Anda di halaman 1dari 12

Tugas Mata Kuliah

Uji Bioaktivitas Kandidat Obat

Review Metode Uji Bioaktivitas Antikanker

Oleh :
Dayu Lantika (162210101049)

Dosen Pengampu :
Endah Puspitasari., S.Farm.,M.Sc.,Apt.

BAGIAN BIOLOGI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2018
Metode 1 : Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)
Jurnal Utama : BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BSLT) DARI BERBAGAI
FRAKSI EKSTRAK DAGING BUAH DAN KULIT BIJI MAHKOTA
DEWA (Phaleria macrocarpa)

Pendahuluan
Tanaman mahkota dewa, Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl., sinonim
Phaleriapapuana Warb. Var. Wichannii (Val.) Back., famili Thymelaeaceae merupakan
tanaman yang banyak tumbuh di daerah Papua, Indonesia. Tanaman ini banyak dimanfaatkan
untuk pengobatan berbagai penyakit oleh masyarakat Indonesia seperti kanker, lever, jantung,
kencing manis, hingga penyakit kulit. Namun pegobatan tersebut masih berdasarkan
pengalaman empiris. Daun dan buah mahkota dewa banyak mengandung alkaloid, terpenoid,
saponin dan senyawa polifenol. Dilakukan penelitian terhadap toksisitas ekstrak tanaman
mahkota dewa untuk menentukan kebenaran adanya kandungan senyawa metabolit sekunder
aktif dalam tanaman sebagai alternatif pengobatan (Lisdawati, V., et al., 2006).
Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) merupakan salah satu metode awal yang sering
dipakai untuk mengamati aktivitas toksisitas senyawa dan merupakan metode penapisan
aktivitas antikanker senyawa kimia dalam ekstrak tanaman. Metode ini menggunakan cara
Meyer, dengan mengamati tingkat mortalitas larva udang Artemia salina L. yang disebabkan
oleh ekstrak uji. Hasil yang diperoleh dihitung sebagai nilai LC50 (Leta1 concentration)
ekstrak uji, yaitu jumlah dosis atau konsentrasi ekstrak uji yang dapat menyebabkan 50%
kematian populasi larva udang setelah masa inkubasi 24 jam. Senyawa dengan nilai LC50 <
1000 µg/ml dianggap sebagai suatu senyawa aktif berdasarkan Meyer (Lisdawati, V., et al.,
2006).
Penelitian dengan metode BSLT pada ekstrak kasar daging buah dan kulit biji
mahkota dewa dari fraksi non polar, polar dan semi polar ini bertujuan untuk mengetahui
potensi aktivitas biologi tanaman berdasarkan toksisitas senyawa metabolit sekunder yang
terkandung di dalamnya, dan sekaligus sebagai uji penapisan awal aktivitas antikanker
senyawa kimia dalam ekstrak tanaman (Lisdawati, V., et al., 2006).

Bahan dan Metode


Sampel
Buah dari tanaman hasil budidaya yang telah dideterminasi di Herbarium Bogoriense, Bidang
Botani Pusat Penelitian Biologi - LIPI, Bogor. Buah dipilih yang sudah tua, berwarna merah
marun, diameter rata-rata 4-5 cm. Daging buah dan kulit biji dikeringkan dengan diangin-
anginkan pada suhu kamar (terhindar dari cahaya matahari langsung) hingga bobot menyusut
± 80-90% dari bobot semula. Dihaluskan, daging buah diiris tipis dan kulit biji ditumbuk
halus (Lisdawati, V., et al., 2006).

Bahan
Larva udang A. salina L. yang merupaltan koleltsi Laboratorium Kimia BahanAlam P2K,
Puspiptelt LIPI – Serpong (Lisdawati, V., et al., 2006).

Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)


Pada percobaan kali ini digunaan metode BSLT yang mengacu pada cara Meyer.
1. Telur udang A. salina L. dimasukkan ke dalam sebuah kotak bersekat dua yang salah satu
sisinya tertutup aluminium foil berisi air laut secukupnya.
2. Kotak diletakkan di bawah lampu UV.
3. Setelah 48 jam, telur udang akan menetas menjadi larva.
4. Larutan uji ekstrak kasar dalam pelarut n-heksan, etil asetat dan metanol dari daging buah
dan kulit biji mahkota dewa dilarutkan dalam air laut sehingga didapat konsentrasi 20, 10
dan 2 µg/ml.
5. Sampel non polar yang kurang larut ditambahkan DMSO.
6. Setelah 48 jam, 100 µ1 air laut yang berisi 10-15 ekor larva udang dimasukkan ke dalam
botol uji beserta larutan uji hingga konsentrasi dalam tiap botol menjadi 10, 5, dan 1
µg/ml.
7. Air laut yang berisi 10-15 ekor larva udang dengan konsentrasi sama digunakan sebagai
kontrol.
8. Salanjutnya dibiarkan selama 24 jam dan kemudian dihitung jumlah udang yang masih
hidup dan yang sudah mati.
Analisis data pengujian BSLT dilakukan menggunakan metode Sam. Berdasarkan
perhitungan jumlah larva yang masih hiduo dan mati. Tingkat kematian (persen mortalitas)
diperoleh dengan membandingltan antara jumlah larva yang mati dengan jumlah total larva.
Kemudian akan diperoleh nilai LC50 dengan rumus y = a + bc. Dimana y menyatakan larva
udang yang mengalami kematian sejumlah 50% setelah masa inkubasi 24 jam, a dan b
diperoleh dari persamaan regresi linear yang dihitung berdasarkan data dari tiga titik
konsentrasi yang digunakan, sedangkan nilai x yang diperoleh menunjukkan konsentrasi
larutan yang dapat menyebabkan kernatian terhadap 50% populasi larva. Ekstrak dapat
dinyatakan sebagai senyawa aktif (memiliki aktivitas biologi) apabila nilai LC50 lebih kecil
dari 1000 µg/ml (Lisdawati, V., et al., 2006).

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Metode BSLT


1. Tujuan penambahan DMSO pada senyawa non polar yang sulit larut adalah untuk
meningkatkan kelarutan senyawa tersebut dalam pelarut organik karena DMSO
merupakan pelarut yang dapat melarutkan senyawa polar dan non polar serta dapat larut
pula dalam pelarut yang polar.
2. Telur udang A. salina L. dimasukkan ke dalam sebuah kotak bersekat dua yang salah satu
sisinya tertutup aluminium foil berisi air laut dimaksudkan supaya telur udang yang
awalnya berada pada bagian yang gelap (tertutup alumunium faoil) akan bergerak
kedaerah yang terang setelah menetas menjadi larva sehingga yang digunakan untuk
penelitian adalah diambil dari yang bagian terang supaya didapat udang yang telah
menjadi larva bukan dalam bentuk masih telur.
3. Udang A. salina L. dapat hidup dalam air dengan suhu 25o-30oC sehingga digunakan
sinar UV untuk membantu proses penetasan telur udang menjadi larva
4. Udang A. salina L. dapat hidup dalam air dengan pH sekitar 8-9 sehingga kadar garam
dalam air laut buatan yang digunakan harus sesuai supaya tidak menyebabkan kematian
larva karena media bukan karena sampel ekstrak itu sendiri sehingga menyebabkan
adanya hasil positif palsu.
5. Dalam penelitian dibuat variasi konsentrasi yang bertujuan untuk membandingkan
toksisitas dan efek toksik yang ditimbulkan masing-masing konsentrasi tersebut serta
untuk mengetahui pada konsentrasi berapakah larva udang mengalami LC50.
6. Air laut digunakan sebagai kontrol dimaksudkan untuk melihat apakah respon kematian
larva disebabkan karena sampel ekstrak dan bukan dari faktor air laut.
7. Dipilih larva udang pada metode ini mungkin dikarenakan larva udang
merupakan general biossay sehingga semua zat dapat menembus masuk dinding sel larva
tersebut. Selain itu juga karena pertumbuhan larva udang sangat cepat sehingga mirip
dengan pembelahan sel tumor.

