Anda di halaman 1dari 18

EVALUASI IMPLEMENTASI SISTEM KEWASPADAAN DINI

KEJADIAN LUAR BIASA DI RSPI PROF. DR. SULIANTI SAROSO


DALAM UPAYA PEMENUHAN STANDAR RUMAH SAKIT RUJUKAN
TAHUN 2016

Herlina, Siti Maemun, Farida Murtiani, Intan Pertiwi

Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso

Koresponden :

Email : herlinadwinantomashud@gmail.com

Telp. 081519652397

ABSTRAK

Latar belakang : Rumah sakit mempunyai peran didalam pelaksanaan sistem


kewaspadaan dini penyakit potensial wabah. Didalam pelaksanaannya tersebut
diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
1479/MENKES/SK/X/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans
Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular, dan Peraturan
Menteri Kesehatan RI Nomor 949/MENKES/SK/VIII/2004 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB).
Tujuan : Mengetahui apakah pelaksanaan SKD KLB di RSPI-SS sudah sesuai
dengan standar aturan yang ada. Metode : Kajian ini merupakan cross sectional
study dan data dianalisis melalui analisis diskriptif terhadap data dan informasi
yang didapat di lapangan, baik berbentuk data sekunder maupun data primer.
Hasil : Pengumpulan data STP potensi KLB sudah dilakukan di RSPI Prof. Dr.
Sulianti Saroso dengan presentase sejumlah 87,5% ; pengolahan data STP
penyakit potensi KLB sejumlah 37,5%,; analisis data STP mingguan dalam
bentuk tabel menurut desa/kelurahan atau puskesmas/kecamatan sejumlah 12,5%;
analisis data STP mingguan dalam grafik kecenderungan penyakit dilakukan
sejumlah 12,5%; pelaporan hasil analisis kepada pimpinan rumah sakit sejumlah
37,5%; analisis tahunan perkembangan penyakit dan menghubungkannya dengan
faktor risiko, perubahan lingkungan serta perencanaan dan keberhasilan program
sejumlah 25,0%; validasi data STP sejumlah 37,5%; pengiriman data mingguan
(data PWS) ke dinas kesehatan kabupaten/kota belum pernah dilakukan (0,0%);
pengiriman data bulanan (data STP) rumah sakit ke dinkes kesehatan
kabupaten/kota dengan jenis penyakit dan variabelnya sebagai formulir STP
rumah sakit sejumlah 25,0%, pengumpulan data kesakitan dan kematian penyakit
potensi KLB di rumah sakit sejumlah 62,5%; kajian epidemiologis secara terus
menerus dan sistematis terhadap perkembangan penyakit berpotensi KLB yang
ada di rumah sakit, sehingga dapat mengidentifikasi adanya ancaman KLB di

xii
daerah kabupaten/ kota sejumlah 12,5%; kajian kemampuan rumah sakit dalam
melaksanakan SKD-KLB dan penanggulangan KLB dilakukan sejumlah 25,0%;
peringatan kewaspadaan dini KLB sejumlah 25,0%; kegiatan surveilans SKD-
KLB dengan pelaksanaan pemantauan wilayah setempat (berkoordinasi dengan
Dinkes DKI Jakarta /Sudin Jakarta Utara) sejumlah 25,0%; kegiatan
penyeledikan luas terhadap dugaan adanya KLB di lingkungan rumah sakit
sejumlah 25,0%; kegiatan penyuluhan kepada petugas dan pengunjung sejumlah
62,5%; kesiapsiagaan menghadapi KLB, terutama penyiapan tim penyelidikan
dan penanggulangan KLB di rumah sakit yang merupakan bagian dari tim
penyelidikan dan penanggulangan KLB dinkes kabupaten sejumlah 50,0%.
Kesimpulan : Pelaksanaan Surveilans Terpadu Penyakit (STP) dan Sistem
Kewaspadaan Dini KLB (SKD-KLB) di RSPI-SS sebagai rumah sakit rujukan
sudah berpedoman pada Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
1479/MENKES/SK/X/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans
Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular, dan Peraturan
Menteri Kesehatan RI Nomor 949/MENKES/SK/VIII/2004 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan
presentase pelaksanaan rata-rata berkisar 12,5 – 87,5% , kecuali pengiriman data
PWS ke Dinas Keehatan Kabupaten/Kota belum pernah dilakukan (0%) tetapi
telah dilakukan pengiriman data PWS bulanan (25,0%).

Kata Kunci : Surveilans Terpadu Penyakit (STP), Sistem Kewaspadaan Dini


Kejadian Luar Biasa ( SKD-KLB)

xii
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit infeksi dan penyakit menular masih menjadi
masalah kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan jatuhnya korban
kesakitan dan kematian yang besar, dan menyerap anggaran biaya yang besar
dalam upaya penanggulangannya, berdampak pada sektor ekonomi, pariwisata
serta berpotensi menyebar luas lintas kabupaten/kota, propinsi bahkan global
sehingga membutuhkan koordinasi dalam penanggulangannya1, 4.
Diare dan DBD merupakan jenis penyakit yang sering menimbulkan KLB di
Indonesia, sementara pada kasus difteri saat ini sering ditemukan kembali di
Jabobetabek. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan
bahwa prevalensi penyakit diare sebesar 3,5 % , hasil ini lebih rendah
dibandingkan Riskesdas tahun 2007 yaitu 9,0%, Berdasarkan data Insiden Rate
DBD per propinsi pada tahun 2013 , teridentifikasi bahwa propinsi DKI Jakarta
dengan angka kesakitan / Insidence Rate (IR) DBD tertinggi kedua setelah Bali
yaitu 96,18 per 100.000 penduduk dan Case Fatality Rate (CFR) 0,2 % 7.
Sementara untuk kasus difteri, situasi kasus difteri terkini di Indonesia yaitu pada
tahun 2013 ditemukan 778 kasus, 2014 ditemukan 396 kasus dan tahun 2015
ditemukan 252 kasus, dan untuk propporsi kasus difteri menurut kelompok umur
terbanyak 5-9 tahun yaitu sebesar 40,5% 8
Upaya penanggulangan KLB dilakukan salah satunya adalah dengan
penyelenggaraan sistem kewaspadaan dini penyakit potensial wabah (SKD-KLB),
yaitu merupakan kewaspadaan terhadap penyakit berpotensi KLB beserta faktor –
faktor yang mempengaruhinya dengan menerapkan teknologi surveilans
epidemiologi dan dimanfaatkan untuk meningkatkan sikap tanggap kesiapsiagaan
, upaya – upaya pencegahan dan tindakan penanggulangan kejadian luar biasa
yang cepat dan tepat1,5.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
1479/MENKES/SK/X/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans
Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular, dan Peraturan
Menteri Kesehatan RI Nomor 949/MENKES/SK/VIII/2004 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB), bahwa
rumah sakit merupakan salah satu unit pelayanan kesehatan yang wajib
menyelenggarakan surveilans terpadu penyakit dan termasuk salah satu unit yang
bertanggung jawab dalam SKD3.

