajak untuk
setiap jenis pajak yang terutang tidak lebih dari 10% (sepuluh persen) dilihat dari
penghasilan bruto (PKP). Kepatuhan sebagai fondasi self assessment dapat dicapai apabila
elemen-elemen kunci telah diterapkan secara efektif. Elemen-elemen kunci
(Ismawan,2001:83) tersebut adalah sebagai berikut: a. Program pelayanan yang baik
kepada wajib pajak b. Prosedur yang sederhana dan memudahkan wajib pajak c. Program
pemantauan kepatuhan dan verifikasi yang efektif d. Pemantapan law enforcement secara
tegas dan adil Jadi kesimpulan pengertian wajib pajak patuh bisa disimpulkan menjadi
dua, yaitu: a. Kepatuhan formal adalah suatu keadaan di mana wajib pajak memenuhi
kewajiban secara formal sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Perpajakan. b.
Kepatuhan material adalah suatu keadaan di mana wajib pajak memenuhi semua ketentuan
material perpajakan, yakni sesuai dengan isi dan jiwa Undang-Undang perpajakan.
Kepatuhan material dapat juga meliputi kepatuhan formal. Konsep kemauan membayar
pajak dikembangkan melalui dua subkonsep yaitu, konsep kemauan membayar dan
konsep pajak. Pertama, konsep kemauan membayar. Kemauan membayar merupakan
suatu nilai dimana seseorang rela untuk membayar,mengorbankan atau menukarkan
sesuatu untuk memperoleh barang atau jasa (Widaningrum, 2007). Kedua, konsep pajak.
Menurut Taylor (Waluyo, 2007) pajak adalah prestasi yang dipaksakan sepihak oleh
negara dan terutang kepada pengusaha (menurut norma-norma yang ditetapkan secara
umum), tanpa adanya kontraprestasi, dan semata-mata digunakan untuk menutup
pengeluaran-pengeluaran umum. Berdasarkan definisi dari dua subkonsep di atas, maka
dapat dikembangkan suatu definisi untuk kemauan membayar pajak (willingness to pay
tax). Kemauan membayar pajak dapat diartikan sebagai suatu nilai yang rela
dikontribusikan oleh seseorang (yang ditetapkan dengan peraturan) yang digunakan untuk
membiayai pengeluaran umum negara dengan tidak mendapat jasa timbal (kontraprestasi)
secara langsung. Kemauan membayar pajak dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
kondisi sistem administrasi perpajakan suatu negara, pelayanan pada wajib pajak,
penegakan hukum perpajakan, dan tarif pajak (Devano dan Rahayu 2006). 2.1.3
Kesadaran Membayar Pajak Kemajuan dan perkembangan negara ini tak lepas dari
kesadaran warganya dalam membayar pajak. Kesadaran masyarakat dalam membayar
pajak sangat erat hubungannya dengan kesadaran bernegara. Menurut Siahaan (2010:106)
apabila kesadaran bernegara kurang maka masyarakat kurang dapat mengenal dan
menikmati pentingnya berbangsa dan bertanah air, berbahasa nasional, menikmati
keamanan dan ketertiban, memiliki dan menikmati kebudayaan nasional dan pada
akhirnya apabila kesadaran bernegara kurang maka rasa memiliki dan menikmati manfaat
pengeluaran pemerintah juga kurang sehingga kesadaran membayar pajak juga berkurang.
Kesadaran membayar pajak dapat diartikan sebagai suatu bentuk sikap moral yang
memberikan sebuah kontribusi kepada negara untuk menunjang pembangunan negara dan
berusaha untuk mentaati semua peraturan yang telah ditetapkan oleh negara serta dapat
dipaksakan kepada Wajib Pajak. Meningkatnya pengetahuan perpajakan masyarakat
melalui pendidikan perpajakan baik formal maupun non formal akan berdampak positif
terhadap kesadaran wajib pajak untuk membayar pajak. Karakteristik wajib pajak yang
dicerminkan oleh kondisi budaya, sosial, dan ekonomi akan dominan membentuk perilaku
wajib pajak yang tergambar dalam tingkat kesadaran mereka dalam membayar pajak.