Hasil Dan Pembahasan


Hasil dari uji toksisitas senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak
daging buah dan kulit biji tanaman mahkota dewa melalui metode BSLT, dengan
menggunakan larva udang A.salina L. merupakan salah satu tahapan dalam pengujian
farmakologik eksperimental. Metode BSLT dipilih dengan beberapa alasan, yaitu karena hal-
hal berikut (Lisdawati, V., et al., 2006) :
1. Merupakan metode yang mudah dan relatif tidak mahal serta tidak membutuhkan suatu
spesialisasi tertentu dalam pelaksanaannya.
2. Merupakan metode yang telah teruji hasilnya dengan tingkat kepercayaan 95% untuk
mengamati toksisitas suatu senyawa di dalam eltstrak kasar tanaman.
3. Metode BSLT sering digunakan dalam tahap awal isolasi senyawa toksik yang
terkandung dalam suatu ekstrak kasar.
4. Metode ini sering dikaitkan sebagai metode penapisan untuk penyarian senyawa
antikanker dari tanaman, sehingga berkaitan dengan khasiat tanaman mahkota dewa
sebagai obat kanker,
Sampel yang digunakan berasal dari bagian buah mahkota dewa yang telah matang
dan kulit bijinya. Bagian daging buah dianggap mewakili buah tanaman sedangkan bagian
kulit biji dianggap mewakili biji tanaman. Dipilih kondisi sampel yang sudah matang supaya
didapatkan senyawa metabolit sekunder dalam jumlah maksimal. Dengan memperoleh hampir
keseluruh senyawa kimia yang ada, diharapkan dari hasil BSLT yang diperoleh dapat menjadi
acuan untuk menentukan golongan senyawa dari fraksi mana yang paling toksik dan tentunya
sekaligus merupakan fraksi dengan golongan senyawa metabolit sekunder paling aktif secara
biologi sebagai suatu senyawa antikanker (Lisdawati, V., et al., 2006).
Hasil BSLT ekstralt kasar n-heksan, etil asetat dan metanol dari daging buah dan kulit
biji mahkota dewa menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak kasar sampel bila dibandingkan
dengan nilai LC50 blanko terlihat memberikan aktivitas toksisitas hampir 100%. Nilai LC50 ini
membuktikan tingginya toksisitas ekstrak uji berdasarkan konsentrasi rata-rata ekstrak uji <12
µg/ml untuk dapat menyebabkan kematian sebesar 50% pada populasi larva udang A. salina
L. setelah 24 jam inkubasi. Selain itu, ekstrak kasar kulit biji mahkota dewa memberikan nilai
LC50 yang lebih kecil dibandingkan nilai LC50 ekstrak kasar daging buah. Sehingga dapat
diartikan bahwa ekstrak kulit biji lebih toksik dan lebih aktif dibanding ekstrak daging buah.
Nilai LC50 ekstrak kasar kulit biji dan daging buah mahkota dewa berkisar antara 0,16-11,83
µg/ml. Dari nilai tersebut, dapat disimpulkan bahwa hanya dengan konsentrasi ekstrak uji
sebesar 0,16-11,83 µg/ml sudah dapat menimbulkan kematian pada 50% populasi larva udang
setelah masa inkubasi 24 jam (Lisdawati, V., et al., 2006).

Kelebihan Metode BSLT


Kelebihan dari metode BLST yaitu :
1. Metode ini menunjukkan aktivasi farmakologis yang luas.
2. Prosesnya cepat, baik dalam proses penetasan telur udang menjadi larva maupun dalam
proses perlakuan.
3. Biaya yang dibutuhkan murah dan metodenya mudah dilakukan.
4. Peralatan yang digunakan sederhana, tidak memerlukan peralatan khusus.
5. Sampel yang digunakan sedikit.
6. Tidak memerlukan serum hewan seperti pada metode sitotoksik dan uji antikanker
lainnya.
7. Cukup reproduksibel sehingga dapat digunakan sebagai bioassay Guided Isolation yaitu
isolasi komponen kimia berdasarkan aktifitas yang ditunjukkan oleh bioessay tersebut.
Dengan mengetahui aktifitas dari suatu kelompok komponen kimia (fraksi), dapat
dilakukan isolasi senyawa sehingga diperoleh senyawa tunggal aktif (Anonim,2011).
8. Penggunaan larva udang merupakan general biossay sehingga semua zat dapat
menembus masuk menembus dinding sel larva tersebut dan juga pertumbuhannya yang
cepat sehingga mirip dengan sel tumor dan dapat mepercepat proses perlakuan.
9. Metode ini mudah dikembangkan serta tidak ada aturan etika dalam penggunaan bahan
uji (Anderson, 1991).
10. Dari penelitian Meyer (1982), metode BSLT mempunyai kemampuan dapat mendeteksi
14 dari 24 ekstrak etanol spesies Euphorbiaceae yang aktif terhadap uji 9-PS (sel
leukimia in vitro pada tikus) dan mampu mendeteksi 5 diantara 6 senyawa yang aktif
terhadap uji sel karsinoma nasofaring sehingga metode ini dapat memberikan korelasi
yang baik terhadap uji antikanker.