Peran rumah sakit di dalam Sistem Kewaspadaan Dini sesuai dengan Kepmenkes
RI Nomor 1479/Menkes/SK/X/2003 adalah (1) melakukan kajian epidemiologi
ancaman KLB, (2) memberikan peringatan kewaspadaan dini KLB dan (3)
peningatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap KLB3.
Di dalam melakukan kajian epidemiolgi ancaman KLB, peran rumah sakit adalah
(1) melaksanakan pengumpulan dan pengolahan data kesakitan dan kematian
penyakit berpotensi KLB di rumah sakit, (2) melakuan kajian epidemiologi terus
menerus secara sistematis terhadap perkembangan penyakit berpotensi KLB yang
ada di rumah sakit, sehingga dapat mengidentifikasi adanya ancaman KLB di
daerah /kota tertetu, (3) melakukan kajian kemampuan rumah sakit dalam
melaksanakan SKD-KLB dan penanggulagan KLB3.

xii
Peran rumah sakit lainnya di dalam SKD – KLB adalah melakukan peringatan
kewaspadaan dini KLB, yaitu apabila teridentifikasi adanya ancaman KLB yang
sangat penting dan mendesak, maka dalam waktu yang secepat-cepatnya rumah
sakit memberikan peringatan kewaspadaan dini KLB kepada unit terkait di
lingkungan rumah sakit, dan melaporkannya ke dinas kesehatan kabupaten/kota
yang mendapat ancaman KLB3.
Selain dua peran di atas, peran rumah sakit lainya dalam SKD – KLB adalah
peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap KLB, yang mana dalam
peran tersebut rumah sakit melakukan kegiatan (1) peningkatan kegiatan
surveilans untuk deteksi dini KLB di rumah sakit dengan melaksanakan
pemantauan wilayah setempat penyakit berpotensi KLB di rumah sakit, (2)
penyelidikan lebih luas terhadap dugaan adanya KLB di lingkungan rumah sakit,
(3) melaksanakan penyuluhan kepada petugas dan pengunjung rumah sakit serta
mendorong kewaspadaan KLB di rumah sakit, (4) kesiapsiagaan menghadapi
KLB, terutama penyiapan tim penyelidikan dan penanggulangan KLB di rumah
sakit yang merupakan bagian dari tim penyelidikan dan penanggulangan KLB
dinas kesehatan kabupaten/kota3.
Dalam melaksanakan peran Sistem Kewaspadaan Dini tersebut, rumah sakit juga
harus melakukan surveilans penyakit secara rutin dan terpadu. Berdasarkan
Permenkes RI nomor 949/Menkes/SK/VIII/2004, peran rumah sakit dalam
surveilans terpadu adalah (1) pengumpulan dan pengolahan data, (2) analisis serta
rekomendasi tindak lanjut, (3) umpan balik, (4) membuat laporan1,6.
Penyelenggaraan sistem kewaspadaan dini di rumah sakit tidak lepas dari sistem
surveilans terpadu penyakit, baik itu penyakit menular maupun penyakit tidak
menular. Rumah sakit penyakit infeksi prof. Dr. Sulianti saroso memliki bidang
pengkajian epidemiologi dengan tupoksi antara lain melakukan surveilans
penyakit , yang terdiri dari surveilans penyakit menular langsung, surveilans
penyakit bersumber binatang dan surveilans penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi. Saat ini sistem surveilans di RSPI-SS sudah berjalan walaupun masih
banyak kendala di dalam proses kegiatan surveilans tersebut. Kendala yang
dihadapi oleh surveilans di RSPI antara lain, data yang belum menjadi 1 pintu,
kelengkapan data yang belum maksimal juga sistem surveilans yang belum
terintegrasi (berjalan sendiri-sendiri). Dari kondisi tersebut, maka perlu dilakukan
kajian untuk melihat sampai sejauh mana sistem surveilans epidemilogi di RSPI
sudah berjalan? dan apakah sistem tersebut dapat mendukung sistem kewaspadaan
dini penyakit potensial wabah di RSPI-SS? Dalam rangka upaya menjawab
pertanyaan di atas , maka kemudian dilakukan kajian dengan judul “ Evaluasi
Implementasi Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (SKD-KLB) di