2.1.4 Pengetahuan dan Pemahaman Peraturan Perpajakan Pengetahuan pajak adalah
proses pengubahan sikap dan tata laku seorang wajib pajak atau kelompok wajib pajak
dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Pengetahuan akan peraturan perpajakan masyarakat melalui pendidikan formal maupun
non formal akan berdampak positif terhadap kesadaran wajib pajak untuk membayar pajak
seperti penyuluhan atau sosialisasi pajak yang dilakukan KP2KP Tomohon di kantor-
kantor,sekolah-sekolah ataupun di desa-desa sekitar. Pemahaman wajib pajak terhadap
peraturan perpajakan adalah cara wajib pajak dalam memahami peraturan perpajakan yang
telah ada. Wajib pajak yang tidak memahami peraturan perpajakan secara jelas cenderung
akan menjadi wajib pajak yang tidak taat. Jelas bahwa semakin paham wajib pajak
terhadap peraturan perpajakan, maka semakin paham pula wajib pajak terhadap sanksi
yang akan diterima bila melalaikan kewajiban perpajakan mereka. Dimana wajib pajak
yang benar-benar paham, mereka akan mengetahui sanksi adminstrasi dan sanksi pidana
sehubungan dengan SPT dan NPWP. 2.1.5 Kualitas Layanan terhadap Wajib Pajak
Kualitas layanan adalah pelayanan yang dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan
dan tetap dalam batas memenuhi standar pelayanan yang dapat dipertangggungjawabkan
serta harus dilakukan secara terus-menerus. Secara sederhana definisi kualitas adalah
suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa manusia, proses, dan
lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pihak yang menginginkannya.
Pelayanan perpajakan dibentuk oleh dimensi kualitas sumber daya manusia (SDM),
ketentuan perpajakan dan sistem informasi perpajakan. Standar kualitas pelayanan prima
kepada masyarakat wajib pajak akan terpenuhi bilamana SDM melakukan tugasnya secara
profesional, disiplin, dan transparan. Dalam kondisi wajib pajak merasa puas atas
pelayanan yang diberikan kepadanya, maka mereka akan cenderung akan melaksanakan
kewajiban membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Apabila ketentuan
perpajakan dibuat sederhana, mudah dipahami oleh wajib pajak, maka pelayanan
perpajakan atas hak dan kewajiban mereka dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
Dengan demikian sistem informasi perpajakan dan kualitas SDM yang handal akan
menghasilkan pelayanan perpajakan yang semakin baik.

2.2. Strategi untuk meningkatkan kesadaran pedagang untuk Membayar Pajak


Penerimaan pajak yang tingi dari masyarakat pada hakiikatnya akan membantu APBN
Negara dan meningkatkan pula pelayanan dari Negara. Indikasi tingginya tingkat kesadaran
dan kepedulian Wajib Pajak antara lain:
1. Realisasi penerimaan pajak terpenuhi sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
2. Tingginya tingkat kepatuhan penyampaian SPT Tahunan dan SPT Masa.
3. Tingginya Tax Ratio
4. Semakin Bertambahnya jumlah Wajib Pajak baru.
5. Rendahnya jumlah tunggakan / tagihan wajib pajak.
6. Tertib, patuh dan disiplin membayar pajak atau minimnya jumlah pelanggaran pemenuhan
kewajiban perpajakan.
Kemudian langkah-langkah Alternatif Membangun Kesadaran dan Kepedulian serta Sukarela
Wajib Pajak sangat perlu diperhatikan oleh Dirjen pajak itu sendiri. Beberapa hal yang perlu
menjadi perhatian Direktorat Jenderal Pajak dalam membangun kesadaran dan kepedulian
sukarela Wajib Pajak antara lain:
1) Melakukan sosialisasi
Sebagaimana dinyatakan Dirjen Pajak bahwa kesadaran membayar pajak datangnya dari diri
sendiri, maka menanamkan pengertian dan pemahaman tentang pajak bisa diawali dari
lingkungan keluarga sendiri yang terdekat, melebar kepada tetangga, lalu dalam forum-forum
tertentu dan ormas-ormas tertentu melalui sosialisasi. Dengan tingginya intensitas informasi
yang diterima oleh masyarakat, maka dapat secara perlahan merubah mindset masyarakat
tentang pajak ke arah yang positif. Beragam bentuk sosialisasi bisa dikelompokkan
berdasarkan: metode penyampaian, segmentasi maupun medianya.
