Anda di halaman 1dari 3

Episode 2 About Sia

Hari ini, gadis itu tampak lelah. Dia baru saja sampai di Indonesia tapi dia sudah diminta oleh ibunya
untuk mengurus kepindahannya ke salah satu sekolah bergengsi di Kota itu. SMA Garuda.
“Mom, Sia capek. Lagian kalo besok mom sibuk, Sia nggak papa kok pergi sendiri ngurus ini. Sia bukan
anak kecil lagi mom” melas Sia. Mama nya hanya melotot.
“Mom cuma nggak mau liat kamu sendiri Sia. Mom lebih kenal dirimu ketimbang kamu sendiri. Kamu
kalo didepen mom bisa nggak sih jangan sok dewasa, sok mandiri ataupun sok tegar. Kamu lupa mom mu
ini siapa? Mom bisa melihat isi hati kamu hanya dari tatapan kamu sekilas” jawab mama Sia. Sia
langsung terdiam. Oh hampir saja Sia lupa. Mamanya ini adalah seorang psikiater yang akan sangat cepat
membaca isi fikiran orang lain. Apalagi Sia adalah anaknya. Sia harusnya ingat dia bisa menutupi
perasaan sedih terpuruk bahkan perasaan hancurnya ini kepada siapapun kecuali Mamanya ini.
Setelah semua urusan kepindahannya selesai, Sia memutuskan untuk pulang. Ia rasa lebih baik dia mulai
bersekolah besok karena dia cukup lelah saat ini. Lelah fisik dan batin. Dia lelah menutupi semua ini dari
orang lain.
***
Sore ini terlihat indah. Sudah lama Sia tidak dating ke Kota ini lagi. Biasanya dia hanya mendatangi Kota
ini hanya untuk menemui sodara dan kerabat tapi kali ini dia akan tinggal disini. Ada rasa tak rela
meninggalkan Jerman yang sudah dia anggap rumah dan kampung halamannya di sana. Tapi, ia juga lega
akhirnya ia bisa memulai lembaran baru disini. Walaupun sebenarnya ia tau, ia takkan bisa memulai
lembaran baru itu. Ia masih saja terpuruk.
Sia sedang berjalan kaki di trotoar jalan. Menikmati senja yang mulai tenggelam. Sia heran kenapa orang-
orang disini lebih senang mengendarai motor atau mobil. Kenapa nggak jalan kaki aja? Bukannya itu
lebih seru dan sehat?
Tak lama Sia menemui kedai es krim. Oh Sia sangat senang es krim. Bahkan saat giginya sakitpun, ia
akan diam diam memakan es krim tanpa diketahui oleh mama dan ayahnya. Sia segera membeli es krim
vanilla. Segera setelah dia mendapat pesanannya itu, Sia segera melahapnya dengan nikmat tentunya.
“Sia? Sia Alexa Matthew? Is that you?” tanya Arcel yang ntah muncul darimana dan sudah berada di
hadapannya saat ini. Sia yang merasa namanya disebutpun menoleh ke arah Arcel. Dan tampak sekali
mimik terkejutnya ini. Arcel sahabat sekaligus musuhnya kini ada di hadapannya.
“Arcel? Oh Goodnes. How can? Jadi lo pindah ke sini?” Bukannya jawab pertanyaan Arcel tapi Sia malah
nanya balik.
“Kok lo bisa di sini? Pindah? Atau cuma jalan jalan doang?” tanya Arcel balik. Ini lagi si Arcel bukannya
jawab malah ikut-ikutan nanya balik. Ntah sampe kapan mereka akan saling bertanya tanpa saling
menjawab pertanyaan satu sama lain.
“Eh kunyuk jawab dulu pertanyaan gua. Malah nanya balik lagi” ucap Sia kesal karena pertaannya
terabaikan tidak lupa sambil menoyor kepala Arcel.
“Eh lu yang harusnya jawab pertanyaan gua dulu kodok. Malah nanya balik lu. Sinting” ucap Arcel kesal.
Kesal karena kepalanya di toyor oleh Sia, dia pun membalas menyentikkan jarinya ke jidat Sia.
“Ya gua mau jawab apa kunyuk. Masa gua jawab iya ini gua Sia. Lu juga udah tau malah nanya lagi gua
Sia atau bukan” Kesal Sia sambil memijat jidatnya yang mulai memerah.
“Ya kan hanya memastikan. Lu kan mirip kunti. Siapa tau yang gua liat ini kunti bukan Sia. Kan gua
memastikan aja” jawab Arcel tak mau kalah.
“Cewek secantik gua lu katain begitu. Katarak tuh mata lu” jawab Sia kesal.
“Cantik? Eh mba kalo cantik, kok masih aja jomblo?” sarkas emang nih Arcel mah
“Tai lu kampret, Kunyuk sini lu. Ngajak berantem emang lu. Baru ketemu juga setelah tiga taun nggak
ketemu” jawab Sia sambil berusaha menarik Arcel. Arcel yang berhasil mengelakpun tertawa saat
dilihatnya Sia terjatuh karena dirinya mengelak. “Mampus!” ujar Arcel sambil tertawa.
“Au ah kesel gua sama lu” kesal Sia. Ia mulai diam dan mulai menjauh. Sia saat ini benar-benar kesal.
Lututnya berhasil memerah karena terjatuh tadi. “Untung nggak berdarah” batin Sia sambil
membersihkan lututnya yang sudah kotor terkena tanah trotoar itu.