METODE

Kajian ini menggunakan metode retrospektif studi dan survey explanatory,


dimana data diperoleh melalui koleksi data sekunder dan wawancara terstruktur
menggunakan daftar pertanyaan kepada sejumlah responden yang mewakili dari
unit struktural, unit fungsional dan unit pokja . 3.6.2. Data Retrospektif
Studimerupakan data sekunder yang diambil dari 29 penyakit menular yang
termasuk di dalam Surveilans Terpadu Penyakit (STP) RSPI-SS tahun 2013-2015

xii
dengan variabel yang diambil adalah :Variabel umur dikelompokkan ( golongan
umur 0-7 hari, 8-28 hari, > 1 tahun, 1-4 tahun, 5-9 tahun, 10-14 tahun, 15-19
tahun, 20-44 tahun, 45-54 tahun, 55-59 tahun, 60-69 tahun, 70 tahun lebih
Variabel jenis kelamin, klasifikasi Pasien (rawat jalan dan rawat inap), variabel
kematian, variabel waktu pasien di rawat , variabel total kunjungan, variabel
kelengkapan dan ketepatan laporan

HASIL

xii
PERSENTASE UNIT YANG SUDAH MELAKUKAN KEGIATAN SKD-KLB
BERDASARKAN KEPMENKES NOMOR 1479/MENKES/SK/X/2003

Melakukan Melakukan Melakukan Melaku Melaporkan Melaku Melaku Mengirim Mengirim data Persentase
pengumpula pengolahan analisis data STP kan analisis hasil analisis kan analisis tahunan kan validasi data data bulanan (data STP) (%)
n data STP data STP mingguan dalam data STP kepada perkembangan penyakit STP mingguan rumah sakit ke
UNIT Unit potensi KLB penyakit bentuk tabel mingguan pimpinan dan (data PWS) dinkes kesehatan
potensi KLB menurut desa/kelu dalam grafik rumah sakit menghubungkannya ke dinas kabupaten/kota
rahan atau kecende dengan faktor risik, kesehatan dengan jenis penyakit
puskesmas/kecama rungan peruba kabupa dan variabel nya
tan penyakit han lingkungan serta ten/kota sebagai formulir STP
perencanaan dan rumah sakit
keberhasi lan program
Ada Tdk Ada Tdk Ada Tdk Ya Tdk Ya Tdk Ya Tdk Ya Tdk Ya Tdk Ya Tdk

POK Pokja V V V V V V V V V 66,6


JA HIV/AIDS
Pokja TB V V V V V V V V 55,5
Dots
Pokja V V V V V V V V V 11,1
Pinere
FUNG Instalasi V V V V V V V V V 11,1
SIO Rekam
NAL Medik
Instalasi V V V V V V V V V 0,0
Rawat
Jalan
Instalasi V V V V V V V V V 11,1
Rawat
Inap
STRK Bidang V V V V V V V V V 11,1
TU Perawatan
RUL
Bidang V V V V V V V V V 77,7
Pengkajian
Epidemio
logi

xii
PERSENTASE KINERJA SKD-KLB BERDASARKAN KEGIATANNYA
SESUAI KEPMENKES NOMOR 1479/MENKES/SK/X/2003

SUDAH BELUM
No. JENIS KEGIATAN DILAKSANAKAN DILAKSANAKAN
(%) (%)
1 Melakukan pengumpulan data STP potensi KLB 87,5 12,5
2 Melakukan pengolahan data STP penyakit potensi KLB 37,5 62,5
3 Melakukan analisis data STP mingguan dalam bentuk tabel menurut desa/kelurahan atau 12,5 87,5
puskesmas/kecamatan
4 Melakukan analisis data STP mingguan dalam grafik kecenderungan penyakit 12,5 87,5
5 Melaporkan hasil analisis kepada pimpinan rumah sakit 37,5 62,5
6 Melakukan analisis tahunan perkembangan penyakit dan menghubungkannya dengan faktor risik, 25,0 75,0
perubahan lingkungan serta perencanaan dan keberhasilan program
7 Melakukan validasi data STP 37,5 62,5
8 Mengirim data mingguan (data PWS) ke dinas kesehatan kabupaten/kota 0,0 100,0
9 Mengirim data bulanan (data STP) rumah sakit ke dinkes kesehatan kabupaten/kota dengan jenis 25,0 75,0
penyakit dan variabel nya sebagai formulir STP rumah sakit

xii
PERSENTASE UNIT YANG SUDAH MELAKUKAN KEGIATAN BERDASARKAN
PERMENKES NO.949/MENKES/SK/VIII/2

Melakukan Melakukan kajian Melakukan kajian Melaku kan Melakukan Melaku kan Melaku kan Melakukan Persentase (%)
pengumpulan epidemiologis secara kemampuan rumah peringatan kegiatan kegiatan kegiatan kesiapsiagaan
UNIT Unit data kesakitan terus menerus dan sakit dalam kewaspadaa surveilans SKD- penyeledikan penyuluhan menghadapi KLB,
dan kematian sistematis terhadap melaksanakan SKD- n dini KLB KLB dengan luas terhadap kepada petugas terutama penyiapan
penyakit potensi perkembangan penyakit KLB dan pelaksanaan dugaan adanya dan pengunj tim penyelidikan dan
KLB di rumah berpotensi KLB yang ada penanggulangan pemantauan KLB di ung penanggula
sakit di rumah sakit, sehingga KLB wilayah lingkunagn ngan KLB di rumah
dapat mengidentifikasi setempat rumah sakit sakit yang merupakan
adanya ancaman KLB di (berkoordinasi bagian dari tim
daerah kabupaten/ kota dengan Dinkes penyelidikan dan
DKI Jakarta penanggula
/Sudin Jakarta ngan KLB dinkes
Utara) kabupaten

Ada Tdk Ada Tdk Ada Tdk Ya Tdk Ya Tdk Ya Tdk Ya Tdk Ya Tdk

POKJA Pokja V V V V V V V V 75,0


HIV/AIDS
Pokja TB V V V V V V V V 0,0
Dots
Pokja Pinere V V V V V V V V 37,5
FUNGSI Instalasi V V V V V V V V 12,5
ONAL Rekam
Medik
Instalasi V V V V V V V V 25,0
Rawat Jalan
Instalasi V V V V V V V V 12,5
Rawat Inap

xii
STRUK Bidang V V V V V V V V 50,0
TURAL Perawatan
Bidang V V V V V V V V 75,0
Pengkajian
Epidemiologi