Berdasarkan Metode:
Penyampaiannya bisa melalui acara yang formal ataupun informal. Acara formal biasanya
menggunakan format acara yang disusun sedemikian rupa secara resmi. Contohnya:
Sosialisasi bendaharawan, sosialisasi PPh 21 karyawan Pemda, seminar dan sebagainya.
Acara informal biasanya menggunakan format acara yang lebih santai dan tidak resmi.
Contohnya: Ngobrol santai dengan wartawan, dengan tokoh masyarakat, dan sebagainya.
Berdasarkan segmentasi:
Bisa membaginya untuk kelompok umur tertentu, kelompok pelajar dan mahasiswa,
kelompok pengusaha tertentu, kelompok profesi tertentu, kelompok/ormas tertentu.
Menanamkan kesadaran tentang pajak sejak dini, akan sangat berpengaruh terhadap pola
pikir anak-anak dan menimbulkan rasa kebanggaan terhadap pajak. Contoh yang pernah
dilakukan DJP adalah High School Tax Road Show, High School Tax Competition, Tax
Goes to Campus, ini merupakan kegiatan yang menimbulkan greget, heboh dan sangat
berkesan, bahkan sangat dirindukan muncul lagi oleh kalangan pelajar maupun mahasiswa.
Mungkin perlu dilakukan secara berkesinambungan dengan format yang beragam, kreatif
serta inovatif. Perlu diberikan apresiasi kepada salah satu kanwil yang melaksanakan HSTRS
ini dengan membuat kegiatan Turnamen Basket Ball antar SMU terpanjang/terlama. Format
HSTRS yang diselingi turnamen Basket Ball dengan memindahkan lokasi/tempat
pertandingan ke sekolah yang ada lapangan basketnya untuk setiap even itu diadakan,
sehingga masyarakat begitu terkesan dengan even ini.
Berdasarkan media yang dipakai:
Sosialisasi dapat dilakukan melalui media elektronik dan media cetak. Misalnya:
dilakukan dengan talkshow di radio atau televisi, membuat opini, ulasan dan rubrik tanya
jawab di koran, tabloid atau majalah. Iklan pajak pun mempunyai pengaruh dan dampak
positif terhadap meningkatkan kesadaran dan kepedulian sukarela wajib pajak. Bentuk
propaganda lainnya seperti: spanduk, banner, papan iklan/billboard, dan sebagainya
Contoh-contoh sosialisasi lainnya:
1. Dapat dilakukan dengan datang langsung ke kantor-kantor dan pemerintah daerah di
wilayah kerja, sosialisasi anggota profesi tertentu misalnya notaris, dokter, sosialisasi asosiasi
tertentu misalnya asosiasi kontraktor jasa konstruksi, sosialisasi kepada pejabat tertentu,
anggota DPR/DPRD, misalnya dengan topik pengisian SPT Tahunan.
2. Dapat pula dilakukan dalam bentuk pengarahan secara langsung ke masyarakat melalui
pendekatan ke masing-masing kecamatan, desa, sampai RT/RW untuk memberikan
pemahaman kepada masyarakat terkait pentingnya pajak. Penyuluhan di bidang kesehatan,
penyuluhan di bidang peternakan dan pertanian bisa sukses, pastinya penyuluhan DJP akan
bisa lebih sukses didukung dengan tenaga penyuluh yang sangat handal.
3. Dapat dilakukan pada kegiatan yang informal di masyarakat. Misalnya pengajian rutin,
kerja bakti, pertemuan karang taruna, dan kegiatan masyarakat lainnya.
4. Adanya serangkaian kegiatan daerah dan instansi, perusahaan di wilayah kerja pada saat-
saat tertentu misalnya Pekan Raya, Pameran dan Promosi dan sebagainya, setidaknya DJP
harus dapat menangkap dan ikut serta memeriahkannya dengan membuka stand/pojok pajak.