Kelemahan Metode BSLT


Kelemahan dari metode BLST yaitu :
1. Hasil dari pengujian dengan metode ini tidak spesifik menyerang sel kanker apa.
2. Dapat terjadi positif palsu karena konsentrasi atau kadar garam dalam larutan air yang
digunakan sebagai pengganti air laut untuk media hidup larva tidak sesuai sehingga dapat
menyebabkan banyak larva yang mati bukan karena pengaruh sampel ekstrak melainkan
karena medianya yang tidak cocok.
3. Faktor biologis dari larva yang tidak bisa dikontrol oleh peneliti sehingga dapat
mempengaruhi hasil.
4. Dapat terjadi kesalahan dari peneliti misalnya dalam pengambilan larva yang tidak hati-
hati sehingga menyebabkan kematian larva.
Metode 2 : Sulforhodamine B (SRB)
Jurnal Utama : Sitotoksisitas oleandrin hasil isolasi dari daun Nerium indicum Mill.
terhadap beberapa kultur sel kanker manusia.

Pendahuluan
Pencarian senyawa antikanker dari bahan alam telah dilakukan dan diperoleh oleandrin
dari daun Nerium indicum Mill. yang terbukti efektif terhadap penghambatan sel mieloma
(Wahyuningsih, M. S., et al., 2004). Dapat dikatakan bahwa oleandrin berpeluang besar untuk
digunakan sebagai obat antikanker baru. Nerium indicum Mill. merupakan salah satu
tumbuhan yang secara tradisional dilaporkan sebagai antikanker. Menurut beberapa
penelitian, tumbuhan Nerium sp. telah dilaporkan mengandung oleandrin (Boisio, M. L., et
al., 1993), asam kanerat, asam nerikumarat, asam isoneri-kumarat, oleanderol, oleanderen,
kanerodione, kanerin, neriumin, neriuminin (Begum, S., et al., 1997), neridiginoside (Begum,
S., et al., 1999).
Teknik sulforhodamine B (SRB) merupakan salah satu dari beberapa metode uji
sitotoksik in vitro yang baik dan peka untuk memprediksi efek sitotoksik senyawa dari bahan
alam (Perez, R. P., et al., 1993; Skehan, P., et al., 1990). Metode ini telah digunakan untuk uji
aktivitas pada obat-obat antikanker yang telah digunakan secara klinis (Keepers Y. P., et al.,
1991). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek sitotoksik oleandrin hasil isolasi dari
daun Nerium indicum Mill terhadap beberapa sel kanker manusia in vitro, sehingga
diharapkan dapat menemukan efek sitotoksik terbesar oleandrin terhadap jenis kanker
tertentu.

Bahan dan Metode


Bahan
Oleandrin diisolasi dari daun Nerium indicum Mill. melalui ekstraksi, partisi, fraksinasi dan
isolasi dengan KLT preparative termonitor dengan uji BST (Wahyuningsih, M. S., et al.,
2004), Doksorubisin (Dox) dan Sisplatin (Cpt) (Erasmus Medical Centre, the Netherlands).
Tujuh jenis sel kanker manusia yaitu sel kanker payudara (MCF7), kanker paru-paru (H226),
melanoma (M19), kanker kandungan (IGROV), ginjal (A498), payudara (EVSA-T) dan
kanker kolon (WiDR) diperoleh dari Erasmus Medical Centre, the Netherlands.
Sulforhodamine B (SRB), FBS, RPMI 1640, streptomisin, penisilin, glutamin, tris
(hidroksimetil)aminometana (Tris base) dari Gibco BRL, Grand Island, New York, USA;
Alkohol absolut, TCA, Kloroform, Metanol derajat pa dan diperoleh dari E-Merck.
Prosedur
Pembuatan larutan stok
Oleandrin (1,0 mg) dilarutkan dalam dimetilsulfoksida (DMSO) (1,0 ml) sebelum
ditambahkan ke dalam medium untuk kultur sel, sehingga diperoleh konsentrasi larutan stok 1
mg/ml.