PERSENTASE KINERJA SKD-KLB BERDASARKAN KEGIATANNYA SESUAI DENGAN


PERMENKES NO.949/MENKES/SK/VIII/2004

No JENIS KEGIATAN SUDAH DILAKSANAKAN (%) BELUM DILAKSANAKAN (%)

1 Melakukan pengumpulan data kesakitan dan kematian penyakit potensi KLB di 62,5 37,5
rumah sakit
2 Melakukan kajian epidemiologis secara terus menerus dan sistematis terhadap 12,5 87,5
perkembangan penyakit berpotensi KLB yang ada di rumah sakit, sehingga
dapat mengidentifikasi adanya ancaman KLB di daerah kabupaten/ kota
3 Melakukan kajian kemampuan rumah sakit dalam melaksanakan SKD-KLB dan 12,5 85,5
penanggulangan KLB
4 Melakukan peringatan kewaspadaan dini KLB 25,0 75,0

5 Melakukan kegiatan surveilans SKD-KLB dengan pelaksanaan pemantauan 25,0 75,0


wilayah setempat (berkoordinasi dengan Dinkes DKI Jakarta /Sudin Jakarta
Utara)
6 Melakukan kegiatan penyeledikan luas terhadap dugaan adanya KLB di 25,0 75,0
lingkungan rumah sakit

xii
7 Melakukan kegiatan penyuluhan kepada petugas dan pengunjung 62,5 37,5

8 Melakukan kesiapsiagaan menghadapi KLB, terutama penyiapan tim 50,0 50,0


penyelidikan dan penanggulangan KLB di rumah sakit yang merupakan bagian
dari tim penyelidikan dan penanggulangan KLB dinkes kabupaten

xii
PEMBAHASAN
Pelaksanaan dan Evalusai Surveilans Terpadu Penyakit di RSPI-SS
Pelaksanaan Surveilans Terpadu Penyakit (STP) di rumah sakit telah
diatur di dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
1479/Menkes/SK/X/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans
Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu. Di dalam
peraturan tersebut djelaskan bahwa Surveilans Terpadu Penyakit bersumber data
Rumah Sakit mengambil data penyakit meliputi kolera, diare, diare berdarah, tifus
perut klinis, tifus perut widal/kultur positif, TBC Paru BTA positif, tersangka
TBC Paru, Kusta PB, Kusta MB, campak, difteri, batuk rejan, tetanus , Hepatitis,
HbsAg Positif, Hepatitis Klinis, Malaria Klinis, Malaria Falcifarum, Malaria mix,
demam berdarah dengue, demam dengue, pneumonia, sifilis, gonorrhoe,
frambusia, filariasis, ensefalitis, meningitis, dan influenza.
Variabel data yang diambil dalam Surveilans Terpadu Penyakit berbasis
rumah sakit meliputi variabel umur dan jenis kelamin, variabel rawat jalan,
variabel rawat inap, variabel kematian, variabel waktu kunjungan kasus, variabel
total kunjungan dan variabel ketepatan dan kelengkapan laporan.
Kegiatan Surveilans Terpadu Penyakit (STP) Penyakit Potensial Wabah
di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso pada saat ini sudah berjalan . Kegiatan tersebut
dilakukan oleh beberapa unit struktural, fungsional, dan Kelompok Kerja (Pokja)
yang secara terpisah mengumpulkan data penyakit potensial wabah. Unit
struktural yang melakukan kegiatan STP Penyakit Potensial Wabah adalah Bidang
Medik, Bidang Keperawatan dan Bidang Pengkajian Epidemiologi. Sementara
untuk unit fungsional yang melakukan kegiatan STP Penyakit Potensial Wabah
adalah Intalasi Rekam Medik, Instalasi Rawat Jalan dan Instalasi Rawat Inap dan
untuk Pokja yang melakuan kegiatan STP Penyakit Potensial Wabah adalah Pokja
Pinere, Pokja HIV/AIDS dan Pokja TB Dots.
Pada unit kelompok kerja (Pokja), semua unit sudah melakukan pengumpulan
data penyakit STP terkait penyakit di pokjanya masing-masing. Pokja HIV/AIDS
selain mengumpulan data, juga sudah melakukan kegiatan lain terkait STP yaitu
melakukan pengolahan data, melaporkan hasil analisis data kepada pimpinan
rumah sakit, melakukan analisis tahunan perkembangan penyakit (dalam bentuk
monev), melakukan validasi data dan mengirimkan data bulanan ke Sudinkes
Jakarta Utara dan Dinkes DKI Jakarta. Kegiatan STP di unit Pokja HIV/AIDS
sudah mencapai 66.6% mengacu pada standar Kepnmenkes RI Nomor
1479/Menkes/SK/X/2003. Angka ini belum masuk dalam kategori baik (> atau
sama dengan 80%), yang belum dilakukan adalah melakukan analisis data STP
mingguan dalam bentuk tabel menurut desa/kelurahan atau puskesmas/kecamatan,
melakukan analisis data STP mingguan dalam grafik kecenderungan penyakit dan
mengirim data mingguan (data PWS) ke dinas kesehatan kabupaten/kota. Kategori
pelaksanaan STP pada pokja HIV/AIDS dalam kategori belum baik karena
keterbatasan SDM dimana struktur organisasi di pokja HIV pelatihan
pelakasanaan STP dari Sudinkes Jakarta Utara
Pada unit Pokja TB Dots, kegiatan STP sudah mencapai 55,5,% walaupun angka
ini belum mencapai dalam kategori baik (> atau sama dengan 80%), Kegiatan
yang belum ada pada kegiatan STP Pokja TB Dots adalah terkait melakukan
analisis data mingguan dalam bentuk tabel dan grafik serta mengirim data
mingguan dan bulanan ke Sudinkes Jakarta Utara dan Dinkes DKI Jakarta. Pokja

