Anda di halaman 1dari 16

PANDUAN KOMUNIKASI EFEKTIF

ANTAR STAF KLINIS

RSU MITRA PARAMEDIKA


Jalan Raya Ngemplak Kemasan, Widodomartani,
Ngemplak Sleman, DI Yogyakarta 55584

v
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan
anugerahnya yang telat diberikan kepada penyusun, sehingga Pedoman Komunikasi yang efektif
dalam pemberian informasi dan edukasi Rumah Sakit Umum Mitra Paramedika ini dapat selesai
di susun. Pedoman ini merupakan panduan kerja bagi semua pihak yang terkait dalam memberikan
pelayanan kepada pasien dalam melakukan pelayanan pasien di RSU Mitra Paramedika
Dalam pedoman ini diuraikan tentang pengertian dan tatalaksana komunikasi yang efektif
di RSU Mitra Paramedika.Tidak lupa penyusun menyampaikan terimakasih yang sebanyak-
banyaknya atas bantuan semua pihak atas bantuan semua pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan Pedoman Komunikasi yang efektif dalam pemberian informasi dan edukasi RSU
Mitra Paramedika

Sleman. Desember 2018

Penyusun

vi
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
KATA SAMBUTAN iii
DAFTAR ISI iv
KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM MITRA PARAMEDIKA v
TENTANG PEMBENTUKAN TIM PENYUSUN PEDOMAN KOMUNIKASI
EFEKTIF RUMAH SAKIT UMUM MITRA PARAMEDIKA
PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM MITRA PARAMEDIKA vi
TENTANG PANDUAN PEDOMAN KOMUNIKASI EFEKTIF RUMAH SAKIT
UMUM MITRA PARAMEDIKA
BAB I DEFINISI 1
BAB II RUANG LINGKUP 2
BAB III KEBIJAKAN 3
BAB IV TATA LAKSANA 4
BAB V DOKUMENTASI

vii
KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM MITRA PARAMEDIKA
TENTANG
PEMBENTUKAN TIM PENYUSUN PEDOMAN KOMUNIKASI EFEKTIF
NOMOR : /SK-DIR/RSUMP/XII/2018
DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM MITRA PARAMEDIKA

Menimbang :
a. Bahwa dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan, keselamatan pasien dan
mencegah kesalahan pasien serta salah prosedur diperlukan program pencegahan di
Rumah Sakit Umum Mitra Paramedika.
b. Bahwa sehubungan dengan hal tersebut diatas maka perlu dibentuk Tim Penyusun
Pedoman Komunikasi Efektif Rumah Sakit Umum Mitra Paramedika.

Mengingat :
1. Undang -Undang No 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit;
2. Peraturan Menteri Kesehatan No 11 Tahun 2017 Tentang Keselamatan Pasien Rumah;
3. Undang-undang No.29 Tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran

MEMUTUSKAN

Menetapkan :
Kesatu : KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM MITRA
PARAMEDIKA TENTANG PEMBENTUKAN TIM PENYUSUN
PEDOMAN KOMUNIKASI EFEKTIF
Kedua : Membentuk Tim Penyusun Pedoman Komunikasi Efektif RSU Mitra
Paramedika dengan susunan sebagai berikut :
Ketua : dr. Arfin Nurheditya
Sekretaris : Deni Erlisa.M, S.Gz
Anggota : 1. Rosamita, Amd.Kep
2.Umi Wijayatun, Amd.Kep
3. Dita Ratnasari, Amd.Kep
Ketiga : Tim bertugas menyusun Pedoman Komunikasi Efektif

Keempat : Dalam melaksanakan tugasnya tim bertanggungjawab langsung kepada


Direktur Rumah Sakit

viii
Kelima : Ketetapan ini berlaku sejak ditetapkan dan dapat ditinjau ulang apabila di
kelak kemudian hari terdapat kekeliruan
Keenam : Dengan diberlakukannya peraturan direktur ini maka Keputusan Direktur
Nomor 056/SK-DIR/RSUMP/XI/2015 tentang Pembentukan Tim Penyusun
Panduan Komunikasi Efektif dinyatakan tidak berlaku lagi.