“Yah yahh ngambul dia. Maaf deh. Kan gua cuma becanda. Kangen gua sama lu. Kangen gua sama kodok
gua ini” ujar Arcel sambil meraih tangan Sia dan memeluk Sia erat. Dipeluknya Sia agar berhenti marah
padanya. Kemudian di elusnya rambut Sia. Lalu ia perbaiki letak rambut Sia yang berantakan karena
terjatuh tadi. Bagi Arcel Sia adalah sahabat sekaligus musuh yang harus ia jaga agar spesies sahabat
seklaigus musuhnya itu tidak punah.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan mereka. Hatinya hancur. Iya,
dialah Bela. Pacar Arcel. Dia merasa telah diduakan lagi oleh Arcel. Tak kuat menahan tangis ia pun pergi
dan langsung menelfon satu-satunya orang yang ada dikepalanya, orang yang sangat dia perlukan
bahunya, Evans.
Sementara itu, Sia dan Arcel duduk sambil berbincang-bincang. Tenang. Saat ini mereka tidak
mengucapkan kata sumpah serapah mereka. Arcel sepertinya kasihan melihat Sia yang lututnya merah
akibat dirinya. Dan Sia sudah merasa lelah untuk meladeni sumpah serapah Arcel.
“Jadi lo pindah kesini?” tanya Arcel
“Iya. Mom ada pasien yang harus dia pantau dari jarak dekat. Dad juga ada perluasan perusahaan kesini.
Dia mau gabungin perusahaan Grandpa. Soalnya uncle cukup mau focus sama perusahaan dia. Aunty juga
mau konsen sama usaha fashion dan butiknya. Jadi ya gitu. Kita pindah kesini” jawab Sia panjang lebar.
Arcel hanyak membentuk mulutnya menjadi O.
“Trus lo sekolah dimana?” tanya Arcel lagi
“Di SMA Garuda” jawab Sia
“Wihh sama dong. Satu sekolah kita nih. Kelas berapa lu? Udah tau kelasnya dimana?” tanya Arcel yang
semakin tertarik. Tertarik karena ada anak yang bisa ia recokin di sana.
“Udah. Tadi pagi gua kesana. Katanya sih di kelas XI IPA 2. Besok gua mulai masuk sekolah” jawab Sia.
Ia malas kalau harus satu sekolah sama Arcel. Karena ia tau, ujung-ujungnya Arcel akan selalu merecoki
dia seperti beberapa saat yang lalu.
“Berarti kelas kita sebelahan. Gua kelas XI IPA 1. Eh lu berarti sekelas sama pacar gua” jawab Arcel
semangat.
“What? Lu udah punya pacar? Ada yang mau sama lu? Njirrr. Pasti cewek itu katarak. Pantes ya lu buli
gua jomblo. Taik emang lu” sontak saja Sia kaget. Arcel yang ia kenal tak begitu tertarik untuk bepacaran.
Bahkan melirik manusia berjenis kelamin perempuan pun dia tidak tertarik. Hanya Sia lah satu-satunya
gadis yang dikenal oleh Arcel.
“Sumpret lu. Baru juga gua akur sama lu kodok. Udah maen ngatain aja lu comberan” kesal Arcel.
“Pokoknya tuh ya lu liat aja cewek paling cakep di kelas XI IPA 2. Namanya Bela. Nah itu dah pacar gua.
Kenalan aja sama dia. Baik kok orangnya. Ramah juga. Gua yakin lu bakalan jadi sahabatan sama dia”
lanjut Arcel. Arcel tampak sangat yakin akan perkataannya tadi. Ia sangat tau Bela. Dia pasti akan sangat
senang bisa dikenalkan dengan Sia, pikirnya.
“Iya deh. Besok gua cek. Gimana pacar lu. Awas aja kalo nggak bener. Yaudah ya gua balik dulu takut di
cariin nyokap. Cewek cantikkan nggak boleh keluar jauh jauh malem begini” jawab Sia dengan
mengimbaskan rambutnya saat mengatakan cantik. Matahari memang sudah lama tenggelam. Sudah
berganti dengan gelapnya malam yang bertabur beberapa bintang.
“Alah, padahal dulu di Jerman juga lu nggak pulang pun nggak dicariin toh” ujar Arcel meremehkan
“Ya bedalah Jerman sama Indonesia” Jawab Sia kesal.
“Mau balik kan? Jalan kaki kan lu. Gua anter yok” ajak Arcel.
“Nggak ah. Jalan kaki lebih menyenangkan dan sehat. Naik motor lama lama duduk doang. Kena
ambeien baru tau rasa lu” ujar Sia sambil beranjak dari duduk nya kemudian melambaikan tangannya
kearah Arcel.
Sia tidak bohong. Dia memang lebih senang berjalan kaki kalau memang sedang santai begini. Tapi
alasan lainnya adalah ia ingin menjaga perasaan yang harus Arcel jaga saat ini. Sia memang cukup kaget
saat tau Arcel sudah memiliki tambatan hati. Tapi yasudahlah. Toh dia juga kemaren pernah
merasakannya. Dan dia pernah merasakan dicintai, diduai, dilukai, disakiti, kemudian di campakkan.
Itulah kenapa Sia sangat ingin menjaga perasaan Bela pacar Arcel. Siapa yang akan tau nanti atau dimana
ia bertemu dengan Bela dan melihat dia dan Arcel berdua, ntar malah jadi salah paham. Ia tidak ingin itu
terjadi. Karena dia tau bagaimana rasanya itu lebih dari siapapun itu.