xii
TB Dots sebenarnya sudah melakukan kegiatan tersebut di atas,hanya saja analisis
data dan laporan yang dikirimkan bukan dalam waktu mingguan atau bulanan
tetapi dalam jangka waktu triwulan. Pengiriman laporan juga dilakukan secara
online atau secara sistem yang sudah berjalan (by sistem) bukan melalui mengirim
berkas (dengan pos/ekspedisi) dan juga bukan dengan melalui kurir. Sistem
pengiriman secara sistem (by sistem/ online) sangat menguntungkan karena selain
efisiensi waktu dan biaya juga menghindari kelalaian dalam mengirimkan laporan,
Pelaksanaan STP ini belum mencapai kategori baik karena keterbatasan SDM.
Kondisi SDM di pokja dots saat ini terdiri dari..., dimana tenaga administrasi yang
ada hanya 1 orang yang merangkap dengan.., jika melihat kegiatan di pokja TB
dots dengan jumlah pasien Tb yang cukup banyak setiap harinya (= ..pasien) maka
diperlukan tenaga administrasi khusus yang menginput data dengan
komputerisasi.
Pada Pokja Pinere, kegiatan STP baru dilakukan sebesar 11,1%. Kegiatan STP
tersebut adalah pengumpulan data terkait penyakit Pinere. Pokja Pinere mungkin
saja sudah melakuan kegiatan lainnya tetapi belum diinformasiakan kepada
stafnya atau belum dikoordinasian lebih lanjut ke dalam tim pinere sendiri.
Pada unit fungsional, kegiatan STP baru dijalankan 11,1% (Instalasi Rekam
Medik) dan bahkan pada Instalasi Rawat Jalan dan Instalasi Rawat Inap belum
sama sekali melakukan kegiatan STP (0%).
Pada rekam medik, kegiatan STP baru sampai pada pengumpulan data, tetapi
Intalasi Rekam Medik melakukan kegiatan Surveilans Aktif Rumah Sakit (SARS)
dimana kegiatan tersebut sudah dilakuka secara online yang websitenya
disediakan oleh Dinkes DKI Jakarta. Surveilans Terpadu Penyakit berbasis data
rumah sakit berbeda dengan Surveilans Aktif Rumah Sakit. Pada STP belum
dilakukan secara online dan STP rumah sakit saat ini belum diwajibkan, yang
wajib dijalankan dan dilaporkan adalah kegiatan Surveilans Aktif Rumah Sakit
(SARS).
Pada unit struktural, bidang Pengkajian Epideiologi sudah melakuan kegiatan
STP sebanyak 100%, tetapi untuk analisis data mingguan dan laporan mingguan
ke Sudinkes Jakarta Utara dan Dinkes DKI Jakarta baru dilakukan pada penyakit
terkait PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi) seperti morbilli,
difteri, dan AFP. Hal ini dikarenakan pada kasus PD3I oleh Dinas Kesehatan
Provinsi mengharuskan adanya laporan mingguan pada penyakit tersebut.
Sementara pada kasus lainnya pada STP saat ini cukup laporan bulanan saja.
Kegiatan STP yang dilaporkan dalam bentuk rekaban data mingguan dan bulanan.

Pelaksanaan dan Evaluasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKD-R)


Penyakit Potensial Wabah di RSPI-SS
Berdasarkan Permenkes Nomor 949/Menkes/SK/SK/VIII/2004 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB)
, peran rumah sakit meliputi kajian epidemiologi ancaman KLB, Peringatan
kewaspadaan dini KLB, peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap
KLB.
Peran rumah sakit dalam Kajian epidemiologi ancaman KLB meliputi :
Melaksanakan pengumpulan dan pengolahan data kesakitan dan kematian
penyakit berpotensi KLB di Rumah Sakit, Melakukan kajian epidemiologi terus
menerus secara sistematis terhadap perkembangan penyakit berpotensi KLB yang

xii
ada di Rumah Sakit, sehingga dapat mengidentifikasi adanya ancaman KLB di
daerah Kabupaten/Kota tertentu, serta melakukan kajian kemampuan rumah sakit
dalam melaksanakan SKD-KLB dan penanggulangan KLB. Pada bagian ini,
peran RSPI-SS dalam Sistem Kewaspadaan Dini KLB baru sampai pengumpulan
data kesakitan dan kematian, sementara untuk melakukan kajian epidemiologi
secara terus menerus dan melakukan kajian kemampuan RS dalam SKD KLB,
belum dapat dilakukan. Hal ini dikarenakan dalam unit Pokja, unit fungsionla
maupun unit struktural bukan menjadi tugas dan fungsi dari unit –unit tersebut.
Peringatan kewaspadaan dini KLB sudah dilakukan oleh bidang medik
dan bidang keperawatan. Kegiatan peringatan dini KLB masih dalam bentuk
laporan dari ruangan (kepala ruangan) kepada bidang medik dan bidang
keperawatan . Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh kepala bidang
medik dan kepala bidang perawatan dengan melaporkan kepada direktur medik
dan keperawatan.
Kegiatan peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap KLB
terdiri dari 4 kegiatan yaitu : (1). Peningkatan kegiatan surveilans untuk deteksi
dini KLB di Rumah Sakit dengan melaksanakan pemantauan (2). Penyelidikan
lebih luas terhadap dugaan adanya KLB dilingkungan rumah sakit (3).
Melaksanakan penyuluhan kepada petugas dan pengunjung umah sakit serta
mendorong kewaspadaan KLB di rumah sakit (4). kesiapsiagaan menghadapi
KLB, terutama penyiapan tim penyelidikan dan penanggulangan KLB di rumah
sakit yangmerupakan bagian dari tim penyelidikan dan penanggulanganKLB
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dari ke 4 kegiatan tersebut, yang sudah banyak
dikerjakan adalah pada kegiatan melaksanakan penyuluhan kepada petugas dan
pengunjung rumah sakit dan kegiatan kesiapsiagaan menghadapi KLB, terutama
penyiapan tim penyelidikan dan penanggulangan KLB di rumah sakit yang
merupakan bagian dari tim penyelidikan dan penanggulanganKLB Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota. Kegiatan penyuluhan kepada pengunjung sudah
sering dilakukan oleh unit di pokja, instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan ,
bidang medik dan bidang keperawatan. Saat ini RSPI-SS sudah memiliki Instalasi
Promosi Kesehatan yang kedepannya nanti setiap kegiatan penyuluhan akan
berada di bawah koordinasi Instalasi Promosi Kesehatan. Sementara pada
kegiatan penyiapan Tim, sudah juga dikerjakan walaupun masih sendiri-sendiri,
seperti Pokja Pinere, Pokja TB Dots dan Pokja HIV/AIDS memiliki tim sendiri-
sendiri. Bidang Pengkajian Epidemiologi mengusulkan untuk membuat tim
surveilans rumah sakit sehingga semua kegiatan surveilans epidemiologi dan SKD
–KLB berada dalam koordinasi tim surveilans epidemiologi rumah sakit, sehingga
kedepannya SKD – KLB di RSPI-SS tidak berjalan sendiri-sendiri dan diharapkan
hasil surveilans tersebut benar – benar dapat menjadikan SKD – KLB berjalan
sebagaimana yang tertuang di dalam Permenkes Nomor 949 /Menkes/
SK/SK/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini
Kejadian Luar Biasa (KLB).