5. Salah satu even rutin yang sangat besar gaungnya adalah Pekan Panutan Penyampaian SPT
Tahunan. Biasanya dihadiri oleh Bupati/Walikota, sekda, Kepala Dinas dan Muspida yang
diharapkan bisa menjadi panutan pajak bagi masyarakat. Namun pada kenyataannya mereka
masih banyak yang tidak/belum menyampaikan SPT Tahunan. Biasanya mendekati batas
akhir penyampaian SPT Tahunan diadakan acara yang populer diberi nama “Ngisi Bareng
SPT” yang membantu para Wajib Pajak dalam mengisi SPT Tahunan.
6. Program yang penting juga adalah adanya Tax Center yang bekerjasama dengan Perguruan
Tinggi setempat. Sebelum dibentuknya Tax Center biasanya dibuat kesepakatan bersama
untuk melakukan kerjasama sosialisasi perpajakan, yang bertujuan untuk mewujudkan
kesadaran dan kepedulian Wajib Pajak dalam memenuhi kewajibannya di bidang perpajakan.
Tax Center akan membantu mensosialisasikan pengetahuan dan pemahaman tentang pajak.
Tax center terbuka bagi semua masyarakat. Siapapun yang mengalami kesulitan perihal
perpajakan bisa berkonsultasi di pusat perpajakan ini. Perguruan Tinggi akan menyediakan
ruang tax center yang nantinya akan dipergunakan sebagai sarana informasi dan pengetahuan
tentang perpajakan.
2) Meningkatkan citra Good Governance yang dapat menimbulkan adanya rasa saling
percaya antara pemerintah dan masyarakat wajib pajak, sehingga kegiatan pembayaran pajak
akan menjadi sebuah kebutuhan dan kerelaan, bukan suatu kewajiban. Dengan demikian
tercipta pola hubungan antara negara dan masyarakat dalam memenuhi hak dan kewajiban
yang dilandasi dengan rasa saling percaya.
3) Memberikan pengetahuan melalui jalur pendidikan khususnya pendidikan perpajakan
4) Law Enforcement. Dengan penegakan hukum yang benar tanpa pandang bulu akan
memberikan deterent efect yang efektif sehingga meningkatkan kesadaran dan kepedulian
sukarela Wajib Pajak. Walaupun DJP berwenang melakukan pemeriksaan dalam rangka
menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan, namun pemeriksaan harus dapat
dipertanggung jawabkan dan bersih dari intervensi apapun sehingga tidak mengaburkan
makna penegakan hukum serta dapat memberikan kepercayaan kepada masyarakat wajib
pajak.
1) Membangun trust atau kepercayaan masyarakat terhadap pajak.
2) Merealisasikan program Sensus Perpajakan Nasional yang dapat menjaring potensi
pajak yang belum tergali. Dengan program sensus ini diharapkan seluruh masyarakat
mengetahui dan memahami masalah perpajakan serta sekaligus dapat membangkitkan
kesadaran dan kepedulian, sukarela menjadi Wajib Pajak dan membayar Pajak.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Kesadaran pedagang untuk membayar pajak masih sangat rendah, hal ini dikarenakan
tingkat pemahaman dan tingkat kepercayaan dari pedagang itu sendiri yang makin menurun.
Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan strategi Sosialisasi, Pendidikan,
Law Enforcement dan juga peningkatan citra Good governance sehingga pedagang makin
percaya dan nyaman dalam membayar pajak.

B. SARAN
Dalam makalah ini, penulis memberi saran perlunya koordinasi antara Dirjen pajak
dengan pedagang secara luas, jadi adanya mekanisme jemput bola dari dirjen pajak. Hal ini
dikarenakan masih banyaknya pedagang yang belum mengerti substansi dari pajak itu sendiri.
Sehingga pihak Pemerintahlah yang harus proaktiv kepada pedagang.
DAFTAR PUSTAKA

https://nasabenews.blogspot.com/2016/12/makalah-rendahnya-kesadaran-masyarakat.html
https://media.neliti.com/media/publications/61638-ID-pengaruh-kesadaran-membayar-pajak-
penget.pdf
https://www.google.com/search?q=STRATEGI+UNTUK+MENINGKATKAN+PEDAGANG+DALAM+MEM
BAYAR+PAJAK+ADALAH&oq=STRATEGI+UNTUK+MENINGKATKAN+PEDAGANG+DALAM+MEMBAYAR
+PAJAK+ADALAH+&aqs=chrome..69i57.17342j0j7&sourceid=chrome&ie=UTF-8

Anda mungkin juga menyukai