Ditetapkan di: Sleman


Pada tanggal : 31 Desember 2018
Direktur

dr. Ichsan Priyotomo

ix
PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM MITRA PARAMEDIKA
TENTANG

PANDUAN KOMUNIKASI EFEKTIF ANTAR STAF KLINIS


RUMAH SAKIT UMUM MITRA PARAMEDIKA

NOMOR: /PER-DIR/RSUMP/XII/2018

DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM MITRA PARAMEDIKA

Menimbang :

a. bahwa Rumah Sakit Umum Mitra Paramedika sebagai institusi yang bergerak
di bidang pelayanan kesehatan harus mampu meningkatkan pelayanan yang
lebih bermutu untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat setinggi-
tingginya
b. bahwa Akreditasi Rumah Sakit merupakan salah satu intrumen peningkatan
mutu berkelanjutan dan kewajiban bagi Rumah Sakit sesuai ketentuan
pemerintah
c. bahwa dalam pelaksanaan dan persiapan Akreditasi diperlukan berbagai
kebijakan dan pedoman.
Mengingat :

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan


2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek
Kedokteran
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 44 2018 tentang
Penyelenggaraan Promosi Kesehatan Rumah Sakit
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1438/MenKes/Per/IX/2010
tentang Standar Pelayanan Kedokteran
6. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 004 Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis
Promosi Kesehatan Rumah Sakit
7. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien.

MEMUTUSKAN

Menetapkan:

x
PERTAMA PERATURAN DIREKTUR TENTANG PANDUAN KOMUNIKASI
EFEKTIF ANTAR STAF KLINIS RUMAH SAKIT UMUM MITRA
PARAMEDIKA

KEDUA : Peraturan tentang mengidentifikasi pasien dengan benar RSU Mitra Paramedika
sebagaimana tercantum dalam lampiran peraturan ini.
KETIGA : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

KEEMPAT: Dengan diberlakukannya peraturan direktur ini maka peraturan direktur nomor
003/PER-DIR/RSUMP/2015 tentang Panduan Peningkatan Komunikasi Efektif
dinyatakan tidak berlaku.
Ditetapka di: Sleman
Pada tanggal : 31 Desember 2018
Direktur

dr. Ichsan Priyotomo

xi
xii
BAB I
DEFINISI

1. Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan


kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan,
dan gawat darurat.
2. Komunikasi adalah suatu hubungan kontak antar manusia baik individu maupun kelompok.
3. Komunikasi efektif adalah komunikasi yang prosesnya tepat waktu, akurat, jelas, dan mudah
dipahami oleh penerima, sehingga dapat mengurangi tingkat kesalahan (kesalahpahaman).
4. Profesinal Pemberi Asuhan (PPA) adalah staf klinis professional yang langsung memberikan
asuhan pada pasien.

1
BAB II
RUANG LINGKUP

1. Komunikasi dan pertukaran informasi di antara dan antar staf klinis selama bekerja dalam shift atau
antar shift secara lisan.
2. Informasi yang akan dikomunikasikan dengan cara dan informasi tersebut sering dikomunikasikan
dari satu staf klinis kepada staf klinis, meliputi:
a. status kesehatan pasien antara lain catatan perkembangan pasien terintegrasi (CPPT);
b. ringkasan asuhan yang diberikan (ringkasan pulang dan ringkasan rawat jalan);
c. informasi klinis pasien saat ditransfer dan rujukan; serta
d. serah terima.