Evaluasi dan Implementasi Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa


di RSPI-SS
Pada prinsipnya Surveilans Terpadu Penyakit dan Sistem Kewaspadaan
Dini Kejadian Luar Biasa di RSPI –SS sudah dijalankan, tetapi belum
terintergrasi, ,masih berdiri sendiri-sendiri, seperti pengumpulan data sudah

xii
dilakukkan oleh unit –unit tersebut, tetapi data yang sudah dikumpulkan masih
belum dimanfaatkan oleh unit lain, pelaporan, koordinasi antar unit yang belum
bersinergi dengan baik, seperti apabila ditemukan kasus penyakit potensial wabah,
unit bergerak sendiri untuk melaporkan ke atasan masing-masing. Hal ini
disebabkan belum ada kejelasan dari pimpinan unit mana dari surveilans yang
bertanggung jawab dalam kegiatan surveilans di rumah sakit dan juga dalam
sistem kewasapadaan dini. Seperti pada Pokja Pinere, laporan kasus pinere
langsung dikirimkan oleh kepela Pokja Pinere ke Direktur Utama RSPI-SS.
Begitu juga dengan laporan Pokja HIV/AIDS dan Pokja TB Dots, laporan juga
langsung diberikan ke direktur utama RSPI-SS. Khusus untuk Pokja HIV/AIDS
dan Pokja TB Dots, pengumpulan data pada kedua Pokja tersebut mempunyai
kekhususan. Pada Pokja HIV/AIDS, pencatatan dan peloporan menggunakan
SIHA (Sistem Informasi HIV- AIDS ) yang dikembangkan oleh Kementerian
Kesehatan. SIHA merupakan sistem pencatatan dan pelaporan HIV-AIDS dan
IMS yang resmi meliputi level kabupaten, propinsi dan nasional dalam satu bank
data nasional yang kredibel, legal dan satu pintu. Pokja HIV-AIDS di RSPI –SS
menggunakan pelaporan SIHA sejak 2012. SIHA diberikan pada semua rumah
sakit/fasilitas kesehatan baik pemerintah maupun swasta dan NGO di seluruh
Indonesia. Semua data yang masuk ke dalam Bank Data Nasional SIHA akan
terhubung secara langsung dengan SIKDA Generik, sehingga data yang
dihasilkan menjadi data nasional yang satu pintu. Sementara untuk Pokja TB
Dots, pencatatan dan peloporan menggunakan Sistem Informasi TB Terpadu
(SITT) sejak akhir tahun 2013. SITT dilaporkan setiap 3 bulan sekali secara
online ke Sudin Jakarta Utara, dan dari Sudin Jakarta Utara yang meneruskan
laporan tersebut ke Dinas Kesehatan DKI Jakarta.
Dari permasalahan di atas, kegiatan surveilans dan sistem kewaspadaan
dini di RSPI –SS masih memerlukan perbaikan agar didapat surveilans dan sistem
kewaspadaan dini yang sesuai standar peraturan yang ada, yaitu :
1. Komitmen
Belum adanya komitmen bersama kegiatan surveilans dan sistem kewaspadaan
dini dan belum terintegrasi antara unit struktural, fungsional dan pokja. Komitmen
dapat tertuang dalam SK Direktur Utama yang mencakup : 1) penetapan kegiatan
surveilans dan sistem kewaspadaan dini RS , 2) indikator capain sesuai dengan
peraturan yang ada, 3) Tim Surveilans RS yang terdiri dari : pengumpulan data
dan pengolahan data secara terintegrasi, verifikasi dan analisis data. 4) pelaporan
melalui pelayanan terpadu satu pintu, penyusunan rekomendasi , diseminasi
pelayanan satu pintu serta monitoring dan evaluasi. Pembentukan tim surveilans
di RSPI-SS sudah ada yaitu Keputusan Direktur Utama RSPI-SS Nomor.
HK.02.04/VII.3/3003/2016 tentang Penyelenggaraan Surveilans Epidemiologi,
hanya saja pelaksanaannya yang belum dilakukan secara optimal. Diharapkan
apabila tugas dan fungsi dari surveilans epidemiologi di RSPI-SS tersebut benar-
benar dijalankan, maka kegiatan surveilans terpadu penyakit dan sistem
kewaspadaan dini KLB di rumah sakit dapat berjalan dengan maksimal.