Kultur sel kanker


Tujuh sel kanker manusia dikultur dalam medium RPMI 1640 yang ditambah dengan 10%
FBS, 100 μg/ml streptomisin, 100 unit/ml penisilin dan 2 mM glutamin. Sel diinkubasikan
pada suhu 37oC dengan CO2 sebanyak 8,5% (Boersma, A. W., et al., 1996).

Uji sitotoksisitas
Uji sitotoksisitas dilakukan dengan metode SRB (Skehan, 1990) dengan menggunakan
microplate (96 sumur) (Falcon, 3072 BD). Suspensi sel (150 μl) dalam tiap sumur
mengandung 1500-2000 sel/sumur.
1. Microplate dengan 96 sumur diinkubasikan selama 48 jam pada suhu 37oC dengan CO2
(8,5%).
2. Ditambahkan sampel (50 μl/sumur) dari larutan stok sehingga diperoleh konsentrasi
berturut-turut sebesar 0,6; 1,9; 5,7; 17,1; 51,4; 154,3; 463,0; 1388,9; 4167 ng/ml dan
12500 ng/ml (tertinggi) (n=4).
3. Medium dengan sel tanpa sampel digunakan sebagai kontrol negatif
4. Doksorubisin dan sisplatin digunakan sebagai kontrol positif.
o
5. Setelah penambahan sampel, microplate diinkubasikan pada suhu 37 C dengan CO2
(8,5%) selama 5 hari.
6. Medium dibuang dan ditambahkan TCA 10% (150 μl /sumur).
o
7. Microplate diletakkan pada suhu 4 C selama 1 jam.
8. TCA dibuang dan microplate dicuci dengan aquadest.
9. Ditambahkan 0,4% SRB dalam 1% asam asetat (50 μl/sumur), microplate digoyang
minimal selama 15 menit kemudian dicuci dengan 1% asam asetat dalam air.
10. Microplate dikeringkan pada udara terbuka kemudian ditambahkan Tris Base (10 mMol,
150 μl/sumur.
11. Dibaca nilai Absorbans menggunakan microplate “reader” pada λ sebesar 540 nm
(Skehan, P., et al., 1990; Perez, R. P., et al., 1993)
Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Metode SRB
Pada proses kultur sel, dipilih media RPMI karena media ini banyak digunakan untuk
menumbuhkan sel mamalia, selain itu, media ini juga dapat digunakan untuk menumbuhkan
sel hybrid. Penambahan FBS (Fetal Bovine Serum) pada proses kultur sel bertujuan untuk
menyesuaikan kondisi lungkungan sel dalam kultur karena FBS merupakan serum yang
mengandung hormon, protein, vitamin, glukosa, garam-garam mineral, faktor pertumbuhan
dan faktor penghambat, dimana kandungan-kandungan ini sangat dibutuhkan untuk
pertumbuhan sel dalam media.
Tujuan dilakukannya inkubasi microplate selama 48 jam pada suhu 37oC yaitu untuk
menyamakan dengan suhu tubuh manusia, media dibuat sama persis dengan kondisi tubuh
manusia sehingga diharapkan hasil dari percobaan ini juga dapat diterapkan pada tubuh
manusia selain itu juga dikarenakan sel-sel kanker yang digunakan dalam penelitian ini
merupakan sel kanker yang diambil dari tubuh manusia. Selain itu, penggunaan CO2 (8,5%)
bertujuan untuk mendapat sel dengan jumlah tertentu (dapat berprolifasi) maka harus diatur
kepadatan media yang digunakan agar sel tidak berhimpit.
Penambahan TCA 10% bertujuan untuk mendenaturasi protein dalam sel (protein akan
mengendap), sehingga tidak akan berikatan dengan sampel, karena dikehendaki nantinya
protein sel akan ditempeli oleh pewarna SRB dan juga supaya tidak mengganggu proses
pembacaan absorbansi. Penambahan asam asetat 1% berfungsi sebagai pelarut dari pewarna
SRB. Selanjutnya penambahan tris base bertujuan untuk mengetahui sel yang terwarnai oleh
SRB 0,4%, karena sel yang telah terwarnai akan dilarutkan atau dapat larut dalam tris base.