2
BAB III
KEBIJAKAN

1. Perintah dilakukan melalui lisan atau telepon maka petugas harus melakukan metode TBK
(Tulis, Baca Ulang dan Konfirmasi ulang) perintah yang disampaikan oleh pemberi perintah.
2. Catatan perkembangan pasien terintegrasi (CPPT) ditulis dengan metode subjek, objek, asesmen, plan
(SOAP).
3. Catatan perkembangan pasien terintegrasi (CPPT) ditulis oleh professional pemberi asuhan (PPA) yang
memberikan asuhan.
4. Ringkasan asuhan pulang dan ringkasan rawat jalan ditulis oleh DPJP setelah dinytakan pasien boleh
pulang.
5. Proses transfer dan rujukan dicatat di formulir transfer antar/intra rumah sakit
6. Catatan sr

3
BAB IV
TATA LAKSANA

A. Tata Laksana Pertukaran Informasi Lisan Staf Klinis tentang asuhan pasien
1. Petugas mendapatkan perintah dokter secara lisan / langsung atau petugas menerima telepon dari
dokter yang isinya berupa perintah medis untuk pasien
2. Petugas menyiapkan RM pasien atau apabila tidak memungkinkan mendapatkan RM pasien
secara cepat, petugas dapat mencatatnya pada kertas atau media lain
3. Petugas mencatat perintah yang disampaiakan (T)
4. Petugas membaca ulang (B) perintah yang disampaikan
5. Petugas melakukan konfirmasi (K) atas perintah sudah ditulisnya sampai dinyatakan benar oleh
dokter yang memberikan perintah. Jika masih salah maka petugas segera membetulkannya,
membacakan ulang dan melakukan konfirmasi ulang sampai dinyatakan benar oleh dokter yang
memberikan perintah
6. Petugas mengucapkan terima kasih atas informasi yang disampaikan
7. Petugas menyalin catatan yang ditulisnya pada rekam medis pasien, apabila pencatatan tidak
dilakukan pada rekam medis pasien
8. Petugas membubuhkan nama dan paraf atau tanda tangan di
9. Catatan yang telah dibuat

B. Tata Laksana penulisan Catatan perkembangan pasien terintegrasi (CPPT)


1. Subyektif ( yang diungkapkan oleh klien)
Catatan yang berhubungan dengan masalah dari sudut pandang pasien, ekspresi pasien mengenai
kekhawatiran dan keluhannya dicatat sebagai kutipan langsung atau ringkasan yang berhubungan
dengan diagnosa (data subyektif). Pada orang yang bisu dibagian data dibelakang S diberi tanda
“Nol” atau “X”, sedangkan pada bayi atau anak kecil data subyektif ini dapat diperoleh dari orang
tua. Data subyektif ini dapat digunakan untuk menguatkan diagnose yang akan dibuat.
2. Obyektif ( data yang diukur dan diamati)
Data ini memberi bukti gejala klinis pasien dan fakta yang berhubungan dengan diagnose. Data
phisiologi, hasil observasi yang jujur, informasi kajian teknologi (hasil laboratorium, sinar X,
rekaman CTG, USG, dll). Catatan ini menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik
klien, hasil pemeriksaan laboratorium dan test diagnostic lainnya yang dirumuskan dalam data
focus untuk mendukung asuhan atau menegakkan diagnose.
3. Assessment
Assessment yaitu masalah atau diagnose yang ditegakkan berdasarkan data atau informasi
subyektif dan obyektif yang dikumpulkan dan disimpulkan. Karena keadaan pasien terus berubah
dan selalu ada informasi baru baik subyektif dan obyektif, dan sering diungkapkan secara
terpisah-pisah, maka proses pengkajian adalah sesuatu yang penting dalam mengikuti
perkembangan pasien dan menjamin sesuatu perubagan baru cepat diketahui dan dapat diikuti
sehingga dapat diambil tindakan yang tepat. Catatan ini menggambarkan pendokumentasian hasil
analisa dan interpretasi data subyektif dan obyektif dalam suatu identifikasi:

4
a. Diagnosa/masalah-masalah
b. Antisipasi diagnose/masalah
c. Perlunya tindakan segera oleh dokter, tenaga medis, konsultasi/kolaborasi dan atau rujukan
4. Planning
Planning/perencanaan yaitu membuat rencana tindakan saat itu atau yang akan datang utuk
mengusahakan mencapai kondisi pasien sebaik mungkin atau menjaga/mempertahankan
kesejahteraannya. Proses ini termasuk kriteria tujuan tertentu dari kebutuhan pasien yang harus
dicapai dalam batas waktu tertentu, tindakan yang diambil harus membantu pasien mencapai
kemajuan dalam kesehatan dan harus mendukung rencana dokter bila itu dalam manajemen
kolaborasi atau rujukan. Perencanaan ini meliputi:
a. Rencana konsultasi
b. Rencana tes diagnostic/laboratorium
c. Rencana rujukan (bila diperlukan)
d. Rencana pemberian pemberian pendidikan kesehatan/konseling
e. Rencana follow up/tindak lanjut

C. Ringkasan Pulang
Isi ringkasan pulang yang harus dituliskan dalam formulir ringkasan pasien pulang meliputi:
1. Identitas pasien.
2. Diagnosis masuk dan indikasi pasien dirawat.
3. Ringkasan hasil pemeriksaan fidik dan penunjang diagnosis akhir, pengobatan, dan tindak
lanjut.
4. Nama dan tanda tangan dokter atau dokter gigi yang memberikan pelayanan kesehatan.
5. Setiap rekam medic pasien rawat jalan, rawat inap, dan gawat darurat harus memuat
ringkasan pulang.

D. Serah terima
Serah terima transfer
1. Perawat pendamping transfer menyampaikan ke perawat penerima terkait identifikasi
pasien yang akan diserah terimakan.
2. Perawat penerima melakukan verifikasi terkait identifikasi pasien yang akan diterimanya.
3. Perawat penerima meyakinkan aman dan nyaman kondisi pasien, memenuhi kebutuhan
sesuai kondisinya.
4. Perawat melakukan cuci tangan dan menggunakan APD sebelum tindakan ke pasien.
5. Perawat pendamping transfer dibantu perawat penerima melakukan pemindahan pasien
dari kursi roda/ brankat ke bed pasien dengan tetap memperhatikan kondisi dan posisi
anatomis pasien dan petugas.
6. Pasien melepas APD dan mencuci tangan setelah melakukan tindakan ke pasien.
7. Perawat pendamping transfer mengoperkan kepada perawat penerima semua dokumen
medis pasien dan tentang kondisi pasien, obat dan tindakan yang sudah diberikan,

5
pemeriksaan penunjang, dokter yang merawat, status pasien umum/ asuransi dan
kelengkapanya, keadaan pasien, barang pasien dll di meja perawatan atau counter perawat
dengan metode SBAR sesuai SPO hand over.
8. Perawat pendamping transfer dan perawat penerima melakukan verifikasi identitas pasien
dan mengisi check list pasien pindah ruang pada form checklist serah terima pasien dan
didokumentasikan dalam rekam medis pasien.
9. Perawat pendamping proses transfer menanyakan kepada perawat penerima jika ada
sesuatu yang belum atau kurang jelas terkait kebutuhan pelayanan pasien.
10. Perawat pendamping transfer berpamitan dan mengucap salam sebelum meninggalkan
counter perawatan.
Serah terima jaga

6
BAB V
DOKUMENTASI

1. Pertukaran Informasi Lisan Staf Klinis tentang asuhan pasien didokumentasikan dengan Cap TBAK.
2. Catatan perkembangan pasien terintegrasi (CPPT) didokumentasikan di formulir rekam medis RM 26
3. Ringkasan pasien pulang rawat inap didokumentasikan di formulir RM 31
4. Ringkasan pasien pulang rawat jalan didokumentasikan di formulir 06.
5. Transfer pasien internal didokumentasikan didokumentasikan di formulir RM 11.
6. Transfer pasien antar rumah sakit didokumentasikan didokumentasikan di formulir RM 36.
7. Serah terima jaga didokumentasikan dengan cap serah terima di formulir CPPT.

7
8