2. Regulasi
Regulasi merupakan hal penting yang harus diutamakan dalam pembenahan
sistem surveilan dan sistem kewaspadaan dini KLB. Semua unit kerja (Bidang
Pengkajian Epidemiologi, Bidang Keperawatan, Inst. SIM RS, Inst. Rekam

xii
Medik, Inst. Rawat Jalan, Inst. Rawat Inap, dan POKJA) belum memiliki regulasi
internal RS (Surat Keputusan Direktur Utama, pedoman, panduan, SPO) yang
mendukung kinerja Surveilans Aktif Rumah Sakit (SARS 1x24 jam). Berdasarkan
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 247/Menkes/Per/III/2008 tentang
Organisasi dan Tata Kerja RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso di dalam pasal 25, 26,
27 dan 28 terkait tugas fungsi kegiatan surveilans seharusnya dilaksanakan oleh
bidang P. Epidemiologi. Namun pelaksanaan SARS 1x24 jam dilaksanakan oleh
Inst. Rekam Medis di tahun 2015.

3. Koordinasi
Seharusnya semua kegiatan surveilans dan sistem kewaspadaan dini RS itu
terintgrasi dan dibawah satu koordinasi (penanggung jawab) yaitu direktorat
PPIPM khusunya bidang pengkajian Epidemiologi sesuai dengan tupoksinya yaitu
.untuk mempermudah pelaksanaan surveilans RS diperlukan kegiatan surveilans
berbasis data menggunakan software (bisa dijelaskan software seperti apa ).
Belum semua SDM di unit struktural, fungsional, dan Kelompok Kerja (Pokja)
terlatih untuk melakukan kegiatan surveilans, untuk itu diperlukan pelatihan
(inhouse traning) tentang surveilans
.
4. Tenaga (Sumber Daya Manusia)
Kondisi SDM di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso hanya ada satu orang yang
melaksanakan SARS 1x24 jam yaitu di Instalasi Rekam Medik sementara di unit
lain belum melaksanakan SARS 1x24 jam. Bidang Pengkajian Epidemiologi
terdapat 5 (lima) orang berlatar belakang pendidikan SKM tetapi belum
melaksanakan SARS 1x24 jam.
Berdasarkan Permenkes 247 Tahun 2008, dalam struktur organisasi terdapat
bidang Pengkajian Epidemiologi yang mempunyai tugas melaksanakan
perencanaan dan evaluasi di bidang surveilans epidemiologi, advokasi dan
fasilitasi kesiapsiagaan dan penanggulangan KLB penyakit infeksi dan penyakit
menular, kajian dan diseminasi informasi, kemitraan dan jejaring kerja, serta
pendidikan dan pelatihan bidang surveilans epidemiologi.
Sementara itu pelaksanaan SARS 1x24 jam di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso
dilaksanakan oleh satu unit yaitu inst. Rekam Medik sesuai rekomendasi dari
Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta melalui aplikasi online Surveilans Aktif
Rumah Sakit (SARS) 1 x 24 jam.

Jumlah minimal tenaga epidemiologi di rumah sakit adalah 1 orang tenaga


epidemilogi ahli dan 1 orang tenaga epidemiologi terampil menurut Permenkes
1116 tahun 2003, sementara Permenkes nomor 45 tahun 2014 adalah Standar
kompetensi sumber daya manusia di bidang epidemiologi oleh organisasi profesi
ahli epidemiologi yang diakui pemerintah. Bahwa tenaga epidemiolog yang ada di
RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso belum teregistrasi oleh organisasi profesi
epidemiologi (tidak memiliki STR). Untuk mendapatkan pengakuan kompetensi
sebagai tenaga epidemiolog maka sebaiknya tenaga epidemiolog di RSPI Prof. Dr.
Sulianti Saroso diusulkan memiliki STR dari organisasi profesi epidemiologi
(Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia).
Menurut Permenkes No. 949 tahun 2004 bahwa di dalam kesiapsiagaan sumber
daya manusia, tenaga yang harus disiapkan adalah tenaga dokter, perawat,

xii
surveilans epidemiologi, sanitarian dan entomologi serta tenaga lain sesuai
kebutuhan2.
Pada tahun 2015 pelaksanaan surveilans di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso belum
memiliki tim surveilans aktif dan atau tim surveilans terpadu. Dengan tidak
adanya tim yang menyelenggarakan Sistem Surveilans di RSPI Prof. Dr. Sulianti
Saroso sehingga mempengaruhi rendahnya kinerja SARS 1x24 jam (bisa terlihat
dari kelengkapan waktu laporan SARS 1x24 jam). Untuk meningkatkan kinerja
surveilans di rumah sakit maka diperlukan pembentukan tim surveilans terpadu.
Supaya pelaporan SARS 1x24 jam dapat terpenuhi sebaiknya RSPI Prof. Dr.
Sulianti Saroso, mempunyai tim surveilans terpadu yang salah satu tugasnya
adalah melakukan pelaporan SARS 1x24 jam.

5. Sarana/Prasarana
Sarana prasarana yang terpasang dengan aplikasi online Surveilans Aktif Rumah
Sakit (SARS) 1 x 24 jam hanya ada satu di Instalasi Rekam Medis yang sangat
tergantung dengan modem (kepemilikan pribadi petugas Inst. Rekam Medis).
Kondisi ini mengakibatkan tidak maksimalnya kinerja pelaporan SARS 1x24 jam
di tahun 2015 dikarenakan keterbatasan sarana di rumah sakit. Keberadaan
internet nirkabel berada di Inst. rawat inap (ruang mawar), Inst. SIM RS, Bid.
Keperawatan dan Bid. Pengkajian Epidemiologi. Sedangkan jaringan telepon
untuk internet dan modem belum tersedia di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso.
Sementara itu kondisi tahun 2016, RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso telah
menyediakan TP link untuk menjangkau wifi yang sudah terpasang sehingga
kinerja pelaporan SARS 1 x 24 jam menjadi baik di tahun 2016.
Salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja surveilans epidemiologi pada sistem
kewaspadaan dini KLBdi RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso antara lain: sarana
prasarana, sangat diperlukan untuk kelancaran kegiatan surveilans sesuai PMK
No. 45 tahun 2014 Pasal 17 ayat (c), berbunyi : “sarana dan prasarana yang
diperlukan termasuk pemanfaatan teknologi tepat guna”.