Hasil Dan Pembahasan


Pada penelitian ini dilakukan uji sitotoksisitas oleandrin hasil isolasi dari daun N.
indicum Mill terhadap tujuh macam sel kanker manusia. Diharapkan dari penelitian ini
diperoleh informasi kespesifikan oleandrin dalam menghambat pertumbuhan sel kanker
(Wahyuningsih, M. S., et al., 2004).
Penentuan efek sitotoksik dilakukan dengan cara menguji oleandrin pada dosis yang
sama terhadap 7 sel kanker manusia menggunakan metode yang telah digunakan oleh Skehan
(1990). Skehan (1990) menggunakan metode uji sitotoksisitas berdasarkan adanya intensitas
warna Sulforhodamine B yang terkenal dengan metode SRB. Sel yang masih hidup akan
berwarna ungu setelah pemberian SRB, sedangkan sel yang mati akan tercuci hilang setelah
pemberian 1% asam asetat dalam air. Pengukuran intensitas warna, profil efek dan
perhitungan ID50 dilakukan secara otomatis menggunakan alat microplate “reader”.
Berdasarkan data perhitungan antara konsentrasi sampel dengan respon penghambatan
sel kanker ginjal A498, didapatkan nilai ID50 oleandrin (12,0 ng/ml), dokso-rubisin (91,9
ng/ml) dan sisplatin (1047,9 ng/ml). Atas dasar data perhitungan antara konsentrasi sampel
dengan respon penghambatan sel EVSA-T didapatkan nilai ID50 oleandrin (9,2 ng/ml),
doksorubisin (9,2.ng/ml) dan sisplatin (246 ng/ml) (Wahyuningsih, M. S., et al., 2004).
Berdasarkan data perhitungan antara konsentrasi sampel dengan respon penghambatan
sel, didapatkan nilai ID50 oleandrin (12,7 ng/ml), doksorubisin (133 ng/ml) dan sisplatin
(1517,8 ng/ml). Nilai ID50 oleandrin , doksorubisin dan sisplatin terhadap sel IGROV masing-
masing adalah 8,2 ng/ml, 22,9 ng/ml dan 161,2 ng/ml (Wahyuningsih, M. S., et al., 2004).
Terhadap sel kanker kulit atau melanoma M19, nilai ID50 oleandrin (9,0 ng/ml), doksorubisin
(15,6 ng/ml) dan sisplatin (239,5 ng/ml). Terhadap sel kanker payudara (MCF7), nilai ID50
oleandrin (5,1 ng/ml), doksorubisin (6,2 ng/ml) dan sisplatin (610,9 ng/ml) (Wahyuningsih,
M. S., et al., 2004).
Terhadap sel kanker kolon WiDR, berdasarkan data perhitungan antara konsentrasi
sample dengan respon penghambatan sel, maka didapatkan nilai ID50 oleandrin (8,0 ng/ml),
doksorubisin (14,2 ng/ml) dan sisplatin (537,7 ng/ml) (Wahyuningsih, M. S., et al., 2004).
Dari data nilai ID50 (tabel I) dapat diketahui bahwa oleandrin memperlihatkan sifat
sitotoksisitas paling tinggi terhadap sel kanker payudara MCF-7 jika dibandingkan dengan sel
kanker lain. Nilai ID50 senyawa oleandrin terhadap sel MCF-7 adalah 8,85 nM, lebih kecil
dibandingkan dengan senyawa kontrol doksorubisin dan sisplatin yang masing-masing
mempunyai ID50 sebesar 10,7 nM dan 2040 nM terhadap sel yang sama (Wahyuningsih, M.
S., et al., 2004).
Jadi dapat disimpulkan bahwa oleandrin mempunyai aktivitas sitotoksik terhadap 7 sel
kanker manusia dengan aktivitas sitotoksik yang lebih besar dibandingkan dengan sisplatin
dan doksorubisin. Aktivitas sitotoksik terbesar oleandrin pada sel kanker payudara (MCF7)
dengan nilai ID50 = 8,85 nM (Wahyuningsih, M. S., et al., 2004).

Kelebihan Metode SRB


Kelebihan dari metode SRB yaitu :
1. Memiliki titik akhir pewarnaan yang jelas, stabil, dapat dilihat dengan mata telanjang
2. Sensitif untuk mengukur aktivitas sitotoksik suatu senyawa atau obat
3. Hasilnya lebih akurat daripada metode BSLT
4. Prosesnya relatif tidak lama

Kelemahan Metode SRB


Kelemahan dari metode SRB yaitu :
1. Biayanya mahal
2. Membutuhkan alat-alat dan bahan-bahan khusus
3. Prosesnya rumit, memerlukan ketelitian dan keahlian untuk menghindari hasil palsu

KESIMPULAN

Dari kedua metode uji bioaktivitas yang telah dijabarkan diatas, yaitu metode BSLT
dan metode SRB, keduanya memiliki kelebihan masing-masing dan kekurangan masing-
masing. Jika dilihat dari sisi ekonomis dan prosesnya, maka metode BSLT lebih baik daripada
metode SRB, namun metode BSLT tidak spesifik dan banyak faktor luar yang dapat
mempengaruhi hasilnya. Sedangkan metode SRB meskipun biayanya jauh lebih mahal serta
perlakuannya lebih rumit dan perlu ketelitian, metode ini sangat sensitif dalam mengukur
aktivitas sitotoksik suatu senyawa atau obat serta memiliki titik akhir pewarnaan yang jelas,
stabil, dapat dilihat dengan mata telanjang. Meskipun demikian, dalam prakteknya kedua
metode ini harus tetap dilakukan dengan hati-hati dan teliti, karena tidak jarang hasil
penelitian tidak sesuai karena kesalahan dari praktikannya sendiri.
DAFTAR PUSTAKA

Anderson, C. M. Goetz and J. L. McLaughlin. 1991. A Blind Comparison of Simple Bench-


top Bioassays and Human Tumour Cell Cytotoxici ties as Antitumor Prescreens .
Phytochemical Analisis. vol. 2, (107) I-II
Anonim .2011. Penutun Praktikum Farmakologi dan Toksikologi II, UMI : Makassar.
Begum, S., Siddiqui, B. S., Sultana, R., Zia, A., & Suria, A. (1999). Bio-active cardenolides
from the leaves of Nerium oleander. Phytochemistry, 50(3), 435-438.
Begum, S., Sultana, R., & Siddiqui, B. S. (1997). Triterpenoids from the leaves of Nerium
oleander. Phytochemistry, 44(2), 329-332.
Boersma, A. W., Nooter, K., Oostrum, R. G., & Stoter, G. (1996). Quantification of apoptotic
cells with fluorescein isothiocyanate‐labeled annexin V in chinese hamster ovary cell
cultures treated with cisplatin. Cytometry: The Journal of the International Society for
Analytical Cytology, 24(2), 123-130.
Boisio, M. L., Esposito, M., & Merlo, F. (1993). Separation and identifying features of the
cardiac aglycones and glycosides of Nerium oleander L. flowers by thin-layer
chromatography. Minerva medica, 84(11), 627-632.
Keepers, Y. P., Pizao, P. E., Peters, G. J., van Ark-Otte, J., Winograd, B., & Pinedo, H. M.
(1991). Comparison of the sulforhodamine B protein and tetrazolium (MTT) assays for
in vitro chemosensitivity testing. European Journal of Cancer and Clinical
Oncology, 27(7), 897-900.
Lisdawati, V., Wiryowidagdo, S., & Kardono, L. B. S. (2006). Brine shrimp lethality test
(bslt) dari berbagai fraksi ekstrak daging buah dan kulit biji mahkota dewa (Phaleria
macrocarpa). Buletin Penelitian Kesehatan, 34(3 Sept).
Meyer, B. N., Ferrigni, N. R., Putnam, J. E., Jacobsen, L. B., Nichols, D. J., & McLaughlin, J.
L. (1982). Brine shrimp: a convenient general bioassay for active plant
constituents. Planta medica, 45(05), 31-34.
Perez, R. P., Godwin, A. K., Handel, L. M., & Hamilton, T. C. (1993). A comparison of
clonogenic, microtetrazolium and sulforhodamine B assays for determination of
cisplatin cytotoxicity in human ovarian carcinoma cell lines. European Journal of
Cancer, 29(3), 395-399.
Skehan, P., Storeng, R., Scudiero, D., Monks, A., McMahon, J., Vistica, D., ... & Boyd, M. R.
(1990). New colorimetric cytotoxicity assay for anticancer-drug screening. JNCI:
Journal of the National Cancer Institute, 82(13), 1107-1112.
Wahyuningsih, M. S., Mubarika, S., Bolhuis, R. L. H., Nooter, K., Gandjar, I. G., &
Wahyuono, S. Sitotoksisitas oleandrin hasil isolasi dari daun Nerium indicum Mill.
terhadap beberapa kultur sel kanker manusia.