6. Anggaran
Semua unit kerja (Bidang Pengkajian Epidemiologi, Bidang Keperawatan, Inst.
SIM RS, Inst. Rekam Medik, Inst. Rawat Jalan, Inst. Rawat Inap, dan POKJA)
belum tersedia anggaran/dana khusus yang diperuntukan untuk mendukung
kinerja Surveilans Aktif Rumah Sakit (SARS 1x24 jam) tahun 2015.
Sementara itu salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja surveilans
epidemiologi pada sistem kewaspadaan dini KLB di RSPI Prof. Dr. Sulianti
Saroso antara lain: pendanaan, sangat diperlukan untuk kelancaran kegiatan
surveilans sesuai PMK No. 45 tahun 2014 Pasal 17 ayat (b), berbunyi : “b.
pendanaan yang memadai”. Sehingga untuk meningkatkan kinerja SARS 1x24
jam di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso maka perlu pengajuan anggaran oleh unit
terkait.

7. Jejaring Surveilans Epidemiologi


Di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso hanya ada Inst. Rekam Medis, yang memiliki
jejaring kerja dengan Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara dan Dinas Kesehatan
Provinsi DKI Jakarta terkait dengan Surveilans Aktif Rumah Sakit (SARS 1x24
jam). Tetapi bidang Pengkajian Epidemiologi, bidang Keperawatan, Inst. SIM RS,

xii
Inst. Rawat Jalan, Inst. Rawat Inap, dan POKJA belum memiliki jejaring dengan
instansi luar yang mendukung kinerja SARS 1x24 jam.
Berdasarkan PMK No. 45 tahun 2014, jejaring kerja surveilans adalah suatu
mekanisme koordinasi kerja antar unit penyelenggara Surveilans Kesehatan,
sumber-sumber data, pusat penelitian, pusat kajian dan penyelenggara program
kesehatan, meliputi tata hubungan Surveilans Kesehatan antar wilayah
Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat. Jaringan kerjasama antara unit-unit
surveilans dengan penyelenggara pelayanan kesehatan, laboratorium dan unit
penunjang lainnya. Dalam pelaksanaan Surveilans Kesehatan diperlukan
harmonisasi secara lintas program dan lintas sektor yang diperkuat dengan
jejaring kerja surveilans kesehatan.
Sebagai upaya RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso dalam meningkatkan kinerja SARS
1x24 jam maka dibentuklah tim surveilans terpadu. Salah satu kegiatannya adalah
membentuk jejaring dan kemitraan kerja dengan dengan pusat kajian, program
intervensi kesehatan; Dinas Kesehatan Kabupaten/kota dan provinsi; dengan
berbagai sektor terkait nasional/bilateral negara, regional dan internasional (KMK
No. 1479 Tahun 2003).

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1 Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja SARS 1x24 jam di RSPI Prof.
Dr. Sulianti Saroso tahun 2015 adalah komitmen, koordinasi, tenaga
(SDM), keterbatasan sarana prasarana, regulasi dan anggaran
2 Faktor dominan yang mempengaruhi kinerja SARS 1x24 jam di RSPI
Prof. Dr. Sulianti Saroso tahun 2015 adalah komitmen dan sarana
prasarana (internet nirkabel).
3 Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja SARS 1x24 jam di
RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso tahun 2015 adalah :
a) Pembentukan tim surveilans epidemiologi, pelatihan, pengadaan
sarana prasarana dan pengajuan usulan anggaran
b) Sosialisasi kepada mitra, memperkuat jejaring surveilans

Saran
1 Feedback secara berkala dari Dinkes Prov. DKI Jakarta terkait SARS 1x24
jam di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso
2 Peningkatan koordinasi lintas sektor antara RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso
dengan unit utama Kemenkes RI, Dinkes Prov. DKI Jakarta terkait
surveilans epidemiologi.
3 Adanya pelatihan secara berkala terkait dengan pelaksanaan SARS 1x24
jam dan pelatihan tentang surveilans.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

1 Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1479/Menkes/SK/X/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem
Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular
Terpadu.

xii
2 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
949/Menkes/SK/VIII/2004 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem
Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB).
3 Buletin Jendela Epidemiologi Volume 2, Agustus 2010. ISSN 20871546.
Pusat Data Surveilans Epidemiologi Kementrian Kesehatan RI.
4 Kemenkes RI. Lembar rekapitulasi tahunan penyakit infeksi potensial
KLB. Bidang Pengkajian Epidemiologi. 2016.
5 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1501 Tahun 2010 Tentang Jenis
Penyakit Menular Tertentu Yang Menimbulkan Wabah.
6 Surat Edaran Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tentang juklak
pelaporan surveilans penyakit potensial KLB berbasis rumah sakit
7 Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 45 Tahun 2014 Tentang
Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan.
8 Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 247 Tahun 2008 Tentang
Organisasi dan Tata Kerja RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso.
9 Sholah Imari. Surveilans Epidemiologi. Prinsip, Aplikasi, Manajemen
Penyelenggaraan dan Evaluasi Sistem Surveilans. FETP, Kementerian
Kesehatan RI dan WHO, 2010.
10 Azwar, Azrul. Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Sinar
Harapan. 1996.

xii